Selamat Ulang Tahun ke 54, ITB yang angkuh !

Sebenarnya, sudah cukup lama ingin menulis ini, terlebih tepat di hari lahirnya institusi pendidikan ini yaitu per tanggal 2 Maret kemarin. Tapi seperti layaknya seorang peracau, menulis dan memikirkan untuk menulis atau berangan untuk menulis adalah hal-hal yang jelas berbeda. haha..

Yah, langsung saja… pada 2 Maret kemarin, Institut Teknologi Bandung (ITB)  sudah berumur lebih dari setengah abad berdiri, 54 tahun tepatnya. Perjalanan yang sudah cukup panjang sebagai suatu institusi pendidikan. Institusi ini telah melewati banyak liku perjalanan dalam hal ilmu, teknologi dan seni dan bisa dibilang juga berbagai perjuangan sosial dan politik. Dalam bidang keilmuan, rasanya tidak banyak (kalau tidak bisa dibilang tidak ada) yang meragukan keilmuan dari sebuah institusi pendidikan teknis seperti ITB ini. Banyak pembangunan di negara ini, yang melibatkan para sarjana-sarjana lulusan institusi ini. Banyak simbol-simbol pembangunan tersebut berdiri megah dan tersebar hampir di seluruh propinsi negara ini. Bahkan, konon beberapa lulusan institusi ini malah lebih banyak bersinar di tanah asing, menjadi peneliti utama pada institusi riset ternama di luar negeri. Yah, kita semua tahu lah, betapa orang-orang penting negeri ini belum cerdas benar menghargai kecerdasan.

Dalam bidang sosial dan politik, institusi ini pun turut menyumbangkan beberapa karya-karya melalui pemikiran para alumninya dalam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di nusantara ini. Sebut saja, yang paling terkenal adalah tentu saja presiden pertama Indonesia, Sukarno. Presiden RI ke dua Pak Habibie juga ternyata seorang alumnus ITB meskipun hanya setahun dan kemudian dibidang politik lainnya yang saya tahu ada Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Jero Wacik, Hatta Rajasa dll. Pada bidang sosial yang saya banyak tahu adalah orang seperti Wimar Witoelar, Harry Roesli, Gito Rollies hingga Sudjiwo Tejo yang membuat saya terheran-heran apa benar dia ITB atau bukan.  Pergerakan sosial politik yang terkenal bagi ITB juga tidak lain adalah pada masa-masa pendudukan kampus ITB oleh militer di masa Orde Baru. Para mahasiswa yang ikut dalam peristiwa pendudukan itu sebenarnya tidak lain adalah teman-teman dari orang yang saya sebutkan tadi, atau bahkan mereka sendiri. Peran mahasiswa ini juga ikut andil dalam peristiwa reformasi 1998, bersama dengan ratusan mahasiswa sebandung raya, mereka mengkordinir gerakan di Bandung dan di Jakarta.

Pada masa sekarang, pergerakan mahasiswa cenderung berada agak jauh dari politik (kalau tidak bisa dibilang jauh betul sebenarnya). Perhatian lebih difokuskan pada isu-isu kemasyarakatan dan lingkungan, dimulai dari yang terdekat, pada area dekat kampus atau area sebandung raya. Program-program itu umumnya merupakan program bakti masyarakat yang kerap dilakukan di himpunan jurusan hingga unit kegiatan masing-masing. Program-program yang cukup bagus menurut saya dan lebih bermanfaat, asal direncanakan dengan matang tentu hehe… Daripada ikut-ikutan politik-politik dan terbawa arus politik yang cukup kental dan kuat dan seringkali kotor, lebih baik mahasiswa sekarang lebih banyak berbaur dengan masyarakat. Suatu hal, yang rasanya sudah jarang dilakukan ITB sebagai satu institusi (pls, CMIIW).

