Matur Suksma Tuan Alfred Russel Wallace

Pertengahan tahun 1856, sebelum menuju Makassar, Wallace memutuskan untuk singgah ke Bali dan mencoba melihat-lihat pulau yang terpisah tidak terlalu jauh dari Jawa itu. Apa alasan sebenarnya bagi Wallace untuk mengunjungi Bali tidak disebutkan dalam bukunya yang terkenal itu. Bisa jadi Wallace hanya ingin jalan-jalan, melali, menjadi salah satu turis pertama yang mengunjungi Bali.

Pada 13 Juni 1856, setelah 20 hari pelayaran dari Singapura dengan kapal Kembang Djepoon (Bunga Jepang), kami melepas jangkar di pangkalan laut Buleleng yang berbahaya di utara Pulau Bali. Kapal layar bertiang dua ini milik seorang pedagang Cina, diawaki orang Jawa dan dinahkodai seorang kapten Inggris. Saya ke darat bersama sang kapten dan wakil pemilik kapal.

It was on the 13th of June, 1856, after a twenty days' passage from Singapore in the "Kembang Djepoon" (Rose of Japan), a schooner belonging to a Chinese merchant, manned by a Javanese crew, and commanded by an English captain, that we cast anchor in the dangerous roadstead of Bileling on the north side of the island of Bali. Going on shore with the captain and the Chinese supercargo...

Buleleng masa itu merupakan Buleleng yang telah dikuasai Belanda sejak 1849 dengan Gusti Ketut Jelantik sebagai rajanya. Bisa saja mereka mendarat di Buleleng untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina, tapi karena saat itu rasanya wisata lumba-lumba belum ada, pendaratan di Buleleng besar diduga karena wilayah itu sudah menjadi milik Belanda dan aman untuk mendarat bagi sesama pelancong seperti Tuan Wallace. Pos pemeriksaan KTP waktu itu diadakan di Buleleng, alih-alih di Gilimanuk seperti sekarang ini. Buleleng kala itu adalah sebuah pelabuhan ternama di utara Pulau Bali. Pemeriksaan/pelaporan jelas perlu, apalagi melihat kapal yang isinya gado-gado begitu, nama kapalnya bernama Jepang, dimiliki orang Cina, berawak Jawa, berkapten dan berpenumpang Inggris.

ships-harbour-Singaraja-1927
Perairan pelabuhan Buleleng tahun 1927. Kapal uap bersandar ditengah, untuk mendarat ke pantai diperlukan bantuan kapal kecil nelayan. (http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html)
Kami disambut dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Bandar Cina, atau kepala saudagar, dimana kami melihat penduduk setempat berpakaian menawan. Mereka menyandang keris yang nampak mencolok dengan gagang besar terbuat dari gading, emas atau kayu yang dipelitur dan diasah halus. Orang-orang Cina tidak lagi mengenakan pakaian tradisional, melainkan pakaian Melayu, sehingga sulit dibedakan dengan penduduk asli. Hal ini merupakan suatu inidikasi hubungan erat antara ras melayu dan ras mongol.

..., I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood, I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood. The Chinamen had given up their national costume and adopted the Malay dress, and could then hardly be distinguished from the natives of the island--an indication of the close affinity of the Malayan and Mongolian races.

Harus diakui, di banyak area pelabuhan di Indonesia, terutama pelabuhan-pelabuhan penting, selalu saja akan ada orang cina yang menetap disana. Tidak perlu heran, karena ini konon adalah bakat lahiriah mereka. Pelabuhan banyak barang dan banyak barang pasti ada perdagangan. Hal yang sama juga berlaku di Buleleng, saat dikunjungi oleh Wallace mereka telah menjadi seorang bandar atau saudagar besar dan telah menyatu dengan masyarakat sekitar. Menjadi seorang bandar tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Proses yang jelas memerlukan hubungan yang erat seperti yang telah disaksikan dan diakui oleh Wallace. Hingga kini, bukti eratnya hubungan itu masih bisa disaksikan di Buleleng melalui perwakilan Klenteng Ling Gwan Kiong yang dibangun pada tahun 1873.

