Warisan Abadi Klaus Wyrtki

Wyrtki3
Prof. Klaus Wyrtki (Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.)

Bagi orang-orang yang berkenalan dengan ilmu kelautan, khususnya di bidang oseanografi fisis, nama Klaus Wyrtki tentulah tidak asing. Ketenarannya di Indonesia lebih dikenal melalui karyanya yang berjudul Naga Report. Sebuah buku laporan komprehensif, yang terbit (tahun 1961) lebih dari 50 tahun lalu, mengenai kondisi fisis perairan Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Buku ini konon katanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan masih digunakan sebagai salah satu referensi oleh kalangan pelajar/peneliti hingga saat ini. Kalau anda pernah membaca buku ini, maka buku ini rasanya layak dikatakan sebagai kitab oseanografi perairan Asia Tenggara.

Karir Wyrtki sebagai seorang oseanografer dunia bermula di Indonesia. Selepas menuntaskan pendidikan pasca doktoralnya, Wyrtki sedang mencari pekerjaan dan memutuskan untuk menerima lowongan peneliti di Indonesia. Wyrtki bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Laut, Jakarta, sekarang P2O LIPI.

Di LPL Jakarta, Wyrtki mendapatkan dirinya sebagai satu-satunya peneliti oseanografi. Kekurangan peneliti barangkali disebabkan oleh eksodusnya banyak penduduk Belanda akibat masa perang kemerdekaan, warga Indonesia pun sepertinya sudah tidak ingin melihat orang Belanda di tanah Indonesia. Akibatnya instansi-instansi yang dulu banyak diisi oleh orang Belanda banyak menjadi kosong, seperti di Lembaga Penyelidikan Laut. Sebelumnya, lembaga ini dipimpin oleh Dr. J.D.F. Hardenberg, Prof. Dr. H.C. Delsman dan Dr. Armand L.J. Sunier, ketiganya orang Belanda tulen dan lembaga itu sebelumnya  juga bernama Belanda tulen, Laboratorium Voor Het Onderzoek der Zee (LOZ).

Singkat cerita, Wyrtki, seorang Jerman dan oseanografer handal satu-satunya di lembaga itu malah bertugas menjadi kepala institusi LPL. Wyrtki kemudian menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik dan melakukan banyak pelayaran, pengamatan hingga analisa detail mengenai kondisi perairan Indonesia dan sekitarnya.

Wyrtki2
Wyrtki dan penelitiannya di Kapal Riset Samudera. (oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf)

Perairan Indonesia yang masih asing di dunia kala itu (barangkali hingga sekarang), membuat ketertarikan pada diri Wyrtki yang masih segar keluar dari kampus. Wyrkti kemudian memutuskan untuk mendevosikan waktunya di Indonesia untuk memberikan gambaran lengkap dari kondisi oseanografi di perairan Indonesia. Akan tetapi, melalui penelusuran yang telah dilakukan, Wyrtki menyadari bahwa analisa dan deskripsi demikian haruslah tidak dipandang terbatas pada perairan Indonesia saja melainkan harus mencakup pada keseluruhan perairan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, sesunggguhnya, untuk memahami secara lengkap profil perairan Asia Tenggara, tidak hanya Naga Report Volume 2 saja yang harus dibaca, tapi juga membaca Volume 3 nya yang berisi tentang karakter oseanografi perairan Teluk Thailand serta koleksi laporan oseanografi biologi dari Naga Report.

Mengenai pelayaran, dalam penugasannya di Jakarta, Wyrtki kerap berlayar untuk mengambil data dan menggunakan Kapal Riset Samudra. Sebuah kapal riset dengan bobot sekitar 200 ton yang digunakannya untuk mengambil sampel menggunakan botol Nansen di perairan Indonesia. Wyrtki sepertinya menggunakan kapal ini untuk mendapatkan data-data oseanografi dari tahun 1956-1957, sekitar 100 stasiun pengamatan, di perairan timur Indonesia, Selatan Jawa dan hingga perairan Paparan Sunda. Sayangnya, keterbatasan peralatan membuatnya hanya bisa mengambil data hingga kedalaman beberapa ratus meter saja dan melewatkan pengukuran pada interior laut yang ribuan meter.

Karirnya di Indonesia cukup singkat, dari tahun 1954-1957, dan tidak diperpanjang karena adanya bibit-bibit pemberontakan PRRI di Sumatera yang (barangkali) memberikan kondisi tidak nyaman untuk melakukan penelitian.

