A.R Wallace dan Orang Utan

Lepas dari Malaka dan Singapura, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Borneo di bagian Sarawak dengan harapan yang besar. Wallace mengunjungi banyak tempat di Sarawak, namun kesan mendalam baginya dan bagi saya yang mendengar ceritanya di dapatkan di daerah pertambangan batubara Simunjon (Simunjan). Sarawak kala itu berada dibawah penguasaan Inggris yang diwakili oleh Sir James Brooke (Raja Sarawak aseli Inggris tulen yang berkuasa dari Tahun 1842 – 1868) .

sarawakmapboundaries
Peta Wilayah Sarawak pada berbagai waktu. Lokasi Simunjan di lingkari merah. (http://www.britishempire.co.uk/images2/sarawakmapboundaries.jpg)

Sebagai tamu jauh dari Inggris yang berkunjung ke Sarawak, Wallace diterima baik oleh James Brooke dan diberikan tempat tinggal, tempat untuk beristirahat serta lebih pentingnya lagi, diberikan jaminan dan dorongan untuk menjelajah area Sarawak dibawah perlindungan si raja kulit putih itu. Wallace tinggal selama sekitar dua tahun di Sarawak.

This print shows James Brooke's Bungalow before it was destroyed in the 1857 Chinese rebellion. The bungalow also acted as his court and effectively the seat of government for Sarawak.
Bungalow Raja James Brooke, terlihat indah sekali, apa Wallace dberi tempat disini? (http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak/brookesbungalow.htm)

Di hutan Sarawak inilah pertama kalinya Wallace melihat orang utan atau mias (sebutan lokal untuk orang utan waktu itu) pada awal bulan maret Tahun 1855. Yah, lebih tepatnya di area pertambangan disana, di area Kota Simunjon itu. Masa itu, pertambangan menjadi pokok kehidupan di area Simunjan, sedangkan masa kini, entah apa kekhasannya tapi rasa-rasanya Simunjan telah kehilangan pesona pertambangannya dan menyisakan sisa-sisa lokasinya sebagai tempat wisata (bisa cek disini soal Simunjan).

simunjan
Selamat Datang Di Simunjan. (http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html)

Nah, dalam kesempatan ke Simunjan ini Wallace memang sengaja menyempatkan diri datang untuk melihat orang utan secara khusus. Perjumpaan Wallace dengan orang utan di pedalaman Sarawak ini sungguh menarik untuk dibaca. Apalagi dengan membayangkan rimbunnya hutan Sarawak di Tahun 1855 itu. Seandainya youtube telah ada sewaktu itu, barangkali ceritanya mengenai mias akan disertai pula dengan video perburuannya. Iya, berburu !

 Ia menulis :

Salah satu tujuan utama perjalanan ke Simunjon adalah untuk meneliti orang utan. Saya ingin melihat habitat aslinya, mempelajari kebiasaan dan mendapatkan spesimen dari berbagai variasi spesies serta dari kedua jenis kelamin, baik orang utan yang masih muda ataupun yang dewasa. Diluar dugaan, saya berhasil mendapatkan semua yang saya inginkan. Kini saya akan menceritakan pengalaman saya berburu orang utan, atau disebut “Mias” oleh penduduk pribumi. Karena nama tersebut pendek dan mudah diucapkan, maka saya akan menggunakan nama tersebut untuk menyebut nama Simia Satyrus atau orang utan.

Waktu itu, nama ilmiah yang diberikan untuk Orang Utan adalah Simia Satyrus. Nama ini pertama kali diberikan oleh Carolus Linnaeus sebagai orang yang pertama kali mendeskripsikannya secara ilmiah (Dalam literatur ilmiah Systema Naturae tahun 1758, bukan dalam postingan wordpress !)

05
Bayi Mias. (http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html)

“Mendapatkan spesimen” bagi seorang naturalis adalah kata lain untuk mengoleksi spesimen tersebut dengan cara memburu dan kemudian mengawetkannya untuk diteliti lebih lanjut. Pada masa sekarang yang katanya penuh kemajuan, cerita perburuannya terlihat seperti menjijikkan dan menyeramkan, tapi pada masa tersebut, bagaimana lagi cara untuk memperoleh spesimen-spesimen spesies dengan kondisi utuh serta lengkap bahkan tanpa luka? Akan sangat sulit untuk membawa spesimen-spesimen dalam berbagai variasi secara hidup-hidup, apalagi hendak dibawa ke Eropa. Terlebih pula, Wallace masih berada di awal perjalanannya dalam menjelajah nusantara.

Perburuan Wallace untuk mendapatkan spesimen mias dilakukan dengan menggunakan senapan, di berbagai kesempatan yang didapat seperti ditunjukkan pada catatan-catatan hariannya :

  1. Dua minggu kemudian saya mendengar ada seekor mias sedang makan di seberang pohon di rawa-rawa. Saya segera mengambil senapan dan beruntung masih melihatnya di rawa-rawa. Ketika saya mendekati tempat itu, hewan itu mencoba menyembunyikan diri diantara dedaunan, tetapi saya berhasil menembaknya. Pada tembakan kedua, hewan itu hampir mati terkapar di tanah. Dua butir peluru menembus tubuhnya.
  2. Pada 28 April, saya bersama dua orang Dyak menembak mias lain yang besarnya kira-kira sama dengan yang pertama. Hewan tersebut jatuh pada tembakan pertama, tetapi sepertinya tidak terlalu terluka dan segera naik ke pohon terdekat. Pada tembakan kedua ia jatuh lagi sehingga tangannya patah dan tubuhnya terluka.

    Dyak = Dayak, harap maklum, lidah Inggris.

