Ujung Kulon set 2

Pantai sepanjang Desa Taman Jaya
Desa Taman Jaya

13.08 WIB,  Dermaga Taman Jaya. Setelah semalam berkendara dari Bandung kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang menggunakan kapal yang sudah disediakan bagi kami. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk membawa kami dari dermaga Taman Jaya ke Pulau Peucang tempat kami melapor.

Rusa yang merumput.
Areal lapangan di Pulau Peucang, ada Helipadnya lho
entah mau apa ini dua rusa.
Rusa di area lapangan Pulau Peucang

Sekitar jam 4 sore kami tiba di kantor pengelolaan TNUK Peucang. Pelaporan di Pulau Peucang ini bisa memberikan kita keterangan akan fasilitas dan spot-spot menarik yang ada di area Pulau Peucang. Tentunya kalau kita banyak bertanya dan tidak sedang ramai didalam ruangan.

Lihat dua tenda di sana. Itu tenda kami.
Perkemahan di Cibom

Mengenai fasilitas, terdapat beberapa pilihan bagi pengunjung yaitu terdapat fasilitas penginapan di Pulau Peucang itu sendiri, di Pulau Handeulem dan di Cibom. Bergantung pada biayanya, kami mengambil opsi menginap di Cibom dengan mendirikan tenda. Lokasinya Cibom sendiri tidak jauh dari Pulau Peucang, hanya terletak di seberangnya. Tempat itu sendiri hanya berupa halaman pekarangan yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Tenda pun dipasang sebelum matahari tenggelam. Tak lama kemudian, makanan pun datang. Kru paket wisata dan pemandu yang bersama kami dengan sangat sigap menyediakan makanan yang sangat lezat.

Menghadap laut.
Cerita-cerita saat senja di Kemah Cibom

Esok harinya, pagi-pagi kami pun dipandu menuju Tanjung Layar. Tidak jauh sebenarnya dari tempat kami bertenda. Masih di daratan yang sama, hanya saja lokasinya terletak di ujung. Ujung yang benar ujung, Tanjung Layar adalah tempat terbarat di Pulau Jawa. Trek ke Tanjung Layar tidak jauh, hanya membutuhkan sekitar 30 menit saja. Treknya berada di rimbun hutan di pinggir pantai. Sangat disarankan untuk pergi kesana pada pagi-pagi atau sore hari, sebab burung-burung selalu ramai mengobrol kala itu. Sesekali, bila telinga cukup awas dapat terdengar suara lutung atau bahkan Owa menyahut. Dari sana, kami menyebrang ke Cidaun, padang savana tempat nongkrong para satwa ketika pagi dan sore hari. Sayangnya, kami datang agak siang jadi tidak banyak satwa yang terlihat dan memilih menghindari panas di dalam hutan.

CG Tanjung Layar
Rumah Dinas Penjaga Pantai di Tanjung Layar
View nya mantap
Mercusuar Tanjung Layar di kejauhan. Disana adalah mercusuar yang ketiga.
Karang-karang di tanjung layar
Mercusuar Tanjung Layar
Batu Tanjung Layar
Sebuah daerah intertidal di Tanjung Layar. Formasi batuannya menakjubkan.
Pantai Cidaun
Pantai di Cidaun. Terlihat ada sebuah laguna yang menjorok masuk di kejauhan.
Cidaun - Ujung Kulon
Padang Savana Cidaun
Banteng U.K
Si Sapi atau Banteng yah … ? foto oleh : A.K

Lepas dari Tanjung Layar dan Cidaun, matahari masih cukup pendek dan sinarnya mulai menyengat, acara pun dilanjutkan dengan bermain air di sekitar Pulau Peucang dan ujung daratan Jawa. Sewaktu itu ada tiga gugusan terumbu karang yang kami kunjungi, sayangnya saya lupa nama-nama yang diberikan padanya, Citerjun dan Cikuya kalau tidak salah dua namanya. Di penghujung hari itu pula kami juga menengok Karang Copong dari atas perahu. Karangnya yang masif dan megah pertanda dia masih memenangkan pertarungan melawan sang ombak yang kerap menghantamnya. Selepas senja kami pun kembali ke perkemahan di Cibom. Dua potong ikan segar besar yang kami beli di tengah laut saat bermain air tadi menjadi menu malam ini, jangan ditanya, sudah jelas rasanya mantap. Namun sayang, kelezatan malam itu hanya singkat saja sebab hujan dan angin besar menerkap atap langit di Cibom. Esok paginya adalah hari terakhir kami, jadi lebih baik hari itu disudahi saja dalam tenda yang hangat.

Karang Copong
Karang Copong. Si Tangguh pelawan ombak
Karang Copong 2
Karang Copong atau bisa disebut juga Karang Kopong ??
Nelayan U.K
Sang Nelayan. Kami membeli ikan makan malam kami dari mereka. Sayang, mereka sepertinya kurang beruntung hari itu..

