Tiga Alasan Untuk Tidak Mengurung Lumba-Lumba di Kolam

Pengantar :
 
Tulisan ini bukan tulisan saya pribadi. Saya hanya menterjemahkan secara sederhana saja (mudah-mudahan). Tulisan ini saya tampilkan karena sepertinya pengetahuan masyarakat kita (baca : Indonesia) belum banyak tahu akan hal ini. Negara di seberang sana yang katanya lebih maju jelas membuat kita lebih mudah untuk belajar dari pengalaman dan pendidikan yang mereka buat.
 
Lagipula, toh, konon katanya kita ini Bangsa Maritim yang 2/3 wilayahnya laut, ada kemungkinan kita mengalami kasus yang mirip – mirip. Mari, silakan membaca, maaf agak panjang yah hehe..
 

 Debunking Captivity: 3 Reasons Not to Keep Dolphins in a Tank

(Mengungkap Pengurungan: 3 Alasan  untuk  tidak mengurung Lumba-Lumba di kolam)

dolphin11a
Oleh :  Maddalena Bearzi ( 8 – April – 2014)

<http://newswatch.nationalgeographic.com/2014/04/08/debunking-captivity-3-reasons-not-to-keep-dolphins-in-a-tank/>

Debunking Captivity_Oritext

Aku telah menghabiskan banyak waktu disekeliling lumba-lumba liar selama kira-kira dua puluh tahun. Aku telah membangun sebuah karir dengan mengikuti pergerakan mereka setiap hari dan mengamati perilaku mereka baik dari pantai mau pun dari kapal penelitian. Sewaktu aku memulai studi ini, aku menyadari bahwa makhluk-makhluk ini adalah objek dari penelitian saya semata, namun seiring waktu berjalan, aku mulai mengenali mereka sebagai sebuah individu, tidak semata karena uniknya takik pada sirip belakangnya, namun juga karena kemampuan kognitif, kepribadian dan emosi mereka

Menghabiskan ribuan jam di laut, aku mulai mengenali mereka melalui penglihatan semata, dan seperti teman-teman manusiaku lainnya, mereka menjadi sebuah bagian penting dari hidupku. Aku belajar mengenai kebutuhan-kebutuhan mereka, tidak hanya kebutuhan ruang namun juga persahabatan/persaudaraan dan aku menjadi saksi sekelompok yang kompleks dan mengalir, yang dalam banyak hal sangat mirip dengan kita sendiri.

Aku juga telah secara langsung perbedaan kehidupan dari makhluk-makhuk ini di dalam aquaria (akuarium) dan taman rekreasi laut  dan aku tidak dapat untuk tidak bertanya mengenai alasan-alasan untuk mengandangkan makhluk yang sedemikian indah. Dalam pekerjaanku, aku telah mendengar semua macam pembenaran untuk tetap mengandangkan lumba-lumba, yang paling sering adalah pembenaran untuk alasan pendidikan, konservasi dan penelitian.

(Lihat : “First Person: How Far Will the Blackfish Effect Go?“)

Mari pertimbangkan apakah alasan-alasan diatas sahih. Tentu juga kita harus mengingat bahwa kita adalah spesies yang katanya cerdas dan penyayang dengan kemampuan untuk merefleksikan dan menganalisa apa yang kita ketahui mengenai lumba-luma dan dapat membuat keputusan yang masuk akal berdasarkan evaluasi tersebut.

Mengandangkan cetacean ( dan termasuk jenis binatang yang lainnya), dalam sebuah lingkungan terbatas mungkin dapat diterima di masa lalu, saat kita tidak mengetahui banyak, saat kita tidak mempunyai informasi cukup mengenai makhluk-makhluk ini di alam liar dan apa yang mereka perlukan untuk hidup. Namun sekarang, kita tahu jauh lebih banyak dibandingkan apa yang kita tahu dahulu.

