Matur Suksma Tuan Alfred Russel Wallace

Pertengahan tahun 1856, sebelum menuju Makassar, Wallace memutuskan untuk singgah ke Bali dan mencoba melihat-lihat pulau yang terpisah tidak terlalu jauh dari Jawa itu. Apa alasan sebenarnya bagi Wallace untuk mengunjungi Bali tidak disebutkan dalam bukunya yang terkenal itu. Bisa jadi Wallace hanya ingin jalan-jalan, melali, menjadi salah satu turis pertama yang mengunjungi Bali.

Pada 13 Juni 1856, setelah 20 hari pelayaran dari Singapura dengan kapal Kembang Djepoon (Bunga Jepang), kami melepas jangkar di pangkalan laut Buleleng yang berbahaya di utara Pulau Bali. Kapal layar bertiang dua ini milik seorang pedagang Cina, diawaki orang Jawa dan dinahkodai seorang kapten Inggris. Saya ke darat bersama sang kapten dan wakil pemilik kapal.

It was on the 13th of June, 1856, after a twenty days' passage from Singapore in the "Kembang Djepoon" (Rose of Japan), a schooner belonging to a Chinese merchant, manned by a Javanese crew, and commanded by an English captain, that we cast anchor in the dangerous roadstead of Bileling on the north side of the island of Bali. Going on shore with the captain and the Chinese supercargo...

Buleleng masa itu merupakan Buleleng yang telah dikuasai Belanda sejak 1849 dengan Gusti Ketut Jelantik sebagai rajanya. Bisa saja mereka mendarat di Buleleng untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina, tapi karena saat itu rasanya wisata lumba-lumba belum ada, pendaratan di Buleleng besar diduga karena wilayah itu sudah menjadi milik Belanda dan aman untuk mendarat bagi sesama pelancong seperti Tuan Wallace. Pos pemeriksaan KTP waktu itu diadakan di Buleleng, alih-alih di Gilimanuk seperti sekarang ini. Buleleng kala itu adalah sebuah pelabuhan ternama di utara Pulau Bali. Pemeriksaan/pelaporan jelas perlu, apalagi melihat kapal yang isinya gado-gado begitu, nama kapalnya bernama Jepang, dimiliki orang Cina, berawak Jawa, berkapten dan berpenumpang Inggris.

ships-harbour-Singaraja-1927
Perairan pelabuhan Buleleng tahun 1927. Kapal uap bersandar ditengah, untuk mendarat ke pantai diperlukan bantuan kapal kecil nelayan. (http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html)
Kami disambut dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Bandar Cina, atau kepala saudagar, dimana kami melihat penduduk setempat berpakaian menawan. Mereka menyandang keris yang nampak mencolok dengan gagang besar terbuat dari gading, emas atau kayu yang dipelitur dan diasah halus. Orang-orang Cina tidak lagi mengenakan pakaian tradisional, melainkan pakaian Melayu, sehingga sulit dibedakan dengan penduduk asli. Hal ini merupakan suatu inidikasi hubungan erat antara ras melayu dan ras mongol.

..., I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood, I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood. The Chinamen had given up their national costume and adopted the Malay dress, and could then hardly be distinguished from the natives of the island--an indication of the close affinity of the Malayan and Mongolian races.

Harus diakui, di banyak area pelabuhan di Indonesia, terutama pelabuhan-pelabuhan penting, selalu saja akan ada orang cina yang menetap disana. Tidak perlu heran, karena ini konon adalah bakat lahiriah mereka. Pelabuhan banyak barang dan banyak barang pasti ada perdagangan. Hal yang sama juga berlaku di Buleleng, saat dikunjungi oleh Wallace mereka telah menjadi seorang bandar atau saudagar besar dan telah menyatu dengan masyarakat sekitar. Menjadi seorang bandar tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Proses yang jelas memerlukan hubungan yang erat seperti yang telah disaksikan dan diakui oleh Wallace. Hingga kini, bukti eratnya hubungan itu masih bisa disaksikan di Buleleng melalui perwakilan Klenteng Ling Gwan Kiong yang dibangun pada tahun 1873.

