Reminisensi.

Marah sekali rasanya, mengapa peristiwa semacam itu bisa terjadi pada keluarga kita.

Geram rasanya, mengingat segala keterbatasan kita dalam upaya pencegahan dan penyelamatannya.

Murka rasanya, mengetahui bahwa hal semacam ini terjadi di depan mata kita sendiri dan tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya.

Tidak wajar rasanya, mendengar seorang teman berpaling dari dunia ini dengan sungguh cepat.

Tidak wajar rasanya, melihat orang tua mengantarkan anaknya sendiri ke pangkuan sang pencipta.

Tidak wajar rasanya, melihat kotak peristirahatan seorang teman kita yang terpaku sunyi dengan handai taulan dan keluarga berada di sekelilingnya menatap haru, menangis dan bisikan-bisikan pilu.

Namun, itulah peristiwa yang sudah terjadi. Sudah 40 hari lebih peristiwa itu berlalu, tapi lukanya masih belum sembuh benar di hati kita. Seperti luka umumnya, jikalau tergesek sedikit saja perih rasanya. Perih itu pun dirasakan sangat ketika reminisensi akan tragedi itu, teman kita itu hadir kembali melalui berbagai media ucapan.

Bagai diiris sembilu, ingatan-ingatan tersebut menyeruak kembali dalam benak pikirku. Rasio menuntut kita untuk segera mengikhlaskannya dengan lapang, tapi rasio itu juga menuntut agar kita sebagai temannya untuk tidak melupakan tragedi ini. Agar tidak terulang kembali, agar tidak ada yang terluka lagi di masa nanti.

Dalam Memori Terindah, Angelina Yofanka.

Mulanya, cerita ini diharapkan menjadi sebuah kisah petualangan yang penuh kebahagiaan, namun sebaliknya menjadi sebuah cerita pilu.

Sabtu siang dan malam tertanggal 04 Februari 2012 kami meyakini akan menjalani sebuah petualangan yang ceria. Hati melangkah tegap menuju kisah petualangan yang diyakini akan terjadi. Paginya, minggu 05 Februari 2012 senyum pagi ceria menghiasi masing-masing wajah kurang tidur kita. Semua gembira, berharap tinggi akan jalan menantang di depan. Bermain dan bergulat dengan derasnya air Cikandang.

Matahari mulai meninggi, petualangan dimulai dan segalanya berjalan sesuai yang diharapkan. Masing-masing persona tenggelam dalam hasrat petualangannya sendiri. Namun, tak lama waktu berlalu, secepat kilat, keceriaan itu seakan ditarik paksa dan menghentak kesadaran persona-persona dalam kenyataan yang sungguh pahit. Seorang anggota perjalanan, teman kami semua, Angelina Yofanka tak tampak dalam penglihatan semua. Pikiran berlalu cepat, akal dan logika menahan kita untuk tetap tenang. Akan tetapi, tatapan kosong dan tanpa daya mulai tertanam perlahan saat mengetahui Fanka sudah cukup lama tak tampak. Dari keterangan para penduduk sekitar timbul realita yang menyesakkan dada, Fanka berkemungkinan terperangkap di bawah sebuah batu besar. Seketika dapat kudengar jantung kami berhenti memompa sesaat mengetahui kemungkinan tersebut.

Proses pencarian pun langsung dimulai saat itu juga dengan segenap usaha yang tertuang. Pihak lain yang berempati serupa pun turut membantu proses pencarian. Segenap usaha yang dimampu dilakukan oleh berbagai pihak. Akan tetapi, pencarian masih belum menemukan hasil. Kami masih belum bertemu Fanka kembali. Dua hari berlalu sejak kehilangannya, usaha pencarian masih terus dilakukan. Kami bertekad untuk menemukannya. Fanka harus ditemukan.  Hingga sore itu, Selasa sore pertanggal 07 Februari 2012 karena keterbatasan waktu saya terpaksa pulang. Keesokan harinya Rabu 08 Februari, pencarian masih diteruskan tanpa henti. Kemudian, pada sore hari itu, pada batas siang dengan malam, sebuah pesan singkat muncul dengan  tegasnya, “Ud dtemuin dom“. Sontak, napas dihela panjang dan pikiran berkelebat kencang, “Apa benar sudah ditemukan? dimana dan bagaimana?”. Beberapa teman pun dihubungi untuk memastikan kebenaran berita itu. Tanpa waktu yang lama, berita tersebut benar adanya, Fanka ditemukan dibawah batu tempat perahunya terjebak. Rupanya Fanka tidak pernah pergi dari tempat terakhir teman-teman melihatnya.

Perkembangan berita pun menyatakan bahwa Fanka akan dibawa ke rumah duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.  Pada hari tersebut, saya kebetulan harus langsung dari Garut, Bandung lalu Jakarta untuk mengikuti suatu rapat. Lantas, karena sudah di Jakarta dan rapat pun masih berlangsung hingga larut malam, maka saya memutuskan untuk tinggal dan langsung menengok ke rumah duka.