Jadi apa yang kita tahu mengenai lumba-lumba? Berikut, secara singkat, adalah tiga alasan penting mengapa kandang dan lumba-lumba tidak berkaitan sama sekali.

 

  1. Lumba-Lumba adalah hewan berotak besar dan kognitif.

Jika kita pertimbangkan spesies kita sendiri sebagai makhluk tercerdas, maka lumba-lumba adalah yang kedua tercerdas, dengan skor yang lebih baik dari saudara sepupu kita sang kera. Melihat pada nilai EQ nya (Encephalization Quotient), yang merupakan representasi dari ukuran relatif besarnya otak dan estimasi kasar dari kecerdasannya, lumba-luma memiliki nilai EQ yang tinggi karena besarnya rasio ukuran otak terhadap badan yang tidak umum.

Dua dekade terakhir merupakan masa proliferasi dari investigasi anatomi dan morfologi dari para cetacean. Studi neuroanatomi otak mereka telah menunjukkan bahwa lumba – lumba memiliki jaringan neokorteks yang rumit dan berkembang sama dibandingkan dengan spesies lain, termasuk manusia, dan sebuah lipatan khusus pada serebral korteksnya, dimana pada cetacean terlihat lebih menonjol dibandingkan pada primata.

Mengapa ini penting? Karena, sederhananya, struktur yang disebutkan diatas berasosiasi kuat dengan pengolahan informasi yang kompleks. Lumba – lumba juga mempunyai neuron-neuron yang berbentuk poros, atau neuron-neuron Von Economo, yang merupakan kunci dari kesadaran sosial dan telah dikaitkan setara dengan kemampuan manusia untuk “merasakan” apa yang orang lain pikirkan.

Tidak ada keraguan bahwa kecerdasan itu sulit untuk ditentukan dan terlebih dalam dunia binatang, hampir semua binatang merupakan binatang “pintar” tergantung dari definisi kepintaran yang kita tentukan. Contohnya adalah, pada anjing-anjingku.. Namun, hanya pada beberapa spesies saja seperti lumba – lumba, sang kera dan manusia kita dapat menemukan kekompleksan otak, kekompleksan sosial dan kekompleksan ekologis yang saling terkait. Setidaknya sampai saat ini…

(Lihat: “Schoolchildren and Musicians Boycott SeaWorld in ‘Blackfish’ Flap.”)

Sumber : wikipedia.org
Sumber : wikipedia.org
  1. Lumba – Lumba Hidup Dalam Lingkungan Sosial Kompleks Di Lautan

Telah disebutkan bahwa otak lumba-lumba besar dan kompleks, namun apa guna dari kapasitas otak yang besar ini? Otak semacam ini telah memungkinkan lumba-lumba untuk mengembangkan sistem sosial yang kompleks dan mengalir, dimana mereka menjadi berkembang maju sedemikian rupa dalam lingkungan tiga dimensional yang cair.

Cetacean seperti lumba-lumba hidung botol (Spesies yang umum ditemukan pada aquaria dan taman rekreasi laut saat ini) mempunyai keahlian sosial dan komunikasi yang fleksibel dan sangat mengagumkan. Mereka hidup dalam jaringan sosial yang dikarakterisasi dengan diferensiasi hubungan yang tinggi yang sering bergantung pada kemampuan memori untuk mengetahui mana lawan dan mana yang benar-benar teman. Mereka terlibat dalam perburuan yang kooperatif dan mereka memilah sumberdaya dengan baik sehingga mangsa yang ada dibagi rata untuk semua anggota grup.

Dalam beberapa populasi lumba-lumba, sang jantan membentuk koalisi untuk menekan para betina (secara seksual) atau untuk mengalahkan koalisi pejantan lainnya. Mereka saling peduli satu sama lain, sang induk dan sang anak mempunyai hubungan sosial yang kuat dan berjangka panjang dan anak lumba-lumba dapat menghabiskan waktunya hingga dua tahun di samping ibunya untuk mengenal posisinya di lautan. Lumba-lumba bermain, saling mengikat, saling meniru dan saling belajar satu sama lain dan mentransfer informasi dari generasi ke generasi.

