A.R Wallace dan Orang Utan

Lepas dari Malaka dan Singapura, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Borneo di bagian Sarawak dengan harapan yang besar. Wallace mengunjungi banyak tempat di Sarawak, namun kesan mendalam baginya dan bagi saya yang mendengar ceritanya di dapatkan di daerah pertambangan batubara Simunjon (Simunjan). Sarawak kala itu berada dibawah penguasaan Inggris yang diwakili oleh Sir James Brooke (Raja Sarawak aseli Inggris tulen yang berkuasa dari Tahun 1842 – 1868) .

sarawakmapboundaries
Peta Wilayah Sarawak pada berbagai waktu. Lokasi Simunjan di lingkari merah. (http://www.britishempire.co.uk/images2/sarawakmapboundaries.jpg)

Sebagai tamu jauh dari Inggris yang berkunjung ke Sarawak, Wallace diterima baik oleh James Brooke dan diberikan tempat tinggal, tempat untuk beristirahat serta lebih pentingnya lagi, diberikan jaminan dan dorongan untuk menjelajah area Sarawak dibawah perlindungan si raja kulit putih itu. Wallace tinggal selama sekitar dua tahun di Sarawak.

This print shows James Brooke's Bungalow before it was destroyed in the 1857 Chinese rebellion. The bungalow also acted as his court and effectively the seat of government for Sarawak.
Bungalow Raja James Brooke, terlihat indah sekali, apa Wallace dberi tempat disini? (http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak/brookesbungalow.htm)

Di hutan Sarawak inilah pertama kalinya Wallace melihat orang utan atau mias (sebutan lokal untuk orang utan waktu itu) pada awal bulan maret Tahun 1855. Yah, lebih tepatnya di area pertambangan disana, di area Kota Simunjon itu. Masa itu, pertambangan menjadi pokok kehidupan di area Simunjan, sedangkan masa kini, entah apa kekhasannya tapi rasa-rasanya Simunjan telah kehilangan pesona pertambangannya dan menyisakan sisa-sisa lokasinya sebagai tempat wisata (bisa cek disini soal Simunjan).

simunjan
Selamat Datang Di Simunjan. (http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html)

Nah, dalam kesempatan ke Simunjan ini Wallace memang sengaja menyempatkan diri datang untuk melihat orang utan secara khusus. Perjumpaan Wallace dengan orang utan di pedalaman Sarawak ini sungguh menarik untuk dibaca. Apalagi dengan membayangkan rimbunnya hutan Sarawak di Tahun 1855 itu. Seandainya youtube telah ada sewaktu itu, barangkali ceritanya mengenai mias akan disertai pula dengan video perburuannya. Iya, berburu !

 Ia menulis :

Salah satu tujuan utama perjalanan ke Simunjon adalah untuk meneliti orang utan. Saya ingin melihat habitat aslinya, mempelajari kebiasaan dan mendapatkan spesimen dari berbagai variasi spesies serta dari kedua jenis kelamin, baik orang utan yang masih muda ataupun yang dewasa. Diluar dugaan, saya berhasil mendapatkan semua yang saya inginkan. Kini saya akan menceritakan pengalaman saya berburu orang utan, atau disebut “Mias” oleh penduduk pribumi. Karena nama tersebut pendek dan mudah diucapkan, maka saya akan menggunakan nama tersebut untuk menyebut nama Simia Satyrus atau orang utan.

Waktu itu, nama ilmiah yang diberikan untuk Orang Utan adalah Simia Satyrus. Nama ini pertama kali diberikan oleh Carolus Linnaeus sebagai orang yang pertama kali mendeskripsikannya secara ilmiah (Dalam literatur ilmiah Systema Naturae tahun 1758, bukan dalam postingan wordpress !)