Lepas dari Indonesia, Wyrtki beralih ke Australia dimana dia mengambil peran di lembaga kelautan Autralia CSIRO pada Divisi Oseanografi dan Perikanan. Di Australia, beliau menghabiskan watu tiga tahun juga dan menerbitkan penelitiannya mengenai kandungan oksigen dalam relasinya pada sirkulasi laut. (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.)

Sebelum lepas dari Australia, Wyrtki sebenarnya menerima dua tawaran kerja yaitu di Scripps Institution of Oceanography di California dan Columbia University di New York. Wyrtki memilih Scripps. Alasannya sederhana, pekerjaannya di Columbia mengharuskannya untuk meneliti Samudera Antartika, termasuk berlayar kesana dengan kapal riset Eltanin. Mengetahui hal itu ia berucap :

“no, no. No Antarctic Ocean, no seasickness, no roaring forties, I stay in the tropics”.

“tidak, tidak. tidak Samudera Antartika, tidak pada mabuk laut, tidak pada angin kencang, aku tetap di daerah tropis”

Wyrtki mengungkapkan bahwa Indonesia telah membuatnya sedikit manja dan enggan untuk kembali ke iklim yang dingin, sehingga tawaran di Scripps diterimanya.

Di Scripps Institution of Oceanography, Wyrtki mengaku bahwa pekerjaannya sangat menarik dan menantang yaitu mempelajari variabilitas lapisan atas laut. Salah satu hasil pekerjaannya mengungkapkan fenomena upwelling di perairan Kosta Rika yang digunakan untuk menganalisis area pancing dan tempat berkumpulnya tuna (Wyrtki, K., 1964: Upwelling in the Costa Rica Dome. Fish. Bull., 63 (2), 355-372.). Waktunya berkarya di Scripps inilah yang melahirkan kondensasi pemikiran mengenai perairan Indonesia-Asia Tenggara dan menghasilkan buku Naga Report itu.

Seperti jadi kebiasaan, tiga tahun berselang, Wyrtki kemudian pindah lagi ke Hawaii di musim panas tahun 1964. Di Hawaii beliau masuk ke Universitas Hawaii untuk membantu mengembangkan Departemen Oseanografi yang baru berdiri kala itu. Salah satu tujuannya adalah membantu dalam penelitian oseanografi di Kepulauan Hawaii. Di kemudian hari, di tahun 1988 departemen itu menjadi sebuah sekolah/fakultas tersendiri, SOEST (School of Ocean and Earth Science and Technology). Hawaii memberikan kesempatan Wyrtki untuk meneliti dengan lebih luas, pemikiran dan penelitiannya yang terdepan saat itu masih menjadi referensi saat ini, sebuah maha karya oseanografi adalah atlas Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1971: Oceanographic Atlas of the International Indian Ocean Expedition. National Science Foundation Publication, OCE/NSF 86-00- 001Washington, DC, 531 pp.).

Dalam wawancaranya di tahun 1999, wyrtki mengungkapkan bahwa publikasi favoritnya adalah mengenai sirkulasi termohalin di tahun 1961, (Wyrtki, K., 1961: The thermohaline circulation in relation to general circulation in the oceans. Deep-Sea Res., 8 (1), 39-64.) dan oksigen minimum di tahun 1962. (Wyrtki, K., 1962: The oxygen minima in relation to ocean circulation. Deep-Sea Res., 9, 11-23.) kemudian Arus Peru yang berkaitan dengan pergerakan vertical dan horizontal dalam area luas di laut (Wyrtki, K., 1963. The horizontal and vertical field of motion in the Peru Current. Bull. Scripps Inst. Oceanogr. Univ. Calif., 8 (4), 313-346.) dan kemudian tentunya ada Atlas Samudera Hindia dan analisa sirkulasinya serta aliran jet laut Samudera Hindia (Wyrtki, K., 1973: An equatorial jet in the Indian Ocean. Science, 181, 262-264.)

Wyrtki memang tidak menyebutkan mengenai Naga Report sebagai publikasi favoritnya, namun masa tiga tahunnya di Indonesia membuka jalan pemikirannya akan siklus termohalin dan bahkan buku Naga Report yang disusunnya mengungkapkan pemikiran akan adanya transport massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang sekarang lebih dikenal dengan Arlindo (ITF). Penelitian mengenai Arlindo/ITF ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Arnold Gordon dikemudian hari. Arnold Gordon adalah orang yang menggantikannya bekerja di Columbia University sedangkan Wyrtki di Scripps. Arnold Gordon kemudian mengadakan beberapa kali pelayaran di Indonesia untuk meneliti ITF  di awal tahun 2000an (Ekspedisi INSTANT).