Perilaku transfer informasi pada keturunan mereka membuat mereka menjadi lebih berbudaya seperti kita. Seperti kita juga, mereka dapat mengenali diri mereka secara individual dan sadar diri sendiri, meskipun tingkatan kesadaran diri seorang lumba-lumba masih harus ditelusuri lebih jauh.

Di laut, lumba-lumba selalu bergerak, acapkali dalam grup berjumlah ratusan dan terkadang hingga sejauh ribuan mil. Otak besar mereka membantu mereka untuk mengumpulkan makanan yang tersedia secara sementara maupun tersebar luas. Lumba-lumba, seperti binatang lainnya, pada dasarnya adalah mamalia sosial komplek yang membutuhkan ruang ekspansif untuk hidup. Sebuah kolam/tanki tidak akan dapat memenuhi kebutuhan ini…

 

  1. Lumba-Lumba memiliki emosi (dan kepribadian)

Kita suka berpikir bahwa lumba-lumba adalah binatang bahagia yang dimana-mana selalu tersenyum dan bermain-main. Kita cenderung untuk menarik kesamaan bentuk pada manusia pada lumba-lumba, memproyeksikan atribut kita sendiri pada mereka. Tapi, apa yang kita lihat sebagai wajah gembira dari sebuah lumba-lumba sebenarnya menyamarkan emosi tersembunyi mereka, terutama apabila kita mengurung mereka dalam lingkungan tertutup. Jangan lupakan juga bahwa saat mati wajah lumba-lumba juga tersenyum!

Lumba-lumba, seperti kita, juga mempunyai sistem limbik dan mampu untuk mempelajari spektrum luas dari emosi seperti kesenangan, dukacita, frustrasi, marah dan cinta. Letakkan sebuah lumba-lumba dalam sebuah scanner MRI dan anda akan melihat sebuah struktur otak yang besar yang membuat mereka mengenali emosi kompleks. Melihat sebuah otak lumba-lumba, anda akan menemukan neuron-neuron Von Economo yang pada manusia erat terkait dengan rasa intuisi dan empati.

Mengesampingkan fakta-fakta otak maupun neuron dan meluangkan waktu bersama makhluk-makhluk ini di alam liar akan memberikan gambaran lebih lengkap bagi mereka sebagai makhuk yang beremosi dengan kepribadian yang beragam.Siapapun yang telah menyaksikan kasih sayang seorang induk lumba-lumba dalam merawat bayinya atau individu lumba-lumba yang menolong lumba-lumba lainnya yang kesulitan atau saat lumba-lumba berduka cita selama beberapa jam, bahkan hari saat ada kerabatnya yang meninggal, tidak akan menyangkal bahwa makhluk ini mempunyai perasaan.

Seperti halnya kecerdasan, kesadaran emosi pada para penghuni laut ini sulit untuk dipahami, didefinisikan dan diukur. Sebagai perbandingan, pikirkan saja betapa sulitnya bagi kita untuk mengetahui apa yang orang lain pikirkan atau rasakan pada setiap waktu tertentu.

Sekarang coba lihat sesuatu yang berbeda. Mari abaikan semua studi ilmiah dan apapun yang kita ketahui tentang lumba-lumba. Abaikan juga ketiga pernyataan yang mengatakan bahwa mengandangkan makhluk-makhluk ini adalah kesalahan yang fundamental dan sebaliknya berfokus untuk mengungkap argumen favorit yang pro pada pengandangan yaitu : penelitian, pendidikan dan konservasi.

