Si Pecinta Alam sejati.

wallace4
Patung Alfred Russel Wallace di Darwin Centre, foto oleh Anthony Smith.

Obrol – obrol soal pecinta alam yang lumayan ramai dibicarakan belakangan ini, saya jadi teringat pahlawan saya yang bernama Wallace yang merupakan (menurut saya) pecinta alam yang sesungguhnya. Bukan, bukan Wallace yang dimainkan Mel Gibson di film Braveheart itu. Alfred Russell Wallace adalah pahlawan pecinta alam yang saya maksud.

wallace1
Buku Malay Archipelago karangan A.R.W yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. (https://www.tokopedia.com/buku-murah/kepulauan-nusantara)

Wallace yang ini sebenarnya adalah seorang virtuoso dalam hal “cinta alam”. Wallace sebenarnya tidak berkesempatan mengenyam pendidikan resmi ilmu botani atau ilmu ekologi. Ketertarikannya dipengaruhi oleh bacaan yang didapatkannya di perpustakaan. Petualangan dan eksplorasi para ilmuwan seperti Darwin di Kapal Beagle semakin membuatnya tertarik untuk belajar (secara otodidak) mengenai ilmu-ilmu tersebut.

Wallace datang ke nusantara sekitar tahun 1854 hingga tahun 1862. Tidak ada waktu berkenes-kenes baginya di nusantara ini. Ekspedisinya dimulai dari wilayah Malaka hingga delapan tahun kemudian. Ekspedisinya di nusantara ini mengumpulkan ribuan kalau tidak ratusan ribu jenis binatang sebagai bahan koleksi dan bahan berpikirnya.

wallace5
Jenis spesimen yang dikumpulkan oleh A.R.W, burung Hornbill atau Rangkong. Foto oleh Fred Edwards.

Setiap ekspedisi, baik saat itu ataupun masa kini, jelas tidak berbiaya murah dan tidak tanpa kelengkapan yang banyak. Akan tetapi, sebagai seorang bule inggris di abad ke 19 walaupun terbilang pas-pas an di negara asalnya, Wallace jelas lebih terpandang di banyak daerah di nusantara yang masih menjadi jajahan VOC atau Portugis. Dengan beberapa keping perak dilengkapi ijin dari otoritas bule didaerah itu, Wallace dapat memperoleh banyak anak buah (baca : kuli, kuli angkut dan babu) yang bisa diperintahnya dengan santai. Tapi bukan berarti Wallace ditandu atau dituntun dalam penjelajahannya. Wallace secara aktif menjelajah hutan belantara nusantara yang dibantu oleh asisten-asistennya.

wallace7
Basecamp A.R.W di Waigeo .. ? Wallace ada dibawah lantai gubuknya mengkapitulasi data-data yang ditampilkan spesimen-spesimennya.

Wallace dalam setiap bagian dari penjelajahannya di Nusantara jelas membutuhkan basecamp atau markas sementara yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi tempat untuk menyimpan specimen-spesimennya. Basecamp yang dipilih oleh Wallace bervariasi dari rumah di pinggiran kota yang dekat dengan hutan hingga sebuah pondokan yang berada jauh didalam hutan belantara.

wallace3
Desain dari patung Wallace di Darwin Centre. Ini adalah ilustrasi pakaian yang digunakan Wallace kala itu, digunakan sebagai referensi patung Wallace

Akan tetapi, kala itu, jelas tidak ada tas ransel eiger, sepatu bersol vibram, pisau swiss victorinox dan GPS atau google maps. Alih-alih semua hal itu, yang ada adalah parang, sepatu boot berat, senapan dan pakaian ala kadarnya untuk menghalau nyamuk dan serangga yang berisik di kuping dan tentu saja ketertarikan mendalam terhadap misteri alam.

Penjelajahan hutan pada abad 19 jelas sekali merupakan hal yang sangat menantang. Orang waras mana (terlebih lagi si kulit putih) yang mau pergi ke hutan, membuka jalan hutan, menunggu dan mencari untuk mengumpulkan burung, serangga hingga monyet besar untuk dibawa ke kota. Di mata orang lokal Wallace pastilah disebut orang gila, terlebih lagi ketika keluar dari hutan dengan banyak sangkar-sangkar atau kotak yang berisi spesimen-spesimen yang masih hidup ataupun mati. Kesukaran yang dialaminya jelas memberikan hambatan tapi bukan sesuatu yang bisa menghalanginya.

Wallace bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan belantara, mengumpulkan spesimen-spesimennya yang bervariasi. Spesimen-spesimen tersebut merupakan data-data yang bertumpuk dan (jelas) menyentil pikiran Wallace mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat pada spesimen-spesimen tersebut. Kejelian Wallace sebagai seorang pengamat alam sejati jelas teruji setelah mampu melihat variasi yang kecil pada berbagai spesies spesimen yang berbeda yang dikumpulkannya di banyak daerah.

wallace6
Teropong yang digunakan Wallace. Pecinta alam sekarang masih ada yang bawa teropong ??

Ketertarikannya pada alam memberikannya kredo yang mengakar kuat akan pentingnya penyelidikan lebih lanjut mengenai perubahan-perubahan secara spasial pada spesimen-spesimen yang diamatinya. Hal ini pada akhirnya menuntunnya pada teori evolusi lebih dahulu dari Darwin, yang disuratinya sekitar tahun 1857 untuk bertukar pikiran soal evolusi.

Pustaka :

https://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace

http://wallacefund.info/

Images above is available at Gallery at wallacefund.info (https://get.google.com/albumarchive/110137695121351600738?source=pwa)

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

One thought on “Si Pecinta Alam sejati.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s