Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.

Advertisements

Leg 1 : Terpapas dan teranggul gelombang

“Jadi yang ikut kapal siapa aja, Fad ?“ Suara Pak Ari Tayra memecahkan kesibukan di dermaga.

“Saya, Dani, Toni sama Anggi dan Ani Pak jadinya, kita sebentar saja sih, cuma meninjau cepat lokasi yang cocok untuk ADCP dan penyelaman nanti. Kalau sempat kita pasang GPS soundernya di Menjangan nanti.”

“Oh ok, jadi berlima saja yah, iya bagus itu buat Anggi sama Ani biar bisa belajar sama kamu ‘Fad”

“Iya pak, biar latihan jadi asisten tahun depan. Bapak mau ikut nih?

“Ah tidak dulu, saya mau di sini saja, melihat yang pasang pasut sama kalibrasi CTD nya.”

Apa, asisten ? asisten praktik survei oseanografi ? di tahun depan ? Apa tidak salah omongan mereka. Itupun kalau aku masih hidup dan selamat dari perjalanan sore ini. Kapal yang sudah bersandar di dermaga itu jelas tidak besar dan tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan yang mengutamakan kenyamanan. Perahu ini, Tirta Dewata 2 namanya, adalah perahu yang digunakan untuk menghubungkan dan mengangkut apapun dari/dan menuju keramba ditengah untuk keperluan budidaya mutiara. Pak Wayan, yang mencarikan kapal ini, pada akhirnya juga bercerita bahwa kapal utamanya digunakan untuk keperluan budidaya tapi sesekali ketika musim turis tiba, perahu ini dipakai juga untuk mengantar wisatawan ke Pulau Menjangan. Singkatnya, kapal ini sebenarnya adalah ojek air, bukan kapal survei. Bodi kapalnya sudah mulai melapuk dan palkanya sedikit tergenang oleh air dan oli, baunya lebih mirip kuburan ikan daripada kapal survei. Akan tetapi, sekali penglihatan, Bang Fadil sudah merasa nyaman dengan kapal ojek itu sedangkan aku masih termangu di pinggiran dermaga.

Ani langsung melompat ke dalam perahu, begitu juga Bang Fadil. Bang Dani setengah berteriak bilang kepadaku untuk mengoper pelampung dan peralatan lain ke kapal.

“Ayo, kenapa diam saja seperti habis ikut kuliah gelombang, ini sudah mau berangkat kita. Keburu sore nanti.” Seperti biasa, kerasnya suara Bang Fadil melebihi suara mesin yang mulai menderu. Mungkin itu sebabnya dia selalu seakan berteriak yah. Terlalu tuli dengan suara mesin.

Ani menggandeng tanganku seraya aku meloncat sedikit ke haluan kapal. Aku langsung memegang tiang atap perahu dan duduk bersandar di tiang haluan, di muka kemudi dekat jangkar berkarat pengundang tetanus. Pelampung telah kupakai, sebenarnya ingin aku melepasnya, karena yang lainnya tidak memakainya. Tapi aku masih takut.

“Tenang saja ‘gi, ini tidak lebih menyeramkan daripada kora-kora di dufan. Ani, jaga yah itu temen kamu !”. Ucapan Toni ini jelas bukan ucapan yang menenangkan, naik kora-kora di dufan saja aku tidak berani apalagi naik perahu sekecil ini di laut penuh gelombang begini.

Pikiranku kualihkan pada GPS Oregon yang telah kunyalakan untuk melihat posisi kita di laut nanti. Angka koordinatnya dan tampilan jarum posisinya belum berubah karena kita masih belum jauh dari dermaga. Perlahan Tirta Dewata berjalan pelan keluar dari area dermaga, mengayun perlahan sesuai alun gelombang. Cuacanya baik kata pak kapten, ombaknya masih kecil. Ya menurut dia. Menurutku, ini lebih mirip gelombang badai, angin kencang dan haluannya teranggul-anggul. Cipratan air sewaktu perahu memapas ombak sesekali mengenai kening dan membasahi geladak.

IMG_2549

Aku masih duduk bersandar pada tiang perahu, memperhatikan lebih teliti layar 4 inci GPS Oregon yang merekam pergerakan perahu daripada melihat suasana perairan sekitar. Dermaga tadi telah aku tandai dan jalannya perahu yang digambarkan melalui tanda segitiga terekam secara otomatis.

