Sendalu Dingin Laut Lampung

sendalu1

Sendalu lembut meniup tengkuk mereka yang tertidur, membuai sekaligus meringkukkan badan, membuntal, menjaga hangat agar tidak kabur. Jarum jam telah menunjuk angka tiga dan angka 4 pada jarum panjangnya. Kapal telah mulai melayar 15 menit lalu. Tidak lama sebelumnya, kapal ini untuk kesekian kalinya dalam hari ini membuka perutnya kembali lebar-lebar.  Raksasa-raksasa pun masuk kembali ke dalam perutnya. Demikian besar para raksasa tersebut, sebagian berkaki delapan, berbadan gemuk maupun berpunuk menggunung, sebagian bahkan berkaki 12 atau 16 yang bobotnya membuat titian masuk menjadi bergetar hebat. Jam segini, memang jamnya para raksasa untuk menyeberang menuju daratan di ujung satunya.

Secepat itu para raksasa masuk, secepat itu juga penunggangnya masuk ke dek atas. Hampir berebut, tapi tanpa kekusutan. Bangku-bangku panjang berjok tipis adalah sasaran utamanya. Merebahkan badan dan tidur berbaring adalah tujuan utama dari perjalanan laut ini. Sang raksasa dan penunggangnya memang banyak yang datang dari tempat-tempat yang jauh-jauh. Belasan hingga puluhan jam mereka lalui sebelum akhirnya tiba di hotel terapung ini.

Langit gelap, segelap mata yang terhimpit mimpi dan lamunan panjang. Dek kapal ini bagaikan bangsal asrama, mayoritas tertidur berjejer seturut bangku kapal atau terkantuk-kantuk, mengangguk-angguk seperti mengiyakan pertanyaan-pertanyaan yang dititipkan angin malam. Ada yang menggulung dibalik sarungnya, ada yang mendengkur dan ada juga yang mengiggau. Yang tidak tidur juga ada tapi segelintir saja, bercerita sambil menikmati angin dingin malam cukup membuat mereka hangat dan terjaga.

Ada juga si bapak itu. Dia tidak tidur, tapi juga tidak terjaga. Entah. Matanya menghampa, menatap gelapnya malam. Rokoknya ditaruh begitu saja, jadi gantinya obat nyamuk. Tangannya dikempit di masing keteknya, mungkin sedikit kedinginan. Tapi, kopi panas yang tadi kuhidangkan hampir tidak tersentuh. Seruput kopinya hanya formalitas belaka, sekedar menyentuh bibir tanpa mengotorinya. Kopi itu jelas telah mendingin dengan sendirinya.

Tatapannya kosong. Memandang ke depan tapi tanpa arti. Wajahnya lusuh dan kusut. Raut kesedihan tampak memancar dan menghilangkan beberapa tahun cahaya wajahnya. Bapak itu juga salah seorang penunggang truk yang sering menggunakan jasa kapal ini untuk mengantarkan muatannya dari satu ujung ke ujung lainnya. Kisahnya merupakan sebuah elegi yang merindukan sebuah penghabisan.

Istrinya baru-baru ini saja meninggalkannya. Membawa serta anak satu-satunya yang masih kecil. Anak semata wayangnya, ialah si bungsu yang masih lengket pada tetek ibunya. Sedang si sulung, sudah harus dikembalikan terlebih dulu ke Gusti Allah beberapa minggu sebelumnya. Naas, sebuah kecelakaan menghantarnya langsung ke pangkuan Tuhan.

Kata orang-orang, celaka ini jadi ujung kesabaran yang sudah diberikan Tuhan sebelum-sebelumnya. Kabarnya dia memang piawai dalam bermabuk, tanpa kenyang berjudi, pemain cinta semalam hingga mencandu. Entah bagaimana kebenarannya, tapi sekali waktu, dibalik pintu geladak atas aku memang menemukannya setengah sadar setengah tertawa. Sinting ! gumamku waktu itu.

Istrinya semakin berang tatkala dikala masih berduka oleh kepergian anaknya didatangi oleh segerombolan pemuda  beringas yang memaksa meminta pembayaran hutang-hutang suaminya atau dia yang jadi bayaran hutangnya. Untungnya matahari masih tinggi dan masih banyak orang di rumahnya. Kontan saja, seribu langkah jadi buah keputusan yang didukung oleh keluarganya. Meninggalkan suaminya seorang diri.

