Perantara Laut

Pada satu waktu, ada saja kesempatan yang didapatkan untuk pergi ke ujung daratan, untuk bertemu dengan sang laut. Sebuah kesempatan yang selalu dinikmati setiap momennya dan dinantikan setiap kali kembali bermukim di tengah Pulau Jawa. Tidak sering memang kesempatan itu datang, namun saban kali bertemu kembali dengan laut rasanya seperti bertemu kembali dengan kekasih yang lama terpisah. Tiupan angin, bunyi hempasan ombak, bau garam dan bahkan bau ikan yang menusuk hidung memberi rasa eufemistis pada jiwa yang sering resah.

Selalu ada hal yang menarik acap kali berada dilaut atau di tepiannya, suguhan pemandangan akan yang kolam air yang sangat luas merupakan peralihan yang luar biasa dari pemandangan jendela kantor yang begitu-begitu saja. Waktu petang jelas merupakan waktu favorit banyak orang untuk menikmati keindahan laut tapi selain daripada itu, laut dan tepiannya sesungguhnya merupakan tempat yang sangat dinamis di setiap waktunya.

Salah satu dinamika ini tampil dalam bentuk perahu-perahunya. Perahu merupakan perantara pertama antara manusia dengan laut. Perahu juga merupakan pengejawantahan dari jiwa manusia itu sendiri yang selalu dinamis, selalu bergerak, selalu menjelajah. Sebab itu, perahu yang merupakan terjemahan dari jiwa manusia, seringkali atau bahkan selalu berbeda-beda bentuknya di setiap tempat.

Melihat perbedaan bentuk perahu yang bermacam-macam di banyak tempat di Indonesia ini maupun di luar negeri jadi kenikmatan tersendiri. Foto hingga video selalu saya ambil untuk dilihat kemudian waktu sembari membayangkan mengapa di satu daerah ada layaran sedang di lain pantai tidak berlayar, cadik atau tanpa cadik, macam bentuk haluan maupun lambungnya hingga perjalanan yang ditempuh sang nahkoda menggunakan perahu itu.

Perahu Nagari

Seperti tertuang di gambar ini, sebuah perahu kecil yang berada di bagian selatan Sumatera Barat, yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan dengan badannya yang pendek dan bercadik secukupnya. Haluannya melengkung tajam mirip atap rumah khas Sumatera Barat itu sendiri. Sisi lambung kirinya tertempel mesin untuk mendorong laju kapal ini.

Keseluruhan perahu ini sejatinya dibuat untuk efektivitas gerak laut, menyisakan bentuk lengkungnya sebagai identitas laut Minang.

Si Pecinta Alam sejati.

wallace4
Patung Alfred Russel Wallace di Darwin Centre, foto oleh Anthony Smith.

Obrol – obrol soal pecinta alam yang lumayan ramai dibicarakan belakangan ini, saya jadi teringat pahlawan saya yang bernama Wallace yang merupakan (menurut saya) pecinta alam yang sesungguhnya. Bukan, bukan Wallace yang dimainkan Mel Gibson di film Braveheart itu. Alfred Russell Wallace adalah pahlawan pecinta alam yang saya maksud.

wallace1
Buku Malay Archipelago karangan A.R.W yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. (https://www.tokopedia.com/buku-murah/kepulauan-nusantara)

Wallace yang ini sebenarnya adalah seorang virtuoso dalam hal “cinta alam”. Wallace sebenarnya tidak berkesempatan mengenyam pendidikan resmi ilmu botani atau ilmu ekologi. Ketertarikannya dipengaruhi oleh bacaan yang didapatkannya di perpustakaan. Petualangan dan eksplorasi para ilmuwan seperti Darwin di Kapal Beagle semakin membuatnya tertarik untuk belajar (secara otodidak) mengenai ilmu-ilmu tersebut.

Wallace datang ke nusantara sekitar tahun 1854 hingga tahun 1862. Tidak ada waktu berkenes-kenes baginya di nusantara ini. Ekspedisinya dimulai dari wilayah Malaka hingga delapan tahun kemudian. Ekspedisinya di nusantara ini mengumpulkan ribuan kalau tidak ratusan ribu jenis binatang sebagai bahan koleksi dan bahan berpikirnya.

wallace5
Jenis spesimen yang dikumpulkan oleh A.R.W, burung Hornbill atau Rangkong. Foto oleh Fred Edwards.

