Pattimura Muda, Bangkitlah !

..... 

Thomas dan kawan-kawannya disambut dengan meriah oleh rakyat. Rakyat penuh sesak berkumpul mendengarkan kesan-kesan dari mereka yang baru datang dari Ambon. Thomas yang berada diantara kawan-kawannya pelan-pelan menjauhkan diri dari kumpulan orang banyak itu. Thomas menyelinap keluar dari tengah orang banyak dan pergi menyendiri ke bawah sebatang pohon. Ia tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba ia merasa bahunya dipegang orang. Ia berpaling. Ternyata yang memegang bahunya tadi adalah Bapak Buang, orang setengah baya itu. Mereka pun berbincang-bincang. 

Thomas : “Bapak Buang. Saya sudah lama mengharapkan kedatangan Bapak. Begitu banyak pertanyaan…”

Buang : “Saya sudah bilang. Kesenangan yang kita nikmati hanya kesenangan pinjaman. Sekarang sudah diambil kembali. Pesta sudah lewat. Gantilah seragam inggris itu. Beban yang berat berada di atas pundakmu.”

Thomas : “kenapa diatas pundakku.”

Buang : “karena kau anak negeri ini. Hanya kita, Thomas yang bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat kita. Bukan Inggris, bukan Wolanda. Apakah mereka lebih dari kita, karena mereka putih kita hitam, karena mereka pakai sepatu, rakyat kita kaki telanjang? Mereka tidak peduli kepada kita, apa kita mati, apa kita menderita.”

Thomas : “Apa Bapak bisa membantu ?”

Buang : “Aku akan selalu bersama kau.”

Thomas : “Dulu Bapak juga bilang begitu. Tapi kalau saya ingin bertanya bapak tidak ada? ”

Buang : “Thomas, aku tidak lebih dari suara hatimu dan suara hati rakyat Ambon, Haruku, Saparua. Jika kau pasang telinga baik-baik, kau akan dengar. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Matahari sudah muncul di tepi langit. Hari sudah mulai pagi. Tapi Thomas masih duduk di bawah pohon itu. Dari Teluk Saparua kedengaran bunyi meriam. Thomas sadar dari renungannya tapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Meriam itu kedengaran berbalas-balasan. Pada saat itu Johannis datang berlari kesana-kemari lalu ia melihat Thomas.  

Johannis : “Thomas, aku mencari kau kemana-mana. Kau dengar bunyi meriam ?”

Thomas : “Ya”

Buang : “Residen Belanda pengganti residen Inggris sudah datang. Sekarang mau diadakan serah terima. Apa kamu tidak mau dengar apa yang akan dia lakukan?”

Thomas : “Buat apa? Aku sudah tahu apa yang akan diumumkan. Kau juga. Semua rakyat Lease sudah tahu”

Ia berdiri. Lalu ia melihat, bahwa ia masih mengenakan seragam tentara Inggris. Bajunya ia buka lalu ia berjalan bersama Buang. 

.....

Begitulah cuplikan skenario cerita yang dibuat oleh Asrul Sani dan diedit oleh Des Alwi mengenai kisah pemuda yang bernama Thomas. Skenario cerita ini berlatar belakang di tahun 1800an, di tanah Maluku, lebih tepatnya Pulau Ambon dan sekitarnya (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram).

patimura1
Lukisan Thomas Matulessi yang dilukis oleh Verhuell saat membuat berkas acara pemeriksaan Thomas Matulessi.

Pada masa-masa itu, orang Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris bergantian mencoba menguasai kepulauan-kepulauan itu. Portugis dan spanyol datang terlebih dahulu, tapi adalah seorang J.P Coen yang berdarah dingin yang berhasil memonopoli Maluku untuk kepentingan Belanda. Monopoli Belanda yang begitu rakus membuat Inggris juga berhasrat untuk menyerang Belanda dan menguasai sendiri Maluku dan perdagangan rempahnya. Pada tanggal 17 Februari 1796, setelah unjuk kekuatan yang cukup mudah Inggris menduduki Ambon dan mengibarkan benderanya di Benteng Victoria.

Bersamaan dengan berkuasanya Inggris, muncul peraturan-peraturan yang baru yang melegakan rakyat dari pekerjaan paksa (kwarto), patroli-patroli hongi laut yang menindas, rakyat bebas bepergian tanpa pas (ijin) dan terutamanya menghapuskan “Verplichte Leverantie” atau memberikan hasil cengkeh dengan cuma-cuma atau dengan harga yang sangat rendah kepada Pemerintah Belanda.  Semua rakyat Maluku bergembira.

