Leg 2 : Sapi-sapi laut

Hampir tiga minggu berselang, kami akhirnya kembali ke gedung di Jalan Empat itu. Pada gedung itu, departemen kami bersatu dengan beberapa departemen lainnya. Anehnya, meskipun departemen kami setara dengan departemen lain, departemen kami hanya mendapat dua lantai dari gedung berlantai 4 dengan dua sayap ini. Departemen kami mendapat dua lantai di sayap timur, itupun harus berbagi lagi dengan departemen lain, departemen ilmu langit dan geopicik.

Dalam departemen kami terdapat ruangan laboratorium yang cukup besar yang tentu saja dibagi lagi kedalam beberapa sekat-sekat spesialisasi studi para dosen. Salah satu ruangan lab itu adalah ruangan teoritik. Seperti namanya, ruangan itu diperuntukkan untuk membahas teori-teori fluida oseanografi. Seharusnya. Kenyataannya, ruangan itu lebih banyak dipakai untuk rapat-rapat yang kebanyakan teorinya. Beberapa senior bahkan telah melahirkan hipotesa yang sulit dipertanyakan kebenarannya. Bunyinya kira-kira begini “Bahwa semakin besar persoalan (tugas) yang muncul maka akan semakin sedikit orang yang bekerja untuk menyelesaikan persoalan (tugas) itu”.

Hal ini rasanya berbanding terbalik dengan kriteria gotong royong yang umum dikenal orang. Pada kriteria gotong royong, semakin besar persoalan maka akan semakin banyak orang yang membantu turun tangan menyelesaikan persoalan. Pada hipotesa ini, hal  berlawanan yang terjadi, sebuah tugas besar yang harus diselesaikan oleh suatu kelompok hanya akan dapat diselesaikan oleh satu atau (paling banyak) dua orang dalam kelompok itu.

Ilustrasinya begini, suatu tugas mata kuliah yang mahasiswanya dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan satu atau beberapa tema, mempunyai distribusi angota kelompok yang tidak proporsional dalam hal kecerdasan (mengerjakan tugas yang dimaksud). Akibatnya, dalam satu kelompok sering sekali tertinggal seorang mahasiswa saja yang mengerjakan tugas itu. Sisanya adalah sapi-sapi pemakan rumput yang memamah biak uang harian pemberian orangtuanya. Hampir 95% tugas yang diberikan dosen dikerjakan oleh mahasiswa yang (kadang terpaksa) pintar itu. Lima persen sisanya dikerjakan para sapi untuk membuat cover sampul tugas, mencetak dan menjilid tugas, hingga menyediakan susu sapi bagi mahasiswa pintar itu sebagai asupan kecerdasan otaknya.

sapi_kambing_patungan

Apakah sapi-sapi itu tidak berusaha membantu sang mahasiswa pintar untuk menyelesaikan tugasnya ? tentu saja mencoba membantu, ya mencoba, tapi sebatas itu saja. Sebab, komunikasi antara sapi dan si mahasiswa pintar adalah komunikasi yang mustahil terjalin. Disaat sang mahasiswa pintar mengajak diskusi, sang sapi hanya bilang “Mmmooo”. Ketika sang sapi mencoba berkomunikasi dengan sang mahasiswa pintar, si mahasiswa pintar itu hanya bisa melongo dan terbengong-bengong mendengarkan lenguhan sapi. Pada akhirnya, daripada membuang waktu si mahasiswa pintar itu menyerah dan memilih mengerjakan tugas itu sendiri saja. Hal yang lebih masuk akal dikerjakan daripada menafsirkan nada lenguhan sapi-sapi yang tidak jelas juntrungannya. Begitulah kira-kira isi hipotesa para senior itu.

Lucu yah, tapi lebih lucu lagi kalau membayangkan sapi-sapi itu berdiri di depan dan diminta presentasi tugas oleh dosen.

Nah, kelompok paling apes adalah kelompok yang semua isinya adalah sapi-sapi. Kalau sudah begitu, tugas yang selesai dikerjakan dan dikumpulkan cuma berbobot seperti tumpukan jerami saja. Besar tapi enteng dan lebih mudah terbakar atau dijadikan pupuk kandang.

