Beberapa burung temuan Wallace di Lombok

Bagi yang pernah sedikit belajar mengenai Garis Wallace, mungkin masih sedikit hapal bentangan garisnya. Detail bentangan garis ini bisa dicari dimana saja sekarang. Salah satu posisi garisnya memisahkan Pulau Bali dengan Pulau Lombok. Dengan demikian Bali dan Lombok menjadi perbatasan dan sekaligus wilayah perantara antara flora dan fauna bagian barat dengan bagian timur Indonesia. Di Bali, Wallace tidak memiliki kesempatan banyak untuk mengeksplorasi daerahnya dengan seksama. Tapi di Lombok Wallace memiliki kesempatan lebih lama dan mendapatkan peluang untuk mendapatkan koleksi flora maupun fauna yang khas. Disini saya akan memvisualisasikan beberapa fauna Lombok temuan Wallace dari bangsa burung.

1. Oriolus Broderipii (Oriolus Chinensis)

The fine fig-trees of the avenues, where a market was held, were tenanted by superb orioles (Oriolus broderpii) of a rich orange colour, and peculiar to this island and the adjacent ones of Sumbawa and Flores.
800px-OriolusBroderipiiWolfCrop
Oriolus Broderipii seperti dilukiskan oleh Joseph Wolf. (https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole)

Burung ini banyak ditemukan di seluruh Asia, terdapat 20 subspesies yang telah diketahui dan diklasifikasikan dengan baik. Pak Wallace sendiri telah menemukan dua subspesies ini dalam perjalanannya di nusantara yaitu O. c. maculatus dan O. c. frontalis.

2. Tropidorhynchus timoriensis

All round the town were abundance of the curious Tropidorhynchus timoriensis, allied to the Friar bird of Australia. They are here called "Quaich-quaich," from their strange loud voice, which seems to repeat these words in various and not unmelodious intonations.
16296068244_49ec65fb6a_k
T. Citreogularis, subspesies dari tropidorhynchus

Burung ini merupakan sebuah burung Meliphagine dari genus Australia. Sulit menyebut namanya, apalagi menemukan foto aslinya di Lombok.

3. Megapodius Gouldii

.., and the strange moundmaker (Megapodius gouldii), are also here first met with on the traveller's journey eastward. The last mentioned bird requires a fuller notice. The Megapodidae are a small family of birds found only in Australia and the surrounding islands, but extending as far as the Philippines and Northwest Borneo. They are allied to the gallinaceous birds, but differ from these and from all others in never sitting upon their eggs, which they bury in sand, earth, or rubbish, and leave to be hatched by the heat of the sun or by fermentation. 
Megapodius
Megapodius Reinwardt, masih saudaranya gouldii dan fotonya lebih banyak daripada si Gouldii. (https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting)

4. Halcyon Fulgidus (Caridonax Fulgidus)

I obtained here eight species of Kingfishers; among which was a very beautiful new one, named by Mr. Gould, Halcyon fulgidus. It was found always in thickets, away from water, and seemed to feed on snails and insects picked up from the ground after the manner of the great Laughing Jackass of Australia.
kingsisher
Caridonax Fulgidus. (https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos)

Burung yang cantik, rasanya masih banyak ditemukan disekitar sungai di Lombok dan bahkan di kepulauan Flores.

5. Ceyx Rufidorsa

The beautiful little violet and orange species (Ceyx rufidorsa) is found in similar situations, and darts rapidly along like a flame of fire.
7616225612_7823f368be_b
Rufous-backed Kingfisher atau Ceyx rufidorsa (https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC)

Ditemukan di banyak bagian Asia Tenggara hingga Filipina.

6. Merups Ornatus

Here also I first met with the pretty Australian Bee-eater (Merops ornatus). This elegant little bird sits on twigs in open places, gazing eagerly around, and darting off at intervals to seize some insect which it sees flying near; returning afterwards to the same twig to swallow it. Its long, sharp, curved bill, the two long narrow feathers in its tail, its beautiful green plumage varied with rich brown and black and vivid blue on the throat, render it one of the most graceful and interesting objects a naturalist can see for the first time.
Merops_ornatus_-_Centenary_Lakes
Pemakan lebah yang ada di Lombok dan ada juga di Australia.(https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater)

Ornatus ini ternyata juga sudah masuk zona merah hampir punah, meskipun diberi status tidak mengkhawatirkan (Least Concern).

7. Pitta concinna 

Of all the birds of Lombock, however, I sought most after the beautiful ground thrushes (Pitta concinna), and always thought myself lucky if I obtained one. They were found only in the dry plains densely covered with thickets, and carpeted at this season with dead leaves. They were so shy that it was very difficult to get a shot at them, and it was only after a good deal of practice that I discovered low to do it. The habit of these birds is to hop about on the ground, picking up insects, and on the least alarm to run into the densest thicket or take a flight close to the ground. At intervals they utter a peculiar cry of two notes which when once heard is easily recognised, and they can also be heard hopping along among the dry leaves.

Concinna, nama yang cantik. Burung ini juga ditemukan oleh Gould tahun 1857. Penyebarannya berada di area Sunda Kecil, dimulai dari Lombok hingga pulau-pulau di timur sana seperti Pulau Alor dkk.

 

 

Pustaka :

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole

https://www.wordnik.com/words/Tropidorhynchus

http://www.finedictionary.com/Friar%20bird.html

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius_gouldii

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius

https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC

https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos

https://www.thainationalparks.com/species/rufous-backed-kingfisher

https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater

http://www.iucnredlist.org/details/22683753/0

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=B655A7C067111CBC

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Naturalis_Biodiversity_Center_-_RMNH.AVES.121556_-_Pitta_versicolor_concinna_Gould,_1857

Advertisements

Apa pun alasannya, ia telah memilih untuk melakukan Amok.

Amok_meriamwebster
Definisi dari kata Amuk/Amok/Amuck. Penggunaan kata pertama kali : Tahun 1665 (https://www.merriam-webster.com/dictionary/amok)

Banyak orang Indonesia rasanya yang tidak sadar kalau ada sumbangan bangsa kita bagi dunia pengetahuan sejak lama. Mmm, banyak juga hal lain yang tidak disadari oleh orang Indonesia sih. Tapi, dalam bidang linguistik atau bahkan antropologi, sebuah ciri khas bangsa yang setidaknya diketahui terbentang dari sisi barat hingga tengah nusantara tercatat sebagai sebuah kondisi perilaku yang, terus terang saja, absurd. Sebuah perilaku unik dari seorang individual yang rasanya masih dapat ditemui pada kondisi masa kini. Berikut salah satu dari sekian cerita yang melatar belakangi kata/perilaku definitif tersebut. Cerita dari Tuan Wallace yang unik :