Pada 1803, pendudukan Inggris harus berakhir karena peperangan Napoleon sehingga Inggris terpaksa mengembalikan Maluku pada Belanda sesuai dengan perjanjian yang menyusul kekalahan Napoleon itu. Penguasaan Belanda kembali di Maluku, mengakibatkan berlakunya kembalinya peraturan-peraturan yang sebelumnya telah dihapuskan Inggris itu. Dalam skenario ini, Thomas berdialog dengan suara hatinya si Bapak Buang yang telah menemaninya dari kecil. Saat-saat pergantian kekuasaan ditampilkan dengan baik dalam dialog-dialog dramatis yang dituangkan oleh Asrul Sani dan Des Alwi.

Thomas kala itu sudah berumur 20an dan sudah dilatih oleh pasukan Inggris dalam satuan militer lokal Korps 500 yang difungsikan oleh Inggris. Karena kecakapannya, Thomas menjadi kepala staf batalyon dengan pangkat sersan mayor. Akan tetapi, karena Belanda kembali berkuasa kesatuan itu dibubarkan karena dianggap terlalu mahal dan barangkali terlalu berbahaya untuk tetap difungsikan. Cuplikan skenario diatas mengenai kontemplasi Thomas setelah Korps 500 dibubarkan memberikan gambaran membulatnya tekad dan semangat Thomas untuk melakukan tindakan nyata pada kesewenangan Wolanda.

Pemberlakuan monopoli perdagangan serta perlakuan semena-mena terhadap orang-orang (terdapat pencambukan-pencambukan, kerja paksa dan pengusiran ke Banda untuk dijadikan pekerja kebun pala) di Kepulauan Haruku, Saparua dan Nusa Laut serta Ambon membuat Thomas dan kawan-kawannya dari Korps 500 serta para kapitan dan raja berkumpul dan berunding. Usir kompania Wolanda !

Sebuah musyawarah besar rakyat di Bukit Saniri mendatangkan banyak Kapitan, kepala adat, patih dan para kawan-kawan Korps 500 untuk menyatakan dukungan terhadap Thomas sebagai pemimpin guna mengusir Wolanda. Salah satu Kapitan datang terlambat, ialah Kapitan Tiahahu yang datang bersama putrinya Martha Tiahahu yang bersikeras mendampingi bapaknya berjuang untuk rakyat Maluku. Martha kala itu masih 17 tahun umurnya.

Benteng Duurstede dan Residen Van Den Berg menjadi sasaran pertama Thomas. Sebelum matahari terbit benteng bertembok tebal itu telah direbut oleh pemimpin rakyat Maluku, sang pemuda itu, si Thomas Matulessi.

pattimura2
Patung Kapitan Pattimura di Ambon

Seorang yang kini kita tahu dengan nama Kapitan Pattimura.

Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Saya hanya mengingatnya samar-samar melalui slogan terkenalnya sebelum beliau wafat di tiang gantungan…

“Akan lahir Pattimura-Pattimura lainnya setelah saya !”

Tapi, sungguh benar, bahwa sesungguhnya bukan Pattimura saja yang saya tidak saya kenal, hampir seluruh pahlawan bangsa ini tidak saya kenal jiwanya, karakternya, semangatnya, maupun inspirasi mendalam yang coba ia tularkan pada sesama rakyatnya hingga saat ini. Entah karena saya minim informasi ataukah akibat begitu membosankannya pelajaran sejarah di sekolah waktu itu. Tapi memang, saya merasa bahwa informasi inspiratif mengenai para pahlawan kita banyak yang tidak tersampaikan di sekolah-sekolah. Saya sungguh malu akan fakta ini. Fakta bahwa saya tidak mengenal para panutan-panutan saya, para pahlawan bangsa ini.

 Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Kalau bukan karena Bapak Des Alwi yang menuliskan cuplikan skenario hasil penelusuran dari risetnya bersama dengan Leirissa, Kris Pattikawa, Nani de Fretes, Jos Manusama, Jen Lui dan Asrul Sani barangkali saya akan seterusnya buta dan belum memahami semangat yang beliau coba tularkan pada saya. Skenario yang dituliskan dalam buku Des Alwi ini terlalu sayang untuk tidak terbaca. Sungguh sayang juga skenario ini tidak sampai ke layar visual, padahal kadar heroismenya jelas lebih kental daripada sekedar fiksi hollywood.

 

 

Merdeka Indonesia 2017 !

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s