DSC_0129
Klenteng Ling Gwan Kiong di daerah Buleleng, lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Buleleng lama. (http://tradisitridharma.blogspot.co.id/2015/01/titd-ling-gwan-kiong-singaraja-bali.html)
Kami kemudian kembali berjalan-jalan melihat desa. Tempat ini sangat suram dan membosankan, hanya terdiri dari kumpulan jalan sempit yang dibatasi dinding tanah lempung yang mengelilingi rumah-rumah dari bambu. Kami memasuki beberapa rumah dan disambut dengan sangat hangat oleh penghuninya.

... and we then took a walk to look at the village. It was a very dull and dreary place; a collection of narrow lanes bounded by high mud walls, enclosing bamboo houses, into some of which we entered and were very kindly received

Dibandingkan perumahan di Inggris atau bahkan di Singapura kala itu, pedalaman indonesia Hindia Belanda pastilah jauh perbandingannya. Komentar yang lebih menenangkan diutarakan Wallace ketika dia berjalan-jalan di Batavia beberapa tahun kemudian. Untung saja Tuan Wallace tidak bicara semacam itu didepan yang punya rumah, kalau tidak, sudah pasti bukan sambutan hangat yang diterimanya.

Selama dua hari saya menetap disana, saya sering berjalan-jalan di sekitar desa untuk menangkap serangga, menembak burung, serta mengamati kealamian dan kesuburan tanah disini. Saya sangat senang dan takjub, karena hingga perjalanan saya ke Jawa beberapa tahun kemudian , saya tidak pernah melihat daerah yang sangat indah dan asri di luar Eropa. Dataran yang sedikit bergelombang itu memanjang dari pantai laut sampai sekitar 10 atau 12 mil ke darat, dibatasi oleh barisan bukit yang ditumbuhi pepohonan dan dikelola dengan baik. Rumah-rumah dan perkampungan yang dikelilingi jajaran rapat pohon kelapa, asam dan pohon buah lainnya, tersebar di semua penjuru.

During the two days that we remained here, I walked out into the surrounding country to catch insects, shoot birds, and spy out the nakedness or fertility of the land. I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a wide range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of cocoa-nut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction;

Perjalanan Wallace di Bali barangkali berada di area Buleleng-Singaraja saja, mengingat waktunya yang terbatas.

Di antara rumah-rumah dan perkampungan tersebut, terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di lahan-lahan pertanian terbaik di Eropa. Seluruh permukaan wilayah tersebut dibagi menjadi petak-petak yang tidak rata dan mengikuti garis permukaan tanah sehingga sebuah petak dapat berada beberapa kaki lebih tinggi atau lebih rendah dari petak lainnya.  Lebar tiap petak kurang lebih beberapa acre dan ketinggiannya juga disesuaikan dengan sempurna. Setiap petak sawah bisa dialiri atau dikeringkan sesuai keinginan, dengan memanfaatkan selokan dan terusan kecil yang airnya bersumber dari gunung. Saat itu di setiap petak terdapat bibit panen dalam fase pertumbuhan yang berbeda-beda, beberapa diantaranya hampir siap untuk dipanen. Semuanya sedang mekar dan memberikan sensasi warna hijau yang indah.

The whole surface of the country is divided into irregular patches, following the undulations of the ground, from many acres to a few perches in extent, each of which is itself perfectly level, but stands a few inches or several feet above or below those adjacent to it. Every one of these patches can be flooded or drained at will by means of a system of ditches and small channels, into which are diverted the whole of the streams that descend from the mountains. Every patch now bore crops in various stages of growth, some almost ready for cutting, and all in the most flourishing condition and of the most exquisite green tints.

Subak. Rasanya hampir 98% lebih yakin dan sudah pasti bahwa sistem persawahan subak inilah yang dilihat oleh Wallace. Sebuah pemandangan akan sistem yang abadi, karena sampai sekarang toh itu turis-turis bikin macet jalanan Bali hanya untuk mengagumi persawahan dengan sistem yang sama di Tegalalang, Ubud. Penghormatan wajib diberikan bagi para warga Bali karena telah melestarikan adatnya dengan sukses.

