Flores 0.725 (Sedikit) Sisi lain Booming Pariwisata di Labuan Bajo.

Sejak ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia (new 7 wonders of the world) versi tahun 2011 kemarin, rasa-rasanya kunjungan ke Pulau Komodo semakin meningkat tiap tahunnya. Para wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri seakan berlomba untuk selfie dengan si komodo. Coba saja iseng cari di gugel dengan kata kunci  “selfie + komodo” berapa ribu hasil yang bisa ditemukan hehehe..

Hmm…tapi begini, patut digaris bawahi terlebih dahulu bahwa sebelum ditetapkan menjadi keajaiban dunia, si komodo atau bahasa sundanya Komodo Dragon sudah ajaib dan cuma ada endemik di Flores, Indonesia. Penetapannya sebagai keajaiban dunia yang baru hanyalah merupakan kesuksesan strategi pemasaran yang handal.

Sukses yang mendatangkan orang banyak dan tentu saja….uang yang banyak dong.

Labuan Bajo sebagai kawasan persinggahan utama menuju rumah Komodo tentunya mendapat imbas yang paling besar dari kesuksesan pemasaran keajaiban dunia baru itu. Iklan sukses, investasi masuk, banyak uang, banyak pembangunan, orang datang, banyak uang lagi. Asik yah..

Jelas asik, setidaknya bagi orang-orang di Labuan Bajo.  Labuan Bajo pra nominasi/penetapan keajaiban dunia hanyalah kampung biasa yang tak ubahnya mirip kampung nelayan umumnya. Kunjungan wisatawan memang banyak tapi jelas tidak sebanyak sekarang ini. Bahkan konon katanya penginapan masih sulit dicari. Eh..tapi, kalau sekarang juga sulit dicari, sulit dicari yang kosong dan terjangkau maksudnya.

So, melonjaknya kedatangan banyak orang tentu banyak juga yang harus dipenuhi. Perkembangan wilayahnya juga seharusnya mengikuti/mengantisipasi kedatangan banyak orang ini…..seharusnya….

Tapi kita semua tahu toh, mana ada pembangunan yang cepat (di negara ini) dan bahkan bisa antisipasi perkembangan wilayahnya, rasanya cuma di Prambanan dan Tangkuban Perahu saja pembangunan bisa cepat.

Alhasil, kalau mau sedikit mengamati sewaktu ada disana, pasti banyak terlihat yang tercecer. Tercecer pembangunannya, tercecer sumber daya manusianya, tercecer manajemen wisatanya. Tercecer disini maksudnya bukan terbengkalai tapi jadi tersisihkan dalam urutan prioritas pembangunan yang menumpuk.

P1030753
Sampah..apa lagi yang perlu dibilang..?

Kala itu, yang jelas terlihat dan tercecer adalah masalah sampah. Ya, sampah, klise. Okey. Iyah, saya memang rada cerewet soal sampah. Tapi bagaimana tidak, keajaiban dunia lho, masak banyak sampah. Eleuh…malu atuh.

Kalau malam jadi tempat kuliner, menjelang pagi sebagian sampah yang tersisa menumpuk dijalan menunggu diangkut…sebagian lagi dibuang ke…laut…?

Ya, sewaktu mengunjungi sendiri kesana, sampah-sampah memang banyak yang meluap dari tong sampah yang jumlahnya lebih sedikit daripada gabungan nilai IP saya. Banyak juga sampah yang ditaruh begitu saja tanpa mempedulikan tong sampah.

P1030743
Sampah..apa lagi yang perlu dibilang..?

Saya yang sering berada di Bandung dan Jakarta sudah mahfum sebenarnya dengan pemandangan sampah. Tapi hey, ini kan bukan J-town  atau B-town. Biar saja kota-kota itu kotor, biar jadi penerus Sodom dan Gomora rasanya juga paduli teuing hahaha… (untung saja sekarang J-Town dan B-town sudah punya BTP dan RK sebagai kepala daerahnya. Amin.)

Tapi disini, di surga kecil ini, keajaiban dunia, warisan dunia dengan satwa endemiknya di pulau seberang sana….plis atuh lah..jangan dikotori begini, tolonglah dikelola dengan baik kebersihannya.

P1030679
Sungai isi sampah..terlalu mirip dengan kota seperti Jakarta, Bandung kalau begini…aakh..jelek sekali.

