Ujung Kulon set 1.

Peta Taman Nasional Ujung Kulon
Peta Taman Nasional Ujung Kulon. Hak Cipta : Balai TNUK, Departemen Kehutanan.

Introduksi

Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya disebut dengan TNUK atau UK), merupakan taman nasional pertama di Indonesia yang ditetapkan pada tahun 1992 dengan luas daratan terlindungi 78.619 Ha dan luas perairan terlindungi 44.337 Ha. Total luasannya menjadi 122.956 Ha, bandingkan dengan luas Jakarta yang seluas 74.000 Ha. Meskipun ditetapkan tahun 1992, namun UK telah dilindungi sejak jaman Belanda dulu. Pemerintah hindia belanda kala itu sudah menetapkannya sebagai kawasan suaka alam sejak tahun 1921. Bahkan, naturalis terkenal kelahiran Jerman F. Junghun sudah mulai mengenali dan mengoleksi tetumbuhan tropisnya sejak tahun 1846.

Mirip dengan taman nasional lainnya di Indonesia, TNUK sangat bersinggungan dengan kehadiran masyarakat lokal yang memang sudah bergenerasi tinggal disana. Wilayah Desa Sumur dan Desa Tamanjaya sebagai contohnya adalah para penduduk-penduduk yang sudah bermukim berbatasan dengan TNUK. Hidup berbatasan dengan taman nasional tentu tidak mudah, karena penduduk yang umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan itu mengandalkan alam sekitar untuk kelangsungan hidupnya maupun untuk meningkatkan tingkat penghidupan mereka. Kasus-kasus sengketa dan perselisihan antara penduduk dan pihak pemerintah yang diwakili oleh Balai TNUK telah terjadi pada masa-masa awal penetapan UK sebagai wilayah perlindungan alam nasional. Detail contoh kasusnya bisa dicari sendiri pada Mbah Google, saya tidak akan menulisnya disini.

Penduduk pemula dari wilayah UK adalah penduduk dari wilayah kesultanan Banten. Salah satu cerita yang mudah ditemui adalah bukti adanya mercusuar Tanjung Layar dan bekas dermaga di Cibom yang didirikan pada awal tahun 1800 dengan tujuan untuk membantu pelayaran niaga dari perusahaan VOC tentunya. Pembangunan kedua struktur tersebut tentu tidak mungkin tanpa adanya peran serta dari masyarakat Banten yang bermukim disana. Pada kali kesempatan saya berkunjung kesana, yang nyata terlihat disana adalah peninggalan mercusuar Tanjung Layar dan bekas penjara bawah tanah. Sedangkan dermaga Cibom sulit untuk dilihat bekas kehadirannya secara gamblang.

Hasil penelitian arkeologi Pulau Panaitan tahun 1992 yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional mendapatkan sejumlah tinggalan arkeologi dan sejarah, misalnya: bangunan kolonial di Tanjung Layar, lukisan gua di Sangiang Sirah, arca-arca di Pulau Panaitan, dan lingga di Pulau Handeulum, sisa-sisa pemukiman kuno di Taman Jaya dan Sumur. Dari situs-situs tersebut, baru diteliti situs Tanjung Layar dan Pulau Panaitan. Entah bagaimana selanjutnya hasil-hasil penelitian ini, yang pasti sewaktu saya berkunjung kesana kalau tidak ditanyakan langsung rasanya mustahil mendapatkan informasi ini di TNUK. Singkatnya ” ya, kalo lu mau tau..ya tanya aja..kalo gak ya gua juga gak ngomong “.

Tiba di Ujung Kulon

Memang, kali kesempatan saya kesana memang tidak mendapatkan pemandu berseragam Taman Nasional yang rapi dan necis, alih-alih kami ditemani oleh masyarakat yang terbiasa memandu pengunjung. Berkunjung ke TNUK dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu, berkunjung sendiri dengan peralatan dan menjadi pemandu bagi diri sendiri, kedua berkunjung sendiri dengan dipandu masyarakat setempat, ketiga berkunjung dengan ditemani pemandu TNUK. Harganya jelas berbeda bagi tiga tipe perjalanan tersebut. Mungkin informasi lebih lengkap bisa saya dapatkan kalau ditemani oleh pemandu TNUK, sayang kantong saya banyak bocornya, jadi susah untuk mendapatkan pemandu yang bagus.

Kondisi jalan berbatu dan berbolong.
Desa Taman Jaya, Ujung Kulon

Desa Taman Jaya merupakan lokasi hunian manusia terakhir yang kami datangi sebelum memasuki TNUK. Desa itu sendiri tidak terlalu ramai dan telah ramah pada pengunjung, ramah khas Indonesia. Tak tampak dimuka bekas-bekas perselisihan pada masa lalu, entah bagaimana di hatinya. Pada siang hari yang terik dan tanpa ada ba-bi-bu, ataupun sedikit introduksi dari pemilik perahu/penginapan kami langsung diarahkan menuju dermaga untuk naik perahu dan menuju Pulau Peucang untuk mendaftarkan diri kami ke kantor Balai TNUK sebagai pengunjung. Kebetulan, cuaca hari itu tenang dan cerah sehingga perjalanan dari dermaga Taman Jaya menuju Pos TNUK di Pulau Peucang tidak dihadiahi ombak besar sehingga kami bisa beristirahat dan menikmati pemandangan Pulau Jawa yang paling ujung.

Foto diambil menuju pulau peucang.
Ujung Pulau Jawa bagian barat
Bagan di UK umumnya adalah bagan tancap.
Di kejauhan terdapat banyak Bagan-Bagan. Bagan adalah tempat penangkap ikan yang bekerja mengandalkan cahaya dan jaring.
Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

One thought on “Ujung Kulon set 1.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s