Subak di Tegalalang (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html)
Tepi jalan ditumbuhi oleh kaktus berduri dan Euphorbia tak berdaun. Namun tanah di daerah ini diolah dengan sangat intensif sehingga menyebabkan sedikitnya jumlah tanaman asli, kecuali di sepanjang pantai. Kami melihat sapi-sapi dari ras lokal unggulan, yang merupakan keturunan dari banteng (Bos Sondaicus) Jawa, digiring oleh bocah-bocah setengah telanjang, atau diikat dengan tali di padang rumput. Mereka adalah hewan besar yang anggun, berwarna cokelat muda dan berkaki putih serta memiliki sebidang kulit berbentuk oval yang juga berwarna putih, nampak mencolok di bagian belakang. Sapi liar dari ras ini disebut-sebut masih bisa ditemukan di daerah pegunungan.

The sides of the lanes and bridle roads were often edged with prickly Cacti and a leafless Euphorbia, but the country being so highly cultivated there was not much room for indigenous vegetation, except upon the sea-beach. We saw plenty of the fine race of domestic cattle descended from the Bos banteng of Java, driven by half naked boys, or tethered in pasture-grounds. They are large and handsome animals, of a light brown colour, with white legs, and a conspicuous oval patch behind of the same colour. Wild cattle of the same race are said to be still found in the mountains.

Intensif dan konsisten adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengolahan tanah di Bali. Sebuah konsistensi yang telah diganjar penghargaan Unesco World Heritage Site tahun 2012 lalu. Sesuatu yang setidaknya telah berlangsung 161 tahun (1856–2017) bila dihitung dari saat Wallace mengunjunginya. Entah dimulai sejak kapan, katanya sejak abad ke 9 sih.

Didaerah yang sudah banyak diolah ini, tidak heran jika saya tidak bisa banyak meneliti flora dan faunanya. Ketidaksadaran saya mengenai pentingnya pengaruh lokasi ini terhadap teori persebaran geografis fauna membuat saya tidak mendapatkan beberapa jenis fauna yang ternyata tidak pernah saya temui lagi. Salah satunya adalah burung pemintal berkepala kuning terang, yang membangun lusinan sarang berbentuk botol di pohon-pohon dekat pantai. Burung spesies Ploceus Hypoxantus tersebut berasal dari Jawa dan disini berada di ujung paling barat Pulau Bali.

 In so well-cultivated a country it was not to be expected that I could do much in natural history, and my ignorance of how important a locality this was for the elucidation of the geographical distribution of animals, caused me to neglect obtaining some specimens which I never met with again. One of these was a weaver bird with a bright yellow head, which built its bottle-shaped nests by dozens on some trees near the beach. It was the Ploceus hypoxantha, a native of Java; and here, at the extreme limits of its range westerly,
Asian_Golden_Weaver_(Ploceus_hypoxanthus)_-_male
Pejantan manyar emas (https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver)

Burung manyar sebenarnya adalah burung yang cukup umum di Jawa maupun Bali, orangtua saya yang dulu suka main di sawah sewaktu kecil tahu dengan burung Manyar. Walau demikian, keberadaannya semakin sulit dilihat sekarang, apalagi melihat yang jenis Manyar Emas atau Ploceus hypoxanthus. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tuntutan masyarakat modern yang senangnya mewarnai anak ayam dengan cat warna-warni atau mengikat-ikat burung emprit kecil untuk dijual ke anak SD. Mungkin minder sama burungnya sendiri yang tidak warna warni.

Saya menembak dan mengawetkan spesimen-spesimen seperti burung murai berekor panjang, burung kepodang dan beberapa burung jalak. Semuanya ditemukan di Jawa dan beberapa dari mereka memang hanya bisa ditemukan disitu. Saya juga berhasil mendapatkan banyak kupu-kupu cantik, bersayap putih dengan hiasan warna hitam dan jingga tua, yang merupakan jenis serangga paling umum di jalan pedesaan. Diantara kupu-kupu tersebut terdapat spesies baru, yang telah saya namakan Pieris Tamar.

I shot and preserved specimens of a wagtail-thrush, an oriole, and some starlings, all species found in Java, and some of them peculiar to that island. I also obtained some beautiful butterflies, richly marked with black and orange on a white ground, and which were the most abundant insects in the country lanes. Among these was a new species, which I have named Pieris tamar.
Cepora temena tamar
Pieris Tamar atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar (http://lithops.com.ua/index.php?route=product/product&path=59_64_74&product_id=2126)

Sudah pasti Pieris Tamar akan selalu terlewat dari perhatian ketika mengunjungi Bali. Akan tetapi, sekarang saya sudah tahu bahwa kupu-kupu cantik ini adalah hasil penamaan dari Tuan Alfred R. Wallace yang terkenal itu dan layak untuk diperhatikan lain kali saya mengunjungi Bali. Setidaknya, jadi alasan yang bagus kalau ketahuan tertangkap memelototi bule-bule berbikini.