Pada suatu pagi, ketika kami sedang duduk untuk menikmati sarapan pagi, pelayan Mr. Carter memberitahukan kami bahwa ada “amok” di desa. Dengan kata lain, ada seseorang yang sedang mengamuk. Perintah segera diberikan kepada masyarakat untuk menutup dan mengunci rapat gerbang pagar. Tetapi, setelah sekian lama tidak terdengar apa-apa, kami pun pergi keluar dan menyadari bahwa itu hanya kesalahpahaman. Orang yang tadi berteriak-teriak adalah seorang budak yang melarikan diri dan mengatakan bahwa ia akan melakukan “amok”, karena tuannya ingin menjualnya.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang laki-laki terbunuh di meja judi, karena setelah kalah dan tidak mampu membayar setengah dolar, ia mengatakan akan melakukan “amok”. Orang lain pernah melakukan “amok” dan telah membunuh atau melukai 17 orang, sebelum akhirnya dapat dihentikan. Dalam peperangan, satu pasukan kadang setuju untuk melakukan “amok” dan menyerang lawan habis-habisan. Cara seperti ini membuat mereka menjadi sangat tangguh bagi lawan yang tidak semenggebu-gebu mereka. Pada zaman dulu, orang-orang semacam ini dipandang sebagai seorang pahlawan atau setengah dewa yang mengorbankan diri untuk negerinya. Disini hal seperti itu disebut dengan sederhana-hanya “amok”.

Amok. Amok atau yang sekarang lebih dikenal sebagai amuk adalah sumbangan itu. Sebuah kata. Kata amuk yang sesuai, menurut KBBI, dengan deskripsi Wallace adalah Amukan n (serangan membabi buta). Konon, kata ini sudah digunakan di India selama masa kolonialisme Inggris, awalnya untuk menggambarkan seekor gajah gila yang terpisah dari kawanannya dan berlari liar menyebabkan kehancuran. Kata ini  juga konon katanya dipopulerkan oleh kisah-kisah dalam karya Rudyard Kipling, seorang terkenal di Inggris sana. Katanya penulis. Iya, betul, saya tidak tahu dengan Pak Kipling.

Definisi Kata Amuk. (KBBI., 2008)

Definisi menyeramkan (namun sesuai) lagi diberikan oleh kamus online Merriem Webster : “in a murderously frenzied state” atau dalam keadaan haus membunuh. Amuk juga didefinisikan sebagai perilaku di mana seseorang pergi mengamuk dan membunuh orang-orang sebanyaknya sampai ia sendiri terbunuh atau melakukan bunuh diri. W. W. Skeat menulis dalam Ensiklopedia Britannica 1911: “Seorang Melayu akan tiba-tiba dan tanpa sebarang sebab melurui ke jalan raya dengan sebilah keris atau senjata yang lain, dan menebas sesiapa yang dia dapat bertemu sehingga membunuhnya”. Bapak Skeat, juga katanya seorang terkenal, yang saya tidak tahu. Amok juga diartikan sebagai sebuah sindrom psikologikal yang terdaftar resmi dalam manual : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV TR),  sebuah buku manual mengenai ketergangguan mental.

Macassar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi amok. Diceritakan bahwa rata-rata terjadi satu atau dua kali amok dalam sebulan. Sebanyak lima, 10 atau 20 orang terbunuh atau terluka saat hal itu terjadi. Amok merupakan hal yang terjadi di seluruh negeri. Ini menjadi cara terhormat untuk bunuh diri di antara penduduk asli Celebes dan menjadi kebiasaan yang dipilih untuk lari dari kesulitan mereka. Orang Romawi bunuh diri dengan pedang, orang Jepang menusuk perutnya dan orang Ingggris menembak kepala mereka dengan pistol. Cara yang dipakai oleh orang bugis ini memiliki keuntungan tersendiri bagi seseorang yang berkeinginan untuk bunuh diri.

Tidak banyak, sulit bahkan, mencari sumber yang memberi keterangan mengenai perilaku ini di Makassar jaman dulu. Akan tetapi dari berita-berita masa kini, perilaku-perilaku demo dan tawuran mahasiswanya memberikan gambaran yang menarik.

Seseorang yang berpikir bahwa dirinya diperlakukan semena-mena oleh masyarakat – misalnya tidak mampu membayar hutang- diambil sebagai budak atau kehilangan anak dan istrinya dalam taruhan, ia tidak menemukan cara untuk mendapatkan kembali miliknya yang telah hilang dan kemudian menjadi putus asa. Karena menolak untuk menerima keadaan, ia akan mencoba membalas dendam kepada masyarakat dan mati seperti seorang pahlawan. Ia akan menggenggam gagang kerisnya kuat-kuat dan sesaaat kemudian menghunuskannya ke jantung seseorang. Ia kemudian akan berlari dengan keris yang berlumuran darah di tangannya dan menusukkan kerisnya ke setiap orang yang ditemuinya. Kemudian akan terdengar teriakan, amok! Amok” yang menggema di sepanjang jalan.

Tombak, keris, pisau dan senapan dikeluarkan untuk melawan orang yang melakukan amuk. Si pelaku amuk akan menggila, membunuh orang sebanyak mungkin dan kemudian mati setelah setelah kalah dikeroyok oleh banyak orang di tengah-tengah kericuhan sebuah pertempuran. Hanya mereka yang pernah mengalaminya akan mengetahu seperti apa rasanya gairah pertempuran tersebut. Tetapi bagi yang pernah menuruti hasrat melakukan kekerasan atau terlibat dalam praktik kekerasan yang brutal dan menegangkan, akan bisa membayangkan dengan baik. Hal tersebut bagaikan igauan dalam kemabukan, sebuah kegilaan sementara yang menyerap pikiran dan tenaga.

Terminologi amuk rasanya memang pantas dikaitkan dengan kondisi kejiwaan. Bagaimana tidak, korban dari perilaku ini bisa setiap orang. Setiap orang yang berpapasan dengan pelaku Amuk dapat menjadi korban, sehingga orang-orang menjadi takut dan cenderung menghindar dari pelaku Amuk. Mungkin wajar saja kalau penyebab dari pelaku amuk adalah sasaran orang yang melakukan amuk. Tapi tidak, pelaku amuk membabi buta menyerang semua orang.

Perilaku amok, menimbulkan kesan mendalam bagi para pendatang di bumi nusantara.  Kesan yang layak diberikan satu ruang dalam sebuah kamus perbendaharaan kata. Sebuah perilaku orang (Melayu) yang gila ! Tapi, yah setidaknya seorang terkenal seperti Tuan Wallace terkesan pada perilaku ini.

Dapatkah kita bayangkan, orang Melayu yang tanpa keahlian khusus, memegang keris dan memilih kematian seperti itu ? Ia nyaris dianggap terhormat dengan melakukan pembantaian berdarah dingin yang berujung pada kematiannya sendiri. Padahal ia melakukan amuk untuk lari dari masalah hidup, atau terbebas dari aib hukuman di depan umum. Ia bisa bertindak dengan hukumnya sendiri, sekaligus membalaskan dendam kepada musuh-musuhnya. Apa pun alasannya, ia telah memilih untuk melakukan Amok.

