Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.

Leg 1 : Terpapas dan teranggul gelombang

“Jadi yang ikut kapal siapa aja, Fad ?“ Suara Pak Ari Tayra memecahkan kesibukan di dermaga.

“Saya, Dani, Toni sama Anggi dan Ani Pak jadinya, kita sebentar saja sih, cuma meninjau cepat lokasi yang cocok untuk ADCP dan penyelaman nanti. Kalau sempat kita pasang GPS soundernya di Menjangan nanti.”

“Oh ok, jadi berlima saja yah, iya bagus itu buat Anggi sama Ani biar bisa belajar sama kamu ‘Fad”

“Iya pak, biar latihan jadi asisten tahun depan. Bapak mau ikut nih?

“Ah tidak dulu, saya mau di sini saja, melihat yang pasang pasut sama kalibrasi CTD nya.”

Apa, asisten ? asisten praktik survei oseanografi ? di tahun depan ? Apa tidak salah omongan mereka. Itupun kalau aku masih hidup dan selamat dari perjalanan sore ini. Kapal yang sudah bersandar di dermaga itu jelas tidak besar dan tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan yang mengutamakan kenyamanan. Perahu ini, Tirta Dewata 2 namanya, adalah perahu yang digunakan untuk menghubungkan dan mengangkut apapun dari/dan menuju keramba ditengah untuk keperluan budidaya mutiara. Pak Wayan, yang mencarikan kapal ini, pada akhirnya juga bercerita bahwa kapal utamanya digunakan untuk keperluan budidaya tapi sesekali ketika musim turis tiba, perahu ini dipakai juga untuk mengantar wisatawan ke Pulau Menjangan. Singkatnya, kapal ini sebenarnya adalah ojek air, bukan kapal survei. Bodi kapalnya sudah mulai melapuk dan palkanya sedikit tergenang oleh air dan oli, baunya lebih mirip kuburan ikan daripada kapal survei. Akan tetapi, sekali penglihatan, Bang Fadil sudah merasa nyaman dengan kapal ojek itu sedangkan aku masih termangu di pinggiran dermaga.

Ani langsung melompat ke dalam perahu, begitu juga Bang Fadil. Bang Dani setengah berteriak bilang kepadaku untuk mengoper pelampung dan peralatan lain ke kapal.

“Ayo, kenapa diam saja seperti habis ikut kuliah gelombang, ini sudah mau berangkat kita. Keburu sore nanti.” Seperti biasa, kerasnya suara Bang Fadil melebihi suara mesin yang mulai menderu. Mungkin itu sebabnya dia selalu seakan berteriak yah. Terlalu tuli dengan suara mesin.

Ani menggandeng tanganku seraya aku meloncat sedikit ke haluan kapal. Aku langsung memegang tiang atap perahu dan duduk bersandar di tiang haluan, di muka kemudi dekat jangkar berkarat pengundang tetanus. Pelampung telah kupakai, sebenarnya ingin aku melepasnya, karena yang lainnya tidak memakainya. Tapi aku masih takut.

“Tenang saja ‘gi, ini tidak lebih menyeramkan daripada kora-kora di dufan. Ani, jaga yah itu temen kamu !”. Ucapan Toni ini jelas bukan ucapan yang menenangkan, naik kora-kora di dufan saja aku tidak berani apalagi naik perahu sekecil ini di laut penuh gelombang begini.

Pikiranku kualihkan pada GPS Oregon yang telah kunyalakan untuk melihat posisi kita di laut nanti. Angka koordinatnya dan tampilan jarum posisinya belum berubah karena kita masih belum jauh dari dermaga. Perlahan Tirta Dewata berjalan pelan keluar dari area dermaga, mengayun perlahan sesuai alun gelombang. Cuacanya baik kata pak kapten, ombaknya masih kecil. Ya menurut dia. Menurutku, ini lebih mirip gelombang badai, angin kencang dan haluannya teranggul-anggul. Cipratan air sewaktu perahu memapas ombak sesekali mengenai kening dan membasahi geladak.

IMG_2549

Aku masih duduk bersandar pada tiang perahu, memperhatikan lebih teliti layar 4 inci GPS Oregon yang merekam pergerakan perahu daripada melihat suasana perairan sekitar. Dermaga tadi telah aku tandai dan jalannya perahu yang digambarkan melalui tanda segitiga terekam secara otomatis.