Paginya, matahari dengan gegas menyala terang, kami pun sarapan pagi dan lekas membereskan kemah kita untuk bersiap pulang. Dalam perjalanan pulang kami pun sempat mampir ke salah satu pulau di dekat Taman Jaya. Lupa juga nama pulau itu, yang teringat hanyalah saat itu sudah cukup siang dan pulau itu nampak sangat terpencil dan kecil dengan latar belakang Pulau Jawa yang besar di belakangnya. Kami sempatkan pula untuk bermain air sebentar disana, namun rupanya kondisi gugusan karang disana sudah cukup hancur dan menyisakan sedikit kehidupan disana. Mungkin karena aktivitas perikanan yang merusak, mungkin karena para turis yang berlebihan, entahlah. Saat matahari masih berada diatas kepala kami pun sudah tiba di Taman Jaya kembali. Kabar tidak elok yang kami dapat mengenai teman seperjalanan kami membuat kami harus bergegas untuk pulang kembali ke keramaian kota besar.

Bagan Ujung Kulon
Pulau terakhir yang kami kunjungi. Tampak beberapa bagan ikan siap menjerat ikan-ikan kecil di malam hari.

Moral cerita dari perjalanan kami kali ini adalah daerah Ujung Kulon memang daerah konservasi dan daerah wisata yang saat ini sudah sangat terjangkau dan mudah untuk ditelusuri. Ujung Kulon memang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi yang menarik untuk dijelajahi, namun seiring dengan perkembangan informasi pengelola Ujung Kulon sebaiknya menyiapkan diri menghadapi lonjakan kunjungan dimasa depan untuk menjaga keaslian dan kesehatan flora dan fauna disana. Dengan meningkatnya kunjungan manusia, kerentanan dan kapasitas daerah konservasi semakin diuji ketahanannya. Ini dapat terlihat dari semakin banyaknya sampah di areal Pulau Peucang, Perkemahan Cibom serta kemungkinan adanya invasi biota dari daerah luar Ujung Kulon.

Moral cerita bagi saya sendiri adalah hendaknya sebelum melakukan perjalanan untuk mencari informasi selengkap mungkin mengenai daerah tujuan dan sebanyak mungkin mencatat serta peka untuk mengamati saat kita berada di daerah tujuan.

Advertisements

Ujung Kulon set 1.

Peta Taman Nasional Ujung Kulon
Peta Taman Nasional Ujung Kulon. Hak Cipta : Balai TNUK, Departemen Kehutanan.

Introduksi

Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya disebut dengan TNUK atau UK), merupakan taman nasional pertama di Indonesia yang ditetapkan pada tahun 1992 dengan luas daratan terlindungi 78.619 Ha dan luas perairan terlindungi 44.337 Ha. Total luasannya menjadi 122.956 Ha, bandingkan dengan luas Jakarta yang seluas 74.000 Ha. Meskipun ditetapkan tahun 1992, namun UK telah dilindungi sejak jaman Belanda dulu. Pemerintah hindia belanda kala itu sudah menetapkannya sebagai kawasan suaka alam sejak tahun 1921. Bahkan, naturalis terkenal kelahiran Jerman F. Junghun sudah mulai mengenali dan mengoleksi tetumbuhan tropisnya sejak tahun 1846.

Mirip dengan taman nasional lainnya di Indonesia, TNUK sangat bersinggungan dengan kehadiran masyarakat lokal yang memang sudah bergenerasi tinggal disana. Wilayah Desa Sumur dan Desa Tamanjaya sebagai contohnya adalah para penduduk-penduduk yang sudah bermukim berbatasan dengan TNUK. Hidup berbatasan dengan taman nasional tentu tidak mudah, karena penduduk yang umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan itu mengandalkan alam sekitar untuk kelangsungan hidupnya maupun untuk meningkatkan tingkat penghidupan mereka. Kasus-kasus sengketa dan perselisihan antara penduduk dan pihak pemerintah yang diwakili oleh Balai TNUK telah terjadi pada masa-masa awal penetapan UK sebagai wilayah perlindungan alam nasional. Detail contoh kasusnya bisa dicari sendiri pada Mbah Google, saya tidak akan menulisnya disini.

Penduduk pemula dari wilayah UK adalah penduduk dari wilayah kesultanan Banten. Salah satu cerita yang mudah ditemui adalah bukti adanya mercusuar Tanjung Layar dan bekas dermaga di Cibom yang didirikan pada awal tahun 1800 dengan tujuan untuk membantu pelayaran niaga dari perusahaan VOC tentunya. Pembangunan kedua struktur tersebut tentu tidak mungkin tanpa adanya peran serta dari masyarakat Banten yang bermukim disana. Pada kali kesempatan saya berkunjung kesana, yang nyata terlihat disana adalah peninggalan mercusuar Tanjung Layar dan bekas penjara bawah tanah. Sedangkan dermaga Cibom sulit untuk dilihat bekas kehadirannya secara gamblang.

