Flores 0.1

Bukit Pandang Pelabuhan LB
Bukit Pandang Pelabuhan LB

Tahun-tahun belakangan ini, wisata alam telah menjadi destinasi wajib bagi para pejalan-jalan. Informasi dan tawaran bermacam rupa akan eloknya Ibu Bumi timbul seiring pesatnya pertumbuhan dunia maya yang nyaris tidak berbatas. Keasrian dan kealamian sang Ibu Bumi, sayup memanggil manusia-manusia yang bertarung di hutan beton.

Sahaya pun termasuk yang turut menoleh pada panggilan Sang Ibu. Tengokan saya mengarah ke arah Timur. Pada sebuah pulau dan gugusan anak pulaunya di timur sana, sekitar 1000 an km jaraknya dari kursi butut tempat pantat saya berlabuh tiap harinya. Pulau ini sebenarnya sudah terlalu lama dikenal, pelancong berlayar sudah mengenalnya sejak abad 16 atau bahkan sebelumnya, republik ini juga sudah mengenalnya sejak puluhan tahun lalu. Namun sayang, pulau ini dan gugusan kepulauan ini salah urus oleh sang republik. Kita dulu mengenalnya sebagai daerah yang kering dan miskin, yang terlalu sering digambarkan dengan kekeringan dan gagal panen. Bumi NTT (Nusa Tenggara Timur), pulau yang salah urus dan anak tiri sang republik. Kalau Papua masih punya emas, Kalimantan punya batubara, Bali punya Pantai Kuta, NTB punya tiga Gili-nya, NTT cuma punya…punya…punya apa yah ?

Komodo ?

Yap, NTT punya Komodo.

Kita juga tahu, selain Komodo, juga ada Kelimutu, Pemburu Paus Lamalera, Pulau Alor, dsb dsb dsbnya…

Rangkaian penobatan gelar 7 Keajaiban Dunia yang baru dan diikuti oleh Sail Komodo tempo 2013 lalu membuka keran pariwisata dunia. Padahal, komodo dan serangkaian pulau tempat rumahnya sudah dilindungi Sang Republik sejak 1980. Bahkan sudah dinobatkan oleh badan PBB : UNESCO sebagai World Heritage Site sejak 1991. Sahaya dan banyak teman-teman sahaya di tahun 90 an pun sudah kenal dengan komodo sedari kecil lewat aktornya yang terkenal, Si Komo. Si tukang bikin macet itu dan teman-temannya (Ulil, Dompu dan Belu) saban hari bikin saya tertawa selepas sekolah.

Kelimutu juga sebenarnya sudah lama dikenal orang, ditetapkan sebagai Taman Sang Republik tahun 1992 dan fotonya terpampang di seluruh penjuru negeri sebagai sarana transaksi belanja senilai 5000 rupiah. Pemburu Paus Lamalera juga rupanya sudah dikenal dunia sejak lama. Setidaknya tercatat tahun 1973 badan PBB : FAO pernah mencoba untuk “menertibkan” praktik perburuan paus disana. Namun, laporan mereka mengungkapkan bahwa penduduk Lamalera adalah contoh penduduk yang menerapkan kata “berkelanjutan” dengan baik dalam hal perburuan paus. Hingga kini, penduduk Lamalera menjadi ikon yang baik dalam hal tradisi perburuan paus. Pulau Alor dan Pulau Pantar dan selat sekitarnya merupakan surga bagi para penyelam dunia. Telusurilah dengan mesin pencari andalanmu dan gunakan kata kunci “ALOR” dengan “DIVING” dan hasilnya akan menunjukkan lokasi titik penyelaman yang memenuhi di hampir seluruh sisi pulau. Banyak gugusan karangnya yang hampir belum pernah didatangi manusia.

NTT medio 2013 bukanlah NTT yang kita kenal dahulu lagi. NTT saat ini merupakan NTT yang menawarkan banyak potensi. Pada beberapa waktu yang lalu, sahaya diberikan kesempatan untuk mengunjungi daerah sang anak tiri ini. Sahaya saat itu memilih untuk mengunjungi salah satu pulau kebesarannya. Pulau berbunga, Pulau Flores. Selama tempo beberapa hari saya mencoba untuk bertualang di Flores untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri miskonsepsi yang ada di pikiran saya sedari kecil. Memang, skala waktu harian tidak cukup untuk merubah pikiran ngawur saya (akan kekeringan dan kemiskinan dll), namun hasil observasi kecil-kecilan saya kemarin cukup membelalakkan mata ini dengan potensi-potensinya. Tulisan ini merupakan tulisan pengantar akan observasi temeh yang saya lakukan saat saya berkunjung kemarin, sedang tulisan saya berikutnya merupakan tulisan riil hasil perjalanan singkat saya. Oleh sebab itu tulisan ini berjudul Flores 0.1.

