Kemerdekaan Indonesia, sebuah keberuntungan ?

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor in the National Remembrance Park Roermond, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Adalah pemikiran yang timbul setelah membaca buku biografi dari seorang Jendral Spoor.

Buku dengan judul “Jendral Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia” yang ditulis oleh J.A. de Moor adalah sebuah buku yang, menurut saya, wajib dibaca bagi orang-orang Indonesia yang ingin lebih mengetahui posisi dan peran Belanda pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Buku ini merupakan versi terjemahan secukupnya dari buku aslinya yang berbahasa belanda dan diterbitkan di Belanda lebih dahulu tahun 2011. Walau banyak terjemahan yang terasa kurang pas dalam bahasa Indonesia, toh garis besar kehidupan seorang Jendral Spoor masih dapat disimak dengan baik dalam buku ini. Selain menuliskan perjalanan hidup Spoor dengan tugasnya sebagai seorang pimpinan militer di Hindia Belanda, buku ini juga dengan baik mengungkapkan pandangan kacamata Belanda terhadap pergerakan bangsa Indonesia dan reaksi pemerintahan Belanda sendiri di masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

01_spoorDe Moor menulis, bahwa pengaruh perang dunia ke II yang dilakukan oleh Jerman di Eropa dan Jepang di Pasifik, turut membuat Belanda kalang kabut. Belanda yang mengusung netralitas ternyata diserang juga oleh Nazi Jerman pada 10 Mei 1940, memaksa seisi kabinet pemerintahan Belanda serta Sang Ratu Willhelmina mengungsi ke London. Belum selesai urusan dengan Nazi Jerman, tanggal 7 Desember 1941, Pearl Harbour diserang oleh Jepang. Tanggal 8 Desember 1941, Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Hindia Belanda darurat perang.

Jadi jelas, pada akhir tahun 1941 tanah air Belanda menghadapi tekanan dari Nazi Jerman, sedangkan Hindia Belanda bersiap bertahan menghadapi tekanan dari Jepang.

Desember 17, pesawat-pesawat Jepang menyerang wilayah Kepulauan Anambas, Ternate dan Sorong. Desember 19, Pontianak dibom oleh Jepang. Januari 7 tahun 1942, Ambon diserang oleh pesawat Jepang. Januari 12, Tarakan telah dikuasai Jepang. Januari 16, Medan menjadi sasaran pengeboman. Awal Februari 1942 Jawa mulai dibombardir pengebom Jepang. 15 Februari, Singapura bersamaan dengan Palembang telah dikuasai Jepang.

Hingga akhirnya, tanggal 8 Maret 1942 di Lapangan Terbang Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara, Bandung), Spoor bersama segelintir tentara dengan pesawat evakuasi terakhir terbang menuju Australia untuk mengungsi. Jepang telah menguasai Hindia Belanda. Pasukan yang tidak bisa dievakuasi menjadi tawanan Jepang.

 Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/ Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea
Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/
Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Mengapa Hindia Belanda bisa kalah dari Jepang dalam waktu yang begitu cepat ?

Di halaman 109, De Moor menyebutkan “Demikianlah pertahanan Jawa dari hari ke hari semakin memburuk. Kesatuan-kesatuan dan unit-unit kadang-kadang tanpa perlawanan yang berarti, menyerah atau luntang-lantung saja karena kaum militer pribumi yang sangat diandalkan telah lari dengan ketakutan”. Memang, pada saat itu pasukan Belanda yang berwujud KNIL banyak diisi oleh prajurit dari daerah-daerah di Nusantara, dengan pucuk-pucuk perwiranya diisi oleh si kulit putih.

Laporan kritis diberikan dari perwira tingginya tiga minggu setelah kekalahan Hindia Belanda (Sandberg, Coppens, De Vries, Burman van Vreeden dan Spoor) yang dituliskan De moor di hal 130 : “Mereka mengkritik sekutu, tetapi terutama menyoroti kegagalan tentara sendiri.” Pemerintah Belanda pun dipersalahkan karena terlalu kaku dalam netralitasnya sehingga tidak melakukan pendekatan apapun, termasuk terhadap sekutu. Sekutu, dalam hal lain juga tidak memberikan perlawanan yang kuat saat menghadapi Jepang di Singapura. Dalam pertempuran di Singapura, Hindia Belanda memberikan bantuan udara yang kuat dan menderita kerugian besar ketika Singapura jatuh.

De moor menuliskan kembali bahwa kekalahan Hindia Belanda banyak disumbang oleh kegagalan militer Hindia Belanda sendiri. Paragraf 3 di hal 130 tertulis “Dari sudut pandang politik, strategis, taktis, organisatoris, teknis dan moral, KNIL telah gagal sama sekali. Pimpinannya tidak kompeten dan ternyata tidak berkembang sepadan dengan tugasnya. Pucuk pimpinannya tidak sesaat pun dapat memancarkan rasa percaya diri. Yang berdominasi dalam pasukan adalah ‘jiwa amtenar’, birokrasi lebih menonjol daripada kesiapan tempur miiliter. Sikap pasukan, terutama orang pribumi, sangat mengecewakan; orang Ambon yang begitu dipuji-puji berdasarkan prestasi-prestasi mereka di Aceh (walau sudah empat dasawarsa yang lewat) mengecewakan.”

Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia
Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./ Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia (http://media-kitlv.nl, key : spoor)

Sebagai titik sorot buku ini, Spoor mengemukakan aspek militer-politik dalam analisa kekalahan Hindia Belanda. Disebutkan oleh Spoor bahwa “Kekalahan melawan Jepang menurut pandangannya pertama-tama bukan masalah organisatoris dan teknis, melainkan mempunyai sebab politik yang lebih mendalam. Masalah fundamental adalah tiadanya kerja sama antara kaum kulit putih dan kaum kulit sawo matang serta tidak adanya cita-cita bersama Belanda-Indonesia. Itulah sebabnya militer pribumi begitu buruk prestasinya : itu bukan perjuangan demi kepentingan mereka. Itu juga sebabnya penduduk Indonesia sama sekali tidak melibatkan diri : ini bukan perang mereka.

Disini letaknya faktor utama kegagalan kolonialisme Belanda. Ia tidak berhasil memenangkan hati penduduk Indonesia demi kepentingan Belanda-Indonesia bersama dan menjiwainya dengan nasionalisme Belanda – Indonesia … Menciptakan ‘cita-cita yang menjiwai’ yang baru dan secara bulat didukung kulit putih dan kulit sawo matang, itulah tugas bagi Belanda apabila sesudah perang akan kembali ke Hindia Belanda. Belanda tidak boleh kembali lagi kepada kolonialisme yang kuno itu, melainkan harus mewujudkan cita-cita kerja sama dengan penduduk Indonesia atas dasar kesetaraan dan dalam ikatan kerajaan.”

Tiga tahun berselang, Jerman menyerah tanggal 7 mei 1945 dan Belanda terbebas dari jeratan Jerman tanggal 9 Mei 1945. Hindia Belanda terbebas dari jeratan Jepang tanggal 15 Agustus 1945 seiring dengan dijatuhkannya bom nuklir oleh AS di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah, termasuk di hindia belanda.

Kolonel L.M. Cosgrave, afgevaardigde van Canada, ondertekent het document. Geheel links staat generaal Yoshijiro Umezu, chef van de Keizerlijke Garde/ Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard.
Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document of official surrender of Japan on the American battleship Missouri in Tokyo Bay. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard. (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Kekalahan Jepang di Hindia Belanda, sudah dapat dilihat oleh Spoor serta para pimpinan Hindia Belanda lainnya ketika pasukan sekutu perlahan menguasai Filipina dan mereka melihat perlunya penguasaan kembali Hindia Belanda dengan cepat setelah Jepang pergi.  Namun kala itu, Belanda dan Hindia Belanda berada dalam kondisi yang sulit. Tawanan perang serta korban yang berguguran membuat personil administrasi dan tentara, khususnya tentara Hindia Belanda, menjadi berkurang. Belum lagi dengan menipisnya kas negara akibat peperangan dan pengambilalihan Hindia Belanda oleh Jepang.

Memburuknya kondisi Belanda pasca perang dunia II menciptakan peluang bagi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Ketidaksiapan pemerintah Belanda untuk mengokupansi kembali Hindia Belanda serta kalahnya Jepang seolah memberikan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Benar saja, dua hari setelah Jepang menyerah, tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Jadi, pernyataan Indonesia merdeka dari Belanda atau Jepang atau penjajahan rasanya kurang cocok. Karena sesungguhnya Indonesia merdeka karena sudah tidak ada keterikatan atau ketergantungan dari pihak lain, mengacu pada definisi ke tiga dari arti kata merdeka dalam kamus KBBI. Belanda menyerah kepada Jepang dan Jepang menyerah kepada sekutu. Sedangkan sekutu tidak mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Sekutu, yang didalamnya termasuk juga Belanda, pun tidak mendaratkan kakinya secara resmi di Jawa hingga akhir September/awal oktober 1945.

merdeka /merdéka/ a

1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri;

2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan;

3 tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu; leluasa;

(KBBI. 2008)

Jadi, apakah karena keberuntungan Indonesia bisa merdeka ? Atau persiapan yang matang dari nasionalis Indonesia dan jelinya melihat perkembangan situasi perang dunia ? Pertanyaan ini kembali menyerobot pikiran saya yang kurang terdidik akan pergerakan bangsa (sendiri) Indonesia. Saya harus membaca kembali soal ini. Akan tetapi jelas, menurut De Moor dalam buku ini memang posisi Belanda dan Pemerintahan di Hindia Belanda kurang siap dan tidak mampu mengatasi masalah-masalah internal yang menggerogoti Hindia Belanda.

Pendudukan kembali Hindia Belanda?

Rencana pendudukan kembali mulai dirancang sejak mengungsinya pimpinan Hindia Belanda ke Australia dan Spoor yang telah menjadi pimpinan NEFIS, badan intelijen militer. Dalam rencananya Spoor mengungkapkan bahwa pemulihan kekuasaan di Hindia Belanda yang sudah dibebaskan harus dipegang penuh di tangan militer. Tahun 1943 dan 1944 pun disusun rencana untuk memberikan dukungan personil sebanyak 75 batalion KNIL.

Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia
Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia (http://media-kitlv.nl, key : KNIL)

Namun rencana itu gagal sebab hingga November 1945 tetap tidak didapatkan jumlah personil dan prasarana yang memadai, seperti dijelaskan De Moor pada hal 208 : “Pada bulan November, tiga bulan sesudah kapitulasi Jepang, jumlah itu masih sangat mengecewakan. Di Batavia, KNIL dapat menyediakan sekitar 10 kompi (kira-kira 1500 orang), tetapi tidak semua mereka operasional. Di Sumatera bulan itu bahkan belum ada satu pun kompi yang operasional walau beberapa sedang didirikan, terdiri atas para eks tawanan perang. Diluar Jawa, Belanda punya sepuluh kompi yang operasional dan sejumlah yang sama yang sedang dibentuk, sebagian besar berasal dari Thailand dan lain-lain daerah tempat para militer itu diinternir. Jumlah seluruhnya yang dapat dikerahkan oleh KNIL sekitar 5000 orang, sebagian besar masih berada di luar Hindia Belanda, antara lain di Manila, Singapura dan Bangkok.”

 Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/ Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore the day order for the residents after the signing of the Japanese surrender
Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/
Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore, order of day for the residents after the signing of the Japanese surrender (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

De Moor juga merujuk pada kurang baiknya hubungan antara pimpinan sekutu di Asia tenggara (SEAC, South East Asia Command) yang dipegang oleh Inggris dibawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten di Singapura dengan Jendral Spoor sebagai penyumbang kegagalan pendudukan kembali. Inggris kala itu mendapat mandat untuk melucuti tentara Jepang, mengevakuasi para interniran dan menjaga ketertiban umum sampai Belanda memulihkan kekuasaannya.

Namun dalam kenyataannya, Spoor menuding Inggris tidak saja dengan sengaja menahan pasukan belanda di Malaka, namun juga menuding tidak tegasnya Inggris dalam mempasifikasi kaum republiken dan para anarkis yang menyebabkan kekacauan di Jawa (sebagai sebab penundaan pasukan Belanda datang ke Jawa). Bahkan juga, menuding Inggris yang menyatakan pengakuan dan dukungannya terhadap kaum republiken di Indonesia, kaum Sukarnois.

Akan tetapi, yang paling krusial menurut saya adalah kesalahan intelijen dalam usaha pendudukan kembali Hindia Belanda, padahal spoor sendiri yang mengepalai badan intelijen tersebut. Disebutkan dalam halaman 195, “Spoor memandang semua perkembangan politik dengan pendudukan Jepang sebagai latar belakangnya. Republik, Sukarno, nasionalisme, kelompok perjuangan, pemuda pejuang, boleh dikatakan semuanya menurut pandangannya adalah ‘buatan Jepang’. Apabila pimpinan Jepang dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ekstrimis dan teoritis dapat disingkirkan, ia yakin seyakinnya tak ada yang tersisa lagi dari seluruh gerakan nasional itu dan dari ‘apa yang mereka namakan REPUBLIK itu.”

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Penutup

Dengan demikian, tanpa melihat pergerakan nasionalis Indonesia kala itu, Belanda mengalami kesulitan yang fundamental dalam mempertahankan negeri jajahan Hindia Belanda. Belanda telah gagal mempertahankan Hindia Belanda sedari awal sejak dijajah di negerinya sendiri oleh Nazi Jerman. Dengan membaca buku ini, terlihat bahwa situasi yang dialami Belanda memang menguntungkan bagi pergerakan nasional Indonesia.

Akan tetapi, selain dari faktor nasionalisme yang memuncak di kalangan pejuang pergerakan Indonesia, apakah cepatnya tindakan proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan insentif dari Jepang seperti yang sering digadang-gadang dengan ikut campur tangannya Laksamana maeda, atau hanya simpati sekelompok orang Jepang yang menaruh perhatian pada gerakan kemerdekaan Indonesia ?

Inilah pertanyaan lanjutan yang masih membayangi saya setelah membaca buku yang ditulis De Moor ini, sangat menarik untuk melihat cerita maupun analisa masa-masa awal kemerdekaan Indonesia di tengah tahun 1945 itu dari sisi Jepang.

Buku Kuasa Jepang di Jawa, yang awalnya disusun sebagai disertasi dari Prof. Aiko Kurosawa merupakan target bacaan lanjutan saya untuk mencoba memahami keseluruhan cerita kemerdekaan Indonesia. Tapi rasanya sebelum membaca buku tebal itu saya mau membaca buku Dalem Tawanan Djepang yang disusun oleh Nio Joe Lan semasa ditahan Jepang dan diterbitkan di tahun 1946. Mengapa saya baru sadar buku ini ada setelah 71 tahun Indonesia merdeka yah.

04_spoorKuper sekali saya…haduuh..

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s