Untung saja, si bapak ini masih punya seorang kawan lamanya yang bisa gantikan dia. Kawannya bilang, kalau dibiarkan menyupir sendiri, tidak sampai seribu meter pun sudah pasti celaka. Matanya menerawang entah kemana. Tidak mau beristirahat dan pulang ke rumah, jadi teringat dosa-dosanya katanya. Jadilah si kawan ini menggantikan tugasnya untuk menyupir, sekedar menemani sekaligus menjaganya.

Sudahlah, rasanya kopi dan sebungkus rokok itu biarlah tidak perlu dibayarkan padaku. Sudahlah, sebungkus rokok dan kopi itu kuikhlaskan untuk sedikit meringankan si bapak, rasanya hanya itu yang bisa kulakukan. Sudahlah. Biarlah. Terlalu dingin jadinya malam ini mendengarkan kedukaan semacam itu.

Si Tua itu.,

img_20161024_editedTidak banyak yang teringat dari malam itu. Malam yang biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak banyak juga yang bisa diingat rasanya. Sedikit saja hal yang aku rasa penting saat-saat ini. Kepala ini pun terlampau lelah untuk menampung banyak informasi. Bukan salah si kepala juga sebetulnya, tapi memang badan ini yang sudah terlanjur peyot. Di usiaku sekarang, aku sadar aku masih beruntung masih bisa sedikit bekerja, tidak banyak yang didapat memang, tapi kalau disimpan sedikit demi sedikit sepertinya lumayan jadi bekal buat cucuku.

Ah iya, cucuku waktu itu belum sebulan lahir. Ia adalah anak pertama dari putri sulungku. Manis sekali anak itu, kulitnya putih dan bersih, senyum kenesnya melukiskan garis lengkung di bibir keriput kami. Kehadiran anak itu jelas menambah bara semangat di badan perapian tua reyot ini. Saban hari sejak kelahirannya, aku jadi bekerja lebih awal dan pulang lebih larut.

Bandung lagi sering hujan kala itu. Tiap episodenya, berujung pada menggigilnya badan yang menggertakkan sendi-sendi tua tubuh ini. Sungguh, ada kalanya dingin begitu menusuk aku pun harus mengurungkan niatku untuk bekerja. Aku pikir, badan ini sudah terlalu merepotkan. Namun biar perlahan, badan ini terus kupaksa demi sang cucu yang amat kusayang itu. Biar meriang pun, aku tetap bertugas, payung dan jaket usang tak lupa kubawa dalam tugasku. Iya, aku ingat. Kala itu aku sedang tidak enak badan sebenarnya. Badanku terasa sakit semua, sendiku kaku bagai besi yang termakan karat menahun. Hujan zonder ampun terus turun semenjak siang tadi.

Selewat jam 9 malam kalau tidak salah waktu itu. Hujan ganti jadi gerimis, tapi biar kecil, gerimis terus bikin Balubur basah. Biar cuma rintik, air masih jadi musuh para motoris, jadi sedikit yang parkir. Aku jadi bisa istirahat dan duduk sebentar, lagipula dengkul kaki kananku mulai kumat sakitnya.

Saban malam jajanan kaki lima Balubur memang selalu jadi andalan mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang buat makan. Sambil aku pijat sedikit kaki ini, beberapa anak muda silih berganti datang membeli makan di warung tenda Bu Nur. Warung Bu Nur ini selalu ramai pelanggan, harga yang murah dan porsi yang besar bikin mahasiswa-mahasiswa jadi getol datang tiap malam.

Gerimis mulai mereda, tapi Balubur terlanjur larut dan mulai menyepi, Warung Bu Nur juga jadi mulai sedikit pembeli. Pelanggannya jadi berkurang. Ada juga Si ‘Neng geulis yang biasa datang agak pagi sekarang malah baru datang, mungkin karena tadi sorean masih agak deras hujannya. Si Neng ini hampir tiap malam beli makan di Balubur, kadang sendiri kadang sama teman-temannya. Orangnya baik, kelihatannya begitu, ia sering bercakap juga dengan Bu Nur waktu beli makanannya. Aku rasa umurnya tidak berbeda jauh dengan putriku.

Akan tetapi, Bu Nur kedatangan tamu lain selain Si Neng yang telat datang. Tidak berapa lama, datang sesosok tua bergontai masuk ke Warung Bu Nur. Si tua itu lusuh, kumel, basah dan bau. Lagaknya seperti orang gila, tapi peristiwa waktu itu bikin aku jadi berpikir sedikit lain soal kewarasannya. Rambutnya panjang dan menguban, jalannya sedikit menyeret, bisa jadi kakinya sakit seperti kakiku juga. Si tua itu membawa banyak kantung plastik di tangannya. Entah apa isinya, barangkali benda-benda aneh.