Hasil penelitian arkeologi Pulau Panaitan tahun 1992 yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional mendapatkan sejumlah tinggalan arkeologi dan sejarah, misalnya: bangunan kolonial di Tanjung Layar, lukisan gua di Sangiang Sirah, arca-arca di Pulau Panaitan, dan lingga di Pulau Handeulum, sisa-sisa pemukiman kuno di Taman Jaya dan Sumur. Dari situs-situs tersebut, baru diteliti situs Tanjung Layar dan Pulau Panaitan. Entah bagaimana selanjutnya hasil-hasil penelitian ini, yang pasti sewaktu saya berkunjung kesana kalau tidak ditanyakan langsung rasanya mustahil mendapatkan informasi ini di TNUK. Singkatnya ” ya, kalo lu mau tau..ya tanya aja..kalo gak ya gua juga gak ngomong “.

Tiba di Ujung Kulon

Memang, kali kesempatan saya kesana memang tidak mendapatkan pemandu berseragam Taman Nasional yang rapi dan necis, alih-alih kami ditemani oleh masyarakat yang terbiasa memandu pengunjung. Berkunjung ke TNUK dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu, berkunjung sendiri dengan peralatan dan menjadi pemandu bagi diri sendiri, kedua berkunjung sendiri dengan dipandu masyarakat setempat, ketiga berkunjung dengan ditemani pemandu TNUK. Harganya jelas berbeda bagi tiga tipe perjalanan tersebut. Mungkin informasi lebih lengkap bisa saya dapatkan kalau ditemani oleh pemandu TNUK, sayang kantong saya banyak bocornya, jadi susah untuk mendapatkan pemandu yang bagus.

Kondisi jalan berbatu dan berbolong.
Desa Taman Jaya, Ujung Kulon

Desa Taman Jaya merupakan lokasi hunian manusia terakhir yang kami datangi sebelum memasuki TNUK. Desa itu sendiri tidak terlalu ramai dan telah ramah pada pengunjung, ramah khas Indonesia. Tak tampak dimuka bekas-bekas perselisihan pada masa lalu, entah bagaimana di hatinya. Pada siang hari yang terik dan tanpa ada ba-bi-bu, ataupun sedikit introduksi dari pemilik perahu/penginapan kami langsung diarahkan menuju dermaga untuk naik perahu dan menuju Pulau Peucang untuk mendaftarkan diri kami ke kantor Balai TNUK sebagai pengunjung. Kebetulan, cuaca hari itu tenang dan cerah sehingga perjalanan dari dermaga Taman Jaya menuju Pos TNUK di Pulau Peucang tidak dihadiahi ombak besar sehingga kami bisa beristirahat dan menikmati pemandangan Pulau Jawa yang paling ujung.

Foto diambil menuju pulau peucang.
Ujung Pulau Jawa bagian barat
Bagan di UK umumnya adalah bagan tancap.
Di kejauhan terdapat banyak Bagan-Bagan. Bagan adalah tempat penangkap ikan yang bekerja mengandalkan cahaya dan jaring.

Ujung Barat Jawa | Western Tip Of Java

Kembara Sang Babi / The Wandering Hog
Kembara Sang Babi  |  The Wandering Hog

Tak berapa lama lalu, di penghujung bulan ketiga tahun 2014 ini. Keberuntungan datang pada diri untuk menyempatkan diri mengunjungi penghujung barat pulau terpadat di Indonesia. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan menyita waktu dihiasi oleh pemandangan alam yang kontras dengan suasana kota. Siang menjelang pada batas terakhir manusia boleh berpenghuni bebas. Sore memanja langit berhias emas. Tiap malam intan nun jauh ditabur berserak.

Di ujung barat Jawa ini rasanya sunyi dan jauh sekali dibandingkan kota-kota yang bising sekitar 200 km di sebelah timur sana. 3 siang dan 2 malam kami ada disitu dan disitu saya merasakan sesuatu yang luhur sekaligus membuat bergidik. Dibalik bisingnya para turis yang hingar bermain, penduduk asli sana seperti juga alamnya nampak acuh pada manusia. Sang rusa dan Sang Kerbau dan Sang Babi dan para pepohonan dan desir angin yang menerpa dan gelombang yang menerjang pantai dan seluruh elemen alam lainnya di ujung barat Jawa ini seakan meremehkan manusia.

Lokasi ujung barat jawa ini sudah berumur sangat lama. Lokasi ini juga mempunyai cerita sejarah yang panjang dan kuno. Hutan primernya yang tua memberikan nafas oksigen yang segar dan menerus.

Jika anda kesana berbaringlah sejenak, sementara waktu, lepas dari permainan kita akan duniawi yang semu. Lepas dari bisingnya kata dan suara artifisial lain dan berserah pada nuansa alam yang kuno ini dan beralih untuk hanya mendengar.

Dengarkan desah alam primitif ujung barat jawa ini, menarik napas dan menghembusnya pada setiap desiran angin, sapuan ombak dan ributnya jangkrik. Dengarkan dan dengarkan ! dengarlah.

Maka anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan kala itu. Kengerian yang membuat bergidik sekaligus rasa hormat dan kagum yang adiluhung pada tempat ini, sang tempat kuno yang megah ini.

Maka mungkin anda pun jadi mahfum melihat tingkah sang babi yang acuh melintas di pantai bagai sang empunya tanah.



