Tulis, tulis dan tulislah.

Melihat dan mendengar adalah kemampuan dasar yang sudah tertanam pada diri manusia. Sejak keluar dari rahim kedua proses tersebut dengan cepat membantu kita menyesuaikan diri dengan lingkungan. Demikianlah, melihat dan mendengar merupakan proses yang alamiah.  Membaca menjadi respon yang kita pelajari selanjutnya. Respon masukan dari lingkungan kita baca dan   proses sendiri bagi kepentingan kita kala itu. Semakin berkembang, semakin cepat pula kita memproses bacaan respon lingkungan sekitar. Bahasa timbul dan lahir sebagai perkembangan dari percepatan manusia untuk berkomunikasi. Tahap lanjut perkembangan manusia yang menjadi pertanda bagi seorang manusia modern adalah kemampuannya untuk menulis. Manusia modern mengalami perkembangan pesat dari kemampuannya untuk menuliskan apa yang ada dipikirannya. Manusia 20.000 tahun lalu mungkin belum beraksara jelas, namun dari kemampuannya “berbicara” menggunakan simbol-simbol bergambar menunjukkan perkembangan yang dialami komunitas tersebut.

Jikalau melihat dan mendengar merupakan respon yang secara pasif kita terima dari lingkungan, maka bicara dan menulis merupakan respon aktif kita terhadap lingkungan. Bicara jelas lebih gampang daripada menulis. Kita sering berbicara tanpa berpikir dan berbicara hanya melibatkan stimulan minim dari otak, bibir serta lidah. Menulis, itu persoalan yang sama sekali berbeda.

Menulis membutuhkan kerja otak dan otot yang lebih kompleks. Otak jelas harus berpikir mau menulis apa, mata harus melihat apa yang kita tulis, otot tangan dan jemari membantu menggoreskan pikiran kita pada media tulisan tersebut. Oleh sebab demikian, menulis merupakan pekerjaan yang sulit. Dibandingkan bicara yang dimulai dari umur 1-2 tahun, menulis baru kita pelajari 4-5 tahun setelahnya yaitu di umur 6-7 tahun. Tulisan merupakan cermin langsung isi kepala kita pada sebuah media. Sebuah tulisan yang bagus merupakan buah dari pemikiran yang cemerlang. J.R.R Tolkiens yang menulis buku laris “Lord of The Rings” seolah mempunyai dunia yang sama sekali berbeda dalam kepalanya. Seorang Pramoedya A.T yang hanya bermodalkan meja dan kursi di penjara P. Buru hingga tahanan kota Jakarta dapat berpetualang melintasi batas waktu lewat cerita roman-roman nya. Oleh sebab demikian seorang penulis handal merupakan seorang intelek.

Namun, menulis merupakan sebuah proses. Gaya dan struktur menulis seseorang merupakan cermin langsung kepribadian seseorang. Seorang yang berkecamuk hatinya tentu tidak akan menghasilkan tulisan yang bermutu. Menulis membutuhkan kesadaran penuh. Menurut saya, kesadaran penuh dalam menulis ini, secara berkala dapat membantu seorang untuk menjadikannya pribadi yang lebih rapih dan tertata. Hanya saja, menulis dengan kesadaran penuh ini, butuh latihan yang menerus dan konsekuen. Seorang seperti saya yang baru memulai menulis pastinya tidak akan dihiraukan orang layaknya tulisan-tulisan Pram. Jelas, karena saya masih ngawur menulis dan minim latihan.

Scribo Ergo Sum

Menulis juga merupakan sebuah entitas, terutama pada masa ini. Entitas ini bukan hanya untuk kita sendiri, namun juga merupakan bukti kehadiran nyata kita di dunia yang semakin ramai ini. Saya  menulis maka saya ada. Dengan menulis saya tahu siapa. Dengan menulis, saya bisa menertawakan dan menghargai pemikiran saya di masa lalu. Dengan menulis, saya bisa tahu perkembangan pribadi saya seperti apa. Oleh sebab saya masih ingin terus berkembang, maka saya pun menulis.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s