Warisan Abadi Klaus Wyrtki

Wyrtki3
Prof. Klaus Wyrtki (Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.)

Bagi orang-orang yang berkenalan dengan ilmu kelautan, khususnya di bidang oseanografi fisis, nama Klaus Wyrtki tentulah tidak asing. Ketenarannya di Indonesia lebih dikenal melalui karyanya yang berjudul Naga Report. Sebuah buku laporan komprehensif, yang terbit (tahun 1961) lebih dari 50 tahun lalu, mengenai kondisi fisis perairan Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Buku ini konon katanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan masih digunakan sebagai salah satu referensi oleh kalangan pelajar/peneliti hingga saat ini. Kalau anda pernah membaca buku ini, maka buku ini rasanya layak dikatakan sebagai kitab oseanografi perairan Asia Tenggara.

Karir Wyrtki sebagai seorang oseanografer dunia bermula di Indonesia. Selepas menuntaskan pendidikan pasca doktoralnya, Wyrtki sedang mencari pekerjaan dan memutuskan untuk menerima lowongan peneliti di Indonesia. Wyrtki bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Laut, Jakarta, sekarang P2O LIPI.

Di LPL Jakarta, Wyrtki mendapatkan dirinya sebagai satu-satunya peneliti oseanografi. Kekurangan peneliti barangkali disebabkan oleh eksodusnya banyak penduduk Belanda akibat masa perang kemerdekaan, warga Indonesia pun sepertinya sudah tidak ingin melihat orang Belanda di tanah Indonesia. Akibatnya instansi-instansi yang dulu banyak diisi oleh orang Belanda banyak menjadi kosong, seperti di Lembaga Penyelidikan Laut. Sebelumnya, lembaga ini dipimpin oleh Dr. J.D.F. Hardenberg, Prof. Dr. H.C. Delsman dan Dr. Armand L.J. Sunier, ketiganya orang Belanda tulen dan lembaga itu sebelumnya  juga bernama Belanda tulen, Laboratorium Voor Het Onderzoek der Zee (LOZ).

Singkat cerita, Wyrtki, seorang Jerman dan oseanografer handal satu-satunya di lembaga itu malah bertugas menjadi kepala institusi LPL. Wyrtki kemudian menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik dan melakukan banyak pelayaran, pengamatan hingga analisa detail mengenai kondisi perairan Indonesia dan sekitarnya.

Wyrtki2
Wyrtki dan penelitiannya di Kapal Riset Samudera. (oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf)

Perairan Indonesia yang masih asing di dunia kala itu (barangkali hingga sekarang), membuat ketertarikan pada diri Wyrtki yang masih segar keluar dari kampus. Wyrkti kemudian memutuskan untuk mendevosikan waktunya di Indonesia untuk memberikan gambaran lengkap dari kondisi oseanografi di perairan Indonesia. Akan tetapi, melalui penelusuran yang telah dilakukan, Wyrtki menyadari bahwa analisa dan deskripsi demikian haruslah tidak dipandang terbatas pada perairan Indonesia saja melainkan harus mencakup pada keseluruhan perairan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, sesunggguhnya, untuk memahami secara lengkap profil perairan Asia Tenggara, tidak hanya Naga Report Volume 2 saja yang harus dibaca, tapi juga membaca Volume 3 nya yang berisi tentang karakter oseanografi perairan Teluk Thailand serta koleksi laporan oseanografi biologi dari Naga Report.

Mengenai pelayaran, dalam penugasannya di Jakarta, Wyrtki kerap berlayar untuk mengambil data dan menggunakan Kapal Riset Samudra. Sebuah kapal riset dengan bobot sekitar 200 ton yang digunakannya untuk mengambil sampel menggunakan botol Nansen di perairan Indonesia. Wyrtki sepertinya menggunakan kapal ini untuk mendapatkan data-data oseanografi dari tahun 1956-1957, sekitar 100 stasiun pengamatan, di perairan timur Indonesia, Selatan Jawa dan hingga perairan Paparan Sunda. Sayangnya, keterbatasan peralatan membuatnya hanya bisa mengambil data hingga kedalaman beberapa ratus meter saja dan melewatkan pengukuran pada interior laut yang ribuan meter.

Karirnya di Indonesia cukup singkat, dari tahun 1954-1957, dan tidak diperpanjang karena adanya bibit-bibit pemberontakan PRRI di Sumatera yang (barangkali) memberikan kondisi tidak nyaman untuk melakukan penelitian.

Lepas dari Indonesia, Wyrtki beralih ke Australia dimana dia mengambil peran di lembaga kelautan Autralia CSIRO pada Divisi Oseanografi dan Perikanan. Di Australia, beliau menghabiskan watu tiga tahun juga dan menerbitkan penelitiannya mengenai kandungan oksigen dalam relasinya pada sirkulasi laut. (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.)

Sebelum lepas dari Australia, Wyrtki sebenarnya menerima dua tawaran kerja yaitu di Scripps Institution of Oceanography di California dan Columbia University di New York. Wyrtki memilih Scripps. Alasannya sederhana, pekerjaannya di Columbia mengharuskannya untuk meneliti Samudera Antartika, termasuk berlayar kesana dengan kapal riset Eltanin. Mengetahui hal itu ia berucap :

“no, no. No Antarctic Ocean, no seasickness, no roaring forties, I stay in the tropics”.

“tidak, tidak. tidak Samudera Antartika, tidak pada mabuk laut, tidak pada angin kencang, aku tetap di daerah tropis”

Wyrtki mengungkapkan bahwa Indonesia telah membuatnya sedikit manja dan enggan untuk kembali ke iklim yang dingin, sehingga tawaran di Scripps diterimanya.

Di Scripps Institution of Oceanography, Wyrtki mengaku bahwa pekerjaannya sangat menarik dan menantang yaitu mempelajari variabilitas lapisan atas laut. Salah satu hasil pekerjaannya mengungkapkan fenomena upwelling di perairan Kosta Rika yang digunakan untuk menganalisis area pancing dan tempat berkumpulnya tuna (Wyrtki, K., 1964: Upwelling in the Costa Rica Dome. Fish. Bull., 63 (2), 355-372.). Waktunya berkarya di Scripps inilah yang melahirkan kondensasi pemikiran mengenai perairan Indonesia-Asia Tenggara dan menghasilkan buku Naga Report itu.