Bicara soal rasa hormat, Saya jadi teringat akan perang puputan, dalam ingatan saya yang lemah, pejuang puputan bertempur mati-matian hingga tetes terakhir darahnya untuk melawan penjajah. Melawan penjajah ! bukan kepada orang-orang biasa yang ditemuinya. Apakah hal ini bisa disebut amuk ?   Diperlukan studi yang lebih mendalam untuk mendapatkan jawaban ini.

Amok_Alamycom
Man running amok is chased, 19th century (http://www.alamy.com/stock-photo-man-running-amok-is-chased-19th-century-95881726.html)

 

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.alamy.com/stock-photo-man-running-amok-is-chased-19th-century-95881726.html

https://www.merriam-webster.com/dictionary/amok

https://en.wikipedia.org/wiki/Running_amok

https://en.wiktionary.org/wiki/amok

https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/amok

Masyarakat dan Hukum yang berlaku di Lombok Menurut A.R. Wallace

Kini. Saya harus menjelaskan mengenai karakteristik, perilaku dan kebudayaan masyarakat yang menarik ini.

Selain melakukan pengamatan mendalam mengenai fauna dan flora bahkan geografi dari daerah yang dikunjunginya, Wallace juga turut memperhatikan kondisi sosial masyarakatnya. Kali ini Wallace memperhatikan kondisi Lombok sewaktu dia tinggal disana selama lebih dari sebulan.

Penduduk asli yang tinggal di Lombock dikenal sebagai orang Sassak. Mereka berasal dari ras melayu yang penampilannya sulit dibedakan dari orang Malacca atau Borneo. Mereka memeluk agama islam dan merupakan populasi mayoritas. Namun, kelas-kelas penguasa adalah penduduk asli dari pulau terdekat, yaitu Bali dan merupakan pemeluk agama hindu. Pemerintahannya berbentuk monarki absolut, tetapi nampaknya dijalankan dengan lebih bijaksana dan moderat daripada kerajaan di negara-negara melayu pada umumnya. Ayah dari raja yang sekarang berkuasa adalah penakluk pulau ini dan rakyat tampaknya sekarang telah berdamai dengan penguasa baru mereka. Penguasa baru ini sepertinya tidak mencampuri urusan agama dan tidak membebani dengan pajak yang lebih berat daripada penguasa sebelumnya yang telah digantikan.

Dalam sejarahnya, Lombok merupakan area yang penuh pengalihan kekuasaan seperti halnya kerajaan-kerajaan di Jawa. Akan tetapi pengaruh orang Bali di Lombok memberikan pengaruh yang cukup mendalam sebelum mapannya posisi Belanda di Lombok.

Pada waktu Karangasem berkuasa penuh atas Lombok, rombongan orang-orang Bali datang ke Lombok yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu I Gusti Ketut Karangasem adik raja Karangasem sebagai pimpinan rombongan, Pedanda Gde Ketut Subali sebagai pimpinan agama, dan Mas Poleng sebagai pengurus masalah-masalah pembangunan dan pertanian. Berdirinya kerajaan Singasari (Karangasem Sasak) karena orang-orang Bali sudah semakin banyak di Lombok. Akhirnya, orang-orang Bali di wilayah kekuasaannya mendirikan beberapa buah desa yang merupakan kerajaan-kerajaan kecil seperti kerajaan Singasari (Karangasem Sasak) dengan rajanya Anak Agung Ngurah Made Karang (1720 M), kerajaan Mataram, dengan rajanya bernama Keluarga Raja dan Para Bangsawan Anak Agung Bagus Jelantik, kerajaan Pagesangan, dengan rajanya bernama Anak Agung Nyoman Karang, kerajaan Pagutan, dengan rajanya bernama Anak Agung Wayan Sidemen, dan kerajaan Sengkongo, dengan rajanya bernama Anak Agung Ketut Rai (Mulyadi, L. 2014).

Hukum yang saat ini berlaku di Lombock sangatlah keras, misalnya pencuri akan dijatuhi hukuman mati. Mr. Carter memberitahu saya bahwa pernah suatu ketika ada seorang laki-laki mencuri ceret kopi dari rumahnya. Ia ditangkap dan ceretnya dikembalikan. Laki-laki tersebut kemudian dibawa ke hadapan Mr. Carter untuk diberikan hukuman yang menurutnya layak. Para penduduk pribumi menyarankan carter untuk menusuknya dengan keris.

“karena jika tidak,” kata mereka, “dia akan merampok anda lagi.”

Membaca pernyataan Wallace ini rasanya miris kalau dibandingkan kondisi yang berlaku di Indonesia saat ini. Tidak bergeming, masih sangat keras hukumannya. Perbedaannya mungkin terletak pada jenis hukum yang mengikat, dimana rasanya hukum adat kala itu lebih kuat dibandingkan peraturan pemerintahannya. Hukum primitif yang didasarkan pada logika yang sederhana dan sering pula mistisme. Sekarang, hampir dua ratus tahun kemudian, hukumnya seharusnya lebih mengikat dan lebih teratur tapi toh orang yang DIDUGA mencuri pengeras suara mesjid saja dibakar hidup-hidup, DIDUGA berbuat mesum malah ditelanjangi. Jadi apa yang berubah ?

Akan tetapi, Mr. Carter membebaskannya, dengan sebuah peringatan bahwa jika berani masuk ke kediamannya lagi, dia pasti akan ditembak. Beberapa bulan kemudian, laki-laki yang sama mencuri seekor kuda dari Mr. Carter. Kudanya berhasil dikembalikan, tetapi pencurinya tidak tertangkap. Menurut hukum yang berlaku, siapa pun yang ditemukan berada disebuah rumah orang lain di malam hari, kecuali dengan sepengetahuan sang pemilik, boleh ditusuk. Mayatnya kemudian akan dilempar ke jalanan atau pantai dan tidak akan ada yang mempertanyakan hal tersebut.

Untungnya Mister Carter baik yah. Untungnya, wisata pantai bukan sesuatu yang ngetren waktu itu, rasanya suasana piknik di tepi pantai akan sedikit terganggu dengan kehadiran mayat-mayat yang tidak jelas. Sebenarnya, di halaman sebelumnya Wallace sudah mengungkapkan kehadiran jenasah-jenasah yang terhampar begitu saja saat Wallace menuju rumah Mr. S di pedalaman Lombok.

Dalam perjalanan, kami melewati satu atau dua kerangka manusia, yang telah dibunuh atau dihukum mati. Kerangka-kerangka tersebut berada dalam kurungan bambu yang sempit, lengkap dengan pakaian, bantal, tikar dan kotak sirih. 