“Sip, dilihat terus yah, nanti langsung ditandai saja kalau kita menemukan titiknya. Jangan sampai hilang sinyal ! Okey.”  Bang Fadil kali ini benar-benar berteriak karena suara mesin semakin bising.

“Ok.” Cuma itu kata yang keluar dari mulutku, tangan kiriku memegang GPS, tangan kananku memegang tiang. Sesekali juga aku memandang laut serta angin yang meniup wajahku, agak jauh didepan Pulau Menjangan terlihat bagai oase. Kaki ini sudah merindukan daratan. Tapi, bau laut cukup memberikan efek penenang kalau tidak sedang mencium bau asap solar serta bisingnya mesin Yanmar kuno itu.

Setidaknya itu yang kurasa sebelum kapal berhenti dan mesinnya dimatikan. Kami sudah sampai di belakang Pulau Menjangan. Kami berhenti sekitar 200-300 meter dari sisi pantainya. Disini menurut kapten adalah tempat yang sering jadi snorkeling atau selam. Kapal mulai bergerak tidak karuan, menurut saja pada angin dan arus yang membawanya. Kepalaku mulai pusing dan rasa mual mulai timbul di perutku.

Airnya biru sebiru air yang jernih sejernihnya seperti yang sering kulihat di layar ponselku melalui instagram. Dari atas perahu kami melihat bahwa di kedalaman terdapat formasi karang yang cukup besar dan sepertinya cukup luas. Cuma warna biru itu yang bisa menghiburku di tengah-tengah keringat dingin yang mengucur di kening dan kelenjar ludah yang terasa terlalu banyak.

“Tandai ‘Gi ! ini sepertinya lokasi yang cukup bagus buat pasang ADCP nya sekaligus juga titik selam kita. Ada sebidang pasir disitu yang cocok untuk menanam alat kita. Ani, foto itu sekarang, mumpung agak tenang arusnya.”

“Foto, memangnya ini kameranya underwater bang?”

“Bukan itu, itu yang ada di kantong dry bag, ada kamera underwaternya. Coba celupkan di sisi kanan dan kiri kapal ini dan foto saja, biar bisa nanti kita tinjau di pondokan.”

Ani melakukan apa yang Bang Fadil minta dan mengambil foto beberapa kali. Sedang kepalaku semakin pusing dan pusing. Kulepas pelampungku karena rasanya terlalu menekan dadaku. Perutku juga semakin mual, kepalaku menjulur di sisi kapal siap memberi makan ikan, tapi rasanya belum begitu final untuk kutumpahkan. Aku membeku.

“Ok Mantap !, kita gerak lagi ke titik selanjutnya, masih ada beberapa titik lagi. Ayo kep, kita mulai gerak saja.”

Sejurus kemudian kapal bergerak pelan menuju titik selanjutnya, titik ini agak dekat dengan titik yang pertama tadi, titik ini juga lebih dangkal, mungkin sekitar 5–7 meter. Serupa dengan lokasi sebelumnya, air disini jernih dan menjanjikan untuk menanam alat dan penyelaman karang. Sauh diturunkan. Bang Toni serta Bang Dani bersiap turun untuk memeriksa lokasi ini. Entah apa alasannya Bang fadil memutuskan untuk buang sauh disini dan memeriksa langsung airnya, konsentrasiku buyar ditelan liur asin yang berkali-kali kubuang ke air.

“Ayo Gi, ikut turun biar segar, sekaligus mandi sore”. Ajak Dani yang rasanya lebih mengejek daripada mengajak.

“Sudah, jangan diganggu dulu, masih untung belum muntah dia sekarang.”

“Ayo Ni, cepat turun, itu jangan lupa kamera underwaternya selalu dikalungkan di lehermu biar tidak jatuh,  dan jangan jauh-jauh dari Dani ok.”

Dani, Toni dan Ani semua sudah di air, tinggal aku dan Bang Fadil di kapal. Titik ini kutandai seadanya, yang penting tersimpan di GPS. Satu-satunya hal yang belum jelas adalah giroskop kepalaku yang masih limbung. Mual di perutku juga belum reda. Keringat mengucur di keningku dan angin sakal yang bertiup membuat badanku dingin, padahal matahari masih terik walau sudah mendoyong mau tenggelam.

