Absurditas Gelombang Selat Lombok

Ampenan_lombok
Posisi Pelabuhan Ampenan dan Pelabuhan Lembar (http://maps.google.com/)

Dari Bali, Tuan Wallace meninggalkan Buleleng dan menuju Lombok. Lagi-lagi, mirip dengan di bali, perjalanannya di lombok (mungkin) hanya sekedar pelesir ilmiah sembari menunggu transportasi menuju makassar. Cukup lama Wallace berada di Lombok (17 juni – 29 Agustus 1856), Wallace pun memanfaatkan kesempatan ini dengan menyelediki setiap keindahan Pulau lombok.

Leaving Bileling, a pleasant sail of two days brought us to Ampanam in the island of Lombock, where I proposed to remain till I could obtain a passage to Macassar.

Setelah meninggalkan Bileling, kami menempuh pelayaran yang menyenangkan selama dua hari menuju Ampanam di Pulau Lombock. Disana saya memutuskan untuk tinggal sampai mendapat jalur transportasi ke Macassar.

Daratan pertama yang dijumpai Wallace saat di Lombok adalah Ampenan. Pada tahun 1856 di saat Wallace datang, Kerajaan Mataram adalah kerajaan mandiri yang berada dibawah kuasa oleh Belanda melalui perjanjian pada tahun 1843, meskipun masih terdapat perlawanan dari orang-orang Sasak (orang Mataram merupakan kerajaan yang lebih banyak berisi orang keturunan orang Bali). Ampenan kala itu adalah pelabuhan utama di Pulau Lombok. Jadi sudah pasti, Wallace dan kapalnya berlabuh di Ampenan. Sekarang pelabuhan utamanya adalah Pelabuhan Lembar di sebelah selatan. Pemindahan pelabuhan ini dilakukan di tahun 1979.  Pemindahan pelabuhan mungkin sekali disebabkan oleh kondisi laut Ampenan yang lumayan ganas seperti dideskripsikan oleh Wallace waktu itu :

The bay or roadstead of Ampanam is extensive, and being at this season sheltered from the prevalent southeasterly winds, was as smooth as a lake. The beach of black volcanic sand is very steep, and there is at all times, a heavy surf upon it, which during spring-tides increases to such an extent that it is often impossible for boats to land, and many serious accidents have occurred. Where we lay anchored, about a quarter of a mile from the shore, not the slightest swell was perceptible, but on approaching nearer undulations began, which rapidly increased, so as to form rollers which toppled over onto the beach at regular intervals with a noise like thunder.

Teluk atau pangkalan laut di Ampanam sangat luas, terlindungi dari terjangan angin tenggara dan kondisinya setenang danau. Pantainya berpasir hitam dan sangat terjal. Gelombang pasang selalu sangat kuat dan menghasilkan ombak dengan ketinggian yang menyebabkan kapal-kapal mustahil untuk berlabuh. Kecelakaan serius sering terjadi di situ. Di tempat kami melepas jangkar, sekitar seperempat mil dari lepas pantai, keadaannya sangat tenang. Namun begitu mendekat, ketinggian ombak akan terus naik dan membentuk gelombang yang menghempas pantai dengan rentang waktu yang konstan dan suara senyaring petir. 
Kaart_Lombok_Expeditie_van_1894_met_Ampenan_Mataram_en_Tjakra_Negara
Peta daerah Ampenan tahun 1894 (https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram)
Iklim di Lombok kala itu rasanya belum seaneh sekarang, dengan tipe musim monsun, musim penghujan dimulai dari bulan Desember hingga februari dan puncak musim kering dimulai dari bulan Juli-September. Hal ini setidaknya masih berlangsung antara tahun 1961 hingga tahun 1990an, sebelum mengalami perubahan pola cuaca di tahun-tahun berikutnya. Wallace yang mendarat pada pertengahan Juni mulai memasuki iklim kering di Lombok dan mengalami pola cuaca peralihan dari musim penghujan menuju musim kering. 
Sometimes this surf increases suddenly during perfect calms to as great a force and fury as when a gale of wind is blowing, beating to pieces all boats that may not have been hauled sufficiently high upon the beach, and carrying away uncautious natives. This violent surf is probably in some way dependent upon the swell of the great southern ocean and the violent currents that flow through the Straits of Lombock. These are so uncertain that vessels preparing to anchor in the bay are sometimes suddenly swept away into the straits, and are not able to get back again for a fortnight. What seamen call the "ripples" are also very violent in the straits, the sea appearing to boil and foam and dance like the rapids below a cataract; vessels are swept about helplessly, and small ones are occasionally swamped in the finest weather and under the brightest skies.