Advertisements

Tiga Alasan Untuk Tidak Mengurung Lumba-Lumba di Kolam

Pengantar :
 
Tulisan ini bukan tulisan saya pribadi. Saya hanya menterjemahkan secara sederhana saja (mudah-mudahan). Tulisan ini saya tampilkan karena sepertinya pengetahuan masyarakat kita (baca : Indonesia) belum banyak tahu akan hal ini. Negara di seberang sana yang katanya lebih maju jelas membuat kita lebih mudah untuk belajar dari pengalaman dan pendidikan yang mereka buat.
 
Lagipula, toh, konon katanya kita ini Bangsa Maritim yang 2/3 wilayahnya laut, ada kemungkinan kita mengalami kasus yang mirip – mirip. Mari, silakan membaca, maaf agak panjang yah hehe..
 

 Debunking Captivity: 3 Reasons Not to Keep Dolphins in a Tank

(Mengungkap Pengurungan: 3 Alasan  untuk  tidak mengurung Lumba-Lumba di kolam)

dolphin11a
Oleh :  Maddalena Bearzi ( 8 – April – 2014)

<http://newswatch.nationalgeographic.com/2014/04/08/debunking-captivity-3-reasons-not-to-keep-dolphins-in-a-tank/>

Debunking Captivity_Oritext

Aku telah menghabiskan banyak waktu disekeliling lumba-lumba liar selama kira-kira dua puluh tahun. Aku telah membangun sebuah karir dengan mengikuti pergerakan mereka setiap hari dan mengamati perilaku mereka baik dari pantai mau pun dari kapal penelitian. Sewaktu aku memulai studi ini, aku menyadari bahwa makhluk-makhluk ini adalah objek dari penelitian saya semata, namun seiring waktu berjalan, aku mulai mengenali mereka sebagai sebuah individu, tidak semata karena uniknya takik pada sirip belakangnya, namun juga karena kemampuan kognitif, kepribadian dan emosi mereka

Menghabiskan ribuan jam di laut, aku mulai mengenali mereka melalui penglihatan semata, dan seperti teman-teman manusiaku lainnya, mereka menjadi sebuah bagian penting dari hidupku. Aku belajar mengenai kebutuhan-kebutuhan mereka, tidak hanya kebutuhan ruang namun juga persahabatan/persaudaraan dan aku menjadi saksi sekelompok yang kompleks dan mengalir, yang dalam banyak hal sangat mirip dengan kita sendiri.

Aku juga telah secara langsung perbedaan kehidupan dari makhluk-makhuk ini di dalam aquaria (akuarium) dan taman rekreasi laut  dan aku tidak dapat untuk tidak bertanya mengenai alasan-alasan untuk mengandangkan makhluk yang sedemikian indah. Dalam pekerjaanku, aku telah mendengar semua macam pembenaran untuk tetap mengandangkan lumba-lumba, yang paling sering adalah pembenaran untuk alasan pendidikan, konservasi dan penelitian.

(Lihat : “First Person: How Far Will the Blackfish Effect Go?“)

Mari pertimbangkan apakah alasan-alasan diatas sahih. Tentu juga kita harus mengingat bahwa kita adalah spesies yang katanya cerdas dan penyayang dengan kemampuan untuk merefleksikan dan menganalisa apa yang kita ketahui mengenai lumba-luma dan dapat membuat keputusan yang masuk akal berdasarkan evaluasi tersebut.

Mengandangkan cetacean ( dan termasuk jenis binatang yang lainnya), dalam sebuah lingkungan terbatas mungkin dapat diterima di masa lalu, saat kita tidak mengetahui banyak, saat kita tidak mempunyai informasi cukup mengenai makhluk-makhluk ini di alam liar dan apa yang mereka perlukan untuk hidup. Namun sekarang, kita tahu jauh lebih banyak dibandingkan apa yang kita tahu dahulu.

Jadi apa yang kita tahu mengenai lumba-lumba? Berikut, secara singkat, adalah tiga alasan penting mengapa kandang dan lumba-lumba tidak berkaitan sama sekali.

 

  1. Lumba-Lumba adalah hewan berotak besar dan kognitif.

Jika kita pertimbangkan spesies kita sendiri sebagai makhluk tercerdas, maka lumba-lumba adalah yang kedua tercerdas, dengan skor yang lebih baik dari saudara sepupu kita sang kera. Melihat pada nilai EQ nya (Encephalization Quotient), yang merupakan representasi dari ukuran relatif besarnya otak dan estimasi kasar dari kecerdasannya, lumba-luma memiliki nilai EQ yang tinggi karena besarnya rasio ukuran otak terhadap badan yang tidak umum.

