Warisan Abadi Klaus Wyrtki

Wyrtki3
Prof. Klaus Wyrtki (Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.)

Bagi orang-orang yang berkenalan dengan ilmu kelautan, khususnya di bidang oseanografi fisis, nama Klaus Wyrtki tentulah tidak asing. Ketenarannya di Indonesia lebih dikenal melalui karyanya yang berjudul Naga Report. Sebuah buku laporan komprehensif, yang terbit (tahun 1961) lebih dari 50 tahun lalu, mengenai kondisi fisis perairan Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Buku ini konon katanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan masih digunakan sebagai salah satu referensi oleh kalangan pelajar/peneliti hingga saat ini. Kalau anda pernah membaca buku ini, maka buku ini rasanya layak dikatakan sebagai kitab oseanografi perairan Asia Tenggara.

Karir Wyrtki sebagai seorang oseanografer dunia bermula di Indonesia. Selepas menuntaskan pendidikan pasca doktoralnya, Wyrtki sedang mencari pekerjaan dan memutuskan untuk menerima lowongan peneliti di Indonesia. Wyrtki bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Laut, Jakarta, sekarang P2O LIPI.

Di LPL Jakarta, Wyrtki mendapatkan dirinya sebagai satu-satunya peneliti oseanografi. Kekurangan peneliti barangkali disebabkan oleh eksodusnya banyak penduduk Belanda akibat masa perang kemerdekaan, warga Indonesia pun sepertinya sudah tidak ingin melihat orang Belanda di tanah Indonesia. Akibatnya instansi-instansi yang dulu banyak diisi oleh orang Belanda banyak menjadi kosong, seperti di Lembaga Penyelidikan Laut. Sebelumnya, lembaga ini dipimpin oleh Dr. J.D.F. Hardenberg, Prof. Dr. H.C. Delsman dan Dr. Armand L.J. Sunier, ketiganya orang Belanda tulen dan lembaga itu sebelumnya  juga bernama Belanda tulen, Laboratorium Voor Het Onderzoek der Zee (LOZ).

Singkat cerita, Wyrtki, seorang Jerman dan oseanografer handal satu-satunya di lembaga itu malah bertugas menjadi kepala institusi LPL. Wyrtki kemudian menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik dan melakukan banyak pelayaran, pengamatan hingga analisa detail mengenai kondisi perairan Indonesia dan sekitarnya.

Wyrtki2
Wyrtki dan penelitiannya di Kapal Riset Samudera. (oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf)

Perairan Indonesia yang masih asing di dunia kala itu (barangkali hingga sekarang), membuat ketertarikan pada diri Wyrtki yang masih segar keluar dari kampus. Wyrkti kemudian memutuskan untuk mendevosikan waktunya di Indonesia untuk memberikan gambaran lengkap dari kondisi oseanografi di perairan Indonesia. Akan tetapi, melalui penelusuran yang telah dilakukan, Wyrtki menyadari bahwa analisa dan deskripsi demikian haruslah tidak dipandang terbatas pada perairan Indonesia saja melainkan harus mencakup pada keseluruhan perairan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, sesunggguhnya, untuk memahami secara lengkap profil perairan Asia Tenggara, tidak hanya Naga Report Volume 2 saja yang harus dibaca, tapi juga membaca Volume 3 nya yang berisi tentang karakter oseanografi perairan Teluk Thailand serta koleksi laporan oseanografi biologi dari Naga Report.

Mengenai pelayaran, dalam penugasannya di Jakarta, Wyrtki kerap berlayar untuk mengambil data dan menggunakan Kapal Riset Samudra. Sebuah kapal riset dengan bobot sekitar 200 ton yang digunakannya untuk mengambil sampel menggunakan botol Nansen di perairan Indonesia. Wyrtki sepertinya menggunakan kapal ini untuk mendapatkan data-data oseanografi dari tahun 1956-1957, sekitar 100 stasiun pengamatan, di perairan timur Indonesia, Selatan Jawa dan hingga perairan Paparan Sunda. Sayangnya, keterbatasan peralatan membuatnya hanya bisa mengambil data hingga kedalaman beberapa ratus meter saja dan melewatkan pengukuran pada interior laut yang ribuan meter.

