Banda, Desember 1857.

Kapal uap Belanda yang membawa saya dari Macassar ke Banda dan Amboyna adalah sebuah sarana pengangkut yang lapang dan nyaman, biarpun hanya bergerak dengan kecepatan enam mil per jam dalam cuaca yang paling bagus sekalipun. Karena hanya ada tiga penumpang selain saya sendiri, ada banyak ruangan yang bisa dimasuki sehingga saya lebih menikmati perjalanan ini daripada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Peraturan dalam kapal agak berbeda dibandingkan dengan kapal uap inggris atau india. Tidak ada pelayan kabin, karena setiap penumpang biasanya membawa pelayannya sendiri-sendiri, sedangkan pramugari kapal hanya bertugas di ruang makan.

Pada pukul enam pagi, secangkir teh atau kopi disajikan kepada penumpang. Antara pukul tujuh dan delapan, sarapan ringan yang terdiri dari teh, telur dan sarden disajikan. Pada pukul sepuluh, madeira, gin dan alkohol dibawa ke dek sebagai pembangkit selera untuk sarapan pukul sebelas, yang bedanya dengan makan malam hanya pada hidangan sup. Teh dan kopi disajikan lagi pada pukul tiga sore, alkohol pada pukul lima dan makan malam yang sedap lengkap dengan bir dan anggur merah pada pukul setengah tujuh, ditutup dengan teh dan kopi pada pukul delapan malam. Di selang waktu tersebut, bir dan soda segera dibawakan jika diminta. Jadi secara keseluruhan, pelayanan kuliner di kapal ini sangat memadai di tengah-tengah perjalanan laut yang membosankan.

….

Banda adalah pulau kecil yang menyenangkan, tiga pulau disekitarnya mengelilingi pelabuhan yang aman, dengan jalan masuk tak terlihat. Air di sekitar pulau itu begitu jernih, sehingga batu-batuan koral dan bahkan objek yang paling kecil sekalipun dapat terlihat jelas didalam laut vulkanis yang memiliki kedalaman 42-48 kaki. Di salah satu pulau terdapat gunung berapi yang salah satu lerengnya gundul, sementara di kedua pulau lainnya yang lebih besar, diselimuti vegetasi sampai ke puncak bukit.

Setelah mencapai daratan, saya berjalan menuju titik tertinggi Pulau Banda, yang merupakan lokasi kota. Disitu juga terdapat stasiun telegram dan pemandangan yang indah. Di bawah titik itu, terdapat kota kecil dengan deretan rumah putih beratap merah serta gubuk jerami yang dihuni penduduk lokal, dibatasi di satu sisi oleh benteng tua Portugis. Lebih jauh lagi, sekitar setengah mil dari pulau ini terdapat sebuha pulau yang lebih besar dan berbentuk ladam kuda. Pulau itu memiliki barisan bukit yang ditutupi hutan dan perkebunan pala.

Diseberang dekat kota, terdapat gunung berapi berbentuk kerucut nyaris sempurna, yang bagian kakinya terselimuti tumbuhan semak hijau muda. Pada sisi utaranya, permukaan tanah menjadi tidak rata dan terdapat lengkungan atau jurang kecil sekitar seperlima jarak dalam perjalanan ke bawah yang dari dalamnya terus mengepul asap putih. Asap juga mengepul dari permukaan berbatu-batu di sekitarnya dan dari beberapa lokasi di dekat puncak. Bubuk putih-mungkin belerang-tersebar di bagian atas gunung yang dibatasi garis vertikal hitam sempit pada sebuah jurang. Pada siang hari, asap menyatu dan membentuk awan tebal yang memayungi puncak gunung. Pada malam atau dini hari, awan akan terus naik ke atas dan bentuk gunung akan terlihat jelas.

Hanya dengan menatap langsung gunung berapi aktif, barulah seseorang bisa sepenuhnya menyadari bahaya dan kemegahannya.

A.R.W

Advertisements

Leg 2 : Sapi-sapi laut

Hampir tiga minggu berselang, kami akhirnya kembali ke gedung di Jalan Empat itu. Pada gedung itu, departemen kami bersatu dengan beberapa departemen lainnya. Anehnya, meskipun departemen kami setara dengan departemen lain, departemen kami hanya mendapat dua lantai dari gedung berlantai 4 dengan dua sayap ini. Departemen kami mendapat dua lantai di sayap timur, itupun harus berbagi lagi dengan departemen lain, departemen ilmu langit dan geopicik.