“Sip, dilihat terus yah, nanti langsung ditandai saja kalau kita menemukan titiknya. Jangan sampai hilang sinyal ! Okey.”  Bang Fadil kali ini benar-benar berteriak karena suara mesin semakin bising.

“Ok.” Cuma itu kata yang keluar dari mulutku, tangan kiriku memegang GPS, tangan kananku memegang tiang. Sesekali juga aku memandang laut serta angin yang meniup wajahku, agak jauh didepan Pulau Menjangan terlihat bagai oase. Kaki ini sudah merindukan daratan. Tapi, bau laut cukup memberikan efek penenang kalau tidak sedang mencium bau asap solar serta bisingnya mesin Yanmar kuno itu.

Setidaknya itu yang kurasa sebelum kapal berhenti dan mesinnya dimatikan. Kami sudah sampai di belakang Pulau Menjangan. Kami berhenti sekitar 200-300 meter dari sisi pantainya. Disini menurut kapten adalah tempat yang sering jadi snorkeling atau selam. Kapal mulai bergerak tidak karuan, menurut saja pada angin dan arus yang membawanya. Kepalaku mulai pusing dan rasa mual mulai timbul di perutku.

Airnya biru sebiru air yang jernih sejernihnya seperti yang sering kulihat di layar ponselku melalui instagram. Dari atas perahu kami melihat bahwa di kedalaman terdapat formasi karang yang cukup besar dan sepertinya cukup luas. Cuma warna biru itu yang bisa menghiburku di tengah-tengah keringat dingin yang mengucur di kening dan kelenjar ludah yang terasa terlalu banyak.

“Tandai ‘Gi ! ini sepertinya lokasi yang cukup bagus buat pasang ADCP nya sekaligus juga titik selam kita. Ada sebidang pasir disitu yang cocok untuk menanam alat kita. Ani, foto itu sekarang, mumpung agak tenang arusnya.”

“Foto, memangnya ini kameranya underwater bang?”

“Bukan itu, itu yang ada di kantong dry bag, ada kamera underwaternya. Coba celupkan di sisi kanan dan kiri kapal ini dan foto saja, biar bisa nanti kita tinjau di pondokan.”

Ani melakukan apa yang Bang Fadil minta dan mengambil foto beberapa kali. Sedang kepalaku semakin pusing dan pusing. Kulepas pelampungku karena rasanya terlalu menekan dadaku. Perutku juga semakin mual, kepalaku menjulur di sisi kapal siap memberi makan ikan, tapi rasanya belum begitu final untuk kutumpahkan. Aku membeku.

“Ok Mantap !, kita gerak lagi ke titik selanjutnya, masih ada beberapa titik lagi. Ayo kep, kita mulai gerak saja.”

Sejurus kemudian kapal bergerak pelan menuju titik selanjutnya, titik ini agak dekat dengan titik yang pertama tadi, titik ini juga lebih dangkal, mungkin sekitar 5–7 meter. Serupa dengan lokasi sebelumnya, air disini jernih dan menjanjikan untuk menanam alat dan penyelaman karang. Sauh diturunkan. Bang Toni serta Bang Dani bersiap turun untuk memeriksa lokasi ini. Entah apa alasannya Bang fadil memutuskan untuk buang sauh disini dan memeriksa langsung airnya, konsentrasiku buyar ditelan liur asin yang berkali-kali kubuang ke air.

“Ayo Gi, ikut turun biar segar, sekaligus mandi sore”. Ajak Dani yang rasanya lebih mengejek daripada mengajak.

“Sudah, jangan diganggu dulu, masih untung belum muntah dia sekarang.”

“Ayo Ni, cepat turun, itu jangan lupa kamera underwaternya selalu dikalungkan di lehermu biar tidak jatuh,  dan jangan jauh-jauh dari Dani ok.”

Dani, Toni dan Ani semua sudah di air, tinggal aku dan Bang Fadil di kapal. Titik ini kutandai seadanya, yang penting tersimpan di GPS. Satu-satunya hal yang belum jelas adalah giroskop kepalaku yang masih limbung. Mual di perutku juga belum reda. Keringat mengucur di keningku dan angin sakal yang bertiup membuat badanku dingin, padahal matahari masih terik walau sudah mendoyong mau tenggelam.