Seperti jadi kebiasaan, tiga tahun berselang, Wyrtki kemudian pindah lagi ke Hawaii di musim panas tahun 1964. Di Hawaii beliau masuk ke Universitas Hawaii untuk membantu mengembangkan Departemen Oseanografi yang baru berdiri kala itu. Salah satu tujuannya adalah membantu dalam penelitian oseanografi di Kepulauan Hawaii. Di kemudian hari, di tahun 1988 departemen itu menjadi sebuah sekolah/fakultas tersendiri, SOEST (School of Ocean and Earth Science and Technology). Hawaii memberikan kesempatan Wyrtki untuk meneliti dengan lebih luas, pemikiran dan penelitiannya yang terdepan saat itu masih menjadi referensi saat ini, sebuah maha karya oseanografi adalah atlas Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1971: Oceanographic Atlas of the International Indian Ocean Expedition. National Science Foundation Publication, OCE/NSF 86-00- 001Washington, DC, 531 pp.).

Dalam wawancaranya di tahun 1999, wyrtki mengungkapkan bahwa publikasi favoritnya adalah mengenai sirkulasi termohalin di tahun 1961, (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.) dan oksigen minimum di tahun 1962. (Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.) kemudian Arus Peru yang berkaitan dengan pergerakan vertical dan horizontal dalam area luas di laut (Wyrtki, K., 1963. The horizontal and vertical field of motion in the Peru Current. Bull. Scripps Inst. Oceanogr. Univ. Calif., 8 (4), 313-346.) dan kemudian tentunya ada Atlas Samudera Hindia dan analisa sirkulasinya serta aliran jet laut Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1973: An equatorial jet in the Indian Ocean. Science, 181, 262-264.)

Wyrtki memang tidak menyebutkan mengenai Naga Report sebagai publikasi favoritnya, namun masa tiga tahunnya di Indonesia membuka jalan pemikirannya akan siklus termohalin dan bahkan buku Naga Report yang disusunnya mengungkapkan pemikiran akan adanya transport massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang sekarang lebih dikenal dengan Arlindo (ITF). Penelitian mengenai Arlindo/ITF ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Arnold Gordon dikemudian hari. Arnold Gordon adalah orang yang menggantikannya bekerja di Columbia University sedangkan Wyrtki di Scripps. Arnold Gordon kemudian mengadakan beberapa kali pelayaran di Indonesia untuk meneliti ITF  di awal tahun 2000an (Ekspedisi INSTANT).

Wyrtki1
Kapal riset Klaus Wyrtki (http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

Wyrtki kemudian pensiun dan menjadi professor emeritus di tahun 1993 dan memilih untuk menetap di Hawaii sampai akhir hayatnya. Wyrtki kemudian menerima penghargaan-penghargaan yang membuatnya layak dijadikan salah satu begawan oseanografi dunia (The Grand Old Man of Physical Oceanography). Namanya telah diabadikan menjadi salah satu aliran arus (Wyrtki Jet) di ekuatorial Samudera Hindia dan pada beberapa kapal-kapal riset di Hawaii. Klaus Wyrkti yang lahir pada tanggal 7 Februari 1925 akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 87, pada tanggal 5 Februari 2013, dua hari sebelum beliau berumur 88 tahun.

 

Happy belated birthday Klaus Wyrtki !!

 

 

Pustaka :

Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.

Wyrtki, K., 1961: Physical oceanography of the southeast Asian waters. Univ. Calif., NAGA Rept., No.2, 195 pp.

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

https://scholar.google.co.id/citations?user=eWoRjvcAAAAJ&hl=id

https://en.wikipedia.org/wiki/Klaus_Wyrtki

https://tos.org/oceanography/assets/docs/3-1_lukas.pdf

oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/interview_wyrtki.html

Indonesia Bangsa Maritim ?

Sudah tentu, hampir semua dari kita mengenal lagu Nenek Moyang karya Ibu Saridjah Niung. Ibu Saridjah merupakan keturunan seorang Bugis yang bermukim di Sukabumi pada masa mudanya. Sebelum lagu “Nenek Moyang” diciptakan, orang Bugis sejak lama memang telah mempunyai reputasi sebagai pengarung lautan. Mungkin sekali, motivasi Ibu Saridjah menciptakan lagu didorong oleh kenangan pada ayahandanya beserta seluruh pendahulu sang ayah yang telah menjelajah nusantara dan mengarungi lautnya sebelum dikenal dengan nama Indonesia.

Saridjah_Niung_2000_Indonesia_stamp
Ibu Saridjah Niung alias Ibu Soed (https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung)

Sejauh apa sih kebenaran klaim nenek moyang kita adalah pelaut ?

Mengacu pada kata ‘nenek’, memang masih banyak warga Indonesia dengan umur atau kategori nenek-kakek yang masih aktif melaut maupun yang mengandalkan mata pencahariannya dari laut. Tapi, sungguh terlalu jauh kalau anda membayangkan seorang kakek/nenek mantan pengusaha yang sesekali datang ke pelabuhan dengan mobil mewah untuk mengawasi usaha pengemasan ikan laut segar yang akan diekspor ke luar negeri dan kemudian mengecek kesiapan armada kapal penangkap ikannya sambil bersiap diri untuk memancing ala ‘mancing mania’ dengan kapal yacht 2 X 250 PK nya.

Barangkali, jauh lebih dekat bila anda membayangkan seorang kakek/nenek yang dengan capai dan peluhnya mengharapkan lakunya dagangan 3 ikat ikan setengah busuk yang bobot ikannya tidak lebih dari 10 kg keseluruhannya. Berjongkok di tepi luar pasar ikan, bersenyum murah pada setiap pengunjung agar bisa membeli ikan yang dia dapatkan dengan sampan kecil yang terbuat dari kayu dan berumur lebih tua darinya, agar dia bisa melunasi biaya solar dan biaya pengobatan tubuhnya yang renta.

Sudah begitu, ditawar juga harga ikannya.

IMG_2111
Nelayan Banten, sekitar Selat Sunda.

Dari situ, ya setidaknya, klausa “nenek moyangku adalah pelaut” mempunyai sebagian kebenaran. Mayoritas kota-kota besar Indonesia terletak di pinggir pantai atau sungai dan sebagian penduduk kota itu juga berprofesi sebagai nelayan maupun profesi maritim lainnya. Profesi yang barangkali merupakan profesi warisan dan bahkan tanpa pilihan bagi warga yang sekarang sudah berumur cukup tua seumur kakek-nenek. Akan tetapi rasanya profesi agraris saat ini masih lebih dominan dibandingkan profesi maritim, sebuah klaim yang saya simpulkan dari hasil pengamatan sekilas semata. Simpulan yang lebih mendalam membutuhkan keahlian analisa khusus dari data statistik BPS yang terlampau berlimpah (baca : tidak langsung pakai).