Wyrtki1
Kapal riset Klaus Wyrtki (http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

Wyrtki kemudian pensiun dan menjadi professor emeritus di tahun 1993 dan memilih untuk menetap di Hawaii sampai akhir hayatnya. Wyrtki kemudian menerima penghargaan-penghargaan yang membuatnya layak dijadikan salah satu begawan oseanografi dunia (The Grand Old Man of Physical Oceanography). Namanya telah diabadikan menjadi salah satu aliran arus (Wyrtki Jet) di ekuatorial Samudera Hindia dan pada beberapa kapal-kapal riset di Hawaii. Klaus Wyrkti yang lahir pada tanggal 7 Februari 1925 akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 87, pada tanggal 5 Februari 2013, dua hari sebelum beliau berumur 88 tahun.

 

Happy belated birthday Klaus Wyrtki !!

 

 

Pustaka :

Patzert, W. C., W. J. Emery, G. A. Meyers, and R. Lukas (2013), Klaus Wyrtki (1925–2013), Eos Trans. AGU, 94(21), 192.

Wyrtki, K., 1961: Physical oceanography of the southeast Asian waters. Univ. Calif., NAGA Rept., No.2, 195 pp.

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/Karl.pdf

https://scholar.google.co.id/citations?user=eWoRjvcAAAAJ&hl=id

https://en.wikipedia.org/wiki/Klaus_Wyrtki

https://tos.org/oceanography/assets/docs/3-1_lukas.pdf

oseanografi.lipi.go.id/datakolom/05%20Wyrtki.pdf

http://www.soest.hawaii.edu/Wyrtki/interview_wyrtki.html

Advertisements

Indonesia Bangsa Maritim ?

Sudah tentu, hampir semua dari kita mengenal lagu Nenek Moyang karya Ibu Saridjah Niung. Ibu Saridjah merupakan keturunan seorang Bugis yang bermukim di Sukabumi pada masa mudanya. Sebelum lagu “Nenek Moyang” diciptakan, orang Bugis sejak lama memang telah mempunyai reputasi sebagai pengarung lautan. Mungkin sekali, motivasi Ibu Saridjah menciptakan lagu didorong oleh kenangan pada ayahandanya beserta seluruh pendahulu sang ayah yang telah menjelajah nusantara dan mengarungi lautnya sebelum dikenal dengan nama Indonesia.

Saridjah_Niung_2000_Indonesia_stamp
Ibu Saridjah Niung alias Ibu Soed (https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung)

Sejauh apa sih kebenaran klaim nenek moyang kita adalah pelaut ?

Mengacu pada kata ‘nenek’, memang masih banyak warga Indonesia dengan umur atau kategori nenek-kakek yang masih aktif melaut maupun yang mengandalkan mata pencahariannya dari laut. Tapi, sungguh terlalu jauh kalau anda membayangkan seorang kakek/nenek mantan pengusaha yang sesekali datang ke pelabuhan dengan mobil mewah untuk mengawasi usaha pengemasan ikan laut segar yang akan diekspor ke luar negeri dan kemudian mengecek kesiapan armada kapal penangkap ikannya sambil bersiap diri untuk memancing ala ‘mancing mania’ dengan kapal yacht 2 X 250 PK nya.

Barangkali, jauh lebih dekat bila anda membayangkan seorang kakek/nenek yang dengan capai dan peluhnya mengharapkan lakunya dagangan 3 ikat ikan setengah busuk yang bobot ikannya tidak lebih dari 10 kg keseluruhannya. Berjongkok di tepi luar pasar ikan, bersenyum murah pada setiap pengunjung agar bisa membeli ikan yang dia dapatkan dengan sampan kecil yang terbuat dari kayu dan berumur lebih tua darinya, agar dia bisa melunasi biaya solar dan biaya pengobatan tubuhnya yang renta.

Sudah begitu, ditawar juga harga ikannya.

IMG_2111
Nelayan Banten, sekitar Selat Sunda.