Beberapa menit berdiam, kapal semakin menari dengan liar mengikuti cuaca yang semakin temaram. Angin juga semakin kuat, aku kenakan kembali pelampung agar hangat.  Bang Fadil menawariku sebungkus oreo atau jeruk untuk kukunyah. Katanya biar liurku ada rasanya, daripada rasa lambung yang masam terus membuat mual, kan lebih baik rasa coklat oreo. Teori yang tidak masuk akal, tapi wangi jeruk memang lebih segar, jadi jeruk saja yang kumakan.

“Arusnya kuat bang di bawah, dan tidak ada tempat datar seperti yang pertama tadi. Dasarnya miring dan menurun. Sulit menaruh disini dan malah bisa bergeser nanti.”

“Okey. Kita evaluasi nanti, bahaya kalau alat kena arus kuat dan bergeser, bisa hilang  ADCPnya nanti. Sudah, cepat naik dan kita bergeser ke posisi berikutnya. Kata kep, ada 2 tempat lagi yang potensial.”

Tiga kali lagi kami berhenti di lokasi lain, Pulau Menjangan sudah dikelilingi, salah satu lokasi titiknya dekat dengan dermaga Pulau Menjangan, agak riskan juga katanya meletakkan alat didekat dermaga itu. Takut hilang oleh tangan jahil tepatnya. Tidak banyak yang kudengar saat itu, pergulatan dengan mual dan pusing masih berlangsung meskipun sebenarnya tidak memburuk namun juga belum membaik.

Waktu menunjukkan pukul 17.35 saat kami berlayar pulang setelah singgah di titik terakhir di dekat dermaga Menjangan itu. Aku memandang melongo melihat matahari yang berpamit selama perjalanan pulang kami. Semua memandang cantiknya matahari yang semakin tenggelam. Ani dan yang lain jelas mulai memotret dan berswafoto. Sedang aku telah kelelahan memerangi mabuk laut ini, namun memang matahari yang terbenam jadi satu-satunya penghiburku  dari trip horor kali ini.

IMG_4499

Setiba didermaga, kelompok 2 tampak berfoto-foto dengan sunset padahal matahari sudah melewati ufuk. Aku terhuyung lemas turun dari perahu. Kakiku gemetar sehingga aku memutuskan untuk menunda pulang dan berisitirahat di dermaga dengan kelompok 2 ini. Kelompok dua ini bukan tanpa alasan menongkrong manis di dermaga, tapi memang sudah jamnya mereka untuk menjaga stasiun pasang surut baik yang otomatis maupun yang dari palem. Bacaan dari palem pasut dibaca setiap setengah jam dan bacaan dari pasut otomatis dicek setiap 3 jam sekali. Penugasan ini berlangsung setiap 6 jam. Kelompokku, kelompok 1, kebagian bertugas besok jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Kepalaku masih sedikit bergoyang saat Ahmad dari kelompok dua mengantarku pulang ke pondokan. Di pondokan, suasana ramai dengan kesibukan. Kami sebagai peserta mulai sibuk untuk menyiapkan kegiatan survei besok paginya. Sebagian menyiapkan peta dan formulir-formulir survei. Sebagian berlatih mencoba total station, echosounder atau alat survei lainnya ataupun membaca manual dan prosedur pengamatan. Aku tidak peduli, aku mau mandi dan istirahat sampai esok tiba. Saat ini, laut dan oseanografi tampaknya bukan untuk diriku.

Durian sebelum abad ke 20.

Durian ! Siapa yang tidak mengenal buah ini, buah yang kelewat terkenal. Buah asli asia tenggara yang telah tersebar di seluruh dunia. Barang siapa yang bermukim di Asia Tenggara jelas mengetahui buah ini. Tapi di bagian bumi lain, buah ini masih merupakan buah yang teramat asing. Coba ketik saja kata kunci, “eating durian” pada mesin video youtube. Ratusan ribu hasil penelusuran video akan segera keluar dan menampilkan video-video orang-orang yang asing melihatnya apalagi mencoba keberaniannya dengan memakan durian. Yup, mencoba keberanian untuk memakan durian terdengar sangat aneh, tapi menarik melihat mimik-mimik orang-orang itu memakan durian untuk pertama kalinya. Sebegitu asingnya buah ini, padahal ini sudah tahun 2017, dekade kedua abad 21.

