Reminisensi.

Marah sekali rasanya, mengapa peristiwa semacam itu bisa terjadi pada keluarga kita.

Geram rasanya, mengingat segala keterbatasan kita dalam upaya pencegahan dan penyelamatannya.

Murka rasanya, mengetahui bahwa hal semacam ini terjadi di depan mata kita sendiri dan tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya.

Tidak wajar rasanya, mendengar seorang teman berpaling dari dunia ini dengan sungguh cepat.

Tidak wajar rasanya, melihat orang tua mengantarkan anaknya sendiri ke pangkuan sang pencipta.

Tidak wajar rasanya, melihat kotak peristirahatan seorang teman kita yang terpaku sunyi dengan handai taulan dan keluarga berada di sekelilingnya menatap haru, menangis dan bisikan-bisikan pilu.

Namun, itulah peristiwa yang sudah terjadi. Sudah 40 hari lebih peristiwa itu berlalu, tapi lukanya masih belum sembuh benar di hati kita. Seperti luka umumnya, jikalau tergesek sedikit saja perih rasanya. Perih itu pun dirasakan sangat ketika reminisensi akan tragedi itu, teman kita itu hadir kembali melalui berbagai media ucapan.

Bagai diiris sembilu, ingatan-ingatan tersebut menyeruak kembali dalam benak pikirku. Rasio menuntut kita untuk segera mengikhlaskannya dengan lapang, tapi rasio itu juga menuntut agar kita sebagai temannya untuk tidak melupakan tragedi ini. Agar tidak terulang kembali, agar tidak ada yang terluka lagi di masa nanti.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s