Sekitar jam 3 pagi pertanggal 9 Februari, rombongan yang mengantar Fanka langsung dari Cikandang tiba di RSPAD. Doa dan tangisan menghantar kepergiannya sebelum dikungkung pada sebuah kotak putih. Hatiku hancur  berserakan melihat kondisi Fanka yang malang. Pagi menjelang, teman-teman yang lain pun berdatangan, semua ingin berucap terakhir pada Fanka. Hari terlewat kelewat pelan menuju peristirahatan terakhir Fanka di San Diego Hills, Karawang.

Setelah misa terakhir, Fanka dan rombongan bergerak pelan menuju San Diego Hills. Ucapan selamat tinggal bercampur haru dalam isak tangis kami. Hujan air mata yang beribu membasahi tanah, mengantarkan Fanka menuju sang pencipta. Dengan begitu, berakhirlah perjalanan Fanka bersama kami. Salam dan sayang dan hormat dari kami semua. Selamat jalan Angelina Yofanka…

Namun, bagi kami perjalanan belum berakhir.  Emosi dan pikiran yang terkuras yang dilandasi oleh kejadian yang dialami Fanka masih dirasakan sampai saat ini. Cerita Fanka menjadi cerita yang harus kami lanjutkan sebagai bahan pelajaran. Sebuah bahan pelajaran pahit yang dapat menjadi awal untuk memperbaiki sistem dan organisasi yang sudah ada.

Selamat jalan Angelina Yofanka…

Selamat jalan Angelina Yofanka…

Kamu akan selalu menjadi bagian dari kami semua.

Dialog, Anno Domini 2012

Mengungkapkan pikiran menjadi sebuah ucapan membutuhkan waktu yang cukup singkat dan melalui proses yang cukup cepat. Ini biasa kita lakukan ketika bertemu/mengobrol dengan kawan sebaya atau dengan teman-teman kita.

Mengungkapkan pikiran menjadi sebuah ucapan yang benar dan tepat serta baik, memerlukan proses yang lebih lama, tergantung dari tingkat pemahaman dan pengalaman seseorang. Perlakuan ini  diterapkan ketika kita berupaya untuk menjelaskan sesuatu dalam suatu kesempatan yang formal/semi formal ataupun saat berkomunikasi dengan orang yang lebih dihormati.

Mengungkapkan pikiran menjadi sebuah tulisan memerlukan proses yang sedikit lebih rumit, karena memerlukan gerak motoris dari lengan dan tangan. Seperti berbicara dengan teman, menulis yang ringan adalah menulis dengan bahasa yang secukupnya dan kadang/sering diluar ketentuan berbahasa yang baik dan benar. Pada masa ini, hal ini biasa kita lakukan pada media sosial dan menulis pesan singkat pada telepon seluler. Hal, ini juga biasa kita lakukan dengan mencoret-coret kertas semaunya (meskipun yang terakhir ini masih dapat dipertentangkan).

Mengungkapkan pikiran menjadi sebuah tulisan yang berbahasa baik dan benar, lugas serta memiliki maksud dan tujuan yang pasti memerlukan sebuah proses yang lebih panjang dan lebih rumit dibanding ketiga jenis ungkapan diatas. Proses ini membutuhkan keahlian dalam berpikir logis dan terarah. Membutuhkan keahlian berbahasa yang baik dan biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dalam menulis yang demikian dibutuhkan jam terbang/pengalaman yang cukup. Sehingga tidak jarang penulisan yang demikian cenderung dapat disamakan dengan tingkat kemampuan berpikir yang cukup baik (meskipun belum ada bukti kuat akan hal ini).

Menulis yang terarah, menggunakan bahasa yang benar dan cantik serta lugas umumnya menggambarkan tingkat intelektualitasnya. Orang yang demikian dapat terlihat dari penggunaan kata dan gaya penulisannya. Ketika kaum intelektualitas ini membudayakan proses menulis yang intelek ini pada sesama dan pada orang-orang sekitarnya maka terciptalah budaya intelektual di masyarakat tersebut. Pada akhirnya, budaya ungkapan pikiran baik lisan dan tulisan yang menggunakan bahasa yang benar dan baik dan lugas dan terarah mampu membawa sebuah masyarakat kepada tataran sosial yang lebih maju.

Pada masa ini pun, Anno Domini 2012, sudah terlihat bahwa masyarakat yang mampu mengungkapkan pikiran dengan baik, khususnya lewat tulisan yang terjaga dengan baik mempunyai tataran masyarakat yang lebih modern dibandingkan masyarakat yang lainnya. Negara-negara maju saat ini umumnya turut tercipta melalui pemeliharaan proses pengungkapan pikiran ini yang terarah dan terjaga seiring waktu berjalan. Budaya literasi tumbuh dan terjaga dengan baik pada masyarakat maju ini.

Lalu, bagaimanakah dengan masyarakat kita?