Dari situ, ya setidaknya, klausa “nenek moyangku adalah pelaut” mempunyai sebagian kebenaran. Mayoritas kota-kota besar Indonesia terletak di pinggir pantai atau sungai dan sebagian penduduk kota itu juga berprofesi sebagai nelayan maupun profesi maritim lainnya. Profesi yang barangkali merupakan profesi warisan dan bahkan tanpa pilihan bagi warga yang sekarang sudah berumur cukup tua seumur kakek-nenek. Akan tetapi rasanya profesi agraris saat ini masih lebih dominan dibandingkan profesi maritim, sebuah klaim yang saya simpulkan dari hasil pengamatan sekilas semata. Simpulan yang lebih mendalam membutuhkan keahlian analisa khusus dari data statistik BPS yang terlampau berlimpah (baca : tidak langsung pakai).

Masa sekarang, profesi kemaritiman didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendukung masyarakatnya untuk kembali ke laut melalui gerakan maupun kebijakan seperti hari ikan nasional, tol laut, penenggelaman kapal tangkap terlarang hingga pelestarian kawasan laut. Dipikir-pikir, gerakan atau kebijakan semacam ini sebenarnya dimulai belum terlalu lama. Sebagai sebuah Negara kelautan yang ditaburi pulau, Kementerian Kelautan sebenarnya baru terbentuk tahun 2009. Sebelum tahun itu, fungsi kelautan dalam Negara dilakukan oleh Menteri Eksplorasi Laut tahun 1999 dengan badannya Departemen Eksplorasi Laut.  Badan ini kemudian berubah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan sebelum akhirnya sekarang menetap menjadi sebuah kementerian. Dari 1999-2017, baru 18 tahun umur badan kelautan yang resmi dibentuk oleh pemerintah. Umur 18 tahun memang umur yang baru melek baca.

programKKP
Program KKP. Senang melihat program yang ditulis secara tersirat untuk membalikkan mata kita menuju laut kembali. Berdaulat ! Berkelanjutan ! Sejahtera ! (http://kkp.go.id)

Sebelum tahun 1999, di Indonesia rasanya tidak ada yang disebut dengan dunia kelautan. Laman sejarah pranala Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan masa tersebut dengan kalimat “Dimasa Orde Baru, orientasi pembangunan masih terkonsentrasi pada wilayah daratan. Sektor kelautan dapat dikatakan hampir tak tersentuh, meski kenyataannya sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam, baik jenis dan potensinya.”  Tidak perlu dikomentari lebih jauhlah pencapaian maritim 32 tahun itu apa, kalau bukan hanya fasad-fasad belaka.

Padahal pada masa-masa awal kemerdekaan hingga masa orde lama meskipun kebijakan kelautan belum begitu berkembang, namun Sukarno sudah menyadari pentingnya laut dan jalur perhubungannya. Perginya Belanda dari Indonesia menyebabkan ketimpangan pada aset-aset negara termasuk diantaranya kapal-kapal. Kekurangan kapal sebagai penghubung antar pulau menyebabkan melonjaknya harga-harga bahan pokok karena pasokan barang yang terbatas. Dampak perang baik dengan Jepang maupun Belanda membuat banyak rakyat kelaparan baik secara agraris maupun maritim. Perusahaan milik Negara, PELNI, yang baru berdiri di tahun 1952, jelas masih belum memiliki armada yang memadai.

Jalan pintas ditempuh dengan mencoba mengambil alih paksa perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij  (KPM) milik Belanda beserta seluruh asetnya sebagai sarana penghubung dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada 5 Desember 1957 para buruh pekerja Indonesia berhasil menduduki kantor pusat KPM di Jakarta, tetapi tidak mampu untuk menyita kapal-kapal yang dimiliki KPM. Para pimpinan perusahaan Belanda ternyata sudah mengantisipasi langkah penyitaan ini dan telah memberikan perintah kepada kapten-kapten kapal mereka untuk segera meninggalkan Indonesia melalui kode rahasia. Sebanyak lebih dari 50 kapal KPM dapat lolos dari sergapan penyitaan paksa sedangkan sisanya diambil Indonesia. Akan tetapi, melalui campur tangan Lloyd(s) Insurance Company, penyitaan ini mengharuskan Indonesia membayar 117 juta gulden sebagai kompensasinya kepada KPM. Pemerintah Indonesia menolak dan kemudian terpaksa mengembalikan kapal-kapal itu.

Kapal SS Rumphius dengan Pulau Anak Krakatau dibelakangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk menyewa sementara dan membeli armada kapal untuk keperluan penghubung bangsa. Dana yang digunakan untuk menyewa dan akhirnya membeli (51 kapal dari Jepang) kapal tersebut berasal dari dana pampasan perang pemerintah Jepang melalui perjanjian yang disepakati Indonesia dan Jepang.