Akan tetapi, para sapi-sapi itu terkadang melakukan suatu hal evolutif yang cenderung cerdas untuk ukuran sapi. Kelompok (apes) yang semua berisi sapi kadang bersekongkol dengan sapi-sapi kelompok lain yang sudah kadung punya seorang mahasiswa cerdas dalam kelompoknya. Demikianlah, melalui komunikasi sederhana ala-ala sapi, dua kelompok bergabung menjadi satu kelompok sapi besar dengan sang mahasiswa cerdas sebagai penggembalanya. Sebuah simbiosis aneh yang belum bisa diklasifikasikan secara ilmiah.

Rasa-rasanya aku pernah jadi salah satu sapi itu, tapi sekarang entah mengapa aku jadi merasa tersapikan. Soalnya, pengolahan data survei oseanografi yang harusnya dikerjakan sesuai kelompok praktik kemarin malah semua pengerjaan datanya terkumpul di laptopku yah.  Bukan cuma soal pengolahan data batimetri, tapi analisa pasut dan profil perairan semua terkumpul di laptopku.

Ah sial !

Advertisements

Leg 1 : Cahaya Bali di Teluk Terima

Tidak lama setelah pemeriksaan KTP yang rada percuma di pelabuhan tadi, jalan menjadi gelap dan tanpa terburu-buru bus kami berbelok menuju sebuah jalan yang lebih kecil hingga akhirnya berhenti di pelataran sebuah pondokan yang lumayan besar. Temaram terang jalan tidak mengurangi keindahan bangunan ini, tampak megah dan malah angker layaknya sebuah pura pertapaan besar. Beberapa orang keluar dari pondokan untuk menyambut kami, dua orang tampak tidak asing, Ibu Berliana dengan Pak Ari Tayra rupanya sudah datang terlebih dahulu. Mereka keluar berbarengan dengan seorang pria Bali paruh baya. Bagaimana aku tahu dia orang Bali? Logat Balinya memberi jawaban itu. Mereka menyambut kedatangan kami, atau lebih tepatnya menyambut Ibu Susi dan tim asisten serta anak-anak centil lainnya. Aku ? Aku masih merapikan tasku dan mencari earphone ku yang rasanya terselip di kursi bus. Ani dan lainnya seperti biasa, berswafoto dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bang Fadil juga seperti biasa, mulai geram melihat anak-anak yang malas dan mulai meneriaki, ehm..mmm, memberitahu peserta untuk membenahi barang-barang survei untuk segera dibawa masuk ke pondokan.

Tomi dan Abdi serta yang merasa lelaki sudah membawa boks berat echosounder, tabung-tabung oksigen serta perkakas survei lainnya. Aku dan ekorku, Ani, membawa seperangkat snorkel dan pelampung. Alat-alat survei itu ditumpuk begitu saja di bagian ujung pendopo tersebut, Bang Fadil bersama Kak Danu kemudian mengecek ulang alat-alat tersebut, memastikan tidak ada yang tertinggal di bandung atau di bus, maksudnya itu, lebih memastikan kalau tidak ada yang tertinggal di bus.

Kami semua duduk di tengah pendopo tersebut di kursi dan meja makan yang sudah tersusun rapi dengan hidangan prasmanan yang terpisah di meja samping. Hanya ada satu hal yang menghalangi kami untuk langsung melahap habis itu semua, Bu Berliana dan Bapak Bali yang berdiri rapi didepan dan mulai memberi sambutan. Delapan belas menit setelah pukul sembilan malam Waktu Indonesia Tengah ditunjukkan oleh jam dinding yang ada di pendopo, badan yang lelah dan wangi menggoda dari ikan bakar serta ayam betutu jelas waktu yang sangat sesuai untuk sebuah sambutan. Tentu saja, sambutan ini samar-samar kudengar karena mata dan pikiranku dengan cepat melayang pada halaman belakang pondokan ini. Halaman belakang pondokan ini berbatasan langsung dengan pantai dan debur gelombangnya. Malam itu cukup berangin, hantaman gelombangnya menderu cukup kencang. Perahu-perahu yang berjajar rapi disana tampak beristirahat, tertidur dari perantauan sehari-harinya. Satu, dua, tiga… delapan, hantaman gelombang itu terdengar setiap delapan detik. Periodenya delapan detik? Malam ini kurasa juga sedang pasang purnama, ombaknya terlihat sedikit menciprat badan-badan kapal itu. Lelah benar-benar merasuki pikiranku, aku melamun soal periode gelombang dan pasang surut.