Dalam departemen kami terdapat ruangan laboratorium yang cukup besar yang tentu saja dibagi lagi kedalam beberapa sekat-sekat spesialisasi studi para dosen. Salah satu ruangan lab itu adalah ruangan teoritik. Seperti namanya, ruangan itu diperuntukkan untuk membahas teori-teori fluida oseanografi. Seharusnya. Kenyataannya, ruangan itu lebih banyak dipakai untuk rapat-rapat yang kebanyakan teorinya. Beberapa senior bahkan telah melahirkan hipotesa yang sulit dipertanyakan kebenarannya. Bunyinya kira-kira begini “Bahwa semakin besar persoalan (tugas) yang muncul maka akan semakin sedikit orang yang bekerja untuk menyelesaikan persoalan (tugas) itu”.

Hal ini rasanya berbanding terbalik dengan kriteria gotong royong yang umum dikenal orang. Pada kriteria gotong royong, semakin besar persoalan maka akan semakin banyak orang yang membantu turun tangan menyelesaikan persoalan. Pada hipotesa ini, hal  berlawanan yang terjadi, sebuah tugas besar yang harus diselesaikan oleh suatu kelompok hanya akan dapat diselesaikan oleh satu atau (paling banyak) dua orang dalam kelompok itu.

Ilustrasinya begini, suatu tugas mata kuliah yang mahasiswanya dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan satu atau beberapa tema, mempunyai distribusi angota kelompok yang tidak proporsional dalam hal kecerdasan (mengerjakan tugas yang dimaksud). Akibatnya, dalam satu kelompok sering sekali tertinggal seorang mahasiswa saja yang mengerjakan tugas itu. Sisanya adalah sapi-sapi pemakan rumput yang memamah biak uang harian pemberian orangtuanya. Hampir 95% tugas yang diberikan dosen dikerjakan oleh mahasiswa yang (kadang terpaksa) pintar itu. Lima persen sisanya dikerjakan para sapi untuk membuat cover sampul tugas, mencetak dan menjilid tugas, hingga menyediakan susu sapi bagi mahasiswa pintar itu sebagai asupan kecerdasan otaknya.

sapi_kambing_patungan

Apakah sapi-sapi itu tidak berusaha membantu sang mahasiswa pintar untuk menyelesaikan tugasnya ? tentu saja mencoba membantu, ya mencoba, tapi sebatas itu saja. Sebab, komunikasi antara sapi dan si mahasiswa pintar adalah komunikasi yang mustahil terjalin. Disaat sang mahasiswa pintar mengajak diskusi, sang sapi hanya bilang “Mmmooo”. Ketika sang sapi mencoba berkomunikasi dengan sang mahasiswa pintar, si mahasiswa pintar itu hanya bisa melongo dan terbengong-bengong mendengarkan lenguhan sapi. Pada akhirnya, daripada membuang waktu si mahasiswa pintar itu menyerah dan memilih mengerjakan tugas itu sendiri saja. Hal yang lebih masuk akal dikerjakan daripada menafsirkan nada lenguhan sapi-sapi yang tidak jelas juntrungannya. Begitulah kira-kira isi hipotesa para senior itu.

Lucu yah, tapi lebih lucu lagi kalau membayangkan sapi-sapi itu berdiri di depan dan diminta presentasi tugas oleh dosen.

Nah, kelompok paling apes adalah kelompok yang semua isinya adalah sapi-sapi. Kalau sudah begitu, tugas yang selesai dikerjakan dan dikumpulkan cuma berbobot seperti tumpukan jerami saja. Besar tapi enteng dan lebih mudah terbakar atau dijadikan pupuk kandang.

Akan tetapi, para sapi-sapi itu terkadang melakukan suatu hal evolutif yang cenderung cerdas untuk ukuran sapi. Kelompok (apes) yang semua berisi sapi kadang bersekongkol dengan sapi-sapi kelompok lain yang sudah kadung punya seorang mahasiswa cerdas dalam kelompoknya. Demikianlah, melalui komunikasi sederhana ala-ala sapi, dua kelompok bergabung menjadi satu kelompok sapi besar dengan sang mahasiswa cerdas sebagai penggembalanya. Sebuah simbiosis aneh yang belum bisa diklasifikasikan secara ilmiah.