Dua dekade terakhir merupakan masa proliferasi dari investigasi anatomi dan morfologi dari para cetacean. Studi neuroanatomi otak mereka telah menunjukkan bahwa lumba – lumba memiliki jaringan neokorteks yang rumit dan berkembang sama dibandingkan dengan spesies lain, termasuk manusia, dan sebuah lipatan khusus pada serebral korteksnya, dimana pada cetacean terlihat lebih menonjol dibandingkan pada primata.

Mengapa ini penting? Karena, sederhananya, struktur yang disebutkan diatas berasosiasi kuat dengan pengolahan informasi yang kompleks. Lumba – lumba juga mempunyai neuron-neuron yang berbentuk poros, atau neuron-neuron Von Economo, yang merupakan kunci dari kesadaran sosial dan telah dikaitkan setara dengan kemampuan manusia untuk “merasakan” apa yang orang lain pikirkan.

Tidak ada keraguan bahwa kecerdasan itu sulit untuk ditentukan dan terlebih dalam dunia binatang, hampir semua binatang merupakan binatang “pintar” tergantung dari definisi kepintaran yang kita tentukan. Contohnya adalah, pada anjing-anjingku.. Namun, hanya pada beberapa spesies saja seperti lumba – lumba, sang kera dan manusia kita dapat menemukan kekompleksan otak, kekompleksan sosial dan kekompleksan ekologis yang saling terkait. Setidaknya sampai saat ini…

(Lihat: “Schoolchildren and Musicians Boycott SeaWorld in ‘Blackfish’ Flap.”)

Sumber : wikipedia.org
Sumber : wikipedia.org
  1. Lumba – Lumba Hidup Dalam Lingkungan Sosial Kompleks Di Lautan

Telah disebutkan bahwa otak lumba-lumba besar dan kompleks, namun apa guna dari kapasitas otak yang besar ini? Otak semacam ini telah memungkinkan lumba-lumba untuk mengembangkan sistem sosial yang kompleks dan mengalir, dimana mereka menjadi berkembang maju sedemikian rupa dalam lingkungan tiga dimensional yang cair.

Cetacean seperti lumba-lumba hidung botol (Spesies yang umum ditemukan pada aquaria dan taman rekreasi laut saat ini) mempunyai keahlian sosial dan komunikasi yang fleksibel dan sangat mengagumkan. Mereka hidup dalam jaringan sosial yang dikarakterisasi dengan diferensiasi hubungan yang tinggi yang sering bergantung pada kemampuan memori untuk mengetahui mana lawan dan mana yang benar-benar teman. Mereka terlibat dalam perburuan yang kooperatif dan mereka memilah sumberdaya dengan baik sehingga mangsa yang ada dibagi rata untuk semua anggota grup.

Dalam beberapa populasi lumba-lumba, sang jantan membentuk koalisi untuk menekan para betina (secara seksual) atau untuk mengalahkan koalisi pejantan lainnya. Mereka saling peduli satu sama lain, sang induk dan sang anak mempunyai hubungan sosial yang kuat dan berjangka panjang dan anak lumba-lumba dapat menghabiskan waktunya hingga dua tahun di samping ibunya untuk mengenal posisinya di lautan. Lumba-lumba bermain, saling mengikat, saling meniru dan saling belajar satu sama lain dan mentransfer informasi dari generasi ke generasi.

Perilaku transfer informasi pada keturunan mereka membuat mereka menjadi lebih berbudaya seperti kita. Seperti kita juga, mereka dapat mengenali diri mereka secara individual dan sadar diri sendiri, meskipun tingkatan kesadaran diri seorang lumba-lumba masih harus ditelusuri lebih jauh.

Di laut, lumba-lumba selalu bergerak, acapkali dalam grup berjumlah ratusan dan terkadang hingga sejauh ribuan mil. Otak besar mereka membantu mereka untuk mengumpulkan makanan yang tersedia secara sementara maupun tersebar luas. Lumba-lumba, seperti binatang lainnya, pada dasarnya adalah mamalia sosial komplek yang membutuhkan ruang ekspansif untuk hidup. Sebuah kolam/tanki tidak akan dapat memenuhi kebutuhan ini…

 

  1. Lumba-Lumba memiliki emosi (dan kepribadian)

Kita suka berpikir bahwa lumba-lumba adalah binatang bahagia yang dimana-mana selalu tersenyum dan bermain-main. Kita cenderung untuk menarik kesamaan bentuk pada manusia pada lumba-lumba, memproyeksikan atribut kita sendiri pada mereka. Tapi, apa yang kita lihat sebagai wajah gembira dari sebuah lumba-lumba sebenarnya menyamarkan emosi tersembunyi mereka, terutama apabila kita mengurung mereka dalam lingkungan tertutup. Jangan lupakan juga bahwa saat mati wajah lumba-lumba juga tersenyum!

