Bajak Laut

Wikipedia.id mengatakan bahwa :

Pembajakan laut, atau perompakan, adalah perampokan yang dilakukan di lautan, atau kadang-kadang di pantai.

Dalam laman resminya (english) Wikipedia menyebutkan bahwa :

Piracy is an act of robbery or criminal violence at sea. Those who engage in acts of piracy are called pirates.

LautSuluSulawesi
Geografis Laut Sulu, perhatikan pulau-pulau antara Tawau hingga Zamboanga. Pulau-pulau itu sejak dulu kala memang acapkali menjadi sarang bajak laut.

Artian dalam Bahasa Indonesia nya kurang lebih adalah, sebuah tindakan perampokan dan kekerasan kriminal di laut. Mereka yang berlaku demikian disebut dengan bajak laut. Menurut sejarah, kawasan laut regional kita, Indonesia dan sekitarnya adalah memang kawasan yang berbahaya untuk dilalui. Semenjak jaman Sriwijaya hingga sekarang memang laut kita penuh dengan perompak.

PapuaSeram
Wilayah Papua dan Maluku, hamparan pulau-pulau yang bertebaran, ideal menjadi lokasi pencegatan/persembunyian para Bajak Laut.

Sebelum Indonesia berdiri dan masing-masing daerahnya mempunyai raja sendiri, perompak jauh lebih banyak di perairan Nusantara.  Berita tertua tentang bajak laut Asia tenggara berasa dari catatan Faxian (Fa-Hsien) dalam perjalannanya pulang dari India (413-414 Masehi) mengatakan bahwa “laut (Asia Tenggara) penuh dengan bajak laut”. Jiadan (785-805) menyebutkan bahwa pangkalan bajak laut berada di sebelah barat-laut Kerajaan Sriwijaya. Diperkirakan lokasi tersebut berada di sebelah utara Selat Malaka yang merupakan alur masuk ke wilayah Kerajaan Sriwijaya.

pemberontakan_nuku
Buku berharga yang menjelaskan mengapa paham memecah belah sangat efektif digunakan di Indonesia. Buku ini juga membantu menjelaskan pentingnya kekuatan armada laut bagi wilayah laut yang ditaburi pulau-pulau.

Di bagian timur Nusantara, orang-orang yang berada di dekat Papua terancam oleh kedatangan armada Kora-kora dan Ekspedisi Hongi dari empat raja di Papua (kawasan Raja Ampat sekarang). Armada ini rutin merampok, membunuh, membakar desa-desa yang bermukim di daerah-daerah seperti Halmahera hingga Seram Timur dan sekitarnya.

Kora2
Ilustrasi Kapal Kora-Kora di museum, sebuah mesin perang kuno. Thanks to Maria for the photo (https://mariawenttotown.wordpress.com/)

Antonio Pigafetta, rekan Ferdinand Magellan menyebutkan bahwa empat raja di Kawasan Raja Ampat sekarang telah eksis sejak 1521. Pentingnya kawasan ini disebutkan pada laporan/perjanjian bahwa tahun 1534, Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore dan Kesultanan Bacan mencoba melibatkan kerajaan-kerajaan tersebut dalam upaya mengusir orang Portugis dari Maluku.

Adrien Van Der Dussen dalam suratnya menyebutkan bahwa pada 24 Desember 1610 orang-orang papua dari Raja Ampat telah menangkap orang Seram pesisir dan menggasak emas mereka. Laporan-laporan serupa seperti ini bisa ditemui dari catatan-catatan bangsa barat yang datang ke Nusantara, sementara catatan dari bangsa sendiri tidak banyak ditemukan.

Kora-Kora
Ilustrasi Kapal Kora-Kora (tengah gambar), dengan banyak dayung di lambungnya untuk menambah kecepatan. Thanks to Charlotte Dixon for the interesting blog post.

Hal ini dapat berarti bahwa aksi-aksi serangan perompakan memang sebenarnya sudah ada sejak lama sebelum datangnya bangsa kulit putih di abad 16. Mitos dan kepercayaan adat menjadi akar kebiasaan komunitas kegiatan perompakan.