  3. Pada 12 mei, saya menemukan mias lain. Hewan ini juga meraung-raung marah dan melemparkan dahan-dahan pohon. Mias itu saya tembak lima kali dan mati diatas pohon, ditopang oleh sebuah cabang yang membuatnya tidak akan terjatuh. 
    
    ... Kulitnya saya awetkan didalam tong kecil berisi arak. Saya pun menyiapkan kerangka tubuhnya yang utuh sempurna dan kemudian dibeli oleh Museum Derby.

    Derby Museum adalah museum yang didirikan oleh Edward Smith-Stanley, 13th Earl Of Derby di Liverpool, Inggris. Sekarang museum itu masih ada di Liverpool sana, cuma berganti nama jadi World Museum Liverpool. Tidak diketahui di laman webnya apakah museum ini masih mengkoleksi kiriman orang utan dari Wallace, tapi sepertinya sebagai sebuah museum penting, besar kemungkinan kulit dan kerangkanya masih tersimpan baik disana.

  4. Empat hari berikutnya, beberapa orang Dyak melihat mias lain di dekat tempat mias sebelumnya. Mias kali ini agak besar. Pada tembakan kedua, hewan itu jatuh terguling-guling, tetapi segera bangkit dan kembali memanjat pohon. Pada tembakan ketiga hewan itu mati.

    Kemudian di pertengahan Mei (tepat seminggu setelah mendapatkan bayi mias) Wallace berhasil mendapatkan mias berukuran besar.

  5. …. setelah hampir putus harapan, hewan itu jatuh dengan suara keras seperti raksasa terjatuh. Tapi ia memang raksasa. Kepala dan badannya sama besar dengan kepala dan badan manusia.  Rentang lengannya tujuh kaki tiga inci, tingginya empat kaki dua inci yang diukur dari puncak kepala sampai ke tumit. Badannya diukur dari bawah lengan, tiga kaki dua inci. Jadi panjangnya sama dengan panjang manusia sedangkan kakinya pendek. Setelah diteliti ternyata mias itu terluka sangat parah. Kedua kakinya patah. Satu persendian lutut dan tulang punggungnya hancur. Selain itu peluru-peluru yang sudah pipih ditemukan di leher dan rahangnya. Akan tetapi, ia masih hidup ketika jatuh. 
    
    …. Satu hari kemudian saya dan Charles menguliti dan merebus tulang mias itu untuk membuat sebuah contoh kerangka lengkap. Kerangka tersebut sekarang disimpan di museum derby.
  6. Pada 18 juli, saya mendapatkan seekor mias jantan. 
    
    … dua tembakan membuat hewan ini melepaskan pegangan, tetapi tetap tergantung cukup lama dengan sebelah tangan. Ia kemudian jatuh menelungkup pada mukanya dan setengah terkubur dalam rawa. Selama beberapa waktu, ia mengerang dan terengah-engah sementara kami berdiri di sekelilingnya dan menunggu hembusan nafasnya yang terakhir. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga, ia bangkit sehingga kami mundur satu sampai dua yard ke belakang. Setelah berdiri hampir tegak, ia berpegangan di sebatang pohon kecil dan mulai memanjat. Ia tewas setelah sebuah peluru menembus tulang belakangnya. Sebuah peluru ditemukan di lidahnya. Peluru itu masuk dari bagian bawah perut, melintasi badan dan memecahkan tulang belakangnya. Lukanya sudah sangat parah ketika bangun dan mulai memanjat pohon dengan kekuatan yang luar biasa.
  7. Pada 21 juni, saya menembak mias betina yang telah dewasa ketika ia sedang makan buah. Hanya seekor ini yang pernah saya tembak dengan sebutir peluru.
  8. Pada 24 juni saya diminta oleh seorang Cina untuk menembak mias dekat rumahnya di tambang batubara. 
    
    …. Saya segera menembaknya, tapi ia bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Kemudian saya menembak sekali lagi sehingga satu lengannya patah. Sekarang, ia mencapai bagian tertinggi di sebatang pohon yang sangat besar, kemudian ia mematah-matahkan cabang-cabang pohon disekeliling dan menganyamnya menjadi sarang. 
    
    …. Oleh sebab itu, saya menembak sarangnya beberapa kali supaya ia meninggalkan sarang. Saya yakin ia terkena tembakan karena ia terlihat bergerak-gerak terluka, namun tetap tidak mau pergi. 
    
    ….. Dua atau tiga bulan kemudian, dua orang Melayu memanjat pohon dan menurunkan bangkai yang telah kering. Tinggal kulit membalut kerangka mias itu. Didalamnya terdapat jutaan kepompong lalat dan serangga-serangga lain, serta ribuan kumbang necrophagus. Meskipun tulang tengkoraknya telah hancur karena peluru, tetapi kerangkanya masih lengkap, kecuali sebuah pergelangan tangan. Tulang itu mungkin telah jatuh atau dibawa kabur oleh seekor kadal.
  9. Tiga hari kemudian Charles melihat tiga ekor mias kecil sedang makan bersama. Setelah mengejar cukup lama, kami melihat mereka berayun dari pohon ke pohon. 
    
    … salah satu diantaranya berhasil kami tembak, tetapi hewan ini tersangkut diatas sebuah cabang pohon. Karena mias-mias muda tidak terlalu menarik, saya tidak menebang pohon untuk mengambil bangkainya.

    Setelah memburu mias-mias muda ini, Wallace mendapatkan sedikit kecelakaan yang membuatnya terpaku pada tempat tidurnya. Akan tetapi segera setelah sembuh dia langsung menjelajah kembali ke hulu sungai di pedalaman Simunjan dan mencari mias disana. Sekarang, menelusuri cabang sungai Simunjan via Google Maps memperlihatkan banyak area yang telah terbuka dalam luasan yang masif oleh penebangan-penebangan pohon. Apa Mbah Wallace bisa kaget seperti saya kalau melihat perambahan hutan yang demikian yah ?