Karirnya di Indonesia cukup singkat, dari tahun 1954-1957, dan tidak diperpanjang karena adanya bibit-bibit pemberontakan PRRI di Sumatera yang (barangkali) memberikan kondisi tidak nyaman untuk melakukan penelitian.

Lepas dari Indonesia, Wyrtki beralih ke Australia dimana dia mengambil peran di lembaga kelautan Autralia CSIRO pada Divisi Oseanografi dan Perikanan. Di Australia, beliau menghabiskan watu tiga tahun juga dan menerbitkan penelitiannya mengenai kandungan oksigen dalam relasinya pada sirkulasi laut. (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.)

Sebelum lepas dari Australia, Wyrtki sebenarnya menerima dua tawaran kerja yaitu di Scripps Institution of Oceanography di California dan Columbia University di New York. Wyrtki memilih Scripps. Alasannya sederhana, pekerjaannya di Columbia mengharuskannya untuk meneliti Samudera Antartika, termasuk berlayar kesana dengan kapal riset Eltanin. Mengetahui hal itu ia berucap :

“no, no. No Antarctic Ocean, no seasickness, no roaring forties, I stay in the tropics”.

“tidak, tidak. tidak Samudera Antartika, tidak pada mabuk laut, tidak pada angin kencang, aku tetap di daerah tropis”

Wyrtki mengungkapkan bahwa Indonesia telah membuatnya sedikit manja dan enggan untuk kembali ke iklim yang dingin, sehingga tawaran di Scripps diterimanya.

Di Scripps Institution of Oceanography, Wyrtki mengaku bahwa pekerjaannya sangat menarik dan menantang yaitu mempelajari variabilitas lapisan atas laut. Salah satu hasil pekerjaannya mengungkapkan fenomena upwelling di perairan Kosta Rika yang digunakan untuk menganalisis area pancing dan tempat berkumpulnya tuna (Wyrtki, K., 1964: Upwelling in the Costa Rica Dome. Fish. Bull., 63 (2), 355-372.). Waktunya berkarya di Scripps inilah yang melahirkan kondensasi pemikiran mengenai perairan Indonesia-Asia Tenggara dan menghasilkan buku Naga Report itu.

Seperti jadi kebiasaan, tiga tahun berselang, Wyrtki kemudian pindah lagi ke Hawaii di musim panas tahun 1964. Di Hawaii beliau masuk ke Universitas Hawaii untuk membantu mengembangkan Departemen Oseanografi yang baru berdiri kala itu. Salah satu tujuannya adalah membantu dalam penelitian oseanografi di Kepulauan Hawaii. Di kemudian hari, di tahun 1988 departemen itu menjadi sebuah sekolah/fakultas tersendiri, SOEST (School of Ocean and Earth Science and Technology). Hawaii memberikan kesempatan Wyrtki untuk meneliti dengan lebih luas, pemikiran dan penelitiannya yang terdepan saat itu masih menjadi referensi saat ini, sebuah maha karya oseanografi adalah atlas Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1971: Oceanographic Atlas of the International Indian Ocean Expedition. National Science Foundation Publication, OCE/NSF 86-00- 001Washington, DC, 531 pp.).

Dalam wawancaranya di tahun 1999, wyrtki mengungkapkan bahwa publikasi favoritnya adalah mengenai sirkulasi termohalin di tahun 1961, (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.) dan oksigen minimum di tahun 1962. (Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.) kemudian Arus Peru yang berkaitan dengan pergerakan vertical dan horizontal dalam area luas di laut (Wyrtki, K., 1963. The horizontal and vertical field of motion in the Peru Current. Bull. Scripps Inst. Oceanogr. Univ. Calif., 8 (4), 313-346.) dan kemudian tentunya ada Atlas Samudera Hindia dan analisa sirkulasinya serta aliran jet laut Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1973: An equatorial jet in the Indian Ocean. Science, 181, 262-264.)