Pada periode yang sama, pemikiran mendalam mengenai posisi geografis Indonesia melahirkan Deklarasi DJuanda yang diusulkan pada tahun 1957 dan diperjuangkan dari tahun 1960 hingga tahun 1982. Perumusan ini kemudian disahkan dalam konvensi hukum laut PBB di Montego Bay, Jamaika pada 10 Desember 1982. Hasil konvensi ini kemudian berlaku pada perairan Indonesia mulai tahun 1985 dan secara internasional tahun 1994. Sayangnya hasil konvensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik bagi pemerintahan orde baru dan malah tak tersentuh.

Perangko Deklaras Djuanda. Pak Djuanda tampak kalem sementara Pak Karnonya bersemangat dan para penarinya tampak kebingungan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda)

Pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak yang dilakukan pemerintahannya untuk kepentingan maritim dalam sebuah masa peperangan selain mengganti nama-nama badan pemerintahannya menjadi bernama Jepang, pendudukan Jepang lebih fokus untuk mengambil sumber daya alam nusantara untuk keperluan perang daripada mengembangkannya.

Masa pendudukan Belanda (Periode setelah kebangkrutan VOC pada 1800) merupakan masa suram kelautan nusantara. Kekuasaan laut sepenuhnya ada pada Pemerintah Belanda. Perlakuan kontrol kuat atas pelayaran dan transportasi yang diatur oleh VOC pada kerajaan-kerajaan nusantara, diwariskan pada pemerintah Belanda dan digunakan untuk melanjutkan kepentingan Kolonial Belanda. Masyarakat pesisir atau moyang-moyang kita di pesisir banyak ditarik ke wilayah pedalaman untuk mendukung penanaman komoditas ekspor melalui sistem tanam paksa yang dimulai 1830. Moyang kita menjadi budak dan buruh ditanahnya sendiri.

Perusahaan KPM yang beroperasi mulai tahun 1888 didirikan untuk mengangkut hasil tanam paksa di seantero pulau-pulau nusantara untuk diangkut keluar negeri. Modernisasi kapal dari kapal layar menjadi kapal uap memang semakin mengukuhkan peran perusahaan KPM dan pemerintah Belanda dalam dunia kelautan nusantara. KPM mulai beroperasi pada 1 Januari 1891 dengan modal 29 kapal uap kecil – 13 baru dan 16 warisan dari pendahulunya, NISM (Nederlandsch Indische Stoomvaart Maatschappij). Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antara pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih popular dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.

Overview map of the connections to be sailed by the Royal Packet Company in the Netherlands Indies (https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij)

Mulai dari tahun 1906 perusahaan ini mulai melakukan ekspansi usaha dengan membuka  rute-rute baru dari kepulauan HIndia Belanda ke negara-negara lain dengan berbagai anak perusahaan, antara lain pada tahun 1908 dengan nama Java-Australië Lijn (JAL) melayani lintas Jawa-Australia, disusul pada tahun 1910 dengan Java-Siam Lijn (JSL) melayani lintas Jawa-Thailand, dan terakhir pada tahun 1915 Deli-Straits-China Lijn (DSCL) melayani lintas Medan – China.

Tidak banyak pengusaha laut nusantara yang dapat diketahui (saya) menyaingi KPM. Salah satu perusahaan yang diketahui adalah perusahaan milik kakek (alm.) Des Alwi yaitu Baadila Brothers yang didirikan pada akhir abad 19 untuk mengangkut barang/kargo dari Gresik hingga Banda Naira. Perusahaan pelayarannya kemudian berkembang menjadi pengangkut penumpang juga serta dipuncak kesuksesannya menjadi pengusaha mutiara dan perkebunan pala yang luas di Banda Naira.

BukuDesAlwi
Buku Sejarah Maluku karangan Des Alwi, isinya juga mencakup sebagian sejarah keluarga Des Alwi .

Akan tetapi tidak seluruhnya kebijakan kolonial Belanda merugikan citra maritim nusantara, pendirian-pendirian kantor kelautan seperti Afdeling Visserij (tahun 1914) dan Instituut Voor de Zeevisserij (tahun 1928) memberikan fondasi bagi penelitian kelautan di nusantara. Patut dicatat juga bahwa periode kolonialisme Belanda memberikan ruang bagi ekspedisi-ekspedisi penelitian kelautan di nusantara yang berguna untuk memberikan gambaran lengkap laut nusantara dari permukaan hingga dasar lautnya. Ekspedisi tersebut antara lain adalah Ekspedisi Challenger (1872 – 1876), Ekspedisi Valdivia (1898-1899), Ekspedisi Siboga (1899-1900), Ekspedisi Snellius I (1925-1930) dan Ekspedisi Galathea (1950-1952). Gambaran laut Indonesia itu kemudian dilengkapi oleh kedatangan Klaus Wyrtki tahun 1954 yang kemudian bertugas sebagai kepala Lembaga Penyelidikan Laut Indonesia dan memberikan jalan bagi peneliti-peneliti laut Indonesia awal seperti Aprilani Soegiarto dan Syarmilah Syarif.