“Nggi, nggi, ayo makan yok, bengong aja..!!” Ani menyengggol kakiku mengajakku makan. Wejangan telah selesai dan teman-teman ternyata sudah mengantri makan.

“Ayo ‘nggi makan yang banyak, besok kita sibuk lho”. Bang Fadil dengan mulut yang mengunyah bicara kepadaku padahal aku baru saja duduk dan hendak menyuap paha betutu.

“Oh, jam berapa bang besok ?” Ani langsung menyambar.

“Sore, besok kita pulang cepat dan langsung ke dermaga setelah keliling balai tamnas. Lho, Memangnya tadi tidak dengar omongan Bu Susi?”

Ani tertawa kecil, rupanya dia juga tidak mendengar omongan tadi. Besok sore aku sama Ani jadi ikut Bang Fadil untuk cek perahu dan lokasi, seketika ayam betutu di kerongkonganku menjadi terlalu kesat.

Selesai makan kami semua langsung menuju kamar sesuai pembagian yang telah diatur, badan ini terlalu lelah, tanpa peduli aku langsung berbaring dan menggulung badanku di tempat tidur. Aku hanya ingin berbaring dan mendengar kembali suara debur ombak itu sayup-sayup sampai tertidur.

Pukul enam pagi. Sepertinya begitu, alarmku selalu berbunyi tepat jam 6.07 pagi, atau 6.17 atau 6.27, aku lupa sudah berapa kali kupencet tombol snooze itu. Debur ombak itu masih terdengar namun lebih pelan suaranya dibanding tadi malam, sepertinya sedang surut. Ani masih tertidur, Ayu sepertinya sedang di kamar mandi. Begitu jendela kubuka, dengan segera cahaya hangat menyentuh kulitku dan aroma asin laut menyeruak masuk dihidungku. Damai sekali suasana pagi begini.

Jam 7 kami sarapan dan sebelum jam 9 kami semua sudah berangkat menuju tamnas. Pak Raka dan beberapa petugas tamnas sudah datang ke pondokan sekaligus ikut sarapan tadi. Dari pondokan ke balai tamnas tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit. Di balai tamnas itu tentu saja tentu saja terdapat sambutan-sambutan lagi. Power point membosankan dan foto bersama yang menyebalkan. Pikiranku jadi melantur lagi ke acara pra survei nanti sore, apa nanti ada pelampungnya dikapal ? apa nanti terlalu besar gelombangnya? Apa nanti aku akan muntah, seberapa besar kapalnya sih…oh mudah-mudahan bukan sampan bercadik itu kapal yang dipakai. Apa aku harus berenang nanti? Bagaimana kalau aku jatuh dari kapal?

Sambutan demi sambutan dan presentasi-presentasi terasa singkat dalam sebuah lamunan, untungnya pada jam 11 kunjungan ini diselingi dengan keliling balai tamnas yang memelihara dan merawat beberapa satwa dan flora yang dilindungi di tamnas ini. Sekitar jam 12 lewat makan siang telah terhidang dalam puluhan kotak, arena makan siang bertempat di pelataran belakang aula yang menghadap langsung ke laut. Memandang laut sambil makan siang begini membuatku melupakan kenyataan yang akan menyergapku nanti sore. Angin sendalu meniup wajah, menghela keringat kekhawatiran. Baru aku menyadari indahnya laut yang berpadu padan dengan putihnya pasir pantai. Air biru cerahnya menggoda nalar untuk merasakan segarnya, meskipun aku baru ini saja bisa berenang.