800px-Durian
Si raja buah (https://en.wikipedia.org/wiki/Durian)

Bagaimana dengan pesona buah durian di abad 18 atau 19 ? tentu tidak ada reportase youtube untuk melihat mimik orang-orang yang memakan durian. Yang ada hanya tulisan, laporan tertulis dari rasa yang mereka alami ketika melihat atau makan durian.

wallace1
Cover buku Kepulauan Nusantara yang menampilkan buah-buahan termasuk durian

Tulisan pertama yang membuat saya sadar pesona durian adalah pengalaman dari naturalis A.R. Wallace. Dalam bukunya The Malay Archipelago, Wallace menjelaskan dengan detil pengalamannya bertemu si durian dalam beberapa kali kesempatannya.

I afterwards shot two adult females and two young ones of different ages, all of which I preserved. One of the females, with several young ones, was feeding on a Durian tree with unripe fruit; and as soon as she saw us she began breaking off branches and the great spiny fruits with every appearance of rage, causing such a shower of missiles as effectually kept us from approaching too near the tree.

Yah setidaknya, bertemu dengan orang utan yang makan durian adalah salah satu pengalaman Wallace di Kalimantan. Mencoba menembak orang utan yang sedang memakan durian, adalah hal lain yang perlu dicatat dari Wallace mengenai kepintaran orang utan untuk menggunakan durian sebagai senjata dan kepintaran Wallace untuk menghindari tembakan durian yang dilemparkan si orang utan.

090402-orangutan-food-test_big
Buah favorit orang utan (http://animalia-life.club/other/orangutan-eating-durian.html)
The Durian is an especial favourite, and quantities of this delicious fruit are destroyed wherever it grows surrounded by forest, but they will not cross clearings to get at them. It seems wonderful how the animal can tear open this fruit, the outer covering of which is so thick and tough, and closely covered with strong conical spines. It probably bites off a few of these first, and then, making a small hole, tears open the fruit with its powerful fingers.

Selama berburu orang utan Wallace juga mencatat bahwa durian adalah buah favorit orang utan. Kekagumannya terlihat sewaktu berburu orang utan dan memperhatikannya makan durian. Wallace mungkin lebih heran lagi kalau tahu bahwa gajah dan bahkan harimau juga suka durian.

Lebih menarik lagi adalah penjelasan detil dan panjangnya uraian mengenai buah durian dibandingkan buah lainnya sewaktu berada di seputaran Sarawak, Kalimantan. Siapa sangka, sebuah durian bisa dituang dalam segitu panjangnya tulisan.

The banks of the Sarawak River are everywhere covered with fruit trees, which supply the Dyaks with a great deal of their food. The Mangosteen, Lansat, Rambutan, Jack, Jambou, and Blimbing, are all abundant; but most abundant and most esteemed is the Durian, a fruit about which very little is known in England, but which both by natives and Europeans in the Malay Archipelago is reckoned superior to all others. The old traveller Linschott, writing in 1599, says: "It is of such an excellent taste that it surpasses in flavour all the other fruits of the world, according to those who have tasted it." And Doctor Paludanus adds: "This fruit is of a hot and humid nature. To those not used to it, it seems at first to smell like rotten onions, but immediately when they have tasted it, they prefer it to all other food. The natives give it honourable titles, exalt it, and make verses on it."

When brought into a house the smell is often so offensive that some persons can never bear to taste it. This was my own case when I first tried it in Malacca, but in Borneo I found a ripe fruit on the ground, and, eating it out of doors, I at once became a confirmed Durian eater.

Ternyata, pertama kalinya Wallace bertemu dengan buah durian adalah sewaktu di Malaka, meskipun dari uraiannya tidak memberikan indikasi pertemuan yang menyenangkan. Pertemuan yang lebih menyenangkan yang membuatnya menjadi penganut klan durian terjadi sewaktu ia datang ke tanah asal durian di Kalimantan, mungkin di Sarawak ini.

The Durian grows on a large and lofty forest tree, somewhat resembling an elm in its general character, but with a more smooth and scaly bark. The fruit is round or slightly oval, about the size of a large cocoanut, of a green colour, and covered all over with short stout spines the bases of which touch each other, and are consequently somewhat hexagonal, while the points are very strong and sharp. 

Heksagonal jelas bukan yang ada di pikiran saya ketika melihat durian.

