Membasahi insang berujung kontemplasi

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu sudut negeri ini dan mengistirahatkan mata dan telinga yang capai ini dari gempuran kedipan 60-70 Hz monitor, asap kendaraan dan segala keramaian yang berlebih. Pemandangan vegetasi yang hijau dan air yang biru jernih benar-benar mengistirahatkan impuls saraf-saraf yang terlalu kencang berdenyut di kota. Disini, di pedesaan, manusia (untungnya) tidak terlalu banyak dibanding di kota.

Okey. Tujuan saya disini, jelas, selain mengistirahatkan raga ini adalah juga untuk mengkalibrasi ulang insang-insang saya yang kering dan lama tidak bersentuhan dengan air laut. Diatas permukaan, desa ini berhalaman belakang hutan yang hijau. Entah hutan rakyat atau perkebunan atau hutan produksi. Pastinya hutan belakang desa ini masih cukup rapat dan hijau sehijau hutan yang kamu bayangkan. Di halaman depan desa ini, warna biru menghampar. Begitu luasnya badan air yang menjadi halaman depan desa ini.

Okey, ini bukan warna biru, tapi jelas toh disini airnya jernih dan terlihat segar.

Warna birunya jernih, terang dan bersinar biru. Euy..!! Menggoda saya untuk masuk dan membasahi insang kering saya, apalagi udaranya begitu segar dan bunyi ombaknya menggelegar begitu megah.

Sudahlah, ekspetasi saya jadi semakin tinggi disini. Padahal saya harus ingat, biar begini, lokasi ini adalah tempat wisata dan tempat wisata di negeri ini tidak lepas dari banyak masalah (baca : sampah). Padahal saya juga harus ingat lagi, ini Indonesia, dimana pengertian LINGKUNGAN ALAM dan pelestariannya jauh sungguh jauh dari harapan.

Karang yang sekarat no. 1.

Byuuuurrr…!! Ceritanya begitu bunyinya dan masuklah kita ke air biru itu. Lokasi tempat nge-byuurrr saya ternyata hanya berdasar pasir dan sedikit lamun. Bergeser 100 meter kedepan akhirnya kita menemukan karang yang dimaksud sang pemandu wisata. Tapi, tapi, tapi… rasanya yang dimaksud karang oleh sang pemandu berbeda pengertian dengan karang yang saya maksud. Karang maksud kita adalah terumbu karang, coral reef bahasa sundanya mah. Tapi yang terhampar disini ya memang karang tapi karang yang sudah jadi batu. Tidak terang, tidak berwarna warni, coklat dan memang banyak batu saja jadinya. Mati. Nyata sekali, disini karangnya kebanyakan sudah mati. Kalaupun tidak mati, bisa dikatakan sudah sekarat.

Kedalaman karang mati tersebut berkisar sekitar 1-2 meter pada kondisi air menuju surut. Sedikit terguncang hati saya melihatnya. Berpindah lokasi pun tidak menjadi solusi, dilokasi sebaliknya (sebelah barat daya), malah lebih banyak sampah mengapung. Bahkan di kedalaman yang sedikit lebih dalam, sekitar 4-6 meter dibawah permukaan, saya mendapatkan kenyataan yang menyedihkan.

Karang yang sekarat no. 2,3,4 dst…dst. Arrgh…tidak..!!

Karang mati menjadi lebih jelas. Pada kedalaman ini, kumpulan terumbu karang memang lebih banyak namun kematian berada sangat dekat dan mengancam. Dengan luasan yang cukup besar, karang-karang disini sudah memutih. Sudah mati. Kalau saya seorang J.Y Cousteau, sudah pasti saya menangis, tapi biarpun bukan, hati saya nyata terluka melihat kondisi ini.

Si ikan ditengah sampah terapung. Terbayang susahnya si ikan mencari makan ditengah karang tandus ini. Ah, hidup susah bukan cuma milik saya saja, tapi si ikan juga ternyata.

Ah, seandainya saya tidak tahu menahu atau acuh tak acuh saja seperti turis kebanyakan disini saya pasti merasa senang-senang saja, bermain di laut dan pasir putih begini. Ya, saat itu saya menerima kenyataan bahwa di sini, dibawah permukaan tidak seindah diatas permukaan. Bahkan sebenarnya kalau mau dilihat, di pinggiran pantai sudah mulai banyak sampah dan kotoran yang kontras sekali dengan warna putih pasir dan birunya air. Tidak jauh dari situ juga terlihat papan informasi kuno pelarangan penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan dan memanah ikan. Sebuah petunjuk mengenai masa lalu wilayah ini sepertinya.

Dilarang !! Semakin dilarang semakin getol melanggar. Tapi ini rasanya dulu-dulu, sebelum daerah ini jadi daerah wisata.

Kalau sudah begini saya jadi berpikir lagi mengenai kelestarian alam dan hubungan manusia terhadap lingkungan. Bisakah kita bersahabat dengan alam ? Pasti bisa jawabnya, persoalannya ada di waktu, dimana manusia akan selalu kalah.

Ah…kan.., kalau begini, pulang dari sini rasanya malah menjadi merenung dan berpikir ulang mengenai alam dan manusia. Liburan kok malah jadi sedih hehe….Yah, setidaknya insang saya sudah segar kembali oleh segarnya air laut dan udara pantai. Manusia oh manusia.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s