Nah, omong-omong, salah satu kegiatan yang saya sempat lihat tidak lama ini, mengenai kegiatan masyarakat mahasiswa ITB dan kegiatan ITB yang kurang bermasyarakat adalah pada peristiwa penggusuran PKL di gerbang utara (belakang) ITB. Beberapa waktu yang lalu, PKL di gerbang utara tersebut digusur dan dibongkar untuk selanjutnya ditata dan PKL dipindahkan ke tempat yang lebih baik. <Seharusnya>.

<Faktanya> Penggusuran saat itu memang berlangsung lancar dan bangunan-bangunan liar diratakan oleh para punggawa Satpol PP, tapi para pedagang menolak untuk pindah karena konon katanya lahan tempat mereka berpindah belum dipastikan dan belum siap. Sehingga mereka pun berkemah di sekitar lokasi lama mereka. Konon katanya, terjadi sedikit perselisihan antara Pemerintah Kota Bandung dengan ITB mengenai PKL ini, siapakah yang lebih bertanggung jawab disini. ITB memang sepertinya ingin menepati janjinya untuk membangun kampus tingkat dunia, salah satu caranya adalah dengan membangun beberapa gedung baru, termasuk yang direncanakan berada di dekat gerbang utara ini. Pembangunan kampus ini memerlukan bantuan berbagai pihak dan kerjasama dengan pihak pemerintah kota rasanya memang diperlukan, namun dengan PKL-PKL rasanya bukan prioritas (kalau tidak bisa dibilang tidak perlu).

Dinginnya musim hujan sepertinya menjadi agak gerah bagi para PKL tergusur. Mahasiswa ITB dan LSM tertentu mulai membantu dalam tahap mediasi antara ITB dan Pemkot. Mediasi ini sepertinya cukup panjang dan alot, yang membuktikan bahwa politik itu memang kental dan kerap keruh, dengan hasilnya adalah PKL tetap bertahan dengan merenovasi tempat menjadi lebih apik dan bersih. Saya kurang mengikuti proses ini, namun sepertinya masing-masing pihak tetap bertahan dengan pendapatnya sendiri. Mediasi itu sendiri memang bersifat perantara dan sering tidak berkuasa atas apapun, terlebih bila masing-masing pihak bersikeras. Mediasi, rasanya sudah cukup dilakukan baik oleh mahasiswa ITB dan LSM tersebut, terlihat dari aktifnya proses mediasi itu sendiri baik di lokasi maupun dibelakang meja.

Alhasil, sekarang di kawasan gerbang utara berdiri kawanan kios-kios bambu yang apik dan rapih tempat para PKL lama bermukim. Namun, di lain pihak ITB, menutup gerbang utara (belakang) dan membangun tembok tinggi di sepanjang gerbang tersebut. Gerbang utara baru sekarang terletak di gerbang SBM, yang juga sudah dipercantik lengkap dengan booth parkir ISS yang sudah dipindah.

Gerbang Utara ITB 2013
Gerbang Utara ITB 2013
"Tembok Berlin" nya ITB.
“Tembok Berlin” nya ITB.
Gelapnya kawasan gerbang utara baru.
Gelapnya kawasan gerbang utara baru di malam hari.

Tembok itu tinggi dan memang memaksa semua penghuni ITB untuk memutar ke SBM bila ingin ke ITB. Pada malam hari, rasanya tidak tersedia listrik sehingga kawasan itu menjadi gelap dan cukup menambah kerawanan. Pada bekas gerbang utara tersebut terpampang tulisan ” Pengumuman. Kendaraan roda 4 (empat) untuk dosen dan pegawai masuk lewat pintu SBM dan pintu selatan. Untuk pejalan kaki lewat pintu matematika”.

Melihat tembok tersebut, rasanya kok agak miris. Tembok, memang dibuat untuk membatasi, menghalang-halangi, terlebih bila temboknya dibuat cukup tinggi. Saya kok jadi ingat Tembok Berlin hingga Tembok Ghetto ( pemisah antara kampung yahudi dengan non yahudi, jaman PD II) yah..sepertinya agak berlebihan sih hehe. Namun bila sebuah institusi pendidikan, sekaliber ITB memasang tembok semacam itu apa yah maksudnya?

