Leg 2 : Gelora Angin Serong Buritan

DSC06688

Dua gelas kopi panas baru saja terhidang didepanku. Gula yang cenderung minim memberi sedikit realita pada setiap tegukannya. Menenggak kopi sembari memonitor Hydropro pada laptop jelas menjadi pasangan yang cocok sore-sore di Teluk Terima begini. Terima kasih pada Ani yang telah mulai belajar membuat kopi dengan trangia, tidak lupa juga pada sang guru pengajar Bang Dani yang membawa trangianya. Ani tidak begitu suka kopi, tapi suka meracik kopinya. Pak Kapten dan kru sekaligus juga aku mau-mau saja jadi juru cicipnya, toh lumayan menghangatkan tenggorokan di sela tiupan angin laut begini.

Beberapa jalur perum lagi, maka tuntas sudah survei batimetri yang kami lakukan di teluk ini. Dua setengah jam lagi matahari akan terbenam, namun rasanya menyelesaikan dua jalur perum utama dan setengah jalur perum melintang ini akan lebih cepat dari perkiraan kami. Mungkin bisa saja kami tutup survei batimetri ini dengan sedikit snorkeling. Hitung-hitung snorkeling perdanaku di laut dibandingkan di kolam renang SORGA di kampus.

Aku sungguh tidak menduga kalau aku berani untuk mencoba snorkeling nanti di penghujung survei oseanografi ini, tapi juga menjadi bagian dari tim kordinator survei batimetri bukan sesuatu yang awalnya kubayangkan ketika berangkat dari gedung biru dikampus. Di awal latihan survei ini aku bahkan tidak berani untuk naik perahu.

Masih terlalu nyata ingatanku dengan asinnya liur dan mualnya perut ketika pertama kali naik perahu untuk menentukan lokasi ADCP dan penyelaman. Esoknya, seakan belum puas menyiksaku, setelah mengamati pasang surut di dermaga Bang Fadil dan Bang Dani mengajakku bersama kelompok 5 untuk memasang dan mencoba echosunder yang baru saja dimiliki jurusan. Bu Susi ekstra hati-hati menyerahkan penggunaannya pada kami-kami, para mahasiswa praktik ini.

Waktu itu, selesai memasang transduser, kami langsung melaut untuk sea trial echosoundernya. Persoalan yang muncul ketika itu adalah komunikasi antara GPS dengan Hydropro, sehingga belum bisa menampilkan posisi kordinat layar laptop. Sedangkan, untuk pembacaan, echosounder hydrotrac ini menampilkan nilai kedalaman yang cukup baik yang dikonfirmasi menurut pengetahuan pak kapten dan pada peta laut sekunder. Beruntung juga persoalan pribadi yang sebelumnya sedikit berkurang, mualnya tidak sehebat sebelumnya dan pusingnya hanya sementara disaat terlalu lama memperhatikan layar laptop sewaktu berperahu.

Bang Dani berkilah, kepergian pertamaku ke laut sebelumnya yang sukses membuatku terkapar adalah ajang pembaptisanku untuk menjelajah laut, sekadar salam kenal dan penyambutan sang dewa laut padaku. Aku terkekeh dan sedikit merasa tertipu, beberapa minggu, berlatih renang dan minum air kaporit di SORGA kampus ternyata masih kurang dan perlu juga disambut dewa laut dengan mual dan pusing. Tidak masuk akal.

Esoknya, giliran aku dan kelompokku yang memang harus puas merasakan ombak seharian penuh, dari pagi sampai siang kami mengambil beberapa titik sampel air dan mengukur parameter fisisnya, sedang setelah makan siang kami transek karang di depan Pulau Menjangan. Saat itu, disaat aku mengira bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan bau laut dan goyangan-goyangan seksinya, aku diberikan hadiah kejutan. Sesaat setelah makan siang nasi bungkus khas Bali yang lumayan pedas, perutku mulai terasa tidak normal. Benar saja, tidak lama kemudian sewaktu berhenti di titik pengukuran aku kembali memberikan persembahan terbaikku kepada Dewa Laut Bali. Makan siangku.

Isi perutku berhamburan keluar bagai pelet-pelet untuk memberi makan ikan. Beruntung, persembahanku diterima oleh sang dewa, sorenya, meskipun masih puyeng aku sudah cukup sehat untuk membantu mengukur titik terakhir hari itu dan menikmati indahnya matahari yang berpamit.