Beberapa menit berdiam, kapal semakin menari dengan liar mengikuti cuaca yang semakin temaram. Angin juga semakin kuat, aku kenakan kembali pelampung agar hangat.  Bang Fadil menawariku sebungkus oreo atau jeruk untuk kukunyah. Katanya biar liurku ada rasanya, daripada rasa lambung yang masam terus membuat mual, kan lebih baik rasa coklat oreo. Teori yang tidak masuk akal, tapi wangi jeruk memang lebih segar, jadi jeruk saja yang kumakan.

“Arusnya kuat bang di bawah, dan tidak ada tempat datar seperti yang pertama tadi. Dasarnya miring dan menurun. Sulit menaruh disini dan malah bisa bergeser nanti.”

“Okey. Kita evaluasi nanti, bahaya kalau alat kena arus kuat dan bergeser, bisa hilang  ADCPnya nanti. Sudah, cepat naik dan kita bergeser ke posisi berikutnya. Kata kep, ada 2 tempat lagi yang potensial.”

Tiga kali lagi kami berhenti di lokasi lain, Pulau Menjangan sudah dikelilingi, salah satu lokasi titiknya dekat dengan dermaga Pulau Menjangan, agak riskan juga katanya meletakkan alat didekat dermaga itu. Takut hilang oleh tangan jahil tepatnya. Tidak banyak yang kudengar saat itu, pergulatan dengan mual dan pusing masih berlangsung meskipun sebenarnya tidak memburuk namun juga belum membaik.

Waktu menunjukkan pukul 17.35 saat kami berlayar pulang setelah singgah di titik terakhir di dekat dermaga Menjangan itu. Aku memandang melongo melihat matahari yang berpamit selama perjalanan pulang kami. Semua memandang cantiknya matahari yang semakin tenggelam. Ani dan yang lain jelas mulai memotret dan berswafoto. Sedang aku telah kelelahan memerangi mabuk laut ini, namun memang matahari yang terbenam jadi satu-satunya penghiburku  dari trip horor kali ini.

IMG_4499

Setiba didermaga, kelompok 2 tampak berfoto-foto dengan sunset padahal matahari sudah melewati ufuk. Aku terhuyung lemas turun dari perahu. Kakiku gemetar sehingga aku memutuskan untuk menunda pulang dan berisitirahat di dermaga dengan kelompok 2 ini. Kelompok dua ini bukan tanpa alasan menongkrong manis di dermaga, tapi memang sudah jamnya mereka untuk menjaga stasiun pasang surut baik yang otomatis maupun yang dari palem. Bacaan dari palem pasut dibaca setiap setengah jam dan bacaan dari pasut otomatis dicek setiap 3 jam sekali. Penugasan ini berlangsung setiap 6 jam. Kelompokku, kelompok 1, kebagian bertugas besok jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Kepalaku masih sedikit bergoyang saat Ahmad dari kelompok dua mengantarku pulang ke pondokan. Di pondokan, suasana ramai dengan kesibukan. Kami sebagai peserta mulai sibuk untuk menyiapkan kegiatan survei besok paginya. Sebagian menyiapkan peta dan formulir-formulir survei. Sebagian berlatih mencoba total station, echosounder atau alat survei lainnya ataupun membaca manual dan prosedur pengamatan. Aku tidak peduli, aku mau mandi dan istirahat sampai esok tiba. Saat ini, laut dan oseanografi tampaknya bukan untuk diriku.

Leg 1 : Cahaya Bali di Teluk Terima

Tidak lama setelah pemeriksaan KTP yang rada percuma di pelabuhan tadi, jalan menjadi gelap dan tanpa terburu-buru bus kami berbelok menuju sebuah jalan yang lebih kecil hingga akhirnya berhenti di pelataran sebuah pondokan yang lumayan besar. Temaram terang jalan tidak mengurangi keindahan bangunan ini, tampak megah dan malah angker layaknya sebuah pura pertapaan besar. Beberapa orang keluar dari pondokan untuk menyambut kami, dua orang tampak tidak asing, Ibu Berliana dengan Pak Ari Tayra rupanya sudah datang terlebih dahulu. Mereka keluar berbarengan dengan seorang pria Bali paruh baya. Bagaimana aku tahu dia orang Bali? Logat Balinya memberi jawaban itu. Mereka menyambut kedatangan kami, atau lebih tepatnya menyambut Ibu Susi dan tim asisten serta anak-anak centil lainnya. Aku ? Aku masih merapikan tasku dan mencari earphone ku yang rasanya terselip di kursi bus. Ani dan lainnya seperti biasa, berswafoto dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bang Fadil juga seperti biasa, mulai geram melihat anak-anak yang malas dan mulai meneriaki, ehm..mmm, memberitahu peserta untuk membenahi barang-barang survei untuk segera dibawa masuk ke pondokan.