Rasa-rasanya aku pernah jadi salah satu sapi itu, tapi sekarang entah mengapa aku jadi merasa tersapikan. Soalnya, pengolahan data survei oseanografi yang harusnya dikerjakan sesuai kelompok praktik kemarin malah semua pengerjaan datanya terkumpul di laptopku yah.  Bukan cuma soal pengolahan data batimetri, tapi analisa pasut dan profil perairan semua terkumpul di laptopku.

Ah sial !

Pattimura Muda, Bangkitlah !

..... 

Thomas dan kawan-kawannya disambut dengan meriah oleh rakyat. Rakyat penuh sesak berkumpul mendengarkan kesan-kesan dari mereka yang baru datang dari Ambon. Thomas yang berada diantara kawan-kawannya pelan-pelan menjauhkan diri dari kumpulan orang banyak itu. Thomas menyelinap keluar dari tengah orang banyak dan pergi menyendiri ke bawah sebatang pohon. Ia tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba ia merasa bahunya dipegang orang. Ia berpaling. Ternyata yang memegang bahunya tadi adalah Bapak Buang, orang setengah baya itu. Mereka pun berbincang-bincang. 

Thomas : “Bapak Buang. Saya sudah lama mengharapkan kedatangan Bapak. Begitu banyak pertanyaan…”

Buang : “Saya sudah bilang. Kesenangan yang kita nikmati hanya kesenangan pinjaman. Sekarang sudah diambil kembali. Pesta sudah lewat. Gantilah seragam inggris itu. Beban yang berat berada di atas pundakmu.”

Thomas : “kenapa diatas pundakku.”

Buang : “karena kau anak negeri ini. Hanya kita, Thomas yang bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat kita. Bukan Inggris, bukan Wolanda. Apakah mereka lebih dari kita, karena mereka putih kita hitam, karena mereka pakai sepatu, rakyat kita kaki telanjang? Mereka tidak peduli kepada kita, apa kita mati, apa kita menderita.”

Thomas : “Apa Bapak bisa membantu ?”

Buang : “Aku akan selalu bersama kau.”

Thomas : “Dulu Bapak juga bilang begitu. Tapi kalau saya ingin bertanya bapak tidak ada? ”

Buang : “Thomas, aku tidak lebih dari suara hatimu dan suara hati rakyat Ambon, Haruku, Saparua. Jika kau pasang telinga baik-baik, kau akan dengar. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Matahari sudah muncul di tepi langit. Hari sudah mulai pagi. Tapi Thomas masih duduk di bawah pohon itu. Dari Teluk Saparua kedengaran bunyi meriam. Thomas sadar dari renungannya tapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Meriam itu kedengaran berbalas-balasan. Pada saat itu Johannis datang berlari kesana-kemari lalu ia melihat Thomas.  

Johannis : “Thomas, aku mencari kau kemana-mana. Kau dengar bunyi meriam ?”

Thomas : “Ya”

Buang : “Residen Belanda pengganti residen Inggris sudah datang. Sekarang mau diadakan serah terima. Apa kamu tidak mau dengar apa yang akan dia lakukan?”

Thomas : “Buat apa? Aku sudah tahu apa yang akan diumumkan. Kau juga. Semua rakyat Lease sudah tahu”

Ia berdiri. Lalu ia melihat, bahwa ia masih mengenakan seragam tentara Inggris. Bajunya ia buka lalu ia berjalan bersama Buang. 

.....

Begitulah cuplikan skenario cerita yang dibuat oleh Asrul Sani dan diedit oleh Des Alwi mengenai kisah pemuda yang bernama Thomas. Skenario cerita ini berlatar belakang di tahun 1800an, di tanah Maluku, lebih tepatnya Pulau Ambon dan sekitarnya (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram).

patimura1
Lukisan Thomas Matulessi yang dilukis oleh Verhuell saat membuat berkas acara pemeriksaan Thomas Matulessi.

Pada masa-masa itu, orang Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris bergantian mencoba menguasai kepulauan-kepulauan itu. Portugis dan spanyol datang terlebih dahulu, tapi adalah seorang J.P Coen yang berdarah dingin yang berhasil memonopoli Maluku untuk kepentingan Belanda. Monopoli Belanda yang begitu rakus membuat Inggris juga berhasrat untuk menyerang Belanda dan menguasai sendiri Maluku dan perdagangan rempahnya. Pada tanggal 17 Februari 1796, setelah unjuk kekuatan yang cukup mudah Inggris menduduki Ambon dan mengibarkan benderanya di Benteng Victoria.