Perilaku personal dari masyarakat Lombok juga diperhatikan dengan baik oleh Wallace, sayangnya Wallace tidak mengungkapkan lebih jauh hubungan intrapersonal dari masyarakat Lombok. Wallace cenderung memperhatikan kasus-kasus khusus yang menarik dan jelas berbeda dari adat yang dia kenal. Seperti kasus pria-pria Lombok yang pencemburu.

Kaum laki-laki di Lombock sangat pencemburu dan keras terhadap isteri mereka. Perempuan yang telah menikah tidak boleh menerima cerutu atau daun sirih dari orang asing, karena hukuman menanti mereka yang berani melakukan itu. Saya diberitahu bahwa beberapa tahun yang lalu seorang pedagang Inggris tinggal bersama dengan seorang perempuan Bali dari keluarga baik-baik –hubungan tersebut dianggap cukup terhormat oleh penduduk asli. Dalam sebuah perayaan, gadis tersebut melanggar hukum dengan menerima sekuntum bunga atau semacam barang sepele lainnya dari seorang laki-laki. Hal tersebut dilaporkan kepada raja (beberapa isterinya berkerabat dengan gadis itu), yang segera mengutus orang untuk mendatangi rumah si orang Inggris dan memerintahkannya menyerahkan si gadis untuk ditusuk keris.

Kalau cara seperti ini berlaku sampai sekarang, tidak terbayang berapa orang yang dihukum dengan dibunuh. Sialnya, berita pembunuhan yang didasarkan pada kecemburuan masih ada sampai sekarang.

Dalam keputusasaan, orang Inggris tersebut memohon-mohon dan menawarkan untuk membayar denda apa pun yang dijatuhkan oleh sang raja. Pada akhirnya, ia menolak untuk menyerahkan gadis tersebut, kecuali lewat jalan pemaksaan. Raja tidak ingin melakukan hal itu, karena tentunya ia berpikir bahwa penanggulangan urusan ini harus mempertimbangkan kehormatan si orang Inggris, selain kehormatannya sendiri.

Diplomasi tampaknya adalah jalan keluar paling sesuai sejak lama. Masalah selesai ?

Nampaknya raja tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Akan tetapi, beberapa lama kemudian, sang raja mengirim salah satu pengikutnya ke rumah orang Inggris tersebut. Si utusan kemudian mengisyaratkan si gadis untuk berjalan ke pintu dan kemudian mengatakan, “ini kiriman dari sang Raja,” sembari menusuk jantung si gadis.

Masalah selesai. Dengan bantuan Pembunuh Suruhan, yang setidaknya telah ada sejak dua abad lalu dan sampai sekarang ?

Pelanggaran hubungan perkawinan yang lebih serius dihukum dengan lebih kejam. Seorang perempuan dan selingkuhannya akan diikat saling memunggungi dan dilempar ke laut, dimana terdapat beberapa buaya besar yang selalu siaga melahap tubuh orang-orang yang dibuang. Eksekusi semacam ini pernah saya saksikan saat berada di Ampanam. Tetapi saya meninggalkan tempat itu sebelum prosesnya selesai, sehingga kehilangan kesempatan untuk bisa menceritakan kisah menyeramkan tersebut sebagai bumbu cerita saya yang agak membosankan.

Memang, sayang sekali Tuan Wallace tidak sempat melihatnya, proses hukuman itu jelas lebih menarik untuk diceritakan dan akan lebih menghebohkan bagi pembaca jaman itu. Sungguh keadaan yang jelas berbeda dibandingkan tempat asal Wallace yang sudah memiliki sistem hukum yang lebih teratur. Tapi setidaknya, menurut bayangan saya, Lombok kala itu barangkali lebih tertib dan teratur dibandingkan hukum modern di tempat asalnya Wallace.  Bagaimana tidak, hukuman mati adalah ujung dari banyak pelanggaran hukum di Lombok. Bagaimana tidak, selingkuh dihukum mati, dicemburui dihukum mati, maling juga dihukum mati. Yah setidaknya, populasi manusia lebih terkontrol di Lombok kala itu.

 

 

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

Absurditas Gelombang Selat Lombok

Ampenan_lombok
Posisi Pelabuhan Ampenan dan Pelabuhan Lembar (http://maps.google.com/)

Dari Bali, Tuan Wallace meninggalkan Buleleng dan menuju Lombok. Lagi-lagi, mirip dengan di bali, perjalanannya di lombok (mungkin) hanya sekedar pelesir ilmiah sembari menunggu transportasi menuju makassar. Cukup lama Wallace berada di Lombok (17 juni – 29 Agustus 1856), Wallace pun memanfaatkan kesempatan ini dengan menyelediki setiap keindahan Pulau lombok.

Leaving Bileling, a pleasant sail of two days brought us to Ampanam in the island of Lombock, where I proposed to remain till I could obtain a passage to Macassar.

Setelah meninggalkan Bileling, kami menempuh pelayaran yang menyenangkan selama dua hari menuju Ampanam di Pulau Lombock. Disana saya memutuskan untuk tinggal sampai mendapat jalur transportasi ke Macassar.

Daratan pertama yang dijumpai Wallace saat di Lombok adalah Ampenan. Pada tahun 1856 di saat Wallace datang, Kerajaan Mataram adalah kerajaan mandiri yang berada dibawah kuasa oleh Belanda melalui perjanjian pada tahun 1843, meskipun masih terdapat perlawanan dari orang-orang Sasak (orang Mataram merupakan kerajaan yang lebih banyak berisi orang keturunan orang Bali). Ampenan kala itu adalah pelabuhan utama di Pulau Lombok. Jadi sudah pasti, Wallace dan kapalnya berlabuh di Ampenan. Sekarang pelabuhan utamanya adalah Pelabuhan Lembar di sebelah selatan. Pemindahan pelabuhan ini dilakukan di tahun 1979.  Pemindahan pelabuhan mungkin sekali disebabkan oleh kondisi laut Ampenan yang lumayan ganas seperti dideskripsikan oleh Wallace waktu itu :

The bay or roadstead of Ampanam is extensive, and being at this season sheltered from the prevalent southeasterly winds, was as smooth as a lake. The beach of black volcanic sand is very steep, and there is at all times, a heavy surf upon it, which during spring-tides increases to such an extent that it is often impossible for boats to land, and many serious accidents have occurred. Where we lay anchored, about a quarter of a mile from the shore, not the slightest swell was perceptible, but on approaching nearer undulations began, which rapidly increased, so as to form rollers which toppled over onto the beach at regular intervals with a noise like thunder.