DSC_0129
Klenteng Ling Gwan Kiong di daerah Buleleng, lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Buleleng lama. (http://tradisitridharma.blogspot.co.id/2015/01/titd-ling-gwan-kiong-singaraja-bali.html)
Kami kemudian kembali berjalan-jalan melihat desa. Tempat ini sangat suram dan membosankan, hanya terdiri dari kumpulan jalan sempit yang dibatasi dinding tanah lempung yang mengelilingi rumah-rumah dari bambu. Kami memasuki beberapa rumah dan disambut dengan sangat hangat oleh penghuninya.

... and we then took a walk to look at the village. It was a very dull and dreary place; a collection of narrow lanes bounded by high mud walls, enclosing bamboo houses, into some of which we entered and were very kindly received

Dibandingkan perumahan di Inggris atau bahkan di Singapura kala itu, pedalaman indonesia Hindia Belanda pastilah jauh perbandingannya. Komentar yang lebih menenangkan diutarakan Wallace ketika dia berjalan-jalan di Batavia beberapa tahun kemudian. Untung saja Tuan Wallace tidak bicara semacam itu didepan yang punya rumah, kalau tidak, sudah pasti bukan sambutan hangat yang diterimanya.

Selama dua hari saya menetap disana, saya sering berjalan-jalan di sekitar desa untuk menangkap serangga, menembak burung, serta mengamati kealamian dan kesuburan tanah disini. Saya sangat senang dan takjub, karena hingga perjalanan saya ke Jawa beberapa tahun kemudian , saya tidak pernah melihat daerah yang sangat indah dan asri di luar Eropa. Dataran yang sedikit bergelombang itu memanjang dari pantai laut sampai sekitar 10 atau 12 mil ke darat, dibatasi oleh barisan bukit yang ditumbuhi pepohonan dan dikelola dengan baik. Rumah-rumah dan perkampungan yang dikelilingi jajaran rapat pohon kelapa, asam dan pohon buah lainnya, tersebar di semua penjuru.

During the two days that we remained here, I walked out into the surrounding country to catch insects, shoot birds, and spy out the nakedness or fertility of the land. I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a wide range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of cocoa-nut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction;

Perjalanan Wallace di Bali barangkali berada di area Buleleng-Singaraja saja, mengingat waktunya yang terbatas.

Di antara rumah-rumah dan perkampungan tersebut, terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di lahan-lahan pertanian terbaik di Eropa. Seluruh permukaan wilayah tersebut dibagi menjadi petak-petak yang tidak rata dan mengikuti garis permukaan tanah sehingga sebuah petak dapat berada beberapa kaki lebih tinggi atau lebih rendah dari petak lainnya.  Lebar tiap petak kurang lebih beberapa acre dan ketinggiannya juga disesuaikan dengan sempurna. Setiap petak sawah bisa dialiri atau dikeringkan sesuai keinginan, dengan memanfaatkan selokan dan terusan kecil yang airnya bersumber dari gunung. Saat itu di setiap petak terdapat bibit panen dalam fase pertumbuhan yang berbeda-beda, beberapa diantaranya hampir siap untuk dipanen. Semuanya sedang mekar dan memberikan sensasi warna hijau yang indah.

The whole surface of the country is divided into irregular patches, following the undulations of the ground, from many acres to a few perches in extent, each of which is itself perfectly level, but stands a few inches or several feet above or below those adjacent to it. Every one of these patches can be flooded or drained at will by means of a system of ditches and small channels, into which are diverted the whole of the streams that descend from the mountains. Every patch now bore crops in various stages of growth, some almost ready for cutting, and all in the most flourishing condition and of the most exquisite green tints.