Tomi dan Abdi serta yang merasa lelaki sudah membawa boks berat echosounder, tabung-tabung oksigen serta perkakas survei lainnya. Aku dan ekorku, Ani, membawa seperangkat snorkel dan pelampung. Alat-alat survei itu ditumpuk begitu saja di bagian ujung pendopo tersebut, Bang Fadil bersama Kak Danu kemudian mengecek ulang alat-alat tersebut, memastikan tidak ada yang tertinggal di bandung atau di bus, maksudnya itu, lebih memastikan kalau tidak ada yang tertinggal di bus.

Kami semua duduk di tengah pendopo tersebut di kursi dan meja makan yang sudah tersusun rapi dengan hidangan prasmanan yang terpisah di meja samping. Hanya ada satu hal yang menghalangi kami untuk langsung melahap habis itu semua, Bu Berliana dan Bapak Bali yang berdiri rapi didepan dan mulai memberi sambutan. Delapan belas menit setelah pukul sembilan malam Waktu Indonesia Tengah ditunjukkan oleh jam dinding yang ada di pendopo, badan yang lelah dan wangi menggoda dari ikan bakar serta ayam betutu jelas waktu yang sangat sesuai untuk sebuah sambutan. Tentu saja, sambutan ini samar-samar kudengar karena mata dan pikiranku dengan cepat melayang pada halaman belakang pondokan ini. Halaman belakang pondokan ini berbatasan langsung dengan pantai dan debur gelombangnya. Malam itu cukup berangin, hantaman gelombangnya menderu cukup kencang. Perahu-perahu yang berjajar rapi disana tampak beristirahat, tertidur dari perantauan sehari-harinya. Satu, dua, tiga… delapan, hantaman gelombang itu terdengar setiap delapan detik. Periodenya delapan detik? Malam ini kurasa juga sedang pasang purnama, ombaknya terlihat sedikit menciprat badan-badan kapal itu. Lelah benar-benar merasuki pikiranku, aku melamun soal periode gelombang dan pasang surut.

“Nggi, nggi, ayo makan yok, bengong aja..!!” Ani menyengggol kakiku mengajakku makan. Wejangan telah selesai dan teman-teman ternyata sudah mengantri makan.

“Ayo ‘nggi makan yang banyak, besok kita sibuk lho”. Bang Fadil dengan mulut yang mengunyah bicara kepadaku padahal aku baru saja duduk dan hendak menyuap paha betutu.

“Oh, jam berapa bang besok ?” Ani langsung menyambar.

“Sore, besok kita pulang cepat dan langsung ke dermaga setelah keliling balai tamnas. Lho, Memangnya tadi tidak dengar omongan Bu Susi?”

Ani tertawa kecil, rupanya dia juga tidak mendengar omongan tadi. Besok sore aku sama Ani jadi ikut Bang Fadil untuk cek perahu dan lokasi, seketika ayam betutu di kerongkonganku menjadi terlalu kesat.

Selesai makan kami semua langsung menuju kamar sesuai pembagian yang telah diatur, badan ini terlalu lelah, tanpa peduli aku langsung berbaring dan menggulung badanku di tempat tidur. Aku hanya ingin berbaring dan mendengar kembali suara debur ombak itu sayup-sayup sampai tertidur.

Pukul enam pagi. Sepertinya begitu, alarmku selalu berbunyi tepat jam 6.07 pagi, atau 6.17 atau 6.27, aku lupa sudah berapa kali kupencet tombol snooze itu. Debur ombak itu masih terdengar namun lebih pelan suaranya dibanding tadi malam, sepertinya sedang surut. Ani masih tertidur, Ayu sepertinya sedang di kamar mandi. Begitu jendela kubuka, dengan segera cahaya hangat menyentuh kulitku dan aroma asin laut menyeruak masuk dihidungku. Damai sekali suasana pagi begini.