Berbulan-bulan bergulat membicarakan gelombang, arus, dinamika fluida dan fenomena laut lain melalui rumus-rumus fisika abstrak pada ketinggian 700an mdpl di tengah Pulau Jawa lalu melihat pemandangan nirwana seperti ini ibarat seorang penduduk neraka yang diberi kesempatan makan es krim Baskin Robbins. Oh, enak sekali kalau ada es krim disini. Iya, surga yang sesaat, toh, Agustus nanti, semester baru dimulai dan algojo-algojo itu siap menghantamku kembali dalam mata kuliah yang bernama kolokium.

Selesai makan siang, kita bergerak dalam beberapa rombongan melihat area hutan konservasi yang dikelola taman nasional disini. Melihat area taman konservasi ini, rasanya sah-sah saja A.R Wallace Bulan Juni tahun 1856 lalu menyebut Bali adalah daerah yang sangat indah, yang sama dan bahkan melebihi keindahan eropa. Tidak berapa lama kunjungan yang singkat itu selesai dan kami semua kembali ke pondokan untuk memulai rangkaian survei oseanografi di Teluk Terima ini.

“Nggi, jangan lupa bawa kamera yah”. Ani duduk disebelahku di bus menuju pondokan.

“eh buat apa ?”. Wajahku berlagak pilon, padahal grogi menggerogoti tulang belakangku.

“Ya buat foto-foto nantilah, kan perlu buat difoto-foto. Sekaligus kita bisa foto-foto juga kan. ”

“Iya, cerewet.” Ungkapan terakhir Ani hampir tidak kudengar, pikiranku pergi jauh, tertutup oleh bayangan menyeramkan trip sore nanti.  Hmm. Cahaya Bali. Akhirnya aku tahu nama nama pondokan ini, mengapa dinamakan Cahaya Bali yah ? pikiranku menggusar mencoba menyingkirkan kegalauan.

“Nggi, nanti kamu yang pegang GPS nya yah. Bisa kan pegang GPS nya. Tandai posisi-posisi yang ditinjau nanti. Malamnya kita lihat sama-sama di peta yah” kata Bang Fadil sebelum aku ke kamar, Ani malah sudah ngeloyor duluan.

“GPS yang mana yah” Wajah pilon ku keluar lagi.

“GPS yang kemarin lah, Garmin Oregon. Kan sudah diajari kemarin.”

“Iya, yah. Iya. Terus bawa apa lagi. Bawa pelampung kan.”

“Ya jelas dong, itu sih safety procedure. Kamu mau coba snorkeling ? Hitung-hitung latihan, kemarin kan hanya di kolam renang saja. Oh ya. Bilang sama Ani juga, nanti kumpul di pendopo jam 14.30, sudah siap semua dengan barang-barangnya. “

“Ok.”. Aku diam saja dan asal mengangguk.

14.25. Aku sama Ani sudah di ruang pendopo, lengkap dengan perlengkapan masing-masing, hanya saja tasku terlihat lebih menggembung dibandingkan tas Ani. Rasa-rasanya tas Ani isinya hanya dompet, air minum dan cemilan saja, bandingkan dengan tasku yang besar isinya mulai dari obat-obatan hingga dua pasang baju ganti dan jaket tebal.

DSC06495

“Ok. Kita berangkat. Bawa apa saja tuh, berat amat kelihatannya ‘Nggi ?” Bang Fadil menyapa kita dari luar pondokan, rupanya dia sudah siap diluar dengan Dani dan Toni beberapa menit lalu. Pelampung, snorkel, GPS dan kamera semua sudah siap ditenteng menuju dermaga.

Sebagai koordinator asisten praktik survei, Bang Fadil jelas lebih berpengalaman, tapi area Taman Nasional Barat Bali baru kali ini dipakai untuk praktik survei oseanografi. Adapun alasan lokasi ini dipilih karena adanya penelitian dari Ibu Susi dan Pak Ari Tayra soal kondisi oseanografi di taman nasional. Entah penelitian apa, aku tidak mengerti, menyangkut soal produktivitas primer dan sirkulasi lautnya lah. Yang jelas, kami semua dibawa kesini sebagai pelaku survei untuk penelitian itu sekaligus jadi ajang praktik mata kuliah survei oseanografi. Lebih pentingnya lagi, kami semua adalah tenaga gratisan bagi penelitian dosen-dosen itu.