Entah, saya sepertinya masih belum bisa menangkap maksud pemasangan tembok yang demikian oleh ITB. Mudah-mudahan alasannya benar-benar sesuai dan layak. Pasalnya, pemasangan tembok nan tinggi itu benar mencerminkan keangkuhan, seperti rumah kemewahan yang takut digondol maling. Saya cemas, karena saya teringat pepatah seorang tua, di suatu pelosok Indonesia yang berpesan “Pintar, bukan berarti bijak”. ITB memang pintar, tapi mendongak pada tembok tersebut kok jadi bertanya-tanya. Mudah-mudahan itu hanya kecemasan saya belaka, sebab orang yang benar pintar harusnya juga cerdas menaruh hati dan berempati. Disini, saya menjadi malu sendiri dan segan berada dibalik kenyamanan tembok tinggi tersebut.

Advertisements

Sumba, Flores, Timor dan Kepulauan Alor

ntt (1)

Ketiga pulau tersebut merupakan suatu wilayah administratif yang disebut dengan Propinsi Nusa Tengggara Timur. Sebuah propinsi yang cukup menarik dilihat karena membentuk sebuah segitiga, dengan anggapan memasukkan Pulau Timor seluruhnya. Pulau Sumba adalah sisi terpendeknya, sedangkan gugusan Kepulauan Flores hingga Alor adalah sisi hipotenusanya. Secara geografis, wilayah ini berbeda dengan wilayah Indonesia lain yang berada di sisi Barat. Iklimnya cenderung kering dan jarang hujan, tiupan angin cukup kencang terutama pada musim timur (Juni – Nov). Topografinya didominasi banyak pulau yang tersusun oleh bukit dan gunung. Wilayah ini termasuk ke dalam wilayah yang dipisahkan oleh garis Wallace dan Weber, sehingga flora dan fauna yang terdapat disana lebih menyerupai spesies australia. Jumlah populasi penduduk dipropinsi ini masih sedikit dibandingkan dengan populasi di wilayah barat lainnya.

Secara geografis, wilayah ini sangat kaya akan sumber daya alam dan masih cukup banyak potensi yang belum digali. Tak perlu diumbar disinilah kekayaan itu, terlalu banyak, cari sendiri sana di Mbah G. Kontras dengan kayanya sumber daya alam itu adalah kondisi penduduk yang cukup memprihatinkan. Berikut statistik yang disediakan oleh id.wikipedia.org:

  1. Tingkat pendaftaran sekolah menengah adalah 39% yang jauh dibawah rata-rata Indonesia, yaitu 80.49% tahun 2003/04 (menurut UNESCO).
  2. Minuman berupa air bersih, sanitasi dan kurangnya sarana kesehatan menyebabkan terjadinya kekurangan gizi anak (32%) dan kematian bayi (71 per 1000) juga lebih besar dari kebanyakan provinsi Indonesia lainnya.
  3. Tingkat ekonomi di provinsi ini lebih rendah dari pada rata-rata Indonesia, dengan tingginya inflasi (15%), pengangguran (30%) dan tingkat suku bunga (22-24%).

Jadi, daerah ini dengan sumber daya melimpahnya ternyata mempunyai tingkat taraf kehidupan yang rendah.

Masalah klasik negeri ini.

Sudah tentu, salah atur dan salah urus. Salah berkepanjangan dan kebangetan.