Penelitian

Taman rekreasi laut dan aquaria cenderung memberikan kartu aman “Penelitian” setiap kali pertanyaan mengenai pengandangan lumba-lumba timbul. Memang benar, di masa lalu, studi-studi yang dilakukan pada penangkaran lumba-luma telah membantu menyulut pengertian dasar kita mengenai makhluk-makhluk ini; sebuah pemahaman yang tidak didapat para peneliti di laut pada era tersebut karena adanya keterbatasan teknis dan logistik. Namun, dunia telah berubah dan ilmu pun turut berubah dan kita sekarang mempunyai teknologi dan cara yang lebih efektif untuk mempelajari lumba-lumba ini pada habitatnya sendiri.

Secara umum, karena adanya pengaturan non alamiah, penelitian pada penangkaran memberikan pengetahuan yang lebih sedikit untuk aplikasi perlindungan dan pengelolaan spesies ini di laut. Nyatanya, jenis penelitian seperti ini bahkan dapat memberikan arti yang salah. Banyak publikasi penelitian pada binatang yang ditangkarkan berfokus pada teknik melatih dan perbaikan praktik peternakan, yang tidak mempunyai sangkut paut pada lumba-lumba yang hidup di alam bebas. Sebagai contoh : penelitian penyakit lumba-lumba di penangkaran telah gagal untuk memperkirakan mewabahnya virus penyakit pada populasi liar yang sering menimbulkan kematian massal.

Lebih jauh lagi, hanya sebagian kecil dari biaya yang didapatkan dari penjualan tiket pada lokasi penangkaran yang digunakan untuk penelitian (jika ada bahkan) dan kurang dari sepuluh persen kebun binatang atau aquaria yang terlibat dalam program penelitian konservasi, baik itu secara in situ (pada penangkaran) atau di alam liar.

(Lihat: “Opinion: SeaWorld vs. the Whale That Killed its Trainer.”)

 

Pendidikan dan Konservasi

Klaim paling umum dari banyak aquaria adalah mereka menyediakan peluang pendidikan yang bagus, yang menganggap dapat menunjukkan masyarakat untuk peduli pada konservasi lumba-lumba. Namun, ini jelas tidak benar.

Perbedaan terbesar pada opini disini adalah tidak adanya definisi yang jelas pada nilai pendidikannya. Cobalah berpikir saat membawa anak-anak ke taman rekreasi laut (aquaria). Hal ini bukanlah pengalaman yang mendidik sebab sang anak belum mengerti apa yang dilakukan makhluk-makhluk ini. Meloncat dan memercikkan air sesuai perintah atau mengambil ikan dari tangan seorang pelatih selama pertunjukkan adalah hanya sebuah stereotipe, perbuatan membadut yang tidak menunjukkan keseharian dari makhluk-makhluk ini. Kehilangan ruang alami mereka dan struktur sosialnya, lumba-lumba ini berubah. Lumba-lumba penangkaran tidak sama dengan mereka yang aku tahu dan lihat di alam liar.

Alih-alih, berpikirlah untuk membawa anak anda ke laut untuk mengikuti trip Whale-Watching yang mungkin sekali lebih murah daripada sebuah tiket aquaria. Bahkan, dalam sebuah trip tersendiri untuk pergi ke laut, seorang anak dapat mempunyai bayangan sekilas pada kehidupan nyata para lumba-lumba liar. Di laut, seorang dapat lebih memahami apakah para lumba-lumba itu dan bagaimana mereka dapat berperilaku dengan keluarga mereka sendiri. Di laut, seorang dapat melihat mengapa kita perlu untuk melindungi tidak hanya mereka namun juga lingkungan dimana mereka hidup. Ini adalah pelajaran-pelajaran mengenai konservasi yang sangat penting untuk seorang anak!