It is so completely armed, that if the stalk is broken off it is a difficult matter to lift one from the ground. The outer rind is so thick and tough, that from whatever height it may fall it is never broken. From the base to the apex five very faint lines may be traced, over which the spines arch a little; these are the sutures of the carpels, and show where the fruit may be divided with a heavy knife and a strong hand. The five cells are satiny white within, and are each filled with an oval mass of cream-coloured pulp, imbedded in which are two or three seeds about the size of chestnuts. 

Massa daging buah yang oval berwarna krim, yang menyelimuti biji yang sebesar kacang chestnut. Terdengar sangat menggiurkan !

This pulp is the eatable part, and its consistency and flavour are indescribable. A rich butter-like custard highly flavoured with almonds gives the best general idea of it, but intermingled with it come wafts of flavour that call to mind cream-cheese, onion-sauce, brown sherry, and other incongruities. Then there is a rich glutinous smoothness in the pulp which nothing else possesses, but which adds to its delicacy. It is neither acid, nor sweet, nor juicy; yet one feels the want of more of these qualities, for it is perfect as it is. It produces no nausea or other bad effect, and the more you eat of it the less you feel inclined to stop. 

Deskripsi ini tampak seperti kata-kata yang keluar saat menonton acara masak yang bikin ngiler penontonnya, imajinasi memberikan bayangan seorang masterchef yang sedang menikmati makanan lezat. Tapi saya jelas tidak bisa tidak setuju ketika Wallace bilang ‘semakin dimakan semakin susah untuk berhenti makan’.

In fact to eat Durians is a new sensation, worth a voyage to the East to experience.

Yup, makan durian jelas alasan yang kuat untuk bepergian.

When the fruit is ripe it falls of itself, and the only way to eat Durians in perfection is to get them as they fall; and the smell is then less overpowering. When unripe, it makes a very good vegetable if cooked, and it is also eaten by the Dyaks raw. In a good fruit season large quantities are preserved salted, in jars and bamboos, and kept the year round, when it acquires a most disgusting odour to Europeans, but the Dyaks appreciate it highly as a relish with their rice. There are in the forest two varieties of wild Durians with much smaller fruits, one of them orange-coloured inside; and these are probably the origin of the large and fine Durians, which are never found wild. 

Wallace jelas termasuk orang yang beruntung, mencoba berbagai jenis durian yang khas di Kalimantan, yang sampai sekarang masih sulit ditemui di luar Kalimantan.

It would not, perhaps, be correct to say that the Durian is the best of all fruits, because it cannot supply the place of the subacid juicy kinds, such as the orange, grape, mango, and mangosteen, whose refreshing and cooling qualities are so wholesome and grateful; but as producing a food of the most exquisite flavour, it is unsurpassed. If I had to fix on two only, as representing the perfection of the two classes, I should certainly choose the Durian and the Orange as the king and queen of fruit.

Yes, pengakuan sebagai raja buah dari si naturalis terkenal. Apa lagi yang mesti diperdebatkan?

The Durian is, however, sometimes dangerous. When the fruit begins to ripen it falls daily and almost hourly, and accidents not unfrequently happen to persons walking or working under the trees. When a Durian strikes a man in its fall, it produces a dreadful wound, the strong spines tearing open the flesh, while the blow itself is very heavy; but from this very circumstance death rarely ensues, the copious effusion of blood preventing the inflammation which might otherwise take place. A Dyak chief informed me that he had been struck down by a Durian falling on his head, which he thought would certainly have caused his death, yet he recovered in a very short time.

Barangkali ini awal mula peribahasa bagai mendapat durian runtuh, tapi mendapat durian runtuh agak sulit diterima apabila runtuhnya di kepala atau bahkan dilempar orang utan dari atas.

Poets and moralists, judging from our English trees and fruits, have thought that small fruits always grew on lofty trees, so that their fall should be harmless to man, while the large ones trailed on the ground. Two of the largest and heaviest fruits known, however, the Brazil-nut fruit (Bertholletia) and Durian, grow on lofty forest trees, from which they fall as soon as they are ripe, and often wound or kill the native inhabitants. From this we may learn two things: first, not to draw general conclusions from a very partial view of nature; and secondly, that trees and fruits, no less than the varied productions of the animal kingdom, do not appear to be organized with exclusive reference to the use and convenience of man.
brazilnut
Brazil Nut dan komparasinya dengan tangan. (http://rio.wikia.com/wiki/Brazil_Nut)

Dari sedikit penelusuran, Brazil-nut lebih mirip kelapa dibandingkan durian, tapi memang besar dan memang buah yang sama endemiknya dengan durian di asia tenggara. Soal rasa, sepertinya durian lebih menarik dibandingkan Brazil-nut.

