Flores 0.3 : Ende – Salam Tiga Warna.

2014. Akhir Juni.

Kala itu, Bandara Ngurah Rai belum lama berbenah. Interior bandara dan jalan tol lautnya belum lama dibuka. Cuaca kala itu cerah, terik lebih tepatnya, padahal matahari belum naik benar. Dari penginapan di daerah Kuta. kami bergegas menuju Bandara agak terburu. Bali yang sekarang, rasa-rasanya cepat sekali perubahannya. Kata “macet” menjadi cukup sering digemakan di Kota Denpasar ini. Denpasar, Bali, merupakan pintu awal keberangkatan kami menuju Pulau Flores. Denpasar, sebagai salah satu gerbang menuju Indonesia bagian timur memang merupakan tempat persinggahan yang tepat. Bukan hanya bagi kami, banyak juga yang mau berangkat menuju bagian timur Indonesia melewati Bali terlebih dahulu.

Di Ngurah Rai, pesawat kami merupakan pesawat perusahaan aviasi yang memang rasanya bertujuan menjadi jembatan antar nusa-nusa yang terpencar. Trans Nusa namanya, dan kami berangkat menuju Ende. Jadwal penerbangan waktu itu menunjukkan keberangkatan pukul 13.10 dari Bali dan tiba pukul 15.26 di Ende atau dua jam enam belas menit mengudara. Namun, sepertinya penerbangannya lebih lama dari jadwal, sebab transit terlebih dahulu di Labuan Bajo. Selama terbang, jika anda berada pada sisi jendela yang tepat maka anda bisa melihat mutiara-mutiara kecil Kepulauan Indonesia ( Pulau-pulau kecil Nusa Tenggara), yang menyegarkan mata.

Di Timur Indonesia, waktu berjalan lebih awal, sore sudah menjelang dan kami pun bergegas keluar bandara menuju penginapan yang memang sudah kita tentukan. Dari pantauan mesin pencari internet, jaraknya cukup dekat ditempuh dengan berjalan kaki. Nama penginapan itu adalah Hotel Ikhlas, hotel murah, nyaman bagai rumah dan ada fasiilitas wi-fi pula. Tidak lama, kami pun segera beristirahat dan menyamankan diri.

3Hotel Ikhlas. Bayar sesuai harga tertera, bukan seikhlasnya hehe.

Subuh. Kira-kira jam 5 pagi, gelap,  tetapi langit cerah. Bintang masih semarak di jauh langit sana, penuh berbintik terang. Pakaian agak tebal dan bekal telah siap melekat pada kami. Saat itu, kami sedang bersiap menuju Kawah Kelimutu. Jaraknya cukup jauh dari Ende kota, sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan motor. Motor yang kami gunakan kami pinjam dari orang hotel dengan harga yang lumayan per harinya (1 lembar kertas merah bergambar Sukarno-Hatta).

Saat berangkat, udara dingin agak teratasi sedikit dengan memanaskan motor sewaan. Namun, seiring meningkatnya topografi, udara dingin semakin menusuk tulang. Jalan berkelok-kelok dengan tebing di sisi sebelahnya. Pemandangan bukit hijau merupakan penghibur bagi mata yang mengantuk dan badan yang dingin.

4

Menuju Kelimutu, sekitar Moni. Sebelah kiri jalan ditandai dengan lanskap memukau.

Pada elevasi sekitar 1000 meteran, pada suatu area di Moni pukul 6 pagi, kami terpaksa meminggir sebentar untuk mencairkan badan yang membeku. Dinginnya udara saat naik motor membuat baju sedikit lembab dan membekukan tangan. Beruntung setelah beristirahat, matahari sedikit mengintip dan menyinari jalan.

Sekitar 7 Pagi, motor kami sudah berada di parkiran Kelimutu. Memasuki Kelimutu, ada tiket masuk yang harus kami bayarkan yang merupakan tiket domestik untuk tiket masuk, tiket parkir motor dan tiket kamera.  Harga total untuk perorangnya tidak melebihi selembar kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai, jadi masih sangat terjangkau bagi wisatawan nusantara. Dari pos ini menuju area parkir menuju kawah masih berjarak sekitar 2 km lagi. Kondisi jalannya tipikal Bumi Nusa, sempit dan bertikung tajam.

