Flores 0.35 : Ende – Periuk Pancasila.

P1020838Rumah Pengasingan Bung !

P1020842

Papan petunjuk sederhana. Nyata sederhana he he.

Kembali di Ende, setelah makan siang dan berlindung dari terik mentari di hotel, kami berlanjut menuju rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Bagi pendatang dan wisatawan mandiri, agak sulit menemukan rumah pengasingan ini, sebab tidak ada petunjuk arah yang cukup jelas menuju lokasinya. Mau tidak mau, keterampilan bertanya mutlak diperlukan. Berada agak dipinggir kota, rumah itu terhimpit oleh bangunan sekitarnya. Seandainya tidak ada papan nama yang menonjol dan tidak bertanya pada orang, agak sulit mendapatkan lokasinya. Kesan pertama yang kita dapatkan dari rumah itu adalah kerapihan dan kesederhanaanya. Rapih, tanpa sampah yang terlihat. Rumput-rumput teratur dan berdiri tak terlalu tinggi. Batu-batu kerikil berkelompok sedemikian seperti satu persatu diatur. Sayang, sewaktu kami kesana, tidak tampak ada orang yang menjaga sedangkan pintu terbuka lebar.

P1020844Meja dan Kursi Tamu. Karena diberi pembatas kaca, jadi kami berdiri saja.

Entah sedang dimana yang menjaga, kami pun memutuskan untuk berkeliling sendiri. Tidak jauh dari pintu depan, terdapat kotak sumbangan sukarela dengan jumlah minimum yang bisa disumbang he he. Saran saya, jangan terlalu pelitlah dengan warisan budaya nasional seperti ini. Didalamnya, saya mendapatkan kesan yang nyaman rumahan namun bernuansa perjuangan. Berikut kutipan informasi yang saya dapatkan mengenai rumah pengasingan Ende (http://www.bungkarnodiende.com dan http://www.indonesia.travel/id/destination/690/rumah-pengasingan-bung-karno-di-ende-flores).

Tanggal 28 Desember 1933 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang membuat Soekarno, yang saat itu berusia 33 tahun harus menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Dikawal serdadu Belanda, Bung Karno bersama keluarganya bertolak dari Surabaya dengan menumpang kapal barang KM van Riebeeck menuju Flores. Setelah berlayar selama 8 hari, mereka tiba di Ende, kota kecil di pesisir selatan Pulau Flores pada tanggal 14 Januari 1934 dan langsung dibawa ke rumah tahanan di kampung Ambugaga, kelurahan Kota Ratu, Ende. Di rumah pengasingan inilah, Sang Proklamator beserta istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih dan kedua anak angkatnya Ratna Juami dan Kartika menghabiskan  waktu mereka selama 4 tahun (1934-1938).

Setelah menjalani masa pembuangan di Pulau Flores selama empat tahun, sembilan bulan dan empat hari, pada tanggal 18 Oktober 1938 Bung Karno meninggalkan Ende dengan naik kapal yang akan membawanya ke Bengkulu.

Selama di Ende, Bung Karno dan keluarganya menempati sebuah rumah di tengah perumahanan penduduk biasa. Rumah itu milik Haji Abdullah Ambuwaru. Rumah sederhana itu tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang. Tidak ada listrik dan air ledeng. Apalagi telepon dan telegram. Luas bangunan rumah adalah 9X18 m² didominasi oleh kayu dan memiliki tiga kamar yang berderet di sisi kanannya. Satu kamar tidur untuk Bung Karno, satu kamar untuk Ibu Inggit bersama Ibu Amsih, dan satu kamar lagi adalah ruang Bung Karno menerima tamunya. Di bagian belakang rumah ini terdapat sebuah mushalla, kamar untuk pembantu dan sebuah sumur sedalam 12 meter yang airnya masih dapat digunakan hingga sekarang.

P1020841Sumur dibagian belakang rumah, iya itu sumur biasa. Tidak, tidak ada ajaib dan magis-magisnya. Sudahlah.

Dalam pengasingannya Bung Karno gemar merenung di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut. Pohon aslinya kini sudah tiada karena tumbang oleh angin. Kini, pohon itu berganti dengan pohon sukun baru yang ditanam sejak 17 Agustus 1981 tepat pukul 9 pagi. Penanamannya melalui upacara dihadiri sekitar 40 orang teman Bung Karno yang pernah mendampinginya di Ende tahun 1934.

Pohon sukun tersebut lokasinya 100 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Tepatnya di Lapangan Perse (sekarang dinamakan Lapangan Pancasila). Oleh sebagian masyarakat pohon tersebut dianggap keramat dan lebih dikenal sebagai Pohon Pancasila.

Menurut cerita masyarakat, saat hari panas maka Bung Karno sering duduk berteduh di bawah pohon sukun tersebut sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya. Di bawah pohon itu Bung Karno merenungkan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila. Pemikiran Bung Karno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, Bung Karno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara.

Lepas dari Rumah Bung Karno, rasa-rasanya jadi agak terhenyak dan sedikit malu. Pada keterasingannya beliau malah mendapatkan pemikiran yang benar brilian. Saya kalau diasingkan, mungkin malah molor terus hehehe. Sebagai penutup hari, di ujung timur Kota Ende kami mengunjungi sebuah pantai yang bukan pantai wisata namun indah untuk dinikmati mata. Secara geografi unik dan sepi dari pengunjung. Penutup hari yang mengagumkan. Indahnya Ende.

P1020873Pantai berbatu nan sepi nan ciamik. Bukan tempat wisata, hanya sebuah pantai di sebuah kampung nelayan di pojok Ende.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s