Wyrtki memang tidak menyebutkan mengenai Naga Report sebagai publikasi favoritnya, namun masa tiga tahunnya di Indonesia membuka jalan pemikirannya akan siklus termohalin dan bahkan buku Naga Report yang disusunnya mengungkapkan pemikiran akan adanya transport massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang sekarang lebih dikenal dengan Arlindo (ITF). Penelitian mengenai Arlindo/ITF ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Arnold Gordon dikemudian hari. Arnold Gordon adalah orang yang menggantikannya bekerja di Columbia University sedangkan Wyrtki di Scripps. Arnold Gordon kemudian mengadakan beberapa kali pelayaran di Indonesia untuk meneliti ITF  di awal tahun 2000an (Ekspedisi INSTANT).

Wyrtki1
Kapal riset Klaus Wyrtki (http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

Wyrtki kemudian pensiun dan menjadi professor emeritus di tahun 1993 dan memilih untuk menetap di Hawaii sampai akhir hayatnya. Wyrtki kemudian menerima penghargaan-penghargaan yang membuatnya layak dijadikan salah satu begawan oseanografi dunia (The Grand Old Man of Physical Oceanography). Namanya telah diabadikan menjadi salah satu aliran arus (Wyrtki Jet) di ekuatorial Samudera Hindia dan pada beberapa kapal-kapal riset di Hawaii. Klaus Wyrkti yang lahir pada tanggal 7 Februari 1925 akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 87, pada tanggal 5 Februari 2013, dua hari sebelum beliau berumur 88 tahun.

 

Happy belated birthday Klaus Wyrtki !!

 

 

Pustaka :

Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.

Wyrtki, K., 1961: Physical oceanography of the southeast Asian waters. Univ. Calif., NAGA Rept., No.2, 195 pp.

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

https://scholar.google.co.id/citations?user=eWoRjvcAAAAJ&hl=id

https://en.wikipedia.org/wiki/Klaus_Wyrtki

https://tos.org/oceanography/assets/docs/3-1_lukas.pdf

oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/interview_wyrtki.html

Advertisements

Indonesia Bangsa Maritim ?

Sudah tentu, hampir semua dari kita mengenal lagu Nenek Moyang karya Ibu Saridjah Niung. Ibu Saridjah merupakan keturunan seorang Bugis yang bermukim di Sukabumi pada masa mudanya. Sebelum lagu “Nenek Moyang” diciptakan, orang Bugis sejak lama memang telah mempunyai reputasi sebagai pengarung lautan. Mungkin sekali, motivasi Ibu Saridjah menciptakan lagu didorong oleh kenangan pada ayahandanya beserta seluruh pendahulu sang ayah yang telah menjelajah nusantara dan mengarungi lautnya sebelum dikenal dengan nama Indonesia.

Saridjah_Niung_2000_Indonesia_stamp
Ibu Saridjah Niung alias Ibu Soed (https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung)

Sejauh apa sih kebenaran klaim nenek moyang kita adalah pelaut ?

Mengacu pada kata ‘nenek’, memang masih banyak warga Indonesia dengan umur atau kategori nenek-kakek yang masih aktif melaut maupun yang mengandalkan mata pencahariannya dari laut. Tapi, sungguh terlalu jauh kalau anda membayangkan seorang kakek/nenek mantan pengusaha yang sesekali datang ke pelabuhan dengan mobil mewah untuk mengawasi usaha pengemasan ikan laut segar yang akan diekspor ke luar negeri dan kemudian mengecek kesiapan armada kapal penangkap ikannya sambil bersiap diri untuk memancing ala ‘mancing mania’ dengan kapal yacht 2 X 250 PK nya.

Barangkali, jauh lebih dekat bila anda membayangkan seorang kakek/nenek yang dengan capai dan peluhnya mengharapkan lakunya dagangan 3 ikat ikan setengah busuk yang bobot ikannya tidak lebih dari 10 kg keseluruhannya. Berjongkok di tepi luar pasar ikan, bersenyum murah pada setiap pengunjung agar bisa membeli ikan yang dia dapatkan dengan sampan kecil yang terbuat dari kayu dan berumur lebih tua darinya, agar dia bisa melunasi biaya solar dan biaya pengobatan tubuhnya yang renta.

Sudah begitu, ditawar juga harga ikannya.

IMG_2111
Nelayan Banten, sekitar Selat Sunda.

