Warisan Abadi Klaus Wyrtki

Wyrtki3
Prof. Klaus Wyrtki (Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.)

Bagi orang-orang yang berkenalan dengan ilmu kelautan, khususnya di bidang oseanografi fisis, nama Klaus Wyrtki tentulah tidak asing. Ketenarannya di Indonesia lebih dikenal melalui karyanya yang berjudul Naga Report. Sebuah buku laporan komprehensif, yang terbit (tahun 1961) lebih dari 50 tahun lalu, mengenai kondisi fisis perairan Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Buku ini konon katanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan masih digunakan sebagai salah satu referensi oleh kalangan pelajar/peneliti hingga saat ini. Kalau anda pernah membaca buku ini, maka buku ini rasanya layak dikatakan sebagai kitab oseanografi perairan Asia Tenggara.

Karir Wyrtki sebagai seorang oseanografer dunia bermula di Indonesia. Selepas menuntaskan pendidikan pasca doktoralnya, Wyrtki sedang mencari pekerjaan dan memutuskan untuk menerima lowongan peneliti di Indonesia. Wyrtki bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Laut, Jakarta, sekarang P2O LIPI.

Di LPL Jakarta, Wyrtki mendapatkan dirinya sebagai satu-satunya peneliti oseanografi. Kekurangan peneliti barangkali disebabkan oleh eksodusnya banyak penduduk Belanda akibat masa perang kemerdekaan, warga Indonesia pun sepertinya sudah tidak ingin melihat orang Belanda di tanah Indonesia. Akibatnya instansi-instansi yang dulu banyak diisi oleh orang Belanda banyak menjadi kosong, seperti di Lembaga Penyelidikan Laut. Sebelumnya, lembaga ini dipimpin oleh Dr. J.D.F. Hardenberg, Prof. Dr. H.C. Delsman dan Dr. Armand L.J. Sunier, ketiganya orang Belanda tulen dan lembaga itu sebelumnya  juga bernama Belanda tulen, Laboratorium Voor Het Onderzoek der Zee (LOZ).

Singkat cerita, Wyrtki, seorang Jerman dan oseanografer handal satu-satunya di lembaga itu malah bertugas menjadi kepala institusi LPL. Wyrtki kemudian menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik dan melakukan banyak pelayaran, pengamatan hingga analisa detail mengenai kondisi perairan Indonesia dan sekitarnya.

Wyrtki2
Wyrtki dan penelitiannya di Kapal Riset Samudera. (oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf)

Perairan Indonesia yang masih asing di dunia kala itu (barangkali hingga sekarang), membuat ketertarikan pada diri Wyrtki yang masih segar keluar dari kampus. Wyrkti kemudian memutuskan untuk mendevosikan waktunya di Indonesia untuk memberikan gambaran lengkap dari kondisi oseanografi di perairan Indonesia. Akan tetapi, melalui penelusuran yang telah dilakukan, Wyrtki menyadari bahwa analisa dan deskripsi demikian haruslah tidak dipandang terbatas pada perairan Indonesia saja melainkan harus mencakup pada keseluruhan perairan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, sesunggguhnya, untuk memahami secara lengkap profil perairan Asia Tenggara, tidak hanya Naga Report Volume 2 saja yang harus dibaca, tapi juga membaca Volume 3 nya yang berisi tentang karakter oseanografi perairan Teluk Thailand serta koleksi laporan oseanografi biologi dari Naga Report.

Mengenai pelayaran, dalam penugasannya di Jakarta, Wyrtki kerap berlayar untuk mengambil data dan menggunakan Kapal Riset Samudra. Sebuah kapal riset dengan bobot sekitar 200 ton yang digunakannya untuk mengambil sampel menggunakan botol Nansen di perairan Indonesia. Wyrtki sepertinya menggunakan kapal ini untuk mendapatkan data-data oseanografi dari tahun 1956-1957, sekitar 100 stasiun pengamatan, di perairan timur Indonesia, Selatan Jawa dan hingga perairan Paparan Sunda. Sayangnya, keterbatasan peralatan membuatnya hanya bisa mengambil data hingga kedalaman beberapa ratus meter saja dan melewatkan pengukuran pada interior laut yang ribuan meter.

Karirnya di Indonesia cukup singkat, dari tahun 1954-1957, dan tidak diperpanjang karena adanya bibit-bibit pemberontakan PRRI di Sumatera yang (barangkali) memberikan kondisi tidak nyaman untuk melakukan penelitian.

Lepas dari Indonesia, Wyrtki beralih ke Australia dimana dia mengambil peran di lembaga kelautan Autralia CSIRO pada Divisi Oseanografi dan Perikanan. Di Australia, beliau menghabiskan watu tiga tahun juga dan menerbitkan penelitiannya mengenai kandungan oksigen dalam relasinya pada sirkulasi laut. (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.)

Sebelum lepas dari Australia, Wyrtki sebenarnya menerima dua tawaran kerja yaitu di Scripps Institution of Oceanography di California dan Columbia University di New York. Wyrtki memilih Scripps. Alasannya sederhana, pekerjaannya di Columbia mengharuskannya untuk meneliti Samudera Antartika, termasuk berlayar kesana dengan kapal riset Eltanin. Mengetahui hal itu ia berucap :

“no, no. No Antarctic Ocean, no seasickness, no roaring forties, I stay in the tropics”.

“tidak, tidak. tidak Samudera Antartika, tidak pada mabuk laut, tidak pada angin kencang, aku tetap di daerah tropis”

Wyrtki mengungkapkan bahwa Indonesia telah membuatnya sedikit manja dan enggan untuk kembali ke iklim yang dingin, sehingga tawaran di Scripps diterimanya.

Di Scripps Institution of Oceanography, Wyrtki mengaku bahwa pekerjaannya sangat menarik dan menantang yaitu mempelajari variabilitas lapisan atas laut. Salah satu hasil pekerjaannya mengungkapkan fenomena upwelling di perairan Kosta Rika yang digunakan untuk menganalisis area pancing dan tempat berkumpulnya tuna (Wyrtki, K., 1964: Upwelling in the Costa Rica Dome. Fish. Bull., 63 (2), 355-372.). Waktunya berkarya di Scripps inilah yang melahirkan kondensasi pemikiran mengenai perairan Indonesia-Asia Tenggara dan menghasilkan buku Naga Report itu.

Seperti jadi kebiasaan, tiga tahun berselang, Wyrtki kemudian pindah lagi ke Hawaii di musim panas tahun 1964. Di Hawaii beliau masuk ke Universitas Hawaii untuk membantu mengembangkan Departemen Oseanografi yang baru berdiri kala itu. Salah satu tujuannya adalah membantu dalam penelitian oseanografi di Kepulauan Hawaii. Di kemudian hari, di tahun 1988 departemen itu menjadi sebuah sekolah/fakultas tersendiri, SOEST (School of Ocean and Earth Science and Technology). Hawaii memberikan kesempatan Wyrtki untuk meneliti dengan lebih luas, pemikiran dan penelitiannya yang terdepan saat itu masih menjadi referensi saat ini, sebuah maha karya oseanografi adalah atlas Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1971: Oceanographic Atlas of the International Indian Ocean Expedition. National Science Foundation Publication, OCE/NSF 86-00- 001Washington, DC, 531 pp.).

Dalam wawancaranya di tahun 1999, wyrtki mengungkapkan bahwa publikasi favoritnya adalah mengenai sirkulasi termohalin di tahun 1961, (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.) dan oksigen minimum di tahun 1962. (Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.) kemudian Arus Peru yang berkaitan dengan pergerakan vertical dan horizontal dalam area luas di laut (Wyrtki, K., 1963. The horizontal and vertical field of motion in the Peru Current. Bull. Scripps Inst. Oceanogr. Univ. Calif., 8 (4), 313-346.) dan kemudian tentunya ada Atlas Samudera Hindia dan analisa sirkulasinya serta aliran jet laut Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1973: An equatorial jet in the Indian Ocean. Science, 181, 262-264.)