Masa sekarang, profesi kemaritiman didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendukung masyarakatnya untuk kembali ke laut melalui gerakan maupun kebijakan seperti hari ikan nasional, tol laut, penenggelaman kapal tangkap terlarang hingga pelestarian kawasan laut. Dipikir-pikir, gerakan atau kebijakan semacam ini sebenarnya dimulai belum terlalu lama. Sebagai sebuah Negara kelautan yang ditaburi pulau, Kementerian Kelautan sebenarnya baru terbentuk tahun 2009. Sebelum tahun itu, fungsi kelautan dalam Negara dilakukan oleh Menteri Eksplorasi Laut tahun 1999 dengan badannya Departemen Eksplorasi Laut.  Badan ini kemudian berubah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan sebelum akhirnya sekarang menetap menjadi sebuah kementerian. Dari 1999-2017, baru 18 tahun umur badan kelautan yang resmi dibentuk oleh pemerintah. Umur 18 tahun memang umur yang baru melek baca.

programKKP
Program KKP. Senang melihat program yang ditulis secara tersirat untuk membalikkan mata kita menuju laut kembali. Berdaulat ! Berkelanjutan ! Sejahtera ! (http://kkp.go.id)

Sebelum tahun 1999, di Indonesia rasanya tidak ada yang disebut dengan dunia kelautan. Laman sejarah pranala Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan masa tersebut dengan kalimat “Dimasa Orde Baru, orientasi pembangunan masih terkonsentrasi pada wilayah daratan. Sektor kelautan dapat dikatakan hampir tak tersentuh, meski kenyataannya sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam, baik jenis dan potensinya.”  Tidak perlu dikomentari lebih jauhlah pencapaian maritim 32 tahun itu apa, kalau bukan hanya fasad-fasad belaka.

Padahal pada masa-masa awal kemerdekaan hingga masa orde lama meskipun kebijakan kelautan belum begitu berkembang, namun Sukarno sudah menyadari pentingnya laut dan jalur perhubungannya. Perginya Belanda dari Indonesia menyebabkan ketimpangan pada aset-aset negara termasuk diantaranya kapal-kapal. Kekurangan kapal sebagai penghubung antar pulau menyebabkan melonjaknya harga-harga bahan pokok karena pasokan barang yang terbatas. Dampak perang baik dengan Jepang maupun Belanda membuat banyak rakyat kelaparan baik secara agraris maupun maritim. Perusahaan milik Negara, PELNI, yang baru berdiri di tahun 1952, jelas masih belum memiliki armada yang memadai.

Jalan pintas ditempuh dengan mencoba mengambil alih paksa perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij  (KPM) milik Belanda beserta seluruh asetnya sebagai sarana penghubung dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada 5 Desember 1957 para buruh pekerja Indonesia berhasil menduduki kantor pusat KPM di Jakarta, tetapi tidak mampu untuk menyita kapal-kapal yang dimiliki KPM. Para pimpinan perusahaan Belanda ternyata sudah mengantisipasi langkah penyitaan ini dan telah memberikan perintah kepada kapten-kapten kapal mereka untuk segera meninggalkan Indonesia melalui kode rahasia. Sebanyak lebih dari 50 kapal KPM dapat lolos dari sergapan penyitaan paksa sedangkan sisanya diambil Indonesia. Akan tetapi, melalui campur tangan Lloyd(s) Insurance Company, penyitaan ini mengharuskan Indonesia membayar 117 juta gulden sebagai kompensasinya kepada KPM. Pemerintah Indonesia menolak dan kemudian terpaksa mengembalikan kapal-kapal itu.

Kapal SS Rumphius dengan Pulau Anak Krakatau dibelakangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk menyewa sementara dan membeli armada kapal untuk keperluan penghubung bangsa. Dana yang digunakan untuk menyewa dan akhirnya membeli (51 kapal dari Jepang) kapal tersebut berasal dari dana pampasan perang pemerintah Jepang melalui perjanjian yang disepakati Indonesia dan Jepang.

Pada periode yang sama, pemikiran mendalam mengenai posisi geografis Indonesia melahirkan Deklarasi DJuanda yang diusulkan pada tahun 1957 dan diperjuangkan dari tahun 1960 hingga tahun 1982. Perumusan ini kemudian disahkan dalam konvensi hukum laut PBB di Montego Bay, Jamaika pada 10 Desember 1982. Hasil konvensi ini kemudian berlaku pada perairan Indonesia mulai tahun 1985 dan secara internasional tahun 1994. Sayangnya hasil konvensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik bagi pemerintahan orde baru dan malah tak tersentuh.

Perangko Deklaras Djuanda. Pak Djuanda tampak kalem sementara Pak Karnonya bersemangat dan para penarinya tampak kebingungan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda)

Pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak yang dilakukan pemerintahannya untuk kepentingan maritim dalam sebuah masa peperangan selain mengganti nama-nama badan pemerintahannya menjadi bernama Jepang, pendudukan Jepang lebih fokus untuk mengambil sumber daya alam nusantara untuk keperluan perang daripada mengembangkannya.

Masa pendudukan Belanda (Periode setelah kebangkrutan VOC pada 1800) merupakan masa suram kelautan nusantara. Kekuasaan laut sepenuhnya ada pada Pemerintah Belanda. Perlakuan kontrol kuat atas pelayaran dan transportasi yang diatur oleh VOC pada kerajaan-kerajaan nusantara, diwariskan pada pemerintah Belanda dan digunakan untuk melanjutkan kepentingan Kolonial Belanda. Masyarakat pesisir atau moyang-moyang kita di pesisir banyak ditarik ke wilayah pedalaman untuk mendukung penanaman komoditas ekspor melalui sistem tanam paksa yang dimulai 1830. Moyang kita menjadi budak dan buruh ditanahnya sendiri.

Perusahaan KPM yang beroperasi mulai tahun 1888 didirikan untuk mengangkut hasil tanam paksa di seantero pulau-pulau nusantara untuk diangkut keluar negeri. Modernisasi kapal dari kapal layar menjadi kapal uap memang semakin mengukuhkan peran perusahaan KPM dan pemerintah Belanda dalam dunia kelautan nusantara. KPM mulai beroperasi pada 1 Januari 1891 dengan modal 29 kapal uap kecil – 13 baru dan 16 warisan dari pendahulunya, NISM (Nederlandsch Indische Stoomvaart Maatschappij). Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antara pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih popular dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.