Setiap ekspedisi, baik saat itu ataupun masa kini, jelas tidak berbiaya murah dan tidak tanpa kelengkapan yang banyak. Akan tetapi, sebagai seorang bule inggris di abad ke 19 walaupun terbilang pas-pas an di negara asalnya, Wallace jelas lebih terpandang di banyak daerah di nusantara yang masih menjadi jajahan VOC atau Portugis. Dengan beberapa keping perak dilengkapi ijin dari otoritas bule didaerah itu, Wallace dapat memperoleh banyak anak buah (baca : kuli, kuli angkut dan babu) yang bisa diperintahnya dengan santai. Tapi bukan berarti Wallace ditandu atau dituntun dalam penjelajahannya. Wallace secara aktif menjelajah hutan belantara nusantara yang dibantu oleh asisten-asistennya.

wallace7
Basecamp A.R.W di Waigeo .. ? Wallace ada dibawah lantai gubuknya mengkapitulasi data-data yang ditampilkan spesimen-spesimennya.

Wallace dalam setiap bagian dari penjelajahannya di Nusantara jelas membutuhkan basecamp atau markas sementara yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi tempat untuk menyimpan specimen-spesimennya. Basecamp yang dipilih oleh Wallace bervariasi dari rumah di pinggiran kota yang dekat dengan hutan hingga sebuah pondokan yang berada jauh didalam hutan belantara.

wallace3
Desain dari patung Wallace di Darwin Centre. Ini adalah ilustrasi pakaian yang digunakan Wallace kala itu, digunakan sebagai referensi patung Wallace

Akan tetapi, kala itu, jelas tidak ada tas ransel eiger, sepatu bersol vibram, pisau swiss victorinox dan GPS atau google maps. Alih-alih semua hal itu, yang ada adalah parang, sepatu boot berat, senapan dan pakaian ala kadarnya untuk menghalau nyamuk dan serangga yang berisik di kuping dan tentu saja ketertarikan mendalam terhadap misteri alam.

Penjelajahan hutan pada abad 19 jelas sekali merupakan hal yang sangat menantang. Orang waras mana (terlebih lagi si kulit putih) yang mau pergi ke hutan, membuka jalan hutan, menunggu dan mencari untuk mengumpulkan burung, serangga hingga monyet besar untuk dibawa ke kota. Di mata orang lokal Wallace pastilah disebut orang gila, terlebih lagi ketika keluar dari hutan dengan banyak sangkar-sangkar atau kotak yang berisi spesimen-spesimen yang masih hidup ataupun mati. Kesukaran yang dialaminya jelas memberikan hambatan tapi bukan sesuatu yang bisa menghalanginya.

Wallace bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan belantara, mengumpulkan spesimen-spesimennya yang bervariasi. Spesimen-spesimen tersebut merupakan data-data yang bertumpuk dan (jelas) menyentil pikiran Wallace mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat pada spesimen-spesimen tersebut. Kejelian Wallace sebagai seorang pengamat alam sejati jelas teruji setelah mampu melihat variasi yang kecil pada berbagai spesies spesimen yang berbeda yang dikumpulkannya di banyak daerah.

wallace6
Teropong yang digunakan Wallace. Pecinta alam sekarang masih ada yang bawa teropong ??

Ketertarikannya pada alam memberikannya kredo yang mengakar kuat akan pentingnya penyelidikan lebih lanjut mengenai perubahan-perubahan secara spasial pada spesimen-spesimen yang diamatinya. Hal ini pada akhirnya menuntunnya pada teori evolusi lebih dahulu dari Darwin, yang disuratinya sekitar tahun 1857 untuk bertukar pikiran soal evolusi.

Pustaka :

https://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace

http://wallacefund.info/

Images above is available at Gallery at wallacefund.info (https://get.google.com/albumarchive/110137695121351600738?source=pwa)

Melihat melalui citra satelit

Sebagai seorang pelajar ilmu alam yang masih terus belajar, saya mendapati diri saya selalu terpukau pada gambaran alam yang selalu dinamis. Salah satu dinamika alam yang selalu menarik perhatian saya  adalah persoalan keruangan yang selalu berubah terhadap waktu. Perubahan spasial dari suatu wilayah pada satu waktu dan pada waktu yang lain memberikan suatu cerita akan proses-proses yang terjadi pada wilayah tersebut dalam rentang waktu yang diberikan.

