Wallace di Singapura

Saya pernah menulis tentang A.R Wallace sebelumnya disini. Sebuah tulisan introduksi mengenai A.R Wallace disela membaca kisah perjalanannya saat menjelajah nusantara sekitar 163 tahun lalu. Buku Kepulauan Nusantara (aslinya The Malay Archipelago) ini dicetak ulang untuk kesekian kalinya (entah sudah berapa ribu kali cetak ulang) dan untungnya sudah diterjemahkan juga dalam Bahasa Indonesia yang baik dan mudah dimengerti oleh awam seperti saya.

Kali ini, buku ini telah saya baca kembali secara lengkap, setelah beberapa kali mencoba membaca dan tertidur pulas.  Buku setebal 486 halaman yang dicetak ulang oleh Komunitas Bambu ini sangat mengesankan. Yup. Mengesankan, benar mengesankan. Saya sendiri heran, mengapa buku semacam ini tidak dijadikan bacaan wajib bagi orang-orang muda Indonesia. Saya lebih heran lagi, mengapa buku ini baru saya peroleh sekarang-sekarang ini dan tidak sebelum saya mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sehingga saya tidak terkecoh masuk jurusan yang menyesatkan.

Sebagai orang Indonesia, tidak rugi sama sekali untuk memiliki buku ini. Khususnya bagi anda yang masih muda atau berjiwa muda. Wallace kala itu masih berumur 31 tahun ketika memulai perjalanannya melintasi nusantara yang dimulai dari Singapura. Usia yang masih penuh semangat untuk menjelajah, terlebih lagi pada wilayah baru yang belum pernah dijajaki oleh banyak orang Eropa kala itu.

Penulisan catatan perjalanannya mencakup pengamatannya mengenai kondisi sosial, geografis dan terutama sekali deskripsi flora dan faunanya yang masih relevan hingga sekarang. Jika dikonversi ke awal abad 21 ini, maka membaca kisah perjalanannya yang cukup detil di buku ini ibarat membaca postingan-postingan blognya atau bahkan ibarat men-subscribe channel youtubenya dan menonton semua video perjalanannya.

Tergugah oleh perjalanannya sekian ratus tahun yang lalu, saya akan mencoba membahas sesanggup saya dan bahkan sedikit membandingkan (mengomentari lebih tepatnya) bagian-bagian menarik dari perjalanannya yang ada di buku ini dalam beberapa tulisan.

Ekspedisi ambisiusnya melintasi nusantara di awali di Singapura di tahun 1854. Wallace singgah di Singapura beberapa kali pada waktu 1854 – 1862. Sebagai koloni Inggris, Singapura menjadi titik awal dan titik akhir dari ekspedisinya di nusantara. Singapura kala itu jelas bukan Singapura yang sekarang. Singapura kala itu berada di bawah kendali East India Company, sebagai pesaing V.O.C di Batavia. Dalam waktu singkat penguasaan Inggris atas Singapura berhasil meningkatkan laju perdagangan di area sekitar Malaysia, sedangkan Belanda dibiarkan mendominasi nusantara. Laju perdagangan tersebut jelas membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dan mempunyai beragam spesialisasi.

Wallace mengamati keadaan sosial di Singapura ini dengan baik pada beberapa kali kunjungannya. Beberapa hal menarik yang ditulis Wallace adalah :

Selain itu, terdapat pelaut dan pembantu rumah tangga di Singapura berasal dari Jawa. Selain dari Jawa, pedagang juga ada yang berasal dari Celebes (Sulawesi), Bali dan pulau-pulau lain di nusantara.

Ini jelas menarik. Pertumbuhan kota yang diiringi pertumbuhan populasi pasti akan menarik berbagai macam orang untuk datang dan mengadu nasib. Jadi masuk akal juga kalau beberapa penduduk nusantara, termasuk dari Jawa dan jadi asisten rumah tangga, ada yang turut mengadu nasib di Singapura 1850an.

Jadi sejak dulu kita memang sudah mengekspor pembantu ke negeri seberang ?

Tidak banyak ditemukan referensi mengenai ini (atau saya yang memang kurang baca), grup etnis yang tinggal di negeri seberang kala itu bermacam-macam, termasuk juga orang Bugis, Bali, Minang, Palembang, Melayu dan Jawa (Lihat tabel di bawah).

Mengenai etnis Jawa, mereka termasuk ke dalam tenaga kerja kontrak bersama dengan tenaga dari Canton dan Tamil, sebagian dari sejumlah tenaga itu pulang kembali setelah masa kerjanya berakhir, namun ada juga yang menetap. Agak jauh di depan, sensus tahun 1920 terhadap penduduk yang tinggal di area Singapura-Malaysia memberikan gambaran jumlah 180.000 orang-orang nusantara  (Reid, 2010).

EthnicSNGP
Pertumbuhan populasi di Singapura pada era kolonial Inggris. (https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore)

Di Singapura terdapat gedung-gedung pemerintah yang indah, gereja, masjid, pura, kelenteng Cina, rumah-rumah orang eropa yang indah, gudang-gudang besar, serta pasar Cina dan pasar kling (orang India barat) yang unik. Daerah pinggiran kota dipenuhi oleh rumah-rumah orang cina dan melayu.