Sang rusa yang tenang / The serene deer
Sang rusa yang tenang  |  The serene deer

Not so long ago, at the end of the third month of the year 2014. Luck comes to myself for taking the time to visit the western edge of the most densely populated island in Indonesia. The long journey is quite laborious and time-consuming but it is decorated by natural landscapes, contrast with the atmosphere of the city. Noon arrive at the last permitted human boundary. The pampered afternoon sky are decorated with gold. Each night the distant diamonds are sown scattered .

At the western end of Java, it is desolate and far away compared to the noisy cities located 200 km to the east. For 3 day and 2 nights we were there and there I felt something sublime and something that make me shudder. Behind the noises of the tourists with their hustle games, the natives there appears ignorant of human nature. The deer and the buffalo and the hog and the trees and the wind and the waves that hit and crashing the shore and all of the other natural elements at this western tip of Java seem to underestimate humans.

The location of this western end of Java has become a very ancient life. This location also has a long and ancient history. The old primary forest keep giving it fresh breath of oxygen continuously.

If you were to visit there, just lie for a moment, temporarily, escape yourself from the mundane false game. Apart from the noises of words and other artificial sounds and surrender to feel the nature of this ancient life and switch it to just listen..

Listen the sithe of this primitive nature of the western end of Java, whilst it blew breath on every whisper of the howling wind, the breaking waves and the squealing crickets sweep. Listen and just listen! Listen.

Thus you will probably feel the same way with the way I feel at the time. The horror that makes me shudder and also the respect and admiration of this valuable place all at once, this magnificent ancient place.

Thus you might also be knowingly understand to see the behavior of the hog who seem indifferent passing on the beach in such manner as he owns of the land.

Flores 0.1

Bukit Pandang Pelabuhan LB
Bukit Pandang Pelabuhan LB

Tahun-tahun belakangan ini, wisata alam telah menjadi destinasi wajib bagi para pejalan-jalan. Informasi dan tawaran bermacam rupa akan eloknya Ibu Bumi timbul seiring pesatnya pertumbuhan dunia maya yang nyaris tidak berbatas. Keasrian dan kealamian sang Ibu Bumi, sayup memanggil manusia-manusia yang bertarung di hutan beton.

Sahaya pun termasuk yang turut menoleh pada panggilan Sang Ibu. Tengokan saya mengarah ke arah Timur. Pada sebuah pulau dan gugusan anak pulaunya di timur sana, sekitar 1000 an km jaraknya dari kursi butut tempat pantat saya berlabuh tiap harinya. Pulau ini sebenarnya sudah terlalu lama dikenal, pelancong berlayar sudah mengenalnya sejak abad 16 atau bahkan sebelumnya, republik ini juga sudah mengenalnya sejak puluhan tahun lalu. Namun sayang, pulau ini dan gugusan kepulauan ini salah urus oleh sang republik. Kita dulu mengenalnya sebagai daerah yang kering dan miskin, yang terlalu sering digambarkan dengan kekeringan dan gagal panen. Bumi NTT (Nusa Tenggara Timur), pulau yang salah urus dan anak tiri sang republik. Kalau Papua masih punya emas, Kalimantan punya batubara, Bali punya Pantai Kuta, NTB punya tiga Gili-nya, NTT cuma punya…punya…punya apa yah ?

Komodo ?

Yap, NTT punya Komodo.

Kita juga tahu, selain Komodo, juga ada Kelimutu, Pemburu Paus Lamalera, Pulau Alor, dsb dsb dsbnya…

Rangkaian penobatan gelar 7 Keajaiban Dunia yang baru dan diikuti oleh Sail Komodo tempo 2013 lalu membuka keran pariwisata dunia. Padahal, komodo dan serangkaian pulau tempat rumahnya sudah dilindungi Sang Republik sejak 1980. Bahkan sudah dinobatkan oleh badan PBB : UNESCO sebagai World Heritage Site sejak 1991. Sahaya dan banyak teman-teman sahaya di tahun 90 an pun sudah kenal dengan komodo sedari kecil lewat aktornya yang terkenal, Si Komo. Si tukang bikin macet itu dan teman-temannya (Ulil, Dompu dan Belu) saban hari bikin saya tertawa selepas sekolah.

Kelimutu juga sebenarnya sudah lama dikenal orang, ditetapkan sebagai Taman Sang Republik tahun 1992 dan fotonya terpampang di seluruh penjuru negeri sebagai sarana transaksi belanja senilai 5000 rupiah. Pemburu Paus Lamalera juga rupanya sudah dikenal dunia sejak lama. Setidaknya tercatat tahun 1973 badan PBB : FAO pernah mencoba untuk “menertibkan” praktik perburuan paus disana. Namun, laporan mereka mengungkapkan bahwa penduduk Lamalera adalah contoh penduduk yang menerapkan kata “berkelanjutan” dengan baik dalam hal perburuan paus. Hingga kini, penduduk Lamalera menjadi ikon yang baik dalam hal tradisi perburuan paus. Pulau Alor dan Pulau Pantar dan selat sekitarnya merupakan surga bagi para penyelam dunia. Telusurilah dengan mesin pencari andalanmu dan gunakan kata kunci “ALOR” dengan “DIVING” dan hasilnya akan menunjukkan lokasi titik penyelaman yang memenuhi di hampir seluruh sisi pulau. Banyak gugusan karangnya yang hampir belum pernah didatangi manusia.