Kadang-kadang, gelombang ombak naik secara tiba-tiba saat suasana benar-benar tenang. Kekuatan dan kedahsyatannya setara dengan badai puting-beliung, sehingga menghancurkan perahu-perahu yang ditambatkan terlalu rendah hingga berkeping-keping. Penduduk yang tidak berhati-hati pun sering terseret gelombang. Gelombang dahsyat ini nampaknya bergantung pada ketinggian ombak di laut besar di selatan dan arus ganas yang mengalir di sepanjang Selat Lombock. Kemunculan gelombang ombak tersebut tidak terduga dan kadang kapal-kapal yang bersiap untuk berlabuh bisa dihanyutkan ke tengah-tengah selat dan tidak dapat kembali lagi selama dua minggu ! Riak – seperti yang biasa disebut para pelaut – juga sangat ganas di kawasan selat. Laut nampak mendidih, berbuih dan berputar-putar seperti riam di bawah air terjun. Kapal-kapal besar terlempat kesana kemari, sedangkan kapal yang kecil bisa ditelan bulat-bulat bahkan di tengah cuaca yang paling baik dan langit paling cerah sekalipun.

Deksripsi barusan berbeda dari deskripsi sebelumnya yang menjelaskan fenomena gelombang besar di pantai. Deskripsi yang ini rasa-rasanya merupakan deskripsi dari sebuah gelombang yang aneh dan lain dari biasanya. Gelombang ini timbul secara tiba-tiba, tidak terduga, membuat laut tampak mendidih, berbuih dan berputar-putar. Sebagai pembaca yang awam, terlebih bagi pembaca zaman itu, deskripsi itu menjadi deksripsi yang aneh luar biasa.

Untungnya, di jaman yang sedikit lebih maju ini, deskripsi itu bisa dipahami sebagai sebuah fenomena unik yang dimiliki Indonesia di Selat Lombok. Sebuah fenomena oseanografi yang disebut sebagai gelombang internal. Bisa jadi, deskripsi dari Wallace ini adalah deskripsi pengamatan pertama didunia mengenai gelombang internal di Selat Lombok.

image11052016_250m
Foto satelit gelombang internal yang diambil oleh NASA. (https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait)

Gelombang internal adalah gelombang yang menjalar di kolom air alih-alih di permukaan laut. Gelombang internal dapat terbentuk pada laut yang terstratifikasi karena adanya perbedaan densitas. Pada Selat Lombok gelombang internal dimungkinkan karena perpaduan topografi yang khas dan properti airnya yang khusus. Selat Lombok yang merupakan salah satu jalan tol air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia memberikan stratifikasi kolom air yang kuat. Kanal Selat Lombok dengan kedalaman yang khas ditambah dengan kecepatan arus yang kencang memberikan pemicu gelombang internal. Pada sisi selatannya, terdapat sebuah bukit dasar laut dengan kedalaman kurang dari 300 meter. Kedalaman yang menonjol dibandingkan area sekitarnya yang mempunyai kedalaman 1000an meter. Air dengan kecepatan yang kencang, hingga 1.8 m/dt, yang bergerak dari selatan ke utara menabrak bukit tersebut akan terganggu sehingga menyebabkan gelombang internal (bayangkan sebuah aliran sungai yang terhalang oleh batu ditengahnya).

Susanto_Mitnik_IWs_Lombok_Oceanography_2005
Gelombang internal Lombok dilihat dalam kolom air, kedalaman 25 – 250m. (Susanto. 2005)

Menurut Susanto (2005), ciri-ciri gelombang internal di Lombok adalah panjang gelombangnya mencapai 2 – 7 km. Kecepatan fasa gelombangnya adalah 1.9 m/dt dan panjang muka gelombangnya dapat mencapai lebih dari 100 km. Rombongan gelombang internal yang diamati bisa timbul hingga 23-24 paket gelombang (train waves). Tinggi gelombangnya bisa mencapai 150 meter, sehingga yang teramati pada permukaan di Selat Lombok adalah puncak gelombangnya. Puncak dari 23-24 atau puluhan paket gelombang inilah yang membuat perjalanan dari Bali-Lombok menggunakan kapal menjadi sangat menegangkan.