05
Bayi Mias. (http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html)

“Mendapatkan spesimen” bagi seorang naturalis adalah kata lain untuk mengoleksi spesimen tersebut dengan cara memburu dan kemudian mengawetkannya untuk diteliti lebih lanjut. Pada masa sekarang yang katanya penuh kemajuan, cerita perburuannya terlihat seperti menjijikkan dan menyeramkan, tapi pada masa tersebut, bagaimana lagi cara untuk memperoleh spesimen-spesimen spesies dengan kondisi utuh serta lengkap bahkan tanpa luka? Akan sangat sulit untuk membawa spesimen-spesimen dalam berbagai variasi secara hidup-hidup, apalagi hendak dibawa ke Eropa. Terlebih pula, Wallace masih berada di awal perjalanannya dalam menjelajah nusantara.

Perburuan Wallace untuk mendapatkan spesimen mias dilakukan dengan menggunakan senapan, di berbagai kesempatan yang didapat seperti ditunjukkan pada catatan-catatan hariannya :

  1. Dua minggu kemudian saya mendengar ada seekor mias sedang makan di seberang pohon di rawa-rawa. Saya segera mengambil senapan dan beruntung masih melihatnya di rawa-rawa. Ketika saya mendekati tempat itu, hewan itu mencoba menyembunyikan diri diantara dedaunan, tetapi saya berhasil menembaknya. Pada tembakan kedua, hewan itu hampir mati terkapar di tanah. Dua butir peluru menembus tubuhnya.
  2. Pada 28 April, saya bersama dua orang Dyak menembak mias lain yang besarnya kira-kira sama dengan yang pertama. Hewan tersebut jatuh pada tembakan pertama, tetapi sepertinya tidak terlalu terluka dan segera naik ke pohon terdekat. Pada tembakan kedua ia jatuh lagi sehingga tangannya patah dan tubuhnya terluka.

    Dyak = Dayak, harap maklum, lidah Inggris.

  3. Pada 12 mei, saya menemukan mias lain. Hewan ini juga meraung-raung marah dan melemparkan dahan-dahan pohon. Mias itu saya tembak lima kali dan mati diatas pohon, ditopang oleh sebuah cabang yang membuatnya tidak akan terjatuh. 
    
    ... Kulitnya saya awetkan didalam tong kecil berisi arak. Saya pun menyiapkan kerangka tubuhnya yang utuh sempurna dan kemudian dibeli oleh Museum Derby.

    Derby Museum adalah museum yang didirikan oleh Edward Smith-Stanley, 13th Earl Of Derby di Liverpool, Inggris. Sekarang museum itu masih ada di Liverpool sana, cuma berganti nama jadi World Museum Liverpool. Tidak diketahui di laman webnya apakah museum ini masih mengkoleksi kiriman orang utan dari Wallace, tapi sepertinya sebagai sebuah museum penting, besar kemungkinan kulit dan kerangkanya masih tersimpan baik disana.

  4. Empat hari berikutnya, beberapa orang Dyak melihat mias lain di dekat tempat mias sebelumnya. Mias kali ini agak besar. Pada tembakan kedua, hewan itu jatuh terguling-guling, tetapi segera bangkit dan kembali memanjat pohon. Pada tembakan ketiga hewan itu mati.

    Kemudian di pertengahan Mei (tepat seminggu setelah mendapatkan bayi mias) Wallace berhasil mendapatkan mias berukuran besar.

  5. …. setelah hampir putus harapan, hewan itu jatuh dengan suara keras seperti raksasa terjatuh. Tapi ia memang raksasa. Kepala dan badannya sama besar dengan kepala dan badan manusia.  Rentang lengannya tujuh kaki tiga inci, tingginya empat kaki dua inci yang diukur dari puncak kepala sampai ke tumit. Badannya diukur dari bawah lengan, tiga kaki dua inci. Jadi panjangnya sama dengan panjang manusia sedangkan kakinya pendek. Setelah diteliti ternyata mias itu terluka sangat parah. Kedua kakinya patah. Satu persendian lutut dan tulang punggungnya hancur. Selain itu peluru-peluru yang sudah pipih ditemukan di leher dan rahangnya. Akan tetapi, ia masih hidup ketika jatuh. 
    