Citra satelit yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat jelas memudahkan untuk melihat dan mempertimbangkan posisi kita di alam. Program gugel erd yang terpasang di laptop saya ini pun sering sekali dipakai untuk melihat posisi dan sinyal perubahan yang terjadi di alam. Peta gugel ini memang keren, saat ini gugel telah memperbaharui koleksi peta citra satelit yang dimilikinya sejak dari tahun 1984 hingga 2016. Kompilasi citra satelit ini dimungkinkan setelah gugel menggandeng kerjasama dengan USGS (United States Geological Society) untuk data citra LANDSAT, NASA dan data citra Sentinel-2 dari program Copernicusnya ESA (European Space Agency).

Pada gugel erd, salah satu fitur yang sering saya pakai adalah fitur timeline. Tombol ini merupakan tombol mesin waktu yang dapat digunakan untuk melihat penampakan suatu wilayah pada masa yang lampau. Memang tidak semua daerah Indonesia memiliki data yang cukup panjang untuk dibandingkan citranya dan kebanyakan tidak akan ada yang sampai pada tahun 90an. Namun dengan pengamatan beberapa tahun saja, sebenarnya sudah cukup memberikan cerita pada proses-proses yang telah terjadi pada daerah tersebut.

ge1
tool timeline pada program gugel erd

Sebagai contoh, belum lama ini saya mendengar cerita dari seorang penduduk di sebuah pulau, bahwa ada sebuah pulau (yang tidak jauh dari pulau tempat dia tinggal) yang seringkali berubah bentuk dan berpindah-pindah pasirnya padahal pulau yang dimaksud adalah pulau yang tidak berpenghuni. Tanpa pengetahuan mengenai ilmu alam, rasanya janggal sekali mendengar pulau yang bisa berubah bentuk sendiri.

Tapi apa bukti terdekat yang bisa dilihat kalau pulau itu memang berubah bentuk, sang pencari gugel tidak memberikan satu pun makalah ilmiah mengenai pulau tersebut, padahal huruf O di gugelnya sudah terlampau banyak. Makalah ilmiah lainnya jikalau ada pastinya hanya berada di perpustakaan-perpustakaan saja. Menelitinya sendiri ? Sudah jelas penelitian membutuhkan waktu yang demikian panjang, belum lagi kepintaran kepala saya ini malah lebih sering membuat pusing sendiri, alih-alih membuktikan sesuatu secara ilmiah.

Sebagai pelajar ilmu alam yang amatiran dan suka menelikung, alhasil saya berpaling ke timeline gugel erd di laptop saya. Tidak butuh waktu lama, citra pulau yang dimaksud langsung ditampilkan oleh si gugel erd. Pada kasus ini citra paling muda yang didapatkan adalah citra tahun 2008 hingga yang paling tua tahun 2015 kemarin. Lumayanlah 7 tahun.

Mengamatinya pelan-pelan, tujuh gambar yang mewakili tujuh tahun, memang terlihat ada perubahan bentuk dari pulau tersebut. Kembang kempis pasir pulau dan batas darat dengan laut yang jelas berbeda mengindikasikan telah terjadinya proses alam yang terus menerus pada pulau tersebut.

Sebagai pelajar ilmu alam yang masih amatir, proses alam jelas berperan disitu. Seorang yang mendalami ilmu laut tentu tahu disana ada peran angin, gelombang, arus hingga iklim yang memainkan peran penting dalam perubahan topografi horisontal maupun vertikal.  Peran dari proses pasang surut yang bersifat harian, jelas berpengaruh, bisa saja pada saat citra itu diambil lautnya sedang surut dan pada saat pasang merendam sebagian pulau yang notabene merubah bentuk pulau bila dilihat dari atas. Belum lagi faktor citra satelitnya itu sendiri yang mempunyai kesalahan atau bias pengukuran dari sensor-sensor satelit yang berbeda-beda.

Akan tetapi indikasi perubahan bentuk pulau tersebut memang nyata telah ada, si bapak yang bercerita kemarin itu tidak membual saja dan bukan sesuatu yang acapkali gaib, ini tidak lain berkat kecanggihan si gugel tea.