Overview map of the connections to be sailed by the Royal Packet Company in the Netherlands Indies (https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Mulai dari tahun 1906 perusahaan ini mulai melakukan ekspansi usaha dengan membuka  rute-rute baru dari kepulauan HIndia Belanda ke negara-negara lain dengan berbagai anak perusahaan, antara lain pada tahun 1908 dengan nama Java-Australië Lijn (JAL) melayani lintas Jawa-Australia, disusul pada tahun 1910 dengan Java-Siam Lijn (JSL) melayani lintas Jawa-Thailand, dan terakhir pada tahun 1915 Deli-Straits-China Lijn (DSCL) melayani lintas Medan – China.

Tidak banyak pengusaha laut nusantara yang dapat diketahui (saya) menyaingi KPM. Salah satu perusahaan yang diketahui adalah perusahaan milik kakek (alm.) Des Alwi yaitu Baadila Brothers yang didirikan pada akhir abad 19 untuk mengangkut barang/kargo dari Gresik hingga Banda Naira. Perusahaan pelayarannya kemudian berkembang menjadi pengangkut penumpang juga serta dipuncak kesuksesannya menjadi pengusaha mutiara dan perkebunan pala yang luas di Banda Naira.

BukuDesAlwi
Buku Sejarah Maluku karangan Des Alwi, isinya juga mencakup sebagian sejarah keluarga Des Alwi .

Akan tetapi tidak seluruhnya kebijakan kolonial Belanda merugikan citra maritim nusantara, pendirian-pendirian kantor kelautan seperti Afdeling Visserij (tahun 1914) dan Instituut Voor de Zeevisserij (tahun 1928) memberikan fondasi bagi penelitian kelautan di nusantara. Patut dicatat juga bahwa periode kolonialisme Belanda memberikan ruang bagi ekspedisi-ekspedisi penelitian kelautan di nusantara yang berguna untuk memberikan gambaran lengkap laut nusantara dari permukaan hingga dasar lautnya. Ekspedisi tersebut antara lain adalah Ekspedisi Challenger (1872 – 1876), Ekspedisi Valdivia (1898-1899), Ekspedisi Siboga (1899-1900), Ekspedisi Snellius I (1925-1930) dan Ekspedisi Galathea (1950-1952). Gambaran laut Indonesia itu kemudian dilengkapi oleh kedatangan Klaus Wyrtki tahun 1954 yang kemudian bertugas sebagai kepala Lembaga Penyelidikan Laut Indonesia dan memberikan jalan bagi peneliti-peneliti laut Indonesia awal seperti Aprilani Soegiarto dan Syarmilah Syarif.

Peraturan pembatasan laut territorial sejauh 3 mil melalui UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie Tahun 1939) juga lahir di periode Kolonial Belanda. Sebuah peraturan kelautan kuno yang tidak didasarkan pada negeri-negeri kepulauan. Peraturan ini jelas mempertanyakan kedaulatan Negara Indonesia sebab pada jarak 3.01 mil saja, kapal asing dapat parkir dengan bebas didepan pulau-pulau Indonesia. Nenek moyang Ibu Saridjah Niung tentu tidak habis pikir kalau kebebasan laut negerinya hanya dihargai sejauh 3 mil saja. Kelak, peraturan ini membuat gatal Pak Djuanda di tahun-tahun kedepannya dan mendorongnya untuk melahirkan apa yang disebut Deklarasi Djuanda.

 

 

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

Kurosawa, A. 2015. Peristiwa 1965 : Persepsi dan Sikap Jepang. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda

https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung

https://en.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart-Maatschappij

https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://tirto.id/deklarasi-djuanda-dan-ikhtiar-menyatukan-laut-indonesia-cBuT

http://kkp.go.id/sejarah/

http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/17%20Siboga.pdf

Beberapa burung temuan Wallace di Lombok

Bagi yang pernah sedikit belajar mengenai Garis Wallace, mungkin masih sedikit hapal bentangan garisnya. Detail bentangan garis ini bisa dicari dimana saja sekarang. Salah satu posisi garisnya memisahkan Pulau Bali dengan Pulau Lombok. Dengan demikian Bali dan Lombok menjadi perbatasan dan sekaligus wilayah perantara antara flora dan fauna bagian barat dengan bagian timur Indonesia. Di Bali, Wallace tidak memiliki kesempatan banyak untuk mengeksplorasi daerahnya dengan seksama. Tapi di Lombok Wallace memiliki kesempatan lebih lama dan mendapatkan peluang untuk mendapatkan koleksi flora maupun fauna yang khas. Disini saya akan memvisualisasikan beberapa fauna Lombok temuan Wallace dari bangsa burung.

1. Oriolus Broderipii (Oriolus Chinensis)

The fine fig-trees of the avenues, where a market was held, were tenanted by superb orioles (Oriolus broderpii) of a rich orange colour, and peculiar to this island and the adjacent ones of Sumbawa and Flores.
800px-OriolusBroderipiiWolfCrop
Oriolus Broderipii seperti dilukiskan oleh Joseph Wolf. (https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole)

Burung ini banyak ditemukan di seluruh Asia, terdapat 20 subspesies yang telah diketahui dan diklasifikasikan dengan baik. Pak Wallace sendiri telah menemukan dua subspesies ini dalam perjalanannya di nusantara yaitu O. c. maculatus dan O. c. frontalis.

2. Tropidorhynchus timoriensis

All round the town were abundance of the curious Tropidorhynchus timoriensis, allied to the Friar bird of Australia. They are here called "Quaich-quaich," from their strange loud voice, which seems to repeat these words in various and not unmelodious intonations.
16296068244_49ec65fb6a_k
T. Citreogularis, subspesies dari tropidorhynchus

Burung ini merupakan sebuah burung Meliphagine dari genus Australia. Sulit menyebut namanya, apalagi menemukan foto aslinya di Lombok.

3. Megapodius Gouldii

.., and the strange moundmaker (Megapodius gouldii), are also here first met with on the traveller's journey eastward. The last mentioned bird requires a fuller notice. The Megapodidae are a small family of birds found only in Australia and the surrounding islands, but extending as far as the Philippines and Northwest Borneo. They are allied to the gallinaceous birds, but differ from these and from all others in never sitting upon their eggs, which they bury in sand, earth, or rubbish, and leave to be hatched by the heat of the sun or by fermentation. 
Megapodius
Megapodius Reinwardt, masih saudaranya gouldii dan fotonya lebih banyak daripada si Gouldii. (https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting)

4. Halcyon Fulgidus (Caridonax Fulgidus)

I obtained here eight species of Kingfishers; among which was a very beautiful new one, named by Mr. Gould, Halcyon fulgidus. It was found always in thickets, away from water, and seemed to feed on snails and insects picked up from the ground after the manner of the great Laughing Jackass of Australia.
kingsisher
Caridonax Fulgidus. (https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos)

Burung yang cantik, rasanya masih banyak ditemukan disekitar sungai di Lombok dan bahkan di kepulauan Flores.

