Banda, Desember 1857.

Kapal uap Belanda yang membawa saya dari Macassar ke Banda dan Amboyna adalah sebuah sarana pengangkut yang lapang dan nyaman, biarpun hanya bergerak dengan kecepatan enam mil per jam dalam cuaca yang paling bagus sekalipun. Karena hanya ada tiga penumpang selain saya sendiri, ada banyak ruangan yang bisa dimasuki sehingga saya lebih menikmati perjalanan ini daripada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Peraturan dalam kapal agak berbeda dibandingkan dengan kapal uap inggris atau india. Tidak ada pelayan kabin, karena setiap penumpang biasanya membawa pelayannya sendiri-sendiri, sedangkan pramugari kapal hanya bertugas di ruang makan.

Pada pukul enam pagi, secangkir teh atau kopi disajikan kepada penumpang. Antara pukul tujuh dan delapan, sarapan ringan yang terdiri dari teh, telur dan sarden disajikan. Pada pukul sepuluh, madeira, gin dan alkohol dibawa ke dek sebagai pembangkit selera untuk sarapan pukul sebelas, yang bedanya dengan makan malam hanya pada hidangan sup. Teh dan kopi disajikan lagi pada pukul tiga sore, alkohol pada pukul lima dan makan malam yang sedap lengkap dengan bir dan anggur merah pada pukul setengah tujuh, ditutup dengan teh dan kopi pada pukul delapan malam. Di selang waktu tersebut, bir dan soda segera dibawakan jika diminta. Jadi secara keseluruhan, pelayanan kuliner di kapal ini sangat memadai di tengah-tengah perjalanan laut yang membosankan.

….

Banda adalah pulau kecil yang menyenangkan, tiga pulau disekitarnya mengelilingi pelabuhan yang aman, dengan jalan masuk tak terlihat. Air di sekitar pulau itu begitu jernih, sehingga batu-batuan koral dan bahkan objek yang paling kecil sekalipun dapat terlihat jelas didalam laut vulkanis yang memiliki kedalaman 42-48 kaki. Di salah satu pulau terdapat gunung berapi yang salah satu lerengnya gundul, sementara di kedua pulau lainnya yang lebih besar, diselimuti vegetasi sampai ke puncak bukit.

Setelah mencapai daratan, saya berjalan menuju titik tertinggi Pulau Banda, yang merupakan lokasi kota. Disitu juga terdapat stasiun telegram dan pemandangan yang indah. Di bawah titik itu, terdapat kota kecil dengan deretan rumah putih beratap merah serta gubuk jerami yang dihuni penduduk lokal, dibatasi di satu sisi oleh benteng tua Portugis. Lebih jauh lagi, sekitar setengah mil dari pulau ini terdapat sebuha pulau yang lebih besar dan berbentuk ladam kuda. Pulau itu memiliki barisan bukit yang ditutupi hutan dan perkebunan pala.

Diseberang dekat kota, terdapat gunung berapi berbentuk kerucut nyaris sempurna, yang bagian kakinya terselimuti tumbuhan semak hijau muda. Pada sisi utaranya, permukaan tanah menjadi tidak rata dan terdapat lengkungan atau jurang kecil sekitar seperlima jarak dalam perjalanan ke bawah yang dari dalamnya terus mengepul asap putih. Asap juga mengepul dari permukaan berbatu-batu di sekitarnya dan dari beberapa lokasi di dekat puncak. Bubuk putih-mungkin belerang-tersebar di bagian atas gunung yang dibatasi garis vertikal hitam sempit pada sebuah jurang. Pada siang hari, asap menyatu dan membentuk awan tebal yang memayungi puncak gunung. Pada malam atau dini hari, awan akan terus naik ke atas dan bentuk gunung akan terlihat jelas.

Hanya dengan menatap langsung gunung berapi aktif, barulah seseorang bisa sepenuhnya menyadari bahaya dan kemegahannya.

A.R.W