Flores 0.5 Bajawa (kembali)

Bertolak dari Riung, kami bersinggah ke Bajawa. Mungkin masih belum bisa move on dari Riung, belum bisa pergi terlalu jauh. Bajawa juga kota dengan suasana yang tidak asing bagi kami, sejuknya Bajawa mengingatkan kami pada Bandung. Bajawa juga tidak jauh dari Kampung Bena, kampung megalitik yang nyatanya juga belum move on dari jaman megalitik. Jadi memang, Bajawa bagi kami adalah kota yang wajib disinggahi.

Kampung Bena dilihat dari sisi selatan.

Memang, sebelum bertolak ke Riung, kami sempat mampir dikota ini juga namun hanya beberapa jam sebelum naik bus menuju Riung. Sekelabatan perjumpaan itu, ternyata cukup meyakinkan kami untuk lebih lama lagi bersanding ke kota ini. Bajawa adalah kota yang terletak di dataran tinggi di tengah Pulau Flores. Hawa udaranya dingin, pada pagi dan malam hari suhu umumnya turun dibawah 20° C. Bagi yang pernah merasakan Bandung sebelum masa Tol Cipularang, menurut saya kota ini mirip dengan Bandung kala itu, setidaknya dari dinginnya lah.

Salah satu sisi Kota Bajawa, dekat pasar.

Dari Riung, kami sudah berada dikota ini agak siang, kami pun diantar langsung menuju hotel oleh taksi kami. Penginapan ini cukup bersih dan agak rumahan, terdapat air hangat di pagi hari dan kopi bajawa yang maknyus. Di luar dugaan, ibu penjaga hotelnya ternyata adalah orang sunda, eleuh… Saya lupa tepatnya beliau dari mana, tapi kami sempat bicara sedikit dan terlihat kerinduan beliau akan tanah asalnya di barat sana.

Menuju Bena, punggungan lancip yang berjajar apik

Tidak lama dihotel, kami bergegas mencari info dan kendaraan menuju Kampung Bena. Sewa motorpun kami dapatkan dengan cukup mudah di terminal luar kota. Terminal itu pun bersebelahan dengan jalan menuju Kampung Bena. Terlihat beberapa turis berseliweran di jalan itu, baik dengan motor sewanya maupun kaca mobil terbuka yang menampakkan wajah turis. Dengar punya dengar, sedang ada upacara disana, acara pemberkatan rumah kalau tidak salah.

Kondisi jalan menuju Bena…bandingkan dengan Jalan Gatot Subroto, Jakarta di pagi dan sore hari. Ok ok ok…perbandingan yang kelewat jauh, tapi ini toh blog saya kan hehe…

Sudah, kami pun langsung berangkat menuju kesana. Tidak mungkin terlewat katanya, hanya satu jalan itu katanya. Dekat juga katanya, tapi semua tahu, kalau orang lokal bilang dekat, Sang pendatang harus sedikit cerdik melipatgandakan “jarak” itu. Di perjalanan, sungguh sayang sekali kalau anda memacu kencang kendaraannya, pulau ini memang nyata indahnya. Di tengah jalan, jika cuaca cerah mata anda bisa dipastikan membelalak akan kegagahan Gunung Inerie. Jalannya memang kecil dan sedikit curam, tapi sepadan dengan keindahannya.

Gunung Inerie. Perhatikan jejak vegetasinya. Fantastis.

Selama berkendara menuju Bena, seandainya tidak ada drama berlebih (selip dan jatuh dari motor hehe) maka kami pasti sempat melihat upacara yang sedang berlangsung.  Nyatanya, kami datang di penghujung upacara. Babi korban persembahan telah disembelih dan dibagi, langsung diolah saat itu juga dalam suatu kemeriahan komunal. Sepertinya semua orang sedang bersenang hati. Apalagi yang dapat daging babi paling banyak.

P1030351 Yes, this might seems cruel, but wait until it served to your plate…yumm..

Memasuki Kampung Bena dikenai biaya retribusi yang diganti dengan senyuman dari penjaga pos. Saya lupa biayanya berapa, yang pasti turis berkulit sawo matang dan berlidah melayu macam kami dikenai retribusi yang lebih murah dari si kulit pucat dan berlidah serba ‘Ssss’.