“Buku Boas sama Pond&Pickard Bang !” jawabku sekenanya. Pecah juga tawa mereka, berkomentar mengenai kuliah-kuliah absurd yang kami ambil. Bagus! Biarlah mereka semua bercanda dan biarkan aku berkonsentrasi penuh untuk perjalanan perahu nanti. Jalan menuju dermaga sebenarnya hanya sekitar 10 menit saja, tapi dengan bawaan kami yang cukup banyak, pelampung, snorkel dan fin, kamera hingga cemilan, belum lagi tasku yang berat ini perjalanan menuju dermaga jadi terasa lebih lama, atau itu hanya perasaan deg-degan ku saja yah?

Pada dermaga sudah ada Dito, Ayu dan beberapa teman seangkatanku dari kelompok 2. Mereka sedang berlatih memasang alat pasang surut otomatis serta palem pasut sebagai cadangannya. Dito jadi asisten yang melatih alat pasang surut sedangkan ayu berlatih kalibrasi CTD serta Current meter untuk praktik besok. CTD seabird 37 dan Valeport Midas WLR menjadi raja dan ratu di dermaga ini karena baik praktikan dan asistennya tampak memegangnya dengan terlalu hati-hati ibarat keris keramat. Tidak berapa lama Pak Ari muncul juga di dermaga, mengawasi jalannya asistensi dan memperhatikan agar raja dan ratunya tidak rusak akibat ulah amatir.

Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.

Selamat Bagi Semua !

Saya selalu tergelitik dan merasa aneh kalau ada orang yang mengucapkan kalimat SELAMAT yang disertai … BAGI YANG MERAYAKAN. Bagi saya, penyertaan kalimat “bagi yang merayakan” itu sebenarnya cenderung egois dan individualis (kalau tidak mau disebut sebagai golongan).  Bagaimana tidak, kalimat itu seakan memberi sekat/batasan bahwa hanya mereka lah yang patut diberikan selamat berhari raya. Padahal mereka sekaligus saya juga mendapat berkah dari perayaan itu.

Berkah yang berupa hari libur, hari untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman.

Berkah terusan didapatkan ketika orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang merayakannya. Makanan, hidangan enak hingga bonus gaji juga kita dapatkan ketika hari raya itu.

Seminimalnya, mereka yang merayakan akan lebih bahagia ketika tiba hari raya itu. Teman atau orang yang bahagia jelas akan membuat saya bahagia juga. Jadi, ketika ada satu hari raya tiba, sudah jelas saya akan bahagia dan merayakannya juga.

Lagipula, kalau mau adil, kenapa hanya sewaktu hari raya ibadah saja yang disertai “bagi yang merayakan”, harusnya semua ucapan selamat disertai begitu juga dong…

selamat ulang tahun,… bagi yang merayakan.

selamat ujian,… bagi yang merayakan.

selamat atas kelulusannya,…bagi yang merayakan.

selamat atas pernikahannya,… bagi yang merayakan.

selamat atas perceraiannya,… bagi yang merayakan.

Sendalu Dingin Laut Lampung

sendalu1

Sendalu lembut meniup tengkuk mereka yang tertidur, membuai sekaligus meringkukkan badan, membuntal, menjaga hangat agar tidak kabur. Jarum jam telah menunjuk angka tiga dan angka 4 pada jarum panjangnya. Kapal telah mulai melayar 15 menit lalu. Tidak lama sebelumnya, kapal ini untuk kesekian kalinya dalam hari ini membuka perutnya kembali lebar-lebar.  Raksasa-raksasa pun masuk kembali ke dalam perutnya. Demikian besar para raksasa tersebut, sebagian berkaki delapan, berbadan gemuk maupun berpunuk menggunung, sebagian bahkan berkaki 12 atau 16 yang bobotnya membuat titian masuk menjadi bergetar hebat. Jam segini, memang jamnya para raksasa untuk menyeberang menuju daratan di ujung satunya.