Jam 7 kami sarapan dan sebelum jam 9 kami semua sudah berangkat menuju tamnas. Pak Raka dan beberapa petugas tamnas sudah datang ke pondokan sekaligus ikut sarapan tadi. Dari pondokan ke balai tamnas tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit. Di balai tamnas itu tentu saja tentu saja terdapat sambutan-sambutan lagi. Power point membosankan dan foto bersama yang menyebalkan. Pikiranku jadi melantur lagi ke acara pra survei nanti sore, apa nanti ada pelampungnya dikapal ? apa nanti terlalu besar gelombangnya? Apa nanti aku akan muntah, seberapa besar kapalnya sih…oh mudah-mudahan bukan sampan bercadik itu kapal yang dipakai. Apa aku harus berenang nanti? Bagaimana kalau aku jatuh dari kapal?

Sambutan demi sambutan dan presentasi-presentasi terasa singkat dalam sebuah lamunan, untungnya pada jam 11 kunjungan ini diselingi dengan keliling balai tamnas yang memelihara dan merawat beberapa satwa dan flora yang dilindungi di tamnas ini. Sekitar jam 12 lewat makan siang telah terhidang dalam puluhan kotak, arena makan siang bertempat di pelataran belakang aula yang menghadap langsung ke laut. Memandang laut sambil makan siang begini membuatku melupakan kenyataan yang akan menyergapku nanti sore. Angin sendalu meniup wajah, menghela keringat kekhawatiran. Baru aku menyadari indahnya laut yang berpadu padan dengan putihnya pasir pantai. Air biru cerahnya menggoda nalar untuk merasakan segarnya, meskipun aku baru ini saja bisa berenang.

Berbulan-bulan bergulat membicarakan gelombang, arus, dinamika fluida dan fenomena laut lain melalui rumus-rumus fisika abstrak pada ketinggian 700an mdpl di tengah Pulau Jawa lalu melihat pemandangan nirwana seperti ini ibarat seorang penduduk neraka yang diberi kesempatan makan es krim Baskin Robbins. Oh, enak sekali kalau ada es krim disini. Iya, surga yang sesaat, toh, Agustus nanti, semester baru dimulai dan algojo-algojo itu siap menghantamku kembali dalam mata kuliah yang bernama kolokium.

Selesai makan siang, kita bergerak dalam beberapa rombongan melihat area hutan konservasi yang dikelola taman nasional disini. Melihat area taman konservasi ini, rasanya sah-sah saja A.R Wallace Bulan Juni tahun 1856 lalu menyebut Bali adalah daerah yang sangat indah, yang sama dan bahkan melebihi keindahan eropa. Tidak berapa lama kunjungan yang singkat itu selesai dan kami semua kembali ke pondokan untuk memulai rangkaian survei oseanografi di Teluk Terima ini.

“Nggi, jangan lupa bawa kamera yah”. Ani duduk disebelahku di bus menuju pondokan.

“eh buat apa ?”. Wajahku berlagak pilon, padahal grogi menggerogoti tulang belakangku.

“Ya buat foto-foto nantilah, kan perlu buat difoto-foto. Sekaligus kita bisa foto-foto juga kan. ”

“Iya, cerewet.” Ungkapan terakhir Ani hampir tidak kudengar, pikiranku pergi jauh, tertutup oleh bayangan menyeramkan trip sore nanti.  Hmm. Cahaya Bali. Akhirnya aku tahu nama nama pondokan ini, mengapa dinamakan Cahaya Bali yah ? pikiranku menggusar mencoba menyingkirkan kegalauan.

“Nggi, nanti kamu yang pegang GPS nya yah. Bisa kan pegang GPS nya. Tandai posisi-posisi yang ditinjau nanti. Malamnya kita lihat sama-sama di peta yah” kata Bang Fadil sebelum aku ke kamar, Ani malah sudah ngeloyor duluan.

“GPS yang mana yah” Wajah pilon ku keluar lagi.

“GPS yang kemarin lah, Garmin Oregon. Kan sudah diajari kemarin.”

“Iya, yah. Iya. Terus bawa apa lagi. Bawa pelampung kan.”

“Ya jelas dong, itu sih safety procedure. Kamu mau coba snorkeling ? Hitung-hitung latihan, kemarin kan hanya di kolam renang saja. Oh ya. Bilang sama Ani juga, nanti kumpul di pendopo jam 14.30, sudah siap semua dengan barang-barangnya. “

“Ok.”. Aku diam saja dan asal mengangguk.