Pembuktian lebih lanjut lanjut tentu saja memerlukan sebuah penelitian untuk lebih memahami proses-proses yang mempengaruhi perubahan bentuk pulau tersebut. Hal ini, penelitian, jelas membutuhkan waktu dan tekad yang lebih dari sekedar membuka program gugel erd. He he he…

payung_2008
Pulau tahun 2008
payung_2009
Pulau tahun 2009. Berbeda dengan tahun 2008?
payung_2010
Pulau tahun 2010.
payung_2011
Pulau tahun 2011. Tidak tampak lagi kegiatan manusia disitu.
payung_2012
Pulau tahun 2012. Lebih memanjang..?
payung_2013
Pulau tahun 2013.
payung_2015
Pulau tahun 2015. Pulaunya nampak mempunyai ekor.
payung_2015_2
Pulau tahun 2015 dalam warna. Cantik sekali muka gelombang yang mengelilingi pulaunya, tampak berbelok sedikit di ujung kirinya.

 

Pustaka :

Google Earth Images atau earth.google.com

www.gearthblog.com/landsat-sentinel-2-data-now-google-cloud.html&id=ma-170127080050-dc076903

www.land.copernicus.eu/about&id=ma-170127075921-591dea56

www.earthengine.google.com/timelapse&id=ma-170127080141-c263be94

Kemerdekaan Indonesia, sebuah keberuntungan ?

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor in the National Remembrance Park Roermond, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Adalah pemikiran yang timbul setelah membaca buku biografi dari seorang Jendral Spoor.

Buku dengan judul “Jendral Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia” yang ditulis oleh J.A. de Moor adalah sebuah buku yang, menurut saya, wajib dibaca bagi orang-orang Indonesia yang ingin lebih mengetahui posisi dan peran Belanda pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Buku ini merupakan versi terjemahan secukupnya dari buku aslinya yang berbahasa belanda dan diterbitkan di Belanda lebih dahulu tahun 2011. Walau banyak terjemahan yang terasa kurang pas dalam bahasa Indonesia, toh garis besar kehidupan seorang Jendral Spoor masih dapat disimak dengan baik dalam buku ini. Selain menuliskan perjalanan hidup Spoor dengan tugasnya sebagai seorang pimpinan militer di Hindia Belanda, buku ini juga dengan baik mengungkapkan pandangan kacamata Belanda terhadap pergerakan bangsa Indonesia dan reaksi pemerintahan Belanda sendiri di masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

01_spoorDe Moor menulis, bahwa pengaruh perang dunia ke II yang dilakukan oleh Jerman di Eropa dan Jepang di Pasifik, turut membuat Belanda kalang kabut. Belanda yang mengusung netralitas ternyata diserang juga oleh Nazi Jerman pada 10 Mei 1940, memaksa seisi kabinet pemerintahan Belanda serta Sang Ratu Willhelmina mengungsi ke London. Belum selesai urusan dengan Nazi Jerman, tanggal 7 Desember 1941, Pearl Harbour diserang oleh Jepang. Tanggal 8 Desember 1941, Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Hindia Belanda darurat perang.

Jadi jelas, pada akhir tahun 1941 tanah air Belanda menghadapi tekanan dari Nazi Jerman, sedangkan Hindia Belanda bersiap bertahan menghadapi tekanan dari Jepang.

Desember 17, pesawat-pesawat Jepang menyerang wilayah Kepulauan Anambas, Ternate dan Sorong. Desember 19, Pontianak dibom oleh Jepang. Januari 7 tahun 1942, Ambon diserang oleh pesawat Jepang. Januari 12, Tarakan telah dikuasai Jepang. Januari 16, Medan menjadi sasaran pengeboman. Awal Februari 1942 Jawa mulai dibombardir pengebom Jepang. 15 Februari, Singapura bersamaan dengan Palembang telah dikuasai Jepang.

Hingga akhirnya, tanggal 8 Maret 1942 di Lapangan Terbang Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara, Bandung), Spoor bersama segelintir tentara dengan pesawat evakuasi terakhir terbang menuju Australia untuk mengungsi. Jepang telah menguasai Hindia Belanda. Pasukan yang tidak bisa dievakuasi menjadi tawanan Jepang.

 Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/ Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea
Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/
Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Mengapa Hindia Belanda bisa kalah dari Jepang dalam waktu yang begitu cepat ?