Pada Abad 18 Sultan Nuku dari Tidore kemudian memanfaatkan mobilitas dari armada-armada ini untuk melancarkan teror pada wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda (VOC kala itu). Kampanye penyerangan oleh Nuku yang bekerja sama dengan perompak, membuatnya menjadi buronan kelas kakap dan dicap sebagai perompak pada kekuasaan Belanda. Ya memang, Sultan Nuku juga memanfaatkan pengaruh dan bantuan dari Inggris untuk melawan Belanda, namun siasatnya lebih banyak berpihak armada perompak Kora-kora dan Hongi.

orang_laut_bajak_laut_raja_laut-325x459
Buku tingkat Dewa. Kalau anda ingin mengerti mengapa nenek moyang kita dibilang pelaut dan sekarang menjadi jauh dari laut, bacalah buku ini, maka anda akan sedikit lebih paham Nusantara.

Di kawasan tengah, terdapat bajak laut juga yang bermukim di kawasan Sulu, Mangindanao, Balangingi hingga Tobelo dsb. Menurut Lapian, kawasan ini  beraksi untuk mencari budak -budak untuk dijual. Mereka sering merampok desa hingga kapal dan membawa tawanan yang berupa awak kapal atau orang desa kemudian menjualnya kepada orang yang membutuhkan tenaga kerja baik itu untuk menggarap tanah atau menjadi budak diatas kapal. Cakupan wilayah penjarahannya hingga meliputi wilayah Laut Flores dan Laut Jawa.

Kora-kora_NL
Ilustrasi Ekspedisi Hongi menurut saya. Thanks to this amazing site (http://www.atlasofmutualheritage.nl/)

Sejak awal abad XIX,  pembajakan di laut Nusantara mulai berkurang karena pihak belanda yang diwakili VOC telah lebih rutin mengadakan patroli laut di perairan-perairan yang dianggap berbahaya. Patroli ini umumnya terkomposisi dari beberapa tentara VOC ditambah dengan prajurit penguasa boneka wilayah tersebut. Sebagai konsekuensi perompakan dan pemberontakan di laut maka VOC juga mengeluarkan peraturan-peraturan yang melarang adanya bajak laut dan mereka dianggap sebagai penjahat.

Sedikit simpulan, membaca sejarahnya memang perairan Indonesia sejak dahulu dipenuhi oleh bajak laut. Namun penjarahan dan perompakan yang dilakukan mempunyai arti berbeda. Sependapat dengan A.B Lapian (atau bahkan cenderung meniru) para Bajak Laut dahulu di Indonesia, melakukannya menurut kebiasaan yang didorong oleh kebutuhan dan prestise adatnya dan mereka sering pula menjadi sekutu oleh raja lokal untuk membantu menyerang raja tetangga. Dalam hal ini ada semacam pemahaman perbedaan wilayah kekuasaan antara si raja darat dengan sang bajak laut.  Seiring dengan masuknya bangsa Eropa ke Nusantara, di mata Sultan Nuku (termasuk perlakuan beberapa Sultan sebelumnya terhadap Portugis), VOC/Belanda adalah sang bajak laut. Alih kekuasaan yang kemudian terjadi antara Ternate dengan VOC melawan Tidore membalik kondisi bahwa Sang Bajak Laut adalah Sultan Nuku dan sekutu-sekutu Papuanya.

Hal ini, tentu saja jauh berbeda dengan gerombolan (Ya gerombolan jelas lebih cocok dibanding gelar Bajak Laut) Abu Sarap *eh, Abu Sayyaf yang menculik dan menangkap orang tanpa ada kejelasan tujuan. Perompak Somalia dan Perompak Malaka lebih jelas merompak demi kepentingan ekonomi yang menghimpitnya, suatu tujuan yang menurut saya lebih bisa ditelusuri permasalahan dan solusinya.

Sumber :

Google Earth (baiklah, tentu saja).

Lapian, A. B. 2009. Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Penerbit Komunitas Bambu. Hal 119 – 162. 

Widjojo, Muridan. 2013. Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810. Penerbit Komunitas Bambu. Hal 154, 174 – 204 dan 183-184.

Spicy stories: the case of a clove boat model

http://www.atlasofmutualheritage.nl/en/A-kora-kora-boat-mainsail.7516

https://mariawenttotown.wordpress.com/2012/10/30/i-love-museum-melaka-edition/p1020221/

https://id.wikipedia.org/wiki/Perompakan

https://en.wikipedia.org/wiki/Piracy

 

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s