Dari situ, ya setidaknya, klausa “nenek moyangku adalah pelaut” mempunyai sebagian kebenaran. Mayoritas kota-kota besar Indonesia terletak di pinggir pantai atau sungai dan sebagian penduduk kota itu juga berprofesi sebagai nelayan maupun profesi maritim lainnya. Profesi yang barangkali merupakan profesi warisan dan bahkan tanpa pilihan bagi warga yang sekarang sudah berumur cukup tua seumur kakek-nenek. Akan tetapi rasanya profesi agraris saat ini masih lebih dominan dibandingkan profesi maritim, sebuah klaim yang saya simpulkan dari hasil pengamatan sekilas semata. Simpulan yang lebih mendalam membutuhkan keahlian analisa khusus dari data statistik BPS yang terlampau berlimpah (baca : tidak langsung pakai).

Masa sekarang, profesi kemaritiman didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendukung masyarakatnya untuk kembali ke laut melalui gerakan maupun kebijakan seperti hari ikan nasional, tol laut, penenggelaman kapal tangkap terlarang hingga pelestarian kawasan laut. Dipikir-pikir, gerakan atau kebijakan semacam ini sebenarnya dimulai belum terlalu lama. Sebagai sebuah Negara kelautan yang ditaburi pulau, Kementerian Kelautan sebenarnya baru terbentuk tahun 2009. Sebelum tahun itu, fungsi kelautan dalam Negara dilakukan oleh Menteri Eksplorasi Laut tahun 1999 dengan badannya Departemen Eksplorasi Laut.  Badan ini kemudian berubah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan sebelum akhirnya sekarang menetap menjadi sebuah kementerian. Dari 1999-2017, baru 18 tahun umur badan kelautan yang resmi dibentuk oleh pemerintah. Umur 18 tahun memang umur yang baru melek baca.

programKKP
Program KKP. Senang melihat program yang ditulis secara tersirat untuk membalikkan mata kita menuju laut kembali. Berdaulat ! Berkelanjutan ! Sejahtera ! (http://kkp.go.id)

Sebelum tahun 1999, di Indonesia rasanya tidak ada yang disebut dengan dunia kelautan. Laman sejarah pranala Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan masa tersebut dengan kalimat “Dimasa Orde Baru, orientasi pembangunan masih terkonsentrasi pada wilayah daratan. Sektor kelautan dapat dikatakan hampir tak tersentuh, meski kenyataannya sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam, baik jenis dan potensinya.”  Tidak perlu dikomentari lebih jauhlah pencapaian maritim 32 tahun itu apa, kalau bukan hanya fasad-fasad belaka.

Padahal pada masa-masa awal kemerdekaan hingga masa orde lama meskipun kebijakan kelautan belum begitu berkembang, namun Sukarno sudah menyadari pentingnya laut dan jalur perhubungannya. Perginya Belanda dari Indonesia menyebabkan ketimpangan pada aset-aset negara termasuk diantaranya kapal-kapal. Kekurangan kapal sebagai penghubung antar pulau menyebabkan melonjaknya harga-harga bahan pokok karena pasokan barang yang terbatas. Dampak perang baik dengan Jepang maupun Belanda membuat banyak rakyat kelaparan baik secara agraris maupun maritim. Perusahaan milik Negara, PELNI, yang baru berdiri di tahun 1952, jelas masih belum memiliki armada yang memadai.

Jalan pintas ditempuh dengan mencoba mengambil alih paksa perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij  (KPM) milik Belanda beserta seluruh asetnya sebagai sarana penghubung dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada 5 Desember 1957 para buruh pekerja Indonesia berhasil menduduki kantor pusat KPM di Jakarta, tetapi tidak mampu untuk menyita kapal-kapal yang dimiliki KPM. Para pimpinan perusahaan Belanda ternyata sudah mengantisipasi langkah penyitaan ini dan telah memberikan perintah kepada kapten-kapten kapal mereka untuk segera meninggalkan Indonesia melalui kode rahasia. Sebanyak lebih dari 50 kapal KPM dapat lolos dari sergapan penyitaan paksa sedangkan sisanya diambil Indonesia. Akan tetapi, melalui campur tangan Lloyd(s) Insurance Company, penyitaan ini mengharuskan Indonesia membayar 117 juta gulden sebagai kompensasinya kepada KPM. Pemerintah Indonesia menolak dan kemudian terpaksa mengembalikan kapal-kapal itu.