5. Ceyx Rufidorsa

The beautiful little violet and orange species (Ceyx rufidorsa) is found in similar situations, and darts rapidly along like a flame of fire.
7616225612_7823f368be_b
Rufous-backed Kingfisher atau Ceyx rufidorsa (https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC)

Ditemukan di banyak bagian Asia Tenggara hingga Filipina.

6. Merups Ornatus

Here also I first met with the pretty Australian Bee-eater (Merops ornatus). This elegant little bird sits on twigs in open places, gazing eagerly around, and darting off at intervals to seize some insect which it sees flying near; returning afterwards to the same twig to swallow it. Its long, sharp, curved bill, the two long narrow feathers in its tail, its beautiful green plumage varied with rich brown and black and vivid blue on the throat, render it one of the most graceful and interesting objects a naturalist can see for the first time.
Merops_ornatus_-_Centenary_Lakes
Pemakan lebah yang ada di Lombok dan ada juga di Australia.(https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater)

Ornatus ini ternyata juga sudah masuk zona merah hampir punah, meskipun diberi status tidak mengkhawatirkan (Least Concern).

7. Pitta concinna 

Of all the birds of Lombock, however, I sought most after the beautiful ground thrushes (Pitta concinna), and always thought myself lucky if I obtained one. They were found only in the dry plains densely covered with thickets, and carpeted at this season with dead leaves. They were so shy that it was very difficult to get a shot at them, and it was only after a good deal of practice that I discovered low to do it. The habit of these birds is to hop about on the ground, picking up insects, and on the least alarm to run into the densest thicket or take a flight close to the ground. At intervals they utter a peculiar cry of two notes which when once heard is easily recognised, and they can also be heard hopping along among the dry leaves.

Concinna, nama yang cantik. Burung ini juga ditemukan oleh Gould tahun 1857. Penyebarannya berada di area Sunda Kecil, dimulai dari Lombok hingga pulau-pulau di timur sana seperti Pulau Alor dkk.

 

 

Pustaka :

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole

https://www.wordnik.com/words/Tropidorhynchus

http://www.finedictionary.com/Friar%20bird.html

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius_gouldii

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius

https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC

https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos

https://www.thainationalparks.com/species/rufous-backed-kingfisher

https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater

http://www.iucnredlist.org/details/22683753/0

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=B655A7C067111CBC

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Naturalis_Biodiversity_Center_-_RMNH.AVES.121556_-_Pitta_versicolor_concinna_Gould,_1857

Apa pun alasannya, ia telah memilih untuk melakukan Amok.

Amok_meriamwebster
Definisi dari kata Amuk/Amok/Amuck. Penggunaan kata pertama kali : Tahun 1665 (https://www.merriam-webster.com/dictionary/amok)

Banyak orang Indonesia rasanya yang tidak sadar kalau ada sumbangan bangsa kita bagi dunia pengetahuan sejak lama. Mmm, banyak juga hal lain yang tidak disadari oleh orang Indonesia sih. Tapi, dalam bidang linguistik atau bahkan antropologi, sebuah ciri khas bangsa yang setidaknya diketahui terbentang dari sisi barat hingga tengah nusantara tercatat sebagai sebuah kondisi perilaku yang, terus terang saja, absurd. Sebuah perilaku unik dari seorang individual yang rasanya masih dapat ditemui pada kondisi masa kini. Berikut salah satu dari sekian cerita yang melatar belakangi kata/perilaku definitif tersebut. Cerita dari Tuan Wallace yang unik :

Pada suatu pagi, ketika kami sedang duduk untuk menikmati sarapan pagi, pelayan Mr. Carter memberitahukan kami bahwa ada “amok” di desa. Dengan kata lain, ada seseorang yang sedang mengamuk. Perintah segera diberikan kepada masyarakat untuk menutup dan mengunci rapat gerbang pagar. Tetapi, setelah sekian lama tidak terdengar apa-apa, kami pun pergi keluar dan menyadari bahwa itu hanya kesalahpahaman. Orang yang tadi berteriak-teriak adalah seorang budak yang melarikan diri dan mengatakan bahwa ia akan melakukan “amok”, karena tuannya ingin menjualnya.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang laki-laki terbunuh di meja judi, karena setelah kalah dan tidak mampu membayar setengah dolar, ia mengatakan akan melakukan “amok”. Orang lain pernah melakukan “amok” dan telah membunuh atau melukai 17 orang, sebelum akhirnya dapat dihentikan. Dalam peperangan, satu pasukan kadang setuju untuk melakukan “amok” dan menyerang lawan habis-habisan. Cara seperti ini membuat mereka menjadi sangat tangguh bagi lawan yang tidak semenggebu-gebu mereka. Pada zaman dulu, orang-orang semacam ini dipandang sebagai seorang pahlawan atau setengah dewa yang mengorbankan diri untuk negerinya. Disini hal seperti itu disebut dengan sederhana-hanya “amok”.

Amok. Amok atau yang sekarang lebih dikenal sebagai amuk adalah sumbangan itu. Sebuah kata. Kata amuk yang sesuai, menurut KBBI, dengan deskripsi Wallace adalah Amukan n (serangan membabi buta). Konon, kata ini sudah digunakan di India selama masa kolonialisme Inggris, awalnya untuk menggambarkan seekor gajah gila yang terpisah dari kawanannya dan berlari liar menyebabkan kehancuran. Kata ini  juga konon katanya dipopulerkan oleh kisah-kisah dalam karya Rudyard Kipling, seorang terkenal di Inggris sana. Katanya penulis. Iya, betul, saya tidak tahu dengan Pak Kipling.

Definisi Kata Amuk. (KBBI., 2008)

Definisi menyeramkan (namun sesuai) lagi diberikan oleh kamus online Merriem Webster : “in a murderously frenzied state” atau dalam keadaan haus membunuh. Amuk juga didefinisikan sebagai perilaku di mana seseorang pergi mengamuk dan membunuh orang-orang sebanyaknya sampai ia sendiri terbunuh atau melakukan bunuh diri. W. W. Skeat menulis dalam Ensiklopedia Britannica 1911: “Seorang Melayu akan tiba-tiba dan tanpa sebarang sebab melurui ke jalan raya dengan sebilah keris atau senjata yang lain, dan menebas sesiapa yang dia dapat bertemu sehingga membunuhnya”. Bapak Skeat, juga katanya seorang terkenal, yang saya tidak tahu. Amok juga diartikan sebagai sebuah sindrom psikologikal yang terdaftar resmi dalam manual : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV TR),  sebuah buku manual mengenai ketergangguan mental.