Di halaman 109, De Moor menyebutkan “Demikianlah pertahanan Jawa dari hari ke hari semakin memburuk. Kesatuan-kesatuan dan unit-unit kadang-kadang tanpa perlawanan yang berarti, menyerah atau luntang-lantung saja karena kaum militer pribumi yang sangat diandalkan telah lari dengan ketakutan”. Memang, pada saat itu pasukan Belanda yang berwujud KNIL banyak diisi oleh prajurit dari daerah-daerah di Nusantara, dengan pucuk-pucuk perwiranya diisi oleh si kulit putih.

Laporan kritis diberikan dari perwira tingginya tiga minggu setelah kekalahan Hindia Belanda (Sandberg, Coppens, De Vries, Burman van Vreeden dan Spoor) yang dituliskan De moor di hal 130 : “Mereka mengkritik sekutu, tetapi terutama menyoroti kegagalan tentara sendiri.” Pemerintah Belanda pun dipersalahkan karena terlalu kaku dalam netralitasnya sehingga tidak melakukan pendekatan apapun, termasuk terhadap sekutu. Sekutu, dalam hal lain juga tidak memberikan perlawanan yang kuat saat menghadapi Jepang di Singapura. Dalam pertempuran di Singapura, Hindia Belanda memberikan bantuan udara yang kuat dan menderita kerugian besar ketika Singapura jatuh.

De moor menuliskan kembali bahwa kekalahan Hindia Belanda banyak disumbang oleh kegagalan militer Hindia Belanda sendiri. Paragraf 3 di hal 130 tertulis “Dari sudut pandang politik, strategis, taktis, organisatoris, teknis dan moral, KNIL telah gagal sama sekali. Pimpinannya tidak kompeten dan ternyata tidak berkembang sepadan dengan tugasnya. Pucuk pimpinannya tidak sesaat pun dapat memancarkan rasa percaya diri. Yang berdominasi dalam pasukan adalah ‘jiwa amtenar’, birokrasi lebih menonjol daripada kesiapan tempur miiliter. Sikap pasukan, terutama orang pribumi, sangat mengecewakan; orang Ambon yang begitu dipuji-puji berdasarkan prestasi-prestasi mereka di Aceh (walau sudah empat dasawarsa yang lewat) mengecewakan.”

Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia
Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./ Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia (http://media-kitlv.nl, key : spoor)

Sebagai titik sorot buku ini, Spoor mengemukakan aspek militer-politik dalam analisa kekalahan Hindia Belanda. Disebutkan oleh Spoor bahwa “Kekalahan melawan Jepang menurut pandangannya pertama-tama bukan masalah organisatoris dan teknis, melainkan mempunyai sebab politik yang lebih mendalam. Masalah fundamental adalah tiadanya kerja sama antara kaum kulit putih dan kaum kulit sawo matang serta tidak adanya cita-cita bersama Belanda-Indonesia. Itulah sebabnya militer pribumi begitu buruk prestasinya : itu bukan perjuangan demi kepentingan mereka. Itu juga sebabnya penduduk Indonesia sama sekali tidak melibatkan diri : ini bukan perang mereka.

Disini letaknya faktor utama kegagalan kolonialisme Belanda. Ia tidak berhasil memenangkan hati penduduk Indonesia demi kepentingan Belanda-Indonesia bersama dan menjiwainya dengan nasionalisme Belanda – Indonesia … Menciptakan ‘cita-cita yang menjiwai’ yang baru dan secara bulat didukung kulit putih dan kulit sawo matang, itulah tugas bagi Belanda apabila sesudah perang akan kembali ke Hindia Belanda. Belanda tidak boleh kembali lagi kepada kolonialisme yang kuno itu, melainkan harus mewujudkan cita-cita kerja sama dengan penduduk Indonesia atas dasar kesetaraan dan dalam ikatan kerajaan.”

Tiga tahun berselang, Jerman menyerah tanggal 7 mei 1945 dan Belanda terbebas dari jeratan Jerman tanggal 9 Mei 1945. Hindia Belanda terbebas dari jeratan Jepang tanggal 15 Agustus 1945 seiring dengan dijatuhkannya bom nuklir oleh AS di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah, termasuk di hindia belanda.