Lumba-lumba, seperti kita, juga mempunyai sistem limbik dan mampu untuk mempelajari spektrum luas dari emosi seperti kesenangan, dukacita, frustrasi, marah dan cinta. Letakkan sebuah lumba-lumba dalam sebuah scanner MRI dan anda akan melihat sebuah struktur otak yang besar yang membuat mereka mengenali emosi kompleks. Melihat sebuah otak lumba-lumba, anda akan menemukan neuron-neuron Von Economo yang pada manusia erat terkait dengan rasa intuisi dan empati.

Mengesampingkan fakta-fakta otak maupun neuron dan meluangkan waktu bersama makhluk-makhluk ini di alam liar akan memberikan gambaran lebih lengkap bagi mereka sebagai makhuk yang beremosi dengan kepribadian yang beragam.Siapapun yang telah menyaksikan kasih sayang seorang induk lumba-lumba dalam merawat bayinya atau individu lumba-lumba yang menolong lumba-lumba lainnya yang kesulitan atau saat lumba-lumba berduka cita selama beberapa jam, bahkan hari saat ada kerabatnya yang meninggal, tidak akan menyangkal bahwa makhluk ini mempunyai perasaan.

Seperti halnya kecerdasan, kesadaran emosi pada para penghuni laut ini sulit untuk dipahami, didefinisikan dan diukur. Sebagai perbandingan, pikirkan saja betapa sulitnya bagi kita untuk mengetahui apa yang orang lain pikirkan atau rasakan pada setiap waktu tertentu.

Sekarang coba lihat sesuatu yang berbeda. Mari abaikan semua studi ilmiah dan apapun yang kita ketahui tentang lumba-lumba. Abaikan juga ketiga pernyataan yang mengatakan bahwa mengandangkan makhluk-makhluk ini adalah kesalahan yang fundamental dan sebaliknya berfokus untuk mengungkap argumen favorit yang pro pada pengandangan yaitu : penelitian, pendidikan dan konservasi.

Penelitian

Taman rekreasi laut dan aquaria cenderung memberikan kartu aman “Penelitian” setiap kali pertanyaan mengenai pengandangan lumba-lumba timbul. Memang benar, di masa lalu, studi-studi yang dilakukan pada penangkaran lumba-luma telah membantu menyulut pengertian dasar kita mengenai makhluk-makhluk ini; sebuah pemahaman yang tidak didapat para peneliti di laut pada era tersebut karena adanya keterbatasan teknis dan logistik. Namun, dunia telah berubah dan ilmu pun turut berubah dan kita sekarang mempunyai teknologi dan cara yang lebih efektif untuk mempelajari lumba-lumba ini pada habitatnya sendiri.

Secara umum, karena adanya pengaturan non alamiah, penelitian pada penangkaran memberikan pengetahuan yang lebih sedikit untuk aplikasi perlindungan dan pengelolaan spesies ini di laut. Nyatanya, jenis penelitian seperti ini bahkan dapat memberikan arti yang salah. Banyak publikasi penelitian pada binatang yang ditangkarkan berfokus pada teknik melatih dan perbaikan praktik peternakan, yang tidak mempunyai sangkut paut pada lumba-lumba yang hidup di alam bebas. Sebagai contoh : penelitian penyakit lumba-lumba di penangkaran telah gagal untuk memperkirakan mewabahnya virus penyakit pada populasi liar yang sering menimbulkan kematian massal.

Lebih jauh lagi, hanya sebagian kecil dari biaya yang didapatkan dari penjualan tiket pada lokasi penangkaran yang digunakan untuk penelitian (jika ada bahkan) dan kurang dari sepuluh persen kebun binatang atau aquaria yang terlibat dalam program penelitian konservasi, baik itu secara in situ (pada penangkaran) atau di alam liar.

(Lihat: “Opinion: SeaWorld vs. the Whale That Killed its Trainer.”)

 

Pendidikan dan Konservasi

Klaim paling umum dari banyak aquaria adalah mereka menyediakan peluang pendidikan yang bagus, yang menganggap dapat menunjukkan masyarakat untuk peduli pada konservasi lumba-lumba. Namun, ini jelas tidak benar.

Perbedaan terbesar pada opini disini adalah tidak adanya definisi yang jelas pada nilai pendidikannya. Cobalah berpikir saat membawa anak-anak ke taman rekreasi laut (aquaria). Hal ini bukanlah pengalaman yang mendidik sebab sang anak belum mengerti apa yang dilakukan makhluk-makhluk ini. Meloncat dan memercikkan air sesuai perintah atau mengambil ikan dari tangan seorang pelatih selama pertunjukkan adalah hanya sebuah stereotipe, perbuatan membadut yang tidak menunjukkan keseharian dari makhluk-makhluk ini. Kehilangan ruang alami mereka dan struktur sosialnya, lumba-lumba ini berubah. Lumba-lumba penangkaran tidak sama dengan mereka yang aku tahu dan lihat di alam liar.