NTT medio 2013 bukanlah NTT yang kita kenal dahulu lagi. NTT saat ini merupakan NTT yang menawarkan banyak potensi. Pada beberapa waktu yang lalu, sahaya diberikan kesempatan untuk mengunjungi daerah sang anak tiri ini. Sahaya saat itu memilih untuk mengunjungi salah satu pulau kebesarannya. Pulau berbunga, Pulau Flores. Selama tempo beberapa hari saya mencoba untuk bertualang di Flores untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri miskonsepsi yang ada di pikiran saya sedari kecil. Memang, skala waktu harian tidak cukup untuk merubah pikiran ngawur saya (akan kekeringan dan kemiskinan dll), namun hasil observasi kecil-kecilan saya kemarin cukup membelalakkan mata ini dengan potensi-potensinya. Tulisan ini merupakan tulisan pengantar akan observasi temeh yang saya lakukan saat saya berkunjung kemarin, sedang tulisan saya berikutnya merupakan tulisan riil hasil perjalanan singkat saya. Oleh sebab itu tulisan ini berjudul Flores 0.1.

Tiga Alasan Untuk Tidak Mengurung Lumba-Lumba di Kolam

Pengantar :
 
Tulisan ini bukan tulisan saya pribadi. Saya hanya menterjemahkan secara sederhana saja (mudah-mudahan). Tulisan ini saya tampilkan karena sepertinya pengetahuan masyarakat kita (baca : Indonesia) belum banyak tahu akan hal ini. Negara di seberang sana yang katanya lebih maju jelas membuat kita lebih mudah untuk belajar dari pengalaman dan pendidikan yang mereka buat.
 
Lagipula, toh, konon katanya kita ini Bangsa Maritim yang 2/3 wilayahnya laut, ada kemungkinan kita mengalami kasus yang mirip – mirip. Mari, silakan membaca, maaf agak panjang yah hehe..
 

 Debunking Captivity: 3 Reasons Not to Keep Dolphins in a Tank

(Mengungkap Pengurungan: 3 Alasan  untuk  tidak mengurung Lumba-Lumba di kolam)

dolphin11a
Oleh :  Maddalena Bearzi ( 8 – April – 2014)

<http://newswatch.nationalgeographic.com/2014/04/08/debunking-captivity-3-reasons-not-to-keep-dolphins-in-a-tank/>

Debunking Captivity_Oritext

Aku telah menghabiskan banyak waktu disekeliling lumba-lumba liar selama kira-kira dua puluh tahun. Aku telah membangun sebuah karir dengan mengikuti pergerakan mereka setiap hari dan mengamati perilaku mereka baik dari pantai mau pun dari kapal penelitian. Sewaktu aku memulai studi ini, aku menyadari bahwa makhluk-makhluk ini adalah objek dari penelitian saya semata, namun seiring waktu berjalan, aku mulai mengenali mereka sebagai sebuah individu, tidak semata karena uniknya takik pada sirip belakangnya, namun juga karena kemampuan kognitif, kepribadian dan emosi mereka

Menghabiskan ribuan jam di laut, aku mulai mengenali mereka melalui penglihatan semata, dan seperti teman-teman manusiaku lainnya, mereka menjadi sebuah bagian penting dari hidupku. Aku belajar mengenai kebutuhan-kebutuhan mereka, tidak hanya kebutuhan ruang namun juga persahabatan/persaudaraan dan aku menjadi saksi sekelompok yang kompleks dan mengalir, yang dalam banyak hal sangat mirip dengan kita sendiri.

Aku juga telah secara langsung perbedaan kehidupan dari makhluk-makhuk ini di dalam aquaria (akuarium) dan taman rekreasi laut  dan aku tidak dapat untuk tidak bertanya mengenai alasan-alasan untuk mengandangkan makhluk yang sedemikian indah. Dalam pekerjaanku, aku telah mendengar semua macam pembenaran untuk tetap mengandangkan lumba-lumba, yang paling sering adalah pembenaran untuk alasan pendidikan, konservasi dan penelitian.

(Lihat : “First Person: How Far Will the Blackfish Effect Go?“)

Mari pertimbangkan apakah alasan-alasan diatas sahih. Tentu juga kita harus mengingat bahwa kita adalah spesies yang katanya cerdas dan penyayang dengan kemampuan untuk merefleksikan dan menganalisa apa yang kita ketahui mengenai lumba-luma dan dapat membuat keputusan yang masuk akal berdasarkan evaluasi tersebut.

Mengandangkan cetacean ( dan termasuk jenis binatang yang lainnya), dalam sebuah lingkungan terbatas mungkin dapat diterima di masa lalu, saat kita tidak mengetahui banyak, saat kita tidak mempunyai informasi cukup mengenai makhluk-makhluk ini di alam liar dan apa yang mereka perlukan untuk hidup. Namun sekarang, kita tahu jauh lebih banyak dibandingkan apa yang kita tahu dahulu.