Cepora temena tamar-XL
Foto Pieris Tamar di alam atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar ( https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/)

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Buleleng

https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/

http://lithops.com.ua/index.phproute=product/product&path=59_64_74&product_id=2126

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/.html

 

http://tradisitridharma.blogspot.co.id/

https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html

http://zonakicaus.blogspot.co.id/2014/07/mengenal-burung-manyar-jantan-dan-betina.html

 

 

 

 

Advertisements

Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.

Leg 1 : Terpapas dan teranggul gelombang

“Jadi yang ikut kapal siapa aja, Fad ?“ Suara Pak Ari Tayra memecahkan kesibukan di dermaga.

“Saya, Dani, Toni sama Anggi dan Ani Pak jadinya, kita sebentar saja sih, cuma meninjau cepat lokasi yang cocok untuk ADCP dan penyelaman nanti. Kalau sempat kita pasang GPS soundernya di Menjangan nanti.”

“Oh ok, jadi berlima saja yah, iya bagus itu buat Anggi sama Ani biar bisa belajar sama kamu ‘Fad”

“Iya pak, biar latihan jadi asisten tahun depan. Bapak mau ikut nih?

“Ah tidak dulu, saya mau di sini saja, melihat yang pasang pasut sama kalibrasi CTD nya.”

Apa, asisten ? asisten praktik survei oseanografi ? di tahun depan ? Apa tidak salah omongan mereka. Itupun kalau aku masih hidup dan selamat dari perjalanan sore ini. Kapal yang sudah bersandar di dermaga itu jelas tidak besar dan tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan yang mengutamakan kenyamanan. Perahu ini, Tirta Dewata 2 namanya, adalah perahu yang digunakan untuk menghubungkan dan mengangkut apapun dari/dan menuju keramba ditengah untuk keperluan budidaya mutiara. Pak Wayan, yang mencarikan kapal ini, pada akhirnya juga bercerita bahwa kapal utamanya digunakan untuk keperluan budidaya tapi sesekali ketika musim turis tiba, perahu ini dipakai juga untuk mengantar wisatawan ke Pulau Menjangan. Singkatnya, kapal ini sebenarnya adalah ojek air, bukan kapal survei. Bodi kapalnya sudah mulai melapuk dan palkanya sedikit tergenang oleh air dan oli, baunya lebih mirip kuburan ikan daripada kapal survei. Akan tetapi, sekali penglihatan, Bang Fadil sudah merasa nyaman dengan kapal ojek itu sedangkan aku masih termangu di pinggiran dermaga.

Ani langsung melompat ke dalam perahu, begitu juga Bang Fadil. Bang Dani setengah berteriak bilang kepadaku untuk mengoper pelampung dan peralatan lain ke kapal.

“Ayo, kenapa diam saja seperti habis ikut kuliah gelombang, ini sudah mau berangkat kita. Keburu sore nanti.” Seperti biasa, kerasnya suara Bang Fadil melebihi suara mesin yang mulai menderu. Mungkin itu sebabnya dia selalu seakan berteriak yah. Terlalu tuli dengan suara mesin.

Ani menggandeng tanganku seraya aku meloncat sedikit ke haluan kapal. Aku langsung memegang tiang atap perahu dan duduk bersandar di tiang haluan, di muka kemudi dekat jangkar berkarat pengundang tetanus. Pelampung telah kupakai, sebenarnya ingin aku melepasnya, karena yang lainnya tidak memakainya. Tapi aku masih takut.

“Tenang saja ‘gi, ini tidak lebih menyeramkan daripada kora-kora di dufan. Ani, jaga yah itu temen kamu !”. Ucapan Toni ini jelas bukan ucapan yang menenangkan, naik kora-kora di dufan saja aku tidak berani apalagi naik perahu sekecil ini di laut penuh gelombang begini.