Alih-alih, berpikirlah untuk membawa anak anda ke laut untuk mengikuti trip Whale-Watching yang mungkin sekali lebih murah daripada sebuah tiket aquaria. Bahkan, dalam sebuah trip tersendiri untuk pergi ke laut, seorang anak dapat mempunyai bayangan sekilas pada kehidupan nyata para lumba-lumba liar. Di laut, seorang dapat lebih memahami apakah para lumba-lumba itu dan bagaimana mereka dapat berperilaku dengan keluarga mereka sendiri. Di laut, seorang dapat melihat mengapa kita perlu untuk melindungi tidak hanya mereka namun juga lingkungan dimana mereka hidup. Ini adalah pelajaran-pelajaran mengenai konservasi yang sangat penting untuk seorang anak!

Klaim kedua adalah dengan menangkarkan mereka pada sebuah tanki maka kita menyelamatkan mereka dari polusi dan penangkapan berlebih, hingga mencegah kepunahan, dan bahwa program peternakan dalam penangkaran adalah untuk alasan konservasi. Memindahkan lumba-lumba dari habitat alami mereka untuk hidup dalam akuarium tidak akan mengatasi masalah lingkungan. Juga, pernyataan bahwa program-program ini membantu spesies yang terancam punah adalah salah, terutama jika mempertimbangkan bahwa spesies yang terancam punah bukan spesies yang dipelihara dalam penangkaran. Progam pembiakan dalam penangkaran hanya menyediakan satu hal : suplai dari para lumba-lumba yang terus tersedia untuk pertunjukkan dan hiburan manusia.

Terdapat banyak alasan mengapa memelihara makhluk-makhluk ini dalam penangkaran adalah keliru, seperti buruknya dan sering mengerikan, kondisi fasilitas tempat penangkaran lumba-lumba di seluruh dunia, dan tingginya tingkat sakit dan kematian dari hewan penangkaran. Tidak ada aquarium atau tempat rekreasi laut yang dapat memenuhi kebutuhan kompleks fisiologis dan psikologi dari sebuah lumba-lumba, atau bahkan binatang-binatang lainnya. Bahkan kita juga belum menyebutkan jumlah individu lumba-lumba yang terbunuh dalam usaha kita untuk menangkapnya, dan tingkat stress yang makhluk-makhluk ini rasakan saat terpisah dari jaringan sosial dan grupnya.

Sudah saatnya kita jujur sendiri bahwa satu-satunya alasan kita mengurung makhluk mengagumkan, berotak besar dan memiliki tingkatan kompleks sosial tinggi ini adalah untuk tujuan hiburan kita, hiburan untuk alasan menghasilkan uang, uang yang sangat banyak.

Lumba-lumba adalah siapa, bukan apa, dan mereka berhak mendapat haknya. Kita para manusia seharusnya menggunakan penilaian dan kasih kita pada mereka dan binatang-binatang lainnya dan berhenti untuk mengandangkan mereka sebagai tahanan mereka.

 

Maddalena Bearzi mempelajari ekologi dan conservasi dari mamalia laut selama lebih dari 25 tahun. Dia adalah Presiden dan salah satu pendiri dari Ocean Conservation Society, dan salah satu penulis dari Beautiful Minds: The Parallel Lives of Great Apes and Dolphins (Harvard University Press, 2008). Dia juga bekerja sebagai jurnalis foto dan blogger pada beberapa publikasi. Buku terbaru darinya adalah Dolphin Confidential: Confessions of a Field Biologist (Chicago University Press, 2012).

 

 

Daftar istilah :

Marine Parks/Aquaria :

Taman rekreasi laut, sejenis S*aW*rld maksudnya

Cetacean :

Mamalia laut sebangsa paus dan lumba-lumba

Proliferasi :

Masa perkembangan yang cepat

Sistem Limbik  :

kelompok struktur otak depan yang memiliki hipotalamus, amigdala, dan hipokampus yang terlibat dalam motivasi, emosi, belajar, dan memori

MRI :

Magnetic Resonance Imaging, adalah instrumen yang digunakan untuk melihat/membuat gambar organ atau struktur di dalam tubuh menggunakan medan magnet dan gelombang radio secara lebih baik jika dibandingkan X-ray, atau CT Scan.

Whale Watching :

Sebuah trip yang mengatur perjalanan ke laut untuk melihat ikan paus dan/atau lumba-lumba yang bermigrasi. Umumnya terdapat di Amerika dan kanada. Versi Indonesianya ada di Teluk Kiluan, Lampung.

Tulis, tulis dan tulislah.