Subak. Rasanya hampir 98% lebih yakin dan sudah pasti bahwa sistem persawahan subak inilah yang dilihat oleh Wallace. Sebuah pemandangan akan sistem yang abadi, karena sampai sekarang toh itu turis-turis bikin macet jalanan Bali hanya untuk mengagumi persawahan dengan sistem yang sama di Tegalalang, Ubud. Penghormatan wajib diberikan bagi para warga Bali karena telah melestarikan adatnya dengan sukses.

Subak di Tegalalang (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html)
Tepi jalan ditumbuhi oleh kaktus berduri dan Euphorbia tak berdaun. Namun tanah di daerah ini diolah dengan sangat intensif sehingga menyebabkan sedikitnya jumlah tanaman asli, kecuali di sepanjang pantai. Kami melihat sapi-sapi dari ras lokal unggulan, yang merupakan keturunan dari banteng (Bos Sondaicus) Jawa, digiring oleh bocah-bocah setengah telanjang, atau diikat dengan tali di padang rumput. Mereka adalah hewan besar yang anggun, berwarna cokelat muda dan berkaki putih serta memiliki sebidang kulit berbentuk oval yang juga berwarna putih, nampak mencolok di bagian belakang. Sapi liar dari ras ini disebut-sebut masih bisa ditemukan di daerah pegunungan.

The sides of the lanes and bridle roads were often edged with prickly Cacti and a leafless Euphorbia, but the country being so highly cultivated there was not much room for indigenous vegetation, except upon the sea-beach. We saw plenty of the fine race of domestic cattle descended from the Bos banteng of Java, driven by half naked boys, or tethered in pasture-grounds. They are large and handsome animals, of a light brown colour, with white legs, and a conspicuous oval patch behind of the same colour. Wild cattle of the same race are said to be still found in the mountains.

Intensif dan konsisten adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengolahan tanah di Bali. Sebuah konsistensi yang telah diganjar penghargaan Unesco World Heritage Site tahun 2012 lalu. Sesuatu yang setidaknya telah berlangsung 161 tahun (1856–2017) bila dihitung dari saat Wallace mengunjunginya. Entah dimulai sejak kapan, katanya sejak abad ke 9 sih.

Didaerah yang sudah banyak diolah ini, tidak heran jika saya tidak bisa banyak meneliti flora dan faunanya. Ketidaksadaran saya mengenai pentingnya pengaruh lokasi ini terhadap teori persebaran geografis fauna membuat saya tidak mendapatkan beberapa jenis fauna yang ternyata tidak pernah saya temui lagi. Salah satunya adalah burung pemintal berkepala kuning terang, yang membangun lusinan sarang berbentuk botol di pohon-pohon dekat pantai. Burung spesies Ploceus Hypoxantus tersebut berasal dari Jawa dan disini berada di ujung paling barat Pulau Bali.

 In so well-cultivated a country it was not to be expected that I could do much in natural history, and my ignorance of how important a locality this was for the elucidation of the geographical distribution of animals, caused me to neglect obtaining some specimens which I never met with again. One of these was a weaver bird with a bright yellow head, which built its bottle-shaped nests by dozens on some trees near the beach. It was the Ploceus hypoxantha, a native of Java; and here, at the extreme limits of its range westerly,
Asian_Golden_Weaver_(Ploceus_hypoxanthus)_-_male
Pejantan manyar emas (https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver)

Burung manyar sebenarnya adalah burung yang cukup umum di Jawa maupun Bali, orangtua saya yang dulu suka main di sawah sewaktu kecil tahu dengan burung Manyar. Walau demikian, keberadaannya semakin sulit dilihat sekarang, apalagi melihat yang jenis Manyar Emas atau Ploceus hypoxanthus. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tuntutan masyarakat modern yang senangnya mewarnai anak ayam dengan cat warna-warni atau mengikat-ikat burung emprit kecil untuk dijual ke anak SD. Mungkin minder sama burungnya sendiri yang tidak warna warni.