    …. Satu hari kemudian saya dan Charles menguliti dan merebus tulang mias itu untuk membuat sebuah contoh kerangka lengkap. Kerangka tersebut sekarang disimpan di museum derby.
  6. Pada 18 juli, saya mendapatkan seekor mias jantan. 
    
    … dua tembakan membuat hewan ini melepaskan pegangan, tetapi tetap tergantung cukup lama dengan sebelah tangan. Ia kemudian jatuh menelungkup pada mukanya dan setengah terkubur dalam rawa. Selama beberapa waktu, ia mengerang dan terengah-engah sementara kami berdiri di sekelilingnya dan menunggu hembusan nafasnya yang terakhir. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga, ia bangkit sehingga kami mundur satu sampai dua yard ke belakang. Setelah berdiri hampir tegak, ia berpegangan di sebatang pohon kecil dan mulai memanjat. Ia tewas setelah sebuah peluru menembus tulang belakangnya. Sebuah peluru ditemukan di lidahnya. Peluru itu masuk dari bagian bawah perut, melintasi badan dan memecahkan tulang belakangnya. Lukanya sudah sangat parah ketika bangun dan mulai memanjat pohon dengan kekuatan yang luar biasa.
  7. Pada 21 juni, saya menembak mias betina yang telah dewasa ketika ia sedang makan buah. Hanya seekor ini yang pernah saya tembak dengan sebutir peluru.
  8. Pada 24 juni saya diminta oleh seorang Cina untuk menembak mias dekat rumahnya di tambang batubara. 
    
    …. Saya segera menembaknya, tapi ia bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Kemudian saya menembak sekali lagi sehingga satu lengannya patah. Sekarang, ia mencapai bagian tertinggi di sebatang pohon yang sangat besar, kemudian ia mematah-matahkan cabang-cabang pohon disekeliling dan menganyamnya menjadi sarang. 
    
    …. Oleh sebab itu, saya menembak sarangnya beberapa kali supaya ia meninggalkan sarang. Saya yakin ia terkena tembakan karena ia terlihat bergerak-gerak terluka, namun tetap tidak mau pergi. 
    
    ….. Dua atau tiga bulan kemudian, dua orang Melayu memanjat pohon dan menurunkan bangkai yang telah kering. Tinggal kulit membalut kerangka mias itu. Didalamnya terdapat jutaan kepompong lalat dan serangga-serangga lain, serta ribuan kumbang necrophagus. Meskipun tulang tengkoraknya telah hancur karena peluru, tetapi kerangkanya masih lengkap, kecuali sebuah pergelangan tangan. Tulang itu mungkin telah jatuh atau dibawa kabur oleh seekor kadal.
  9. Tiga hari kemudian Charles melihat tiga ekor mias kecil sedang makan bersama. Setelah mengejar cukup lama, kami melihat mereka berayun dari pohon ke pohon. 
    
    … salah satu diantaranya berhasil kami tembak, tetapi hewan ini tersangkut diatas sebuah cabang pohon. Karena mias-mias muda tidak terlalu menarik, saya tidak menebang pohon untuk mengambil bangkainya.

    Setelah memburu mias-mias muda ini, Wallace mendapatkan sedikit kecelakaan yang membuatnya terpaku pada tempat tidurnya. Akan tetapi segera setelah sembuh dia langsung menjelajah kembali ke hulu sungai di pedalaman Simunjan dan mencari mias disana. Sekarang, menelusuri cabang sungai Simunjan via Google Maps memperlihatkan banyak area yang telah terbuka dalam luasan yang masif oleh penebangan-penebangan pohon. Apa Mbah Wallace bisa kaget seperti saya kalau melihat perambahan hutan yang demikian yah ?

