Flores 0.58 Ruteng, kota perubahan.

Menuju Ruteng, dihampiri kabut gunung tebal. Bila beruntung, disisi jalan dapat dijumpai kerabat terdekatmu bersantai dipinggir jalan. Monyet Macaca. si ekor panjang.

Ruteng, bila ditarik garis lurus sebenarnya dekat saja dari Bajawa. Akan tetapi, Ruteng, sama halnya dengan Bajawa yang adalah kota gunung. Jalan menujunya hanya dapat ditempuh melalui dua kelokan, kelok ke kanan dan kelok ke kiri (jelas saja), begitu terus sepanjang perjalanan. Beberapa menit perjalanan dilalui dengan menyusuri pantai selatan Flores. Di beberapa ruas jalan kami melihat ada pekerjaan pelebaran jalan, mudah-mudahan saat ini sudah selesai. Pada sekelabatan mata di perjalanan kami juga melihat banyak “Sophie” diracik dan dijual dalam kemasan bekas botol minuman. Sophie hangat yang dapat menemani di semilir dinginnya angin malam. Ya, Sophie yang ini lebih enak diteguk daripada dipeluk.

Elf Ruteng Bajawa. Istirahat makan siang di warung ‘all time favorite’ orang Indonesia. Warung Makan Padang.

Menyusuri punggungan gunung, kami pun akhirnya tiba di Ruteng. Dari Terminal Ruteng menuju dalam kotanya agak jauh, jadi kami diantarkan hingga penginapan yang kami tuju. Tentunya kebaikan mengantar ini bukan tanpa pamrih, kami pun merogoh kocek kami kembali sesuai perjanjian yang mendadak dirubah setelah sebelumnya ditetapkan saat berangkat dari Bajawa.

Hotel Rima dan (rupanya) sekaligus tempat fotokopi.

Hotel Rima. Demikian nama hotel yang kami tempati, posisi hotel ini sebenarnya agak berada di pinggiran kota, tapi toh, kota disini masih lebih kecil dan sepi dibandingkan kota seperti Bogor atau Malang misalnya. Hotel ini cukup ramai dan penghuninya mayoritas berkulit pucat dengan tas ranselnya yang besar-besar. Yup, nama hotel ini memang terkenal di kalangan pemanggul ransel. Sempat juga kami berputaran sedikit menengok hotel yang lain, tapi rasanya pilihan kami jatuh ke Rima, setelah bimbang diantara dua pilihan antara Hotel Rima atau hotel para suster disebelah.

Sisi jalan. Di jam kantor, jalan ini tidak pernah sepi namun (untungnya) memang belum sesibuk Jakarta.

Ruteng adalah ibukota kabupaten Manggarai. Kota ini lebih bersuasana sibuk dibandingkan Bajawa dan atmosfir gerakan perkembangan sangat terasa di kota ini. Bisa juga saya merasakan itu karena didekat hotel ini memang terdapat beberapa sekolah dan kantor pemerintahan.

WaeRebo
Wae Rebo. Tujuh rumah ikonis Wae Rebo, yang mulai dikelilingi oleh banyaknya rumah (yang katanya) modern, beratap kotak. *gambar oleh GoogleMaps*

Disekitar Ruteng terdapat beberapa obyek wisata yang cukup dekat dengan kota, termasuk juga desa adat terkenal Wae Rebo, akan tetapi karena kami tidak punya banyak waktu kami pun terpaksa melewatkan tawaran menggoda Wae Rebo. Alasan lain yang lebih menentukan adalah harga kunjungan yang relatif mahal kalau hanya untuk kami berdua saja, toh disekitar kami juga tidak ada yang bisa diajak berpatungan. Alasan lainnya yang dibenarkan adalah, agar kami di kesempatan lain punya alasan untuk mengunjungi Ruteng kembali, yaitu karena belum pernah ke Wae Rebo !

SpiderwebCancar
Lingkaran sawah Cancar. Kelihatan kah polanya..? *gambar oleh GoogleMaps*

Dengan begitu, target kunjungan kami esoknya adalah Liang Bua, Ruteng Pu’u dan Sawah Melingkar Cancar. Ketiganya berada dalam jarak tempuh yang cukup dekat dari kota, kurang dari 20 km. Kata “dekat” dari resepsionis dan orang setempat juga membuat kami optimis. Dengan berbekal motor yang disewakan dari hotel, kami pun siap menyambut esok hari. Tapi hari ini masih panjang sehingga kami pun masih bersantai dan memanfaatkan kesempatan untuk sekedar berkeliling kota.

Jalan menuju keluar kota dari Ruteng. Ramai sewaktu pagi dan sore hari.

Sewaktu itu kalau tidak salah awal bulan puasa, beberapa penjaja di sore hari mulai menjajakan dagangan berbuka puasa. Karena kami baru datang siangnya, sore hingga agak malam bisa kami jalani dengan sedikit keliling kota. Malam hari ini kalau tidak salah kami akhiri dengan sebuah sop dan sate hangat di kedai dekat Pasar Ruteng. Ruteng yang juga terletak di dataran tinggi, pada malam hari suhunya turun beberapa derajat, menjadikan kami sekali lagi cukup kedinginan. Sekitar jam sembilan malam, suara yang terdengar hanyalah suara kami sendiri dan sang resepsionis yang tertawa cekikikan melihat tabung bergambar berisik itu. Di jalan di luar, lebih banyak hening dan senyap, sesekali kendaraan lewat memang, tapi rasanya obrolan para jangkrik lebih ramai dari semua itu. Selamat malam Ruteng.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s