Kapal SS Rumphius dengan Pulau Anak Krakatau dibelakangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk menyewa sementara dan membeli armada kapal untuk keperluan penghubung bangsa. Dana yang digunakan untuk menyewa dan akhirnya membeli (51 kapal dari Jepang) kapal tersebut berasal dari dana pampasan perang pemerintah Jepang melalui perjanjian yang disepakati Indonesia dan Jepang.

Pada periode yang sama, pemikiran mendalam mengenai posisi geografis Indonesia melahirkan Deklarasi DJuanda yang diusulkan pada tahun 1957 dan diperjuangkan dari tahun 1960 hingga tahun 1982. Perumusan ini kemudian disahkan dalam konvensi hukum laut PBB di Montego Bay, Jamaika pada 10 Desember 1982. Hasil konvensi ini kemudian berlaku pada perairan Indonesia mulai tahun 1985 dan secara internasional tahun 1994. Sayangnya hasil konvensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik bagi pemerintahan orde baru dan malah tak tersentuh.

Perangko Deklaras Djuanda. Pak Djuanda tampak kalem sementara Pak Karnonya bersemangat dan para penarinya tampak kebingungan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda)

Pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak yang dilakukan pemerintahannya untuk kepentingan maritim dalam sebuah masa peperangan selain mengganti nama-nama badan pemerintahannya menjadi bernama Jepang, pendudukan Jepang lebih fokus untuk mengambil sumber daya alam nusantara untuk keperluan perang daripada mengembangkannya.

Masa pendudukan Belanda (Periode setelah kebangkrutan VOC pada 1800) merupakan masa suram kelautan nusantara. Kekuasaan laut sepenuhnya ada pada Pemerintah Belanda. Perlakuan kontrol kuat atas pelayaran dan transportasi yang diatur oleh VOC pada kerajaan-kerajaan nusantara, diwariskan pada pemerintah Belanda dan digunakan untuk melanjutkan kepentingan Kolonial Belanda. Masyarakat pesisir atau moyang-moyang kita di pesisir banyak ditarik ke wilayah pedalaman untuk mendukung penanaman komoditas ekspor melalui sistem tanam paksa yang dimulai 1830. Moyang kita menjadi budak dan buruh ditanahnya sendiri.

Perusahaan KPM yang beroperasi mulai tahun 1888 didirikan untuk mengangkut hasil tanam paksa di seantero pulau-pulau nusantara untuk diangkut keluar negeri. Modernisasi kapal dari kapal layar menjadi kapal uap memang semakin mengukuhkan peran perusahaan KPM dan pemerintah Belanda dalam dunia kelautan nusantara. KPM mulai beroperasi pada 1 Januari 1891 dengan modal 29 kapal uap kecil – 13 baru dan 16 warisan dari pendahulunya, NISM (Nederlandsch Indische Stoomvaart Maatschappij). Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antara pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih popular dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.

Overview map of the connections to be sailed by the Royal Packet Company in the Netherlands Indies (https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Mulai dari tahun 1906 perusahaan ini mulai melakukan ekspansi usaha dengan membuka  rute-rute baru dari kepulauan HIndia Belanda ke negara-negara lain dengan berbagai anak perusahaan, antara lain pada tahun 1908 dengan nama Java-Australië Lijn (JAL) melayani lintas Jawa-Australia, disusul pada tahun 1910 dengan Java-Siam Lijn (JSL) melayani lintas Jawa-Thailand, dan terakhir pada tahun 1915 Deli-Straits-China Lijn (DSCL) melayani lintas Medan – China.

Tidak banyak pengusaha laut nusantara yang dapat diketahui (saya) menyaingi KPM. Salah satu perusahaan yang diketahui adalah perusahaan milik kakek (alm.) Des Alwi yaitu Baadila Brothers yang didirikan pada akhir abad 19 untuk mengangkut barang/kargo dari Gresik hingga Banda Naira. Perusahaan pelayarannya kemudian berkembang menjadi pengangkut penumpang juga serta dipuncak kesuksesannya menjadi pengusaha mutiara dan perkebunan pala yang luas di Banda Naira.

