Leg 1 : Cahaya Bali di Teluk Terima

Tidak lama setelah pemeriksaan KTP yang rada percuma di pelabuhan tadi, jalan menjadi gelap dan tanpa terburu-buru bus kami berbelok menuju sebuah jalan yang lebih kecil hingga akhirnya berhenti di pelataran sebuah pondokan yang lumayan besar. Temaram terang jalan tidak mengurangi keindahan bangunan ini, tampak megah dan malah angker layaknya sebuah pura pertapaan besar. Beberapa orang keluar dari pondokan untuk menyambut kami, dua orang tampak tidak asing, Ibu Berliana dengan Pak Ari Tayra rupanya sudah datang terlebih dahulu. Mereka keluar berbarengan dengan seorang pria Bali paruh baya. Bagaimana aku tahu dia orang Bali? Logat Balinya memberi jawaban itu. Mereka menyambut kedatangan kami, atau lebih tepatnya menyambut Ibu Susi dan tim asisten serta anak-anak centil lainnya. Aku ? Aku masih merapikan tasku dan mencari earphone ku yang rasanya terselip di kursi bus. Ani dan lainnya seperti biasa, berswafoto dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bang Fadil juga seperti biasa, mulai geram melihat anak-anak yang malas dan mulai meneriaki, ehm..mmm, memberitahu peserta untuk membenahi barang-barang survei untuk segera dibawa masuk ke pondokan.

Tomi dan Abdi serta yang merasa lelaki sudah membawa boks berat echosounder, tabung-tabung oksigen serta perkakas survei lainnya. Aku dan ekorku, Ani, membawa seperangkat snorkel dan pelampung. Alat-alat survei itu ditumpuk begitu saja di bagian ujung pendopo tersebut, Bang Fadil bersama Kak Danu kemudian mengecek ulang alat-alat tersebut, memastikan tidak ada yang tertinggal di bandung atau di bus, maksudnya itu, lebih memastikan kalau tidak ada yang tertinggal di bus.

Kami semua duduk di tengah pendopo tersebut di kursi dan meja makan yang sudah tersusun rapi dengan hidangan prasmanan yang terpisah di meja samping. Hanya ada satu hal yang menghalangi kami untuk langsung melahap habis itu semua, Bu Berliana dan Bapak Bali yang berdiri rapi didepan dan mulai memberi sambutan. Delapan belas menit setelah pukul sembilan malam Waktu Indonesia Tengah ditunjukkan oleh jam dinding yang ada di pendopo, badan yang lelah dan wangi menggoda dari ikan bakar serta ayam betutu jelas waktu yang sangat sesuai untuk sebuah sambutan. Tentu saja, sambutan ini samar-samar kudengar karena mata dan pikiranku dengan cepat melayang pada halaman belakang pondokan ini. Halaman belakang pondokan ini berbatasan langsung dengan pantai dan debur gelombangnya. Malam itu cukup berangin, hantaman gelombangnya menderu cukup kencang. Perahu-perahu yang berjajar rapi disana tampak beristirahat, tertidur dari perantauan sehari-harinya. Satu, dua, tiga… delapan, hantaman gelombang itu terdengar setiap delapan detik. Periodenya delapan detik? Malam ini kurasa juga sedang pasang purnama, ombaknya terlihat sedikit menciprat badan-badan kapal itu. Lelah benar-benar merasuki pikiranku, aku melamun soal periode gelombang dan pasang surut.

“Nggi, nggi, ayo makan yok, bengong aja..!!” Ani menyengggol kakiku mengajakku makan. Wejangan telah selesai dan teman-teman ternyata sudah mengantri makan.

“Ayo ‘nggi makan yang banyak, besok kita sibuk lho”. Bang Fadil dengan mulut yang mengunyah bicara kepadaku padahal aku baru saja duduk dan hendak menyuap paha betutu.

“Oh, jam berapa bang besok ?” Ani langsung menyambar.

“Sore, besok kita pulang cepat dan langsung ke dermaga setelah keliling balai tamnas. Lho, Memangnya tadi tidak dengar omongan Bu Susi?”

Ani tertawa kecil, rupanya dia juga tidak mendengar omongan tadi. Besok sore aku sama Ani jadi ikut Bang Fadil untuk cek perahu dan lokasi, seketika ayam betutu di kerongkonganku menjadi terlalu kesat.