Wyrtki memang tidak menyebutkan mengenai Naga Report sebagai publikasi favoritnya, namun masa tiga tahunnya di Indonesia membuka jalan pemikirannya akan siklus termohalin dan bahkan buku Naga Report yang disusunnya mengungkapkan pemikiran akan adanya transport massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang sekarang lebih dikenal dengan Arlindo (ITF). Penelitian mengenai Arlindo/ITF ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Arnold Gordon dikemudian hari. Arnold Gordon adalah orang yang menggantikannya bekerja di Columbia University sedangkan Wyrtki di Scripps. Arnold Gordon kemudian mengadakan beberapa kali pelayaran di Indonesia untuk meneliti ITF  di awal tahun 2000an (Ekspedisi INSTANT).

Wyrtki1
Kapal riset Klaus Wyrtki (http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

Wyrtki kemudian pensiun dan menjadi professor emeritus di tahun 1993 dan memilih untuk menetap di Hawaii sampai akhir hayatnya. Wyrtki kemudian menerima penghargaan-penghargaan yang membuatnya layak dijadikan salah satu begawan oseanografi dunia (The Grand Old Man of Physical Oceanography). Namanya telah diabadikan menjadi salah satu aliran arus (Wyrtki Jet) di ekuatorial Samudera Hindia dan pada beberapa kapal-kapal riset di Hawaii. Klaus Wyrkti yang lahir pada tanggal 7 Februari 1925 akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 87, pada tanggal 5 Februari 2013, dua hari sebelum beliau berumur 88 tahun.

 

Happy belated birthday Klaus Wyrtki !!

 

 

Pustaka :

Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.

Wyrtki, K., 1961: Physical oceanography of the southeast Asian waters. Univ. Calif., NAGA Rept., No.2, 195 pp.

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

https://scholar.google.co.id/citations?user=eWoRjvcAAAAJ&hl=id

https://en.wikipedia.org/wiki/Klaus_Wyrtki

https://tos.org/oceanography/assets/docs/3-1_lukas.pdf

oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/interview_wyrtki.html

Advertisements

Indonesia Bangsa Maritim ?

Sudah tentu, hampir semua dari kita mengenal lagu Nenek Moyang karya Ibu Saridjah Niung. Ibu Saridjah merupakan keturunan seorang Bugis yang bermukim di Sukabumi pada masa mudanya. Sebelum lagu “Nenek Moyang” diciptakan, orang Bugis sejak lama memang telah mempunyai reputasi sebagai pengarung lautan. Mungkin sekali, motivasi Ibu Saridjah menciptakan lagu didorong oleh kenangan pada ayahandanya beserta seluruh pendahulu sang ayah yang telah menjelajah nusantara dan mengarungi lautnya sebelum dikenal dengan nama Indonesia.

Saridjah_Niung_2000_Indonesia_stamp
Ibu Saridjah Niung alias Ibu Soed (https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung)

Sejauh apa sih kebenaran klaim nenek moyang kita adalah pelaut ?

Mengacu pada kata ‘nenek’, memang masih banyak warga Indonesia dengan umur atau kategori nenek-kakek yang masih aktif melaut maupun yang mengandalkan mata pencahariannya dari laut. Tapi, sungguh terlalu jauh kalau anda membayangkan seorang kakek/nenek mantan pengusaha yang sesekali datang ke pelabuhan dengan mobil mewah untuk mengawasi usaha pengemasan ikan laut segar yang akan diekspor ke luar negeri dan kemudian mengecek kesiapan armada kapal penangkap ikannya sambil bersiap diri untuk memancing ala ‘mancing mania’ dengan kapal yacht 2 X 250 PK nya.

Barangkali, jauh lebih dekat bila anda membayangkan seorang kakek/nenek yang dengan capai dan peluhnya mengharapkan lakunya dagangan 3 ikat ikan setengah busuk yang bobot ikannya tidak lebih dari 10 kg keseluruhannya. Berjongkok di tepi luar pasar ikan, bersenyum murah pada setiap pengunjung agar bisa membeli ikan yang dia dapatkan dengan sampan kecil yang terbuat dari kayu dan berumur lebih tua darinya, agar dia bisa melunasi biaya solar dan biaya pengobatan tubuhnya yang renta.

Sudah begitu, ditawar juga harga ikannya.

IMG_2111
Nelayan Banten, sekitar Selat Sunda.

Dari situ, ya setidaknya, klausa “nenek moyangku adalah pelaut” mempunyai sebagian kebenaran. Mayoritas kota-kota besar Indonesia terletak di pinggir pantai atau sungai dan sebagian penduduk kota itu juga berprofesi sebagai nelayan maupun profesi maritim lainnya. Profesi yang barangkali merupakan profesi warisan dan bahkan tanpa pilihan bagi warga yang sekarang sudah berumur cukup tua seumur kakek-nenek. Akan tetapi rasanya profesi agraris saat ini masih lebih dominan dibandingkan profesi maritim, sebuah klaim yang saya simpulkan dari hasil pengamatan sekilas semata. Simpulan yang lebih mendalam membutuhkan keahlian analisa khusus dari data statistik BPS yang terlampau berlimpah (baca : tidak langsung pakai).

Masa sekarang, profesi kemaritiman didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendukung masyarakatnya untuk kembali ke laut melalui gerakan maupun kebijakan seperti hari ikan nasional, tol laut, penenggelaman kapal tangkap terlarang hingga pelestarian kawasan laut. Dipikir-pikir, gerakan atau kebijakan semacam ini sebenarnya dimulai belum terlalu lama. Sebagai sebuah Negara kelautan yang ditaburi pulau, Kementerian Kelautan sebenarnya baru terbentuk tahun 2009. Sebelum tahun itu, fungsi kelautan dalam Negara dilakukan oleh Menteri Eksplorasi Laut tahun 1999 dengan badannya Departemen Eksplorasi Laut.  Badan ini kemudian berubah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan sebelum akhirnya sekarang menetap menjadi sebuah kementerian. Dari 1999-2017, baru 18 tahun umur badan kelautan yang resmi dibentuk oleh pemerintah. Umur 18 tahun memang umur yang baru melek baca.

programKKP
Program KKP. Senang melihat program yang ditulis secara tersirat untuk membalikkan mata kita menuju laut kembali. Berdaulat ! Berkelanjutan ! Sejahtera ! (http://kkp.go.id)

Sebelum tahun 1999, di Indonesia rasanya tidak ada yang disebut dengan dunia kelautan. Laman sejarah pranala Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan masa tersebut dengan kalimat “Dimasa Orde Baru, orientasi pembangunan masih terkonsentrasi pada wilayah daratan. Sektor kelautan dapat dikatakan hampir tak tersentuh, meski kenyataannya sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam, baik jenis dan potensinya.”  Tidak perlu dikomentari lebih jauhlah pencapaian maritim 32 tahun itu apa, kalau bukan hanya fasad-fasad belaka.

Padahal pada masa-masa awal kemerdekaan hingga masa orde lama meskipun kebijakan kelautan belum begitu berkembang, namun Sukarno sudah menyadari pentingnya laut dan jalur perhubungannya. Perginya Belanda dari Indonesia menyebabkan ketimpangan pada aset-aset negara termasuk diantaranya kapal-kapal. Kekurangan kapal sebagai penghubung antar pulau menyebabkan melonjaknya harga-harga bahan pokok karena pasokan barang yang terbatas. Dampak perang baik dengan Jepang maupun Belanda membuat banyak rakyat kelaparan baik secara agraris maupun maritim. Perusahaan milik Negara, PELNI, yang baru berdiri di tahun 1952, jelas masih belum memiliki armada yang memadai.