BukuDesAlwi
Buku Sejarah Maluku karangan Des Alwi, isinya juga mencakup sebagian sejarah keluarga Des Alwi .

Akan tetapi tidak seluruhnya kebijakan kolonial Belanda merugikan citra maritim nusantara, pendirian-pendirian kantor kelautan seperti Afdeling Visserij (tahun 1914) dan Instituut Voor de Zeevisserij (tahun 1928) memberikan fondasi bagi penelitian kelautan di nusantara. Patut dicatat juga bahwa periode kolonialisme Belanda memberikan ruang bagi ekspedisi-ekspedisi penelitian kelautan di nusantara yang berguna untuk memberikan gambaran lengkap laut nusantara dari permukaan hingga dasar lautnya. Ekspedisi tersebut antara lain adalah Ekspedisi Challenger (1872 – 1876), Ekspedisi Valdivia (1898-1899), Ekspedisi Siboga (1899-1900), Ekspedisi Snellius I (1925-1930) dan Ekspedisi Galathea (1950-1952). Gambaran laut Indonesia itu kemudian dilengkapi oleh kedatangan Klaus Wyrtki tahun 1954 yang kemudian bertugas sebagai kepala Lembaga Penyelidikan Laut Indonesia dan memberikan jalan bagi peneliti-peneliti laut Indonesia awal seperti Aprilani Soegiarto dan Syarmilah Syarif.

Peraturan pembatasan laut territorial sejauh 3 mil melalui UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie Tahun 1939) juga lahir di periode Kolonial Belanda. Sebuah peraturan kelautan kuno yang tidak didasarkan pada negeri-negeri kepulauan. Peraturan ini jelas mempertanyakan kedaulatan Negara Indonesia sebab pada jarak 3.01 mil saja, kapal asing dapat parkir dengan bebas didepan pulau-pulau Indonesia. Nenek moyang Ibu Saridjah Niung tentu tidak habis pikir kalau kebebasan laut negerinya hanya dihargai sejauh 3 mil saja. Kelak, peraturan ini membuat gatal Pak Djuanda di tahun-tahun kedepannya dan mendorongnya untuk melahirkan apa yang disebut Deklarasi Djuanda.

 

 

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

Kurosawa, A. 2015. Peristiwa 1965 : Persepsi dan Sikap Jepang. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda

https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung

https://en.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart-Maatschappij

https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://tirto.id/deklarasi-djuanda-dan-ikhtiar-menyatukan-laut-indonesia-cBuT

http://kkp.go.id/sejarah/

http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/17%20Siboga.pdf

Leg 2 : Sapi-sapi laut

Hampir tiga minggu berselang, kami akhirnya kembali ke gedung di Jalan Empat itu. Pada gedung itu, departemen kami bersatu dengan beberapa departemen lainnya. Anehnya, meskipun departemen kami setara dengan departemen lain, departemen kami hanya mendapat dua lantai dari gedung berlantai 4 dengan dua sayap ini. Departemen kami mendapat dua lantai di sayap timur, itupun harus berbagi lagi dengan departemen lain, departemen ilmu langit dan geopicik.

Dalam departemen kami terdapat ruangan laboratorium yang cukup besar yang tentu saja dibagi lagi kedalam beberapa sekat-sekat spesialisasi studi para dosen. Salah satu ruangan lab itu adalah ruangan teoritik. Seperti namanya, ruangan itu diperuntukkan untuk membahas teori-teori fluida oseanografi. Seharusnya. Kenyataannya, ruangan itu lebih banyak dipakai untuk rapat-rapat yang kebanyakan teorinya. Beberapa senior bahkan telah melahirkan hipotesa yang sulit dipertanyakan kebenarannya. Bunyinya kira-kira begini “Bahwa semakin besar persoalan (tugas) yang muncul maka akan semakin sedikit orang yang bekerja untuk menyelesaikan persoalan (tugas) itu”.

Hal ini rasanya berbanding terbalik dengan kriteria gotong royong yang umum dikenal orang. Pada kriteria gotong royong, semakin besar persoalan maka akan semakin banyak orang yang membantu turun tangan menyelesaikan persoalan. Pada hipotesa ini, hal  berlawanan yang terjadi, sebuah tugas besar yang harus diselesaikan oleh suatu kelompok hanya akan dapat diselesaikan oleh satu atau (paling banyak) dua orang dalam kelompok itu.