Macassar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi amok. Diceritakan bahwa rata-rata terjadi satu atau dua kali amok dalam sebulan. Sebanyak lima, 10 atau 20 orang terbunuh atau terluka saat hal itu terjadi. Amok merupakan hal yang terjadi di seluruh negeri. Ini menjadi cara terhormat untuk bunuh diri di antara penduduk asli Celebes dan menjadi kebiasaan yang dipilih untuk lari dari kesulitan mereka. Orang Romawi bunuh diri dengan pedang, orang Jepang menusuk perutnya dan orang Ingggris menembak kepala mereka dengan pistol. Cara yang dipakai oleh orang bugis ini memiliki keuntungan tersendiri bagi seseorang yang berkeinginan untuk bunuh diri.

Tidak banyak, sulit bahkan, mencari sumber yang memberi keterangan mengenai perilaku ini di Makassar jaman dulu. Akan tetapi dari berita-berita masa kini, perilaku-perilaku demo dan tawuran mahasiswanya memberikan gambaran yang menarik.

Seseorang yang berpikir bahwa dirinya diperlakukan semena-mena oleh masyarakat – misalnya tidak mampu membayar hutang- diambil sebagai budak atau kehilangan anak dan istrinya dalam taruhan, ia tidak menemukan cara untuk mendapatkan kembali miliknya yang telah hilang dan kemudian menjadi putus asa. Karena menolak untuk menerima keadaan, ia akan mencoba membalas dendam kepada masyarakat dan mati seperti seorang pahlawan. Ia akan menggenggam gagang kerisnya kuat-kuat dan sesaaat kemudian menghunuskannya ke jantung seseorang. Ia kemudian akan berlari dengan keris yang berlumuran darah di tangannya dan menusukkan kerisnya ke setiap orang yang ditemuinya. Kemudian akan terdengar teriakan, amok! Amok” yang menggema di sepanjang jalan.

Tombak, keris, pisau dan senapan dikeluarkan untuk melawan orang yang melakukan amuk. Si pelaku amuk akan menggila, membunuh orang sebanyak mungkin dan kemudian mati setelah setelah kalah dikeroyok oleh banyak orang di tengah-tengah kericuhan sebuah pertempuran. Hanya mereka yang pernah mengalaminya akan mengetahu seperti apa rasanya gairah pertempuran tersebut. Tetapi bagi yang pernah menuruti hasrat melakukan kekerasan atau terlibat dalam praktik kekerasan yang brutal dan menegangkan, akan bisa membayangkan dengan baik. Hal tersebut bagaikan igauan dalam kemabukan, sebuah kegilaan sementara yang menyerap pikiran dan tenaga.

Terminologi amuk rasanya memang pantas dikaitkan dengan kondisi kejiwaan. Bagaimana tidak, korban dari perilaku ini bisa setiap orang. Setiap orang yang berpapasan dengan pelaku Amuk dapat menjadi korban, sehingga orang-orang menjadi takut dan cenderung menghindar dari pelaku Amuk. Mungkin wajar saja kalau penyebab dari pelaku amuk adalah sasaran orang yang melakukan amuk. Tapi tidak, pelaku amuk membabi buta menyerang semua orang.

Perilaku amok, menimbulkan kesan mendalam bagi para pendatang di bumi nusantara.  Kesan yang layak diberikan satu ruang dalam sebuah kamus perbendaharaan kata. Sebuah perilaku orang (Melayu) yang gila ! Tapi, yah setidaknya seorang terkenal seperti Tuan Wallace terkesan pada perilaku ini.

Dapatkah kita bayangkan, orang Melayu yang tanpa keahlian khusus, memegang keris dan memilih kematian seperti itu ? Ia nyaris dianggap terhormat dengan melakukan pembantaian berdarah dingin yang berujung pada kematiannya sendiri. Padahal ia melakukan amuk untuk lari dari masalah hidup, atau terbebas dari aib hukuman di depan umum. Ia bisa bertindak dengan hukumnya sendiri, sekaligus membalaskan dendam kepada musuh-musuhnya. Apa pun alasannya, ia telah memilih untuk melakukan Amok.

Bicara soal rasa hormat, Saya jadi teringat akan perang puputan, dalam ingatan saya yang lemah, pejuang puputan bertempur mati-matian hingga tetes terakhir darahnya untuk melawan penjajah. Melawan penjajah ! bukan kepada orang-orang biasa yang ditemuinya. Apakah hal ini bisa disebut amuk ?   Diperlukan studi yang lebih mendalam untuk mendapatkan jawaban ini.

Amok_Alamycom
Man running amok is chased, 19th century (http://www.alamy.com/stock-photo-man-running-amok-is-chased-19th-century-95881726.html)

 

 

Pustaka :

Mulyadi, L. (2014). Sejarah Gumi Sasak Lombok. Program Studi Arsitektur. Institut Teknologi Nasional. Malang

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.alamy.com/stock-photo-man-running-amok-is-chased-19th-century-95881726.html

https://www.merriam-webster.com/dictionary/amok

https://en.wikipedia.org/wiki/Running_amok

https://en.wiktionary.org/wiki/amok

https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/amok

Matur Suksma Tuan Alfred Russel Wallace

Pertengahan tahun 1856, sebelum menuju Makassar, Wallace memutuskan untuk singgah ke Bali dan mencoba melihat-lihat pulau yang terpisah tidak terlalu jauh dari Jawa itu. Apa alasan sebenarnya bagi Wallace untuk mengunjungi Bali tidak disebutkan dalam bukunya yang terkenal itu. Bisa jadi Wallace hanya ingin jalan-jalan, melali, menjadi salah satu turis pertama yang mengunjungi Bali.

Pada 13 Juni 1856, setelah 20 hari pelayaran dari Singapura dengan kapal Kembang Djepoon (Bunga Jepang), kami melepas jangkar di pangkalan laut Buleleng yang berbahaya di utara Pulau Bali. Kapal layar bertiang dua ini milik seorang pedagang Cina, diawaki orang Jawa dan dinahkodai seorang kapten Inggris. Saya ke darat bersama sang kapten dan wakil pemilik kapal.