Yang paling menonjol dan menarik perhatian orang asing dari keanekaragaman penduduk singapura adalah orang Cina. Jumlah dan aktivitas orang Cina membuat singapura menyerupai sebuah kota di Cina. Pada umumnya, saudagar Cina berbadan gemuk dan bermuka bulat dengan penampilan seperti orang penting dan banyak urusan. Pakaian para saudagar tersebut berupa baju putih longgar dan celana biru atau putih. Gaya pakaian itu serupa dengan pakaian kuli, tetapi bahannya lebih halus. Pakaian mereka selalu bersih dan rapi. Rambut saudagar Cina diikat dengan pita sutra merah yang menggantung sampai tumit.

Menurut Wikipedia, 74.2 % etnisitas di Singapura pada tahun 2013 adalah orang Cina atau keturunannya. Tidak mengherankan di masa sekarang sebenarnya, tapi dengan melihat fakta bahwa selama 163 tahun persentase etnis Cina merupakan etnis mayoritas dan setelah tahun 1901 populasinya selalu berada di sekitar 70% dari total jumlah penduduk adalah fakta yang cukup menarik.

EthnicSNGP2
Grup Etnis di Singapura Tahun 2013. (https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore)

Di pasar Cina terdapat ratusan toko-toko kecil yang menjual berbagai jenis peralatan dan bahan tekstil dengan harga murah. Alat bor dijual dengan harga satu penny, empat gulung benang katun putih seharga setengah penny. Pisau lipat, pembuka botol, bubuk mesiu, kertas dan banyak barang lain yang dijual jauh lebih murah daripada harga di Inggris.

Pemilik toko sangat ramah. Ia akan menunjukkan apa saja yang dimilikinya dan tidak keberatan jika kita tidak membeli sesuatu. Harga barang hanya dinaikkan sedikit. Berbeda dengan orang Kling yang hampir selalu menawarkan barang dua kali lipat dari harga sebenarnya. Jika kita pernah membeli barang dari toko orang cina, ia akan selalu menegur setiap kali kita melewati tokonya. Ia akan mengajak kita masuk dan berbincang-bincang sambil minum teh. Kita akan menduga-duga, bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dengan menjual barang remeh-temeh.  

Paragraf ini mengingatkan saya akan adegan-adegan perdagangan di pasar yang ada di film-film silat hongkong seperti yang sering ditampilkan di Tv lewat tokoh Jackie Chan mau pun Bruce Lee.

V0037508 Malaysia: a Chinese soup seller trading in Singapore. Photog
Baju putih, celana putih atau hitam, rambut dikuncir. Ciri-ciri yang terlalu jelas. (John Edmund Taylor, A Chinese Soup Seller Trading in Singapore (c_1880))

Pada kehidupan saat ini, sebenarnya suasana pasar seperti ini masih bisa ditemui di tempat-tempat seperti Glodok, Mangga Dua hingga area Pasar Baru di Bandung. Perbedaannya tentu terletak pada suasana dan barang yang ditawarkan mengikuti kemajuan jaman. Alih-alih menawarkan bubuk mesiu, sebuah kamera DSLR canggih atau kalung dan cincin emas menjadi salah satu contoh dagangannya. Tentu saja juga, para saudagar masa kini tidak semua berwajah bulat dan gemuk dan memakai pakaian yang cenderung modis dibandingkan hanya baju putih longgar dan celana biru atau putih dengan rambut yang terkuncir hingga tumit.

 

 

Pustaka :

Reid, A. 2010. Malaysia/Singapore as Immigrant Societies. ARI Working Paper, No 141.

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/Singapore_in_the_Straits_Settlements

https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Singapore

 

Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.

Selamat Bagi Semua !

Saya selalu tergelitik dan merasa aneh kalau ada orang yang mengucapkan kalimat SELAMAT yang disertai … BAGI YANG MERAYAKAN. Bagi saya, penyertaan kalimat “bagi yang merayakan” itu sebenarnya cenderung egois dan individualis (kalau tidak mau disebut sebagai golongan).  Bagaimana tidak, kalimat itu seakan memberi sekat/batasan bahwa hanya mereka lah yang patut diberikan selamat berhari raya. Padahal mereka sekaligus saya juga mendapat berkah dari perayaan itu.

Berkah yang berupa hari libur, hari untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman.

Berkah terusan didapatkan ketika orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang merayakannya. Makanan, hidangan enak hingga bonus gaji juga kita dapatkan ketika hari raya itu.

Seminimalnya, mereka yang merayakan akan lebih bahagia ketika tiba hari raya itu. Teman atau orang yang bahagia jelas akan membuat saya bahagia juga. Jadi, ketika ada satu hari raya tiba, sudah jelas saya akan bahagia dan merayakannya juga.

