Matur Suksma Tuan Alfred Russel Wallace

Pertengahan tahun 1856, sebelum menuju Makassar, Wallace memutuskan untuk singgah ke Bali dan mencoba melihat-lihat pulau yang terpisah tidak terlalu jauh dari Jawa itu. Apa alasan sebenarnya bagi Wallace untuk mengunjungi Bali tidak disebutkan dalam bukunya yang terkenal itu. Bisa jadi Wallace hanya ingin jalan-jalan, melali, menjadi salah satu turis pertama yang mengunjungi Bali.

Pada 13 Juni 1856, setelah 20 hari pelayaran dari Singapura dengan kapal Kembang Djepoon (Bunga Jepang), kami melepas jangkar di pangkalan laut Buleleng yang berbahaya di utara Pulau Bali. Kapal layar bertiang dua ini milik seorang pedagang Cina, diawaki orang Jawa dan dinahkodai seorang kapten Inggris. Saya ke darat bersama sang kapten dan wakil pemilik kapal.

It was on the 13th of June, 1856, after a twenty days' passage from Singapore in the "Kembang Djepoon" (Rose of Japan), a schooner belonging to a Chinese merchant, manned by a Javanese crew, and commanded by an English captain, that we cast anchor in the dangerous roadstead of Bileling on the north side of the island of Bali. Going on shore with the captain and the Chinese supercargo...

Buleleng masa itu merupakan Buleleng yang telah dikuasai Belanda sejak 1849 dengan Gusti Ketut Jelantik sebagai rajanya. Bisa saja mereka mendarat di Buleleng untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina, tapi karena saat itu rasanya wisata lumba-lumba belum ada, pendaratan di Buleleng besar diduga karena wilayah itu sudah menjadi milik Belanda dan aman untuk mendarat bagi sesama pelancong seperti Tuan Wallace. Pos pemeriksaan KTP waktu itu diadakan di Buleleng, alih-alih di Gilimanuk seperti sekarang ini. Buleleng kala itu adalah sebuah pelabuhan ternama di utara Pulau Bali. Pemeriksaan/pelaporan jelas perlu, apalagi melihat kapal yang isinya gado-gado begitu, nama kapalnya bernama Jepang, dimiliki orang Cina, berawak Jawa, berkapten dan berpenumpang Inggris.

ships-harbour-Singaraja-1927
Perairan pelabuhan Buleleng tahun 1927. Kapal uap bersandar ditengah, untuk mendarat ke pantai diperlukan bantuan kapal kecil nelayan. (http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html)
Kami disambut dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Bandar Cina, atau kepala saudagar, dimana kami melihat penduduk setempat berpakaian menawan. Mereka menyandang keris yang nampak mencolok dengan gagang besar terbuat dari gading, emas atau kayu yang dipelitur dan diasah halus. Orang-orang Cina tidak lagi mengenakan pakaian tradisional, melainkan pakaian Melayu, sehingga sulit dibedakan dengan penduduk asli. Hal ini merupakan suatu inidikasi hubungan erat antara ras melayu dan ras mongol.

..., I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood, I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood. The Chinamen had given up their national costume and adopted the Malay dress, and could then hardly be distinguished from the natives of the island--an indication of the close affinity of the Malayan and Mongolian races.

Harus diakui, di banyak area pelabuhan di Indonesia, terutama pelabuhan-pelabuhan penting, selalu saja akan ada orang cina yang menetap disana. Tidak perlu heran, karena ini konon adalah bakat lahiriah mereka. Pelabuhan banyak barang dan banyak barang pasti ada perdagangan. Hal yang sama juga berlaku di Buleleng, saat dikunjungi oleh Wallace mereka telah menjadi seorang bandar atau saudagar besar dan telah menyatu dengan masyarakat sekitar. Menjadi seorang bandar tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Proses yang jelas memerlukan hubungan yang erat seperti yang telah disaksikan dan diakui oleh Wallace. Hingga kini, bukti eratnya hubungan itu masih bisa disaksikan di Buleleng melalui perwakilan Klenteng Ling Gwan Kiong yang dibangun pada tahun 1873.

DSC_0129
Klenteng Ling Gwan Kiong di daerah Buleleng, lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Buleleng lama. (http://tradisitridharma.blogspot.co.id/2015/01/titd-ling-gwan-kiong-singaraja-bali.html)
Kami kemudian kembali berjalan-jalan melihat desa. Tempat ini sangat suram dan membosankan, hanya terdiri dari kumpulan jalan sempit yang dibatasi dinding tanah lempung yang mengelilingi rumah-rumah dari bambu. Kami memasuki beberapa rumah dan disambut dengan sangat hangat oleh penghuninya.