Jalan pintas ditempuh dengan mencoba mengambil alih paksa perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij  (KPM) milik Belanda beserta seluruh asetnya sebagai sarana penghubung dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada 5 Desember 1957 para buruh pekerja Indonesia berhasil menduduki kantor pusat KPM di Jakarta, tetapi tidak mampu untuk menyita kapal-kapal yang dimiliki KPM. Para pimpinan perusahaan Belanda ternyata sudah mengantisipasi langkah penyitaan ini dan telah memberikan perintah kepada kapten-kapten kapal mereka untuk segera meninggalkan Indonesia melalui kode rahasia. Sebanyak lebih dari 50 kapal KPM dapat lolos dari sergapan penyitaan paksa sedangkan sisanya diambil Indonesia. Akan tetapi, melalui campur tangan Lloyd(s) Insurance Company, penyitaan ini mengharuskan Indonesia membayar 117 juta gulden sebagai kompensasinya kepada KPM. Pemerintah Indonesia menolak dan kemudian terpaksa mengembalikan kapal-kapal itu.

Kapal SS Rumphius dengan Pulau Anak Krakatau dibelakangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk menyewa sementara dan membeli armada kapal untuk keperluan penghubung bangsa. Dana yang digunakan untuk menyewa dan akhirnya membeli (51 kapal dari Jepang) kapal tersebut berasal dari dana pampasan perang pemerintah Jepang melalui perjanjian yang disepakati Indonesia dan Jepang.

Pada periode yang sama, pemikiran mendalam mengenai posisi geografis Indonesia melahirkan Deklarasi DJuanda yang diusulkan pada tahun 1957 dan diperjuangkan dari tahun 1960 hingga tahun 1982. Perumusan ini kemudian disahkan dalam konvensi hukum laut PBB di Montego Bay, Jamaika pada 10 Desember 1982. Hasil konvensi ini kemudian berlaku pada perairan Indonesia mulai tahun 1985 dan secara internasional tahun 1994. Sayangnya hasil konvensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik bagi pemerintahan orde baru dan malah tak tersentuh.

Perangko Deklaras Djuanda. Pak Djuanda tampak kalem sementara Pak Karnonya bersemangat dan para penarinya tampak kebingungan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda)

Pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak yang dilakukan pemerintahannya untuk kepentingan maritim dalam sebuah masa peperangan selain mengganti nama-nama badan pemerintahannya menjadi bernama Jepang, pendudukan Jepang lebih fokus untuk mengambil sumber daya alam nusantara untuk keperluan perang daripada mengembangkannya.

Masa pendudukan Belanda (Periode setelah kebangkrutan VOC pada 1800) merupakan masa suram kelautan nusantara. Kekuasaan laut sepenuhnya ada pada Pemerintah Belanda. Perlakuan kontrol kuat atas pelayaran dan transportasi yang diatur oleh VOC pada kerajaan-kerajaan nusantara, diwariskan pada pemerintah Belanda dan digunakan untuk melanjutkan kepentingan Kolonial Belanda. Masyarakat pesisir atau moyang-moyang kita di pesisir banyak ditarik ke wilayah pedalaman untuk mendukung penanaman komoditas ekspor melalui sistem tanam paksa yang dimulai 1830. Moyang kita menjadi budak dan buruh ditanahnya sendiri.

Perusahaan KPM yang beroperasi mulai tahun 1888 didirikan untuk mengangkut hasil tanam paksa di seantero pulau-pulau nusantara untuk diangkut keluar negeri. Modernisasi kapal dari kapal layar menjadi kapal uap memang semakin mengukuhkan peran perusahaan KPM dan pemerintah Belanda dalam dunia kelautan nusantara. KPM mulai beroperasi pada 1 Januari 1891 dengan modal 29 kapal uap kecil – 13 baru dan 16 warisan dari pendahulunya, NISM (Nederlandsch Indische Stoomvaart Maatschappij). Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antara pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih popular dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.

Overview map of the connections to be sailed by the Royal Packet Company in the Netherlands Indies (https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Mulai dari tahun 1906 perusahaan ini mulai melakukan ekspansi usaha dengan membuka  rute-rute baru dari kepulauan HIndia Belanda ke negara-negara lain dengan berbagai anak perusahaan, antara lain pada tahun 1908 dengan nama Java-Australië Lijn (JAL) melayani lintas Jawa-Australia, disusul pada tahun 1910 dengan Java-Siam Lijn (JSL) melayani lintas Jawa-Thailand, dan terakhir pada tahun 1915 Deli-Straits-China Lijn (DSCL) melayani lintas Medan – China.

Tidak banyak pengusaha laut nusantara yang dapat diketahui (saya) menyaingi KPM. Salah satu perusahaan yang diketahui adalah perusahaan milik kakek (alm.) Des Alwi yaitu Baadila Brothers yang didirikan pada akhir abad 19 untuk mengangkut barang/kargo dari Gresik hingga Banda Naira. Perusahaan pelayarannya kemudian berkembang menjadi pengangkut penumpang juga serta dipuncak kesuksesannya menjadi pengusaha mutiara dan perkebunan pala yang luas di Banda Naira.

BukuDesAlwi
Buku Sejarah Maluku karangan Des Alwi, isinya juga mencakup sebagian sejarah keluarga Des Alwi .

Akan tetapi tidak seluruhnya kebijakan kolonial Belanda merugikan citra maritim nusantara, pendirian-pendirian kantor kelautan seperti Afdeling Visserij (tahun 1914) dan Instituut Voor de Zeevisserij (tahun 1928) memberikan fondasi bagi penelitian kelautan di nusantara. Patut dicatat juga bahwa periode kolonialisme Belanda memberikan ruang bagi ekspedisi-ekspedisi penelitian kelautan di nusantara yang berguna untuk memberikan gambaran lengkap laut nusantara dari permukaan hingga dasar lautnya. Ekspedisi tersebut antara lain adalah Ekspedisi Challenger (1872 – 1876), Ekspedisi Valdivia (1898-1899), Ekspedisi Siboga (1899-1900), Ekspedisi Snellius I (1925-1930) dan Ekspedisi Galathea (1950-1952). Gambaran laut Indonesia itu kemudian dilengkapi oleh kedatangan Klaus Wyrtki tahun 1954 yang kemudian bertugas sebagai kepala Lembaga Penyelidikan Laut Indonesia dan memberikan jalan bagi peneliti-peneliti laut Indonesia awal seperti Aprilani Soegiarto dan Syarmilah Syarif.

Peraturan pembatasan laut territorial sejauh 3 mil melalui UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie Tahun 1939) juga lahir di periode Kolonial Belanda. Sebuah peraturan kelautan kuno yang tidak didasarkan pada negeri-negeri kepulauan. Peraturan ini jelas mempertanyakan kedaulatan Negara Indonesia sebab pada jarak 3.01 mil saja, kapal asing dapat parkir dengan bebas didepan pulau-pulau Indonesia. Nenek moyang Ibu Saridjah Niung tentu tidak habis pikir kalau kebebasan laut negerinya hanya dihargai sejauh 3 mil saja. Kelak, peraturan ini membuat gatal Pak Djuanda di tahun-tahun kedepannya dan mendorongnya untuk melahirkan apa yang disebut Deklarasi Djuanda.