  10. ….. tapi pada hari keempat, kami menemukan seekor mias yang sedang makan diatas pohon durian. Mias itu mati setelah ditembak delapan kali. Akan tetapi, hewan itu tersangkut di pohon dan bergantung dengan tangannya sehingga kami harus meninggalkannya dan pulang ke rumah. 
    
    …. Karena jarak rumah terlalu jauh, maka hewan tersebut saya kuliti di tempat itu juga. Kepala, tangan dan kakinya dikuliti di rumah. Sekarang kerangka mias itu berada di museum Inggris. 

    Wallace menginap di rumah orang Dayak dalam perburuannya mencari mias di pedalaman Simunjon. Rumah yang dideskripsikannya adalah rumah panjang khas dayak.

  11. Pada hari itu juga saya berhasil menembak seorang mias kecil berkelamin jantan. Mias ini merupakan mias-kassir dyak. Hewan itu mati tertembak, tapi tersangkut di cabang pohon.

    Ini di Menyille, entah di bagian hulu atau pedalaman sebelah mananya Simunjan.

  12. Di kemudian hari, saya menembak dua ekor mias betina dewasa dan dua ekor yang masih muda. Semuanya sudah saya awetkan. Salah satu mias betina tersebut saya tembak ketika sedang memakan buah durian bersama anak-anaknya.
  13. Ketika kembali ke hilir sungai, kami beruntung menemukan seekor mias jantan tua. Mias itu sedang memakan tanaman yang tumbuh dalam air. 
    
    ….. setelah beberapa tembakan dilepaskan, saya senang sekali melihat mias besar itu terjatuh ke air. Saya menyeretnya sambil melawan arus. Akan tetapi orang-orang melayu didalam perahu merasa keberatan jika hewan itu dimasukkan ke dalam perahu. Lagipula hewan itu terlalu berat sehingga saya tidak bisa menyeretnya tanpa bantuan mereka. Saya pun terpaksa mencari tempat untuk menguliti hewan itu di tepi sungai. Tapi di sekitar sungai ini tidak ada dataran yang kering. Akhirnya saya menemukan dua atau tiga tumpukan batang dan tunggul pohon. Diantaranya terdapat gundukan tanah setinggi beberapa kaki diatas permukaan air. Luasnya cukup untuk tempat menguliti mias tersebut.

 

Membaca kisah perburuannya tersebut memberikan gambaran kengototan beliau untuk mendapatkan spesimen orang utan yang dimaksud, meskipun banyak bekas lubang peluru pada spesimennya. Tanpa segan dan tanpa takut menjelajah pedalaman, kualitas yang ditemukan di abad 19 dan sulit dicari dijaman sekarang sepertinya, disaat belum ada sepatu Gerimor bersol vibram anti air, jaket North Fes anti air anti angin anti dingin, ransel banyak kantong 90L Duter dan perlengkapan canggih lainnya dll.

Akan tetapi tidak semua spesimen orang utan yang didapatkan Wallace berasal dari hasil muntahan senapannya, adakalanya juga spesimen mias berhasil ditangkap dan diambil hidup-hidup, seperti pada anak mias yang tertinggal setelah induknya ditembak, tapi gagal dalam pemeliharaan dan perawatan sehingga akhirnya mati karena kekurangan gizi. Pada bukunya, Wallace memberikan penjelasan detil masa-masa singkat dalam memelihara bayi mias itu.

2017-07-12_21-00-26
Kulit awetan Orang Utan di World Museum Liverpool. (http://wallacefund.info/wallaces-specimens)

Adapula mias diberikan oleh penduduk lokal yang telah memburunya lebih dahulu (dalam keadaan sudah mati) dan Wallace kemudian dapat mengkoleksinya. Secara keseluruhan, Wallace berhasil mendapatkan 17 spesimen orang utan. Sumbangan spesimennya berhasil menyempurnakan pengetahuan mengenai orang utan yang masih terlampau sedikit diketahui waktu itu.

 

 

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/James_Brooke

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak.htm

http://wikitravel.org/en/Simunjan

http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html

Perantara Laut

Pada satu waktu, ada saja kesempatan yang didapatkan untuk pergi ke ujung daratan, untuk bertemu dengan sang laut. Sebuah kesempatan yang selalu dinikmati setiap momennya dan dinantikan setiap kali kembali bermukim di tengah Pulau Jawa. Tidak sering memang kesempatan itu datang, namun saban kali bertemu kembali dengan laut rasanya seperti bertemu kembali dengan kekasih yang lama terpisah. Tiupan angin, bunyi hempasan ombak, bau garam dan bahkan bau ikan yang menusuk hidung memberi rasa eufemistis pada jiwa yang sering resah.

Selalu ada hal yang menarik acap kali berada dilaut atau di tepiannya, suguhan pemandangan akan yang kolam air yang sangat luas merupakan peralihan yang luar biasa dari pemandangan jendela kantor yang begitu-begitu saja. Waktu petang jelas merupakan waktu favorit banyak orang untuk menikmati keindahan laut tapi selain daripada itu, laut dan tepiannya sesungguhnya merupakan tempat yang sangat dinamis di setiap waktunya.

Salah satu dinamika ini tampil dalam bentuk perahu-perahunya. Perahu merupakan perantara pertama antara manusia dengan laut. Perahu juga merupakan pengejawantahan dari jiwa manusia itu sendiri yang selalu dinamis, selalu bergerak, selalu menjelajah. Sebab itu, perahu yang merupakan terjemahan dari jiwa manusia, seringkali atau bahkan selalu berbeda-beda bentuknya di setiap tempat.