Peraturan pembatasan laut territorial sejauh 3 mil melalui UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie Tahun 1939) juga lahir di periode Kolonial Belanda. Sebuah peraturan kelautan kuno yang tidak didasarkan pada negeri-negeri kepulauan. Peraturan ini jelas mempertanyakan kedaulatan Negara Indonesia sebab pada jarak 3.01 mil saja, kapal asing dapat parkir dengan bebas didepan pulau-pulau Indonesia. Nenek moyang Ibu Saridjah Niung tentu tidak habis pikir kalau kebebasan laut negerinya hanya dihargai sejauh 3 mil saja. Kelak, peraturan ini membuat gatal Pak Djuanda di tahun-tahun kedepannya dan mendorongnya untuk melahirkan apa yang disebut Deklarasi Djuanda.

 

 

 

 

Pustaka :

Alwi, D. 2005. Sejarah Maluku : Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon. Dian Rakyat, Jakarta.

Kurosawa, A. 2015. Peristiwa 1965 : Persepsi dan Sikap Jepang. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda

https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung

https://en.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart-Maatschappij

https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://nl.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij

https://tirto.id/deklarasi-djuanda-dan-ikhtiar-menyatukan-laut-indonesia-cBuT

http://kkp.go.id/sejarah/

http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/17%20Siboga.pdf

Empat tahun kemudian.

 

Sempat, satu waktu lalu, saya menuliskan perihal penutupan gerbang bagian utara ITB dengan pagar sengnya yang membumbung tinggi. Sebuah keputusan penutupan gerbang yang dibayang-bayangi oleh pengusiran PKL dari area gerbang utara dan hal teknikal penurunan muka tanah area gerbang belakang ITB.  Foto dan sebuah tulisan yang terlampau terlalu sederhana (bahkan amatir dan cetek) telah dipampangkan dalam laman wordpress ini.

IMG_5666
Gerbang Utara ITB 2013

Kini, berselang 4 tahun kemudian, wajah area gerbang belakang ITB telah berubah. saya merasa harus mencoba untuk menjadi cukup adil dengan memperlihatkan perubahan yang terjadi. Pagar seng nan tinggi telah tiada dan digantikan dengan taman dan muka pagar yang tampak ….

IMG_20171218_131624
Gerbang Utara ITB 2017

….. tampak lebih baik dibandingkan pagar seng yang kaku pastinya.

IMG_20171217_202815

Gumpalan tanah didepannya bukan karena pengerjaan gerbang itu, tapi karena ada pekerjaan perbaikan trotoar oleh pemerintah Kota Bandung. Pada perbaikan ini, pengerjaan trotoar tampak dilakukan di sepanjang Jalan Tamansari.

Belum ada tanda bahwa gerbang baru ini akan difungsikan menjadi gerbang yang memang akan selayaknya digunakan atau hanya menjadi hiasan belaka, sebab sebelum gerbang ini dibangun, dua gerbang baru lain telah dibuat dan difungsikan sebagai jalan masuk-keluar ke/dari ITB.

Area gerbang utara ini pun telah beralih fungsi menjadi taman dan lahan hijau yang cukup baik. Selain itu, PKL gerbang utara ITB yang dulu menempel erat dengan pagar ITB kini telah direlokasi dengan baik di tempat yang dulu merupakan area parkir atas SABUGA.

 

*Ternyata, masih cetek juga tulisannya.

Exhibition of Crematorium of King Bhumibol Adulyadej Borommanathbobitra

DOM_0553

King Bhumibol Adulyadej Borommanathbobitra  or also known as Rama IX is the former King of Thailand. King Bhumibol passed away on Thursday the 13th of October 2016 at the age of 89, having reigned for 70 years, the longest in Thai History. He succeeded to the throne on Sunday the 9th of June 1946 according to the Law of Succession, becoming the 9th King of the Chakri Dynasty. After completing his studies in Switzerland, His Majesty returned to Thailand where, on Friday the 28th April 1950, he married Rajawongse Sirikit Kittiyakara, now known as Queen Sirikit.

