Flores 0.63 Ruteng Pu’u

Pagi selalu dingin di Ruteng. “Urgh, Dinginnya jempol kaki ini…” seraya menarik sedikit kaki yang keluar dari selimut.  Beberapa menit lagi melayang tanpa terasa tapi akhirnya pun bangun juga. Cerah sekali pagi di Ruteng dan semerbak wangi kopi menggugah lidah untuk menyeruput. Kami pun menyambut sarapan roti dadar dan kopi dan teh, sebuah kemewahan bagi pelancong sebenarnya. Hari ini terdapat tiga lokasi yang ingin didatangi dan ketiganya berada dalam jarak tempuh yang rasional dari pusat kota Ruteng.

Seruput…seruput…seruput teh yang hangat…

Tapi tunggu dulu, kedatangan seorang ini nyaris merusak suasana pagi. Orang ini datang dengan senyuman dimuka dan berbicara sopan. Jelas sopan karena sebenarnya dia menawarkan dagangannya. Sebuah dagangan yang nyata sulit ditolak kami. Sang pedagang kemudian menggulirkan rapi barang dagangannya dan terhenyaklah kami akan keindahan dagangannya.

P1030512
Sang pedagang

Ialah pedagang kain tenun. Tanpa diminta ia sudah menggelar barang dagangannya, namun sayang seribu sayang, kami pun sedikit menelan ludah dan menahan kesabaran karena kami ingin mencapai ketiga lokasi ini dalam waktu yang cukup di hari ini. Dengan enggan, kami menolak halus sang pedagang. Kalau jodoh pasti bertemu lagi, pikir kami, dalam hal ini mudah-mudahan esok hari, hari terakhir kami di Ruteng.

P1030514
Komplek Desa Tradisional Ruteng Pu’u

Segera kami bertolak dari hotel menuju Ruteng Pu’u dan tidak sampai 30 menit kami sampai ditempat tertuju. Tidak jauh dari kompleksnya ada sebuah pos pariwisata, tapi rupanya masih terlalu pagi untuk dijaga. “Langsung saja, parkir didalam..!” ujar orang yang lewat. Memasuki desa ini kita diminta untuk menulis buku tamu dan membayar sedikit retribusi. Seorang petugas berseragam PNS yang masih merupakan keluarga penduduk disana dapat menjadi pemandu bila diperlukan. Ya, kami pun membayar untuk dipandu dan didongengi. Sungguh, jangan terlalu pelit kalau untuk begini, toh uang yang dibayar antara masuk kas pemda atau masuk kantong pemandu kan hitung-hitung sama-sama membantu menjaga kawasan ini. Lagipula, untuk turis jelek macam kita tarifnya tidak mahal kok. Sayangnya, informasi dan sejarah yang diceritakan sewaktu berkunjung itu sekarang jelas sudah lupa, apalagi waktu itu kan kami bukan study tour sekolah yang harus mencatat (tapi harusnya mencatat itu dijadikan kebiasaan yang baik).

2680FLORES2014
2683FLORES2014 Rumah utama dan rumah kecil di belakangnya, mungkin untuk dapur ( atas). Interior atap rumah (bawah) yang dibangun melingkar mirip dengan pola sawah yang nanti kita datangi juga.

Ruteng Pu’u adalah kompleks desa tradisional terakhir yang ada di Kota Ruteng. Kompleks desa ini adalah salah satu desa tertua di Manggarai dan terdapat rumah adat khas suku Manggarai yang berbentuk kerucut yang disebut Tambor dan Gendang. Kompleks perumahan ini dibuat dengan konsep mengelilingi Compang, yang berada di tengah lingkaran dan merupakan pusat kegiatan desa bila ada upacara-upacara.

Pohon dadap sebagai pengganti Pohon Ruteng (pohon beringin) yang telah tumbang.

Compang adalah altar batu yang biasanya ditemukan di halaman rumah tradisional masyarakat Manggarai yang dapat digunakan sebagai tempat persembahan. Batu Compang ini terletak lebih tinggi daripada rumah-rumah lokal. Compang ini dapat digunakan juga untuk kuburan para leluhur dan tetua adat yang sudah meninggal. Di sekitar halaman terdapat Like, susunan bebatuan nan rapih tempat pejalan kaki. Bangunan tradisionalnya masih terjaga dengan baik dan memang menjadi rumah tinggal bagi warga adat disana. Lingkungannya tidak sepi namun juga tidak ramai. Selain dari peninggalan leluhur-leluhur tersebut, desa ini tidak begitu kotor, tapi juga tidak bisa dibilang bersih. Intinya, lingkungan kampungnya memang benar kampung seperti wajarnya kampung-kampung disekitar sini.

Interior rumah adatnya, memang seperti rumah pada umumnya. Apakah ada hal yang tidak lazim di interiornya ?

Dari tampilannya, desa wisata ini rasanya hampir menyerupai slogan “hidup segan mati tak mau”. Ah, maafkan bahasa saya, tapi maksudnya bukan itu. Begini, desa ini adalah desa tradisional terakhir selain Wae Rebo dengan rumah tradisionalnya dan lokasinya berada di pinggiran kota. Akan tetapi yang lebih tenar dan ternama adalah Wae Rebo dengan akses yang lumayan merepotkan. Saat saya berkunjung ini kondisinya nampak seperti desa biasa dan tidak memiliki kesan spesial selain kedua rumah tradisionalnya.  Padahal, aspek sejarah dan budaya jelas dimiliki oleh Compang Ruteng ini, dengan statusnya sebagai desa tertua dan upacara-upacara yang bisa digelar di desa ini sudah sepantasnya bila desa ini diberdayakan dan ditata menjadi lebih baik. Ah, maafkan racauan saya …tapi bila boleh berangan, Ruteng Pu’u seharusnya bernasib jauh lebih baik daripada itu. Kita bisa lebih baik dari itu.

Ruteng Pu’u sebagai akar masyarakat Manggarai harusnya bukan sekedar akar belaka, tapi sebagai fondasi.

 

Sebagian info Ruteng Pu’u saya dapatkan dari sini, terima kasih Bang Andre :

https://andreyuris.wordpress.com/2010/03/12/profil-singkat-kampung-ruteng-pu%E2%80%99u/

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s