 

 

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

Kurosawa, A. 2015. Peristiwa 1965 : Persepsi dan Sikap Jepang. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda

https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung

https://en.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart-Maatschappij

https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://tirto.id/deklarasi-djuanda-dan-ikhtiar-menyatukan-laut-indonesia-cBuT

http://kkp.go.id/sejarah/

http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/17%20Siboga.pdf

Beberapa burung temuan Wallace di Lombok

Bagi yang pernah sedikit belajar mengenai Garis Wallace, mungkin masih sedikit hapal bentangan garisnya. Detail bentangan garis ini bisa dicari dimana saja sekarang. Salah satu posisi garisnya memisahkan Pulau Bali dengan Pulau Lombok. Dengan demikian Bali dan Lombok menjadi perbatasan dan sekaligus wilayah perantara antara flora dan fauna bagian barat dengan bagian timur Indonesia. Di Bali, Wallace tidak memiliki kesempatan banyak untuk mengeksplorasi daerahnya dengan seksama. Tapi di Lombok Wallace memiliki kesempatan lebih lama dan mendapatkan peluang untuk mendapatkan koleksi flora maupun fauna yang khas. Disini saya akan memvisualisasikan beberapa fauna Lombok temuan Wallace dari bangsa burung.

1. Oriolus Broderipii (Oriolus Chinensis)

The fine fig-trees of the avenues, where a market was held, were tenanted by superb orioles (Oriolus broderpii) of a rich orange colour, and peculiar to this island and the adjacent ones of Sumbawa and Flores.
800px-OriolusBroderipiiWolfCrop
Oriolus Broderipii seperti dilukiskan oleh Joseph Wolf. (https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole)

Burung ini banyak ditemukan di seluruh Asia, terdapat 20 subspesies yang telah diketahui dan diklasifikasikan dengan baik. Pak Wallace sendiri telah menemukan dua subspesies ini dalam perjalanannya di nusantara yaitu O. c. maculatus dan O. c. frontalis.

2. Tropidorhynchus timoriensis

All round the town were abundance of the curious Tropidorhynchus timoriensis, allied to the Friar bird of Australia. They are here called "Quaich-quaich," from their strange loud voice, which seems to repeat these words in various and not unmelodious intonations.
16296068244_49ec65fb6a_k
T. Citreogularis, subspesies dari tropidorhynchus

Burung ini merupakan sebuah burung Meliphagine dari genus Australia. Sulit menyebut namanya, apalagi menemukan foto aslinya di Lombok.

3. Megapodius Gouldii

.., and the strange moundmaker (Megapodius gouldii), are also here first met with on the traveller's journey eastward. The last mentioned bird requires a fuller notice. The Megapodidae are a small family of birds found only in Australia and the surrounding islands, but extending as far as the Philippines and Northwest Borneo. They are allied to the gallinaceous birds, but differ from these and from all others in never sitting upon their eggs, which they bury in sand, earth, or rubbish, and leave to be hatched by the heat of the sun or by fermentation. 
Megapodius
Megapodius Reinwardt, masih saudaranya gouldii dan fotonya lebih banyak daripada si Gouldii. (https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting)

4. Halcyon Fulgidus (Caridonax Fulgidus)

I obtained here eight species of Kingfishers; among which was a very beautiful new one, named by Mr. Gould, Halcyon fulgidus. It was found always in thickets, away from water, and seemed to feed on snails and insects picked up from the ground after the manner of the great Laughing Jackass of Australia.
kingsisher
Caridonax Fulgidus. (https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos)

Burung yang cantik, rasanya masih banyak ditemukan disekitar sungai di Lombok dan bahkan di kepulauan Flores.

5. Ceyx Rufidorsa

The beautiful little violet and orange species (Ceyx rufidorsa) is found in similar situations, and darts rapidly along like a flame of fire.
7616225612_7823f368be_b
Rufous-backed Kingfisher atau Ceyx rufidorsa (https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC)

Ditemukan di banyak bagian Asia Tenggara hingga Filipina.

6. Merups Ornatus

Here also I first met with the pretty Australian Bee-eater (Merops ornatus). This elegant little bird sits on twigs in open places, gazing eagerly around, and darting off at intervals to seize some insect which it sees flying near; returning afterwards to the same twig to swallow it. Its long, sharp, curved bill, the two long narrow feathers in its tail, its beautiful green plumage varied with rich brown and black and vivid blue on the throat, render it one of the most graceful and interesting objects a naturalist can see for the first time.
Merops_ornatus_-_Centenary_Lakes
Pemakan lebah yang ada di Lombok dan ada juga di Australia.(https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater)

Ornatus ini ternyata juga sudah masuk zona merah hampir punah, meskipun diberi status tidak mengkhawatirkan (Least Concern).

7. Pitta concinna 

Of all the birds of Lombock, however, I sought most after the beautiful ground thrushes (Pitta concinna), and always thought myself lucky if I obtained one. They were found only in the dry plains densely covered with thickets, and carpeted at this season with dead leaves. They were so shy that it was very difficult to get a shot at them, and it was only after a good deal of practice that I discovered low to do it. The habit of these birds is to hop about on the ground, picking up insects, and on the least alarm to run into the densest thicket or take a flight close to the ground. At intervals they utter a peculiar cry of two notes which when once heard is easily recognised, and they can also be heard hopping along among the dry leaves.

Concinna, nama yang cantik. Burung ini juga ditemukan oleh Gould tahun 1857. Penyebarannya berada di area Sunda Kecil, dimulai dari Lombok hingga pulau-pulau di timur sana seperti Pulau Alor dkk.

 

 

Pustaka :

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole

https://www.wordnik.com/words/Tropidorhynchus

http://www.finedictionary.com/Friar%20bird.html

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius_gouldii

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius

https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC

https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos

https://www.thainationalparks.com/species/rufous-backed-kingfisher

https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater

http://www.iucnredlist.org/details/22683753/0

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=B655A7C067111CBC

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Naturalis_Biodiversity_Center_-_RMNH.AVES.121556_-_Pitta_versicolor_concinna_Gould,_1857

Absurditas Gelombang Selat Lombok

Ampenan_lombok
Posisi Pelabuhan Ampenan dan Pelabuhan Lembar (http://maps.google.com/)

Dari Bali, Tuan Wallace meninggalkan Buleleng dan menuju Lombok. Lagi-lagi, mirip dengan di bali, perjalanannya di lombok (mungkin) hanya sekedar pelesir ilmiah sembari menunggu transportasi menuju makassar. Cukup lama Wallace berada di Lombok (17 juni – 29 Agustus 1856), Wallace pun memanfaatkan kesempatan ini dengan menyelediki setiap keindahan Pulau lombok.

Leaving Bileling, a pleasant sail of two days brought us to Ampanam in the island of Lombock, where I proposed to remain till I could obtain a passage to Macassar.

Setelah meninggalkan Bileling, kami menempuh pelayaran yang menyenangkan selama dua hari menuju Ampanam di Pulau Lombock. Disana saya memutuskan untuk tinggal sampai mendapat jalur transportasi ke Macassar.

Daratan pertama yang dijumpai Wallace saat di Lombok adalah Ampenan. Pada tahun 1856 di saat Wallace datang, Kerajaan Mataram adalah kerajaan mandiri yang berada dibawah kuasa oleh Belanda melalui perjanjian pada tahun 1843, meskipun masih terdapat perlawanan dari orang-orang Sasak (orang Mataram merupakan kerajaan yang lebih banyak berisi orang keturunan orang Bali). Ampenan kala itu adalah pelabuhan utama di Pulau Lombok. Jadi sudah pasti, Wallace dan kapalnya berlabuh di Ampenan. Sekarang pelabuhan utamanya adalah Pelabuhan Lembar di sebelah selatan. Pemindahan pelabuhan ini dilakukan di tahun 1979.  Pemindahan pelabuhan mungkin sekali disebabkan oleh kondisi laut Ampenan yang lumayan ganas seperti dideskripsikan oleh Wallace waktu itu :

The bay or roadstead of Ampanam is extensive, and being at this season sheltered from the prevalent southeasterly winds, was as smooth as a lake. The beach of black volcanic sand is very steep, and there is at all times, a heavy surf upon it, which during spring-tides increases to such an extent that it is often impossible for boats to land, and many serious accidents have occurred. Where we lay anchored, about a quarter of a mile from the shore, not the slightest swell was perceptible, but on approaching nearer undulations began, which rapidly increased, so as to form rollers which toppled over onto the beach at regular intervals with a noise like thunder.