Si tua itu berhenti tepat di sisi meja dimana Si Neng duduk. Tangannya mengayun pelan kearah mulutnya, jemarinya dikatupkan menyuapkan udara seraya berkata lirih “makan…”. Minta makan ? Ucapannya pelan, aku tidak bisa mendengar dengan cukup jelas tapi geraknya berkata demikian. Bukan uang, hanya mau makan. Si Neng jelas menunjukkan rasa pedulinya dengan mengangguk, senyum dan kemudian bertanya “Ibu…, mau makan apa ?”

Nenek itu mengangguk dan dengan terputus-putus bilang “Sama … Samakan saja…”

“Bu, saya pesan nasi goreng spesialnya satu lagi yah..!” Si Neng sedikit berteriak memesankan makanan untuk nenek tersebut. Mengapa tidak minta uang saja, pikirku, bukannya begitu lazimnya? Si Neng kelihatannya mencoba mengajak mengobrol nenek itu terus. Mungkin ingin sedikit mengorek asal usul si nenek, mungkin ingin membantu si nenek. Entahlah.

Sedangkan aku, aku jadi termenung sedikit. Mungkin juga bisa dibilang terhenyak.

Si nenek itu, dipikir pikir, usianya sebenarnya tidak jauh berbeda denganku. Ah, malahan mungkin sama umur kita. Tapi coba lihatlah, aku sama si nenek itu. Dua orang tua dengan nasib yang berbeda sedikit saja. Sungguh ! Biarpun aku tidak compang-camping dan tidak mengemis, aku pun harus berjuang mati-matian untuk menghadirkan makanan saban hari. Belum lagi soal kontrakan rumah yang harus dibayar, soal hutang-hutang yang tak kunjung berkurang dan jangan lupakan juga soal kesehatan istriku yang semakin memburuk.

Pusing, bukan main pusingnya mengingat persoalan-persoalan itu semua. Bisa pecah kepalaku memikirkan itu semua. Demi Tuhan ! Mungkin lebih mudah hidup jadi orang semacam nenek ini. Iya toh, makan tinggal minta, tidur tinggal tidur, kencing tinggal kencing. Kalau bukan karena si cucu, bukan mustahil aku mengemis seperti si nenek itu.

MasyaAllah ! Si Cucu. Cucuku ! Itulah perbedaanku dengan si nenek tua ini. Itu !

Badan peyot dan renta ini jelas tidak sanggup bertahan selama ini kalau bukan karena istriku. Istriku yang terus menitipkan semangatnya lewat teh kelewat manis saban paginya. Anak-anakku, yang mana satunya telah melahirkan cucuku, yang terus menghadirkan cerita-cerita barunya untuk selalu zonder bosan kudengar. Merekalah yang bikin hidup ini jadi merasa mardika.

Mungkin begitulah nasib sang nenek ini. Bukan, sesungguhnya dia bukan pengemis dan bukan juga orang gila, dia masih bisa bercakap-cakap dengan Si Neng walau dengan terbata-bata. Ucapannya bisa dimengerti dengan baik. Dia bisa meminta makanannya untuk tidak dimasak dengan pedas dan malahan memberkati Si Neng berulang kali dengan ucapan terima kasihnya. Tidak, nenek ini jelas ditelantarkan. Nenek ini jelas kehilangan barang paling berharganya.

Nenek ini kehilangan keluarganya !

Cahaya Malam Indonesia

Indonesia_MalamHari1
Indonesia Malam

Lihatlah ! Indonesia pada malam hari. Citra ini adalah gambar komposit yang dikeluarkan oleh NASA menggunakan satelit SUOMI NPP yang diambil dari pertengahan April hingga akhir Oktober tahun 2012 lalu. Satelit NPP merupakan satelit berorbit polar (kutub) yang terbang 824 km diatas bumi. Dalam satu hari satelit ini terbang diatas satu area yang sama sebanyak dua kali, yaitu pada jam 01.30 dini hari dan 13.30 siang hari.