By traditional court practice, King Bhumibol Adulyadej Borommanathbobitra was crowned on Friday the 5th of May 1950 when he gave oath to reign with righteousness for the benefit, and happiness of the Siamese people.

According to people of Thailand, at least Thai people I’ve met, King Bhumibol Adulyadej Borommanathbobitra is known for his kindness and close to the people. His greatness as a righteous King is shown by the grievance of all Thai people and other people who attend his funeral and visits his crematorium exhibition. The exhibition is held from the 2nd–30th of November. I was lucky enough to get a chance to visit the crematorium exhibition on the 30th of November. There, I witness firsthand how Siamese people respect their King, Rama IX. The King will surely missed by the people.

Phra Meru Mas (Royal Crematorium) of His Majesty King Bhumibol Adulyadej Borommanathbobitra At Mondhon Phithi (the Ceremonial Grounds) of Sanam Luang

DOM_0459

The Royal Crematorium is built at Mondhon Phiti of Sanam Luang. A very big open field near the palace. It is built on a four-storeyed square foundation with steps in all of the four direction, the nine-spired crematoriums comprised nine buildings in the shape of Busabok, a Thai architectural style.

Royal
Layout of the royal crematorium (http://kingrama9.net/EN/Crematorium)

At the center, the main Busabok atop a seven-tiered dais is decorated with the nine-tiered umbrella of state. The cremation pyre is set here on the uppermost dais to place the royal funerary urn. Fireguard screens painted in Vishnu reincarnation and the Royal Initiative Projects are installed around the four walls. On the four corners’ bases of the third floor are located four Sang or Sam Sang (Monks’ Chanting Pavilion) in Busabok design atop a five-tiered dais. Downward to the second level foundation at four corners, erected is Ho Plueang (Dismantling Hall) in a smaller five-tiered dais Busabok to keep the royal funerary items. The three Chala (pavement) of three levels are decorated with sculptures of Jatulokaban (the world’s four guradians of directions), Garuda pillars, angels, Mythical creatures and Naga handrails while the base of the lowest floors is surrounded by fortune animals in each direction, Anodat Pond, Khao Mo and Himavanta mythical animals.

Details of this exhibition is clearly amazing, hand crafted with precision and elegance. Every part of this exhibition is an art dedicated to the majesty King Bhumibol, presenting his all time achievements to Thai people and also to the world. Aside from Phra Meru Mas as the center of exhibition, there also pavilions served as on site museum to commemorate The King legacies and pavilions to show the production steps and processess to make this great exhibition.

 

 

DOM_0606

A few objects which pick my interest have been the subject of my camera shots for my own collection (some are displayed below). My own memory about the King Bhumibol and his place amongst Siamese people.

 

 

Reference :

https://en.wikipedia.org/wiki/Bhumibol_Adulyadej

http://kingrama9.net/en

 

Beberapa burung temuan Wallace di Lombok

Bagi yang pernah sedikit belajar mengenai Garis Wallace, mungkin masih sedikit hapal bentangan garisnya. Detail bentangan garis ini bisa dicari dimana saja sekarang. Salah satu posisi garisnya memisahkan Pulau Bali dengan Pulau Lombok. Dengan demikian Bali dan Lombok menjadi perbatasan dan sekaligus wilayah perantara antara flora dan fauna bagian barat dengan bagian timur Indonesia. Di Bali, Wallace tidak memiliki kesempatan banyak untuk mengeksplorasi daerahnya dengan seksama. Tapi di Lombok Wallace memiliki kesempatan lebih lama dan mendapatkan peluang untuk mendapatkan koleksi flora maupun fauna yang khas. Disini saya akan memvisualisasikan beberapa fauna Lombok temuan Wallace dari bangsa burung.

1. Oriolus Broderipii (Oriolus Chinensis)

The fine fig-trees of the avenues, where a market was held, were tenanted by superb orioles (Oriolus broderpii) of a rich orange colour, and peculiar to this island and the adjacent ones of Sumbawa and Flores.
800px-OriolusBroderipiiWolfCrop
Oriolus Broderipii seperti dilukiskan oleh Joseph Wolf. (https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole)

Burung ini banyak ditemukan di seluruh Asia, terdapat 20 subspesies yang telah diketahui dan diklasifikasikan dengan baik. Pak Wallace sendiri telah menemukan dua subspesies ini dalam perjalanannya di nusantara yaitu O. c. maculatus dan O. c. frontalis.