Ilustrasinya begini, suatu tugas mata kuliah yang mahasiswanya dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan satu atau beberapa tema, mempunyai distribusi angota kelompok yang tidak proporsional dalam hal kecerdasan (mengerjakan tugas yang dimaksud). Akibatnya, dalam satu kelompok sering sekali tertinggal seorang mahasiswa saja yang mengerjakan tugas itu. Sisanya adalah sapi-sapi pemakan rumput yang memamah biak uang harian pemberian orangtuanya. Hampir 95% tugas yang diberikan dosen dikerjakan oleh mahasiswa yang (kadang terpaksa) pintar itu. Lima persen sisanya dikerjakan para sapi untuk membuat cover sampul tugas, mencetak dan menjilid tugas, hingga menyediakan susu sapi bagi mahasiswa pintar itu sebagai asupan kecerdasan otaknya.

sapi_kambing_patungan

Apakah sapi-sapi itu tidak berusaha membantu sang mahasiswa pintar untuk menyelesaikan tugasnya ? tentu saja mencoba membantu, ya mencoba, tapi sebatas itu saja. Sebab, komunikasi antara sapi dan si mahasiswa pintar adalah komunikasi yang mustahil terjalin. Disaat sang mahasiswa pintar mengajak diskusi, sang sapi hanya bilang “Mmmooo”. Ketika sang sapi mencoba berkomunikasi dengan sang mahasiswa pintar, si mahasiswa pintar itu hanya bisa melongo dan terbengong-bengong mendengarkan lenguhan sapi. Pada akhirnya, daripada membuang waktu si mahasiswa pintar itu menyerah dan memilih mengerjakan tugas itu sendiri saja. Hal yang lebih masuk akal dikerjakan daripada menafsirkan nada lenguhan sapi-sapi yang tidak jelas juntrungannya. Begitulah kira-kira isi hipotesa para senior itu.

Lucu yah, tapi lebih lucu lagi kalau membayangkan sapi-sapi itu berdiri di depan dan diminta presentasi tugas oleh dosen.

Nah, kelompok paling apes adalah kelompok yang semua isinya adalah sapi-sapi. Kalau sudah begitu, tugas yang selesai dikerjakan dan dikumpulkan cuma berbobot seperti tumpukan jerami saja. Besar tapi enteng dan lebih mudah terbakar atau dijadikan pupuk kandang.

Akan tetapi, para sapi-sapi itu terkadang melakukan suatu hal evolutif yang cenderung cerdas untuk ukuran sapi. Kelompok (apes) yang semua berisi sapi kadang bersekongkol dengan sapi-sapi kelompok lain yang sudah kadung punya seorang mahasiswa cerdas dalam kelompoknya. Demikianlah, melalui komunikasi sederhana ala-ala sapi, dua kelompok bergabung menjadi satu kelompok sapi besar dengan sang mahasiswa cerdas sebagai penggembalanya. Sebuah simbiosis aneh yang belum bisa diklasifikasikan secara ilmiah.

Rasa-rasanya aku pernah jadi salah satu sapi itu, tapi sekarang entah mengapa aku jadi merasa tersapikan. Soalnya, pengolahan data survei oseanografi yang harusnya dikerjakan sesuai kelompok praktik kemarin malah semua pengerjaan datanya terkumpul di laptopku yah.  Bukan cuma soal pengolahan data batimetri, tapi analisa pasut dan profil perairan semua terkumpul di laptopku.

Ah sial !

Perantara Laut

Pada satu waktu, ada saja kesempatan yang didapatkan untuk pergi ke ujung daratan, untuk bertemu dengan sang laut. Sebuah kesempatan yang selalu dinikmati setiap momennya dan dinantikan setiap kali kembali bermukim di tengah Pulau Jawa. Tidak sering memang kesempatan itu datang, namun saban kali bertemu kembali dengan laut rasanya seperti bertemu kembali dengan kekasih yang lama terpisah. Tiupan angin, bunyi hempasan ombak, bau garam dan bahkan bau ikan yang menusuk hidung memberi rasa eufemistis pada jiwa yang sering resah.