The lower part of the mountain, behind the town of Ternate, is almost entirely covered with a forest of fruit trees, and during the season hundreds of men and women, boys and girls, go up every day to bring down the ripe fruit. Durians and Mangoes, two of the very finest tropical fruits, are in greater abundance at Ternate than I have ever seen them, and some of the latter are of a quality not inferior to any in the world. Lansats and Mangustans are also abundant, but these do not ripen till a little later.

Di Ternate Wallace ketemu lagi dengan durian, panen durian sepertinya disana waktu Walllace datang. Saya pribadi belum pernah menyicipi durian di Ternate, tapi pasti terlalu enak untuk dilewatkan kalau berkunjung kesana.

Sebenarnya, seperti sudah dikatakan Wallace diatas, ada beberapa orang bule sebelumnya yang telah mengunjungi nusantara dan melihat atau mencicipi durian. Diantaranya ada John Huyghen Linschoten, G.E Rumphius, dan para penulis lain seperti dituturkan W.H. Davenport Adams. Reaksinya bermacam-macam, tapi kekaguman dan keheranan menjadi hal yang sama-sama mereka rasakan.

Rumphius1
Buah dan Pohon Durian dalam buku Rumphius. (Rumphius, 1741)

Linschott menjelajah Asia termasuk nusantara di akhir abad ke 16 sekitar tahun 1580an. Bukunya terbit ditahun 1598 untuk edisi bahasa inggrisnya. Deskripsinya yang panjang jelas menarik perhatian Wallace untuk mencoba durian juga pada akhirnya. Beberapa penjelasan Linschoten bahkan diambil sedikit serupa untuk dijadikan tulisan oleh Wallace.

Sedangkan disisi timur nusantara Rumphius aktif mendata flora di wilayahnya, Ambon, termasuk durian ambon yang legit. Penjelasannya mengenai durian tertuang dalam 4 halaman, sayangnya ditulis dalam bahasa Belanda dan Portugis (?), jadi cukup susah menginterpretasikannya.

Rumphius2
Penjelasan Durio, Duryon di hal 99. (Rumphius, 1743)

Davenport Adams dalam bukunya The Eastern Archipelago menampilkan rangkuman atau cuplikan penjelajahan wilayah asia tenggara termasuk nusantara. Beberapa bagian dalam bukunya menampilkan (kopian ?) dari cerita Wallace mengenai nusantara, termasuk juga mengenai buah durian itu sendiri. Di sisi lain bukunya, perjalanan Arthur Adams ke Ternate sewaktu menumpang kapal H.M.S Samarang menyebutkan banyaknya pohon durian yang berseling dengan pohon limau di Ternate (hal 381).

Davenport1
Cuplikan cerita Arthur Adams dalam buku Davenport. (D. Adams, 1880)

 

 

Pustaka :

Adams, W.H. Davenport. 1880. The Eastern Archipelago. A description of the scenery, animal and vegetable life, people, and physical wonders of the islands of the easterns seas. T. Nelson and Sons. Page 381.

Linschoten, J.H. 1885. The Voyage of John Huyghen Van Linschoten To The East Indies : From the old english translation of 1598 : the first book, containing his description of the east. Printed for the Hakluyt Society. Page 51 – 53.

Rumphius, G.E. 1743. Het Amboinsche kruid-boek. Dat is, beschryving van de meest bekende boomen, heesters, kruiden, land-en water-planten, die men in Amboina, en de omleggende eylanden vind, na haare gedaante, verscheide benamingen, aanqueking, en gebruik: mitsgaders van eenige insecten en gediertens, … door Georgius Everhardus Rumphius, … Nagezien en uitgegeven door Joannes Burmannus, … Eerste [-6] deel, Volume 3. Page 99-104.

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://animalia-life.club/other/orangutan-eating-durian.html

https://archive.org/

https://en.wikipedia.org/wiki/Durian

https://id.wikipedia.org/wiki/Durian

http://historia.id/kuliner/riwayat-durian-di-nusantara

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://rio.wikia.com/wiki/Brazil_Nut

 

 

 

 

Wallace di Singapura

Saya pernah menulis tentang A.R Wallace sebelumnya disini. Sebuah tulisan introduksi mengenai A.R Wallace disela membaca kisah perjalanannya saat menjelajah nusantara sekitar 163 tahun lalu. Buku Kepulauan Nusantara (aslinya The Malay Archipelago) ini dicetak ulang untuk kesekian kalinya (entah sudah berapa ribu kali cetak ulang) dan untungnya sudah diterjemahkan juga dalam Bahasa Indonesia yang baik dan mudah dimengerti oleh awam seperti saya.