Well preserved cultural community, sharing is caring. Everybody is invited.

Kampung Bena yang terletak di dataran tinggi memang merupakan kampung yang sudah hidup lebih dari 300 tahun lalu, budayanya telah berusia 1200 tahun lebih. Kampung Bena merupakan warisan dari Suku Ngada yang berada di tengah pulau Flores ini. Kampung Bena diceritakan secara turun temurun sebagai sebuah kapal yang terdampar pada dataran tinggi selagi mengarungi Laut Sawu. Penumpangnya memutuskan untuk membangun permukiman di atas kapal tersebut. Ketujuh orang penumpang kapal tersebut adalah tujuh orang leluhur Kampung Bena. Konsep peletakan permukiman Kampung Bena pada posisi dataran tinggi adalah untuk alasan peperangan. Karena itu, permukiman diletakkan pada posisi tinggi supaya prajurit mampu mengintai musuh yang mendekat dari lembah – lembah di sekitar kampung.

KampungBenaIlustrasi Tatanan Kampung Bena ( Agusta, Y. 2011)

Kampung Bena berkonfigurasi linear dengan sumbu utara selatan, dengan muka kampung menghadap utara. Rumah-rumah tersusun secara linear saling berhadapan dengan arah timur dan barat. Pasangan bangunan sakral yang disebut nga’dhu dan bagha merupakan komponen sakral dalam budaya Suku Ngada yang harus hadir dalam setiap kompleks permukimannya. Komponen ini hadir berpasangan sebagai perwujudan leluhur pria dan wanita, yaitu nga’dhu sebagai simbolisasi leluhur pria dan bagha sebagai simbolisasi leluhur wanita. Jumlah pasangan nga’dhu dan bagha dalam suatu kampung Ngada menunjukkan jumlah klan yang menetap di kampung tersebut. Di Kampung Bena terdapat sembilan pasang nga’dhu dan bhaga, menandakan sembilan klan yang tinggal di dalamnya, yang diberi nama sesuai nama leluhurnya.

Suku Ngada memiliki kebudayaan untuk memasang rahang babi dan tanduk kerbau pada teras rumah. Benda – benda ini menandakan jumlah hewan kerbau dan babi yang dikurbankan selama pembangunan rumah tersebut. Pemasangan ini juga dimaksudkan sebagai kenangan bagi keturunan pemilik rumah tersebut, bahwa orangtuanya bekerja keras untuk mampu mengurbankan hewan sebanyak itu.

Kampung Bena adalah kampung adat yang paling dikenal di Bajawa karena keaslian dan keindahannya, di antara puluhan kampung adat lain di sekitarnya, dan membuat Kabupaten Ngada menjadi terkenal karenanya. Kebersamaan dan rasa memiliki masyarakat sekitar terhadap Kampung Adat Bena menimbulkan rasa emosi terhadap kejadian – kejadian, atau perubahan yang terjadi pada kampung tersebut dalam segala hal. Di kalangan masyarakat Bajawa, Suku Ngada dan Kampung Bena telah menjadi identitas yang diakui secara luas. Bila membahas Bajawa, tidak mungkin tidak tersebut nama Kampung Adat Bena. (Agusta. Y. (2011))”

A more recent way of life than megalithic way.

Scientifically this stones serves a meaningful cultural purposes, well…okey. But, i just think this is some cool Game Of Thrones stones Flores version. :p

 

Hang out terrace, such a view. Cloth masterpiece.
Bayangkan kalau anda punya rumah yang usianya ratusan tahun.
Bagus juga sepertinya kalau diatas rumah dipasang seperti ini. Bagus buat menakuti kucing berisik pengen kawin diatas genteng.
Masa depan Bajawa
Horns..Now, who wouldn’t feel a little bit proud to have that in your front porch.

 

Referensi :

Agusta, Y. 2011. Konservasi Arsitektur Vernakular, Objek Studi : Kampung Bena, Flores, Nusa Tenggara Timur. Makalah Ilmiah. Program Studi Arsitektur, Unviersitas Parahyangan.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s