IMG_2450Pos Jaga Balai Taman Nasional Kelimutu (tarif berbeda untuk Wisman dan Wisnu, kamera juga kena tarif)

Jalan menuju ketiga Kawah Kelimutu dari lokasi parkiran tidak begitu jauh. Tidak lama berjalan, kami sudah sampai di Danau pertamanya yaitu, Kawah Ata Polo. Saat itu, Kawah Ata Polo berwarna coklat hitam. Kawah Ata Polo ( Tiwu Ata Polo bahasa lokalnya) mempunyai luas sekitar 4 Ha dan kedalaman sekitar 64 meter. Berdampingan dengan Ata Polo adalah Kawah Nuamuri Koofai (Tiwu Nuamuri Koofai bahasa lokalnya) yang mempunyai luas 5.5 Ha dan kedalaman sekitar 127 meter. Agak terpisah dari kedua Kawah tersebut adalah Kawah Ata Mbupu dengan luas 4.5 Ha dan kedalaman sekitar 67 meter. Perubahan warna pada ketiga kawah ini disebabkan adanya perubahan kandungan kimiawi yang terdapat pada kawah-kawah ini. Tercatat, sejak tahun 1915 hingga 2011 terdapat 44 kali perubahan warna pada Kawah Tiwu Ata polo, 25 kali perubahan warna pada Kawah Nuamuri Koofai dan 16 kali perubahan warna pada Tiwu Ata Mbupu (Sumber : BTNK, 2014).

5Kelimutu, akhir Juni 2014. Sewaktu itu berwarna Coklat Hitam, Biru dan Hijau.

Kelimutu tahun 2000an ini sudah banyak dipantau oleh teknologi masa kini untuk menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat. Berbeda dari teknologi dan sama halnya dengan banyak gunung di Indonesia, terdapat cerita rakyat lokal yang cenderung mistikal sebagai latar belakangnya. Kelimutu, dengan ketiga danau yang dapat berubah warna, pada jaman dahulu kala pasti juga mempunyai cerita mistikal yang tidak kalah hebatnya dengan gunung-gunung lain di Indonesia.

Yang patut diperhatikan pada Kelimutu selain keindahannya adalah kerapihan fasilitas Kelimutu tersebut. Sebagai sebuah taman nasional, rasanya cukup lega melihat fasilitas penunjangnya yang baik dan agak terbebas dari sampah. Mulai dari parkiran hingga Puncak Triangulasinya terdapat jalan setapak yang cukup terawat dan di beberapa bagian sudah diperkeras semen serta pagar pengaman. Fasilitas tempat sampah juga terdapat di beberapa lokasi dan terjangkau oleh semua orang, perkara perilaku pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan itu lain soal (meski begitu, ternyata terdapat juga pemungut sampah yang rutin berkeliling membersihkan sampah). Terdapat juga papan/meja informasi penerangan bagi pengunjung, meskipun masih dalam Bahasa Indonesia. Terdapat juga kamar mandi yang bersih dan berkeramik. Keberadaan saung-saung kecil juga memudahkan pengunjung yang kecapaian berjalan kaki. Fasilitas paling menarik dan paling bagus menurut saya adalah keberadaan papan informasi keselamatan yang mengatur agar pengunjung berada pada batas/jarak/jalur aman.  Walaupun sederhana (sebuah papan kayu biasa) tapi cukup memberikan kehati-hatian untuk berada dalam batas aman bagi pengunjung. Seperti yang kalian semua tahu, potensi gas-gas beracun dan pergerakan tanah (baca : longsor) di sebuah gunung yang aktif sangat mungkin terjadi dan papan informasi semacam ini sudah ada di Kelimutu.

IMG_2374Rambu area seremonial adat, sebuah lahan kosong yang lumayan luas.

P1020757Papan informasi di pinggir kawah Nuamuri Koofai.

P1020704Rambu Informasi Daerah Rawan Longsor. Rambu petunjuk yang sederhana namun penting.

IMG_2390

Ini juga rambu yang okeh bener. “Tetap berada di jalur anda bos !”

P1020763Susunan tangga menuju puncak yang telah rapih ditambah pagar pengaman. Keren.

P1020746Tong sampah di dekat puncak dan kawah. Kalau agak lama disini dan sedikit memperhatikan, akan ada beberapa trip rutin dari petugas/orang lokal untuk mengambil sampah yang berserakan.

P1020708Tempat toilet yang rapih dan bersih. Entah bagaimana kalau puncak musim turis, mudah-mudahan tetap seperti ini.

P1020778Tempat istirahat. Meskipun medan jalannya sebenarnya sudah cukup banyak kemudahan, akan tetapi keberadaan shelter dan beberapa tempat duduk yang tersebar cukup mengisyaratkan kenyamanan berkunjung.

P1020716Ini juga termasuk rambu yang keren. Info flora dan fauna yang ada di sekitar kawah. Sekali lagi, kalau mau diam dan sedikit jeli sejenak di sekitar lokasi kawah, flora dan fauna nya akan menampakkan diri dengan sedikit malu-malu.

Meskipun masih ingin berlama-lama disini, namun matahari yang semakin meninggi pun akhirnya membuat kita berkesudahan juga akhirnya. Pada perjalanan pulang, tidak ada gunanya memacu kendaraan cepat-cepat ketika dihadapkan pada pemandangan indah yang membelalakkan mata. Alhasil, dalam perjalanan pulang, kami berhenti beberapa kali hanya sekedar untuk duduk santai dan menikmati keindahan.

Saat-saat yang mengagumkan.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s