Flores 0.44 Taman Laut Riung bagian 2

(Masih di) Riung. Sekitar jam 07.00 pagi.

Tamri Home Stay tahun 2014. Kabarnya di belakang sedang dibuat rumah penginapan yang lebih baru.

Cerah. Mungkin terlalu cerah. Ah, tidak, kali ini pas cerahnya. Tidak terlalu terik, tidak terlalu dingin juga. Tamri Home Stay memang dikelilingi pohon rindang, jadi terik matahari menyapa ramah di halaman ini. Hari ini kami bermaksud pindah pulau. Dari Pulau Flores berpindah ke sebuah taman. Sebuah Taman Laut. Taman Laut 17 Pulau Riung lebih tepatnya.

Nama Taman Laut ini diambil dari 17 pulau yang menjadi wilayah konservasinya dan juga diambil dari tanggal 17 Agustus agar lebih mudah dikenal. Tanggal peresmiannya kurang tahu, Oom Wiki tidak menyebutkan infonya. Namun yang pasti, dari penampakannya, Taman Laut 17 Pulau ini tidak mengalami nasib yang sama seperti “saudarinya” di ujung barat Pulau Flores (T.N Komodo). Dari penampakan, taman ini seperti kurang urus dan berjalan swadaya oleh masyarakat saja. Ah sudah, tidak usah bicara lagi masalah pengelolaan, biar yang lain saja yang bicara.

Nah, kembali lagi. Semalam, setelah berbincang dengan Sang Manajer Home Stay, beliau menyambungkan kami dengan empunya kapal untuk mengantar kami bermain air hari ini. Hmm…saya lupa namanya, tapi saya ada fotonya. Ya, beliau akan mengantarkan kami dan hanya kami untuk bermain seharian di taman laut plus makan siangnya. Yap, betul hanya kami saja yang akan bermain saat itu. Kami kira saat itu akan ada pelancong lainnya bermain, tapi tidak, hari itu hanya kami berdua yang akan bermain di taman laut itu. Surga he he.

Baiklah. Baju basah sudah siap, sarapan sudah, kamera sudah dan melangkahlah kami ke dermaga. Di dermaga, ada loket kecil sebagai tanda retribusi kami masuk taman. Retribusi yang bikin geleng kepala, hanya 3000 kepeng saja. Tiga buah lembar seribu, yang setara dengan 5 buah gorengan kecil nan nikmat namun tidak cukup untuk membayar angkot dari Dago – Kalapa, Cicaheum-Ledeng, atau Ciroyom-Cicaheum karena butuh 2000 kepeng lebih banyak.

Mengisi buku tamu. Daftar pengunjungnya sangat beragam dan maksudnya bukan beragam provinsi Indonesia, tapi dari beragam negara juga. Sayang belum maksimal potensinya.

Sudahlah, dengan begitu setidaknya ada ongkosnya juga toh, daripada gratis sama sekali. Akhirnya kami pun berjumpa dengan kapal dan kru kapalnya. Seorang kapten campur juru mesin dan juru masak, dan dua mualim ingusan. Satu mualim ini adalah keluarga dari sang kapten dan satu lagi keluarga sang manajer home stay. Semua keluarga yah he he.

Dermaga Apung Riung. Disambung dengan dermaga beton dibelakangnya. Pantainya sepertinya cukup landai, bila surut rendah mungkin mencakup jarak yang cukup jauh. Penambahan dermaga mempermudah akses pada kondisi surut rendah.
Kiri, Sang Mualim I, dalam beberapa tahun mungkin sudah bisa menggantikan sang kapten. Tengah kiri, Sang Nahkoda merangkap Kepala Kamar Mesin. Tengah belakang tidak usah disebut. Kanan, Mualim 2, masih pemula sekali.
Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s