Teluk atau pangkalan laut di Ampanam sangat luas, terlindungi dari terjangan angin tenggara dan kondisinya setenang danau. Pantainya berpasir hitam dan sangat terjal. Gelombang pasang selalu sangat kuat dan menghasilkan ombak dengan ketinggian yang menyebabkan kapal-kapal mustahil untuk berlabuh. Kecelakaan serius sering terjadi di situ. Di tempat kami melepas jangkar, sekitar seperempat mil dari lepas pantai, keadaannya sangat tenang. Namun begitu mendekat, ketinggian ombak akan terus naik dan membentuk gelombang yang menghempas pantai dengan rentang waktu yang konstan dan suara senyaring petir. 
Kaart_Lombok_Expeditie_van_1894_met_Ampenan_Mataram_en_Tjakra_Negara
Peta daerah Ampenan tahun 1894 (https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram)
Iklim di Lombok kala itu rasanya belum seaneh sekarang, dengan tipe musim monsun, musim penghujan dimulai dari bulan Desember hingga februari dan puncak musim kering dimulai dari bulan Juli-September. Hal ini setidaknya masih berlangsung antara tahun 1961 hingga tahun 1990an, sebelum mengalami perubahan pola cuaca di tahun-tahun berikutnya. Wallace yang mendarat pada pertengahan Juni mulai memasuki iklim kering di Lombok dan mengalami pola cuaca peralihan dari musim penghujan menuju musim kering. 
Sometimes this surf increases suddenly during perfect calms to as great a force and fury as when a gale of wind is blowing, beating to pieces all boats that may not have been hauled sufficiently high upon the beach, and carrying away uncautious natives. This violent surf is probably in some way dependent upon the swell of the great southern ocean and the violent currents that flow through the Straits of Lombock. These are so uncertain that vessels preparing to anchor in the bay are sometimes suddenly swept away into the straits, and are not able to get back again for a fortnight. What seamen call the "ripples" are also very violent in the straits, the sea appearing to boil and foam and dance like the rapids below a cataract; vessels are swept about helplessly, and small ones are occasionally swamped in the finest weather and under the brightest skies.

Kadang-kadang, gelombang ombak naik secara tiba-tiba saat suasana benar-benar tenang. Kekuatan dan kedahsyatannya setara dengan badai puting-beliung, sehingga menghancurkan perahu-perahu yang ditambatkan terlalu rendah hingga berkeping-keping. Penduduk yang tidak berhati-hati pun sering terseret gelombang. Gelombang dahsyat ini nampaknya bergantung pada ketinggian ombak di laut besar di selatan dan arus ganas yang mengalir di sepanjang Selat Lombock. Kemunculan gelombang ombak tersebut tidak terduga dan kadang kapal-kapal yang bersiap untuk berlabuh bisa dihanyutkan ke tengah-tengah selat dan tidak dapat kembali lagi selama dua minggu ! Riak – seperti yang biasa disebut para pelaut – juga sangat ganas di kawasan selat. Laut nampak mendidih, berbuih dan berputar-putar seperti riam di bawah air terjun. Kapal-kapal besar terlempat kesana kemari, sedangkan kapal yang kecil bisa ditelan bulat-bulat bahkan di tengah cuaca yang paling baik dan langit paling cerah sekalipun.

Deksripsi barusan berbeda dari deskripsi sebelumnya yang menjelaskan fenomena gelombang besar di pantai. Deskripsi yang ini rasa-rasanya merupakan deskripsi dari sebuah gelombang yang aneh dan lain dari biasanya. Gelombang ini timbul secara tiba-tiba, tidak terduga, membuat laut tampak mendidih, berbuih dan berputar-putar. Sebagai pembaca yang awam, terlebih bagi pembaca zaman itu, deskripsi itu menjadi deksripsi yang aneh luar biasa.

Untungnya, di jaman yang sedikit lebih maju ini, deskripsi itu bisa dipahami sebagai sebuah fenomena unik yang dimiliki Indonesia di Selat Lombok. Sebuah fenomena oseanografi yang disebut sebagai gelombang internal. Bisa jadi, deskripsi dari Wallace ini adalah deskripsi pengamatan pertama didunia mengenai gelombang internal di Selat Lombok.

image11052016_250m
Foto satelit gelombang internal yang diambil oleh NASA. (https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait)

Gelombang internal adalah gelombang yang menjalar di kolom air alih-alih di permukaan laut. Gelombang internal dapat terbentuk pada laut yang terstratifikasi karena adanya perbedaan densitas. Pada Selat Lombok gelombang internal dimungkinkan karena perpaduan topografi yang khas dan properti airnya yang khusus. Selat Lombok yang merupakan salah satu jalan tol air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia memberikan stratifikasi kolom air yang kuat. Kanal Selat Lombok dengan kedalaman yang khas ditambah dengan kecepatan arus yang kencang memberikan pemicu gelombang internal. Pada sisi selatannya, terdapat sebuah bukit dasar laut dengan kedalaman kurang dari 300 meter. Kedalaman yang menonjol dibandingkan area sekitarnya yang mempunyai kedalaman 1000an meter. Air dengan kecepatan yang kencang, hingga 1.8 m/dt, yang bergerak dari selatan ke utara menabrak bukit tersebut akan terganggu sehingga menyebabkan gelombang internal (bayangkan sebuah aliran sungai yang terhalang oleh batu ditengahnya).

Susanto_Mitnik_IWs_Lombok_Oceanography_2005
Gelombang internal Lombok dilihat dalam kolom air, kedalaman 25 – 250m. (Susanto. 2005)

Menurut Susanto (2005), ciri-ciri gelombang internal di Lombok adalah panjang gelombangnya mencapai 2 – 7 km. Kecepatan fasa gelombangnya adalah 1.9 m/dt dan panjang muka gelombangnya dapat mencapai lebih dari 100 km. Rombongan gelombang internal yang diamati bisa timbul hingga 23-24 paket gelombang (train waves). Tinggi gelombangnya bisa mencapai 150 meter, sehingga yang teramati pada permukaan di Selat Lombok adalah puncak gelombangnya. Puncak dari 23-24 atau puluhan paket gelombang inilah yang membuat perjalanan dari Bali-Lombok menggunakan kapal menjadi sangat menegangkan.

I felt considerably relieved when all my boxes and myself had passed in safety through the devouring surf, which the natives look upon with some pride, saying, that "their sea is always hungry, and eats up everything it can catch."

Saya sangat lega setelah barang bawaan dan saya sendiri berhasil selamat melewati ombak yang ganas. Penduduk setempat dengan bangga menyebut bahwa, “laut mereka selalu lapar dan akan memakan apa saja yang bisa ditangkapnya.”

Laut yang lapar ! idiom yang masih terbukti sampai sekarang ini. Sebuah ungkapan yang mencerminkan interior unik Selat Lombok. Lihat saja cerita kesaksian si bule yang menyeberang dari Bali menuju Lombok dengan kapal yang relatif kecil :

lomboktrip
Cerita modern kejamnya Selat Lombok (https://www.tripadvisor.com/)

Gelombang aneh lain yang dialami Wallace adalah gelombang seismik. Gelombang seismik yang sekarang disebut sebagai gempa. Gelombang ini dialaminya di Lombok pada suatu malam. Mungkin ketika sedang beristirahat dari pelesir ilmiahnya diwaktu siang. Catatan ilmuwan belanda seperti Wichmann tahun 1918 menyebutkan bahwa gempa tersebut terjadi pada bulan Juli 1856. Sebuah gempa dengan getaran yang lumayan keras terasa.