Melihat dan mendengar adalah kemampuan dasar yang sudah tertanam pada diri manusia. Sejak keluar dari rahim kedua proses tersebut dengan cepat membantu kita menyesuaikan diri dengan lingkungan. Demikianlah, melihat dan mendengar merupakan proses yang alamiah.  Membaca menjadi respon yang kita pelajari selanjutnya. Respon masukan dari lingkungan kita baca dan   proses sendiri bagi kepentingan kita kala itu. Semakin berkembang, semakin cepat pula kita memproses bacaan respon lingkungan sekitar. Bahasa timbul dan lahir sebagai perkembangan dari percepatan manusia untuk berkomunikasi. Tahap lanjut perkembangan manusia yang menjadi pertanda bagi seorang manusia modern adalah kemampuannya untuk menulis. Manusia modern mengalami perkembangan pesat dari kemampuannya untuk menuliskan apa yang ada dipikirannya. Manusia 20.000 tahun lalu mungkin belum beraksara jelas, namun dari kemampuannya “berbicara” menggunakan simbol-simbol bergambar menunjukkan perkembangan yang dialami komunitas tersebut.

Jikalau melihat dan mendengar merupakan respon yang secara pasif kita terima dari lingkungan, maka bicara dan menulis merupakan respon aktif kita terhadap lingkungan. Bicara jelas lebih gampang daripada menulis. Kita sering berbicara tanpa berpikir dan berbicara hanya melibatkan stimulan minim dari otak, bibir serta lidah. Menulis, itu persoalan yang sama sekali berbeda.

Menulis membutuhkan kerja otak dan otot yang lebih kompleks. Otak jelas harus berpikir mau menulis apa, mata harus melihat apa yang kita tulis, otot tangan dan jemari membantu menggoreskan pikiran kita pada media tulisan tersebut. Oleh sebab demikian, menulis merupakan pekerjaan yang sulit. Dibandingkan bicara yang dimulai dari umur 1-2 tahun, menulis baru kita pelajari 4-5 tahun setelahnya yaitu di umur 6-7 tahun. Tulisan merupakan cermin langsung isi kepala kita pada sebuah media. Sebuah tulisan yang bagus merupakan buah dari pemikiran yang cemerlang. J.R.R Tolkiens yang menulis buku laris “Lord of The Rings” seolah mempunyai dunia yang sama sekali berbeda dalam kepalanya. Seorang Pramoedya A.T yang hanya bermodalkan meja dan kursi di penjara P. Buru hingga tahanan kota Jakarta dapat berpetualang melintasi batas waktu lewat cerita roman-roman nya. Oleh sebab demikian seorang penulis handal merupakan seorang intelek.

Namun, menulis merupakan sebuah proses. Gaya dan struktur menulis seseorang merupakan cermin langsung kepribadian seseorang. Seorang yang berkecamuk hatinya tentu tidak akan menghasilkan tulisan yang bermutu. Menulis membutuhkan kesadaran penuh. Menurut saya, kesadaran penuh dalam menulis ini, secara berkala dapat membantu seorang untuk menjadikannya pribadi yang lebih rapih dan tertata. Hanya saja, menulis dengan kesadaran penuh ini, butuh latihan yang menerus dan konsekuen. Seorang seperti saya yang baru memulai menulis pastinya tidak akan dihiraukan orang layaknya tulisan-tulisan Pram. Jelas, karena saya masih ngawur menulis dan minim latihan.

Scribo Ergo Sum

Menulis juga merupakan sebuah entitas, terutama pada masa ini. Entitas ini bukan hanya untuk kita sendiri, namun juga merupakan bukti kehadiran nyata kita di dunia yang semakin ramai ini. Saya  menulis maka saya ada. Dengan menulis saya tahu siapa. Dengan menulis, saya bisa menertawakan dan menghargai pemikiran saya di masa lalu. Dengan menulis, saya bisa tahu perkembangan pribadi saya seperti apa. Oleh sebab saya masih ingin terus berkembang, maka saya pun menulis.

Fasilitator

Salah satu tugas penyedia
Salah satu keterampilan penyedia handal adalah berbicara di depan orang banyak dan tetap harus semangat. 

Tesaurus Bahasa Indonesia menyebutkan makna kata fasilitator dengan cukup jelas, yakni Penyedia.

Arti penyedia dalam isi kepala saya yang banyak kosongnya ini adalah sebagai pelaku yang menyediakan. Entah barang, entah jasa, entah apa pun lah yang disediakan. Belum lama ini, saya kebetulan menjabat sebagai pelaku penyedia tersebut. Tempo lalu itu, saya tentunya bukan pemilik acara, saya menjadi kru yang berjabat fasilitator. Jabatan itu memerlukan keterampilan berbahasa inggris (verbal) dengan cukup baik dan tentunya harus mampu menjadi ceria/semangat. Posisi saya sebagai fasilitator berada dibawah manajemen sebuah PT. yang mengusung pendidikan luar ruangan. Menjadi seorang penyedia menurut saya mirip-mirip dengan menjadi panitia ospek yang pernah saya ikuti. Bedanya tentu di metode penyampaian. Sebagai penyedia tentunya harus tetap semangat dan enerjik serta murah senyum, apapun kondisinya. Beda kan dengan panitia ospek. Ospek yah ospek. Materinya bergantung pada simulasi ospek dan makna simulasi ospek. Sebagai sebuah fasilitator, media simulasi tersebut adalah games (permainan) sederhana. Permainan-permainan ini dapat tanpa alat maupun dengan bantuan sedikit alat.