Teluk atau pangkalan laut di Ampanam sangat luas, terlindungi dari terjangan angin tenggara dan kondisinya setenang danau. Pantainya berpasir hitam dan sangat terjal. Gelombang pasang selalu sangat kuat dan menghasilkan ombak dengan ketinggian yang menyebabkan kapal-kapal mustahil untuk berlabuh. Kecelakaan serius sering terjadi di situ. Di tempat kami melepas jangkar, sekitar seperempat mil dari lepas pantai, keadaannya sangat tenang. Namun begitu mendekat, ketinggian ombak akan terus naik dan membentuk gelombang yang menghempas pantai dengan rentang waktu yang konstan dan suara senyaring petir. 
Kaart_Lombok_Expeditie_van_1894_met_Ampenan_Mataram_en_Tjakra_Negara
Peta daerah Ampenan tahun 1894 (https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram)
Iklim di Lombok kala itu rasanya belum seaneh sekarang, dengan tipe musim monsun, musim penghujan dimulai dari bulan Desember hingga februari dan puncak musim kering dimulai dari bulan Juli-September. Hal ini setidaknya masih berlangsung antara tahun 1961 hingga tahun 1990an, sebelum mengalami perubahan pola cuaca di tahun-tahun berikutnya. Wallace yang mendarat pada pertengahan Juni mulai memasuki iklim kering di Lombok dan mengalami pola cuaca peralihan dari musim penghujan menuju musim kering. 
Sometimes this surf increases suddenly during perfect calms to as great a force and fury as when a gale of wind is blowing, beating to pieces all boats that may not have been hauled sufficiently high upon the beach, and carrying away uncautious natives. This violent surf is probably in some way dependent upon the swell of the great southern ocean and the violent currents that flow through the Straits of Lombock. These are so uncertain that vessels preparing to anchor in the bay are sometimes suddenly swept away into the straits, and are not able to get back again for a fortnight. What seamen call the "ripples" are also very violent in the straits, the sea appearing to boil and foam and dance like the rapids below a cataract; vessels are swept about helplessly, and small ones are occasionally swamped in the finest weather and under the brightest skies.

Kadang-kadang, gelombang ombak naik secara tiba-tiba saat suasana benar-benar tenang. Kekuatan dan kedahsyatannya setara dengan badai puting-beliung, sehingga menghancurkan perahu-perahu yang ditambatkan terlalu rendah hingga berkeping-keping. Penduduk yang tidak berhati-hati pun sering terseret gelombang. Gelombang dahsyat ini nampaknya bergantung pada ketinggian ombak di laut besar di selatan dan arus ganas yang mengalir di sepanjang Selat Lombock. Kemunculan gelombang ombak tersebut tidak terduga dan kadang kapal-kapal yang bersiap untuk berlabuh bisa dihanyutkan ke tengah-tengah selat dan tidak dapat kembali lagi selama dua minggu ! Riak – seperti yang biasa disebut para pelaut – juga sangat ganas di kawasan selat. Laut nampak mendidih, berbuih dan berputar-putar seperti riam di bawah air terjun. Kapal-kapal besar terlempat kesana kemari, sedangkan kapal yang kecil bisa ditelan bulat-bulat bahkan di tengah cuaca yang paling baik dan langit paling cerah sekalipun.

Deksripsi barusan berbeda dari deskripsi sebelumnya yang menjelaskan fenomena gelombang besar di pantai. Deskripsi yang ini rasa-rasanya merupakan deskripsi dari sebuah gelombang yang aneh dan lain dari biasanya. Gelombang ini timbul secara tiba-tiba, tidak terduga, membuat laut tampak mendidih, berbuih dan berputar-putar. Sebagai pembaca yang awam, terlebih bagi pembaca zaman itu, deskripsi itu menjadi deksripsi yang aneh luar biasa.

Untungnya, di jaman yang sedikit lebih maju ini, deskripsi itu bisa dipahami sebagai sebuah fenomena unik yang dimiliki Indonesia di Selat Lombok. Sebuah fenomena oseanografi yang disebut sebagai gelombang internal. Bisa jadi, deskripsi dari Wallace ini adalah deskripsi pengamatan pertama didunia mengenai gelombang internal di Selat Lombok.

image11052016_250m
Foto satelit gelombang internal yang diambil oleh NASA. (https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait)

Gelombang internal adalah gelombang yang menjalar di kolom air alih-alih di permukaan laut. Gelombang internal dapat terbentuk pada laut yang terstratifikasi karena adanya perbedaan densitas. Pada Selat Lombok gelombang internal dimungkinkan karena perpaduan topografi yang khas dan properti airnya yang khusus. Selat Lombok yang merupakan salah satu jalan tol air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia memberikan stratifikasi kolom air yang kuat. Kanal Selat Lombok dengan kedalaman yang khas ditambah dengan kecepatan arus yang kencang memberikan pemicu gelombang internal. Pada sisi selatannya, terdapat sebuah bukit dasar laut dengan kedalaman kurang dari 300 meter. Kedalaman yang menonjol dibandingkan area sekitarnya yang mempunyai kedalaman 1000an meter. Air dengan kecepatan yang kencang, hingga 1.8 m/dt, yang bergerak dari selatan ke utara menabrak bukit tersebut akan terganggu sehingga menyebabkan gelombang internal (bayangkan sebuah aliran sungai yang terhalang oleh batu ditengahnya).

Susanto_Mitnik_IWs_Lombok_Oceanography_2005
Gelombang internal Lombok dilihat dalam kolom air, kedalaman 25 – 250m. (Susanto. 2005)

Menurut Susanto (2005), ciri-ciri gelombang internal di Lombok adalah panjang gelombangnya mencapai 2 – 7 km. Kecepatan fasa gelombangnya adalah 1.9 m/dt dan panjang muka gelombangnya dapat mencapai lebih dari 100 km. Rombongan gelombang internal yang diamati bisa timbul hingga 23-24 paket gelombang (train waves). Tinggi gelombangnya bisa mencapai 150 meter, sehingga yang teramati pada permukaan di Selat Lombok adalah puncak gelombangnya. Puncak dari 23-24 atau puluhan paket gelombang inilah yang membuat perjalanan dari Bali-Lombok menggunakan kapal menjadi sangat menegangkan.

I felt considerably relieved when all my boxes and myself had passed in safety through the devouring surf, which the natives look upon with some pride, saying, that "their sea is always hungry, and eats up everything it can catch."

Saya sangat lega setelah barang bawaan dan saya sendiri berhasil selamat melewati ombak yang ganas. Penduduk setempat dengan bangga menyebut bahwa, “laut mereka selalu lapar dan akan memakan apa saja yang bisa ditangkapnya.”