A circumstance occurred here which appeared to throw some light on the cause of the tremendous surf at Ampanam. One evening I heard a strange rumbling noise, and at the same time the house shook slightly. Thinking it might be thunder, I asked, "What is that?" "It is an earthquake," answered Inchi Daud, my host;

Suatu peristiwa yang terjadi di sini mengungkapkan tabir penyebab kedahsyatan gelombang di Ampanam. Pada suatu malam saya mendengar bunyi gemuruh aneh. Pada saat yang sama, rumah sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira itu adalah petir, lalu saya bertanya, “apa itu?”

“Itu gempa bumi,” jawab Inchi Daud, sang tuan rumah;

Gempa bulan Juli 1856 ini kemudian dicatat oleh Wallace dengan demikian detil,  bahwa gempa tersebut terjadi pada waktu kondisi bulan ¾, atau pada waktu menuju pasang purnama dengan ombak yang lumayan tenang dan kondisi pasang surutnya berada di kondisi surut. Saking detailnya, bahkan laporan Wallace ini dimasukkan dalam laporan yang diterbitkan tahun 1918 oleh Wichmann.  Yang kemudian laporan ini dikutip lagi tahun 1974 oleh Soloviev.

ron harris
Kutipan catatan gempa oleh Wichmann tahun 1918 mengenai gempa Lombok di tengah tahun 1856. Catatan ini kemudian dikutip lagi oleh Soloviev di tahun 1974.
and he then told me that slight shocks were occasionally felt there, but he had never known them to be severe. This happened on the day of the last quarter of the moon, and consequently when tides were low and the surf usually at its weakest. On inquiry afterwards at Ampanam, I found that no earthquake had been noticed

Ia kemudian menceritakan pada saya bahwa getaran pelan sering terjadi disana, tapi ia tidak pernah mengetahui adanya getaran keras. Gempa itu berlangsung pada hari yang menandai seperempat terakhir bulan dan terjadi ketika ombak sedang rendah dan gelombang berada dalam kondisi paling lemah. Setelah bertanya-tanya lebih lanjut di Ampanam, ternyata tidak ada yang menyadari adanya gempa .

Gelombang aneh lain lagi dialami Wallace di Lombok, kali ini gelombang tersebut pasti akan mengenai dirinya seandainya dia berada di dekat pantai. Untungnya Wallace berada di Labuan Tring (sekarang Labuan Tereng). Gelombang tersebut membanjiri seisi rumah Mr. Carter yang berada tidak jauh dari Ampenan. Iya, gelombang tersebut adalah gelombang tsunami. Istilah tsunami belum dikenal saat itu jadi Tuan Wallace menyebutnya dengan nama gelombang arus. Keterangan Wallace ini menjadi salah satu catatan sejarah bahwa Lombok pernah diterjang oleh tsunami. Menurut catatan Wallace, gelombang tsunami yang menerjang Lombok saat itu adalah gelombang dengan ketinggian hampir dua meter dan menerjang rumah Mr. Carter dan kemungkinan besar banyak rumah lainnya, akan tetapi tidak dilaporkan korban jiwa maupun kerugian dalam catatan ini.

Soloviev
Catatan gelombang tsunami pada tanggal yang disebutkan Wallace, dikutip Wichmann dan kemudian Soloviev. (Soloviev, 1984)
but that on one night there had been a very heavy surf, which shook the house, and the next day there was a very high tide, the water having flooded Mr. Carter's premises, higher than he had ever known it before. These unusual tides occur every now and then, and are not thought much of; but by careful inquiry I ascertained that the surf had occurred on the very night I had felt the earthquake at Labuan Tring, nearly twenty miles off. This would seem to indicate, that although the ordinary heavy surf may be due to the swell of the great Southern Ocean confined in a narrow channel, combined with a peculiar form of bottom near the shore, yet the sudden heavy surfs and high tides that occur occasionally in perfectly calm weather, may be due to slight upheavals of the ocean-bed in this eminently volcanic region.

Pada suatu malam pernah terjadi gelombang arus yang sangat tinggi dan menggetarkan rumah. Pada hari berikutnya, terjadi gelombang laut yang sangat tinggi, airnya sampai membanjiri seisi rumah Mr. Carter, mencapai ketinggian yang tak pernah diduga sebelumnya. Gelombang yang tidak biasa tersebut kini muncul setiap saat dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi lewat pengamatan yang seksama, saya menyimpulkan bahwa gelombang terjadi pada malam ketika saya merasakan gempa di Labuan Tring, hampir 20 mil jauhnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun gelombang tinggi biasa diakibatkan oleh riak-riak di laut selatan yang terkungkung dalam terusan air dan ditambah dengan kondisi bawah laut yang tidak biasa, arus yang besar dan gelombang yang tinggi bisa terjadi kapan saja, termasuk pada hari yang cerah. Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh sedikit saja kenaikan permukaan laut didaerah yang dipenuhi gunung berapi tersebut.

Demikianlah perjumpaan Wallace dengan keanehan-keanehan perairan Lombok. Keanehan yang masih ada dan masih mengancam hingga sekarang dan dimasa mendatang bila tidak dilakukan mitigasi yang tepat. Bencana terbaliknya kapal akibat alun gelombang internal serta bahaya tsunami yang berulang jelas dapat mengancam manusia-manusia yang mendiami Pulau Lombok. Pulau Lomboknya sendiri sih jelas tidak ambil peduli dengan gelombang internal atau tsunami, malah mungkin lebih indah kalau tidak ada manusia.

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Harris, Ron; Jonathan, Jonathan (2016): Waves of destruction in the East Indies: the Wichmann catalogue of earthquakes and tsunami in the Indonesian region from 1538 to 1877. Geological Society of London.

Susanto, R & Mitnik, Leonid & Zheng, Quanan. (2005). Ocean Internal Waves Observed in the Lombok Strait. Oceanography. 18. 80-87. 10.5670/oceanog.2005.08.

Soloviev, S.L., and Ch.N. Go. 1974. A catalogue of tsunamis on the western shore of the Pacific Ocean [dates include 173-1968. Academy of Sciences of the USSR, Nauka Publishing House, Moscow, 439 p. [Canadian Translation of Fisheries and Aquatic Sciences no. 5077, 1984, translation available from Canada Institute for Scientific and Technical Information, National Research Council, Ottawa, Ontario, Canada K1A OS2, 447 p.]

Synthesis Report Risk and Adaptation Assessment to Climate Change in Lombok Island, West Nusa Tenggara Province. Available from: https://www.researchgate.net/publication/271190808_Synthesis_Report_Risk_and_Adaptation_Assessment_to_Climate_Change_in_Lombok_Island_West_Nusa_Tenggara_Province [accessed Nov 10 2017].