Lagipula, kalau mau adil, kenapa hanya sewaktu hari raya ibadah saja yang disertai “bagi yang merayakan”, harusnya semua ucapan selamat disertai begitu juga dong…

selamat ulang tahun,… bagi yang merayakan.

selamat ujian,… bagi yang merayakan.

selamat atas kelulusannya,…bagi yang merayakan.

selamat atas pernikahannya,… bagi yang merayakan.

selamat atas perceraiannya,… bagi yang merayakan.

Perantara Laut

Pada satu waktu, ada saja kesempatan yang didapatkan untuk pergi ke ujung daratan, untuk bertemu dengan sang laut. Sebuah kesempatan yang selalu dinikmati setiap momennya dan dinantikan setiap kali kembali bermukim di tengah Pulau Jawa. Tidak sering memang kesempatan itu datang, namun saban kali bertemu kembali dengan laut rasanya seperti bertemu kembali dengan kekasih yang lama terpisah. Tiupan angin, bunyi hempasan ombak, bau garam dan bahkan bau ikan yang menusuk hidung memberi rasa eufemistis pada jiwa yang sering resah.

Selalu ada hal yang menarik acap kali berada dilaut atau di tepiannya, suguhan pemandangan akan yang kolam air yang sangat luas merupakan peralihan yang luar biasa dari pemandangan jendela kantor yang begitu-begitu saja. Waktu petang jelas merupakan waktu favorit banyak orang untuk menikmati keindahan laut tapi selain daripada itu, laut dan tepiannya sesungguhnya merupakan tempat yang sangat dinamis di setiap waktunya.

Salah satu dinamika ini tampil dalam bentuk perahu-perahunya. Perahu merupakan perantara pertama antara manusia dengan laut. Perahu juga merupakan pengejawantahan dari jiwa manusia itu sendiri yang selalu dinamis, selalu bergerak, selalu menjelajah. Sebab itu, perahu yang merupakan terjemahan dari jiwa manusia, seringkali atau bahkan selalu berbeda-beda bentuknya di setiap tempat.

Melihat perbedaan bentuk perahu yang bermacam-macam di banyak tempat di Indonesia ini maupun di luar negeri jadi kenikmatan tersendiri. Foto hingga video selalu saya ambil untuk dilihat kemudian waktu sembari membayangkan mengapa di satu daerah ada layaran sedang di lain pantai tidak berlayar, cadik atau tanpa cadik, macam bentuk haluan maupun lambungnya hingga perjalanan yang ditempuh sang nahkoda menggunakan perahu itu.

Perahu Nagari

Seperti tertuang di gambar ini, sebuah perahu kecil yang berada di bagian selatan Sumatera Barat, yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan dengan badannya yang pendek dan bercadik secukupnya. Haluannya melengkung tajam mirip atap rumah khas Sumatera Barat itu sendiri. Sisi lambung kirinya tertempel mesin untuk mendorong laju kapal ini.

Keseluruhan perahu ini sejatinya dibuat untuk efektivitas gerak laut, menyisakan bentuk lengkungnya sebagai identitas laut Minang.

Teuna Senggelisa

2015-08-08-19-13-49Peradaban manusia selalu bermulai dari air. Air adalah sumber kehidupan. Kota-kota besar di dunia didominasi oleh kota-kota yang berbatasan dengan air, apakah itu air laut, danau maupun sungai. Serupa juga di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Pontianak hingga Jayapura berada di dekat air.

Kota-kota besar sejatinya adalah sebuah desa/kampung yang besar yang dahulunya adalah hanya sebuah kampung kecil yang biasa-biasa saja. Di Indonesia, serupa juga dengan banyak tempat lain di dunia, kampung-kampung kecilnya masih banyak yang merupakan kampung pesisir laut atau kampung sungai. Khusus di bagian Indonesia sebelah timur sana, rasanya kampung pesisir laut lebih mendominasi dibandingkan kampung sungai.

Di kampung pesisir tersebut, hidup serasa berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar. Pagi dimulai bukan dengan bunyi gerung mesin atau klakson tapi cuitan nyaring burung atau unggas yang kelaparan. Matahari yang mendoyong, menegak dan mendoyong lagi di sore harinya selalu dirasakan setiap penghuni kampung yang mengisi hari-harinya dengan mengerjai tanah dan airnya.

2015-08-08-19-15-31

Benda-benda angkasa bagi masyarakat kampung pesisir merupakan sebuah “bel sekolah” yang menjadi acuan aktivitas hariannya. Matahari pagi dan sore sudah jadi absensi sidik jari bagi masyarakat kampung pesisir. Pada jam-jam tersebut tertuang waktu-waktu untuk sedikit merenung dan menikmati, waktu-waktu yang sering dilupakan masyarakat di kampung-kampung mahabesar.

Senja di pesisir menjadi waktu kesukaan banyak orang, matahari yang merebah memberikan permainan warna yang indah. Warna suasana yang membolehkan masyarakat untuk berkumpul sejenak. Beristirahat dari aktivitas yang melelahkan seharian tadi.

Untuk bermain, untuk duduk mengobrol bersama, untuk menikmati sore ditemani minuman hangat, bersama-sama di Teuna Senggelisa.