Melihat perbedaan bentuk perahu yang bermacam-macam di banyak tempat di Indonesia ini maupun di luar negeri jadi kenikmatan tersendiri. Foto hingga video selalu saya ambil untuk dilihat kemudian waktu sembari membayangkan mengapa di satu daerah ada layaran sedang di lain pantai tidak berlayar, cadik atau tanpa cadik, macam bentuk haluan maupun lambungnya hingga perjalanan yang ditempuh sang nahkoda menggunakan perahu itu.

Perahu Nagari

Seperti tertuang di gambar ini, sebuah perahu kecil yang berada di bagian selatan Sumatera Barat, yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan dengan badannya yang pendek dan bercadik secukupnya. Haluannya melengkung tajam mirip atap rumah khas Sumatera Barat itu sendiri. Sisi lambung kirinya tertempel mesin untuk mendorong laju kapal ini.

Keseluruhan perahu ini sejatinya dibuat untuk efektivitas gerak laut, menyisakan bentuk lengkungnya sebagai identitas laut Minang.

Si Pecinta Alam sejati.

wallace4
Patung Alfred Russel Wallace di Darwin Centre, foto oleh Anthony Smith.

Obrol – obrol soal pecinta alam yang lumayan ramai dibicarakan belakangan ini, saya jadi teringat pahlawan saya yang bernama Wallace yang merupakan (menurut saya) pecinta alam yang sesungguhnya. Bukan, bukan Wallace yang dimainkan Mel Gibson di film Braveheart itu. Alfred Russell Wallace adalah pahlawan pecinta alam yang saya maksud.

wallace1
Buku Malay Archipelago karangan A.R.W yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. (https://www.tokopedia.com/buku-murah/kepulauan-nusantara)

Wallace yang ini sebenarnya adalah seorang virtuoso dalam hal “cinta alam”. Wallace sebenarnya tidak berkesempatan mengenyam pendidikan resmi ilmu botani atau ilmu ekologi. Ketertarikannya dipengaruhi oleh bacaan yang didapatkannya di perpustakaan. Petualangan dan eksplorasi para ilmuwan seperti Darwin di Kapal Beagle semakin membuatnya tertarik untuk belajar (secara otodidak) mengenai ilmu-ilmu tersebut.

Wallace datang ke nusantara sekitar tahun 1854 hingga tahun 1862. Tidak ada waktu berkenes-kenes baginya di nusantara ini. Ekspedisinya dimulai dari wilayah Malaka hingga delapan tahun kemudian. Ekspedisinya di nusantara ini mengumpulkan ribuan kalau tidak ratusan ribu jenis binatang sebagai bahan koleksi dan bahan berpikirnya.

wallace5
Jenis spesimen yang dikumpulkan oleh A.R.W, burung Hornbill atau Rangkong. Foto oleh Fred Edwards.

Setiap ekspedisi, baik saat itu ataupun masa kini, jelas tidak berbiaya murah dan tidak tanpa kelengkapan yang banyak. Akan tetapi, sebagai seorang bule inggris di abad ke 19 walaupun terbilang pas-pas an di negara asalnya, Wallace jelas lebih terpandang di banyak daerah di nusantara yang masih menjadi jajahan VOC atau Portugis. Dengan beberapa keping perak dilengkapi ijin dari otoritas bule didaerah itu, Wallace dapat memperoleh banyak anak buah (baca : kuli, kuli angkut dan babu) yang bisa diperintahnya dengan santai. Tapi bukan berarti Wallace ditandu atau dituntun dalam penjelajahannya. Wallace secara aktif menjelajah hutan belantara nusantara yang dibantu oleh asisten-asistennya.

wallace7
Basecamp A.R.W di Waigeo .. ? Wallace ada dibawah lantai gubuknya mengkapitulasi data-data yang ditampilkan spesimen-spesimennya.

Wallace dalam setiap bagian dari penjelajahannya di Nusantara jelas membutuhkan basecamp atau markas sementara yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi tempat untuk menyimpan specimen-spesimennya. Basecamp yang dipilih oleh Wallace bervariasi dari rumah di pinggiran kota yang dekat dengan hutan hingga sebuah pondokan yang berada jauh didalam hutan belantara.

wallace3
Desain dari patung Wallace di Darwin Centre. Ini adalah ilustrasi pakaian yang digunakan Wallace kala itu, digunakan sebagai referensi patung Wallace

Akan tetapi, kala itu, jelas tidak ada tas ransel eiger, sepatu bersol vibram, pisau swiss victorinox dan GPS atau google maps. Alih-alih semua hal itu, yang ada adalah parang, sepatu boot berat, senapan dan pakaian ala kadarnya untuk menghalau nyamuk dan serangga yang berisik di kuping dan tentu saja ketertarikan mendalam terhadap misteri alam.

Penjelajahan hutan pada abad 19 jelas sekali merupakan hal yang sangat menantang. Orang waras mana (terlebih lagi si kulit putih) yang mau pergi ke hutan, membuka jalan hutan, menunggu dan mencari untuk mengumpulkan burung, serangga hingga monyet besar untuk dibawa ke kota. Di mata orang lokal Wallace pastilah disebut orang gila, terlebih lagi ketika keluar dari hutan dengan banyak sangkar-sangkar atau kotak yang berisi spesimen-spesimen yang masih hidup ataupun mati. Kesukaran yang dialaminya jelas memberikan hambatan tapi bukan sesuatu yang bisa menghalanginya.

Wallace bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan belantara, mengumpulkan spesimen-spesimennya yang bervariasi. Spesimen-spesimen tersebut merupakan data-data yang bertumpuk dan (jelas) menyentil pikiran Wallace mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat pada spesimen-spesimen tersebut. Kejelian Wallace sebagai seorang pengamat alam sejati jelas teruji setelah mampu melihat variasi yang kecil pada berbagai spesies spesimen yang berbeda yang dikumpulkannya di banyak daerah.

wallace6
Teropong yang digunakan Wallace. Pecinta alam sekarang masih ada yang bawa teropong ??