Selesai makan kami semua langsung menuju kamar sesuai pembagian yang telah diatur, badan ini terlalu lelah, tanpa peduli aku langsung berbaring dan menggulung badanku di tempat tidur. Aku hanya ingin berbaring dan mendengar kembali suara debur ombak itu sayup-sayup sampai tertidur.

Pukul enam pagi. Sepertinya begitu, alarmku selalu berbunyi tepat jam 6.07 pagi, atau 6.17 atau 6.27, aku lupa sudah berapa kali kupencet tombol snooze itu. Debur ombak itu masih terdengar namun lebih pelan suaranya dibanding tadi malam, sepertinya sedang surut. Ani masih tertidur, Ayu sepertinya sedang di kamar mandi. Begitu jendela kubuka, dengan segera cahaya hangat menyentuh kulitku dan aroma asin laut menyeruak masuk dihidungku. Damai sekali suasana pagi begini.

Jam 7 kami sarapan dan sebelum jam 9 kami semua sudah berangkat menuju tamnas. Pak Raka dan beberapa petugas tamnas sudah datang ke pondokan sekaligus ikut sarapan tadi. Dari pondokan ke balai tamnas tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit. Di balai tamnas itu tentu saja tentu saja terdapat sambutan-sambutan lagi. Power point membosankan dan foto bersama yang menyebalkan. Pikiranku jadi melantur lagi ke acara pra survei nanti sore, apa nanti ada pelampungnya dikapal ? apa nanti terlalu besar gelombangnya? Apa nanti aku akan muntah, seberapa besar kapalnya sih…oh mudah-mudahan bukan sampan bercadik itu kapal yang dipakai. Apa aku harus berenang nanti? Bagaimana kalau aku jatuh dari kapal?

Sambutan demi sambutan dan presentasi-presentasi terasa singkat dalam sebuah lamunan, untungnya pada jam 11 kunjungan ini diselingi dengan keliling balai tamnas yang memelihara dan merawat beberapa satwa dan flora yang dilindungi di tamnas ini. Sekitar jam 12 lewat makan siang telah terhidang dalam puluhan kotak, arena makan siang bertempat di pelataran belakang aula yang menghadap langsung ke laut. Memandang laut sambil makan siang begini membuatku melupakan kenyataan yang akan menyergapku nanti sore. Angin sendalu meniup wajah, menghela keringat kekhawatiran. Baru aku menyadari indahnya laut yang berpadu padan dengan putihnya pasir pantai. Air biru cerahnya menggoda nalar untuk merasakan segarnya, meskipun aku baru ini saja bisa berenang.

Berbulan-bulan bergulat membicarakan gelombang, arus, dinamika fluida dan fenomena laut lain melalui rumus-rumus fisika abstrak pada ketinggian 700an mdpl di tengah Pulau Jawa lalu melihat pemandangan nirwana seperti ini ibarat seorang penduduk neraka yang diberi kesempatan makan es krim Baskin Robbins. Oh, enak sekali kalau ada es krim disini. Iya, surga yang sesaat, toh, Agustus nanti, semester baru dimulai dan algojo-algojo itu siap menghantamku kembali dalam mata kuliah yang bernama kolokium.

Selesai makan siang, kita bergerak dalam beberapa rombongan melihat area hutan konservasi yang dikelola taman nasional disini. Melihat area taman konservasi ini, rasanya sah-sah saja A.R Wallace Bulan Juni tahun 1856 lalu menyebut Bali adalah daerah yang sangat indah, yang sama dan bahkan melebihi keindahan eropa. Tidak berapa lama kunjungan yang singkat itu selesai dan kami semua kembali ke pondokan untuk memulai rangkaian survei oseanografi di Teluk Terima ini.

“Nggi, jangan lupa bawa kamera yah”. Ani duduk disebelahku di bus menuju pondokan.

“eh buat apa ?”. Wajahku berlagak pilon, padahal grogi menggerogoti tulang belakangku.