Laut yang lapar ! idiom yang masih terbukti sampai sekarang ini. Sebuah ungkapan yang mencerminkan interior unik Selat Lombok. Lihat saja cerita kesaksian si bule yang menyeberang dari Bali menuju Lombok dengan kapal yang relatif kecil :

lomboktrip
Cerita modern kejamnya Selat Lombok (https://www.tripadvisor.com/)

Gelombang aneh lain yang dialami Wallace adalah gelombang seismik. Gelombang seismik yang sekarang disebut sebagai gempa. Gelombang ini dialaminya di Lombok pada suatu malam. Mungkin ketika sedang beristirahat dari pelesir ilmiahnya diwaktu siang. Catatan ilmuwan belanda seperti Wichmann tahun 1918 menyebutkan bahwa gempa tersebut terjadi pada bulan Juli 1856. Sebuah gempa dengan getaran yang lumayan keras terasa.

A circumstance occurred here which appeared to throw some light on the cause of the tremendous surf at Ampanam. One evening I heard a strange rumbling noise, and at the same time the house shook slightly. Thinking it might be thunder, I asked, "What is that?" "It is an earthquake," answered Inchi Daud, my host;

Suatu peristiwa yang terjadi di sini mengungkapkan tabir penyebab kedahsyatan gelombang di Ampanam. Pada suatu malam saya mendengar bunyi gemuruh aneh. Pada saat yang sama, rumah sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira itu adalah petir, lalu saya bertanya, “apa itu?”

“Itu gempa bumi,” jawab Inchi Daud, sang tuan rumah;

Gempa bulan Juli 1856 ini kemudian dicatat oleh Wallace dengan demikian detil,  bahwa gempa tersebut terjadi pada waktu kondisi bulan ¾, atau pada waktu menuju pasang purnama dengan ombak yang lumayan tenang dan kondisi pasang surutnya berada di kondisi surut. Saking detailnya, bahkan laporan Wallace ini dimasukkan dalam laporan yang diterbitkan tahun 1918 oleh Wichmann.  Yang kemudian laporan ini dikutip lagi tahun 1974 oleh Soloviev.

ron harris
Kutipan catatan gempa oleh Wichmann tahun 1918 mengenai gempa Lombok di tengah tahun 1856. Catatan ini kemudian dikutip lagi oleh Soloviev di tahun 1974.
and he then told me that slight shocks were occasionally felt there, but he had never known them to be severe. This happened on the day of the last quarter of the moon, and consequently when tides were low and the surf usually at its weakest. On inquiry afterwards at Ampanam, I found that no earthquake had been noticed

Ia kemudian menceritakan pada saya bahwa getaran pelan sering terjadi disana, tapi ia tidak pernah mengetahui adanya getaran keras. Gempa itu berlangsung pada hari yang menandai seperempat terakhir bulan dan terjadi ketika ombak sedang rendah dan gelombang berada dalam kondisi paling lemah. Setelah bertanya-tanya lebih lanjut di Ampanam, ternyata tidak ada yang menyadari adanya gempa .

Gelombang aneh lain lagi dialami Wallace di Lombok, kali ini gelombang tersebut pasti akan mengenai dirinya seandainya dia berada di dekat pantai. Untungnya Wallace berada di Labuan Tring (sekarang Labuan Tereng). Gelombang tersebut membanjiri seisi rumah Mr. Carter yang berada tidak jauh dari Ampenan. Iya, gelombang tersebut adalah gelombang tsunami. Istilah tsunami belum dikenal saat itu jadi Tuan Wallace menyebutnya dengan nama gelombang arus. Keterangan Wallace ini menjadi salah satu catatan sejarah bahwa Lombok pernah diterjang oleh tsunami. Menurut catatan Wallace, gelombang tsunami yang menerjang Lombok saat itu adalah gelombang dengan ketinggian hampir dua meter dan menerjang rumah Mr. Carter dan kemungkinan besar banyak rumah lainnya, akan tetapi tidak dilaporkan korban jiwa maupun kerugian dalam catatan ini.

Soloviev
Catatan gelombang tsunami pada tanggal yang disebutkan Wallace, dikutip Wichmann dan kemudian Soloviev. (Soloviev, 1984)
but that on one night there had been a very heavy surf, which shook the house, and the next day there was a very high tide, the water having flooded Mr. Carter's premises, higher than he had ever known it before. These unusual tides occur every now and then, and are not thought much of; but by careful inquiry I ascertained that the surf had occurred on the very night I had felt the earthquake at Labuan Tring, nearly twenty miles off. This would seem to indicate, that although the ordinary heavy surf may be due to the swell of the great Southern Ocean confined in a narrow channel, combined with a peculiar form of bottom near the shore, yet the sudden heavy surfs and high tides that occur occasionally in perfectly calm weather, may be due to slight upheavals of the ocean-bed in this eminently volcanic region.

Pada suatu malam pernah terjadi gelombang arus yang sangat tinggi dan menggetarkan rumah. Pada hari berikutnya, terjadi gelombang laut yang sangat tinggi, airnya sampai membanjiri seisi rumah Mr. Carter, mencapai ketinggian yang tak pernah diduga sebelumnya. Gelombang yang tidak biasa tersebut kini muncul setiap saat dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi lewat pengamatan yang seksama, saya menyimpulkan bahwa gelombang terjadi pada malam ketika saya merasakan gempa di Labuan Tring, hampir 20 mil jauhnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun gelombang tinggi biasa diakibatkan oleh riak-riak di laut selatan yang terkungkung dalam terusan air dan ditambah dengan kondisi bawah laut yang tidak biasa, arus yang besar dan gelombang yang tinggi bisa terjadi kapan saja, termasuk pada hari yang cerah. Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh sedikit saja kenaikan permukaan laut didaerah yang dipenuhi gunung berapi tersebut.

Demikianlah perjumpaan Wallace dengan keanehan-keanehan perairan Lombok. Keanehan yang masih ada dan masih mengancam hingga sekarang dan dimasa mendatang bila tidak dilakukan mitigasi yang tepat. Bencana terbaliknya kapal akibat alun gelombang internal serta bahaya tsunami yang berulang jelas dapat mengancam manusia-manusia yang mendiami Pulau Lombok. Pulau Lomboknya sendiri sih jelas tidak ambil peduli dengan gelombang internal atau tsunami, malah mungkin lebih indah kalau tidak ada manusia.

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Harris, Ron; Jonathan, Jonathan (2016): Waves of destruction in the East Indies: the Wichmann catalogue of earthquakes and tsunami in the Indonesian region from 1538 to 1877. Geological Society of London.

Susanto, R & Mitnik, Leonid & Zheng, Quanan. (2005). Ocean Internal Waves Observed in the Lombok Strait. Oceanography. 18. 80-87. 10.5670/oceanog.2005.08.

Soloviev, S.L., and Ch.N. Go. 1974. A catalogue of tsunamis on the western shore of the Pacific Ocean [dates include 173-1968. Academy of Sciences of the USSR, Nauka Publishing House, Moscow, 439 p. [Canadian Translation of Fisheries and Aquatic Sciences no. 5077, 1984, translation available from Canada Institute for Scientific and Technical Information, National Research Council, Ottawa, Ontario, Canada K1A OS2, 447 p.]

Synthesis Report Risk and Adaptation Assessment to Climate Change in Lombok Island, West Nusa Tenggara Province. Available from: https://www.researchgate.net/publication/271190808_Synthesis_Report_Risk_and_Adaptation_Assessment_to_Climate_Change_in_Lombok_Island_West_Nusa_Tenggara_Province [accessed Nov 10 2017].