Ketertarikannya pada alam memberikannya kredo yang mengakar kuat akan pentingnya penyelidikan lebih lanjut mengenai perubahan-perubahan secara spasial pada spesimen-spesimen yang diamatinya. Hal ini pada akhirnya menuntunnya pada teori evolusi lebih dahulu dari Darwin, yang disuratinya sekitar tahun 1857 untuk bertukar pikiran soal evolusi.

Pustaka :

https://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace

http://wallacefund.info/

Images above is available at Gallery at wallacefund.info (https://get.google.com/albumarchive/110137695121351600738?source=pwa)

Melihat melalui citra satelit

Sebagai seorang pelajar ilmu alam yang masih terus belajar, saya mendapati diri saya selalu terpukau pada gambaran alam yang selalu dinamis. Salah satu dinamika alam yang selalu menarik perhatian saya  adalah persoalan keruangan yang selalu berubah terhadap waktu. Perubahan spasial dari suatu wilayah pada satu waktu dan pada waktu yang lain memberikan suatu cerita akan proses-proses yang terjadi pada wilayah tersebut dalam rentang waktu yang diberikan.

Citra satelit yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat jelas memudahkan untuk melihat dan mempertimbangkan posisi kita di alam. Program gugel erd yang terpasang di laptop saya ini pun sering sekali dipakai untuk melihat posisi dan sinyal perubahan yang terjadi di alam. Peta gugel ini memang keren, saat ini gugel telah memperbaharui koleksi peta citra satelit yang dimilikinya sejak dari tahun 1984 hingga 2016. Kompilasi citra satelit ini dimungkinkan setelah gugel menggandeng kerjasama dengan USGS (United States Geological Society) untuk data citra LANDSAT, NASA dan data citra Sentinel-2 dari program Copernicusnya ESA (European Space Agency).

Pada gugel erd, salah satu fitur yang sering saya pakai adalah fitur timeline. Tombol ini merupakan tombol mesin waktu yang dapat digunakan untuk melihat penampakan suatu wilayah pada masa yang lampau. Memang tidak semua daerah Indonesia memiliki data yang cukup panjang untuk dibandingkan citranya dan kebanyakan tidak akan ada yang sampai pada tahun 90an. Namun dengan pengamatan beberapa tahun saja, sebenarnya sudah cukup memberikan cerita pada proses-proses yang telah terjadi pada daerah tersebut.

ge1
tool timeline pada program gugel erd

Sebagai contoh, belum lama ini saya mendengar cerita dari seorang penduduk di sebuah pulau, bahwa ada sebuah pulau (yang tidak jauh dari pulau tempat dia tinggal) yang seringkali berubah bentuk dan berpindah-pindah pasirnya padahal pulau yang dimaksud adalah pulau yang tidak berpenghuni. Tanpa pengetahuan mengenai ilmu alam, rasanya janggal sekali mendengar pulau yang bisa berubah bentuk sendiri.

Tapi apa bukti terdekat yang bisa dilihat kalau pulau itu memang berubah bentuk, sang pencari gugel tidak memberikan satu pun makalah ilmiah mengenai pulau tersebut, padahal huruf O di gugelnya sudah terlampau banyak. Makalah ilmiah lainnya jikalau ada pastinya hanya berada di perpustakaan-perpustakaan saja. Menelitinya sendiri ? Sudah jelas penelitian membutuhkan waktu yang demikian panjang, belum lagi kepintaran kepala saya ini malah lebih sering membuat pusing sendiri, alih-alih membuktikan sesuatu secara ilmiah.

Sebagai pelajar ilmu alam yang amatiran dan suka menelikung, alhasil saya berpaling ke timeline gugel erd di laptop saya. Tidak butuh waktu lama, citra pulau yang dimaksud langsung ditampilkan oleh si gugel erd. Pada kasus ini citra paling muda yang didapatkan adalah citra tahun 2008 hingga yang paling tua tahun 2015 kemarin. Lumayanlah 7 tahun.

Mengamatinya pelan-pelan, tujuh gambar yang mewakili tujuh tahun, memang terlihat ada perubahan bentuk dari pulau tersebut. Kembang kempis pasir pulau dan batas darat dengan laut yang jelas berbeda mengindikasikan telah terjadinya proses alam yang terus menerus pada pulau tersebut.

Sebagai pelajar ilmu alam yang masih amatir, proses alam jelas berperan disitu. Seorang yang mendalami ilmu laut tentu tahu disana ada peran angin, gelombang, arus hingga iklim yang memainkan peran penting dalam perubahan topografi horisontal maupun vertikal.  Peran dari proses pasang surut yang bersifat harian, jelas berpengaruh, bisa saja pada saat citra itu diambil lautnya sedang surut dan pada saat pasang merendam sebagian pulau yang notabene merubah bentuk pulau bila dilihat dari atas. Belum lagi faktor citra satelitnya itu sendiri yang mempunyai kesalahan atau bias pengukuran dari sensor-sensor satelit yang berbeda-beda.

Akan tetapi indikasi perubahan bentuk pulau tersebut memang nyata telah ada, si bapak yang bercerita kemarin itu tidak membual saja dan bukan sesuatu yang acapkali gaib, ini tidak lain berkat kecanggihan si gugel tea.