Jadi apa yang kita tahu mengenai lumba-lumba? Berikut, secara singkat, adalah tiga alasan penting mengapa kandang dan lumba-lumba tidak berkaitan sama sekali.

 

  1. Lumba-Lumba adalah hewan berotak besar dan kognitif.

Jika kita pertimbangkan spesies kita sendiri sebagai makhluk tercerdas, maka lumba-lumba adalah yang kedua tercerdas, dengan skor yang lebih baik dari saudara sepupu kita sang kera. Melihat pada nilai EQ nya (Encephalization Quotient), yang merupakan representasi dari ukuran relatif besarnya otak dan estimasi kasar dari kecerdasannya, lumba-luma memiliki nilai EQ yang tinggi karena besarnya rasio ukuran otak terhadap badan yang tidak umum.

Dua dekade terakhir merupakan masa proliferasi dari investigasi anatomi dan morfologi dari para cetacean. Studi neuroanatomi otak mereka telah menunjukkan bahwa lumba – lumba memiliki jaringan neokorteks yang rumit dan berkembang sama dibandingkan dengan spesies lain, termasuk manusia, dan sebuah lipatan khusus pada serebral korteksnya, dimana pada cetacean terlihat lebih menonjol dibandingkan pada primata.

Mengapa ini penting? Karena, sederhananya, struktur yang disebutkan diatas berasosiasi kuat dengan pengolahan informasi yang kompleks. Lumba – lumba juga mempunyai neuron-neuron yang berbentuk poros, atau neuron-neuron Von Economo, yang merupakan kunci dari kesadaran sosial dan telah dikaitkan setara dengan kemampuan manusia untuk “merasakan” apa yang orang lain pikirkan.

Tidak ada keraguan bahwa kecerdasan itu sulit untuk ditentukan dan terlebih dalam dunia binatang, hampir semua binatang merupakan binatang “pintar” tergantung dari definisi kepintaran yang kita tentukan. Contohnya adalah, pada anjing-anjingku.. Namun, hanya pada beberapa spesies saja seperti lumba – lumba, sang kera dan manusia kita dapat menemukan kekompleksan otak, kekompleksan sosial dan kekompleksan ekologis yang saling terkait. Setidaknya sampai saat ini…

(Lihat: “Schoolchildren and Musicians Boycott SeaWorld in ‘Blackfish’ Flap.”)

Sumber : wikipedia.org
Sumber : wikipedia.org
  1. Lumba – Lumba Hidup Dalam Lingkungan Sosial Kompleks Di Lautan

Telah disebutkan bahwa otak lumba-lumba besar dan kompleks, namun apa guna dari kapasitas otak yang besar ini? Otak semacam ini telah memungkinkan lumba-lumba untuk mengembangkan sistem sosial yang kompleks dan mengalir, dimana mereka menjadi berkembang maju sedemikian rupa dalam lingkungan tiga dimensional yang cair.

Cetacean seperti lumba-lumba hidung botol (Spesies yang umum ditemukan pada aquaria dan taman rekreasi laut saat ini) mempunyai keahlian sosial dan komunikasi yang fleksibel dan sangat mengagumkan. Mereka hidup dalam jaringan sosial yang dikarakterisasi dengan diferensiasi hubungan yang tinggi yang sering bergantung pada kemampuan memori untuk mengetahui mana lawan dan mana yang benar-benar teman. Mereka terlibat dalam perburuan yang kooperatif dan mereka memilah sumberdaya dengan baik sehingga mangsa yang ada dibagi rata untuk semua anggota grup.

Dalam beberapa populasi lumba-lumba, sang jantan membentuk koalisi untuk menekan para betina (secara seksual) atau untuk mengalahkan koalisi pejantan lainnya. Mereka saling peduli satu sama lain, sang induk dan sang anak mempunyai hubungan sosial yang kuat dan berjangka panjang dan anak lumba-lumba dapat menghabiskan waktunya hingga dua tahun di samping ibunya untuk mengenal posisinya di lautan. Lumba-lumba bermain, saling mengikat, saling meniru dan saling belajar satu sama lain dan mentransfer informasi dari generasi ke generasi.

Perilaku transfer informasi pada keturunan mereka membuat mereka menjadi lebih berbudaya seperti kita. Seperti kita juga, mereka dapat mengenali diri mereka secara individual dan sadar diri sendiri, meskipun tingkatan kesadaran diri seorang lumba-lumba masih harus ditelusuri lebih jauh.

