Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.

Selamat Bagi Semua !

Saya selalu tergelitik dan merasa aneh kalau ada orang yang mengucapkan kalimat SELAMAT yang disertai … BAGI YANG MERAYAKAN. Bagi saya, penyertaan kalimat “bagi yang merayakan” itu sebenarnya cenderung egois dan individualis (kalau tidak mau disebut sebagai golongan).  Bagaimana tidak, kalimat itu seakan memberi sekat/batasan bahwa hanya mereka lah yang patut diberikan selamat berhari raya. Padahal mereka sekaligus saya juga mendapat berkah dari perayaan itu.

Berkah yang berupa hari libur, hari untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman.

Berkah terusan didapatkan ketika orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang merayakannya. Makanan, hidangan enak hingga bonus gaji juga kita dapatkan ketika hari raya itu.

Seminimalnya, mereka yang merayakan akan lebih bahagia ketika tiba hari raya itu. Teman atau orang yang bahagia jelas akan membuat saya bahagia juga. Jadi, ketika ada satu hari raya tiba, sudah jelas saya akan bahagia dan merayakannya juga.

Lagipula, kalau mau adil, kenapa hanya sewaktu hari raya ibadah saja yang disertai “bagi yang merayakan”, harusnya semua ucapan selamat disertai begitu juga dong…

selamat ulang tahun,… bagi yang merayakan.

selamat ujian,… bagi yang merayakan.

selamat atas kelulusannya,…bagi yang merayakan.

selamat atas pernikahannya,… bagi yang merayakan.

selamat atas perceraiannya,… bagi yang merayakan.

Teuna Senggelisa

2015-08-08-19-13-49Peradaban manusia selalu bermulai dari air. Air adalah sumber kehidupan. Kota-kota besar di dunia didominasi oleh kota-kota yang berbatasan dengan air, apakah itu air laut, danau maupun sungai. Serupa juga di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Pontianak hingga Jayapura berada di dekat air.

Kota-kota besar sejatinya adalah sebuah desa/kampung yang besar yang dahulunya adalah hanya sebuah kampung kecil yang biasa-biasa saja. Di Indonesia, serupa juga dengan banyak tempat lain di dunia, kampung-kampung kecilnya masih banyak yang merupakan kampung pesisir laut atau kampung sungai. Khusus di bagian Indonesia sebelah timur sana, rasanya kampung pesisir laut lebih mendominasi dibandingkan kampung sungai.

Di kampung pesisir tersebut, hidup serasa berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar. Pagi dimulai bukan dengan bunyi gerung mesin atau klakson tapi cuitan nyaring burung atau unggas yang kelaparan. Matahari yang mendoyong, menegak dan mendoyong lagi di sore harinya selalu dirasakan setiap penghuni kampung yang mengisi hari-harinya dengan mengerjai tanah dan airnya.

2015-08-08-19-15-31

Benda-benda angkasa bagi masyarakat kampung pesisir merupakan sebuah “bel sekolah” yang menjadi acuan aktivitas hariannya. Matahari pagi dan sore sudah jadi absensi sidik jari bagi masyarakat kampung pesisir. Pada jam-jam tersebut tertuang waktu-waktu untuk sedikit merenung dan menikmati, waktu-waktu yang sering dilupakan masyarakat di kampung-kampung mahabesar.

Senja di pesisir menjadi waktu kesukaan banyak orang, matahari yang merebah memberikan permainan warna yang indah. Warna suasana yang membolehkan masyarakat untuk berkumpul sejenak. Beristirahat dari aktivitas yang melelahkan seharian tadi.

Untuk bermain, untuk duduk mengobrol bersama, untuk menikmati sore ditemani minuman hangat, bersama-sama di Teuna Senggelisa.

Si Pecinta Alam sejati.

wallace4
Patung Alfred Russel Wallace di Darwin Centre, foto oleh Anthony Smith.

Obrol – obrol soal pecinta alam yang lumayan ramai dibicarakan belakangan ini, saya jadi teringat pahlawan saya yang bernama Wallace yang merupakan (menurut saya) pecinta alam yang sesungguhnya. Bukan, bukan Wallace yang dimainkan Mel Gibson di film Braveheart itu. Alfred Russell Wallace adalah pahlawan pecinta alam yang saya maksud.

wallace1
Buku Malay Archipelago karangan A.R.W yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. (https://www.tokopedia.com/buku-murah/kepulauan-nusantara)

Wallace yang ini sebenarnya adalah seorang virtuoso dalam hal “cinta alam”. Wallace sebenarnya tidak berkesempatan mengenyam pendidikan resmi ilmu botani atau ilmu ekologi. Ketertarikannya dipengaruhi oleh bacaan yang didapatkannya di perpustakaan. Petualangan dan eksplorasi para ilmuwan seperti Darwin di Kapal Beagle semakin membuatnya tertarik untuk belajar (secara otodidak) mengenai ilmu-ilmu tersebut.