Saya menembak dan mengawetkan spesimen-spesimen seperti burung murai berekor panjang, burung kepodang dan beberapa burung jalak. Semuanya ditemukan di Jawa dan beberapa dari mereka memang hanya bisa ditemukan disitu. Saya juga berhasil mendapatkan banyak kupu-kupu cantik, bersayap putih dengan hiasan warna hitam dan jingga tua, yang merupakan jenis serangga paling umum di jalan pedesaan. Diantara kupu-kupu tersebut terdapat spesies baru, yang telah saya namakan Pieris Tamar.

I shot and preserved specimens of a wagtail-thrush, an oriole, and some starlings, all species found in Java, and some of them peculiar to that island. I also obtained some beautiful butterflies, richly marked with black and orange on a white ground, and which were the most abundant insects in the country lanes. Among these was a new species, which I have named Pieris tamar.
Cepora temena tamar
Pieris Tamar atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar (http://lithops.com.ua/index.php?route=product/product&path=59_64_74&product_id=2126)

Sudah pasti Pieris Tamar akan selalu terlewat dari perhatian ketika mengunjungi Bali. Akan tetapi, sekarang saya sudah tahu bahwa kupu-kupu cantik ini adalah hasil penamaan dari Tuan Alfred R. Wallace yang terkenal itu dan layak untuk diperhatikan lain kali saya mengunjungi Bali. Setidaknya, jadi alasan yang bagus kalau ketahuan tertangkap memelototi bule-bule berbikini.

Cepora temena tamar-XL
Foto Pieris Tamar di alam atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar ( https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/)

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Buleleng

https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/

http://lithops.com.ua/index.phproute=product/product&path=59_64_74&product_id=2126

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/.html

 

http://tradisitridharma.blogspot.co.id/

https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html

http://zonakicaus.blogspot.co.id/2014/07/mengenal-burung-manyar-jantan-dan-betina.html

 

 

 

 

Advertisements

Banda, Desember 1857.

Kapal uap Belanda yang membawa saya dari Macassar ke Banda dan Amboyna adalah sebuah sarana pengangkut yang lapang dan nyaman, biarpun hanya bergerak dengan kecepatan enam mil per jam dalam cuaca yang paling bagus sekalipun. Karena hanya ada tiga penumpang selain saya sendiri, ada banyak ruangan yang bisa dimasuki sehingga saya lebih menikmati perjalanan ini daripada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Peraturan dalam kapal agak berbeda dibandingkan dengan kapal uap inggris atau india. Tidak ada pelayan kabin, karena setiap penumpang biasanya membawa pelayannya sendiri-sendiri, sedangkan pramugari kapal hanya bertugas di ruang makan.

Pada pukul enam pagi, secangkir teh atau kopi disajikan kepada penumpang. Antara pukul tujuh dan delapan, sarapan ringan yang terdiri dari teh, telur dan sarden disajikan. Pada pukul sepuluh, madeira, gin dan alkohol dibawa ke dek sebagai pembangkit selera untuk sarapan pukul sebelas, yang bedanya dengan makan malam hanya pada hidangan sup. Teh dan kopi disajikan lagi pada pukul tiga sore, alkohol pada pukul lima dan makan malam yang sedap lengkap dengan bir dan anggur merah pada pukul setengah tujuh, ditutup dengan teh dan kopi pada pukul delapan malam. Di selang waktu tersebut, bir dan soda segera dibawakan jika diminta. Jadi secara keseluruhan, pelayanan kuliner di kapal ini sangat memadai di tengah-tengah perjalanan laut yang membosankan.

….

Banda adalah pulau kecil yang menyenangkan, tiga pulau disekitarnya mengelilingi pelabuhan yang aman, dengan jalan masuk tak terlihat. Air di sekitar pulau itu begitu jernih, sehingga batu-batuan koral dan bahkan objek yang paling kecil sekalipun dapat terlihat jelas didalam laut vulkanis yang memiliki kedalaman 42-48 kaki. Di salah satu pulau terdapat gunung berapi yang salah satu lerengnya gundul, sementara di kedua pulau lainnya yang lebih besar, diselimuti vegetasi sampai ke puncak bukit.