Pada kenyataannya kondisi sekarang ini nyaris tidak berubah dengan kondisi sewaktu kunjungan saya kala itu. Kondisi yang tergambar di foto-foto pribadi saya sewaktu  berkunjung kesana, sekitar 700 harian yang lalu, ternyata tidak jauh berbeda pada tahun-tahun belakangan ini atau bahkan memburuk? Berikut cuplikan berita yang diambil dari Pos Kupang tanggal 10 Juli 2015.

Sampah yang berada di Kota Labuan Bajo tergolong tinggi. Kota Pariwisata itu menghasilkan sampah 166,4 meter kubik per hari atau 60.736 meter kubik per tahun. Dia menjelaskan, data tersebut hasil perhitungan pada tahun 2014 lalu dan saat ini jumlahnya cendrung menurun. "Sedangkan daya tampung TPS (Tempat Pembuangan Sampah, Red) per harinya sebanyak 46 meter kubik, yaitu pada tong-tong sampah atau TPS permanen. Sampah yang tidak tertampung sebanyak 120,4 meter kubik, yaitu tercecer di jalan-jalan, kali-kali atau tercecer di tempat lainnya," kata Gusti. 


"Volume sampah yang ditangani per hari hanya 64 meter kubik. Sisanya tidak bisa tertangani karena kendaraan pengangkut yang masih kurang dan masalah sarana lainnya. Satu tahun sampah yang tertangani 23.360 meter kubik dan yang tidak tertangani 37.376 meter kubik," kata Gusti. Gusti Rinus-Sekretaris Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Manggarai Barat.

Lebih terbaru lagi beritanya adalah sewaktu kunjungan Ibu Menteri KKP Susi Pudjiastuti awal juni kemarin ke Labuan Bajo seperti diliiput oleh Floresa.co tanggal 6 Juni 2016.

"Tumpukan sampah seakan menyambut kedatangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkunjung ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan Bajo di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat – Flores, NTT, Senin 6 Juni 2016.

Tampak sampah kering dan basah berserakan di pintu masuk TPI. Menumpuknya sampah itu melebihi daya tampung tong sampah yang disediakan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Barat. Maklum, tong yang tersedia hanya satu unit.Sampah yang lain ditampung menggunakan keranjang rotan. 

Merasa tak nyaman, Menteri Susi pun menyentil soal sampah ini. Menurutnya, Pemda harus segera buat aturan yang tegas dengan memberi denda kepada masyarakat yang membuang sampah. Misalnya, dendanya Rp 200 ribu bagi mereka yang buang sampah sembarangan."
Sebagian tumpukan sampah di TPI Labuan Bajo (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)
Sebagian tumpukan sampah di TPI Labuan Bajo (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Ini artinya kan seperti tidak ada perkembangan yang berarti dalam manajemen sampahnya. Seperti (sudah jadi) kebiasaan sampah selalu diurus belakangan dan kalau sudah diprotes. Celakanya lagi, para wisatawan luar negeri sepertinya juga (sudah terlanjur) biasa mengenal Indonesia sebagai negara yang banyak sampahnya. Tidak ada toh berita protes dari para wisatawan mancanegara itu, paling-paling cuma geleng kepala dan tutup hidung. Toh lagipula, (mungkin) menurut mereka ini memang hanya negara kelas tiga, dimana pikiran utamanya masih seputar perut dan selangkangan, boro-boro pikir higienitas.

Coba lamunkan sebentar disini, bagaimana distribusi sampah, distribusi air hingga kabel-kabel listrik….juga terlihat di gambar adalah kelas masyarakat, paling bawah nelayan, agak diatas adalah kafe/resto yang bercampur ruang usaha/jasa wisata…bom waktu kesenjangan sosial..?

Kalau mau melamun (antara berangan dan berpikir) sedikit lebih jauh, yang dikemukakan ini baru masalah sampah. Melonjaknya jumlah orang di satu wilayah pasti menimbulkan banyak persoalan lain, seperti masalah air bersih dan degradasi lingkungan oleh pembukaan lahan atau bahkan kesenjangan sosial.  Apakah sudah ada yang mempelajari persoalan-persoalan ini ? rasanya para pemangku kepentingan di wilayah Taman Nasional Komodo harus cepat mengerti soal ini.

Pustaka :

http://kupang.tribunnews.com/2015/07/10/labuan-bajo-hasilkan-166-m-kubik-sampah

http://www.floresa.co/2016/06/06/tumpukan-sampah-sambut-kedatangan-menteri-susi-di-tpi-labuan-bajo/

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s