Secepat itu para raksasa masuk, secepat itu juga penunggangnya masuk ke dek atas. Hampir berebut, tapi tanpa kekusutan. Bangku-bangku panjang berjok tipis adalah sasaran utamanya. Merebahkan badan dan tidur berbaring adalah tujuan utama dari perjalanan laut ini. Sang raksasa dan penunggangnya memang banyak yang datang dari tempat-tempat yang jauh-jauh. Belasan hingga puluhan jam mereka lalui sebelum akhirnya tiba di hotel terapung ini.

Langit gelap, segelap mata yang terhimpit mimpi dan lamunan panjang. Dek kapal ini bagaikan bangsal asrama, mayoritas tertidur berjejer seturut bangku kapal atau terkantuk-kantuk, mengangguk-angguk seperti mengiyakan pertanyaan-pertanyaan yang dititipkan angin malam. Ada yang menggulung dibalik sarungnya, ada yang mendengkur dan ada juga yang mengiggau. Yang tidak tidur juga ada tapi segelintir saja, bercerita sambil menikmati angin dingin malam cukup membuat mereka hangat dan terjaga.

Ada juga si bapak itu. Dia tidak tidur, tapi juga tidak terjaga. Entah. Matanya menghampa, menatap gelapnya malam. Rokoknya ditaruh begitu saja, jadi gantinya obat nyamuk. Tangannya dikempit di masing keteknya, mungkin sedikit kedinginan. Tapi, kopi panas yang tadi kuhidangkan hampir tidak tersentuh. Seruput kopinya hanya formalitas belaka, sekedar menyentuh bibir tanpa mengotorinya. Kopi itu jelas telah mendingin dengan sendirinya.

Tatapannya kosong. Memandang ke depan tapi tanpa arti. Wajahnya lusuh dan kusut. Raut kesedihan tampak memancar dan menghilangkan beberapa tahun cahaya wajahnya. Bapak itu juga salah seorang penunggang truk yang sering menggunakan jasa kapal ini untuk mengantarkan muatannya dari satu ujung ke ujung lainnya. Kisahnya merupakan sebuah elegi yang merindukan sebuah penghabisan.

Istrinya baru-baru ini saja meninggalkannya. Membawa serta anak satu-satunya yang masih kecil. Anak semata wayangnya, ialah si bungsu yang masih lengket pada tetek ibunya. Sedang si sulung, sudah harus dikembalikan terlebih dulu ke Gusti Allah beberapa minggu sebelumnya. Naas, sebuah kecelakaan menghantarnya langsung ke pangkuan Tuhan.

Kata orang-orang, celaka ini jadi ujung kesabaran yang sudah diberikan Tuhan sebelum-sebelumnya. Kabarnya dia memang piawai dalam bermabuk, tanpa kenyang berjudi, pemain cinta semalam hingga mencandu. Entah bagaimana kebenarannya, tapi sekali waktu, dibalik pintu geladak atas aku memang menemukannya setengah sadar setengah tertawa. Sinting ! gumamku waktu itu.

Istrinya semakin berang tatkala dikala masih berduka oleh kepergian anaknya didatangi oleh segerombolan pemuda  beringas yang memaksa meminta pembayaran hutang-hutang suaminya atau dia yang jadi bayaran hutangnya. Untungnya matahari masih tinggi dan masih banyak orang di rumahnya. Kontan saja, seribu langkah jadi buah keputusan yang didukung oleh keluarganya. Meninggalkan suaminya seorang diri.

Untung saja, si bapak ini masih punya seorang kawan lamanya yang bisa gantikan dia. Kawannya bilang, kalau dibiarkan menyupir sendiri, tidak sampai seribu meter pun sudah pasti celaka. Matanya menerawang entah kemana. Tidak mau beristirahat dan pulang ke rumah, jadi teringat dosa-dosanya katanya. Jadilah si kawan ini menggantikan tugasnya untuk menyupir, sekedar menemani sekaligus menjaganya.

Sudahlah, rasanya kopi dan sebungkus rokok itu biarlah tidak perlu dibayarkan padaku. Sudahlah, sebungkus rokok dan kopi itu kuikhlaskan untuk sedikit meringankan si bapak, rasanya hanya itu yang bisa kulakukan. Sudahlah. Biarlah. Terlalu dingin jadinya malam ini mendengarkan kedukaan semacam itu.