... and we then took a walk to look at the village. It was a very dull and dreary place; a collection of narrow lanes bounded by high mud walls, enclosing bamboo houses, into some of which we entered and were very kindly received

Dibandingkan perumahan di Inggris atau bahkan di Singapura kala itu, pedalaman indonesia Hindia Belanda pastilah jauh perbandingannya. Komentar yang lebih menenangkan diutarakan Wallace ketika dia berjalan-jalan di Batavia beberapa tahun kemudian. Untung saja Tuan Wallace tidak bicara semacam itu didepan yang punya rumah, kalau tidak, sudah pasti bukan sambutan hangat yang diterimanya.

Selama dua hari saya menetap disana, saya sering berjalan-jalan di sekitar desa untuk menangkap serangga, menembak burung, serta mengamati kealamian dan kesuburan tanah disini. Saya sangat senang dan takjub, karena hingga perjalanan saya ke Jawa beberapa tahun kemudian , saya tidak pernah melihat daerah yang sangat indah dan asri di luar Eropa. Dataran yang sedikit bergelombang itu memanjang dari pantai laut sampai sekitar 10 atau 12 mil ke darat, dibatasi oleh barisan bukit yang ditumbuhi pepohonan dan dikelola dengan baik. Rumah-rumah dan perkampungan yang dikelilingi jajaran rapat pohon kelapa, asam dan pohon buah lainnya, tersebar di semua penjuru.

During the two days that we remained here, I walked out into the surrounding country to catch insects, shoot birds, and spy out the nakedness or fertility of the land. I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a wide range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of cocoa-nut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction;

Perjalanan Wallace di Bali barangkali berada di area Buleleng-Singaraja saja, mengingat waktunya yang terbatas.

Di antara rumah-rumah dan perkampungan tersebut, terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di lahan-lahan pertanian terbaik di Eropa. Seluruh permukaan wilayah tersebut dibagi menjadi petak-petak yang tidak rata dan mengikuti garis permukaan tanah sehingga sebuah petak dapat berada beberapa kaki lebih tinggi atau lebih rendah dari petak lainnya.  Lebar tiap petak kurang lebih beberapa acre dan ketinggiannya juga disesuaikan dengan sempurna. Setiap petak sawah bisa dialiri atau dikeringkan sesuai keinginan, dengan memanfaatkan selokan dan terusan kecil yang airnya bersumber dari gunung. Saat itu di setiap petak terdapat bibit panen dalam fase pertumbuhan yang berbeda-beda, beberapa diantaranya hampir siap untuk dipanen. Semuanya sedang mekar dan memberikan sensasi warna hijau yang indah.

The whole surface of the country is divided into irregular patches, following the undulations of the ground, from many acres to a few perches in extent, each of which is itself perfectly level, but stands a few inches or several feet above or below those adjacent to it. Every one of these patches can be flooded or drained at will by means of a system of ditches and small channels, into which are diverted the whole of the streams that descend from the mountains. Every patch now bore crops in various stages of growth, some almost ready for cutting, and all in the most flourishing condition and of the most exquisite green tints.

Subak. Rasanya hampir 98% lebih yakin dan sudah pasti bahwa sistem persawahan subak inilah yang dilihat oleh Wallace. Sebuah pemandangan akan sistem yang abadi, karena sampai sekarang toh itu turis-turis bikin macet jalanan Bali hanya untuk mengagumi persawahan dengan sistem yang sama di Tegalalang, Ubud. Penghormatan wajib diberikan bagi para warga Bali karena telah melestarikan adatnya dengan sukses.

Subak di Tegalalang (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html)
Tepi jalan ditumbuhi oleh kaktus berduri dan Euphorbia tak berdaun. Namun tanah di daerah ini diolah dengan sangat intensif sehingga menyebabkan sedikitnya jumlah tanaman asli, kecuali di sepanjang pantai. Kami melihat sapi-sapi dari ras lokal unggulan, yang merupakan keturunan dari banteng (Bos Sondaicus) Jawa, digiring oleh bocah-bocah setengah telanjang, atau diikat dengan tali di padang rumput. Mereka adalah hewan besar yang anggun, berwarna cokelat muda dan berkaki putih serta memiliki sebidang kulit berbentuk oval yang juga berwarna putih, nampak mencolok di bagian belakang. Sapi liar dari ras ini disebut-sebut masih bisa ditemukan di daerah pegunungan.

