Flores 0.71 Ruteng, Romo dan Rindu

Berbekal capainya berkendara dan tersesat, malam itu kami tidur dengan pulas, namun pagi yang dingin yang pelan-pelan dilelehkan sinaran matahari selalu menyambut kami dengan ramah. Pagi ini kami berencana bertolak menuju Labuan Bajo dari Ruteng. Rasanya masih terlalu cepat untuk pergi dari sini. Barang masih belum dikemas, kerasan kah kami disini..? Ah, sudahlah..ayo kita sarapan dahulu. Selapis roti atau telur rebus tinggal kami pilih, teh hangat atau kopi asli Ruteng tinggal seduh saja. Kombinasi keduanya lengket di lidah dan hangat diperut. Sedap memang sarapan Ruteng ini.

P1030628
Si kawan ini, dengan koleksi berharganya yang cukup banyak.

Ongkang-ongkang sarapan, tak lama kemudian datang kembali kawan satu ini. Kawan ini kemarin sudah datang dan menebarkan pikatnya. Hari ini, kawan ini datang lagi dan menawarkan kembali produk khasnya. Toh, masih ada waktu cukup untuk sedikit memuaskan dahaga akan koleksi berharga.

P1030624
Koleksi yang ditawarkan mempunyai kekhasan masing-masing, kaya akan cerita sebenarnya.

P1030622 Koleksinya berasal dari wilayah sekitar Kota Ruteng, masing-masing desa atau wilayah umumnya memang memiliki penenun tetap yang menghasilkan tenunan khas desa atau wilayahnya. Bagian dari tradisi turun temurun yang sekarang dikuatkan dengan motif ekonomi. Warna dan corak masing-masing kain berbeda sesuai keinginan/kekhasan sang penenun atau wilayahnya. Studi mendalam mengenai perbedaan motif dan pola, hingga latar belakang budayanya sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Sayangnya studi dengan tingkat ketelitian demikian masih minim. Kalaupun ada, masyarakat umum dan bahkan masyarakat Flores sendiri rasanya tidak banyak tahu mengenainya.

P1030630
Ah..inilah…pelanggan yang puas. Apalagi yang bisa dikatakan…?

Baiklah, tumpukan keunikan kekayaan pulau ini kini turut menjadi koleksi kami. Barang-barang menjadi bertumpuk dan ransel kami pun menjadi semakin berat. Saatnya meninggalkan RIma dan menuju travel yang sudah kami pesan sebelumnya. Betul, disini juga sudah ada moda transportasi travel layaknya di Jawa.

Photo0198
Rute dan harga travel Gunung Mas kala itu.

Photo0199Gunung Mas travel. Itulah nama usaha travel yang akan kami tumpangi nanti. Mobilnya adalah mobil elf (yup, tipikal mobil travel), dengan harga regulernya saat itu adalah 70 ribu rupiah untuk keberangkatan jam 14.00 nanti karena yang pagi sudah penuh semua. Penumpangnya juga cukup ramai, hampir semua kursi terisi. Sebelum berangkat, sempat juga kami membekali dengan beberapa roti pia yang katanya memang khas ruteng. Jam 2 siang lebih sedikit, tiba saatnya kami berangkat. Perjalanan menuju Labuan Bajo (konon katanya) memakan waktu seitar tiga jam.

P1030635
Pia Ruteng, kala masih hangat…Mmm, luar biasa rasanya.

Tidak jauh dari luar Ruteng, mobil kami singgah sebentar untuk membeli jeruk Ruteng. Produk Ruteng terakhir yang kami nikmati saat itu, Rasa manis dan segarnya jeruk mengingatkan manisnya pengalaman kami di Ruteng, sedikit rasa asam menjadi pengingat panjangnya kilometer dalam ketersesatan kami. Ah, belum belum kami sudah merindu Ruteng. Di masa mendatang, Ruteng rasanya wajib dikunjungi lagi, toh masih ada Wae Rebo dan Liang Bua yang belum sempat didatangi. Bernostalgila dan merindu, inilah bagian rindu dari tulisan ini. Sudah pasti lebih-lebih sekarang, semakin rindu rasanya.

P1030636
Jeruk Ruteng. Sungguh, tidak kalah dengan jeruk import, segar manis asamnya menghantar rindu Ruteng.
Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

2 thoughts on “Flores 0.71 Ruteng, Romo dan Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s