Bersamaan dengan berkuasanya Inggris, muncul peraturan-peraturan yang baru yang melegakan rakyat dari pekerjaan paksa (kwarto), patroli-patroli hongi laut yang menindas, rakyat bebas bepergian tanpa pas (ijin) dan terutamanya menghapuskan “Verplichte Leverantie” atau memberikan hasil cengkeh dengan cuma-cuma atau dengan harga yang sangat rendah kepada Pemerintah Belanda.  Semua rakyat Maluku bergembira.

Pada 1803, pendudukan Inggris harus berakhir karena peperangan Napoleon sehingga Inggris terpaksa mengembalikan Maluku pada Belanda sesuai dengan perjanjian yang menyusul kekalahan Napoleon itu. Penguasaan Belanda kembali di Maluku, mengakibatkan berlakunya kembalinya peraturan-peraturan yang sebelumnya telah dihapuskan Inggris itu. Dalam skenario ini, Thomas berdialog dengan suara hatinya si Bapak Buang yang telah menemaninya dari kecil. Saat-saat pergantian kekuasaan ditampilkan dengan baik dalam dialog-dialog dramatis yang dituangkan oleh Asrul Sani dan Des Alwi.

Thomas kala itu sudah berumur 20an dan sudah dilatih oleh pasukan Inggris dalam satuan militer lokal Korps 500 yang difungsikan oleh Inggris. Karena kecakapannya, Thomas menjadi kepala staf batalyon dengan pangkat sersan mayor. Akan tetapi, karena Belanda kembali berkuasa kesatuan itu dibubarkan karena dianggap terlalu mahal dan barangkali terlalu berbahaya untuk tetap difungsikan. Cuplikan skenario diatas mengenai kontemplasi Thomas setelah Korps 500 dibubarkan memberikan gambaran membulatnya tekad dan semangat Thomas untuk melakukan tindakan nyata pada kesewenangan Wolanda.

Pemberlakuan monopoli perdagangan serta perlakuan semena-mena terhadap orang-orang (terdapat pencambukan-pencambukan, kerja paksa dan pengusiran ke Banda untuk dijadikan pekerja kebun pala) di Kepulauan Haruku, Saparua dan Nusa Laut serta Ambon membuat Thomas dan kawan-kawannya dari Korps 500 serta para kapitan dan raja berkumpul dan berunding. Usir kompania Wolanda !

Sebuah musyawarah besar rakyat di Bukit Saniri mendatangkan banyak Kapitan, kepala adat, patih dan para kawan-kawan Korps 500 untuk menyatakan dukungan terhadap Thomas sebagai pemimpin guna mengusir Wolanda. Salah satu Kapitan datang terlambat, ialah Kapitan Tiahahu yang datang bersama putrinya Martha Tiahahu yang bersikeras mendampingi bapaknya berjuang untuk rakyat Maluku. Martha kala itu masih 17 tahun umurnya.

Benteng Duurstede dan Residen Van Den Berg menjadi sasaran pertama Thomas. Sebelum matahari terbit benteng bertembok tebal itu telah direbut oleh pemimpin rakyat Maluku, sang pemuda itu, si Thomas Matulessi.

pattimura2
Patung Kapitan Pattimura di Ambon

Seorang yang kini kita tahu dengan nama Kapitan Pattimura.

Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Saya hanya mengingatnya samar-samar melalui slogan terkenalnya sebelum beliau wafat di tiang gantungan…

“Akan lahir Pattimura-Pattimura lainnya setelah saya !”

Tapi, sungguh benar, bahwa sesungguhnya bukan Pattimura saja yang saya tidak saya kenal, hampir seluruh pahlawan bangsa ini tidak saya kenal jiwanya, karakternya, semangatnya, maupun inspirasi mendalam yang coba ia tularkan pada sesama rakyatnya hingga saat ini. Entah karena saya minim informasi ataukah akibat begitu membosankannya pelajaran sejarah di sekolah waktu itu. Tapi memang, saya merasa bahwa informasi inspiratif mengenai para pahlawan kita banyak yang tidak tersampaikan di sekolah-sekolah. Saya sungguh malu akan fakta ini. Fakta bahwa saya tidak mengenal para panutan-panutan saya, para pahlawan bangsa ini.

 Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Kalau bukan karena Bapak Des Alwi yang menuliskan cuplikan skenario hasil penelusuran dari risetnya bersama dengan Leirissa, Kris Pattikawa, Nani de Fretes, Jos Manusama, Jen Lui dan Asrul Sani barangkali saya akan seterusnya buta dan belum memahami semangat yang beliau coba tularkan pada saya. Skenario yang dituliskan dalam buku Des Alwi ini terlalu sayang untuk tidak terbaca. Sungguh sayang juga skenario ini tidak sampai ke layar visual, padahal kadar heroismenya jelas lebih kental daripada sekedar fiksi hollywood.

 

 

Merdeka Indonesia 2017 !

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.

Leg 1 : Terpapas dan teranggul gelombang

“Jadi yang ikut kapal siapa aja, Fad ?“ Suara Pak Ari Tayra memecahkan kesibukan di dermaga.

“Saya, Dani, Toni sama Anggi dan Ani Pak jadinya, kita sebentar saja sih, cuma meninjau cepat lokasi yang cocok untuk ADCP dan penyelaman nanti. Kalau sempat kita pasang GPS soundernya di Menjangan nanti.”

“Oh ok, jadi berlima saja yah, iya bagus itu buat Anggi sama Ani biar bisa belajar sama kamu ‘Fad”

“Iya pak, biar latihan jadi asisten tahun depan. Bapak mau ikut nih?

“Ah tidak dulu, saya mau di sini saja, melihat yang pasang pasut sama kalibrasi CTD nya.”

Apa, asisten ? asisten praktik survei oseanografi ? di tahun depan ? Apa tidak salah omongan mereka. Itupun kalau aku masih hidup dan selamat dari perjalanan sore ini. Kapal yang sudah bersandar di dermaga itu jelas tidak besar dan tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan yang mengutamakan kenyamanan. Perahu ini, Tirta Dewata 2 namanya, adalah perahu yang digunakan untuk menghubungkan dan mengangkut apapun dari/dan menuju keramba ditengah untuk keperluan budidaya mutiara. Pak Wayan, yang mencarikan kapal ini, pada akhirnya juga bercerita bahwa kapal utamanya digunakan untuk keperluan budidaya tapi sesekali ketika musim turis tiba, perahu ini dipakai juga untuk mengantar wisatawan ke Pulau Menjangan. Singkatnya, kapal ini sebenarnya adalah ojek air, bukan kapal survei. Bodi kapalnya sudah mulai melapuk dan palkanya sedikit tergenang oleh air dan oli, baunya lebih mirip kuburan ikan daripada kapal survei. Akan tetapi, sekali penglihatan, Bang Fadil sudah merasa nyaman dengan kapal ojek itu sedangkan aku masih termangu di pinggiran dermaga.

Ani langsung melompat ke dalam perahu, begitu juga Bang Fadil. Bang Dani setengah berteriak bilang kepadaku untuk mengoper pelampung dan peralatan lain ke kapal.

“Ayo, kenapa diam saja seperti habis ikut kuliah gelombang, ini sudah mau berangkat kita. Keburu sore nanti.” Seperti biasa, kerasnya suara Bang Fadil melebihi suara mesin yang mulai menderu. Mungkin itu sebabnya dia selalu seakan berteriak yah. Terlalu tuli dengan suara mesin.

Ani menggandeng tanganku seraya aku meloncat sedikit ke haluan kapal. Aku langsung memegang tiang atap perahu dan duduk bersandar di tiang haluan, di muka kemudi dekat jangkar berkarat pengundang tetanus. Pelampung telah kupakai, sebenarnya ingin aku melepasnya, karena yang lainnya tidak memakainya. Tapi aku masih takut.

“Tenang saja ‘gi, ini tidak lebih menyeramkan daripada kora-kora di dufan. Ani, jaga yah itu temen kamu !”. Ucapan Toni ini jelas bukan ucapan yang menenangkan, naik kora-kora di dufan saja aku tidak berani apalagi naik perahu sekecil ini di laut penuh gelombang begini.