Setelah mencapai daratan, saya berjalan menuju titik tertinggi Pulau Banda, yang merupakan lokasi kota. Disitu juga terdapat stasiun telegram dan pemandangan yang indah. Di bawah titik itu, terdapat kota kecil dengan deretan rumah putih beratap merah serta gubuk jerami yang dihuni penduduk lokal, dibatasi di satu sisi oleh benteng tua Portugis. Lebih jauh lagi, sekitar setengah mil dari pulau ini terdapat sebuha pulau yang lebih besar dan berbentuk ladam kuda. Pulau itu memiliki barisan bukit yang ditutupi hutan dan perkebunan pala.

Diseberang dekat kota, terdapat gunung berapi berbentuk kerucut nyaris sempurna, yang bagian kakinya terselimuti tumbuhan semak hijau muda. Pada sisi utaranya, permukaan tanah menjadi tidak rata dan terdapat lengkungan atau jurang kecil sekitar seperlima jarak dalam perjalanan ke bawah yang dari dalamnya terus mengepul asap putih. Asap juga mengepul dari permukaan berbatu-batu di sekitarnya dan dari beberapa lokasi di dekat puncak. Bubuk putih-mungkin belerang-tersebar di bagian atas gunung yang dibatasi garis vertikal hitam sempit pada sebuah jurang. Pada siang hari, asap menyatu dan membentuk awan tebal yang memayungi puncak gunung. Pada malam atau dini hari, awan akan terus naik ke atas dan bentuk gunung akan terlihat jelas.

Hanya dengan menatap langsung gunung berapi aktif, barulah seseorang bisa sepenuhnya menyadari bahaya dan kemegahannya.

A.R.W

Leg 2 : Sapi-sapi laut

Hampir tiga minggu berselang, kami akhirnya kembali ke gedung di Jalan Empat itu. Pada gedung itu, departemen kami bersatu dengan beberapa departemen lainnya. Anehnya, meskipun departemen kami setara dengan departemen lain, departemen kami hanya mendapat dua lantai dari gedung berlantai 4 dengan dua sayap ini. Departemen kami mendapat dua lantai di sayap timur, itupun harus berbagi lagi dengan departemen lain, departemen ilmu langit dan geopicik.

Dalam departemen kami terdapat ruangan laboratorium yang cukup besar yang tentu saja dibagi lagi kedalam beberapa sekat-sekat spesialisasi studi para dosen. Salah satu ruangan lab itu adalah ruangan teoritik. Seperti namanya, ruangan itu diperuntukkan untuk membahas teori-teori fluida oseanografi. Seharusnya. Kenyataannya, ruangan itu lebih banyak dipakai untuk rapat-rapat yang kebanyakan teorinya. Beberapa senior bahkan telah melahirkan hipotesa yang sulit dipertanyakan kebenarannya. Bunyinya kira-kira begini “Bahwa semakin besar persoalan (tugas) yang muncul maka akan semakin sedikit orang yang bekerja untuk menyelesaikan persoalan (tugas) itu”.

Hal ini rasanya berbanding terbalik dengan kriteria gotong royong yang umum dikenal orang. Pada kriteria gotong royong, semakin besar persoalan maka akan semakin banyak orang yang membantu turun tangan menyelesaikan persoalan. Pada hipotesa ini, hal  berlawanan yang terjadi, sebuah tugas besar yang harus diselesaikan oleh suatu kelompok hanya akan dapat diselesaikan oleh satu atau (paling banyak) dua orang dalam kelompok itu.