Kolonel L.M. Cosgrave, afgevaardigde van Canada, ondertekent het document. Geheel links staat generaal Yoshijiro Umezu, chef van de Keizerlijke Garde/ Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard.
Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document of official surrender of Japan on the American battleship Missouri in Tokyo Bay. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard. (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Kekalahan Jepang di Hindia Belanda, sudah dapat dilihat oleh Spoor serta para pimpinan Hindia Belanda lainnya ketika pasukan sekutu perlahan menguasai Filipina dan mereka melihat perlunya penguasaan kembali Hindia Belanda dengan cepat setelah Jepang pergi.  Namun kala itu, Belanda dan Hindia Belanda berada dalam kondisi yang sulit. Tawanan perang serta korban yang berguguran membuat personil administrasi dan tentara, khususnya tentara Hindia Belanda, menjadi berkurang. Belum lagi dengan menipisnya kas negara akibat peperangan dan pengambilalihan Hindia Belanda oleh Jepang.

Memburuknya kondisi Belanda pasca perang dunia II menciptakan peluang bagi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Ketidaksiapan pemerintah Belanda untuk mengokupansi kembali Hindia Belanda serta kalahnya Jepang seolah memberikan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Benar saja, dua hari setelah Jepang menyerah, tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Jadi, pernyataan Indonesia merdeka dari Belanda atau Jepang atau penjajahan rasanya kurang cocok. Karena sesungguhnya Indonesia merdeka karena sudah tidak ada keterikatan atau ketergantungan dari pihak lain, mengacu pada definisi ke tiga dari arti kata merdeka dalam kamus KBBI. Belanda menyerah kepada Jepang dan Jepang menyerah kepada sekutu. Sedangkan sekutu tidak mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Sekutu, yang didalamnya termasuk juga Belanda, pun tidak mendaratkan kakinya secara resmi di Jawa hingga akhir September/awal oktober 1945.

merdeka /merdéka/ a

1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri;

2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan;

3 tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu; leluasa;

(KBBI. 2008)

Jadi, apakah karena keberuntungan Indonesia bisa merdeka ? Atau persiapan yang matang dari nasionalis Indonesia dan jelinya melihat perkembangan situasi perang dunia ? Pertanyaan ini kembali menyerobot pikiran saya yang kurang terdidik akan pergerakan bangsa (sendiri) Indonesia. Saya harus membaca kembali soal ini. Akan tetapi jelas, menurut De Moor dalam buku ini memang posisi Belanda dan Pemerintahan di Hindia Belanda kurang siap dan tidak mampu mengatasi masalah-masalah internal yang menggerogoti Hindia Belanda.

Pendudukan kembali Hindia Belanda?

Rencana pendudukan kembali mulai dirancang sejak mengungsinya pimpinan Hindia Belanda ke Australia dan Spoor yang telah menjadi pimpinan NEFIS, badan intelijen militer. Dalam rencananya Spoor mengungkapkan bahwa pemulihan kekuasaan di Hindia Belanda yang sudah dibebaskan harus dipegang penuh di tangan militer. Tahun 1943 dan 1944 pun disusun rencana untuk memberikan dukungan personil sebanyak 75 batalion KNIL.

Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia
Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia (http://media-kitlv.nl, key : KNIL)

Namun rencana itu gagal sebab hingga November 1945 tetap tidak didapatkan jumlah personil dan prasarana yang memadai, seperti dijelaskan De Moor pada hal 208 : “Pada bulan November, tiga bulan sesudah kapitulasi Jepang, jumlah itu masih sangat mengecewakan. Di Batavia, KNIL dapat menyediakan sekitar 10 kompi (kira-kira 1500 orang), tetapi tidak semua mereka operasional. Di Sumatera bulan itu bahkan belum ada satu pun kompi yang operasional walau beberapa sedang didirikan, terdiri atas para eks tawanan perang. Diluar Jawa, Belanda punya sepuluh kompi yang operasional dan sejumlah yang sama yang sedang dibentuk, sebagian besar berasal dari Thailand dan lain-lain daerah tempat para militer itu diinternir. Jumlah seluruhnya yang dapat dikerahkan oleh KNIL sekitar 5000 orang, sebagian besar masih berada di luar Hindia Belanda, antara lain di Manila, Singapura dan Bangkok.”

 Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/ Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore the day order for the residents after the signing of the Japanese surrender
Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/
Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore, order of day for the residents after the signing of the Japanese surrender (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

De Moor juga merujuk pada kurang baiknya hubungan antara pimpinan sekutu di Asia tenggara (SEAC, South East Asia Command) yang dipegang oleh Inggris dibawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten di Singapura dengan Jendral Spoor sebagai penyumbang kegagalan pendudukan kembali. Inggris kala itu mendapat mandat untuk melucuti tentara Jepang, mengevakuasi para interniran dan menjaga ketertiban umum sampai Belanda memulihkan kekuasaannya.