SuomiNPP2
Satelit polar Suomi NPP (http://www.jpss.noaa.gov/satellites.html)

Pandangan menakjubkan dari malam hari diatas bumi ini dimungkinkan oleh sensor VIIRS-nya. VIIRS merupakan singkatan dari Visible Infrared Imaging Radiometer Suite yang merupakan instrumen sensor untuk mendeteksi panjang gelombang cahaya hijau hingga (hampir) inframerah dan menggunakan filter untuk mengamati sinar redup seperti lampu kota, cahaya api, cahaya aurora, kebakaran dan pantulan sinar bulan. Dalam citra satelit ini, cahaya aurora, kebakaran dan cahaya semu (efek pembiasan, pantulan dsb) telah dihilangkan untuk lebih menampilkan cahaya lampu penerangan. Data yang didapatkan dari VIIRS ini kemudian ditumpangtindihkan pada citra Blue Marble Imagery untuk memberikan tampilan yang lebih nyata akan kondisi malam planet kita. Misi dari satelit ini ditangani langsung oleh NASA dengan dukungan dari NOAA dan sistem jaringan Joint Polar Satellite System.

SuomiNPP1
Bermacam instrumen yang dibawa dari satelit Suomi NPP (www.meted.ucar.edu/satmet/npp/print.htm)

Lihatlah Indonesia di malam hari ! Sekilas, bisa langsung terlihat ketimpangan antara wilayah barat dan timur Indonesia. Bahkan, di wilayah barat pun, Pulau Jawa tampak paling menonjol dibandingkan pulau lainnya. Pulau Jawa sangat terang, hampir semuanya diliputi cahaya lampu. Berbeda dengan Kalimantan yang hanya dipenuhi lampu di pinggir-pinggir pantai/sungainya. Kalimantan timur tampil paling terang dibandingkan kota Kalimantan lainnya. Predikat kota minyak sepertinya nyata terlihat dari jumlah lampu yang dinyalakan di Samarinda-Balikpapan. Sumatra, meskipun banyak kota besar seperti Palembang, Medan dan lainnya, pulau ini tetap tidak berlampu di banyak wilayah lainnya. Di bagian timur Indonesia, jelas perbedaannya, hanya di kota-kota besar yang tampak kegiatan di malam hari. Selain itu, kegelapan malam dominan meliputi kepulauan di timur Indonesia.

Indonesia_MalamHaribarat
Indonesia bagian barat di malam hari

Pulau Jawa malam hari adalah pulau besar yang paling terang di seantero Indonesia. Terlihat simpul-simpul cahaya yang jelas berurat di Jakarta sebagai ujung baratnya dan Surabaya sebagai simpul cahaya di ujung timur. Jakarta sebagai sebuah ibukota nampak sebagai sebuah kesatuan raksasa dari kota-kota sekitarnya seperti Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Diantara kedua kota itu, terlihat sebuah garis cahaya tipis memanjang dari Merak hingga Surabaya di pantai utara Pulau Jawa, itulah jalan pantai utara Jawa.

Indonesia_MalamHaritimur
Indonesia bagian timur di malam hari

Di Jawa Barat, Bandung menjadi simpul cahaya bagi kota-kota sekitarnya seperti Garut, Subang, Cianjur, Sukabumi, Cirebon dan kota lainnya. Jawa tengah mempunyai tiga simpul cahaya yang khas yang dikenal dengan Kota Yogyakarta, Kota Solo dan Kota Semarang. Pola radial simpul cahayanya pada ketiga kota tersebut menjadi magnet pergerakan wilayah sekitarnya. Terangnya Surabaya di Jawa Timur nampak menyaingi Jakarta dan nyata menjadi gerbang timur Indonesia. Malang, sebagai kota yang dingin dan asri tampak terhubung dengan jalan yang terang dari Surabaya, sepertinya banyak warga Surabaya yang senang ke Malang. Surabaya juga menjadi magnet bagi warga Pulau Madura, dekatnya Surabaya menjadikan Pulau Madura ini cukup terang di malam hari.

Jawamalam
Terangnya Pulau Jawa malam hari

Pulau Sumatra malam hari adalah pulau yang cukup gelap, kontras dengan kebesaran nama kota-kota besarnya. Jalan penghubung antar kota sewaktu malam terlihat temaram, berbeda sekali dengan jalan pantura Jawa. Simpul-simpul cahaya yang menjadi magnet bagi masyarakat Sumatera terfokus pada kota besarnya. Di selatannya, Bandar Lampung menjadi cahaya penyambung dari Pulau Jawa menuju Sumatera. Di tengah pulau terdapat Palembang, Jambi dan Pekanbaru sebagai titik-titik besar cahaya. Sedikit ke utara, Medan nampak jelas benderang dan urat cahayanya menyebar ke segala arah hingga ke Banda Aceh. Di bagian barat, atau di pantai barat Pulau Sumatera, hanya tampak Kota Padang yang menjadi pokok cahaya nya. Mayoritas pantai barat ini masih tertutupi kegelapan malam, meskipun ada titik cahaya Bengkulu di selatannya dan titik cahaya Sibolga serta Meulaboh di utara Padang. Kegelapan ini jelas sekali kalau kita lihat di pulau-pulau seperti Mentawai dan Nias.