Ilustrasinya begini, suatu tugas mata kuliah yang mahasiswanya dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan satu atau beberapa tema, mempunyai distribusi angota kelompok yang tidak proporsional dalam hal kecerdasan (mengerjakan tugas yang dimaksud). Akibatnya, dalam satu kelompok sering sekali tertinggal seorang mahasiswa saja yang mengerjakan tugas itu. Sisanya adalah sapi-sapi pemakan rumput yang memamah biak uang harian pemberian orangtuanya. Hampir 95% tugas yang diberikan dosen dikerjakan oleh mahasiswa yang (kadang terpaksa) pintar itu. Lima persen sisanya dikerjakan para sapi untuk membuat cover sampul tugas, mencetak dan menjilid tugas, hingga menyediakan susu sapi bagi mahasiswa pintar itu sebagai asupan kecerdasan otaknya.

sapi_kambing_patungan

Apakah sapi-sapi itu tidak berusaha membantu sang mahasiswa pintar untuk menyelesaikan tugasnya ? tentu saja mencoba membantu, ya mencoba, tapi sebatas itu saja. Sebab, komunikasi antara sapi dan si mahasiswa pintar adalah komunikasi yang mustahil terjalin. Disaat sang mahasiswa pintar mengajak diskusi, sang sapi hanya bilang “Mmmooo”. Ketika sang sapi mencoba berkomunikasi dengan sang mahasiswa pintar, si mahasiswa pintar itu hanya bisa melongo dan terbengong-bengong mendengarkan lenguhan sapi. Pada akhirnya, daripada membuang waktu si mahasiswa pintar itu menyerah dan memilih mengerjakan tugas itu sendiri saja. Hal yang lebih masuk akal dikerjakan daripada menafsirkan nada lenguhan sapi-sapi yang tidak jelas juntrungannya. Begitulah kira-kira isi hipotesa para senior itu.

Lucu yah, tapi lebih lucu lagi kalau membayangkan sapi-sapi itu berdiri di depan dan diminta presentasi tugas oleh dosen.

Nah, kelompok paling apes adalah kelompok yang semua isinya adalah sapi-sapi. Kalau sudah begitu, tugas yang selesai dikerjakan dan dikumpulkan cuma berbobot seperti tumpukan jerami saja. Besar tapi enteng dan lebih mudah terbakar atau dijadikan pupuk kandang.

Akan tetapi, para sapi-sapi itu terkadang melakukan suatu hal evolutif yang cenderung cerdas untuk ukuran sapi. Kelompok (apes) yang semua berisi sapi kadang bersekongkol dengan sapi-sapi kelompok lain yang sudah kadung punya seorang mahasiswa cerdas dalam kelompoknya. Demikianlah, melalui komunikasi sederhana ala-ala sapi, dua kelompok bergabung menjadi satu kelompok sapi besar dengan sang mahasiswa cerdas sebagai penggembalanya. Sebuah simbiosis aneh yang belum bisa diklasifikasikan secara ilmiah.

Rasa-rasanya aku pernah jadi salah satu sapi itu, tapi sekarang entah mengapa aku jadi merasa tersapikan. Soalnya, pengolahan data survei oseanografi yang harusnya dikerjakan sesuai kelompok praktik kemarin malah semua pengerjaan datanya terkumpul di laptopku yah.  Bukan cuma soal pengolahan data batimetri, tapi analisa pasut dan profil perairan semua terkumpul di laptopku.

Ah sial !

Pattimura Muda, Bangkitlah !

..... 

Thomas dan kawan-kawannya disambut dengan meriah oleh rakyat. Rakyat penuh sesak berkumpul mendengarkan kesan-kesan dari mereka yang baru datang dari Ambon. Thomas yang berada diantara kawan-kawannya pelan-pelan menjauhkan diri dari kumpulan orang banyak itu. Thomas menyelinap keluar dari tengah orang banyak dan pergi menyendiri ke bawah sebatang pohon. Ia tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba ia merasa bahunya dipegang orang. Ia berpaling. Ternyata yang memegang bahunya tadi adalah Bapak Buang, orang setengah baya itu. Mereka pun berbincang-bincang. 

Thomas : “Bapak Buang. Saya sudah lama mengharapkan kedatangan Bapak. Begitu banyak pertanyaan…”

Buang : “Saya sudah bilang. Kesenangan yang kita nikmati hanya kesenangan pinjaman. Sekarang sudah diambil kembali. Pesta sudah lewat. Gantilah seragam inggris itu. Beban yang berat berada di atas pundakmu.”