Namun dalam kenyataannya, Spoor menuding Inggris tidak saja dengan sengaja menahan pasukan belanda di Malaka, namun juga menuding tidak tegasnya Inggris dalam mempasifikasi kaum republiken dan para anarkis yang menyebabkan kekacauan di Jawa (sebagai sebab penundaan pasukan Belanda datang ke Jawa). Bahkan juga, menuding Inggris yang menyatakan pengakuan dan dukungannya terhadap kaum republiken di Indonesia, kaum Sukarnois.

Akan tetapi, yang paling krusial menurut saya adalah kesalahan intelijen dalam usaha pendudukan kembali Hindia Belanda, padahal spoor sendiri yang mengepalai badan intelijen tersebut. Disebutkan dalam halaman 195, “Spoor memandang semua perkembangan politik dengan pendudukan Jepang sebagai latar belakangnya. Republik, Sukarno, nasionalisme, kelompok perjuangan, pemuda pejuang, boleh dikatakan semuanya menurut pandangannya adalah ‘buatan Jepang’. Apabila pimpinan Jepang dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ekstrimis dan teoritis dapat disingkirkan, ia yakin seyakinnya tak ada yang tersisa lagi dari seluruh gerakan nasional itu dan dari ‘apa yang mereka namakan REPUBLIK itu.”

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Penutup

Dengan demikian, tanpa melihat pergerakan nasionalis Indonesia kala itu, Belanda mengalami kesulitan yang fundamental dalam mempertahankan negeri jajahan Hindia Belanda. Belanda telah gagal mempertahankan Hindia Belanda sedari awal sejak dijajah di negerinya sendiri oleh Nazi Jerman. Dengan membaca buku ini, terlihat bahwa situasi yang dialami Belanda memang menguntungkan bagi pergerakan nasional Indonesia.

Akan tetapi, selain dari faktor nasionalisme yang memuncak di kalangan pejuang pergerakan Indonesia, apakah cepatnya tindakan proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan insentif dari Jepang seperti yang sering digadang-gadang dengan ikut campur tangannya Laksamana maeda, atau hanya simpati sekelompok orang Jepang yang menaruh perhatian pada gerakan kemerdekaan Indonesia ?

Inilah pertanyaan lanjutan yang masih membayangi saya setelah membaca buku yang ditulis De Moor ini, sangat menarik untuk melihat cerita maupun analisa masa-masa awal kemerdekaan Indonesia di tengah tahun 1945 itu dari sisi Jepang.

Buku Kuasa Jepang di Jawa, yang awalnya disusun sebagai disertasi dari Prof. Aiko Kurosawa merupakan target bacaan lanjutan saya untuk mencoba memahami keseluruhan cerita kemerdekaan Indonesia. Tapi rasanya sebelum membaca buku tebal itu saya mau membaca buku Dalem Tawanan Djepang yang disusun oleh Nio Joe Lan semasa ditahan Jepang dan diterbitkan di tahun 1946. Mengapa saya baru sadar buku ini ada setelah 71 tahun Indonesia merdeka yah.

04_spoorKuper sekali saya…haduuh..

Tsunami Ambon tahun 1950

Iotic2
Halaman depan informasi tsunami ambon 1950 di website IOTIC.IOC-UNESCO

Belum lama ini, IOC-IOTIC (International Oceanographic Commision-Indian Ocean Tsunami Information Center) yang mengurus informasi tsunami di Samudera Hindia dan bertempat di UNESCO Jakarta baru saja mengeluarkan laman web mengenai tsunami di Ambon tahun 1950. Dari catatan sejarahnya (setidaknya dari googling kasar, tidak banyak ditemukan tsunami di Ambon) terlebih tsunami di tahun 1950 itu. Paling sering keluar informasinya adalah Tsunami Ambon tahun 1674, tahun yang jelas terlampau jauh dari tahun 2016 ini. Walau demikian, terdapat bukti-bukti tak terbantahkan kalau memang ada tsunami kala 1950 itu. Bukti yang memang bukan hanya ilmiah, tetapi bukti yang hidup. Dari studinya, tim IOC-IOTIC UNESCO Jakarta telah berhasil menyusun serangkaian bukti-bukti tersebut menjadi sebuah cerita yang patut dibaca dan diperhatikan bagi kita-kita yang sulit membayangkan kejadian di masa itu dan untuk pembelajaran kebencanaan di masa mendatang.

