Perantara Laut

Pada satu waktu, ada saja kesempatan yang didapatkan untuk pergi ke ujung daratan, untuk bertemu dengan sang laut. Sebuah kesempatan yang selalu dinikmati setiap momennya dan dinantikan setiap kali kembali bermukim di tengah Pulau Jawa. Tidak sering memang kesempatan itu datang, namun saban kali bertemu kembali dengan laut rasanya seperti bertemu kembali dengan kekasih yang lama terpisah. Tiupan angin, bunyi hempasan ombak, bau garam dan bahkan bau ikan yang menusuk hidung memberi rasa eufemistis pada jiwa yang sering resah.

Selalu ada hal yang menarik acap kali berada dilaut atau di tepiannya, suguhan pemandangan akan yang kolam air yang sangat luas merupakan peralihan yang luar biasa dari pemandangan jendela kantor yang begitu-begitu saja. Waktu petang jelas merupakan waktu favorit banyak orang untuk menikmati keindahan laut tapi selain daripada itu, laut dan tepiannya sesungguhnya merupakan tempat yang sangat dinamis di setiap waktunya.

Salah satu dinamika ini tampil dalam bentuk perahu-perahunya. Perahu merupakan perantara pertama antara manusia dengan laut. Perahu juga merupakan pengejawantahan dari jiwa manusia itu sendiri yang selalu dinamis, selalu bergerak, selalu menjelajah. Sebab itu, perahu yang merupakan terjemahan dari jiwa manusia, seringkali atau bahkan selalu berbeda-beda bentuknya di setiap tempat.

Melihat perbedaan bentuk perahu yang bermacam-macam di banyak tempat di Indonesia ini maupun di luar negeri jadi kenikmatan tersendiri. Foto hingga video selalu saya ambil untuk dilihat kemudian waktu sembari membayangkan mengapa di satu daerah ada layaran sedang di lain pantai tidak berlayar, cadik atau tanpa cadik, macam bentuk haluan maupun lambungnya hingga perjalanan yang ditempuh sang nahkoda menggunakan perahu itu.

Perahu Nagari

Seperti tertuang di gambar ini, sebuah perahu kecil yang berada di bagian selatan Sumatera Barat, yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan dengan badannya yang pendek dan bercadik secukupnya. Haluannya melengkung tajam mirip atap rumah khas Sumatera Barat itu sendiri. Sisi lambung kirinya tertempel mesin untuk mendorong laju kapal ini.

Keseluruhan perahu ini sejatinya dibuat untuk efektivitas gerak laut, menyisakan bentuk lengkungnya sebagai identitas laut Minang.

Teuna Senggelisa

2015-08-08-19-13-49Peradaban manusia selalu bermulai dari air. Air adalah sumber kehidupan. Kota-kota besar di dunia didominasi oleh kota-kota yang berbatasan dengan air, apakah itu air laut, danau maupun sungai. Serupa juga di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Pontianak hingga Jayapura berada di dekat air.

Kota-kota besar sejatinya adalah sebuah desa/kampung yang besar yang dahulunya adalah hanya sebuah kampung kecil yang biasa-biasa saja. Di Indonesia, serupa juga dengan banyak tempat lain di dunia, kampung-kampung kecilnya masih banyak yang merupakan kampung pesisir laut atau kampung sungai. Khusus di bagian Indonesia sebelah timur sana, rasanya kampung pesisir laut lebih mendominasi dibandingkan kampung sungai.

Di kampung pesisir tersebut, hidup serasa berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar. Pagi dimulai bukan dengan bunyi gerung mesin atau klakson tapi cuitan nyaring burung atau unggas yang kelaparan. Matahari yang mendoyong, menegak dan mendoyong lagi di sore harinya selalu dirasakan setiap penghuni kampung yang mengisi hari-harinya dengan mengerjai tanah dan airnya.

2015-08-08-19-15-31

Benda-benda angkasa bagi masyarakat kampung pesisir merupakan sebuah “bel sekolah” yang menjadi acuan aktivitas hariannya. Matahari pagi dan sore sudah jadi absensi sidik jari bagi masyarakat kampung pesisir. Pada jam-jam tersebut tertuang waktu-waktu untuk sedikit merenung dan menikmati, waktu-waktu yang sering dilupakan masyarakat di kampung-kampung mahabesar.

Senja di pesisir menjadi waktu kesukaan banyak orang, matahari yang merebah memberikan permainan warna yang indah. Warna suasana yang membolehkan masyarakat untuk berkumpul sejenak. Beristirahat dari aktivitas yang melelahkan seharian tadi.

Untuk bermain, untuk duduk mengobrol bersama, untuk menikmati sore ditemani minuman hangat, bersama-sama di Teuna Senggelisa.

Membasahi insang berujung kontemplasi

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu sudut negeri ini dan mengistirahatkan mata dan telinga yang capai ini dari gempuran kedipan 60-70 Hz monitor, asap kendaraan dan segala keramaian yang berlebih. Pemandangan vegetasi yang hijau dan air yang biru jernih benar-benar mengistirahatkan impuls saraf-saraf yang terlalu kencang berdenyut di kota. Disini, di pedesaan, manusia (untungnya) tidak terlalu banyak dibanding di kota.