Sumatramalam
Pulau Sumatera malam hari.

Kalimantan malam hari jelas benderang berada pada kota-kota pesisirnya, baik pesisir pantai atau pesisir sungai besarnya. Di timur, Kota Balikpapan dan Samarinda sudah tidak perlu ditanya lagi bagaimana caranya menghidupi lampu sedemikian banyak itu. Di selatannya terdapat percikan-percikan cahaya yang cukup merata antara Banjarmasin hingga Samarinda.  Di barat, cahaya Kota Pontianak menjadi pesaing Kota Kuching di Malaysia, keduanya bersinar hampir sama terang. Selain kota-kota tersebut tampak Pulau Kalimantan masih redup. Memang banyak titik cahaya kecil yang tersebar di pulau ini, mungkin itu bukan hanya kota/kampung tapi juga (sepertinya) area pertambangan.

Kalimantanmalam
Kalimantan malam hari.

Di Bali dan Nusa Tenggara (Barat dan Timur) yang nyata terihat benderang adalah Pulau Bali dan Lombok. Di Bali, megahnya cahaya Kota Denpasar hingga silaunya Jalan Legian semakin menyebar ke arah utara dan barat pulau Bali. Pertumbuhan Pulau Bali jelas terlihat dari terang cahaya lampu malam harinya. Di Lombok, Kota Mataram menjadi cahaya penerang dan pembuka ke daerah timur  lainnya, jalan lintas pulau ke sisi Lombok timur terlihat jelas terangnya. Titik penyeberangan di Sumbawa menjadi penyambung cahaya dari Pulau Lombok. Di pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya, simpul-simpul cahaya hanya terlihat pada kota-kota besarnya. Apakah anda tahu nama titik-titik kota itu.. ??

Sundakecilmalam
Sunda kecil malam hari.

Pulau Sulawesi mempunyai empat simpul cahaya paling terang yang bisa dikenali dari kotanya. Pertama, Kota Makassar di sisi selatannya, kedua, Kota Manado dengan jalan raya Manado-Bitung yang terangnya, ketiga, Kota Palu dengan teluk huruf U khasnya. Terakhir, atau yang keempat, ada seberkas cahaya terang dekat Kota Wotu di Sulawesi Tenggara. Dari penampakannya, cahaya terang tersebut berasal dari Danau Matana. Kurang diketahui penyebab cahaya terang tersebut, bahkan cahaya Kota Kendari pun kalah terang dengan cahaya tersebut.

Sulawesimalam
Sulawesi malam hari.

Terang Maluku dan Papua jelas berbeda dari pulau-pulau Indonesia lainnya. Terangnya terlihat hanya pada kota-kota besarnya. Garis cahaya Kota Ambon dan Kota Sorong menyinari pulau-pulau sekitarnya. Cahaya berbentuk huruf U yang mirip dengan Kota Palu sangat khas terlihat di Kota Ambon. Di selatan Kota Sorong terlihat beberapa berkas cahaya menerangi wilayah sebagian Raja Ampat. Di sisi timur dekat perbatasan, Kota Jayapura menyinari sebagian wilayah perbatasan Indonesia. Di tengah-tengah Papua, kota pertambangan Tembagapura dan Timika bersinar terang memancarkan warna emasnya. Hal yang cukup mencurigakan adalah percik-percik cahaya yang berada di selatan Kepulauan Aru. Cahaya-cahaya tersebut nampaknya berada di perairan dekat pulau, apakah itu armada-armada kapal ? Jika iya, armada kapal apakah yang berada diperairan itu ? Apakah ini pertanda armada kapal penangkap ikan yang sering mengambil ikan di wilayah Indonesia tanpa ijin?

MalukuPapuamalam
Maluku dan Papua malam hari.

Referensi :

  1. http://earthobservatory.nasa.gov/NaturalHazards/view.php?id=79790
  2. http://earthobservatory.nasa.gov/NaturalHazards/view.php?id=79765&eocn=related_to&eoci=related_image
  3. http://npp.gsfc.nasa.gov/
  4. http://www.nasa.gov/mission_pages/NPP/main/index.html
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Suomi_NPP
  6. http://visibleearth.nasa.gov/view_cat.php?categoryID=1484
  7. http://earthobservatory.nasa.gov/Features/BlueMarble/