Kali ini, klien PT. pendidikan luar ruangan tersebut adalah sebuah SMA internasional di Jakarta. Karena memakai emblem internasional tentunya diperlukan keahlian verbal berbahasa inggris. Klien kami ini adalah siswa-siswa kelas akhir yang akan menuju jenjang universitas tidak lama lagi. Maka, tugasnya adalah untuk menyiapkan mereka menuju jalan itu dengan jalan pendidikan luar ruangan. Lokasi luar ruangan yang disetujui oleh klien dan manajemen adalah Villa *** Asri, durasi yang disetujui adalah selama 3 hari. Pada kesempatan ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan kami menjadi pembimbing kelompok tersebut. Tentunya, komposisi masing-masing kelompok diacak sedemikian sehingga untuk menjamin keakraban yang lebih daripada teman kelasnya masing-masing. Tugas kami saat itu tidak mengharuskan untuk bersedia setiap waktu, melainkan ada slot waktu tertentu yang memang diperuntukkan. Pada slot waktu tersebut, kami memainkan simulasi-simulasi dalam bentuk permainan yang bermakna. Makna utama dari permainan itu utamanya adalah mengajarkan mengenai kekompakan dan kerjasama, kemandirian dan tanggung jawab individu hingga kejujuran dan kepercayaan.

Sehari menjelang, kami para penyedia diharuskan untuk datang ke lokasi untuk mendapatkan keterangan lengkap mengenai jadwal acara dan menyamakan perspektif yang ada. Jadwal acaranya meliputi permainan-permainan, treking hingga berkendara offroad. Secara keseluruhan, acaranya berlangsung dengan baik, meskipun jadwal yang dibuat banyak mengalami perubahan. Kendala terbesar terdapat di faktor cuaca dan penentuan waktu yang agak meleset dari jadwal. Secara tidak terduga, saya pun yang masih anak bawang ini juga mampu menjadi penyedia yang baik bagi kelompok saya, setidaknya itu kata anak-anak kelompok saya dan beberapa penyedia lain. Komunikasi yang bagus rasanya wajib menjadi penentu keberhasilan program bagi setiap penyedia.

Pada kesempatan berikutnya lagi (saya ternyata cukup beruntung untuk diajak kembali oleh PT. pendidikan luar ruangan yang lain) saya cukup/mulai menemukan ritme saya sebagai seorang penyedia. Saya merasa sangat beruntung untuk mendapatkan kesempatan ini, untuk bekerja sama dengan teman-teman penyedia lainnya. Banyak hal pelajaran positif yang dapat saya ambil dari kegiatan-kegiatan ini, terutama pengetahuan mengenai permainan-permainan nan lucu. Terima kasih dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan.

Bandung 06 Maret 2014

Interkonektivitas

Sebuah pertemuan, dapat dikatakan sebuah awal dari serangkaian peristiwa namun jua dapat dikatakan sebagai akhir dari serangkaian peristiwa. Perspektif menjadi pembeda dari suatu pemahaman akan pertemuan. Pemahaman berakar dari sebuah keyakinan.

Keyakinan merupakan biji dari sebuah perspektif, sesuatu yang unik yang mempunyai banyak nama. Sebagian menyebutnya dengan iman. Sebagian berkata takdir. Bahkan ada yang menyebutnya dengan agama. Unik, sebab masing pribadi mempunyai pengalaman yang berbeda akan efek dari keyakinan dalam insaninya tersendiri.

Tapi apa pengaruh dari keyakinan itu pada sebuah pertemuan, bila bergantung pada insan pribadi saja? bila kedua pihak yang bertemu berdiam diri? Seperti gravitasi, keyakinan yang berbeda menimbulkan pengalaman yang berbeda. Seperti gravitasi, salah satu pihak mempunyai gaya yang lebih besar satu dibanding yang lain. Pada akhirnya, salah satu pihak mencoba menarik pihak yang lain. Kepercayaan yang besar dari sebuah pihak menarik sebuah peristiwa pada suatu arah tertentu. Suatu jalan tersendiri yang menjadi awal atau akhir peristiwa, setidaknya bagi salah satu pihak.

Sampai tibalah pada suatu persimpangan. Hal terburuk dari sebuah persimpangan, meskipun hanya bercabang dua, adalah ketidakmampuan untuk mengira pasti akan jalan mana yang ditempuh. Hal terbaik dari sebuah persimpangan hanyalah sebuah kepastian untuk menjalani keyakinan yang mendalam untuk suatu perubahan. Perubahan pada arah yang lebih baik tentunya.