IMG_20151128_113209
Pantai Hutumuri 1

Ya, saya merasa, Ambon tahun 1950 adalah Ambon yang jelas sangat berbeda dengan Ambon saat ini. Secara de jure, baru lima tahun saja umur negara ini. Secara de facto perjuangan untuk menjadi sebuah negara berkedaulatan penuh masih terus berlangsung, di daerah maupun di pusat negara di Pulau Jawa. Pergolakan bermunculan di seantero negeri, menguji ketahanan pemerintahan baru. Salah satu dari pergolakan itu terjadi di Ambon sana, tuntutan-tuntuan mencuat dan pemerintah yang baru seumur jagung pun mengambil tindakan yang dirasa perlu.

IMG_20151128_114723
Pantai Hutumuri 2

Wajar rasanya kalau hidup semasa itu tidak banyak berpikir macam-macam. Makan tidur dan berjuang, makan tidur dan berjuang, makan tidur dan berjuang saja. Setidaknya berjuang untuk tetap hidup esok harinya. Ambon, selayaknya banyak kota lain di Indonesia kala itu adalah tempat untuk berjuang. Oleh karena itu, ketika sebuah gelombang besar datang dan menyapu sebuah kampung, tidak ada yang tahu fenomena apa yang telah terjadi dan terlebih lagi, apa yang bisa dilakukan saat dan setelah gelombang itu datang.

IMG_20151128_120622
Pantai Hutumuri 3 dan bongkahan karang yang aneh.

Fight or and Flight (Lari dan hadapi)

Hari ke delapan di bulan Oktober tahun 1950, bagi masyarakat Galala dan Hative Kecil serta masyarakat Kampung Hutumuri adalah hari minggu biasa, hari yang digunakan untuk beristirahat dan beribadah. Selain dari ketakutan akan bahaya senjata api dari pihak manapun semua berjalan normal selayaknya hari minggu-minggu yang lainnya. Tapi tanah yang bergoyang, tak berapa lama setelah selesai ibadat di gereja memberikan pertanda yang menggelisahkan dan yang menyusul setelah tanah goyang tersebut membuat orang berhamburan menuju tempat yang lebih tinggi.

IMG_20151128_175351
Muka Pantai Hative Kecil 1

Air naik dan air turun bergantian berturut-turut. Air laut naik dan turun menerjang kampung dengan ketinggian gelombang yang menghancurkan. Semua hancur berantakan dan tidak banyak yang bisa dilakukan warga kala itu selain menyelamatkan diri dan bertahan apa adanya.

IMG_20151128_175236
Muka Pantai Hative Kecil 2, dekat sekali dengan air laut.

Tanah goyang dan air turun naik merupakan istilah gempa dan tsunami bagi orang Ambon. Istilah yang barangkali lahir dari peristiwa ini. Peristiwa 8 Oktober 1950 itu masih sangat melekat di ingatan, terutama bagi para saksi yang masih ada hingga saat ini. 65 tahun kemudian, para penyintas kejadian tersebut yang kala itu masih belum dewasa sekarang telah menjadi Opa dan Oma bagi keluarganya dan dengan lancar menceritakan kembali pengalamannya sebagai saksi hidup peristiwa itu.

IOTIC
Cuplikan teks wawancara di laman IOTIC-IOC.

Walau demikian, tidak berarti semua kenangan pahit bisa dilupakan. Kehancuran dan dampak yang ditimbulkan bencana tersebut jelas melampaui batas waktu 65 tahun ini. Raut muka dan ekspresi kesedihan jelas tidak bisa disembunyikan dari rekaman video wawancaranya, lebih-lebih tangisan. Dengan demikian telah jelaslah, bahwa perihal bencana semacam ini jangan sampai terulang kembali, jangan sampai terjadi kembali kesedihan dan kepiluan semacam ini di masa depan.

Pustaka :

http://iotic.ioc-unesco.org/1950ambontsunami/

http://iotic.ioc-unesco.org/1950ambontsunami/air-turun-naik-di-tiga-negeri-hq.pdf