Ujung Kulon set 2

Pantai sepanjang Desa Taman Jaya
Desa Taman Jaya

13.08 WIB,  Dermaga Taman Jaya. Setelah semalam berkendara dari Bandung kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang menggunakan kapal yang sudah disediakan bagi kami. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk membawa kami dari dermaga Taman Jaya ke Pulau Peucang tempat kami melapor.

Rusa yang merumput.
Areal lapangan di Pulau Peucang, ada Helipadnya lho
entah mau apa ini dua rusa.
Rusa di area lapangan Pulau Peucang

Sekitar jam 4 sore kami tiba di kantor pengelolaan TNUK Peucang. Pelaporan di Pulau Peucang ini bisa memberikan kita keterangan akan fasilitas dan spot-spot menarik yang ada di area Pulau Peucang. Tentunya kalau kita banyak bertanya dan tidak sedang ramai didalam ruangan.

Lihat dua tenda di sana. Itu tenda kami.
Perkemahan di Cibom

Mengenai fasilitas, terdapat beberapa pilihan bagi pengunjung yaitu terdapat fasilitas penginapan di Pulau Peucang itu sendiri, di Pulau Handeulem dan di Cibom. Bergantung pada biayanya, kami mengambil opsi menginap di Cibom dengan mendirikan tenda. Lokasinya Cibom sendiri tidak jauh dari Pulau Peucang, hanya terletak di seberangnya. Tempat itu sendiri hanya berupa halaman pekarangan yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Tenda pun dipasang sebelum matahari tenggelam. Tak lama kemudian, makanan pun datang. Kru paket wisata dan pemandu yang bersama kami dengan sangat sigap menyediakan makanan yang sangat lezat.

Menghadap laut.
Cerita-cerita saat senja di Kemah Cibom

Esok harinya, pagi-pagi kami pun dipandu menuju Tanjung Layar. Tidak jauh sebenarnya dari tempat kami bertenda. Masih di daratan yang sama, hanya saja lokasinya terletak di ujung. Ujung yang benar ujung, Tanjung Layar adalah tempat terbarat di Pulau Jawa. Trek ke Tanjung Layar tidak jauh, hanya membutuhkan sekitar 30 menit saja. Treknya berada di rimbun hutan di pinggir pantai. Sangat disarankan untuk pergi kesana pada pagi-pagi atau sore hari, sebab burung-burung selalu ramai mengobrol kala itu. Sesekali, bila telinga cukup awas dapat terdengar suara lutung atau bahkan Owa menyahut. Dari sana, kami menyebrang ke Cidaun, padang savana tempat nongkrong para satwa ketika pagi dan sore hari. Sayangnya, kami datang agak siang jadi tidak banyak satwa yang terlihat dan memilih menghindari panas di dalam hutan.

CG Tanjung Layar
Rumah Dinas Penjaga Pantai di Tanjung Layar
View nya mantap
Mercusuar Tanjung Layar di kejauhan. Disana adalah mercusuar yang ketiga.
Karang-karang di tanjung layar
Mercusuar Tanjung Layar
Batu Tanjung Layar
Sebuah daerah intertidal di Tanjung Layar. Formasi batuannya menakjubkan.
Pantai Cidaun
Pantai di Cidaun. Terlihat ada sebuah laguna yang menjorok masuk di kejauhan.
Cidaun - Ujung Kulon
Padang Savana Cidaun
Banteng U.K
Si Sapi atau Banteng yah … ? foto oleh : A.K

Lepas dari Tanjung Layar dan Cidaun, matahari masih cukup pendek dan sinarnya mulai menyengat, acara pun dilanjutkan dengan bermain air di sekitar Pulau Peucang dan ujung daratan Jawa. Sewaktu itu ada tiga gugusan terumbu karang yang kami kunjungi, sayangnya saya lupa nama-nama yang diberikan padanya, Citerjun dan Cikuya kalau tidak salah dua namanya. Di penghujung hari itu pula kami juga menengok Karang Copong dari atas perahu. Karangnya yang masif dan megah pertanda dia masih memenangkan pertarungan melawan sang ombak yang kerap menghantamnya. Selepas senja kami pun kembali ke perkemahan di Cibom. Dua potong ikan segar besar yang kami beli di tengah laut saat bermain air tadi menjadi menu malam ini, jangan ditanya, sudah jelas rasanya mantap. Namun sayang, kelezatan malam itu hanya singkat saja sebab hujan dan angin besar menerkap atap langit di Cibom. Esok paginya adalah hari terakhir kami, jadi lebih baik hari itu disudahi saja dalam tenda yang hangat.

