Flores 0.67 Lodok Cancar

Meninggalkan Ruteng Pu’u kami bergegas menuju Sawah Radial Cancar. Cancar terletak diluar kota Ruteng. Menurut resepsionis hotel sih dekat, tapi rasanya ragu mendengar kata “dekat”nya. Lokasinya berada di dekat jalan raya trans flores, mengarah ke Labuan Bajo. Menuju lokasinya memakan waktu satu hingga dua jam dari kota, itu pun kami merasa sudah hebat karena kami memang tidak memacu kencang motornya dan sudah pakai ritus tersasar juga. Kalau pulangnya jelas lebih cepat, karena sudah tahu lokasinya dan terdorong perut yang lapar.

P1030556
Menuju lokasi, dapat dikatakan bahwa sawah dan padi adalah bagian dari kehidupan di Manggarai.

Seperti (jadi) biasa, jalur menuju lokasi tinjau Cancar memang tidak tersedia papan petunjuk yang jelas. Petunjuk yang jelas bisa didapatkan dengan menanyakan pada penduduk yang dekat dengan lokasi. Untuk titik tinjau Cancar ini, yang bisa dijadikan patokan sebenarnya adalah pertigaan jalan dan menara telekomunikasi. Yak, dari Ruteng cukup arahkan kendaraan anda menuju Labuan Bajo dan ketika sudah sampai di pertigaan Lao anda sudah 70% mendekati tujuan. Kemudian arahkan ke kanan (bila berasal dari Ruteng) dan cari menara telekomunikasi yang terletak di bukit, itu sudah 90% sampai tujuan. Sisa 10% nya adalah menaiki bukitnya untuk mencapai titik tinjaunya.

P1030593
Tanda pertigaan ini adalah tanda kita sudah dekat, dibelakang bukit itu terhampar sistem sawah radial yang luas.

Di bawah bukit, terdapat pos retribusi yang dijaga warga. Biaya retribusinya tidak mahal, namun daftar pengunjungnya jelas jauh lebih banyak daripada pengunjung blog saya ini, dari seluruh dunia pula. Menuju keatas, jalurnya berupa anak tangga yang mengular hingga ke puncak. Tidak begitu curam namun bisa dianggap olahraga menuju puncaknya.

P1030552

P1030523
Jalan menuju titik tinjau yang sudah dirapikan warga dan cukup rindang (atas). Menuju titik tinjau, disamping sedikit terlihat bangunan pagar menara telekomunikasinya (bawah).

Diatas, titik tinjau ini hanyalah sebuah puncak bukit berupa lahan yang kurang (baca : belum) terawat. Diatas puncak ini, atau tepatnya di belakang bukit ini terhamparlah sawah radial Cancar yang dimaksud. Indah memang seindah-indahnya sawah, hamparannya memanjang sejauh mata memandang yang dibatasi oleh bukit di depannya. Jujur saja, untuk ukuran sawah rasanya cukup banyak saingan Sawah Radial Cancar ini, pada daerah-daerah yang getol menghasilkan padi seperti di Jawa Barat hingga ke Bali banyak lokasi persawahan yang lebih menggugah mata. Namun, untuk melihatnya dalam pola radial seperti ini adalah sesuatu yang memang lain daripada persawahan pada umumnya. Sawah radial Cancar bukan tanpa sebab semata, tetapi lebih pada cara hidup yang turun temurun.

P1030547

P1030538
Menara telekomunikasi yang bisa jadi penunjuk dan bangunan dibawahnya (atas). Lokasi titik tinjau di puncak bukit (bawah), kalau di Jawa, boleh jadi di sini sudah berdiri warung lengkap dengan indomie, gorengan, kopi hingga minuman dingin yang tersedia hehehe.

Tradisi sawah dengan sistem radial Lodok sebenarnya sudah ada sejak lama namun menjadi semakin ekstensif oleh peran Raja Manggarai (Raya) tahun 1931-1945. Raja Alexander Baruk kala itu mendorong petaninya mengolah sawah dan tanaman perkebunan seperti kopi. Khusus untuk pengolahan sawah, ia mengawalinya dengan mengirim sejumlah petani ke Bali untuk belajar bersawah dan kembali untuk mengintensifkannya di Manggarai. Hanya saja di Flores ini sebagian besar sawah yang ada masih kekurangan air sehingga mayoritas dari persawahan yang ada mengalami kesulitan di musim kering.

Memang santai duduk-duduk diatas sini, sayang waktu itu sawahnya masih belum hijau apalagi tandur.

Sistem lodok diawali dengan penanaman sebatang pohon yang disebut haju teno oleh masyarakat setempat di titik tengah lingko (hamparan). Oleh tu’a teno (tetua penanggung jawab lingko termasuk urusan pembagian lahan), lahan dibagi-bagikan kepada para petani pendukungnya. Polanya dengan menarik garis dari titik tengah tersebut hingga titik batas luarnya. Setelah terbagi habis, hamparan seakan membentuk gambaran menyerupai jaring laba-laba.

2710FLORES2014
Lihat lebih ke kiri, ternyata luas juga padang persawahan disini.

Digambarkan pula, masyarakat Manggarai membagi lingko berdasarkan moso (jari tangan) sebagai dasar pembagian awal. Besaran moso pun sangat relatif, tergantung dari jumlah warga yang akan menerima pembagian di lingko bersangkutan. Makin banyak yang akan menerima, makin kecil ukuran moso, demikian pula sebaliknya.

NB : Sedikit menyelidiki, sistem lodok ini rupanya umum ditemukan di sawah Ruteng, hal ini terlihat dari pantauan menggunakan Google Earth/Google Maps yang menemukan banyak fitur sawah Lodok di sekitar Kota Ruteng.

Info sistem lodok saya dapatkan dari sini :

http://regional.kompas.com/read/2012/08/13/042525/Sistem.Lodok.Sawah.Perdana.Manggarai.Raya

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s