  10. ….. tapi pada hari keempat, kami menemukan seekor mias yang sedang makan diatas pohon durian. Mias itu mati setelah ditembak delapan kali. Akan tetapi, hewan itu tersangkut di pohon dan bergantung dengan tangannya sehingga kami harus meninggalkannya dan pulang ke rumah. 
    
    …. Karena jarak rumah terlalu jauh, maka hewan tersebut saya kuliti di tempat itu juga. Kepala, tangan dan kakinya dikuliti di rumah. Sekarang kerangka mias itu berada di museum Inggris. 

    Wallace menginap di rumah orang Dayak dalam perburuannya mencari mias di pedalaman Simunjon. Rumah yang dideskripsikannya adalah rumah panjang khas dayak.

  11. Pada hari itu juga saya berhasil menembak seorang mias kecil berkelamin jantan. Mias ini merupakan mias-kassir dyak. Hewan itu mati tertembak, tapi tersangkut di cabang pohon.

    Ini di Menyille, entah di bagian hulu atau pedalaman sebelah mananya Simunjan.

  12. Di kemudian hari, saya menembak dua ekor mias betina dewasa dan dua ekor yang masih muda. Semuanya sudah saya awetkan. Salah satu mias betina tersebut saya tembak ketika sedang memakan buah durian bersama anak-anaknya.
  13. Ketika kembali ke hilir sungai, kami beruntung menemukan seekor mias jantan tua. Mias itu sedang memakan tanaman yang tumbuh dalam air. 
    
    ….. setelah beberapa tembakan dilepaskan, saya senang sekali melihat mias besar itu terjatuh ke air. Saya menyeretnya sambil melawan arus. Akan tetapi orang-orang melayu didalam perahu merasa keberatan jika hewan itu dimasukkan ke dalam perahu. Lagipula hewan itu terlalu berat sehingga saya tidak bisa menyeretnya tanpa bantuan mereka. Saya pun terpaksa mencari tempat untuk menguliti hewan itu di tepi sungai. Tapi di sekitar sungai ini tidak ada dataran yang kering. Akhirnya saya menemukan dua atau tiga tumpukan batang dan tunggul pohon. Diantaranya terdapat gundukan tanah setinggi beberapa kaki diatas permukaan air. Luasnya cukup untuk tempat menguliti mias tersebut.

 

Membaca kisah perburuannya tersebut memberikan gambaran kengototan beliau untuk mendapatkan spesimen orang utan yang dimaksud, meskipun banyak bekas lubang peluru pada spesimennya. Tanpa segan dan tanpa takut menjelajah pedalaman, kualitas yang ditemukan di abad 19 dan sulit dicari dijaman sekarang sepertinya, disaat belum ada sepatu Gerimor bersol vibram anti air, jaket North Fes anti air anti angin anti dingin, ransel banyak kantong 90L Duter dan perlengkapan canggih lainnya dll.

Akan tetapi tidak semua spesimen orang utan yang didapatkan Wallace berasal dari hasil muntahan senapannya, adakalanya juga spesimen mias berhasil ditangkap dan diambil hidup-hidup, seperti pada anak mias yang tertinggal setelah induknya ditembak, tapi gagal dalam pemeliharaan dan perawatan sehingga akhirnya mati karena kekurangan gizi. Pada bukunya, Wallace memberikan penjelasan detil masa-masa singkat dalam memelihara bayi mias itu.

2017-07-12_21-00-26
Kulit awetan Orang Utan di World Museum Liverpool. (http://wallacefund.info/wallaces-specimens)

Adapula mias diberikan oleh penduduk lokal yang telah memburunya lebih dahulu (dalam keadaan sudah mati) dan Wallace kemudian dapat mengkoleksinya. Secara keseluruhan, Wallace berhasil mendapatkan 17 spesimen orang utan. Sumbangan spesimennya berhasil menyempurnakan pengetahuan mengenai orang utan yang masih terlampau sedikit diketahui waktu itu.

 

 

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/James_Brooke

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak.htm

http://wikitravel.org/en/Simunjan

http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s