14.25. Aku sama Ani sudah di ruang pendopo, lengkap dengan perlengkapan masing-masing, hanya saja tasku terlihat lebih menggembung dibandingkan tas Ani. Rasa-rasanya tas Ani isinya hanya dompet, air minum dan cemilan saja, bandingkan dengan tasku yang besar isinya mulai dari obat-obatan hingga dua pasang baju ganti dan jaket tebal.

DSC06495

“Ok. Kita berangkat. Bawa apa saja tuh, berat amat kelihatannya ‘Nggi ?” Bang Fadil menyapa kita dari luar pondokan, rupanya dia sudah siap diluar dengan Dani dan Toni beberapa menit lalu. Pelampung, snorkel, GPS dan kamera semua sudah siap ditenteng menuju dermaga.

Sebagai koordinator asisten praktik survei, Bang Fadil jelas lebih berpengalaman, tapi area Taman Nasional Barat Bali baru kali ini dipakai untuk praktik survei oseanografi. Adapun alasan lokasi ini dipilih karena adanya penelitian dari Ibu Susi dan Pak Ari Tayra soal kondisi oseanografi di taman nasional. Entah penelitian apa, aku tidak mengerti, menyangkut soal produktivitas primer dan sirkulasi lautnya lah. Yang jelas, kami semua dibawa kesini sebagai pelaku survei untuk penelitian itu sekaligus jadi ajang praktik mata kuliah survei oseanografi. Lebih pentingnya lagi, kami semua adalah tenaga gratisan bagi penelitian dosen-dosen itu.

“Buku Boas sama Pond&Pickard Bang !” jawabku sekenanya. Pecah juga tawa mereka, berkomentar mengenai kuliah-kuliah absurd yang kami ambil. Bagus! Biarlah mereka semua bercanda dan biarkan aku berkonsentrasi penuh untuk perjalanan perahu nanti. Jalan menuju dermaga sebenarnya hanya sekitar 10 menit saja, tapi dengan bawaan kami yang cukup banyak, pelampung, snorkel dan fin, kamera hingga cemilan, belum lagi tasku yang berat ini perjalanan menuju dermaga jadi terasa lebih lama, atau itu hanya perasaan deg-degan ku saja yah?

Pada dermaga sudah ada Dito, Ayu dan beberapa teman seangkatanku dari kelompok 2. Mereka sedang berlatih memasang alat pasang surut otomatis serta palem pasut sebagai cadangannya. Dito jadi asisten yang melatih alat pasang surut sedangkan ayu berlatih kalibrasi CTD serta Current meter untuk praktik besok. CTD seabird 37 dan Valeport Midas WLR menjadi raja dan ratu di dermaga ini karena baik praktikan dan asistennya tampak memegangnya dengan terlalu hati-hati ibarat keris keramat. Tidak berapa lama Pak Ari muncul juga di dermaga, mengawasi jalannya asistensi dan memperhatikan agar raja dan ratunya tidak rusak akibat ulah amatir.

Leg 1 : Jalan Empat – Selat Bali

Samar-samar bunyi burung yang bersiulan bersahutan membangunkanku, kukira setidaknya bayangan itu lebih baik, daripada realita faktual kalau guncangan-guncangan kasar si Ani lah yang bikin aku terbangun. Suara paraunya jelas berbeda dari nyanyian-nyanyian burung.

“Anggi, bangun..bangun…!”

Iya. Oke. Ya ampun suaramu ‘Ni, aku menepis tangannya dari bahuku.

“Dimana kita ‘Ni? ”

“Sudah sampai di Pelabuhan Ketapang dong. Tuh, lihat sendiri.”

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Begitu bunyi tulisan besar yang tampak di luar dari kaca jendela bus. Tapi kepalaku masih pusing, mungkin karena bolak balik tidur-bangun-tidur-bangun sepanjang perjalanan. Perjalanan darat dari Bandung sampai ujung Jawa ini begitu melelahkan dan aku habiskan dengan tidur dan membaca buku saja. Iya, sesekali aku mengobrol dengan Ani, Ira, Ayu dan yang lainnya, tapi selebihnya earphone kusangkutkan di telinga lalu selesailah sudah.

Tinggal aku, musik dan bukuku, atau tidur.

“Anggi, ayo…kita sudah masuk kapal nih, tidak ada yang boleh diam di bus selama didalam ferry. Semuanya mesti turun”.