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://www.nasa.gov/image-feature/oceanic-nonlinear-internal-solitary-waves-from-the-lombok-strait

https://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g297733-i9237-k6216204-o30-Near_sinking_of_fastboat_from_Gili_islands_to_Bali_1_3_13-Lombok_West_Nusa_Tenggara.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ampenan,_Mataram

A.R Wallace dan Orang Utan

Lepas dari Malaka dan Singapura, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Borneo di bagian Sarawak dengan harapan yang besar. Wallace mengunjungi banyak tempat di Sarawak, namun kesan mendalam baginya dan bagi saya yang mendengar ceritanya di dapatkan di daerah pertambangan batubara Simunjon (Simunjan). Sarawak kala itu berada dibawah penguasaan Inggris yang diwakili oleh Sir James Brooke (Raja Sarawak aseli Inggris tulen yang berkuasa dari Tahun 1842 – 1868) .

sarawakmapboundaries
Peta Wilayah Sarawak pada berbagai waktu. Lokasi Simunjan di lingkari merah. (http://www.britishempire.co.uk/images2/sarawakmapboundaries.jpg)

Sebagai tamu jauh dari Inggris yang berkunjung ke Sarawak, Wallace diterima baik oleh James Brooke dan diberikan tempat tinggal, tempat untuk beristirahat serta lebih pentingnya lagi, diberikan jaminan dan dorongan untuk menjelajah area Sarawak dibawah perlindungan si raja kulit putih itu. Wallace tinggal selama sekitar dua tahun di Sarawak.

This print shows James Brooke's Bungalow before it was destroyed in the 1857 Chinese rebellion. The bungalow also acted as his court and effectively the seat of government for Sarawak.
Bungalow Raja James Brooke, terlihat indah sekali, apa Wallace dberi tempat disini? (http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak/brookesbungalow.htm)

Di hutan Sarawak inilah pertama kalinya Wallace melihat orang utan atau mias (sebutan lokal untuk orang utan waktu itu) pada awal bulan maret Tahun 1855. Yah, lebih tepatnya di area pertambangan disana, di area Kota Simunjon itu. Masa itu, pertambangan menjadi pokok kehidupan di area Simunjan, sedangkan masa kini, entah apa kekhasannya tapi rasa-rasanya Simunjan telah kehilangan pesona pertambangannya dan menyisakan sisa-sisa lokasinya sebagai tempat wisata (bisa cek disini soal Simunjan).

simunjan
Selamat Datang Di Simunjan. (http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html)

Nah, dalam kesempatan ke Simunjan ini Wallace memang sengaja menyempatkan diri datang untuk melihat orang utan secara khusus. Perjumpaan Wallace dengan orang utan di pedalaman Sarawak ini sungguh menarik untuk dibaca. Apalagi dengan membayangkan rimbunnya hutan Sarawak di Tahun 1855 itu. Seandainya youtube telah ada sewaktu itu, barangkali ceritanya mengenai mias akan disertai pula dengan video perburuannya. Iya, berburu !

 Ia menulis :

Salah satu tujuan utama perjalanan ke Simunjon adalah untuk meneliti orang utan. Saya ingin melihat habitat aslinya, mempelajari kebiasaan dan mendapatkan spesimen dari berbagai variasi spesies serta dari kedua jenis kelamin, baik orang utan yang masih muda ataupun yang dewasa. Diluar dugaan, saya berhasil mendapatkan semua yang saya inginkan. Kini saya akan menceritakan pengalaman saya berburu orang utan, atau disebut “Mias” oleh penduduk pribumi. Karena nama tersebut pendek dan mudah diucapkan, maka saya akan menggunakan nama tersebut untuk menyebut nama Simia Satyrus atau orang utan.

Waktu itu, nama ilmiah yang diberikan untuk Orang Utan adalah Simia Satyrus. Nama ini pertama kali diberikan oleh Carolus Linnaeus sebagai orang yang pertama kali mendeskripsikannya secara ilmiah (Dalam literatur ilmiah Systema Naturae tahun 1758, bukan dalam postingan wordpress !)

05
Bayi Mias. (http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html)

“Mendapatkan spesimen” bagi seorang naturalis adalah kata lain untuk mengoleksi spesimen tersebut dengan cara memburu dan kemudian mengawetkannya untuk diteliti lebih lanjut. Pada masa sekarang yang katanya penuh kemajuan, cerita perburuannya terlihat seperti menjijikkan dan menyeramkan, tapi pada masa tersebut, bagaimana lagi cara untuk memperoleh spesimen-spesimen spesies dengan kondisi utuh serta lengkap bahkan tanpa luka? Akan sangat sulit untuk membawa spesimen-spesimen dalam berbagai variasi secara hidup-hidup, apalagi hendak dibawa ke Eropa. Terlebih pula, Wallace masih berada di awal perjalanannya dalam menjelajah nusantara.

Perburuan Wallace untuk mendapatkan spesimen mias dilakukan dengan menggunakan senapan, di berbagai kesempatan yang didapat seperti ditunjukkan pada catatan-catatan hariannya :

  1. Dua minggu kemudian saya mendengar ada seekor mias sedang makan di seberang pohon di rawa-rawa. Saya segera mengambil senapan dan beruntung masih melihatnya di rawa-rawa. Ketika saya mendekati tempat itu, hewan itu mencoba menyembunyikan diri diantara dedaunan, tetapi saya berhasil menembaknya. Pada tembakan kedua, hewan itu hampir mati terkapar di tanah. Dua butir peluru menembus tubuhnya.
  2. Pada 28 April, saya bersama dua orang Dyak menembak mias lain yang besarnya kira-kira sama dengan yang pertama. Hewan tersebut jatuh pada tembakan pertama, tetapi sepertinya tidak terlalu terluka dan segera naik ke pohon terdekat. Pada tembakan kedua ia jatuh lagi sehingga tangannya patah dan tubuhnya terluka.

    Dyak = Dayak, harap maklum, lidah Inggris.

  3. Pada 12 mei, saya menemukan mias lain. Hewan ini juga meraung-raung marah dan melemparkan dahan-dahan pohon. Mias itu saya tembak lima kali dan mati diatas pohon, ditopang oleh sebuah cabang yang membuatnya tidak akan terjatuh. 
    
    ... Kulitnya saya awetkan didalam tong kecil berisi arak. Saya pun menyiapkan kerangka tubuhnya yang utuh sempurna dan kemudian dibeli oleh Museum Derby.

    Derby Museum adalah museum yang didirikan oleh Edward Smith-Stanley, 13th Earl Of Derby di Liverpool, Inggris. Sekarang museum itu masih ada di Liverpool sana, cuma berganti nama jadi World Museum Liverpool. Tidak diketahui di laman webnya apakah museum ini masih mengkoleksi kiriman orang utan dari Wallace, tapi sepertinya sebagai sebuah museum penting, besar kemungkinan kulit dan kerangkanya masih tersimpan baik disana.

  4. Empat hari berikutnya, beberapa orang Dyak melihat mias lain di dekat tempat mias sebelumnya. Mias kali ini agak besar. Pada tembakan kedua, hewan itu jatuh terguling-guling, tetapi segera bangkit dan kembali memanjat pohon. Pada tembakan ketiga hewan itu mati.

    Kemudian di pertengahan Mei (tepat seminggu setelah mendapatkan bayi mias) Wallace berhasil mendapatkan mias berukuran besar.

  5. …. setelah hampir putus harapan, hewan itu jatuh dengan suara keras seperti raksasa terjatuh. Tapi ia memang raksasa. Kepala dan badannya sama besar dengan kepala dan badan manusia.  Rentang lengannya tujuh kaki tiga inci, tingginya empat kaki dua inci yang diukur dari puncak kepala sampai ke tumit. Badannya diukur dari bawah lengan, tiga kaki dua inci. Jadi panjangnya sama dengan panjang manusia sedangkan kakinya pendek. Setelah diteliti ternyata mias itu terluka sangat parah. Kedua kakinya patah. Satu persendian lutut dan tulang punggungnya hancur. Selain itu peluru-peluru yang sudah pipih ditemukan di leher dan rahangnya. Akan tetapi, ia masih hidup ketika jatuh. 
    