Di laut, lumba-lumba selalu bergerak, acapkali dalam grup berjumlah ratusan dan terkadang hingga sejauh ribuan mil. Otak besar mereka membantu mereka untuk mengumpulkan makanan yang tersedia secara sementara maupun tersebar luas. Lumba-lumba, seperti binatang lainnya, pada dasarnya adalah mamalia sosial komplek yang membutuhkan ruang ekspansif untuk hidup. Sebuah kolam/tanki tidak akan dapat memenuhi kebutuhan ini…

 

  1. Lumba-Lumba memiliki emosi (dan kepribadian)

Kita suka berpikir bahwa lumba-lumba adalah binatang bahagia yang dimana-mana selalu tersenyum dan bermain-main. Kita cenderung untuk menarik kesamaan bentuk pada manusia pada lumba-lumba, memproyeksikan atribut kita sendiri pada mereka. Tapi, apa yang kita lihat sebagai wajah gembira dari sebuah lumba-lumba sebenarnya menyamarkan emosi tersembunyi mereka, terutama apabila kita mengurung mereka dalam lingkungan tertutup. Jangan lupakan juga bahwa saat mati wajah lumba-lumba juga tersenyum!

Lumba-lumba, seperti kita, juga mempunyai sistem limbik dan mampu untuk mempelajari spektrum luas dari emosi seperti kesenangan, dukacita, frustrasi, marah dan cinta. Letakkan sebuah lumba-lumba dalam sebuah scanner MRI dan anda akan melihat sebuah struktur otak yang besar yang membuat mereka mengenali emosi kompleks. Melihat sebuah otak lumba-lumba, anda akan menemukan neuron-neuron Von Economo yang pada manusia erat terkait dengan rasa intuisi dan empati.

Mengesampingkan fakta-fakta otak maupun neuron dan meluangkan waktu bersama makhluk-makhluk ini di alam liar akan memberikan gambaran lebih lengkap bagi mereka sebagai makhuk yang beremosi dengan kepribadian yang beragam.Siapapun yang telah menyaksikan kasih sayang seorang induk lumba-lumba dalam merawat bayinya atau individu lumba-lumba yang menolong lumba-lumba lainnya yang kesulitan atau saat lumba-lumba berduka cita selama beberapa jam, bahkan hari saat ada kerabatnya yang meninggal, tidak akan menyangkal bahwa makhluk ini mempunyai perasaan.

Seperti halnya kecerdasan, kesadaran emosi pada para penghuni laut ini sulit untuk dipahami, didefinisikan dan diukur. Sebagai perbandingan, pikirkan saja betapa sulitnya bagi kita untuk mengetahui apa yang orang lain pikirkan atau rasakan pada setiap waktu tertentu.

Sekarang coba lihat sesuatu yang berbeda. Mari abaikan semua studi ilmiah dan apapun yang kita ketahui tentang lumba-lumba. Abaikan juga ketiga pernyataan yang mengatakan bahwa mengandangkan makhluk-makhluk ini adalah kesalahan yang fundamental dan sebaliknya berfokus untuk mengungkap argumen favorit yang pro pada pengandangan yaitu : penelitian, pendidikan dan konservasi.

Penelitian

Taman rekreasi laut dan aquaria cenderung memberikan kartu aman “Penelitian” setiap kali pertanyaan mengenai pengandangan lumba-lumba timbul. Memang benar, di masa lalu, studi-studi yang dilakukan pada penangkaran lumba-luma telah membantu menyulut pengertian dasar kita mengenai makhluk-makhluk ini; sebuah pemahaman yang tidak didapat para peneliti di laut pada era tersebut karena adanya keterbatasan teknis dan logistik. Namun, dunia telah berubah dan ilmu pun turut berubah dan kita sekarang mempunyai teknologi dan cara yang lebih efektif untuk mempelajari lumba-lumba ini pada habitatnya sendiri.

Secara umum, karena adanya pengaturan non alamiah, penelitian pada penangkaran memberikan pengetahuan yang lebih sedikit untuk aplikasi perlindungan dan pengelolaan spesies ini di laut. Nyatanya, jenis penelitian seperti ini bahkan dapat memberikan arti yang salah. Banyak publikasi penelitian pada binatang yang ditangkarkan berfokus pada teknik melatih dan perbaikan praktik peternakan, yang tidak mempunyai sangkut paut pada lumba-lumba yang hidup di alam bebas. Sebagai contoh : penelitian penyakit lumba-lumba di penangkaran telah gagal untuk memperkirakan mewabahnya virus penyakit pada populasi liar yang sering menimbulkan kematian massal.

Lebih jauh lagi, hanya sebagian kecil dari biaya yang didapatkan dari penjualan tiket pada lokasi penangkaran yang digunakan untuk penelitian (jika ada bahkan) dan kurang dari sepuluh persen kebun binatang atau aquaria yang terlibat dalam program penelitian konservasi, baik itu secara in situ (pada penangkaran) atau di alam liar.

(Lihat: “Opinion: SeaWorld vs. the Whale That Killed its Trainer.”)

 

Pendidikan dan Konservasi

Klaim paling umum dari banyak aquaria adalah mereka menyediakan peluang pendidikan yang bagus, yang menganggap dapat menunjukkan masyarakat untuk peduli pada konservasi lumba-lumba. Namun, ini jelas tidak benar.