Mungkin, kalau ada teknologi kloning, Pakde Jokowi dan Koh Ahok bolehlah di Copy Cloning Paste ke daerah-daerah salah atur dan salah urus seperti daerah ini.  hehehe…

Tapi toh itu tidak mungkin saudara-saudara, realistis saja hehe. Tahun-tahun ini, periode ini, sudah masuk dalam sebutan Abad 21. Abad yang katanya canggih yang jelas ditandai oleh kemajuan teknologi yang cukup pesat selama 30 tahun terakhir. Teknologi maju, karena orang yang mengembangkannya berpikir maju.

Untuk itu, kalau wilayah ini ingin maju harus mulai merekrut orang-orang berpikiran maju. Seiring dengan itu, para orang maju harus mau merekrut dirinya sendiri dan melihat wilayah ini kedepan sebagai wilayah yang berpotensi besar. Sudah cukup penuh sesak wilayah Indonesia bagian barat. Sudah cukup banyak persaingan, bahkan menjurus ke persaingan yang tidak sehat.

Marilah kesini, ke Sumba, Flores, Timor dan Kepulauan Alor. Banyak kosongnya wilayah ini. Kembangkan wilayah ini. Persaingan pun masih sedikit. Jangan sampai bule-bule itu lagi yang mengambil potensi disini. Sudah terlalu banyak bule itu caplok negara ini. Anak bangsa ini sudah sama pintar dan majunya dengan bule-bule itu kok.

Dari saya pribadi, latar belakang keilmuan saya, sudah cukup gatal saya ingin merasakan asinnya Laut Sawu dan Laut Flores.

Dari saya pribadi, latar belakang minat jelajah saya, sudah cukup haus saya ingin minum segarnya air Gunung Inerie dan memuncaki tebing-tebing batu tinggi hasil tabrakan lempeng benua di Timor serta merasakan derasnya arus Sungai Kambaniru.

Jadi, tunggu apa lagi.. Ayo kita ke Nusa Tenggara Timur !

Waves

There..just like that..Do you see it..its just an awesome picture of wave..A solitary wave, I believe..

This wave is a true meaning of pure energy of the sun. Yes, the sun…an energy derivative output of the sun. Try to think of this, if at one beach, say a kilometer long, those waves could be harnessed as electricity for…say, about 1 Kilowatt/Day. Then how much Megawatt would it got if all of those long beaches in the world is harnessed for its electricity.  I would say..very much a lot, especially for a country famous for its long coastline such as Indonesia.

Now, where does this energy comes from…

Well, simply thought of it this way..

The power of the sun, heats up earth ( a part of earth actually, which face the sun ) and generate temperature differences on many places..ultimately places with direct and indirect contact with the sunlight. This temperature differences induce differences in density of air. The different density make air moves from a location of higher density to a location of lower density. Thus we called it WIND. The gushing air.

Those winds eventually blow at the ocean, the big ocean… first it causes few ripples, even by a gentle breeze..but then it grows into swells. From that swells it finally reaches out to continents and hits onto a beach. Plunging and breaking as we enjoy ourselves when we play with waves at the beach. Derivative energy.

These beaches of the continents act as a barrier of the waves. If there are no land masses, these waves would keep on traveling at the seas, continually blown by winds and making it deeper and bigger waves. The energy of the sun, through wind and waves has major impact on shaping our land boundaries. These impacts is widely known by erosion and sedimentation.
…..To Be Continued…..

Six Months Ago

It is exactly on a day like this,

Six month earlier.

It was exactly in such weather like this,

On a bright and sun shining weather such as this.

 

We laugh together…

We play together…

 

For a while…

 
But then you go

and we could only stood still

 

For a while…

 

But, we do not forget.

We will not forget.

And we will be better.

Because we and you are always there..

On those memories… in loving memories.