It was on the 13th of June, 1856, after a twenty days' passage from Singapore in the "Kembang Djepoon" (Rose of Japan), a schooner belonging to a Chinese merchant, manned by a Javanese crew, and commanded by an English captain, that we cast anchor in the dangerous roadstead of Bileling on the north side of the island of Bali. Going on shore with the captain and the Chinese supercargo...

Buleleng masa itu merupakan Buleleng yang telah dikuasai Belanda sejak 1849 dengan Gusti Ketut Jelantik sebagai rajanya. Bisa saja mereka mendarat di Buleleng untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina, tapi karena saat itu rasanya wisata lumba-lumba belum ada, pendaratan di Buleleng besar diduga karena wilayah itu sudah menjadi milik Belanda dan aman untuk mendarat bagi sesama pelancong seperti Tuan Wallace. Pos pemeriksaan KTP waktu itu diadakan di Buleleng, alih-alih di Gilimanuk seperti sekarang ini. Buleleng kala itu adalah sebuah pelabuhan ternama di utara Pulau Bali. Pemeriksaan/pelaporan jelas perlu, apalagi melihat kapal yang isinya gado-gado begitu, nama kapalnya bernama Jepang, dimiliki orang Cina, berawak Jawa, berkapten dan berpenumpang Inggris.

ships-harbour-Singaraja-1927
Perairan pelabuhan Buleleng tahun 1927. Kapal uap bersandar ditengah, untuk mendarat ke pantai diperlukan bantuan kapal kecil nelayan. (http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html)
Kami disambut dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Bandar Cina, atau kepala saudagar, dimana kami melihat penduduk setempat berpakaian menawan. Mereka menyandang keris yang nampak mencolok dengan gagang besar terbuat dari gading, emas atau kayu yang dipelitur dan diasah halus. Orang-orang Cina tidak lagi mengenakan pakaian tradisional, melainkan pakaian Melayu, sehingga sulit dibedakan dengan penduduk asli. Hal ini merupakan suatu inidikasi hubungan erat antara ras melayu dan ras mongol.

..., I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood, I was at once introduced to a novel and interesting scene. We went first to the house of the Chinese Bandar, or chief merchant, where we found a number of natives, well dressed, and all conspicuously armed with krisses, displaying their large handles of ivory or gold, or beautifully grained and polished wood. The Chinamen had given up their national costume and adopted the Malay dress, and could then hardly be distinguished from the natives of the island--an indication of the close affinity of the Malayan and Mongolian races.

Harus diakui, di banyak area pelabuhan di Indonesia, terutama pelabuhan-pelabuhan penting, selalu saja akan ada orang cina yang menetap disana. Tidak perlu heran, karena ini konon adalah bakat lahiriah mereka. Pelabuhan banyak barang dan banyak barang pasti ada perdagangan. Hal yang sama juga berlaku di Buleleng, saat dikunjungi oleh Wallace mereka telah menjadi seorang bandar atau saudagar besar dan telah menyatu dengan masyarakat sekitar. Menjadi seorang bandar tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Proses yang jelas memerlukan hubungan yang erat seperti yang telah disaksikan dan diakui oleh Wallace. Hingga kini, bukti eratnya hubungan itu masih bisa disaksikan di Buleleng melalui perwakilan Klenteng Ling Gwan Kiong yang dibangun pada tahun 1873.

DSC_0129
Klenteng Ling Gwan Kiong di daerah Buleleng, lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Buleleng lama. (http://tradisitridharma.blogspot.co.id/2015/01/titd-ling-gwan-kiong-singaraja-bali.html)
Kami kemudian kembali berjalan-jalan melihat desa. Tempat ini sangat suram dan membosankan, hanya terdiri dari kumpulan jalan sempit yang dibatasi dinding tanah lempung yang mengelilingi rumah-rumah dari bambu. Kami memasuki beberapa rumah dan disambut dengan sangat hangat oleh penghuninya.

... and we then took a walk to look at the village. It was a very dull and dreary place; a collection of narrow lanes bounded by high mud walls, enclosing bamboo houses, into some of which we entered and were very kindly received

Dibandingkan perumahan di Inggris atau bahkan di Singapura kala itu, pedalaman indonesia Hindia Belanda pastilah jauh perbandingannya. Komentar yang lebih menenangkan diutarakan Wallace ketika dia berjalan-jalan di Batavia beberapa tahun kemudian. Untung saja Tuan Wallace tidak bicara semacam itu didepan yang punya rumah, kalau tidak, sudah pasti bukan sambutan hangat yang diterimanya.

Selama dua hari saya menetap disana, saya sering berjalan-jalan di sekitar desa untuk menangkap serangga, menembak burung, serta mengamati kealamian dan kesuburan tanah disini. Saya sangat senang dan takjub, karena hingga perjalanan saya ke Jawa beberapa tahun kemudian , saya tidak pernah melihat daerah yang sangat indah dan asri di luar Eropa. Dataran yang sedikit bergelombang itu memanjang dari pantai laut sampai sekitar 10 atau 12 mil ke darat, dibatasi oleh barisan bukit yang ditumbuhi pepohonan dan dikelola dengan baik. Rumah-rumah dan perkampungan yang dikelilingi jajaran rapat pohon kelapa, asam dan pohon buah lainnya, tersebar di semua penjuru.

During the two days that we remained here, I walked out into the surrounding country to catch insects, shoot birds, and spy out the nakedness or fertility of the land. I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a wide range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of cocoa-nut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction;

Perjalanan Wallace di Bali barangkali berada di area Buleleng-Singaraja saja, mengingat waktunya yang terbatas.

Di antara rumah-rumah dan perkampungan tersebut, terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di lahan-lahan pertanian terbaik di Eropa. Seluruh permukaan wilayah tersebut dibagi menjadi petak-petak yang tidak rata dan mengikuti garis permukaan tanah sehingga sebuah petak dapat berada beberapa kaki lebih tinggi atau lebih rendah dari petak lainnya.  Lebar tiap petak kurang lebih beberapa acre dan ketinggiannya juga disesuaikan dengan sempurna. Setiap petak sawah bisa dialiri atau dikeringkan sesuai keinginan, dengan memanfaatkan selokan dan terusan kecil yang airnya bersumber dari gunung. Saat itu di setiap petak terdapat bibit panen dalam fase pertumbuhan yang berbeda-beda, beberapa diantaranya hampir siap untuk dipanen. Semuanya sedang mekar dan memberikan sensasi warna hijau yang indah.

