Masyarakat dan Hukum yang berlaku di Lombok Menurut A.R. Wallace

Kini. Saya harus menjelaskan mengenai karakteristik, perilaku dan kebudayaan masyarakat yang menarik ini.

Selain melakukan pengamatan mendalam mengenai fauna dan flora bahkan geografi dari daerah yang dikunjunginya, Wallace juga turut memperhatikan kondisi sosial masyarakatnya. Kali ini Wallace memperhatikan kondisi Lombok sewaktu dia tinggal disana selama lebih dari sebulan.

Penduduk asli yang tinggal di Lombock dikenal sebagai orang Sassak. Mereka berasal dari ras melayu yang penampilannya sulit dibedakan dari orang Malacca atau Borneo. Mereka memeluk agama islam dan merupakan populasi mayoritas. Namun, kelas-kelas penguasa adalah penduduk asli dari pulau terdekat, yaitu Bali dan merupakan pemeluk agama hindu. Pemerintahannya berbentuk monarki absolut, tetapi nampaknya dijalankan dengan lebih bijaksana dan moderat daripada kerajaan di negara-negara melayu pada umumnya. Ayah dari raja yang sekarang berkuasa adalah penakluk pulau ini dan rakyat tampaknya sekarang telah berdamai dengan penguasa baru mereka. Penguasa baru ini sepertinya tidak mencampuri urusan agama dan tidak membebani dengan pajak yang lebih berat daripada penguasa sebelumnya yang telah digantikan.

Dalam sejarahnya, Lombok merupakan area yang penuh pengalihan kekuasaan seperti halnya kerajaan-kerajaan di Jawa. Akan tetapi pengaruh orang Bali di Lombok memberikan pengaruh yang cukup mendalam sebelum mapannya posisi Belanda di Lombok.

Pada waktu Karangasem berkuasa penuh atas Lombok, rombongan orang-orang Bali datang ke Lombok yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu I Gusti Ketut Karangasem adik raja Karangasem sebagai pimpinan rombongan, Pedanda Gde Ketut Subali sebagai pimpinan agama, dan Mas Poleng sebagai pengurus masalah-masalah pembangunan dan pertanian. Berdirinya kerajaan Singasari (Karangasem Sasak) karena orang-orang Bali sudah semakin banyak di Lombok. Akhirnya, orang-orang Bali di wilayah kekuasaannya mendirikan beberapa buah desa yang merupakan kerajaan-kerajaan kecil seperti kerajaan Singasari (Karangasem Sasak) dengan rajanya Anak Agung Ngurah Made Karang (1720 M), kerajaan Mataram, dengan rajanya bernama Keluarga Raja dan Para Bangsawan Anak Agung Bagus Jelantik, kerajaan Pagesangan, dengan rajanya bernama Anak Agung Nyoman Karang, kerajaan Pagutan, dengan rajanya bernama Anak Agung Wayan Sidemen, dan kerajaan Sengkongo, dengan rajanya bernama Anak Agung Ketut Rai (Mulyadi, L. 2014).

Hukum yang saat ini berlaku di Lombock sangatlah keras, misalnya pencuri akan dijatuhi hukuman mati. Mr. Carter memberitahu saya bahwa pernah suatu ketika ada seorang laki-laki mencuri ceret kopi dari rumahnya. Ia ditangkap dan ceretnya dikembalikan. Laki-laki tersebut kemudian dibawa ke hadapan Mr. Carter untuk diberikan hukuman yang menurutnya layak. Para penduduk pribumi menyarankan carter untuk menusuknya dengan keris.

“karena jika tidak,” kata mereka, “dia akan merampok anda lagi.”

Membaca pernyataan Wallace ini rasanya miris kalau dibandingkan kondisi yang berlaku di Indonesia saat ini. Tidak bergeming, masih sangat keras hukumannya. Perbedaannya mungkin terletak pada jenis hukum yang mengikat, dimana rasanya hukum adat kala itu lebih kuat dibandingkan peraturan pemerintahannya. Hukum primitif yang didasarkan pada logika yang sederhana dan sering pula mistisme. Sekarang, hampir dua ratus tahun kemudian, hukumnya seharusnya lebih mengikat dan lebih teratur tapi toh orang yang DIDUGA mencuri pengeras suara mesjid saja dibakar hidup-hidup, DIDUGA berbuat mesum malah ditelanjangi. Jadi apa yang berubah ?

Akan tetapi, Mr. Carter membebaskannya, dengan sebuah peringatan bahwa jika berani masuk ke kediamannya lagi, dia pasti akan ditembak. Beberapa bulan kemudian, laki-laki yang sama mencuri seekor kuda dari Mr. Carter. Kudanya berhasil dikembalikan, tetapi pencurinya tidak tertangkap. Menurut hukum yang berlaku, siapa pun yang ditemukan berada disebuah rumah orang lain di malam hari, kecuali dengan sepengetahuan sang pemilik, boleh ditusuk. Mayatnya kemudian akan dilempar ke jalanan atau pantai dan tidak akan ada yang mempertanyakan hal tersebut.