2. Tropidorhynchus timoriensis

All round the town were abundance of the curious Tropidorhynchus timoriensis, allied to the Friar bird of Australia. They are here called "Quaich-quaich," from their strange loud voice, which seems to repeat these words in various and not unmelodious intonations.
16296068244_49ec65fb6a_k
T. Citreogularis, subspesies dari tropidorhynchus

Burung ini merupakan sebuah burung Meliphagine dari genus Australia. Sulit menyebut namanya, apalagi menemukan foto aslinya di Lombok.

3. Megapodius Gouldii

.., and the strange moundmaker (Megapodius gouldii), are also here first met with on the traveller's journey eastward. The last mentioned bird requires a fuller notice. The Megapodidae are a small family of birds found only in Australia and the surrounding islands, but extending as far as the Philippines and Northwest Borneo. They are allied to the gallinaceous birds, but differ from these and from all others in never sitting upon their eggs, which they bury in sand, earth, or rubbish, and leave to be hatched by the heat of the sun or by fermentation. 
Megapodius
Megapodius Reinwardt, masih saudaranya gouldii dan fotonya lebih banyak daripada si Gouldii. (https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting)

4. Halcyon Fulgidus (Caridonax Fulgidus)

I obtained here eight species of Kingfishers; among which was a very beautiful new one, named by Mr. Gould, Halcyon fulgidus. It was found always in thickets, away from water, and seemed to feed on snails and insects picked up from the ground after the manner of the great Laughing Jackass of Australia.
kingsisher
Caridonax Fulgidus. (https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos)

Burung yang cantik, rasanya masih banyak ditemukan disekitar sungai di Lombok dan bahkan di kepulauan Flores.

5. Ceyx Rufidorsa

The beautiful little violet and orange species (Ceyx rufidorsa) is found in similar situations, and darts rapidly along like a flame of fire.
7616225612_7823f368be_b
Rufous-backed Kingfisher atau Ceyx rufidorsa (https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC)

Ditemukan di banyak bagian Asia Tenggara hingga Filipina.

6. Merups Ornatus

Here also I first met with the pretty Australian Bee-eater (Merops ornatus). This elegant little bird sits on twigs in open places, gazing eagerly around, and darting off at intervals to seize some insect which it sees flying near; returning afterwards to the same twig to swallow it. Its long, sharp, curved bill, the two long narrow feathers in its tail, its beautiful green plumage varied with rich brown and black and vivid blue on the throat, render it one of the most graceful and interesting objects a naturalist can see for the first time.
Merops_ornatus_-_Centenary_Lakes
Pemakan lebah yang ada di Lombok dan ada juga di Australia.(https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater)

Ornatus ini ternyata juga sudah masuk zona merah hampir punah, meskipun diberi status tidak mengkhawatirkan (Least Concern).

7. Pitta concinna 

Of all the birds of Lombock, however, I sought most after the beautiful ground thrushes (Pitta concinna), and always thought myself lucky if I obtained one. They were found only in the dry plains densely covered with thickets, and carpeted at this season with dead leaves. They were so shy that it was very difficult to get a shot at them, and it was only after a good deal of practice that I discovered low to do it. The habit of these birds is to hop about on the ground, picking up insects, and on the least alarm to run into the densest thicket or take a flight close to the ground. At intervals they utter a peculiar cry of two notes which when once heard is easily recognised, and they can also be heard hopping along among the dry leaves.

Concinna, nama yang cantik. Burung ini juga ditemukan oleh Gould tahun 1857. Penyebarannya berada di area Sunda Kecil, dimulai dari Lombok hingga pulau-pulau di timur sana seperti Pulau Alor dkk.

 

 

Pustaka :

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/timor.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Black-naped_oriole

https://www.wordnik.com/words/Tropidorhynchus

http://www.finedictionary.com/Friar%20bird.html

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius_gouldii

http://zipcodezoo.com/index.php/Megapodius

https://hiveminer.com/Tags/bird,orangefootedscrubfowl/Interesting

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=3B88B2299DB5CDDC

https://www.hbw.com/ibc/species/55743/photos

https://www.thainationalparks.com/species/rufous-backed-kingfisher

https://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_bee-eater

http://www.iucnredlist.org/details/22683753/0

https://avibase.bsc-eoc.org/species.jsp?avibaseid=B655A7C067111CBC

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Naturalis_Biodiversity_Center_-_RMNH.AVES.121556_-_Pitta_versicolor_concinna_Gould,_1857