Kali ini, buku ini telah saya baca kembali secara lengkap, setelah beberapa kali mencoba membaca dan tertidur pulas.  Buku setebal 486 halaman yang dicetak ulang oleh Komunitas Bambu ini sangat mengesankan. Yup. Mengesankan, benar mengesankan. Saya sendiri heran, mengapa buku semacam ini tidak dijadikan bacaan wajib bagi orang-orang muda Indonesia. Saya lebih heran lagi, mengapa buku ini baru saya peroleh sekarang-sekarang ini dan tidak sebelum saya mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sehingga saya tidak terkecoh masuk jurusan yang menyesatkan.

Sebagai orang Indonesia, tidak rugi sama sekali untuk memiliki buku ini. Khususnya bagi anda yang masih muda atau berjiwa muda. Wallace kala itu masih berumur 31 tahun ketika memulai perjalanannya melintasi nusantara yang dimulai dari Singapura. Usia yang masih penuh semangat untuk menjelajah, terlebih lagi pada wilayah baru yang belum pernah dijajaki oleh banyak orang Eropa kala itu.

Penulisan catatan perjalanannya mencakup pengamatannya mengenai kondisi sosial, geografis dan terutama sekali deskripsi flora dan faunanya yang masih relevan hingga sekarang. Jika dikonversi ke awal abad 21 ini, maka membaca kisah perjalanannya yang cukup detil di buku ini ibarat membaca postingan-postingan blognya atau bahkan ibarat men-subscribe channel youtubenya dan menonton semua video perjalanannya.

Tergugah oleh perjalanannya sekian ratus tahun yang lalu, saya akan mencoba membahas sesanggup saya dan bahkan sedikit membandingkan (mengomentari lebih tepatnya) bagian-bagian menarik dari perjalanannya yang ada di buku ini dalam beberapa tulisan.

Ekspedisi ambisiusnya melintasi nusantara di awali di Singapura di tahun 1854. Wallace singgah di Singapura beberapa kali pada waktu 1854 – 1862. Sebagai koloni Inggris, Singapura menjadi titik awal dan titik akhir dari ekspedisinya di nusantara. Singapura kala itu jelas bukan Singapura yang sekarang. Singapura kala itu berada di bawah kendali East India Company, sebagai pesaing V.O.C di Batavia. Dalam waktu singkat penguasaan Inggris atas Singapura berhasil meningkatkan laju perdagangan di area sekitar Malaysia, sedangkan Belanda dibiarkan mendominasi nusantara. Laju perdagangan tersebut jelas membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dan mempunyai beragam spesialisasi.

Wallace mengamati keadaan sosial di Singapura ini dengan baik pada beberapa kali kunjungannya. Beberapa hal menarik yang ditulis Wallace adalah :

Selain itu, terdapat pelaut dan pembantu rumah tangga di Singapura berasal dari Jawa. Selain dari Jawa, pedagang juga ada yang berasal dari Celebes (Sulawesi), Bali dan pulau-pulau lain di nusantara.

Ini jelas menarik. Pertumbuhan kota yang diiringi pertumbuhan populasi pasti akan menarik berbagai macam orang untuk datang dan mengadu nasib. Jadi masuk akal juga kalau beberapa penduduk nusantara, termasuk dari Jawa dan jadi asisten rumah tangga, ada yang turut mengadu nasib di Singapura 1850an.

Jadi sejak dulu kita memang sudah mengekspor pembantu ke negeri seberang ?

Tidak banyak ditemukan referensi mengenai ini (atau saya yang memang kurang baca), grup etnis yang tinggal di negeri seberang kala itu bermacam-macam, termasuk juga orang Bugis, Bali, Minang, Palembang, Melayu dan Jawa (Lihat tabel di bawah).