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait

https://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g297733-i9237-k6216204-o30-Near_sinking_of_fastboat_from_Gili_islands_to_Bali_1_3_13-Lombok_West_Nusa_Tenggara.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram

Matur Suksma Tuan Alfred Russel Wallace

Pertengahan tahun 1856, sebelum menuju Makassar, Wallace memutuskan untuk singgah ke Bali dan mencoba melihat-lihat pulau yang terpisah tidak terlalu jauh dari Jawa itu. Apa alasan sebenarnya bagi Wallace untuk mengunjungi Bali tidak disebutkan dalam bukunya yang terkenal itu. Bisa jadi Wallace hanya ingin jalan-jalan, melali, menjadi salah satu turis pertama yang mengunjungi Bali.

Pada 13 Juni 1856, setelah 20 hari pelayaran dari Singapura dengan kapal Kembang Djepoon (Bunga Jepang), kami melepas jangkar di pangkalan laut Buleleng yang berbahaya di utara Pulau Bali. Kapal layar bertiang dua ini milik seorang pedagang Cina, diawaki orang Jawa dan dinahkodai seorang kapten Inggris. Saya ke darat bersama sang kapten dan wakil pemilik kapal.

It was on the 13th of June, 1856, after a twenty days' passage from Singapore in the "Kembang Djepoon" (Rose of Japan), a schooner belonging to a Chinese merchant, manned by a Javanese crew, and commanded by an English captain, that we cast anchor in the dangerous roadstead of Bileling on the north side of the island of Bali. Going on shore with the captain and the Chinese supercargo...

Buleleng masa itu merupakan Buleleng yang telah dikuasai Belanda sejak 1849 dengan Gusti Ketut Jelantik sebagai rajanya. Bisa saja mereka mendarat di Buleleng untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina, tapi karena saat itu rasanya wisata lumba-lumba belum ada, pendaratan di Buleleng besar diduga karena wilayah itu sudah menjadi milik Belanda dan aman untuk mendarat bagi sesama pelancong seperti Tuan Wallace. Pos pemeriksaan KTP waktu itu diadakan di Buleleng, alih-alih di Gilimanuk seperti sekarang ini. Buleleng kala itu adalah sebuah pelabuhan ternama di utara Pulau Bali. Pemeriksaan/pelaporan jelas perlu, apalagi melihat kapal yang isinya gado-gado begitu, nama kapalnya bernama Jepang, dimiliki orang Cina, berawak Jawa, berkapten dan berpenumpang Inggris.

ships-harbour-Singaraja-1927
Perairan pelabuhan Buleleng tahun 1927. Kapal uap bersandar ditengah, untuk mendarat ke pantai diperlukan bantuan kapal kecil nelayan. (http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html)
Kami disambut dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Bandar Cina, atau kepala saudagar, dimana kami melihat penduduk setempat berpakaian menawan. Mereka menyandang keris yang nampak mencolok dengan gagang besar terbuat dari gading, emas atau kayu yang dipelitur dan diasah halus. Orang-orang Cina tidak lagi mengenakan pakaian tradisional, melainkan pakaian Melayu, sehingga sulit dibedakan dengan penduduk asli. Hal ini merupakan suatu inidikasi hubungan erat antara ras melayu dan ras mongol.

..., I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood, I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood. The Chinamen had given up their national costume and adopted the Malay dress, and could then hardly be distinguished from the natives of the island--an indication of the close affinity of the Malayan and Mongolian races.

Harus diakui, di banyak area pelabuhan di Indonesia, terutama pelabuhan-pelabuhan penting, selalu saja akan ada orang cina yang menetap disana. Tidak perlu heran, karena ini konon adalah bakat lahiriah mereka. Pelabuhan banyak barang dan banyak barang pasti ada perdagangan. Hal yang sama juga berlaku di Buleleng, saat dikunjungi oleh Wallace mereka telah menjadi seorang bandar atau saudagar besar dan telah menyatu dengan masyarakat sekitar. Menjadi seorang bandar tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Proses yang jelas memerlukan hubungan yang erat seperti yang telah disaksikan dan diakui oleh Wallace. Hingga kini, bukti eratnya hubungan itu masih bisa disaksikan di Buleleng melalui perwakilan Klenteng Ling Gwan Kiong yang dibangun pada tahun 1873.

DSC_0129
Klenteng Ling Gwan Kiong di daerah Buleleng, lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Buleleng lama. (http://tradisitridharma.blogspot.co.id/2015/01/titd-ling-gwan-kiong-singaraja-bali.html)
Kami kemudian kembali berjalan-jalan melihat desa. Tempat ini sangat suram dan membosankan, hanya terdiri dari kumpulan jalan sempit yang dibatasi dinding tanah lempung yang mengelilingi rumah-rumah dari bambu. Kami memasuki beberapa rumah dan disambut dengan sangat hangat oleh penghuninya.

... and we then took a walk to look at the village. It was a very dull and dreary place; a collection of narrow lanes bounded by high mud walls, enclosing bamboo houses, into some of which we entered and were very kindly received

Dibandingkan perumahan di Inggris atau bahkan di Singapura kala itu, pedalaman indonesia Hindia Belanda pastilah jauh perbandingannya. Komentar yang lebih menenangkan diutarakan Wallace ketika dia berjalan-jalan di Batavia beberapa tahun kemudian. Untung saja Tuan Wallace tidak bicara semacam itu didepan yang punya rumah, kalau tidak, sudah pasti bukan sambutan hangat yang diterimanya.

Selama dua hari saya menetap disana, saya sering berjalan-jalan di sekitar desa untuk menangkap serangga, menembak burung, serta mengamati kealamian dan kesuburan tanah disini. Saya sangat senang dan takjub, karena hingga perjalanan saya ke Jawa beberapa tahun kemudian , saya tidak pernah melihat daerah yang sangat indah dan asri di luar Eropa. Dataran yang sedikit bergelombang itu memanjang dari pantai laut sampai sekitar 10 atau 12 mil ke darat, dibatasi oleh barisan bukit yang ditumbuhi pepohonan dan dikelola dengan baik. Rumah-rumah dan perkampungan yang dikelilingi jajaran rapat pohon kelapa, asam dan pohon buah lainnya, tersebar di semua penjuru.

During the two days that we remained here, I walked out into the surrounding country to catch insects, shoot birds, and spy out the nakedness or fertility of the land. I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a wide range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of cocoa-nut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction;

Perjalanan Wallace di Bali barangkali berada di area Buleleng-Singaraja saja, mengingat waktunya yang terbatas.