Ani ini temanku yang paling cerewet, bicaranya juga terlalu cepat untuk kuikuti, kadang aku hanya mengangguk-ngangguk saja, mengiyakan untuk entah apapun yang ia bilang. Seperti sekarang ini, kepalaku masih pusing dan sedikit linglung tapi ia terus saja mengoceh dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh penafsir bahasa isyarat.

“Lho, kan biar didalam bus kita tetap didalam kapal. Mau keluar bus juga tetap dikapal. Jadi kenapa mesti keluar bus ‘Ni ?”

“Ugh, biar bisa lihat pemandangan. Biar gak bosen. Sama disuruh Bu Susi keluar juga he he he.”

Perasaanku sebenernya cenderung was-was, ini pertama kalinya aku naik kapal ferry. Baiklah. Aku cemas, tapi, barangkali wajar sedikit cemas . Bagaimana tidak, berada pada sebuah wadah apung kecil diatas kolam air besar dengan belas kasihan arus selat dan terpaan angin kencang, yang tidak pernah berhenti diam membuatku sedikit ragu. Tenggelam, jelas merupakan salah satu pikiran yang terlintas.

“Ayo ‘Nggi, kita ke atas. Kita cari spot buat lihat sunset, sebentar lagi kan mau sunset nih. Bawa kamera kan..”

“Kamera ? hp saja lah, pake hape cukup kok”. Jawabku sekenanya.

Ani mengajakku untuk melihat sunset, sedang mataku tertuju pada pelampung-pelampung oranye yang berserakan di lambung kapal sembari berhitung seberapa cepat aku bisa mengambil satu buah, lari cepat-cepat dan kemudian siap-siap loncat dari kapal jika bencana terjadi.

“Woi..’Gi, mikirin apa sih, bengong melulu ih”. Lentingan suara Ani memecah rencana evakuasiku, padahal Ani sudah mau kudorong duluan ke air dalam lamunanku itu.

“Tenang ‘Gi, aman kok kapalnya, kamu jangan kuatir dan enjoy saja sunsetnya. Itu mataharinya sudah menanggung di ufuk sana.”

“Bukan kok, cuma masih ngantuk saja”. Kilahku cepat sembari menyembunyikan rasa takutku yang sedikit menyembul.

Matahari memang sudah mau tenggelam dan ia jelas jauh lebih cantik daripada gambaran sunset yang sering kulihat di layar LCD 14 inciku atau dari beranda kosanku.

Ani tidak lama kemudian meninggalkanku dan ngeluyur entah kemana, mungkin bergabung dengan teman-teman lain. Entah. Biarlah. Aku jadi berdua saja dengan Ayu. Tapi kami, maaf, aku lebih banyak diam. Kupandang erat-erat matahari yang perlahan tertelan laut itu. Sesekali aku lihat Pulau Jawa meredup digantikan oleh kilaunya Pulau Bali. Dinginnya angin yang menerpa tidak kuhiraukan, bahkan racauan merdu Coldplay bertajuk ‘Oceans’ nya tidak ingin kudengar dan kumatikan playlistnya.

Aku hanya ingin mendengar bisikan angin dan menatap sendunya perpisahan sang matahari. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian, mudah ditebak, Ani datang lagi.

“Anggi,..’Gi, kita dikasih ijin ‘Gi sama Bu Susi buat ikutan tes kapal sama lihat lokasi titik karangnya. Yeay.. !”

“Eh..apa !?”

“Iya, kan tadi Ani barusan bilang. Ibu pembimbing tercinta kita Bu Susi cari anggota buat ikut Bang Fadil tes kapal surveinya sekaligus lihat titik pantau karang dan arus lautnya. Terus dibolehin deh sama Bu Susi dan Bang Fadil.”

Oh. Bagus sekali. Rupanya ini harga yang harus dibayar kalau hanya mengangguk-ngangguk saja ketika Ani mengoceh. Sudah cukup deg-degan naik ferry untuk pertama kalinya sekarang mesti ditambah lagi jadi tim pertama yang tes kapal dan lihat titik tinjau karang. Lupakan saja fakta kalau aku baru bisa ‘berenang’ dua minggu lalu ‘Ni. Itu pun kalau megap-megap seperti ikan koi minta pelet dianggap ‘renang’.

Huff… survei oseanografi ini akan betul-betul jadi survei yang ‘menyenangkan’ sepertinya. Awas saja kalau tidak dapat nilai A.