Ujung Barat Jawa | Western Tip Of Java

Kembara Sang Babi / The Wandering Hog
Kembara Sang Babi  |  The Wandering Hog

Tak berapa lama lalu, di penghujung bulan ketiga tahun 2014 ini. Keberuntungan datang pada diri untuk menyempatkan diri mengunjungi penghujung barat pulau terpadat di Indonesia. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan menyita waktu dihiasi oleh pemandangan alam yang kontras dengan suasana kota. Siang menjelang pada batas terakhir manusia boleh berpenghuni bebas. Sore memanja langit berhias emas. Tiap malam intan nun jauh ditabur berserak.

Di ujung barat Jawa ini rasanya sunyi dan jauh sekali dibandingkan kota-kota yang bising sekitar 200 km di sebelah timur sana. 3 siang dan 2 malam kami ada disitu dan disitu saya merasakan sesuatu yang luhur sekaligus membuat bergidik. Dibalik bisingnya para turis yang hingar bermain, penduduk asli sana seperti juga alamnya nampak acuh pada manusia. Sang rusa dan Sang Kerbau dan Sang Babi dan para pepohonan dan desir angin yang menerpa dan gelombang yang menerjang pantai dan seluruh elemen alam lainnya di ujung barat Jawa ini seakan meremehkan manusia.

Lokasi ujung barat jawa ini sudah berumur sangat lama. Lokasi ini juga mempunyai cerita sejarah yang panjang dan kuno. Hutan primernya yang tua memberikan nafas oksigen yang segar dan menerus.

Jika anda kesana berbaringlah sejenak, sementara waktu, lepas dari permainan kita akan duniawi yang semu. Lepas dari bisingnya kata dan suara artifisial lain dan berserah pada nuansa alam yang kuno ini dan beralih untuk hanya mendengar.

Dengarkan desah alam primitif ujung barat jawa ini, menarik napas dan menghembusnya pada setiap desiran angin, sapuan ombak dan ributnya jangkrik. Dengarkan dan dengarkan ! dengarlah.

Maka anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan kala itu. Kengerian yang membuat bergidik sekaligus rasa hormat dan kagum yang adiluhung pada tempat ini, sang tempat kuno yang megah ini.

Maka mungkin anda pun jadi mahfum melihat tingkah sang babi yang acuh melintas di pantai bagai sang empunya tanah.



Sang rusa yang tenang / The serene deer
Sang rusa yang tenang  |  The serene deer

Not so long ago, at the end of the third month of the year 2014. Luck comes to myself for taking the time to visit the western edge of the most densely populated island in Indonesia. The long journey is quite laborious and time-consuming but it is decorated by natural landscapes, contrast with the atmosphere of the city. Noon arrive at the last permitted human boundary. The pampered afternoon sky are decorated with gold. Each night the distant diamonds are sown scattered .

At the western end of Java, it is desolate and far away compared to the noisy cities located 200 km to the east. For 3 day and 2 nights we were there and there I felt something sublime and something that make me shudder. Behind the noises of the tourists with their hustle games, the natives there appears ignorant of human nature. The deer and the buffalo and the hog and the trees and the wind and the waves that hit and crashing the shore and all of the other natural elements at this western tip of Java seem to underestimate humans.

The location of this western end of Java has become a very ancient life. This location also has a long and ancient history. The old primary forest keep giving it fresh breath of oxygen continuously.

If you were to visit there, just lie for a moment, temporarily, escape yourself from the mundane false game. Apart from the noises of words and other artificial sounds and surrender to feel the nature of this ancient life and switch it to just listen..

Listen the sithe of this primitive nature of the western end of Java, whilst it blew breath on every whisper of the howling wind, the breaking waves and the squealing crickets sweep. Listen and just listen! Listen.

Thus you will probably feel the same way with the way I feel at the time. The horror that makes me shudder and also the respect and admiration of this valuable place all at once, this magnificent ancient place.

Thus you might also be knowingly understand to see the behavior of the hog who seem indifferent passing on the beach in such manner as he owns of the land.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s