Thomas : “kenapa diatas pundakku.”

Buang : “karena kau anak negeri ini. Hanya kita, Thomas yang bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat kita. Bukan Inggris, bukan Wolanda. Apakah mereka lebih dari kita, karena mereka putih kita hitam, karena mereka pakai sepatu, rakyat kita kaki telanjang? Mereka tidak peduli kepada kita, apa kita mati, apa kita menderita.”

Thomas : “Apa Bapak bisa membantu ?”

Buang : “Aku akan selalu bersama kau.”

Thomas : “Dulu Bapak juga bilang begitu. Tapi kalau saya ingin bertanya bapak tidak ada? ”

Buang : “Thomas, aku tidak lebih dari suara hatimu dan suara hati rakyat Ambon, Haruku, Saparua. Jika kau pasang telinga baik-baik, kau akan dengar. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Matahari sudah muncul di tepi langit. Hari sudah mulai pagi. Tapi Thomas masih duduk di bawah pohon itu. Dari Teluk Saparua kedengaran bunyi meriam. Thomas sadar dari renungannya tapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Meriam itu kedengaran berbalas-balasan. Pada saat itu Johannis datang berlari kesana-kemari lalu ia melihat Thomas.  

Johannis : “Thomas, aku mencari kau kemana-mana. Kau dengar bunyi meriam ?”

Thomas : “Ya”

Buang : “Residen Belanda pengganti residen Inggris sudah datang. Sekarang mau diadakan serah terima. Apa kamu tidak mau dengar apa yang akan dia lakukan?”

Thomas : “Buat apa? Aku sudah tahu apa yang akan diumumkan. Kau juga. Semua rakyat Lease sudah tahu”

Ia berdiri. Lalu ia melihat, bahwa ia masih mengenakan seragam tentara Inggris. Bajunya ia buka lalu ia berjalan bersama Buang. 

.....

Begitulah cuplikan skenario cerita yang dibuat oleh Asrul Sani dan diedit oleh Des Alwi mengenai kisah pemuda yang bernama Thomas. Skenario cerita ini berlatar belakang di tahun 1800an, di tanah Maluku, lebih tepatnya Pulau Ambon dan sekitarnya (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram).

patimura1
Lukisan Thomas Matulessi yang dilukis oleh Verhuell saat membuat berkas acara pemeriksaan Thomas Matulessi.

Pada masa-masa itu, orang Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris bergantian mencoba menguasai kepulauan-kepulauan itu. Portugis dan spanyol datang terlebih dahulu, tapi adalah seorang J.P Coen yang berdarah dingin yang berhasil memonopoli Maluku untuk kepentingan Belanda. Monopoli Belanda yang begitu rakus membuat Inggris juga berhasrat untuk menyerang Belanda dan menguasai sendiri Maluku dan perdagangan rempahnya. Pada tanggal 17 Februari 1796, setelah unjuk kekuatan yang cukup mudah Inggris menduduki Ambon dan mengibarkan benderanya di Benteng Victoria.

Bersamaan dengan berkuasanya Inggris, muncul peraturan-peraturan yang baru yang melegakan rakyat dari pekerjaan paksa (kwarto), patroli-patroli hongi laut yang menindas, rakyat bebas bepergian tanpa pas (ijin) dan terutamanya menghapuskan “Verplichte Leverantie” atau memberikan hasil cengkeh dengan cuma-cuma atau dengan harga yang sangat rendah kepada Pemerintah Belanda.  Semua rakyat Maluku bergembira.

Pada 1803, pendudukan Inggris harus berakhir karena peperangan Napoleon sehingga Inggris terpaksa mengembalikan Maluku pada Belanda sesuai dengan perjanjian yang menyusul kekalahan Napoleon itu. Penguasaan Belanda kembali di Maluku, mengakibatkan berlakunya kembalinya peraturan-peraturan yang sebelumnya telah dihapuskan Inggris itu. Dalam skenario ini, Thomas berdialog dengan suara hatinya si Bapak Buang yang telah menemaninya dari kecil. Saat-saat pergantian kekuasaan ditampilkan dengan baik dalam dialog-dialog dramatis yang dituangkan oleh Asrul Sani dan Des Alwi.