Pembuktian lebih lanjut lanjut tentu saja memerlukan sebuah penelitian untuk lebih memahami proses-proses yang mempengaruhi perubahan bentuk pulau tersebut. Hal ini, penelitian, jelas membutuhkan waktu dan tekad yang lebih dari sekedar membuka program gugel erd. He he he…

payung_2008
Pulau tahun 2008
payung_2009
Pulau tahun 2009. Berbeda dengan tahun 2008?
payung_2010
Pulau tahun 2010.
payung_2011
Pulau tahun 2011. Tidak tampak lagi kegiatan manusia disitu.
payung_2012
Pulau tahun 2012. Lebih memanjang..?
payung_2013
Pulau tahun 2013.
payung_2015
Pulau tahun 2015. Pulaunya nampak mempunyai ekor.
payung_2015_2
Pulau tahun 2015 dalam warna. Cantik sekali muka gelombang yang mengelilingi pulaunya, tampak berbelok sedikit di ujung kirinya.

 

Pustaka :

Google Earth Images atau earth.google.com

www.gearthblog.com/landsat-sentinel-2-data-now-google-cloud.html&id=ma-170127080050-dc076903

www.land.copernicus.eu/about&id=ma-170127075921-591dea56

www.earthengine.google.com/timelapse&id=ma-170127080141-c263be94

Kemerdekaan Indonesia, sebuah keberuntungan ?

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor in the National Remembrance Park Roermond, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Adalah pemikiran yang timbul setelah membaca buku biografi dari seorang Jendral Spoor.

Buku dengan judul “Jendral Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia” yang ditulis oleh J.A. de Moor adalah sebuah buku yang, menurut saya, wajib dibaca bagi orang-orang Indonesia yang ingin lebih mengetahui posisi dan peran Belanda pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Buku ini merupakan versi terjemahan secukupnya dari buku aslinya yang berbahasa belanda dan diterbitkan di Belanda lebih dahulu tahun 2011. Walau banyak terjemahan yang terasa kurang pas dalam bahasa Indonesia, toh garis besar kehidupan seorang Jendral Spoor masih dapat disimak dengan baik dalam buku ini. Selain menuliskan perjalanan hidup Spoor dengan tugasnya sebagai seorang pimpinan militer di Hindia Belanda, buku ini juga dengan baik mengungkapkan pandangan kacamata Belanda terhadap pergerakan bangsa Indonesia dan reaksi pemerintahan Belanda sendiri di masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

01_spoorDe Moor menulis, bahwa pengaruh perang dunia ke II yang dilakukan oleh Jerman di Eropa dan Jepang di Pasifik, turut membuat Belanda kalang kabut. Belanda yang mengusung netralitas ternyata diserang juga oleh Nazi Jerman pada 10 Mei 1940, memaksa seisi kabinet pemerintahan Belanda serta Sang Ratu Willhelmina mengungsi ke London. Belum selesai urusan dengan Nazi Jerman, tanggal 7 Desember 1941, Pearl Harbour diserang oleh Jepang. Tanggal 8 Desember 1941, Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Hindia Belanda darurat perang.

Jadi jelas, pada akhir tahun 1941 tanah air Belanda menghadapi tekanan dari Nazi Jerman, sedangkan Hindia Belanda bersiap bertahan menghadapi tekanan dari Jepang.

Desember 17, pesawat-pesawat Jepang menyerang wilayah Kepulauan Anambas, Ternate dan Sorong. Desember 19, Pontianak dibom oleh Jepang. Januari 7 tahun 1942, Ambon diserang oleh pesawat Jepang. Januari 12, Tarakan telah dikuasai Jepang. Januari 16, Medan menjadi sasaran pengeboman. Awal Februari 1942 Jawa mulai dibombardir pengebom Jepang. 15 Februari, Singapura bersamaan dengan Palembang telah dikuasai Jepang.

Hingga akhirnya, tanggal 8 Maret 1942 di Lapangan Terbang Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara, Bandung), Spoor bersama segelintir tentara dengan pesawat evakuasi terakhir terbang menuju Australia untuk mengungsi. Jepang telah menguasai Hindia Belanda. Pasukan yang tidak bisa dievakuasi menjadi tawanan Jepang.

 Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/ Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea
Ch.O. van der Plas (midden met baard), generaal L.H. van Oyen (achter hem) en N.S. Blom te Hollandia bezoeken van de Japanners bevrijde gebieden in Nieuw Guinea/
Ch.O. van der Plas (center with beard), General L. H. Oyen (behind him) and N.S. Blom as Dutch officials visit of the Japanese liberated areas in New Guinea (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Mengapa Hindia Belanda bisa kalah dari Jepang dalam waktu yang begitu cepat ?

Di halaman 109, De Moor menyebutkan “Demikianlah pertahanan Jawa dari hari ke hari semakin memburuk. Kesatuan-kesatuan dan unit-unit kadang-kadang tanpa perlawanan yang berarti, menyerah atau luntang-lantung saja karena kaum militer pribumi yang sangat diandalkan telah lari dengan ketakutan”. Memang, pada saat itu pasukan Belanda yang berwujud KNIL banyak diisi oleh prajurit dari daerah-daerah di Nusantara, dengan pucuk-pucuk perwiranya diisi oleh si kulit putih.

Laporan kritis diberikan dari perwira tingginya tiga minggu setelah kekalahan Hindia Belanda (Sandberg, Coppens, De Vries, Burman van Vreeden dan Spoor) yang dituliskan De moor di hal 130 : “Mereka mengkritik sekutu, tetapi terutama menyoroti kegagalan tentara sendiri.” Pemerintah Belanda pun dipersalahkan karena terlalu kaku dalam netralitasnya sehingga tidak melakukan pendekatan apapun, termasuk terhadap sekutu. Sekutu, dalam hal lain juga tidak memberikan perlawanan yang kuat saat menghadapi Jepang di Singapura. Dalam pertempuran di Singapura, Hindia Belanda memberikan bantuan udara yang kuat dan menderita kerugian besar ketika Singapura jatuh.