Karang Copong
Karang Copong. Si Tangguh pelawan ombak
Karang Copong 2
Karang Copong atau bisa disebut juga Karang Kopong ??
Nelayan U.K
Sang Nelayan. Kami membeli ikan makan malam kami dari mereka. Sayang, mereka sepertinya kurang beruntung hari itu..

Paginya, matahari dengan gegas menyala terang, kami pun sarapan pagi dan lekas membereskan kemah kita untuk bersiap pulang. Dalam perjalanan pulang kami pun sempat mampir ke salah satu pulau di dekat Taman Jaya. Lupa juga nama pulau itu, yang teringat hanyalah saat itu sudah cukup siang dan pulau itu nampak sangat terpencil dan kecil dengan latar belakang Pulau Jawa yang besar di belakangnya. Kami sempatkan pula untuk bermain air sebentar disana, namun rupanya kondisi gugusan karang disana sudah cukup hancur dan menyisakan sedikit kehidupan disana. Mungkin karena aktivitas perikanan yang merusak, mungkin karena para turis yang berlebihan, entahlah. Saat matahari masih berada diatas kepala kami pun sudah tiba di Taman Jaya kembali. Kabar tidak elok yang kami dapat mengenai teman seperjalanan kami membuat kami harus bergegas untuk pulang kembali ke keramaian kota besar.

Bagan Ujung Kulon
Pulau terakhir yang kami kunjungi. Tampak beberapa bagan ikan siap menjerat ikan-ikan kecil di malam hari.

Moral cerita dari perjalanan kami kali ini adalah daerah Ujung Kulon memang daerah konservasi dan daerah wisata yang saat ini sudah sangat terjangkau dan mudah untuk ditelusuri. Ujung Kulon memang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi yang menarik untuk dijelajahi, namun seiring dengan perkembangan informasi pengelola Ujung Kulon sebaiknya menyiapkan diri menghadapi lonjakan kunjungan dimasa depan untuk menjaga keaslian dan kesehatan flora dan fauna disana. Dengan meningkatnya kunjungan manusia, kerentanan dan kapasitas daerah konservasi semakin diuji ketahanannya. Ini dapat terlihat dari semakin banyaknya sampah di areal Pulau Peucang, Perkemahan Cibom serta kemungkinan adanya invasi biota dari daerah luar Ujung Kulon.

Moral cerita bagi saya sendiri adalah hendaknya sebelum melakukan perjalanan untuk mencari informasi selengkap mungkin mengenai daerah tujuan dan sebanyak mungkin mencatat serta peka untuk mengamati saat kita berada di daerah tujuan.

Ujung Kulon set 1.

Peta Taman Nasional Ujung Kulon
Peta Taman Nasional Ujung Kulon. Hak Cipta : Balai TNUK, Departemen Kehutanan.

Introduksi

Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya disebut dengan TNUK atau UK), merupakan taman nasional pertama di Indonesia yang ditetapkan pada tahun 1992 dengan luas daratan terlindungi 78.619 Ha dan luas perairan terlindungi 44.337 Ha. Total luasannya menjadi 122.956 Ha, bandingkan dengan luas Jakarta yang seluas 74.000 Ha. Meskipun ditetapkan tahun 1992, namun UK telah dilindungi sejak jaman Belanda dulu. Pemerintah hindia belanda kala itu sudah menetapkannya sebagai kawasan suaka alam sejak tahun 1921. Bahkan, naturalis terkenal kelahiran Jerman F. Junghun sudah mulai mengenali dan mengoleksi tetumbuhan tropisnya sejak tahun 1846.