Pikiranku kualihkan pada GPS Oregon yang telah kunyalakan untuk melihat posisi kita di laut nanti. Angka koordinatnya dan tampilan jarum posisinya belum berubah karena kita masih belum jauh dari dermaga. Perlahan Tirta Dewata berjalan pelan keluar dari area dermaga, mengayun perlahan sesuai alun gelombang. Cuacanya baik kata pak kapten, ombaknya masih kecil. Ya menurut dia. Menurutku, ini lebih mirip gelombang badai, angin kencang dan haluannya teranggul-anggul. Cipratan air sewaktu perahu memapas ombak sesekali mengenai kening dan membasahi geladak.

IMG_2549

Aku masih duduk bersandar pada tiang perahu, memperhatikan lebih teliti layar 4 inci GPS Oregon yang merekam pergerakan perahu daripada melihat suasana perairan sekitar. Dermaga tadi telah aku tandai dan jalannya perahu yang digambarkan melalui tanda segitiga terekam secara otomatis.

“Sip, dilihat terus yah, nanti langsung ditandai saja kalau kita menemukan titiknya. Jangan sampai hilang sinyal ! Okey.”  Bang Fadil kali ini benar-benar berteriak karena suara mesin semakin bising.

“Ok.” Cuma itu kata yang keluar dari mulutku, tangan kiriku memegang GPS, tangan kananku memegang tiang. Sesekali juga aku memandang laut serta angin yang meniup wajahku, agak jauh didepan Pulau Menjangan terlihat bagai oase. Kaki ini sudah merindukan daratan. Tapi, bau laut cukup memberikan efek penenang kalau tidak sedang mencium bau asap solar serta bisingnya mesin Yanmar kuno itu.

Setidaknya itu yang kurasa sebelum kapal berhenti dan mesinnya dimatikan. Kami sudah sampai di belakang Pulau Menjangan. Kami berhenti sekitar 200-300 meter dari sisi pantainya. Disini menurut kapten adalah tempat yang sering jadi snorkeling atau selam. Kapal mulai bergerak tidak karuan, menurut saja pada angin dan arus yang membawanya. Kepalaku mulai pusing dan rasa mual mulai timbul di perutku.

Airnya biru sebiru air yang jernih sejernihnya seperti yang sering kulihat di layar ponselku melalui instagram. Dari atas perahu kami melihat bahwa di kedalaman terdapat formasi karang yang cukup besar dan sepertinya cukup luas. Cuma warna biru itu yang bisa menghiburku di tengah-tengah keringat dingin yang mengucur di kening dan kelenjar ludah yang terasa terlalu banyak.

“Tandai ‘Gi ! ini sepertinya lokasi yang cukup bagus buat pasang ADCP nya sekaligus juga titik selam kita. Ada sebidang pasir disitu yang cocok untuk menanam alat kita. Ani, foto itu sekarang, mumpung agak tenang arusnya.”

“Foto, memangnya ini kameranya underwater bang?”

“Bukan itu, itu yang ada di kantong dry bag, ada kamera underwaternya. Coba celupkan di sisi kanan dan kiri kapal ini dan foto saja, biar bisa nanti kita tinjau di pondokan.”

Ani melakukan apa yang Bang Fadil minta dan mengambil foto beberapa kali. Sedang kepalaku semakin pusing dan pusing. Kulepas pelampungku karena rasanya terlalu menekan dadaku. Perutku juga semakin mual, kepalaku menjulur di sisi kapal siap memberi makan ikan, tapi rasanya belum begitu final untuk kutumpahkan. Aku membeku.

“Ok Mantap !, kita gerak lagi ke titik selanjutnya, masih ada beberapa titik lagi. Ayo kep, kita mulai gerak saja.”

Sejurus kemudian kapal bergerak pelan menuju titik selanjutnya, titik ini agak dekat dengan titik yang pertama tadi, titik ini juga lebih dangkal, mungkin sekitar 5–7 meter. Serupa dengan lokasi sebelumnya, air disini jernih dan menjanjikan untuk menanam alat dan penyelaman karang. Sauh diturunkan. Bang Toni serta Bang Dani bersiap turun untuk memeriksa lokasi ini. Entah apa alasannya Bang fadil memutuskan untuk buang sauh disini dan memeriksa langsung airnya, konsentrasiku buyar ditelan liur asin yang berkali-kali kubuang ke air.