De moor menuliskan kembali bahwa kekalahan Hindia Belanda banyak disumbang oleh kegagalan militer Hindia Belanda sendiri. Paragraf 3 di hal 130 tertulis “Dari sudut pandang politik, strategis, taktis, organisatoris, teknis dan moral, KNIL telah gagal sama sekali. Pimpinannya tidak kompeten dan ternyata tidak berkembang sepadan dengan tugasnya. Pucuk pimpinannya tidak sesaat pun dapat memancarkan rasa percaya diri. Yang berdominasi dalam pasukan adalah ‘jiwa amtenar’, birokrasi lebih menonjol daripada kesiapan tempur miiliter. Sikap pasukan, terutama orang pribumi, sangat mengecewakan; orang Ambon yang begitu dipuji-puji berdasarkan prestasi-prestasi mereka di Aceh (walau sudah empat dasawarsa yang lewat) mengecewakan.”

Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia
Luitenant-generaal S.H. Spoor te Batavia./ Lieutenant General S. H. Spoor at Batavia (http://media-kitlv.nl, key : spoor)

Sebagai titik sorot buku ini, Spoor mengemukakan aspek militer-politik dalam analisa kekalahan Hindia Belanda. Disebutkan oleh Spoor bahwa “Kekalahan melawan Jepang menurut pandangannya pertama-tama bukan masalah organisatoris dan teknis, melainkan mempunyai sebab politik yang lebih mendalam. Masalah fundamental adalah tiadanya kerja sama antara kaum kulit putih dan kaum kulit sawo matang serta tidak adanya cita-cita bersama Belanda-Indonesia. Itulah sebabnya militer pribumi begitu buruk prestasinya : itu bukan perjuangan demi kepentingan mereka. Itu juga sebabnya penduduk Indonesia sama sekali tidak melibatkan diri : ini bukan perang mereka.

Disini letaknya faktor utama kegagalan kolonialisme Belanda. Ia tidak berhasil memenangkan hati penduduk Indonesia demi kepentingan Belanda-Indonesia bersama dan menjiwainya dengan nasionalisme Belanda – Indonesia … Menciptakan ‘cita-cita yang menjiwai’ yang baru dan secara bulat didukung kulit putih dan kulit sawo matang, itulah tugas bagi Belanda apabila sesudah perang akan kembali ke Hindia Belanda. Belanda tidak boleh kembali lagi kepada kolonialisme yang kuno itu, melainkan harus mewujudkan cita-cita kerja sama dengan penduduk Indonesia atas dasar kesetaraan dan dalam ikatan kerajaan.”

Tiga tahun berselang, Jerman menyerah tanggal 7 mei 1945 dan Belanda terbebas dari jeratan Jerman tanggal 9 Mei 1945. Hindia Belanda terbebas dari jeratan Jepang tanggal 15 Agustus 1945 seiring dengan dijatuhkannya bom nuklir oleh AS di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah, termasuk di hindia belanda.

Kolonel L.M. Cosgrave, afgevaardigde van Canada, ondertekent het document. Geheel links staat generaal Yoshijiro Umezu, chef van de Keizerlijke Garde/ Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard.
Colonel L. M. Cosgrave, representative of Canada, signing the document of official surrender of Japan on the American battleship Missouri in Tokyo Bay. Far left is General Yoshijiro Umezu, Chief of the Imperial Guard. (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

Kekalahan Jepang di Hindia Belanda, sudah dapat dilihat oleh Spoor serta para pimpinan Hindia Belanda lainnya ketika pasukan sekutu perlahan menguasai Filipina dan mereka melihat perlunya penguasaan kembali Hindia Belanda dengan cepat setelah Jepang pergi.  Namun kala itu, Belanda dan Hindia Belanda berada dalam kondisi yang sulit. Tawanan perang serta korban yang berguguran membuat personil administrasi dan tentara, khususnya tentara Hindia Belanda, menjadi berkurang. Belum lagi dengan menipisnya kas negara akibat peperangan dan pengambilalihan Hindia Belanda oleh Jepang.

Memburuknya kondisi Belanda pasca perang dunia II menciptakan peluang bagi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Ketidaksiapan pemerintah Belanda untuk mengokupansi kembali Hindia Belanda serta kalahnya Jepang seolah memberikan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Benar saja, dua hari setelah Jepang menyerah, tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Jadi, pernyataan Indonesia merdeka dari Belanda atau Jepang atau penjajahan rasanya kurang cocok. Karena sesungguhnya Indonesia merdeka karena sudah tidak ada keterikatan atau ketergantungan dari pihak lain, mengacu pada definisi ke tiga dari arti kata merdeka dalam kamus KBBI. Belanda menyerah kepada Jepang dan Jepang menyerah kepada sekutu. Sedangkan sekutu tidak mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Sekutu, yang didalamnya termasuk juga Belanda, pun tidak mendaratkan kakinya secara resmi di Jawa hingga akhir September/awal oktober 1945.

merdeka /merdéka/ a

1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri;

2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan;

3 tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu; leluasa;

(KBBI. 2008)

Jadi, apakah karena keberuntungan Indonesia bisa merdeka ? Atau persiapan yang matang dari nasionalis Indonesia dan jelinya melihat perkembangan situasi perang dunia ? Pertanyaan ini kembali menyerobot pikiran saya yang kurang terdidik akan pergerakan bangsa (sendiri) Indonesia. Saya harus membaca kembali soal ini. Akan tetapi jelas, menurut De Moor dalam buku ini memang posisi Belanda dan Pemerintahan di Hindia Belanda kurang siap dan tidak mampu mengatasi masalah-masalah internal yang menggerogoti Hindia Belanda.

Pendudukan kembali Hindia Belanda?