The sides of the lanes and bridle roads were often edged with prickly Cacti and a leafless Euphorbia, but the country being so highly cultivated there was not much room for indigenous vegetation, except upon the sea-beach. We saw plenty of the fine race of domestic cattle descended from the Bos banteng of Java, driven by half naked boys, or tethered in pasture-grounds. They are large and handsome animals, of a light brown colour, with white legs, and a conspicuous oval patch behind of the same colour. Wild cattle of the same race are said to be still found in the mountains.

Intensif dan konsisten adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengolahan tanah di Bali. Sebuah konsistensi yang telah diganjar penghargaan Unesco World Heritage Site tahun 2012 lalu. Sesuatu yang setidaknya telah berlangsung 161 tahun (1856–2017) bila dihitung dari saat Wallace mengunjunginya. Entah dimulai sejak kapan, katanya sejak abad ke 9 sih.

Didaerah yang sudah banyak diolah ini, tidak heran jika saya tidak bisa banyak meneliti flora dan faunanya. Ketidaksadaran saya mengenai pentingnya pengaruh lokasi ini terhadap teori persebaran geografis fauna membuat saya tidak mendapatkan beberapa jenis fauna yang ternyata tidak pernah saya temui lagi. Salah satunya adalah burung pemintal berkepala kuning terang, yang membangun lusinan sarang berbentuk botol di pohon-pohon dekat pantai. Burung spesies Ploceus Hypoxantus tersebut berasal dari Jawa dan disini berada di ujung paling barat Pulau Bali.

 In so well-cultivated a country it was not to be expected that I could do much in natural history, and my ignorance of how important a locality this was for the elucidation of the geographical distribution of animals, caused me to neglect obtaining some specimens which I never met with again. One of these was a weaver bird with a bright yellow head, which built its bottle-shaped nests by dozens on some trees near the beach. It was the Ploceus hypoxantha, a native of Java; and here, at the extreme limits of its range westerly,
Asian_Golden_Weaver_(Ploceus_hypoxanthus)_-_male
Pejantan manyar emas (https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver)

Burung manyar sebenarnya adalah burung yang cukup umum di Jawa maupun Bali, orangtua saya yang dulu suka main di sawah sewaktu kecil tahu dengan burung Manyar. Walau demikian, keberadaannya semakin sulit dilihat sekarang, apalagi melihat yang jenis Manyar Emas atau Ploceus hypoxanthus. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tuntutan masyarakat modern yang senangnya mewarnai anak ayam dengan cat warna-warni atau mengikat-ikat burung emprit kecil untuk dijual ke anak SD. Mungkin minder sama burungnya sendiri yang tidak warna warni.

Saya menembak dan mengawetkan spesimen-spesimen seperti burung murai berekor panjang, burung kepodang dan beberapa burung jalak. Semuanya ditemukan di Jawa dan beberapa dari mereka memang hanya bisa ditemukan disitu. Saya juga berhasil mendapatkan banyak kupu-kupu cantik, bersayap putih dengan hiasan warna hitam dan jingga tua, yang merupakan jenis serangga paling umum di jalan pedesaan. Diantara kupu-kupu tersebut terdapat spesies baru, yang telah saya namakan Pieris Tamar.

I shot and preserved specimens of a wagtail-thrush, an oriole, and some starlings, all species found in Java, and some of them peculiar to that island. I also obtained some beautiful butterflies, richly marked with black and orange on a white ground, and which were the most abundant insects in the country lanes. Among these was a new species, which I have named Pieris tamar.
Cepora temena tamar
Pieris Tamar atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar (http://lithops.com.ua/index.php?route=product/product&path=59_64_74&product_id=2126)

Sudah pasti Pieris Tamar akan selalu terlewat dari perhatian ketika mengunjungi Bali. Akan tetapi, sekarang saya sudah tahu bahwa kupu-kupu cantik ini adalah hasil penamaan dari Tuan Alfred R. Wallace yang terkenal itu dan layak untuk diperhatikan lain kali saya mengunjungi Bali. Setidaknya, jadi alasan yang bagus kalau ketahuan tertangkap memelototi bule-bule berbikini.

Cepora temena tamar-XL
Foto Pieris Tamar di alam atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar ( https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/)

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Buleleng

https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/

http://lithops.com.ua/index.phproute=product/product&path=59_64_74&product_id=2126

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/.html

 

http://tradisitridharma.blogspot.co.id/

https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html

http://zonakicaus.blogspot.co.id/2014/07/mengenal-burung-manyar-jantan-dan-betina.html

 

 

 

 

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s