Excellent Indonesian Voices

Here is a few list of my favorite Indonesian Singer :

1. Syaharani :

Nama lengkapnya adalah Saira Syaharani Ibrahim, bukan Syaharani yang dandanan dan lagunya berlebihan itu. Syaharani ini lebih dahulu lahir dan menganut aliran Jazz dalam setiap nada yang dikeluarkan bibirnya. Syaharani yang biasa dipanggil Rani ini hingga 2006 telah merilis 3 solo album jazzy dan satu pop trip-hop (Magma). Dia juga mewakili Indonesia di North Sea Jazz festival 2001, produser album Magma dan Buat kamu (SQf), song writer, serta vocal arranger. Meskipun belum pernah jalan bareng David Beckham, namun Rani pun pernah menjadi bintang tamu dalam Al Jarreau, Iskandarsyah Siregar & Folks, Dave Koz, Keith Martin dan Yellow Jackets Indonesia concert bersama Fourplay.

Awal kesukaan saya dimulai dari dalamnya suara yang dinyanyikan pada lagu Tersiksa Lagi dan Dia pada album LOVE (1999) dan disusul dengan Kesan dan banyak aransemen lagu asing di album Syaharani (2004). Mulai tahun 2006, Syaharani tergabung bersama dalam band Syaharani and The Queen Fireworks. Lalu beliau mengeluarkan dua album lagi pada tahun 2007 (Buat Kamu) dan 2010 (Anytime). Salah satu lagu yang saya suka disini adalah Kemaren. Kalau situ doyan suara yang jelas berkualitas, saya menyarankan anda untuk mencicipi lagu-lagunya Syaharani ini.

2. Tohpati :

Tohpati Ario Hutomo adalah seorang gitaris dan penulis lagu Indonesia. Tohpati merupakan gitaris beraliran jazz. Banyak karya-karyanya memadukan elemen kebudayaan tradisional sejalan dengan usahanya untuk memadukan unsur modern dan unsur tradisional Indonesia dalam musik-musiknya. Aliran musik jazz-nya dipengaruhi oleh banyak gitaris jazz dunia, tapi yang paling besar dalah pengaruh dari gaya permainan Pat Metheny. Awal kesukaan saya dengan Tohpati adalah kombinasi mematikan dari petikan dawainya dengan suara syahdu Shakila dalam lagu Lukisan Pagi (1998). Saya tidak mendengarnya tahun itu tapi kira-kira tahun 2007, cukup telat. Album berikutnya yang saya simak adalah Serampang Samba (2002), sekali lagi saya cukup terbuai dengan kelihaiannya memainkan gitar yang dipadu dengan beberapa instrumen khas bali dan musik khas Indonesia lainnya.  Selanjutnya Tohpati bergabung dalam trio band Trisum, sebuah band Dewa Gitar Indonesia yang rasa-rasanya dapat menyaingi Trio G3 Amerika.   Album bagus berikutnya yang dikeluarkan Tohpati adalah Tohpati Ethnomission yang sepertinya agak lebih ramai dibandingkan Serampang Samba. Tidak banyak andalan lagu saya dalam album ini. Kesan Etnik jelas sekali terdengar melalui album ini. Rasanya seperti memakan semua makanan khas Indonesia dalam satu meja. Sayang sekali album berikutnya, Tohpati Bertiga, dan album trisumnya belum tergapai telinga saya.

3. Balawan :

4. Indra Lesmana :

5. Benyamin. S :

6. Agnes Monica :

7. Andien :

8. Gugun And The Blues Shelter

9. The S.I.G.I.T :

10. Iwan Fals :

11. Katon Bagaskara and its Kla’s :

12. Nugie :

13.  Padi :

14. Candil :

Fourteen of Indonesian singers, whom I remembered, whom I considered with excellent character in their voices.Not in ordinal of course. Probably there are more, most likely are a lot more. But, for now those fourteen is all I had in mind now. Not all of them is a single vocalist, some of them are joined in their bands. My chosen vocalist are mostly renowned not only because of their voices but also for their skill and even their chosen lyrics, such as Balawan, Indra Lesmana and Katon Bagaskara. Later, soon, hopefully… I will try to give a short profile preview about their campaign in the music world.

But for now, this draft writing would have to suffice. he he 🙂