Di antara rumah-rumah dan perkampungan tersebut, terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di lahan-lahan pertanian terbaik di Eropa. Seluruh permukaan wilayah tersebut dibagi menjadi petak-petak yang tidak rata dan mengikuti garis permukaan tanah sehingga sebuah petak dapat berada beberapa kaki lebih tinggi atau lebih rendah dari petak lainnya.  Lebar tiap petak kurang lebih beberapa acre dan ketinggiannya juga disesuaikan dengan sempurna. Setiap petak sawah bisa dialiri atau dikeringkan sesuai keinginan, dengan memanfaatkan selokan dan terusan kecil yang airnya bersumber dari gunung. Saat itu di setiap petak terdapat bibit panen dalam fase pertumbuhan yang berbeda-beda, beberapa diantaranya hampir siap untuk dipanen. Semuanya sedang mekar dan memberikan sensasi warna hijau yang indah.

The whole surface of the country is divided into irregular patches, following the undulations of the ground, from many acres to a few perches in extent, each of which is itself perfectly level, but stands a few inches or several feet above or below those adjacent to it. Every one of these patches can be flooded or drained at will by means of a system of ditches and small channels, into which are diverted the whole of the streams that descend from the mountains. Every patch now bore crops in various stages of growth, some almost ready for cutting, and all in the most flourishing condition and of the most exquisite green tints.

Subak. Rasanya hampir 98% lebih yakin dan sudah pasti bahwa sistem persawahan subak inilah yang dilihat oleh Wallace. Sebuah pemandangan akan sistem yang abadi, karena sampai sekarang toh itu turis-turis bikin macet jalanan Bali hanya untuk mengagumi persawahan dengan sistem yang sama di Tegalalang, Ubud. Penghormatan wajib diberikan bagi para warga Bali karena telah melestarikan adatnya dengan sukses.

Subak di Tegalalang (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html)
Tepi jalan ditumbuhi oleh kaktus berduri dan Euphorbia tak berdaun. Namun tanah di daerah ini diolah dengan sangat intensif sehingga menyebabkan sedikitnya jumlah tanaman asli, kecuali di sepanjang pantai. Kami melihat sapi-sapi dari ras lokal unggulan, yang merupakan keturunan dari banteng (Bos Sondaicus) Jawa, digiring oleh bocah-bocah setengah telanjang, atau diikat dengan tali di padang rumput. Mereka adalah hewan besar yang anggun, berwarna cokelat muda dan berkaki putih serta memiliki sebidang kulit berbentuk oval yang juga berwarna putih, nampak mencolok di bagian belakang. Sapi liar dari ras ini disebut-sebut masih bisa ditemukan di daerah pegunungan.

The sides of the lanes and bridle roads were often edged with prickly Cacti and a leafless Euphorbia, but the country being so highly cultivated there was not much room for indigenous vegetation, except upon the sea-beach. We saw plenty of the fine race of domestic cattle descended from the Bos banteng of Java, driven by half naked boys, or tethered in pasture-grounds. They are large and handsome animals, of a light brown colour, with white legs, and a conspicuous oval patch behind of the same colour. Wild cattle of the same race are said to be still found in the mountains.

Intensif dan konsisten adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengolahan tanah di Bali. Sebuah konsistensi yang telah diganjar penghargaan Unesco World Heritage Site tahun 2012 lalu. Sesuatu yang setidaknya telah berlangsung 161 tahun (1856–2017) bila dihitung dari saat Wallace mengunjunginya. Entah dimulai sejak kapan, katanya sejak abad ke 9 sih.

Didaerah yang sudah banyak diolah ini, tidak heran jika saya tidak bisa banyak meneliti flora dan faunanya. Ketidaksadaran saya mengenai pentingnya pengaruh lokasi ini terhadap teori persebaran geografis fauna membuat saya tidak mendapatkan beberapa jenis fauna yang ternyata tidak pernah saya temui lagi. Salah satunya adalah burung pemintal berkepala kuning terang, yang membangun lusinan sarang berbentuk botol di pohon-pohon dekat pantai. Burung spesies Ploceus Hypoxantus tersebut berasal dari Jawa dan disini berada di ujung paling barat Pulau Bali.

 In so well-cultivated a country it was not to be expected that I could do much in natural history, and my ignorance of how important a locality this was for the elucidation of the geographical distribution of animals, caused me to neglect obtaining some specimens which I never met with again. One of these was a weaver bird with a bright yellow head, which built its bottle-shaped nests by dozens on some trees near the beach. It was the Ploceus hypoxantha, a native of Java; and here, at the extreme limits of its range westerly,
Asian_Golden_Weaver_(Ploceus_hypoxanthus)_-_male
Pejantan manyar emas (https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver)

Burung manyar sebenarnya adalah burung yang cukup umum di Jawa maupun Bali, orangtua saya yang dulu suka main di sawah sewaktu kecil tahu dengan burung Manyar. Walau demikian, keberadaannya semakin sulit dilihat sekarang, apalagi melihat yang jenis Manyar Emas atau Ploceus hypoxanthus. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tuntutan masyarakat modern yang senangnya mewarnai anak ayam dengan cat warna-warni atau mengikat-ikat burung emprit kecil untuk dijual ke anak SD. Mungkin minder sama burungnya sendiri yang tidak warna warni.

Saya menembak dan mengawetkan spesimen-spesimen seperti burung murai berekor panjang, burung kepodang dan beberapa burung jalak. Semuanya ditemukan di Jawa dan beberapa dari mereka memang hanya bisa ditemukan disitu. Saya juga berhasil mendapatkan banyak kupu-kupu cantik, bersayap putih dengan hiasan warna hitam dan jingga tua, yang merupakan jenis serangga paling umum di jalan pedesaan. Diantara kupu-kupu tersebut terdapat spesies baru, yang telah saya namakan Pieris Tamar.

I shot and preserved specimens of a wagtail-thrush, an oriole, and some starlings, all species found in Java, and some of them peculiar to that island. I also obtained some beautiful butterflies, richly marked with black and orange on a white ground, and which were the most abundant insects in the country lanes. Among these was a new species, which I have named Pieris tamar.
Cepora temena tamar
Pieris Tamar atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar (http://lithops.com.ua/index.php?route=product/product&path=59_64_74&product_id=2126)

Sudah pasti Pieris Tamar akan selalu terlewat dari perhatian ketika mengunjungi Bali. Akan tetapi, sekarang saya sudah tahu bahwa kupu-kupu cantik ini adalah hasil penamaan dari Tuan Alfred R. Wallace yang terkenal itu dan layak untuk diperhatikan lain kali saya mengunjungi Bali. Setidaknya, jadi alasan yang bagus kalau ketahuan tertangkap memelototi bule-bule berbikini.

Cepora temena tamar-XL
Foto Pieris Tamar di alam atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar ( https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/)

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Buleleng

https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/

http://lithops.com.ua/index.phproute=product/product&path=59_64_74&product_id=2126

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/.html

 

http://tradisitridharma.blogspot.co.id/

https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html

http://zonakicaus.blogspot.co.id/2014/07/mengenal-burung-manyar-jantan-dan-betina.html