Untungnya Mister Carter baik yah. Untungnya, wisata pantai bukan sesuatu yang ngetren waktu itu, rasanya suasana piknik di tepi pantai akan sedikit terganggu dengan kehadiran mayat-mayat yang tidak jelas. Sebenarnya, di halaman sebelumnya Wallace sudah mengungkapkan kehadiran jenasah-jenasah yang terhampar begitu saja saat Wallace menuju rumah Mr. S di pedalaman Lombok.

Dalam perjalanan, kami melewati satu atau dua kerangka manusia, yang telah dibunuh atau dihukum mati. Kerangka-kerangka tersebut berada dalam kurungan bambu yang sempit, lengkap dengan pakaian, bantal, tikar dan kotak sirih. 

Perilaku personal dari masyarakat Lombok juga diperhatikan dengan baik oleh Wallace, sayangnya Wallace tidak mengungkapkan lebih jauh hubungan intrapersonal dari masyarakat Lombok. Wallace cenderung memperhatikan kasus-kasus khusus yang menarik dan jelas berbeda dari adat yang dia kenal. Seperti kasus pria-pria Lombok yang pencemburu.

Kaum laki-laki di Lombock sangat pencemburu dan keras terhadap isteri mereka. Perempuan yang telah menikah tidak boleh menerima cerutu atau daun sirih dari orang asing, karena hukuman menanti mereka yang berani melakukan itu. Saya diberitahu bahwa beberapa tahun yang lalu seorang pedagang Inggris tinggal bersama dengan seorang perempuan Bali dari keluarga baik-baik –hubungan tersebut dianggap cukup terhormat oleh penduduk asli. Dalam sebuah perayaan, gadis tersebut melanggar hukum dengan menerima sekuntum bunga atau semacam barang sepele lainnya dari seorang laki-laki. Hal tersebut dilaporkan kepada raja (beberapa isterinya berkerabat dengan gadis itu), yang segera mengutus orang untuk mendatangi rumah si orang Inggris dan memerintahkannya menyerahkan si gadis untuk ditusuk keris.

Kalau cara seperti ini berlaku sampai sekarang, tidak terbayang berapa orang yang dihukum dengan dibunuh. Sialnya, berita pembunuhan yang didasarkan pada kecemburuan masih ada sampai sekarang.

Dalam keputusasaan, orang Inggris tersebut memohon-mohon dan menawarkan untuk membayar denda apa pun yang dijatuhkan oleh sang raja. Pada akhirnya, ia menolak untuk menyerahkan gadis tersebut, kecuali lewat jalan pemaksaan. Raja tidak ingin melakukan hal itu, karena tentunya ia berpikir bahwa penanggulangan urusan ini harus mempertimbangkan kehormatan si orang Inggris, selain kehormatannya sendiri.

Diplomasi tampaknya adalah jalan keluar paling sesuai sejak lama. Masalah selesai ?

Nampaknya raja tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Akan tetapi, beberapa lama kemudian, sang raja mengirim salah satu pengikutnya ke rumah orang Inggris tersebut. Si utusan kemudian mengisyaratkan si gadis untuk berjalan ke pintu dan kemudian mengatakan, “ini kiriman dari sang Raja,” sembari menusuk jantung si gadis.

Masalah selesai. Dengan bantuan Pembunuh Suruhan, yang setidaknya telah ada sejak dua abad lalu dan sampai sekarang ?

Pelanggaran hubungan perkawinan yang lebih serius dihukum dengan lebih kejam. Seorang perempuan dan selingkuhannya akan diikat saling memunggungi dan dilempar ke laut, dimana terdapat beberapa buaya besar yang selalu siaga melahap tubuh orang-orang yang dibuang. Eksekusi semacam ini pernah saya saksikan saat berada di Ampanam. Tetapi saya meninggalkan tempat itu sebelum prosesnya selesai, sehingga kehilangan kesempatan untuk bisa menceritakan kisah menyeramkan tersebut sebagai bumbu cerita saya yang agak membosankan.

Memang, sayang sekali Tuan Wallace tidak sempat melihatnya, proses hukuman itu jelas lebih menarik untuk diceritakan dan akan lebih menghebohkan bagi pembaca jaman itu. Sungguh keadaan yang jelas berbeda dibandingkan tempat asal Wallace yang sudah memiliki sistem hukum yang lebih teratur. Tapi setidaknya, menurut bayangan saya, Lombok kala itu barangkali lebih tertib dan teratur dibandingkan hukum modern di tempat asalnya Wallace.  Bagaimana tidak, hukuman mati adalah ujung dari banyak pelanggaran hukum di Lombok. Bagaimana tidak, selingkuh dihukum mati, dicemburui dihukum mati, maling juga dihukum mati. Yah setidaknya, populasi manusia lebih terkontrol di Lombok kala itu.

 

 

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

Advertisements

Published by

ocean916

https://www.facebook.com/Dominic.Oki.Ismoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s