I felt considerably relieved when all my boxes and myself had passed in safety through the devouring surf, which the natives look upon with some pride, saying, that "their sea is always hungry, and eats up everything it can catch."

Saya sangat lega setelah barang bawaan dan saya sendiri berhasil selamat melewati ombak yang ganas. Penduduk setempat dengan bangga menyebut bahwa, “laut mereka selalu lapar dan akan memakan apa saja yang bisa ditangkapnya.”

Laut yang lapar ! idiom yang masih terbukti sampai sekarang ini. Sebuah ungkapan yang mencerminkan interior unik Selat Lombok. Lihat saja cerita kesaksian si bule yang menyeberang dari Bali menuju Lombok dengan kapal yang relatif kecil :

lomboktrip
Cerita modern kejamnya Selat Lombok (https://www.tripadvisor.com/)

Gelombang aneh lain yang dialami Wallace adalah gelombang seismik. Gelombang seismik yang sekarang disebut sebagai gempa. Gelombang ini dialaminya di Lombok pada suatu malam. Mungkin ketika sedang beristirahat dari pelesir ilmiahnya diwaktu siang. Catatan ilmuwan belanda seperti Wichmann tahun 1918 menyebutkan bahwa gempa tersebut terjadi pada bulan Juli 1856. Sebuah gempa dengan getaran yang lumayan keras terasa.

A circumstance occurred here which appeared to throw some light on the cause of the tremendous surf at Ampanam. One evening I heard a strange rumbling noise, and at the same time the house shook slightly. Thinking it might be thunder, I asked, "What is that?" "It is an earthquake," answered Inchi Daud, my host;

Suatu peristiwa yang terjadi di sini mengungkapkan tabir penyebab kedahsyatan gelombang di Ampanam. Pada suatu malam saya mendengar bunyi gemuruh aneh. Pada saat yang sama, rumah sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira itu adalah petir, lalu saya bertanya, “apa itu?”

“Itu gempa bumi,” jawab Inchi Daud, sang tuan rumah;

Gempa bulan Juli 1856 ini kemudian dicatat oleh Wallace dengan demikian detil,  bahwa gempa tersebut terjadi pada waktu kondisi bulan ¾, atau pada waktu menuju pasang purnama dengan ombak yang lumayan tenang dan kondisi pasang surutnya berada di kondisi surut. Saking detailnya, bahkan laporan Wallace ini dimasukkan dalam laporan yang diterbitkan tahun 1918 oleh Wichmann.  Yang kemudian laporan ini dikutip lagi tahun 1974 oleh Soloviev.

ron harris
Kutipan catatan gempa oleh Wichmann tahun 1918 mengenai gempa Lombok di tengah tahun 1856. Catatan ini kemudian dikutip lagi oleh Soloviev di tahun 1974.
and he then told me that slight shocks were occasionally felt there, but he had never known them to be severe. This happened on the day of the last quarter of the moon, and consequently when tides were low and the surf usually at its weakest. On inquiry afterwards at Ampanam, I found that no earthquake had been noticed

Ia kemudian menceritakan pada saya bahwa getaran pelan sering terjadi disana, tapi ia tidak pernah mengetahui adanya getaran keras. Gempa itu berlangsung pada hari yang menandai seperempat terakhir bulan dan terjadi ketika ombak sedang rendah dan gelombang berada dalam kondisi paling lemah. Setelah bertanya-tanya lebih lanjut di Ampanam, ternyata tidak ada yang menyadari adanya gempa .

Gelombang aneh lain lagi dialami Wallace di Lombok, kali ini gelombang tersebut pasti akan mengenai dirinya seandainya dia berada di dekat pantai. Untungnya Wallace berada di Labuan Tring (sekarang Labuan Tereng). Gelombang tersebut membanjiri seisi rumah Mr. Carter yang berada tidak jauh dari Ampenan. Iya, gelombang tersebut adalah gelombang tsunami. Istilah tsunami belum dikenal saat itu jadi Tuan Wallace menyebutnya dengan nama gelombang arus. Keterangan Wallace ini menjadi salah satu catatan sejarah bahwa Lombok pernah diterjang oleh tsunami. Menurut catatan Wallace, gelombang tsunami yang menerjang Lombok saat itu adalah gelombang dengan ketinggian hampir dua meter dan menerjang rumah Mr. Carter dan kemungkinan besar banyak rumah lainnya, akan tetapi tidak dilaporkan korban jiwa maupun kerugian dalam catatan ini.