“Ayo Gi, ikut turun biar segar, sekaligus mandi sore”. Ajak Dani yang rasanya lebih mengejek daripada mengajak.

“Sudah, jangan diganggu dulu, masih untung belum muntah dia sekarang.”

“Ayo Ni, cepat turun, itu jangan lupa kamera underwaternya selalu dikalungkan di lehermu biar tidak jatuh,  dan jangan jauh-jauh dari Dani ok.”

Dani, Toni dan Ani semua sudah di air, tinggal aku dan Bang Fadil di kapal. Titik ini kutandai seadanya, yang penting tersimpan di GPS. Satu-satunya hal yang belum jelas adalah giroskop kepalaku yang masih limbung. Mual di perutku juga belum reda. Keringat mengucur di keningku dan angin sakal yang bertiup membuat badanku dingin, padahal matahari masih terik walau sudah mendoyong mau tenggelam.

Beberapa menit berdiam, kapal semakin menari dengan liar mengikuti cuaca yang semakin temaram. Angin juga semakin kuat, aku kenakan kembali pelampung agar hangat.  Bang Fadil menawariku sebungkus oreo atau jeruk untuk kukunyah. Katanya biar liurku ada rasanya, daripada rasa lambung yang masam terus membuat mual, kan lebih baik rasa coklat oreo. Teori yang tidak masuk akal, tapi wangi jeruk memang lebih segar, jadi jeruk saja yang kumakan.

“Arusnya kuat bang di bawah, dan tidak ada tempat datar seperti yang pertama tadi. Dasarnya miring dan menurun. Sulit menaruh disini dan malah bisa bergeser nanti.”

“Okey. Kita evaluasi nanti, bahaya kalau alat kena arus kuat dan bergeser, bisa hilang  ADCPnya nanti. Sudah, cepat naik dan kita bergeser ke posisi berikutnya. Kata kep, ada 2 tempat lagi yang potensial.”

Tiga kali lagi kami berhenti di lokasi lain, Pulau Menjangan sudah dikelilingi, salah satu lokasi titiknya dekat dengan dermaga Pulau Menjangan, agak riskan juga katanya meletakkan alat didekat dermaga itu. Takut hilang oleh tangan jahil tepatnya. Tidak banyak yang kudengar saat itu, pergulatan dengan mual dan pusing masih berlangsung meskipun sebenarnya tidak memburuk namun juga belum membaik.

Waktu menunjukkan pukul 17.35 saat kami berlayar pulang setelah singgah di titik terakhir di dekat dermaga Menjangan itu. Aku memandang melongo melihat matahari yang berpamit selama perjalanan pulang kami. Semua memandang cantiknya matahari yang semakin tenggelam. Ani dan yang lain jelas mulai memotret dan berswafoto. Sedang aku telah kelelahan memerangi mabuk laut ini, namun memang matahari yang terbenam jadi satu-satunya penghiburku  dari trip horor kali ini.

IMG_4499

Setiba didermaga, kelompok 2 tampak berfoto-foto dengan sunset padahal matahari sudah melewati ufuk. Aku terhuyung lemas turun dari perahu. Kakiku gemetar sehingga aku memutuskan untuk menunda pulang dan berisitirahat di dermaga dengan kelompok 2 ini. Kelompok dua ini bukan tanpa alasan menongkrong manis di dermaga, tapi memang sudah jamnya mereka untuk menjaga stasiun pasang surut baik yang otomatis maupun yang dari palem. Bacaan dari palem pasut dibaca setiap setengah jam dan bacaan dari pasut otomatis dicek setiap 3 jam sekali. Penugasan ini berlangsung setiap 6 jam. Kelompokku, kelompok 1, kebagian bertugas besok jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Kepalaku masih sedikit bergoyang saat Ahmad dari kelompok dua mengantarku pulang ke pondokan. Di pondokan, suasana ramai dengan kesibukan. Kami sebagai peserta mulai sibuk untuk menyiapkan kegiatan survei besok paginya. Sebagian menyiapkan peta dan formulir-formulir survei. Sebagian berlatih mencoba total station, echosounder atau alat survei lainnya ataupun membaca manual dan prosedur pengamatan. Aku tidak peduli, aku mau mandi dan istirahat sampai esok tiba. Saat ini, laut dan oseanografi tampaknya bukan untuk diriku.

Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.