Leluhur Manusia Flores

Membaca berita Manusia Mata Menge yang baru saja dipublikasikan belum lama ini semakin menambah kagum akan kekayaan bumi nusantara ini. Apalagi kalau dibaca di masa-masa tenang bulan ramadhan seperti ini, biarpun rumit ‘njelimet tapi senang membacanya. Memang, sekelebat khayalan semacam Indiana Jones sesekali muncul, tapi sebagai orang yang sering terhantam realita, khayalan demikian cepat pudar apalagi kalau WA/SMS tagihan hutang dari seorang teman masuk berbunyi haha.

Ilustrasi Homo Floresiensis, diambil dari Morwood dan Jungers (2009).

Baiklah…Bacaan pertama mengenai Manusia Mata Menge saya dapatkan dari berita National Geographic yang kemudian saya susuri hingga ke papernya itu sendiri di Jurnal Nature. Manusia Mata Menge ini rupa-rupanya berumur 700.000 tahun yang lalu. Dalam penelitiannya, tim arkeolog Manusia Mata Menge mengungkapkan bahwa fosil yang ditemukan ini dapat jadi merupakan leluhur dari Manusia “hobbit” (Homo Floresiensis) yang sebelumnya ditemukan. Lebih lanjut lagi, Manusia Mata Menge ini dihipotesakan sebagai keturunan langsung dari Homo Erectus yang datang bermigrasi dari Afrika dan/atau Timur Asia dan kemudian menetap di Flores.

Lokasi ditemukannya Manusia Mata Menge, diambil dari Brum,A. and v.d, Bergh, et al (2016).

Kembali pada usianya, Manusia Mata Menge ini jelas jauh mendahului si “hobbit” (Homo Floresiensis) yang lebih dulu ditemukan. Hobbit ditemukan dengan umur 95.000 – 17.000 tahun yang lalu. Pada umur yang hampir mirip dengan Manusia Mata Menge, sekitar 700.000 hingga 1 juta tahun lalu, fosil “Manusia Jawa” sudah ditemukan terlebih dahulu oleh Dubois, Eugene Dubois, pada tahun 1891 yang dinamakan sebagai Pithecanthropus Erectus setelahnya. Hampir 50 tahun kemudian, pada tahun 1936, Von Koenigswald menemukan “Anak Mojokerto” yang berumur sekitar 1.49± 0.13 juta tahun yang lalu.

Tujuh ratus ribu tahun ! 1.49 juta tahun lalu..?! buat orang awam termasuk seperti saya ini, sulit dibayangkan lamanya tahun-tahun itu berlalu. Bagi orang geologi atau arkeologi, 700.000 tahun merupakan umur yang masih tergolong singkat atau muda dan masa-masa itu masih masuk dalam masa pleistosen, dimana pada masa itu lebih banyak daratan dibanding lautan di bumi nusantara ini. Teori yang berkembang, singkatnya, adalah, Homo Erectus berbondong-bondong keluar dari Afrika dan tiba, tersebar di Eurasia sekitar 1.8 juta tahun lalu, dan barangkali termasuk juga tiba di daratan Asia Tenggara. Pada waktu itu, dataran Jawa, Bali hingga Kalimantan dan Sumatera merupakan satu dataran. Sedangkan terpisah dari dataran Jawa adalah pulau-pulau NTB dan NTT yang menyatu menjadi beberapa bagian saja.

Ilustrasi geografis nusantara jaman pleistosen, diambil dari Morwood and Jungers (2009)

Homo erectus yang ditemukan pada dataran Jawa atau biasa disebut Sundaland ini telah dapat menggunakan alat-alat sederhana seperti peralatan dari batu. Akan tetapi, apakah mereka dapat membuat alat apung semacam rakit atau bahkan perahu ? untuk kemudian dapat menyeberang ke pulau sebelah dan bahkan ke dataran flores?

Temuan perkakas batu di situs Mata Menge, diambil dari Brum, A and Aziz, F, et al (2006)

Adam Brumm dan Van Den Bergh, peneliti yang termasuk dalam tim arkeologi yang menemukan fosil Mata Menge ini mengungkapkan teori bahwa mungkin saja terdapat sejumlah atau sekelompok Homo Erectus yang terdampar di Flores oleh tsunami? Hal ini, lanjutnya, dapat saja terjadi mengingat pada tsunami 2004 lalu banyak manusia yang juga turut terseret dan terdampar pada lokasi yang berlainan.

Lokasi situs Manusia Mata Menge, diambil dari Brum,A. and v.d, Bergh, et al (2016).

Lebih jauh lagi, mengingat bentuk tubuhnya yang berproporsi lebih kecil dan sedikit beda dibandingkan homo erectus, Homo Floresiensis mempunyai postur tinggi sekitar 100-130 cm sedangkan Homo Erectus asia (Trinil, Ngandong dan Zhouk) mempunyai tinggi antara 150-170 cm. Sedangkan Manusia Mata Menge mempunyai proporsi badan seperti Homo Erectus yang lebih kecil namun mempunyai struktur yang lebih mirip dengan Homo Floresiensis. Jadi semacam manusia peralihan antara Homo Erectus dengan Homo Floresiensis. Dikatakan bahwa manusia-manusia Flores ini adalah merupakan bentuk “bonsai” dari manusia purba homo erectus. Teori ini, dwarfisme, merupakan teori yang berkembang pada manusia purba Flores karena sulitnya mendapatkan sumber makanan pada lokasi tersebut. Bentuk dan ukuran mengalami perubahan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.

Hmm…..terdampar oleh tsunami dan terkena proses dwarfisme…!!???

Pengerdilan yang terjadi pada manusia Flores, ilustrasi diambil dari motherlanders.wordpress.com.

Terdengar sangat menakjubkan memang, tapi sampai adanya studi yang lebih mendalam teori ini dapat saja diterima sementara. Studi ini memang masih awal, jadi memang masih perlu banyak penelitian terfokus lainnya dan kita sebagai cucu cicit cicit nya perlu setidaknya menghargai dan mengetahui hal ini, toh ini terjadi di tanah kita sendiri dan tanah Flores telah membuktikan dirinya sebagai bagian dari laboratorium evolusi manusia dan sebagian tim arkeologinya juga adalah orang Indonesia. Jadi…Bravo Arkeologi Indonesia!! Perjalanan masih panjang hehe.

Daftar Pustaka :

Durband, A.C. 2009. Southeast Asian and Australian Paleoanthropology : a review of the last century. Journal of Anthropological Sciences, Vol 87, pp. 7-31

Baab, K.L. 2016. The Place of Homo Floresiensis in human evolution. Journal of Anthropological Sciences, Vol 94, pp. 5-18

Morwood, M.J., Jungers, W.L. 2009. Conclusions : Implications of the Liang Bua Excavations for hominin evolution and biogeography. Journal of Human Evolution 57. Page 640-648.

Brumm, A, Van den Bergh, G.D, et al. 2016. Age and context of the oldest known hominin fossils from Flores. Nature vol 534, p.249

Brumm, A, Aziz, F. 2006, et al. 2006. Early stone technology on Flores and its implications for Homo Floresiensis. Nature Vol 441. Pp 624-628.

http://news.nationalgeographic.com/2016/06/hobbits-humans-older-ancestors-island-fossils-archaeology/

https://motherlanders.wordpress.com/2016/06/13/manusia-purba-mata-menge/

https://en.wikipedia.org/wiki/Prehistoric_Asia

https://en.wikipedia.org/wiki/Java_Man

https://en.wikipedia.org/wiki/Solo_Man

 

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s