The whole surface of the country is divided into irregular patches, following the undulations of the ground, from many acres to a few perches in extent, each of which is itself perfectly level, but stands a few inches or several feet above or below those adjacent to it. Every one of these patches can be flooded or drained at will by means of a system of ditches and small channels, into which are diverted the whole of the streams that descend from the mountains. Every patch now bore crops in various stages of growth, some almost ready for cutting, and all in the most flourishing condition and of the most exquisite green tints.

Subak. Rasanya hampir 98% lebih yakin dan sudah pasti bahwa sistem persawahan subak inilah yang dilihat oleh Wallace. Sebuah pemandangan akan sistem yang abadi, karena sampai sekarang toh itu turis-turis bikin macet jalanan Bali hanya untuk mengagumi persawahan dengan sistem yang sama di Tegalalang, Ubud. Penghormatan wajib diberikan bagi para warga Bali karena telah melestarikan adatnya dengan sukses.

Subak di Tegalalang (https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html)
Tepi jalan ditumbuhi oleh kaktus berduri dan Euphorbia tak berdaun. Namun tanah di daerah ini diolah dengan sangat intensif sehingga menyebabkan sedikitnya jumlah tanaman asli, kecuali di sepanjang pantai. Kami melihat sapi-sapi dari ras lokal unggulan, yang merupakan keturunan dari banteng (Bos Sondaicus) Jawa, digiring oleh bocah-bocah setengah telanjang, atau diikat dengan tali di padang rumput. Mereka adalah hewan besar yang anggun, berwarna cokelat muda dan berkaki putih serta memiliki sebidang kulit berbentuk oval yang juga berwarna putih, nampak mencolok di bagian belakang. Sapi liar dari ras ini disebut-sebut masih bisa ditemukan di daerah pegunungan.

The sides of the lanes and bridle roads were often edged with prickly Cacti and a leafless Euphorbia, but the country being so highly cultivated there was not much room for indigenous vegetation, except upon the sea-beach. We saw plenty of the fine race of domestic cattle descended from the Bos banteng of Java, driven by half naked boys, or tethered in pasture-grounds. They are large and handsome animals, of a light brown colour, with white legs, and a conspicuous oval patch behind of the same colour. Wild cattle of the same race are said to be still found in the mountains.

Intensif dan konsisten adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengolahan tanah di Bali. Sebuah konsistensi yang telah diganjar penghargaan Unesco World Heritage Site tahun 2012 lalu. Sesuatu yang setidaknya telah berlangsung 161 tahun (1856–2017) bila dihitung dari saat Wallace mengunjunginya. Entah dimulai sejak kapan, katanya sejak abad ke 9 sih.

Didaerah yang sudah banyak diolah ini, tidak heran jika saya tidak bisa banyak meneliti flora dan faunanya. Ketidaksadaran saya mengenai pentingnya pengaruh lokasi ini terhadap teori persebaran geografis fauna membuat saya tidak mendapatkan beberapa jenis fauna yang ternyata tidak pernah saya temui lagi. Salah satunya adalah burung pemintal berkepala kuning terang, yang membangun lusinan sarang berbentuk botol di pohon-pohon dekat pantai. Burung spesies Ploceus Hypoxantus tersebut berasal dari Jawa dan disini berada di ujung paling barat Pulau Bali.

 In so well-cultivated a country it was not to be expected that I could do much in natural history, and my ignorance of how important a locality this was for the elucidation of the geographical distribution of animals, caused me to neglect obtaining some specimens which I never met with again. One of these was a weaver bird with a bright yellow head, which built its bottle-shaped nests by dozens on some trees near the beach. It was the Ploceus hypoxantha, a native of Java; and here, at the extreme limits of its range westerly,
Asian_Golden_Weaver_(Ploceus_hypoxanthus)_-_male
Pejantan manyar emas (https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver)

Burung manyar sebenarnya adalah burung yang cukup umum di Jawa maupun Bali, orangtua saya yang dulu suka main di sawah sewaktu kecil tahu dengan burung Manyar. Walau demikian, keberadaannya semakin sulit dilihat sekarang, apalagi melihat yang jenis Manyar Emas atau Ploceus hypoxanthus. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tuntutan masyarakat modern yang senangnya mewarnai anak ayam dengan cat warna-warni atau mengikat-ikat burung emprit kecil untuk dijual ke anak SD. Mungkin minder sama burungnya sendiri yang tidak warna warni.

Saya menembak dan mengawetkan spesimen-spesimen seperti burung murai berekor panjang, burung kepodang dan beberapa burung jalak. Semuanya ditemukan di Jawa dan beberapa dari mereka memang hanya bisa ditemukan disitu. Saya juga berhasil mendapatkan banyak kupu-kupu cantik, bersayap putih dengan hiasan warna hitam dan jingga tua, yang merupakan jenis serangga paling umum di jalan pedesaan. Diantara kupu-kupu tersebut terdapat spesies baru, yang telah saya namakan Pieris Tamar.

I shot and preserved specimens of a wagtail-thrush, an oriole, and some starlings, all species found in Java, and some of them peculiar to that island. I also obtained some beautiful butterflies, richly marked with black and orange on a white ground, and which were the most abundant insects in the country lanes. Among these was a new species, which I have named Pieris tamar.
Cepora temena tamar
Pieris Tamar atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar (http://lithops.com.ua/index.php?route=product/product&path=59_64_74&product_id=2126)

Sudah pasti Pieris Tamar akan selalu terlewat dari perhatian ketika mengunjungi Bali. Akan tetapi, sekarang saya sudah tahu bahwa kupu-kupu cantik ini adalah hasil penamaan dari Tuan Alfred R. Wallace yang terkenal itu dan layak untuk diperhatikan lain kali saya mengunjungi Bali. Setidaknya, jadi alasan yang bagus kalau ketahuan tertangkap memelototi bule-bule berbikini.

Cepora temena tamar-XL
Foto Pieris Tamar di alam atau sekarang disebut Cepora Temena Tamar ( https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/)

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://www.dewatanews.com/2015/03/pelabuhan-buleleng-eks-sunda-kecil.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Asian_golden_weaver

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Buleleng

https://mybutterflycollection.wordpress.com/2014/09/04/cepora-temena-tamar/

http://lithops.com.ua/index.phproute=product/product&path=59_64_74&product_id=2126

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/.html

 

http://tradisitridharma.blogspot.co.id/

https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297701-d1515658-r338328001-Tegalalang_Rice_Terrace-Ubud_Bali.html

http://zonakicaus.blogspot.co.id/2014/07/mengenal-burung-manyar-jantan-dan-betina.html