Teuna Senggelisa

2015-08-08-19-13-49Peradaban manusia selalu bermulai dari air. Air adalah sumber kehidupan. Kota-kota besar di dunia didominasi oleh kota-kota yang berbatasan dengan air, apakah itu air laut, danau maupun sungai. Serupa juga di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Pontianak hingga Jayapura berada di dekat air.

Kota-kota besar sejatinya adalah sebuah desa/kampung yang besar yang dahulunya adalah hanya sebuah kampung kecil yang biasa-biasa saja. Di Indonesia, serupa juga dengan banyak tempat lain di dunia, kampung-kampung kecilnya masih banyak yang merupakan kampung pesisir laut atau kampung sungai. Khusus di bagian Indonesia sebelah timur sana, rasanya kampung pesisir laut lebih mendominasi dibandingkan kampung sungai.

Di kampung pesisir tersebut, hidup serasa berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar. Pagi dimulai bukan dengan bunyi gerung mesin atau klakson tapi cuitan nyaring burung atau unggas yang kelaparan. Matahari yang mendoyong, menegak dan mendoyong lagi di sore harinya selalu dirasakan setiap penghuni kampung yang mengisi hari-harinya dengan mengerjai tanah dan airnya.

2015-08-08-19-15-31

Benda-benda angkasa bagi masyarakat kampung pesisir merupakan sebuah “bel sekolah” yang menjadi acuan aktivitas hariannya. Matahari pagi dan sore sudah jadi absensi sidik jari bagi masyarakat kampung pesisir. Pada jam-jam tersebut tertuang waktu-waktu untuk sedikit merenung dan menikmati, waktu-waktu yang sering dilupakan masyarakat di kampung-kampung mahabesar.

Senja di pesisir menjadi waktu kesukaan banyak orang, matahari yang merebah memberikan permainan warna yang indah. Warna suasana yang membolehkan masyarakat untuk berkumpul sejenak. Beristirahat dari aktivitas yang melelahkan seharian tadi.

Untuk bermain, untuk duduk mengobrol bersama, untuk menikmati sore ditemani minuman hangat, bersama-sama di Teuna Senggelisa.

Menit-menit senja kala

Waktu berjalan terus, tentu saja. Iya, semua juga tahu. Tapi pernahkah situ mengamati pelan-pelan dan rehat sejenak menikmatinya. Hmm…kalau situ pemikir/perenung tingkat tinggi pasti situ sudah pernah dan mmm…barangkali bosan. Kalau situ belum pernah, cobalah sekali-kali dan nikmati keheningan serta keagungannya. Lebih baik lagi bila ditemani dengan pemandangan alam yang adiluhung.

Kala itu, saya berkesempatan menikmatinya diatas bukit yang cukup tinggi. Pandangan diarahkan ke alun gelombang dibawah sana, alun gelombang Samudera Hindia. Matahari perlahan menurun seakan enggan namun toh dia tenggelam juga. Bulatan kuning besar itu seakan perlahan hilang ditelan laut. Kala itu prosesnya memakan waktu sekitar 6 menit, namun lamunannya seingat saya berpuluh kali lipat dari waktu itu.  Megah sekali (senjanya, bukan lamunannya).

NB :

Video ini diambil pada koordinat geografis : -1.341000 LS, 100.574310 BT