    …. Satu hari kemudian saya dan Charles menguliti dan merebus tulang mias itu untuk membuat sebuah contoh kerangka lengkap. Kerangka tersebut sekarang disimpan di museum derby.
  6. Pada 18 juli, saya mendapatkan seekor mias jantan. 
    
    … dua tembakan membuat hewan ini melepaskan pegangan, tetapi tetap tergantung cukup lama dengan sebelah tangan. Ia kemudian jatuh menelungkup pada mukanya dan setengah terkubur dalam rawa. Selama beberapa waktu, ia mengerang dan terengah-engah sementara kami berdiri di sekelilingnya dan menunggu hembusan nafasnya yang terakhir. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga, ia bangkit sehingga kami mundur satu sampai dua yard ke belakang. Setelah berdiri hampir tegak, ia berpegangan di sebatang pohon kecil dan mulai memanjat. Ia tewas setelah sebuah peluru menembus tulang belakangnya. Sebuah peluru ditemukan di lidahnya. Peluru itu masuk dari bagian bawah perut, melintasi badan dan memecahkan tulang belakangnya. Lukanya sudah sangat parah ketika bangun dan mulai memanjat pohon dengan kekuatan yang luar biasa.
  7. Pada 21 juni, saya menembak mias betina yang telah dewasa ketika ia sedang makan buah. Hanya seekor ini yang pernah saya tembak dengan sebutir peluru.
  8. Pada 24 juni saya diminta oleh seorang Cina untuk menembak mias dekat rumahnya di tambang batubara. 
    
    …. Saya segera menembaknya, tapi ia bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Kemudian saya menembak sekali lagi sehingga satu lengannya patah. Sekarang, ia mencapai bagian tertinggi di sebatang pohon yang sangat besar, kemudian ia mematah-matahkan cabang-cabang pohon disekeliling dan menganyamnya menjadi sarang. 
    
    …. Oleh sebab itu, saya menembak sarangnya beberapa kali supaya ia meninggalkan sarang. Saya yakin ia terkena tembakan karena ia terlihat bergerak-gerak terluka, namun tetap tidak mau pergi. 
    
    ….. Dua atau tiga bulan kemudian, dua orang Melayu memanjat pohon dan menurunkan bangkai yang telah kering. Tinggal kulit membalut kerangka mias itu. Didalamnya terdapat jutaan kepompong lalat dan serangga-serangga lain, serta ribuan kumbang necrophagus. Meskipun tulang tengkoraknya telah hancur karena peluru, tetapi kerangkanya masih lengkap, kecuali sebuah pergelangan tangan. Tulang itu mungkin telah jatuh atau dibawa kabur oleh seekor kadal.
  9. Tiga hari kemudian Charles melihat tiga ekor mias kecil sedang makan bersama. Setelah mengejar cukup lama, kami melihat mereka berayun dari pohon ke pohon. 
    
    … salah satu diantaranya berhasil kami tembak, tetapi hewan ini tersangkut diatas sebuah cabang pohon. Karena mias-mias muda tidak terlalu menarik, saya tidak menebang pohon untuk mengambil bangkainya.

    Setelah memburu mias-mias muda ini, Wallace mendapatkan sedikit kecelakaan yang membuatnya terpaku pada tempat tidurnya. Akan tetapi segera setelah sembuh dia langsung menjelajah kembali ke hulu sungai di pedalaman Simunjan dan mencari mias disana. Sekarang, menelusuri cabang sungai Simunjan via Google Maps memperlihatkan banyak area yang telah terbuka dalam luasan yang masif oleh penebangan-penebangan pohon. Apa Mbah Wallace bisa kaget seperti saya kalau melihat perambahan hutan yang demikian yah ?

  10. ….. tapi pada hari keempat, kami menemukan seekor mias yang sedang makan diatas pohon durian. Mias itu mati setelah ditembak delapan kali. Akan tetapi, hewan itu tersangkut di pohon dan bergantung dengan tangannya sehingga kami harus meninggalkannya dan pulang ke rumah. 
    
    …. Karena jarak rumah terlalu jauh, maka hewan tersebut saya kuliti di tempat itu juga. Kepala, tangan dan kakinya dikuliti di rumah. Sekarang kerangka mias itu berada di museum Inggris. 

    Wallace menginap di rumah orang Dayak dalam perburuannya mencari mias di pedalaman Simunjon. Rumah yang dideskripsikannya adalah rumah panjang khas dayak.

  11. Pada hari itu juga saya berhasil menembak seorang mias kecil berkelamin jantan. Mias ini merupakan mias-kassir dyak. Hewan itu mati tertembak, tapi tersangkut di cabang pohon.

    Ini di Menyille, entah di bagian hulu atau pedalaman sebelah mananya Simunjan.

  12. Di kemudian hari, saya menembak dua ekor mias betina dewasa dan dua ekor yang masih muda. Semuanya sudah saya awetkan. Salah satu mias betina tersebut saya tembak ketika sedang memakan buah durian bersama anak-anaknya.
  13. Ketika kembali ke hilir sungai, kami beruntung menemukan seekor mias jantan tua. Mias itu sedang memakan tanaman yang tumbuh dalam air. 
    
    ….. setelah beberapa tembakan dilepaskan, saya senang sekali melihat mias besar itu terjatuh ke air. Saya menyeretnya sambil melawan arus. Akan tetapi orang-orang melayu didalam perahu merasa keberatan jika hewan itu dimasukkan ke dalam perahu. Lagipula hewan itu terlalu berat sehingga saya tidak bisa menyeretnya tanpa bantuan mereka. Saya pun terpaksa mencari tempat untuk menguliti hewan itu di tepi sungai. Tapi di sekitar sungai ini tidak ada dataran yang kering. Akhirnya saya menemukan dua atau tiga tumpukan batang dan tunggul pohon. Diantaranya terdapat gundukan tanah setinggi beberapa kaki diatas permukaan air. Luasnya cukup untuk tempat menguliti mias tersebut.

 

Membaca kisah perburuannya tersebut memberikan gambaran kengototan beliau untuk mendapatkan spesimen orang utan yang dimaksud, meskipun banyak bekas lubang peluru pada spesimennya. Tanpa segan dan tanpa takut menjelajah pedalaman, kualitas yang ditemukan di abad 19 dan sulit dicari dijaman sekarang sepertinya, disaat belum ada sepatu Gerimor bersol vibram anti air, jaket North Fes anti air anti angin anti dingin, ransel banyak kantong 90L Duter dan perlengkapan canggih lainnya dll.

Akan tetapi tidak semua spesimen orang utan yang didapatkan Wallace berasal dari hasil muntahan senapannya, adakalanya juga spesimen mias berhasil ditangkap dan diambil hidup-hidup, seperti pada anak mias yang tertinggal setelah induknya ditembak, tapi gagal dalam pemeliharaan dan perawatan sehingga akhirnya mati karena kekurangan gizi. Pada bukunya, Wallace memberikan penjelasan detil masa-masa singkat dalam memelihara bayi mias itu.

2017-07-12_21-00-26
Kulit awetan Orang Utan di World Museum Liverpool. (http://wallacefund.info/wallaces-specimens)

Adapula mias diberikan oleh penduduk lokal yang telah memburunya lebih dahulu (dalam keadaan sudah mati) dan Wallace kemudian dapat mengkoleksinya. Secara keseluruhan, Wallace berhasil mendapatkan 17 spesimen orang utan. Sumbangan spesimennya berhasil menyempurnakan pengetahuan mengenai orang utan yang masih terlampau sedikit diketahui waktu itu.

 

 

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/James_Brooke

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak.htm

http://wikitravel.org/en/Simunjan

http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html