Sekarang! Bayangkan sebentar, bahwa pertemuan yang dimaksud bukan hanya terjadi padaku, padamu, saja. Bahwa banyak orang juga mengalami hal serupa. Bahkan, semua orang juga mengalami hal serupa. Hal ini memberi kesan bahwa terdapat banyak pertemuan, banyak cabang dan persimpangan. Menunjuk pada sebuah gambaran kompleks dari interkonektivitas umat manusia. Kita semua terhubung. Kita memberikan pengaruh bagi orang disekitar kita baik besar maupun kecil. Sebuah bukti kecil, menurut saya, dapat terlihat dari beberapa berita media yang menghubungkan artis/atlit olahraga terkenal yang ternyata mempunyai keturunan dari daratan Indonesia. Bukti yang cukup meyakinkan bagi saya, adalah persimpangan antara Wallace dan Darwin. Wallace dan Darwin, dimana pada jaman tersebut teknologi IT diwakilkan oleh kuda dan burung merpati ternyata mempunyai pemikiran yang sama meskipun dipisah oleh jarak dan waktu yang cukup jauh.

Sebuah pikiran yang cukup berani bukan. Interkonektivitas manusia. Membikin kita berangan bahwa semua kejadian punya maksud tertentu dan merupakan imbas dari perbuatan orang disuatu jalan suatu cabang. Cukup menyeramkan sebenarnya haha, bagaimana kalau di suatu persimpangan bukannya bertemu malah menabrak dan menjadi celaka.

Belum lama ini film Cloud Atlas tayang di bioskop dan site torrent bajakan setempat. Saya berkesempatan menonton film tersebut melalui salah satu media tadi dan ternyata  film tersebut mengangkat tema yang cukup mirip dengan pikiran saya. Cloud Atlas merupakan kisah sebuah petualangan yang dialami oleh manusia yang itu-itu saja. Setiap kisah petualangan menawarkan kisah keyakinan yang dialami/dipicu beberapa pelaku. Mereka percaya bahwa jalan mereka bergerak menuju pada suatu arah tertentu. Cloud Atlas menampilkan bayangan tersebut dalam film yang berdurasi lebih dalam dua jam. Cukup lama memang, sebab membangun kesadaran akan tema tersebut sepertinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Hanya saja dalam film Cloud Atlas, dimensi waktu ditambahkan dan diulang sedemikian rupa pada setiap jaman. Seperti konsep reinkarnasi pada buddhis. Lebih kompleks lagi dari bayangan saya tadi. Bahkan, film ini mencoba menambahkan satu gaya yang bekerja yang dialami setiap kisah dan pelaku. Gaya yang mendorong keyakinan mereka untuk mengambil sebuah jalan dan berbuat lebih. Ya, lebih kompleks untuk menambahkan dimensi waktu dan gaya yang tak terlihat. Walaupun bukan berarti itu tidak mungkin.

Menyinggung Karma dan Buddhis, belum lama ini juga berkelebat berita mengenai perayaan waisak di Borobudur. Waisak merupakan perayaan peringatan akan tiga kejadian beberapa abad silam. Kelahiran, kematian dan pencapaian kesempurnaan dari Sang Buddha. Sebagai penganut suatu keyakinan, Sang Buddha mempunyai gravitasi yang sangat besar dan mampu merubah jalan banyak orang. Keyakinan yang dimilikinya secara utuh didapatkan dari perenungan intens dibawah pohon Bodhi. Perenungannya membuatnya jelas menerawang jalan-jalan yang terletak dihadapannya.  Kala itu, pertemuan dengan Sang Buddha memberikan pengaruh yang dahsyat pada diri manusia yang bertemu. Waktu berlalu dan gravitasi yang dibuat oleh Sang Buddha masih terasa hingga sekarang.

Kembali lagi pada berita perayaan waisak, berita tersebut menghentak masyarakat akan sebuah pemikiran mengenai kesopanan dan pemikirannya memberikan andil pada pemikiran-pemikiran yang lain. Pemikiran yang cukup bagus ditulis pada harian kompas belum lama ini. Sebuah buah dari pertemuan banyak orang di Candi Borobudur. Persimpangan dari begitu banyak jalan dan begitu banyak orang. Agaknya perayaan Waisak di Borobudur tahun depan dapat berbeda format.

Pada akhirnya, arti dari sebuah pertemuan tetap kembali pada insani pribadi. Sebuah keyakinan unik yang berkesan pada satu pribadi saja.

Saya pun sama seperti kebanyakan orang menantikan pertemuan-pertemuan itu. Menanti pertemuan itu denganmu. Menanti arah dan jalan yang terbentang di depan kita.

Sumber :

1. Cloud Atlas.

2. Tulisan perayaan Waisak 2013 yang tersebar dimana-mana

3.  http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/31/11101048/Masyarakat.Tak.Terbiasa.Berpikir.Rasional