Selalu ada hal yang menarik acap kali berada dilaut atau di tepiannya, suguhan pemandangan akan yang kolam air yang sangat luas merupakan peralihan yang luar biasa dari pemandangan jendela kantor yang begitu-begitu saja. Waktu petang jelas merupakan waktu favorit banyak orang untuk menikmati keindahan laut tapi selain daripada itu, laut dan tepiannya sesungguhnya merupakan tempat yang sangat dinamis di setiap waktunya.

Salah satu dinamika ini tampil dalam bentuk perahu-perahunya. Perahu merupakan perantara pertama antara manusia dengan laut. Perahu juga merupakan pengejawantahan dari jiwa manusia itu sendiri yang selalu dinamis, selalu bergerak, selalu menjelajah. Sebab itu, perahu yang merupakan terjemahan dari jiwa manusia, seringkali atau bahkan selalu berbeda-beda bentuknya di setiap tempat.

Melihat perbedaan bentuk perahu yang bermacam-macam di banyak tempat di Indonesia ini maupun di luar negeri jadi kenikmatan tersendiri. Foto hingga video selalu saya ambil untuk dilihat kemudian waktu sembari membayangkan mengapa di satu daerah ada layaran sedang di lain pantai tidak berlayar, cadik atau tanpa cadik, macam bentuk haluan maupun lambungnya hingga perjalanan yang ditempuh sang nahkoda menggunakan perahu itu.

Perahu Nagari

Seperti tertuang di gambar ini, sebuah perahu kecil yang berada di bagian selatan Sumatera Barat, yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan dengan badannya yang pendek dan bercadik secukupnya. Haluannya melengkung tajam mirip atap rumah khas Sumatera Barat itu sendiri. Sisi lambung kirinya tertempel mesin untuk mendorong laju kapal ini.

Keseluruhan perahu ini sejatinya dibuat untuk efektivitas gerak laut, menyisakan bentuk lengkungnya sebagai identitas laut Minang.

Teuna Senggelisa

2015-08-08-19-13-49Peradaban manusia selalu bermulai dari air. Air adalah sumber kehidupan. Kota-kota besar di dunia didominasi oleh kota-kota yang berbatasan dengan air, apakah itu air laut, danau maupun sungai. Serupa juga di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Pontianak hingga Jayapura berada di dekat air.

Kota-kota besar sejatinya adalah sebuah desa/kampung yang besar yang dahulunya adalah hanya sebuah kampung kecil yang biasa-biasa saja. Di Indonesia, serupa juga dengan banyak tempat lain di dunia, kampung-kampung kecilnya masih banyak yang merupakan kampung pesisir laut atau kampung sungai. Khusus di bagian Indonesia sebelah timur sana, rasanya kampung pesisir laut lebih mendominasi dibandingkan kampung sungai.

Di kampung pesisir tersebut, hidup serasa berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar. Pagi dimulai bukan dengan bunyi gerung mesin atau klakson tapi cuitan nyaring burung atau unggas yang kelaparan. Matahari yang mendoyong, menegak dan mendoyong lagi di sore harinya selalu dirasakan setiap penghuni kampung yang mengisi hari-harinya dengan mengerjai tanah dan airnya.

2015-08-08-19-15-31

Benda-benda angkasa bagi masyarakat kampung pesisir merupakan sebuah “bel sekolah” yang menjadi acuan aktivitas hariannya. Matahari pagi dan sore sudah jadi absensi sidik jari bagi masyarakat kampung pesisir. Pada jam-jam tersebut tertuang waktu-waktu untuk sedikit merenung dan menikmati, waktu-waktu yang sering dilupakan masyarakat di kampung-kampung mahabesar.

Senja di pesisir menjadi waktu kesukaan banyak orang, matahari yang merebah memberikan permainan warna yang indah. Warna suasana yang membolehkan masyarakat untuk berkumpul sejenak. Beristirahat dari aktivitas yang melelahkan seharian tadi.

Untuk bermain, untuk duduk mengobrol bersama, untuk menikmati sore ditemani minuman hangat, bersama-sama di Teuna Senggelisa.