Soloviev
Catatan gelombang tsunami pada tanggal yang disebutkan Wallace, dikutip Wichmann dan kemudian Soloviev. (Soloviev, 1984)
but that on one night there had been a very heavy surf, which shook the house, and the next day there was a very high tide, the water having flooded Mr. Carter's premises, higher than he had ever known it before. These unusual tides occur every now and then, and are not thought much of; but by careful inquiry I ascertained that the surf had occurred on the very night I had felt the earthquake at Labuan Tring, nearly twenty miles off. This would seem to indicate, that although the ordinary heavy surf may be due to the swell of the great Southern Ocean confined in a narrow channel, combined with a peculiar form of bottom near the shore, yet the sudden heavy surfs and high tides that occur occasionally in perfectly calm weather, may be due to slight upheavals of the ocean-bed in this eminently volcanic region.

Pada suatu malam pernah terjadi gelombang arus yang sangat tinggi dan menggetarkan rumah. Pada hari berikutnya, terjadi gelombang laut yang sangat tinggi, airnya sampai membanjiri seisi rumah Mr. Carter, mencapai ketinggian yang tak pernah diduga sebelumnya. Gelombang yang tidak biasa tersebut kini muncul setiap saat dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi lewat pengamatan yang seksama, saya menyimpulkan bahwa gelombang terjadi pada malam ketika saya merasakan gempa di Labuan Tring, hampir 20 mil jauhnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun gelombang tinggi biasa diakibatkan oleh riak-riak di laut selatan yang terkungkung dalam terusan air dan ditambah dengan kondisi bawah laut yang tidak biasa, arus yang besar dan gelombang yang tinggi bisa terjadi kapan saja, termasuk pada hari yang cerah. Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh sedikit saja kenaikan permukaan laut didaerah yang dipenuhi gunung berapi tersebut.

Demikianlah perjumpaan Wallace dengan keanehan-keanehan perairan Lombok. Keanehan yang masih ada dan masih mengancam hingga sekarang dan dimasa mendatang bila tidak dilakukan mitigasi yang tepat. Bencana terbaliknya kapal akibat alun gelombang internal serta bahaya tsunami yang berulang jelas dapat mengancam manusia-manusia yang mendiami Pulau Lombok. Pulau Lomboknya sendiri sih jelas tidak ambil peduli dengan gelombang internal atau tsunami, malah mungkin lebih indah kalau tidak ada manusia.

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Harris, Ron; Jonathan, Jonathan (2016): Waves of destruction in the East Indies: the Wichmann catalogue of earthquakes and tsunami in the Indonesian region from 1538 to 1877. Geological Society of London.

Susanto, R & Mitnik, Leonid & Zheng, Quanan. (2005). Ocean Internal Waves Observed in the Lombok Strait. Oceanography. 18. 80-87. 10.5670/oceanog.2005.08.

Soloviev, S.L., and Ch.N. Go. 1974. A catalogue of tsunamis on the western shore of the Pacific Ocean [dates include 173-1968. Academy of Sciences of the USSR, Nauka Publishing House, Moscow, 439 p. [Canadian Translation of Fisheries and Aquatic Sciences no. 5077, 1984, translation available from Canada Institute for Scientific and Technical Information, National Research Council, Ottawa, Ontario, Canada K1A OS2, 447 p.]

Synthesis Report Risk and Adaptation Assessment to Climate Change in Lombok Island, West Nusa Tenggara Province. Available from: https://www.researchgate.net/publication/271190808_Synthesis_Report_Risk_and_Adaptation_Assessment_to_Climate_Change_in_Lombok_Island_West_Nusa_Tenggara_Province [accessed Nov 10 2017].

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait

https://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g297733-i9237-k6216204-o30-Near_sinking_of_fastboat_from_Gili_islands_to_Bali_1_3_13-Lombok_West_Nusa_Tenggara.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s