Rencana pendudukan kembali mulai dirancang sejak mengungsinya pimpinan Hindia Belanda ke Australia dan Spoor yang telah menjadi pimpinan NEFIS, badan intelijen militer. Dalam rencananya Spoor mengungkapkan bahwa pemulihan kekuasaan di Hindia Belanda yang sudah dibebaskan harus dipegang penuh di tangan militer. Tahun 1943 dan 1944 pun disusun rencana untuk memberikan dukungan personil sebanyak 75 batalion KNIL.

Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia
Javaanse militairen van het KNIL in Australië/Javanese soldiers of the KNIL in Australia (http://media-kitlv.nl, key : KNIL)

Namun rencana itu gagal sebab hingga November 1945 tetap tidak didapatkan jumlah personil dan prasarana yang memadai, seperti dijelaskan De Moor pada hal 208 : “Pada bulan November, tiga bulan sesudah kapitulasi Jepang, jumlah itu masih sangat mengecewakan. Di Batavia, KNIL dapat menyediakan sekitar 10 kompi (kira-kira 1500 orang), tetapi tidak semua mereka operasional. Di Sumatera bulan itu bahkan belum ada satu pun kompi yang operasional walau beberapa sedang didirikan, terdiri atas para eks tawanan perang. Diluar Jawa, Belanda punya sepuluh kompi yang operasional dan sejumlah yang sama yang sedang dibentuk, sebagian besar berasal dari Thailand dan lain-lain daerah tempat para militer itu diinternir. Jumlah seluruhnya yang dapat dikerahkan oleh KNIL sekitar 5000 orang, sebagian besar masih berada di luar Hindia Belanda, antara lain di Manila, Singapura dan Bangkok.”

 Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/ Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore the day order for the residents after the signing of the Japanese surrender
Admiraal Lord Louis Mountbatten leest op de trappen van het stadhuis van Singapore de dagorder voor aan de inwoners na de ondertekening van de Japanse overgave/
Admiral Lord Louis Mountbatten read on the steps of City Hall of Singapore, order of day for the residents after the signing of the Japanese surrender (http://media-kitlv.nl, key : world war II)

De Moor juga merujuk pada kurang baiknya hubungan antara pimpinan sekutu di Asia tenggara (SEAC, South East Asia Command) yang dipegang oleh Inggris dibawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten di Singapura dengan Jendral Spoor sebagai penyumbang kegagalan pendudukan kembali. Inggris kala itu mendapat mandat untuk melucuti tentara Jepang, mengevakuasi para interniran dan menjaga ketertiban umum sampai Belanda memulihkan kekuasaannya.

Namun dalam kenyataannya, Spoor menuding Inggris tidak saja dengan sengaja menahan pasukan belanda di Malaka, namun juga menuding tidak tegasnya Inggris dalam mempasifikasi kaum republiken dan para anarkis yang menyebabkan kekacauan di Jawa (sebagai sebab penundaan pasukan Belanda datang ke Jawa). Bahkan juga, menuding Inggris yang menyatakan pengakuan dan dukungannya terhadap kaum republiken di Indonesia, kaum Sukarnois.

Akan tetapi, yang paling krusial menurut saya adalah kesalahan intelijen dalam usaha pendudukan kembali Hindia Belanda, padahal spoor sendiri yang mengepalai badan intelijen tersebut. Disebutkan dalam halaman 195, “Spoor memandang semua perkembangan politik dengan pendudukan Jepang sebagai latar belakangnya. Republik, Sukarno, nasionalisme, kelompok perjuangan, pemuda pejuang, boleh dikatakan semuanya menurut pandangannya adalah ‘buatan Jepang’. Apabila pimpinan Jepang dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ekstrimis dan teoritis dapat disingkirkan, ia yakin seyakinnya tak ada yang tersisa lagi dari seluruh gerakan nasional itu dan dari ‘apa yang mereka namakan REPUBLIK itu.”

This monument, in the National Remembrance Park Roermond, commemorates General Simon Hendrik Spoor, supreme commander of the Dutch Forces in the Dutch Indies from 1947 to his death (heart failure) on 25 May 1949.
Monument of General Simon Hendrik Spoor. (http://en.tracesofwar.com/article/87740/Memorial-General-SH-Spoor.htm)

Penutup

Dengan demikian, tanpa melihat pergerakan nasionalis Indonesia kala itu, Belanda mengalami kesulitan yang fundamental dalam mempertahankan negeri jajahan Hindia Belanda. Belanda telah gagal mempertahankan Hindia Belanda sedari awal sejak dijajah di negerinya sendiri oleh Nazi Jerman. Dengan membaca buku ini, terlihat bahwa situasi yang dialami Belanda memang menguntungkan bagi pergerakan nasional Indonesia.

Akan tetapi, selain dari faktor nasionalisme yang memuncak di kalangan pejuang pergerakan Indonesia, apakah cepatnya tindakan proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan insentif dari Jepang seperti yang sering digadang-gadang dengan ikut campur tangannya Laksamana maeda, atau hanya simpati sekelompok orang Jepang yang menaruh perhatian pada gerakan kemerdekaan Indonesia ?

Inilah pertanyaan lanjutan yang masih membayangi saya setelah membaca buku yang ditulis De Moor ini, sangat menarik untuk melihat cerita maupun analisa masa-masa awal kemerdekaan Indonesia di tengah tahun 1945 itu dari sisi Jepang.

Buku Kuasa Jepang di Jawa, yang awalnya disusun sebagai disertasi dari Prof. Aiko Kurosawa merupakan target bacaan lanjutan saya untuk mencoba memahami keseluruhan cerita kemerdekaan Indonesia. Tapi rasanya sebelum membaca buku tebal itu saya mau membaca buku Dalem Tawanan Djepang yang disusun oleh Nio Joe Lan semasa ditahan Jepang dan diterbitkan di tahun 1946. Mengapa saya baru sadar buku ini ada setelah 71 tahun Indonesia merdeka yah.

04_spoorKuper sekali saya…haduuh..