“Ya buat foto-foto nantilah, kan perlu buat difoto-foto. Sekaligus kita bisa foto-foto juga kan. ”

“Iya, cerewet.” Ungkapan terakhir Ani hampir tidak kudengar, pikiranku pergi jauh, tertutup oleh bayangan menyeramkan trip sore nanti.  Hmm. Cahaya Bali. Akhirnya aku tahu nama nama pondokan ini, mengapa dinamakan Cahaya Bali yah ? pikiranku menggusar mencoba menyingkirkan kegalauan.

“Nggi, nanti kamu yang pegang GPS nya yah. Bisa kan pegang GPS nya. Tandai posisi-posisi yang ditinjau nanti. Malamnya kita lihat sama-sama di peta yah” kata Bang Fadil sebelum aku ke kamar, Ani malah sudah ngeloyor duluan.

“GPS yang mana yah” Wajah pilon ku keluar lagi.

“GPS yang kemarin lah, Garmin Oregon. Kan sudah diajari kemarin.”

“Iya, yah. Iya. Terus bawa apa lagi. Bawa pelampung kan.”

“Ya jelas dong, itu sih safety procedure. Kamu mau coba snorkeling ? Hitung-hitung latihan, kemarin kan hanya di kolam renang saja. Oh ya. Bilang sama Ani juga, nanti kumpul di pendopo jam 14.30, sudah siap semua dengan barang-barangnya. “

“Ok.”. Aku diam saja dan asal mengangguk.

14.25. Aku sama Ani sudah di ruang pendopo, lengkap dengan perlengkapan masing-masing, hanya saja tasku terlihat lebih menggembung dibandingkan tas Ani. Rasa-rasanya tas Ani isinya hanya dompet, air minum dan cemilan saja, bandingkan dengan tasku yang besar isinya mulai dari obat-obatan hingga dua pasang baju ganti dan jaket tebal.

DSC06495

“Ok. Kita berangkat. Bawa apa saja tuh, berat amat kelihatannya ‘Nggi ?” Bang Fadil menyapa kita dari luar pondokan, rupanya dia sudah siap diluar dengan Dani dan Toni beberapa menit lalu. Pelampung, snorkel, GPS dan kamera semua sudah siap ditenteng menuju dermaga.

Sebagai koordinator asisten praktik survei, Bang Fadil jelas lebih berpengalaman, tapi area Taman Nasional Barat Bali baru kali ini dipakai untuk praktik survei oseanografi. Adapun alasan lokasi ini dipilih karena adanya penelitian dari Ibu Susi dan Pak Ari Tayra soal kondisi oseanografi di taman nasional. Entah penelitian apa, aku tidak mengerti, menyangkut soal produktivitas primer dan sirkulasi lautnya lah. Yang jelas, kami semua dibawa kesini sebagai pelaku survei untuk penelitian itu sekaligus jadi ajang praktik mata kuliah survei oseanografi. Lebih pentingnya lagi, kami semua adalah tenaga gratisan bagi penelitian dosen-dosen itu.

“Buku Boas sama Pond&Pickard Bang !” jawabku sekenanya. Pecah juga tawa mereka, berkomentar mengenai kuliah-kuliah absurd yang kami ambil. Bagus! Biarlah mereka semua bercanda dan biarkan aku berkonsentrasi penuh untuk perjalanan perahu nanti. Jalan menuju dermaga sebenarnya hanya sekitar 10 menit saja, tapi dengan bawaan kami yang cukup banyak, pelampung, snorkel dan fin, kamera hingga cemilan, belum lagi tasku yang berat ini perjalanan menuju dermaga jadi terasa lebih lama, atau itu hanya perasaan deg-degan ku saja yah?

Pada dermaga sudah ada Dito, Ayu dan beberapa teman seangkatanku dari kelompok 2. Mereka sedang berlatih memasang alat pasang surut otomatis serta palem pasut sebagai cadangannya. Dito jadi asisten yang melatih alat pasang surut sedangkan ayu berlatih kalibrasi CTD serta Current meter untuk praktik besok. CTD seabird 37 dan Valeport Midas WLR menjadi raja dan ratu di dermaga ini karena baik praktikan dan asistennya tampak memegangnya dengan terlalu hati-hati ibarat keris keramat. Tidak berapa lama Pak Ari muncul juga di dermaga, mengawasi jalannya asistensi dan memperhatikan agar raja dan ratunya tidak rusak akibat ulah amatir.

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s