Pikiranku kualihkan pada GPS Oregon yang telah kunyalakan untuk melihat posisi kita di laut nanti. Angka koordinatnya dan tampilan jarum posisinya belum berubah karena kita masih belum jauh dari dermaga. Perlahan Tirta Dewata berjalan pelan keluar dari area dermaga, mengayun perlahan sesuai alun gelombang. Cuacanya baik kata pak kapten, ombaknya masih kecil. Ya menurut dia. Menurutku, ini lebih mirip gelombang badai, angin kencang dan haluannya teranggul-anggul. Cipratan air sewaktu perahu memapas ombak sesekali mengenai kening dan membasahi geladak.

IMG_2549

Aku masih duduk bersandar pada tiang perahu, memperhatikan lebih teliti layar 4 inci GPS Oregon yang merekam pergerakan perahu daripada melihat suasana perairan sekitar. Dermaga tadi telah aku tandai dan jalannya perahu yang digambarkan melalui tanda segitiga terekam secara otomatis.

“Sip, dilihat terus yah, nanti langsung ditandai saja kalau kita menemukan titiknya. Jangan sampai hilang sinyal ! Okey.”  Bang Fadil kali ini benar-benar berteriak karena suara mesin semakin bising.

“Ok.” Cuma itu kata yang keluar dari mulutku, tangan kiriku memegang GPS, tangan kananku memegang tiang. Sesekali juga aku memandang laut serta angin yang meniup wajahku, agak jauh didepan Pulau Menjangan terlihat bagai oase. Kaki ini sudah merindukan daratan. Tapi, bau laut cukup memberikan efek penenang kalau tidak sedang mencium bau asap solar serta bisingnya mesin Yanmar kuno itu.

Setidaknya itu yang kurasa sebelum kapal berhenti dan mesinnya dimatikan. Kami sudah sampai di belakang Pulau Menjangan. Kami berhenti sekitar 200-300 meter dari sisi pantainya. Disini menurut kapten adalah tempat yang sering jadi snorkeling atau selam. Kapal mulai bergerak tidak karuan, menurut saja pada angin dan arus yang membawanya. Kepalaku mulai pusing dan rasa mual mulai timbul di perutku.

Airnya biru sebiru air yang jernih sejernihnya seperti yang sering kulihat di layar ponselku melalui instagram. Dari atas perahu kami melihat bahwa di kedalaman terdapat formasi karang yang cukup besar dan sepertinya cukup luas. Cuma warna biru itu yang bisa menghiburku di tengah-tengah keringat dingin yang mengucur di kening dan kelenjar ludah yang terasa terlalu banyak.

“Tandai ‘Gi ! ini sepertinya lokasi yang cukup bagus buat pasang ADCP nya sekaligus juga titik selam kita. Ada sebidang pasir disitu yang cocok untuk menanam alat kita. Ani, foto itu sekarang, mumpung agak tenang arusnya.”

“Foto, memangnya ini kameranya underwater bang?”

“Bukan itu, itu yang ada di kantong dry bag, ada kamera underwaternya. Coba celupkan di sisi kanan dan kiri kapal ini dan foto saja, biar bisa nanti kita tinjau di pondokan.”

Ani melakukan apa yang Bang Fadil minta dan mengambil foto beberapa kali. Sedang kepalaku semakin pusing dan pusing. Kulepas pelampungku karena rasanya terlalu menekan dadaku. Perutku juga semakin mual, kepalaku menjulur di sisi kapal siap memberi makan ikan, tapi rasanya belum begitu final untuk kutumpahkan. Aku membeku.

“Ok Mantap !, kita gerak lagi ke titik selanjutnya, masih ada beberapa titik lagi. Ayo kep, kita mulai gerak saja.”

Sejurus kemudian kapal bergerak pelan menuju titik selanjutnya, titik ini agak dekat dengan titik yang pertama tadi, titik ini juga lebih dangkal, mungkin sekitar 5–7 meter. Serupa dengan lokasi sebelumnya, air disini jernih dan menjanjikan untuk menanam alat dan penyelaman karang. Sauh diturunkan. Bang Toni serta Bang Dani bersiap turun untuk memeriksa lokasi ini. Entah apa alasannya Bang fadil memutuskan untuk buang sauh disini dan memeriksa langsung airnya, konsentrasiku buyar ditelan liur asin yang berkali-kali kubuang ke air.