Okey. Tujuan saya disini, jelas, selain mengistirahatkan raga ini adalah juga untuk mengkalibrasi ulang insang-insang saya yang kering dan lama tidak bersentuhan dengan air laut. Diatas permukaan, desa ini berhalaman belakang hutan yang hijau. Entah hutan rakyat atau perkebunan atau hutan produksi. Pastinya hutan belakang desa ini masih cukup rapat dan hijau sehijau hutan yang kamu bayangkan. Di halaman depan desa ini, warna biru menghampar. Begitu luasnya badan air yang menjadi halaman depan desa ini.

Okey, ini bukan warna biru, tapi jelas toh disini airnya jernih dan terlihat segar.

Warna birunya jernih, terang dan bersinar biru. Euy..!! Menggoda saya untuk masuk dan membasahi insang kering saya, apalagi udaranya begitu segar dan bunyi ombaknya menggelegar begitu megah.

Sudahlah, ekspetasi saya jadi semakin tinggi disini. Padahal saya harus ingat, biar begini, lokasi ini adalah tempat wisata dan tempat wisata di negeri ini tidak lepas dari banyak masalah (baca : sampah). Padahal saya juga harus ingat lagi, ini Indonesia, dimana pengertian LINGKUNGAN ALAM dan pelestariannya jauh sungguh jauh dari harapan.

Karang yang sekarat no. 1.

Byuuuurrr…!! Ceritanya begitu bunyinya dan masuklah kita ke air biru itu. Lokasi tempat nge-byuurrr saya ternyata hanya berdasar pasir dan sedikit lamun. Bergeser 100 meter kedepan akhirnya kita menemukan karang yang dimaksud sang pemandu wisata. Tapi, tapi, tapi… rasanya yang dimaksud karang oleh sang pemandu berbeda pengertian dengan karang yang saya maksud. Karang maksud kita adalah terumbu karang, coral reef bahasa sundanya mah. Tapi yang terhampar disini ya memang karang tapi karang yang sudah jadi batu. Tidak terang, tidak berwarna warni, coklat dan memang banyak batu saja jadinya. Mati. Nyata sekali, disini karangnya kebanyakan sudah mati. Kalaupun tidak mati, bisa dikatakan sudah sekarat.

Kedalaman karang mati tersebut berkisar sekitar 1-2 meter pada kondisi air menuju surut. Sedikit terguncang hati saya melihatnya. Berpindah lokasi pun tidak menjadi solusi, dilokasi sebaliknya (sebelah barat daya), malah lebih banyak sampah mengapung. Bahkan di kedalaman yang sedikit lebih dalam, sekitar 4-6 meter dibawah permukaan, saya mendapatkan kenyataan yang menyedihkan.

Karang yang sekarat no. 2,3,4 dst…dst. Arrgh…tidak..!!

Karang mati menjadi lebih jelas. Pada kedalaman ini, kumpulan terumbu karang memang lebih banyak namun kematian berada sangat dekat dan mengancam. Dengan luasan yang cukup besar, karang-karang disini sudah memutih. Sudah mati. Kalau saya seorang J.Y Cousteau, sudah pasti saya menangis, tapi biarpun bukan, hati saya nyata terluka melihat kondisi ini.

Si ikan ditengah sampah terapung. Terbayang susahnya si ikan mencari makan ditengah karang tandus ini. Ah, hidup susah bukan cuma milik saya saja, tapi si ikan juga ternyata.

Ah, seandainya saya tidak tahu menahu atau acuh tak acuh saja seperti turis kebanyakan disini saya pasti merasa senang-senang saja, bermain di laut dan pasir putih begini. Ya, saat itu saya menerima kenyataan bahwa di sini, dibawah permukaan tidak seindah diatas permukaan. Bahkan sebenarnya kalau mau dilihat, di pinggiran pantai sudah mulai banyak sampah dan kotoran yang kontras sekali dengan warna putih pasir dan birunya air. Tidak jauh dari situ juga terlihat papan informasi kuno pelarangan penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan dan memanah ikan. Sebuah petunjuk mengenai masa lalu wilayah ini sepertinya.

Dilarang !! Semakin dilarang semakin getol melanggar. Tapi ini rasanya dulu-dulu, sebelum daerah ini jadi daerah wisata.

Kalau sudah begini saya jadi berpikir lagi mengenai kelestarian alam dan hubungan manusia terhadap lingkungan. Bisakah kita bersahabat dengan alam ? Pasti bisa jawabnya, persoalannya ada di waktu, dimana manusia akan selalu kalah.

Ah…kan.., kalau begini, pulang dari sini rasanya malah menjadi merenung dan berpikir ulang mengenai alam dan manusia. Liburan kok malah jadi sedih hehe….Yah, setidaknya insang saya sudah segar kembali oleh segarnya air laut dan udara pantai. Manusia oh manusia.