Mirip dengan taman nasional lainnya di Indonesia, TNUK sangat bersinggungan dengan kehadiran masyarakat lokal yang memang sudah bergenerasi tinggal disana. Wilayah Desa Sumur dan Desa Tamanjaya sebagai contohnya adalah para penduduk-penduduk yang sudah bermukim berbatasan dengan TNUK. Hidup berbatasan dengan taman nasional tentu tidak mudah, karena penduduk yang umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan itu mengandalkan alam sekitar untuk kelangsungan hidupnya maupun untuk meningkatkan tingkat penghidupan mereka. Kasus-kasus sengketa dan perselisihan antara penduduk dan pihak pemerintah yang diwakili oleh Balai TNUK telah terjadi pada masa-masa awal penetapan UK sebagai wilayah perlindungan alam nasional. Detail contoh kasusnya bisa dicari sendiri pada Mbah Google, saya tidak akan menulisnya disini.

Penduduk pemula dari wilayah UK adalah penduduk dari wilayah kesultanan Banten. Salah satu cerita yang mudah ditemui adalah bukti adanya mercusuar Tanjung Layar dan bekas dermaga di Cibom yang didirikan pada awal tahun 1800 dengan tujuan untuk membantu pelayaran niaga dari perusahaan VOC tentunya. Pembangunan kedua struktur tersebut tentu tidak mungkin tanpa adanya peran serta dari masyarakat Banten yang bermukim disana. Pada kali kesempatan saya berkunjung kesana, yang nyata terlihat disana adalah peninggalan mercusuar Tanjung Layar dan bekas penjara bawah tanah. Sedangkan dermaga Cibom sulit untuk dilihat bekas kehadirannya secara gamblang.

Hasil penelitian arkeologi Pulau Panaitan tahun 1992 yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional mendapatkan sejumlah tinggalan arkeologi dan sejarah, misalnya: bangunan kolonial di Tanjung Layar, lukisan gua di Sangiang Sirah, arca-arca di Pulau Panaitan, dan lingga di Pulau Handeulum, sisa-sisa pemukiman kuno di Taman Jaya dan Sumur. Dari situs-situs tersebut, baru diteliti situs Tanjung Layar dan Pulau Panaitan. Entah bagaimana selanjutnya hasil-hasil penelitian ini, yang pasti sewaktu saya berkunjung kesana kalau tidak ditanyakan langsung rasanya mustahil mendapatkan informasi ini di TNUK. Singkatnya ” ya, kalo lu mau tau..ya tanya aja..kalo gak ya gua juga gak ngomong “.

Tiba di Ujung Kulon

Memang, kali kesempatan saya kesana memang tidak mendapatkan pemandu berseragam Taman Nasional yang rapi dan necis, alih-alih kami ditemani oleh masyarakat yang terbiasa memandu pengunjung. Berkunjung ke TNUK dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu, berkunjung sendiri dengan peralatan dan menjadi pemandu bagi diri sendiri, kedua berkunjung sendiri dengan dipandu masyarakat setempat, ketiga berkunjung dengan ditemani pemandu TNUK. Harganya jelas berbeda bagi tiga tipe perjalanan tersebut. Mungkin informasi lebih lengkap bisa saya dapatkan kalau ditemani oleh pemandu TNUK, sayang kantong saya banyak bocornya, jadi susah untuk mendapatkan pemandu yang bagus.

Kondisi jalan berbatu dan berbolong.
Desa Taman Jaya, Ujung Kulon

Desa Taman Jaya merupakan lokasi hunian manusia terakhir yang kami datangi sebelum memasuki TNUK. Desa itu sendiri tidak terlalu ramai dan telah ramah pada pengunjung, ramah khas Indonesia. Tak tampak dimuka bekas-bekas perselisihan pada masa lalu, entah bagaimana di hatinya. Pada siang hari yang terik dan tanpa ada ba-bi-bu, ataupun sedikit introduksi dari pemilik perahu/penginapan kami langsung diarahkan menuju dermaga untuk naik perahu dan menuju Pulau Peucang untuk mendaftarkan diri kami ke kantor Balai TNUK sebagai pengunjung. Kebetulan, cuaca hari itu tenang dan cerah sehingga perjalanan dari dermaga Taman Jaya menuju Pos TNUK di Pulau Peucang tidak dihadiahi ombak besar sehingga kami bisa beristirahat dan menikmati pemandangan Pulau Jawa yang paling ujung.