Mengenai etnis Jawa, mereka termasuk ke dalam tenaga kerja kontrak bersama dengan tenaga dari Canton dan Tamil, sebagian dari sejumlah tenaga itu pulang kembali setelah masa kerjanya berakhir, namun ada juga yang menetap. Agak jauh di depan, sensus tahun 1920 terhadap penduduk yang tinggal di area Singapura-Malaysia memberikan gambaran jumlah 180.000 orang-orang nusantara  (Reid, 2010).

EthnicSNGP
Pertumbuhan populasi di Singapura pada era kolonial Inggris. (https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore)

Di Singapura terdapat gedung-gedung pemerintah yang indah, gereja, masjid, pura, kelenteng Cina, rumah-rumah orang eropa yang indah, gudang-gudang besar, serta pasar Cina dan pasar kling (orang India barat) yang unik. Daerah pinggiran kota dipenuhi oleh rumah-rumah orang cina dan melayu.

Yang paling menonjol dan menarik perhatian orang asing dari keanekaragaman penduduk singapura adalah orang Cina. Jumlah dan aktivitas orang Cina membuat singapura menyerupai sebuah kota di Cina. Pada umumnya, saudagar Cina berbadan gemuk dan bermuka bulat dengan penampilan seperti orang penting dan banyak urusan. Pakaian para saudagar tersebut berupa baju putih longgar dan celana biru atau putih. Gaya pakaian itu serupa dengan pakaian kuli, tetapi bahannya lebih halus. Pakaian mereka selalu bersih dan rapi. Rambut saudagar Cina diikat dengan pita sutra merah yang menggantung sampai tumit.

Menurut Wikipedia, 74.2 % etnisitas di Singapura pada tahun 2013 adalah orang Cina atau keturunannya. Tidak mengherankan di masa sekarang sebenarnya, tapi dengan melihat fakta bahwa selama 163 tahun persentase etnis Cina merupakan etnis mayoritas dan setelah tahun 1901 populasinya selalu berada di sekitar 70% dari total jumlah penduduk adalah fakta yang cukup menarik.

EthnicSNGP2
Grup Etnis di Singapura Tahun 2013. (https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore)

Di pasar Cina terdapat ratusan toko-toko kecil yang menjual berbagai jenis peralatan dan bahan tekstil dengan harga murah. Alat bor dijual dengan harga satu penny, empat gulung benang katun putih seharga setengah penny. Pisau lipat, pembuka botol, bubuk mesiu, kertas dan banyak barang lain yang dijual jauh lebih murah daripada harga di Inggris.

Pemilik toko sangat ramah. Ia akan menunjukkan apa saja yang dimilikinya dan tidak keberatan jika kita tidak membeli sesuatu. Harga barang hanya dinaikkan sedikit. Berbeda dengan orang Kling yang hampir selalu menawarkan barang dua kali lipat dari harga sebenarnya. Jika kita pernah membeli barang dari toko orang cina, ia akan selalu menegur setiap kali kita melewati tokonya. Ia akan mengajak kita masuk dan berbincang-bincang sambil minum teh. Kita akan menduga-duga, bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dengan menjual barang remeh-temeh.  

Paragraf ini mengingatkan saya akan adegan-adegan perdagangan di pasar yang ada di film-film silat hongkong seperti yang sering ditampilkan di Tv lewat tokoh Jackie Chan mau pun Bruce Lee.

V0037508 Malaysia: a Chinese soup seller trading in Singapore. Photog
Baju putih, celana putih atau hitam, rambut dikuncir. Ciri-ciri yang terlalu jelas. (John Edmund Taylor, A Chinese Soup Seller Trading in Singapore (c_1880))

Pada kehidupan saat ini, sebenarnya suasana pasar seperti ini masih bisa ditemui di tempat-tempat seperti Glodok, Mangga Dua hingga area Pasar Baru di Bandung. Perbedaannya tentu terletak pada suasana dan barang yang ditawarkan mengikuti kemajuan jaman. Alih-alih menawarkan bubuk mesiu, sebuah kamera DSLR canggih atau kalung dan cincin emas menjadi salah satu contoh dagangannya. Tentu saja juga, para saudagar masa kini tidak semua berwajah bulat dan gemuk dan memakai pakaian yang cenderung modis dibandingkan hanya baju putih longgar dan celana biru atau putih dengan rambut yang terkuncir hingga tumit.

 

 

Pustaka :

Reid, A. 2010. Malaysia/Singapore as Immigrant Societies. ARI Working Paper, No 141.

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/Singapore_in_the_Straits_Settlements

https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore

 

Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.