Wallace datang ke nusantara sekitar tahun 1854 hingga tahun 1862. Tidak ada waktu berkenes-kenes baginya di nusantara ini. Ekspedisinya dimulai dari wilayah Malaka hingga delapan tahun kemudian. Ekspedisinya di nusantara ini mengumpulkan ribuan kalau tidak ratusan ribu jenis binatang sebagai bahan koleksi dan bahan berpikirnya.

wallace5
Jenis spesimen yang dikumpulkan oleh A.R.W, burung Hornbill atau Rangkong. Foto oleh Fred Edwards.

Setiap ekspedisi, baik saat itu ataupun masa kini, jelas tidak berbiaya murah dan tidak tanpa kelengkapan yang banyak. Akan tetapi, sebagai seorang bule inggris di abad ke 19 walaupun terbilang pas-pas an di negara asalnya, Wallace jelas lebih terpandang di banyak daerah di nusantara yang masih menjadi jajahan VOC atau Portugis. Dengan beberapa keping perak dilengkapi ijin dari otoritas bule didaerah itu, Wallace dapat memperoleh banyak anak buah (baca : kuli, kuli angkut dan babu) yang bisa diperintahnya dengan santai. Tapi bukan berarti Wallace ditandu atau dituntun dalam penjelajahannya. Wallace secara aktif menjelajah hutan belantara nusantara yang dibantu oleh asisten-asistennya.

wallace7
Basecamp A.R.W di Waigeo .. ? Wallace ada dibawah lantai gubuknya mengkapitulasi data-data yang ditampilkan spesimen-spesimennya.

Wallace dalam setiap bagian dari penjelajahannya di Nusantara jelas membutuhkan basecamp atau markas sementara yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi tempat untuk menyimpan specimen-spesimennya. Basecamp yang dipilih oleh Wallace bervariasi dari rumah di pinggiran kota yang dekat dengan hutan hingga sebuah pondokan yang berada jauh didalam hutan belantara.

wallace3
Desain dari patung Wallace di Darwin Centre. Ini adalah ilustrasi pakaian yang digunakan Wallace kala itu, digunakan sebagai referensi patung Wallace

Akan tetapi, kala itu, jelas tidak ada tas ransel eiger, sepatu bersol vibram, pisau swiss victorinox dan GPS atau google maps. Alih-alih semua hal itu, yang ada adalah parang, sepatu boot berat, senapan dan pakaian ala kadarnya untuk menghalau nyamuk dan serangga yang berisik di kuping dan tentu saja ketertarikan mendalam terhadap misteri alam.

Penjelajahan hutan pada abad 19 jelas sekali merupakan hal yang sangat menantang. Orang waras mana (terlebih lagi si kulit putih) yang mau pergi ke hutan, membuka jalan hutan, menunggu dan mencari untuk mengumpulkan burung, serangga hingga monyet besar untuk dibawa ke kota. Di mata orang lokal Wallace pastilah disebut orang gila, terlebih lagi ketika keluar dari hutan dengan banyak sangkar-sangkar atau kotak yang berisi spesimen-spesimen yang masih hidup ataupun mati. Kesukaran yang dialaminya jelas memberikan hambatan tapi bukan sesuatu yang bisa menghalanginya.

Wallace bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan belantara, mengumpulkan spesimen-spesimennya yang bervariasi. Spesimen-spesimen tersebut merupakan data-data yang bertumpuk dan (jelas) menyentil pikiran Wallace mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat pada spesimen-spesimen tersebut. Kejelian Wallace sebagai seorang pengamat alam sejati jelas teruji setelah mampu melihat variasi yang kecil pada berbagai spesies spesimen yang berbeda yang dikumpulkannya di banyak daerah.

wallace6
Teropong yang digunakan Wallace. Pecinta alam sekarang masih ada yang bawa teropong ??

Ketertarikannya pada alam memberikannya kredo yang mengakar kuat akan pentingnya penyelidikan lebih lanjut mengenai perubahan-perubahan secara spasial pada spesimen-spesimen yang diamatinya. Hal ini pada akhirnya menuntunnya pada teori evolusi lebih dahulu dari Darwin, yang disuratinya sekitar tahun 1857 untuk bertukar pikiran soal evolusi.

Pustaka :

https://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace

http://wallacefund.info/

Images above is available at Gallery at wallacefund.info (https://get.google.com/albumarchive/110137695121351600738?source=pwa)

Melihat melalui citra satelit

Sebagai seorang pelajar ilmu alam yang masih terus belajar, saya mendapati diri saya selalu terpukau pada gambaran alam yang selalu dinamis. Salah satu dinamika alam yang selalu menarik perhatian saya  adalah persoalan keruangan yang selalu berubah terhadap waktu. Perubahan spasial dari suatu wilayah pada satu waktu dan pada waktu yang lain memberikan suatu cerita akan proses-proses yang terjadi pada wilayah tersebut dalam rentang waktu yang diberikan.