Thomas kala itu sudah berumur 20an dan sudah dilatih oleh pasukan Inggris dalam satuan militer lokal Korps 500 yang difungsikan oleh Inggris. Karena kecakapannya, Thomas menjadi kepala staf batalyon dengan pangkat sersan mayor. Akan tetapi, karena Belanda kembali berkuasa kesatuan itu dibubarkan karena dianggap terlalu mahal dan barangkali terlalu berbahaya untuk tetap difungsikan. Cuplikan skenario diatas mengenai kontemplasi Thomas setelah Korps 500 dibubarkan memberikan gambaran membulatnya tekad dan semangat Thomas untuk melakukan tindakan nyata pada kesewenangan Wolanda.

Pemberlakuan monopoli perdagangan serta perlakuan semena-mena terhadap orang-orang (terdapat pencambukan-pencambukan, kerja paksa dan pengusiran ke Banda untuk dijadikan pekerja kebun pala) di Kepulauan Haruku, Saparua dan Nusa Laut serta Ambon membuat Thomas dan kawan-kawannya dari Korps 500 serta para kapitan dan raja berkumpul dan berunding. Usir kompania Wolanda !

Sebuah musyawarah besar rakyat di Bukit Saniri mendatangkan banyak Kapitan, kepala adat, patih dan para kawan-kawan Korps 500 untuk menyatakan dukungan terhadap Thomas sebagai pemimpin guna mengusir Wolanda. Salah satu Kapitan datang terlambat, ialah Kapitan Tiahahu yang datang bersama putrinya Martha Tiahahu yang bersikeras mendampingi bapaknya berjuang untuk rakyat Maluku. Martha kala itu masih 17 tahun umurnya.

Benteng Duurstede dan Residen Van Den Berg menjadi sasaran pertama Thomas. Sebelum matahari terbit benteng bertembok tebal itu telah direbut oleh pemimpin rakyat Maluku, sang pemuda itu, si Thomas Matulessi.

pattimura2
Patung Kapitan Pattimura di Ambon

Seorang yang kini kita tahu dengan nama Kapitan Pattimura.

Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Saya hanya mengingatnya samar-samar melalui slogan terkenalnya sebelum beliau wafat di tiang gantungan…

“Akan lahir Pattimura-Pattimura lainnya setelah saya !”

Tapi, sungguh benar, bahwa sesungguhnya bukan Pattimura saja yang saya tidak saya kenal, hampir seluruh pahlawan bangsa ini tidak saya kenal jiwanya, karakternya, semangatnya, maupun inspirasi mendalam yang coba ia tularkan pada sesama rakyatnya hingga saat ini. Entah karena saya minim informasi ataukah akibat begitu membosankannya pelajaran sejarah di sekolah waktu itu. Tapi memang, saya merasa bahwa informasi inspiratif mengenai para pahlawan kita banyak yang tidak tersampaikan di sekolah-sekolah. Saya sungguh malu akan fakta ini. Fakta bahwa saya tidak mengenal para panutan-panutan saya, para pahlawan bangsa ini.

 Kita tahu, tapi apakah kita kenal ?

Kalau bukan karena Bapak Des Alwi yang menuliskan cuplikan skenario hasil penelusuran dari risetnya bersama dengan Leirissa, Kris Pattikawa, Nani de Fretes, Jos Manusama, Jen Lui dan Asrul Sani barangkali saya akan seterusnya buta dan belum memahami semangat yang beliau coba tularkan pada saya. Skenario yang dituliskan dalam buku Des Alwi ini terlalu sayang untuk tidak terbaca. Sungguh sayang juga skenario ini tidak sampai ke layar visual, padahal kadar heroismenya jelas lebih kental daripada sekedar fiksi hollywood.

 

 

Merdeka Indonesia 2017 !

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.