Perbedaan terbesar pada opini disini adalah tidak adanya definisi yang jelas pada nilai pendidikannya. Cobalah berpikir saat membawa anak-anak ke taman rekreasi laut (aquaria). Hal ini bukanlah pengalaman yang mendidik sebab sang anak belum mengerti apa yang dilakukan makhluk-makhluk ini. Meloncat dan memercikkan air sesuai perintah atau mengambil ikan dari tangan seorang pelatih selama pertunjukkan adalah hanya sebuah stereotipe, perbuatan membadut yang tidak menunjukkan keseharian dari makhluk-makhluk ini. Kehilangan ruang alami mereka dan struktur sosialnya, lumba-lumba ini berubah. Lumba-lumba penangkaran tidak sama dengan mereka yang aku tahu dan lihat di alam liar.

Alih-alih, berpikirlah untuk membawa anak anda ke laut untuk mengikuti trip Whale-Watching yang mungkin sekali lebih murah daripada sebuah tiket aquaria. Bahkan, dalam sebuah trip tersendiri untuk pergi ke laut, seorang anak dapat mempunyai bayangan sekilas pada kehidupan nyata para lumba-lumba liar. Di laut, seorang dapat lebih memahami apakah para lumba-lumba itu dan bagaimana mereka dapat berperilaku dengan keluarga mereka sendiri. Di laut, seorang dapat melihat mengapa kita perlu untuk melindungi tidak hanya mereka namun juga lingkungan dimana mereka hidup. Ini adalah pelajaran-pelajaran mengenai konservasi yang sangat penting untuk seorang anak!

Klaim kedua adalah dengan menangkarkan mereka pada sebuah tanki maka kita menyelamatkan mereka dari polusi dan penangkapan berlebih, hingga mencegah kepunahan, dan bahwa program peternakan dalam penangkaran adalah untuk alasan konservasi. Memindahkan lumba-lumba dari habitat alami mereka untuk hidup dalam akuarium tidak akan mengatasi masalah lingkungan. Juga, pernyataan bahwa program-program ini membantu spesies yang terancam punah adalah salah, terutama jika mempertimbangkan bahwa spesies yang terancam punah bukan spesies yang dipelihara dalam penangkaran. Progam pembiakan dalam penangkaran hanya menyediakan satu hal : suplai dari para lumba-lumba yang terus tersedia untuk pertunjukkan dan hiburan manusia.

Terdapat banyak alasan mengapa memelihara makhluk-makhluk ini dalam penangkaran adalah keliru, seperti buruknya dan sering mengerikan, kondisi fasilitas tempat penangkaran lumba-lumba di seluruh dunia, dan tingginya tingkat sakit dan kematian dari hewan penangkaran. Tidak ada aquarium atau tempat rekreasi laut yang dapat memenuhi kebutuhan kompleks fisiologis dan psikologi dari sebuah lumba-lumba, atau bahkan binatang-binatang lainnya. Bahkan kita juga belum menyebutkan jumlah individu lumba-lumba yang terbunuh dalam usaha kita untuk menangkapnya, dan tingkat stress yang makhluk-makhluk ini rasakan saat terpisah dari jaringan sosial dan grupnya.

Sudah saatnya kita jujur sendiri bahwa satu-satunya alasan kita mengurung makhluk mengagumkan, berotak besar dan memiliki tingkatan kompleks sosial tinggi ini adalah untuk tujuan hiburan kita, hiburan untuk alasan menghasilkan uang, uang yang sangat banyak.

Lumba-lumba adalah siapa, bukan apa, dan mereka berhak mendapat haknya. Kita para manusia seharusnya menggunakan penilaian dan kasih kita pada mereka dan binatang-binatang lainnya dan berhenti untuk mengandangkan mereka sebagai tahanan mereka.

 

Maddalena Bearzi mempelajari ekologi dan conservasi dari mamalia laut selama lebih dari 25 tahun. Dia adalah Presiden dan salah satu pendiri dari Ocean Conservation Society, dan salah satu penulis dari Beautiful Minds: The Parallel Lives of Great Apes and Dolphins (Harvard University Press, 2008). Dia juga bekerja sebagai jurnalis foto dan blogger pada beberapa publikasi. Buku terbaru darinya adalah Dolphin Confidential: Confessions of a Field Biologist (Chicago University Press, 2012).

 

 

Daftar istilah :

Marine Parks/Aquaria :

Taman rekreasi laut, sejenis S*aW*rld maksudnya

Cetacean :

Mamalia laut sebangsa paus dan lumba-lumba

Proliferasi :

Masa perkembangan yang cepat

Sistem Limbik  :

kelompok struktur otak depan yang memiliki hipotalamus, amigdala, dan hipokampus yang terlibat dalam motivasi, emosi, belajar, dan memori

MRI :

Magnetic Resonance Imaging, adalah instrumen yang digunakan untuk melihat/membuat gambar organ atau struktur di dalam tubuh menggunakan medan magnet dan gelombang radio secara lebih baik jika dibandingkan X-ray, atau CT Scan.

Whale Watching :

Sebuah trip yang mengatur perjalanan ke laut untuk melihat ikan paus dan/atau lumba-lumba yang bermigrasi. Umumnya terdapat di Amerika dan kanada. Versi Indonesianya ada di Teluk Kiluan, Lampung.