Citra satelit yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat jelas memudahkan untuk melihat dan mempertimbangkan posisi kita di alam. Program gugel erd yang terpasang di laptop saya ini pun sering sekali dipakai untuk melihat posisi dan sinyal perubahan yang terjadi di alam. Peta gugel ini memang keren, saat ini gugel telah memperbaharui koleksi peta citra satelit yang dimilikinya sejak dari tahun 1984 hingga 2016. Kompilasi citra satelit ini dimungkinkan setelah gugel menggandeng kerjasama dengan USGS (United States Geological Society) untuk data citra LANDSAT, NASA dan data citra Sentinel-2 dari program Copernicusnya ESA (European Space Agency).

Pada gugel erd, salah satu fitur yang sering saya pakai adalah fitur timeline. Tombol ini merupakan tombol mesin waktu yang dapat digunakan untuk melihat penampakan suatu wilayah pada masa yang lampau. Memang tidak semua daerah Indonesia memiliki data yang cukup panjang untuk dibandingkan citranya dan kebanyakan tidak akan ada yang sampai pada tahun 90an. Namun dengan pengamatan beberapa tahun saja, sebenarnya sudah cukup memberikan cerita pada proses-proses yang telah terjadi pada daerah tersebut.

ge1
tool timeline pada program gugel erd

Sebagai contoh, belum lama ini saya mendengar cerita dari seorang penduduk di sebuah pulau, bahwa ada sebuah pulau (yang tidak jauh dari pulau tempat dia tinggal) yang seringkali berubah bentuk dan berpindah-pindah pasirnya padahal pulau yang dimaksud adalah pulau yang tidak berpenghuni. Tanpa pengetahuan mengenai ilmu alam, rasanya janggal sekali mendengar pulau yang bisa berubah bentuk sendiri.

Tapi apa bukti terdekat yang bisa dilihat kalau pulau itu memang berubah bentuk, sang pencari gugel tidak memberikan satu pun makalah ilmiah mengenai pulau tersebut, padahal huruf O di gugelnya sudah terlampau banyak. Makalah ilmiah lainnya jikalau ada pastinya hanya berada di perpustakaan-perpustakaan saja. Menelitinya sendiri ? Sudah jelas penelitian membutuhkan waktu yang demikian panjang, belum lagi kepintaran kepala saya ini malah lebih sering membuat pusing sendiri, alih-alih membuktikan sesuatu secara ilmiah.

Sebagai pelajar ilmu alam yang amatiran dan suka menelikung, alhasil saya berpaling ke timeline gugel erd di laptop saya. Tidak butuh waktu lama, citra pulau yang dimaksud langsung ditampilkan oleh si gugel erd. Pada kasus ini citra paling muda yang didapatkan adalah citra tahun 2008 hingga yang paling tua tahun 2015 kemarin. Lumayanlah 7 tahun.

Mengamatinya pelan-pelan, tujuh gambar yang mewakili tujuh tahun, memang terlihat ada perubahan bentuk dari pulau tersebut. Kembang kempis pasir pulau dan batas darat dengan laut yang jelas berbeda mengindikasikan telah terjadinya proses alam yang terus menerus pada pulau tersebut.

Sebagai pelajar ilmu alam yang masih amatir, proses alam jelas berperan disitu. Seorang yang mendalami ilmu laut tentu tahu disana ada peran angin, gelombang, arus hingga iklim yang memainkan peran penting dalam perubahan topografi horisontal maupun vertikal.  Peran dari proses pasang surut yang bersifat harian, jelas berpengaruh, bisa saja pada saat citra itu diambil lautnya sedang surut dan pada saat pasang merendam sebagian pulau yang notabene merubah bentuk pulau bila dilihat dari atas. Belum lagi faktor citra satelitnya itu sendiri yang mempunyai kesalahan atau bias pengukuran dari sensor-sensor satelit yang berbeda-beda.

Akan tetapi indikasi perubahan bentuk pulau tersebut memang nyata telah ada, si bapak yang bercerita kemarin itu tidak membual saja dan bukan sesuatu yang acapkali gaib, ini tidak lain berkat kecanggihan si gugel tea.

Pembuktian lebih lanjut lanjut tentu saja memerlukan sebuah penelitian untuk lebih memahami proses-proses yang mempengaruhi perubahan bentuk pulau tersebut. Hal ini, penelitian, jelas membutuhkan waktu dan tekad yang lebih dari sekedar membuka program gugel erd. He he he…

payung_2008
Pulau tahun 2008
payung_2009
Pulau tahun 2009. Berbeda dengan tahun 2008?
payung_2010
Pulau tahun 2010.
payung_2011
Pulau tahun 2011. Tidak tampak lagi kegiatan manusia disitu.
payung_2012
Pulau tahun 2012. Lebih memanjang..?
payung_2013
Pulau tahun 2013.
payung_2015
Pulau tahun 2015. Pulaunya nampak mempunyai ekor.
payung_2015_2
Pulau tahun 2015 dalam warna. Cantik sekali muka gelombang yang mengelilingi pulaunya, tampak berbelok sedikit di ujung kirinya.

 

Pustaka :

Google Earth Images atau earth.google.com

www.gearthblog.com/landsat-sentinel-2-data-now-google-cloud.html&id=ma-170127080050-dc076903

www.land.copernicus.eu/about&id=ma-170127075921-591dea56

www.earthengine.google.com/timelapse&id=ma-170127080141-c263be94