Klaim kedua adalah dengan menangkarkan mereka pada sebuah tanki maka kita menyelamatkan mereka dari polusi dan penangkapan berlebih, hingga mencegah kepunahan, dan bahwa program peternakan dalam penangkaran adalah untuk alasan konservasi. Memindahkan lumba-lumba dari habitat alami mereka untuk hidup dalam akuarium tidak akan mengatasi masalah lingkungan. Juga, pernyataan bahwa program-program ini membantu spesies yang terancam punah adalah salah, terutama jika mempertimbangkan bahwa spesies yang terancam punah bukan spesies yang dipelihara dalam penangkaran. Progam pembiakan dalam penangkaran hanya menyediakan satu hal : suplai dari para lumba-lumba yang terus tersedia untuk pertunjukkan dan hiburan manusia.

Terdapat banyak alasan mengapa memelihara makhluk-makhluk ini dalam penangkaran adalah keliru, seperti buruknya dan sering mengerikan, kondisi fasilitas tempat penangkaran lumba-lumba di seluruh dunia, dan tingginya tingkat sakit dan kematian dari hewan penangkaran. Tidak ada aquarium atau tempat rekreasi laut yang dapat memenuhi kebutuhan kompleks fisiologis dan psikologi dari sebuah lumba-lumba, atau bahkan binatang-binatang lainnya. Bahkan kita juga belum menyebutkan jumlah individu lumba-lumba yang terbunuh dalam usaha kita untuk menangkapnya, dan tingkat stress yang makhluk-makhluk ini rasakan saat terpisah dari jaringan sosial dan grupnya.

Sudah saatnya kita jujur sendiri bahwa satu-satunya alasan kita mengurung makhluk mengagumkan, berotak besar dan memiliki tingkatan kompleks sosial tinggi ini adalah untuk tujuan hiburan kita, hiburan untuk alasan menghasilkan uang, uang yang sangat banyak.

Lumba-lumba adalah siapa, bukan apa, dan mereka berhak mendapat haknya. Kita para manusia seharusnya menggunakan penilaian dan kasih kita pada mereka dan binatang-binatang lainnya dan berhenti untuk mengandangkan mereka sebagai tahanan mereka.

 

Maddalena Bearzi mempelajari ekologi dan conservasi dari mamalia laut selama lebih dari 25 tahun. Dia adalah Presiden dan salah satu pendiri dari Ocean Conservation Society, dan salah satu penulis dari Beautiful Minds: The Parallel Lives of Great Apes and Dolphins (Harvard University Press, 2008). Dia juga bekerja sebagai jurnalis foto dan blogger pada beberapa publikasi. Buku terbaru darinya adalah Dolphin Confidential: Confessions of a Field Biologist (Chicago University Press, 2012).

 

 

Daftar istilah :

Marine Parks/Aquaria :

Taman rekreasi laut, sejenis S*aW*rld maksudnya

Cetacean :

Mamalia laut sebangsa paus dan lumba-lumba

Proliferasi :

Masa perkembangan yang cepat

Sistem Limbik  :

kelompok struktur otak depan yang memiliki hipotalamus, amigdala, dan hipokampus yang terlibat dalam motivasi, emosi, belajar, dan memori

MRI :

Magnetic Resonance Imaging, adalah instrumen yang digunakan untuk melihat/membuat gambar organ atau struktur di dalam tubuh menggunakan medan magnet dan gelombang radio secara lebih baik jika dibandingkan X-ray, atau CT Scan.

Whale Watching :

Sebuah trip yang mengatur perjalanan ke laut untuk melihat ikan paus dan/atau lumba-lumba yang bermigrasi. Umumnya terdapat di Amerika dan kanada. Versi Indonesianya ada di Teluk Kiluan, Lampung.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

2 thoughts on “Tiga Alasan Untuk Tidak Mengurung Lumba-Lumba di Kolam”

  1. wahhh padahal dulu waktu kecil saya seneng dicium sama lumba lumba,,jangan-jangan bukan gara2 seneng ya lumba-lumbanya nyium hehe,, hmm kenapa namanya di Indonesia jadi lumba-lumba ya.. jauh banget dari dolphin *just curious*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s