Foto diambil menuju pulau peucang.
Ujung Pulau Jawa bagian barat
Bagan di UK umumnya adalah bagan tancap.
Di kejauhan terdapat banyak Bagan-Bagan. Bagan adalah tempat penangkap ikan yang bekerja mengandalkan cahaya dan jaring.

Ujung Barat Jawa | Western Tip Of Java

Kembara Sang Babi / The Wandering Hog
Kembara Sang Babi  |  The Wandering Hog

Tak berapa lama lalu, di penghujung bulan ketiga tahun 2014 ini. Keberuntungan datang pada diri untuk menyempatkan diri mengunjungi penghujung barat pulau terpadat di Indonesia. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan menyita waktu dihiasi oleh pemandangan alam yang kontras dengan suasana kota. Siang menjelang pada batas terakhir manusia boleh berpenghuni bebas. Sore memanja langit berhias emas. Tiap malam intan nun jauh ditabur berserak.

Di ujung barat Jawa ini rasanya sunyi dan jauh sekali dibandingkan kota-kota yang bising sekitar 200 km di sebelah timur sana. 3 siang dan 2 malam kami ada disitu dan disitu saya merasakan sesuatu yang luhur sekaligus membuat bergidik. Dibalik bisingnya para turis yang hingar bermain, penduduk asli sana seperti juga alamnya nampak acuh pada manusia. Sang rusa dan Sang Kerbau dan Sang Babi dan para pepohonan dan desir angin yang menerpa dan gelombang yang menerjang pantai dan seluruh elemen alam lainnya di ujung barat Jawa ini seakan meremehkan manusia.

Lokasi ujung barat jawa ini sudah berumur sangat lama. Lokasi ini juga mempunyai cerita sejarah yang panjang dan kuno. Hutan primernya yang tua memberikan nafas oksigen yang segar dan menerus.

Jika anda kesana berbaringlah sejenak, sementara waktu, lepas dari permainan kita akan duniawi yang semu. Lepas dari bisingnya kata dan suara artifisial lain dan berserah pada nuansa alam yang kuno ini dan beralih untuk hanya mendengar.

Dengarkan desah alam primitif ujung barat jawa ini, menarik napas dan menghembusnya pada setiap desiran angin, sapuan ombak dan ributnya jangkrik. Dengarkan dan dengarkan ! dengarlah.

Maka anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan kala itu. Kengerian yang membuat bergidik sekaligus rasa hormat dan kagum yang adiluhung pada tempat ini, sang tempat kuno yang megah ini.

Maka mungkin anda pun jadi mahfum melihat tingkah sang babi yang acuh melintas di pantai bagai sang empunya tanah.



Sang rusa yang tenang / The serene deer
Sang rusa yang tenang  |  The serene deer

Not so long ago, at the end of the third month of the year 2014. Luck comes to myself for taking the time to visit the western edge of the most densely populated island in Indonesia. The long journey is quite laborious and time-consuming but it is decorated by natural landscapes, contrast with the atmosphere of the city. Noon arrive at the last permitted human boundary. The pampered afternoon sky are decorated with gold. Each night the distant diamonds are sown scattered .

At the western end of Java, it is desolate and far away compared to the noisy cities located 200 km to the east. For 3 day and 2 nights we were there and there I felt something sublime and something that make me shudder. Behind the noises of the tourists with their hustle games, the natives there appears ignorant of human nature. The deer and the buffalo and the hog and the trees and the wind and the waves that hit and crashing the shore and all of the other natural elements at this western tip of Java seem to underestimate humans.

The location of this western end of Java has become a very ancient life. This location also has a long and ancient history. The old primary forest keep giving it fresh breath of oxygen continuously.

If you were to visit there, just lie for a moment, temporarily, escape yourself from the mundane false game. Apart from the noises of words and other artificial sounds and surrender to feel the nature of this ancient life and switch it to just listen..

Listen the sithe of this primitive nature of the western end of Java, whilst it blew breath on every whisper of the howling wind, the breaking waves and the squealing crickets sweep. Listen and just listen! Listen.

Thus you will probably feel the same way with the way I feel at the time. The horror that makes me shudder and also the respect and admiration of this valuable place all at once, this magnificent ancient place.

Thus you might also be knowingly understand to see the behavior of the hog who seem indifferent passing on the beach in such manner as he owns of the land.