“Ayo Gi, ikut turun biar segar, sekaligus mandi sore”. Ajak Dani yang rasanya lebih mengejek daripada mengajak.

“Sudah, jangan diganggu dulu, masih untung belum muntah dia sekarang.”

“Ayo Ni, cepat turun, itu jangan lupa kamera underwaternya selalu dikalungkan di lehermu biar tidak jatuh,  dan jangan jauh-jauh dari Dani ok.”

Dani, Toni dan Ani semua sudah di air, tinggal aku dan Bang Fadil di kapal. Titik ini kutandai seadanya, yang penting tersimpan di GPS. Satu-satunya hal yang belum jelas adalah giroskop kepalaku yang masih limbung. Mual di perutku juga belum reda. Keringat mengucur di keningku dan angin sakal yang bertiup membuat badanku dingin, padahal matahari masih terik walau sudah mendoyong mau tenggelam.

Beberapa menit berdiam, kapal semakin menari dengan liar mengikuti cuaca yang semakin temaram. Angin juga semakin kuat, aku kenakan kembali pelampung agar hangat.  Bang Fadil menawariku sebungkus oreo atau jeruk untuk kukunyah. Katanya biar liurku ada rasanya, daripada rasa lambung yang masam terus membuat mual, kan lebih baik rasa coklat oreo. Teori yang tidak masuk akal, tapi wangi jeruk memang lebih segar, jadi jeruk saja yang kumakan.

“Arusnya kuat bang di bawah, dan tidak ada tempat datar seperti yang pertama tadi. Dasarnya miring dan menurun. Sulit menaruh disini dan malah bisa bergeser nanti.”

“Okey. Kita evaluasi nanti, bahaya kalau alat kena arus kuat dan bergeser, bisa hilang  ADCPnya nanti. Sudah, cepat naik dan kita bergeser ke posisi berikutnya. Kata kep, ada 2 tempat lagi yang potensial.”

Tiga kali lagi kami berhenti di lokasi lain, Pulau Menjangan sudah dikelilingi, salah satu lokasi titiknya dekat dengan dermaga Pulau Menjangan, agak riskan juga katanya meletakkan alat didekat dermaga itu. Takut hilang oleh tangan jahil tepatnya. Tidak banyak yang kudengar saat itu, pergulatan dengan mual dan pusing masih berlangsung meskipun sebenarnya tidak memburuk namun juga belum membaik.

Waktu menunjukkan pukul 17.35 saat kami berlayar pulang setelah singgah di titik terakhir di dekat dermaga Menjangan itu. Aku memandang melongo melihat matahari yang berpamit selama perjalanan pulang kami. Semua memandang cantiknya matahari yang semakin tenggelam. Ani dan yang lain jelas mulai memotret dan berswafoto. Sedang aku telah kelelahan memerangi mabuk laut ini, namun memang matahari yang terbenam jadi satu-satunya penghiburku  dari trip horor kali ini.

IMG_4499

Setiba didermaga, kelompok 2 tampak berfoto-foto dengan sunset padahal matahari sudah melewati ufuk. Aku terhuyung lemas turun dari perahu. Kakiku gemetar sehingga aku memutuskan untuk menunda pulang dan berisitirahat di dermaga dengan kelompok 2 ini. Kelompok dua ini bukan tanpa alasan menongkrong manis di dermaga, tapi memang sudah jamnya mereka untuk menjaga stasiun pasang surut baik yang otomatis maupun yang dari palem. Bacaan dari palem pasut dibaca setiap setengah jam dan bacaan dari pasut otomatis dicek setiap 3 jam sekali. Penugasan ini berlangsung setiap 6 jam. Kelompokku, kelompok 1, kebagian bertugas besok jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Kepalaku masih sedikit bergoyang saat Ahmad dari kelompok dua mengantarku pulang ke pondokan. Di pondokan, suasana ramai dengan kesibukan. Kami sebagai peserta mulai sibuk untuk menyiapkan kegiatan survei besok paginya. Sebagian menyiapkan peta dan formulir-formulir survei. Sebagian berlatih mencoba total station, echosounder atau alat survei lainnya ataupun membaca manual dan prosedur pengamatan. Aku tidak peduli, aku mau mandi dan istirahat sampai esok tiba. Saat ini, laut dan oseanografi tampaknya bukan untuk diriku.