Itu adalah kali terakhir bagiku untuk mabuk laut, juga, itu adalah hari terakhirku masuk dalam tim kualitas air. Duh ! Sungguh membosankan mengukur kualitas air, apalagi mengambil air pada tiga kedalaman yang berbeda dengan botol nansen. Kalau masih 5 meter dalamnya sih tidak apa, tapi kalau kedalaman lebih dari 10 meter sudah, saya memelas iba pada Bayu, kru kapten yang masih muda dan kuat untuk meminta membantu mengangkat botol nansen itu dari kedalaman ke permukaan.

Leg 1 : Terpapas dan teranggul gelombang

“Jadi yang ikut kapal siapa aja, Fad ?“ Suara Pak Ari Tayra memecahkan kesibukan di dermaga.

“Saya, Dani, Toni sama Anggi dan Ani Pak jadinya, kita sebentar saja sih, cuma meninjau cepat lokasi yang cocok untuk ADCP dan penyelaman nanti. Kalau sempat kita pasang GPS soundernya di Menjangan nanti.”

“Oh ok, jadi berlima saja yah, iya bagus itu buat Anggi sama Ani biar bisa belajar sama kamu ‘Fad”

“Iya pak, biar latihan jadi asisten tahun depan. Bapak mau ikut nih?

“Ah tidak dulu, saya mau di sini saja, melihat yang pasang pasut sama kalibrasi CTD nya.”

Apa, asisten ? asisten praktik survei oseanografi ? di tahun depan ? Apa tidak salah omongan mereka. Itupun kalau aku masih hidup dan selamat dari perjalanan sore ini. Kapal yang sudah bersandar di dermaga itu jelas tidak besar dan tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan yang mengutamakan kenyamanan. Perahu ini, Tirta Dewata 2 namanya, adalah perahu yang digunakan untuk menghubungkan dan mengangkut apapun dari/dan menuju keramba ditengah untuk keperluan budidaya mutiara. Pak Wayan, yang mencarikan kapal ini, pada akhirnya juga bercerita bahwa kapal utamanya digunakan untuk keperluan budidaya tapi sesekali ketika musim turis tiba, perahu ini dipakai juga untuk mengantar wisatawan ke Pulau Menjangan. Singkatnya, kapal ini sebenarnya adalah ojek air, bukan kapal survei. Bodi kapalnya sudah mulai melapuk dan palkanya sedikit tergenang oleh air dan oli, baunya lebih mirip kuburan ikan daripada kapal survei. Akan tetapi, sekali penglihatan, Bang Fadil sudah merasa nyaman dengan kapal ojek itu sedangkan aku masih termangu di pinggiran dermaga.

Ani langsung melompat ke dalam perahu, begitu juga Bang Fadil. Bang Dani setengah berteriak bilang kepadaku untuk mengoper pelampung dan peralatan lain ke kapal.

“Ayo, kenapa diam saja seperti habis ikut kuliah gelombang, ini sudah mau berangkat kita. Keburu sore nanti.” Seperti biasa, kerasnya suara Bang Fadil melebihi suara mesin yang mulai menderu. Mungkin itu sebabnya dia selalu seakan berteriak yah. Terlalu tuli dengan suara mesin.

Ani menggandeng tanganku seraya aku meloncat sedikit ke haluan kapal. Aku langsung memegang tiang atap perahu dan duduk bersandar di tiang haluan, di muka kemudi dekat jangkar berkarat pengundang tetanus. Pelampung telah kupakai, sebenarnya ingin aku melepasnya, karena yang lainnya tidak memakainya. Tapi aku masih takut.

“Tenang saja ‘gi, ini tidak lebih menyeramkan daripada kora-kora di dufan. Ani, jaga yah itu temen kamu !”. Ucapan Toni ini jelas bukan ucapan yang menenangkan, naik kora-kora di dufan saja aku tidak berani apalagi naik perahu sekecil ini di laut penuh gelombang begini.

Pikiranku kualihkan pada GPS Oregon yang telah kunyalakan untuk melihat posisi kita di laut nanti. Angka koordinatnya dan tampilan jarum posisinya belum berubah karena kita masih belum jauh dari dermaga. Perlahan Tirta Dewata berjalan pelan keluar dari area dermaga, mengayun perlahan sesuai alun gelombang. Cuacanya baik kata pak kapten, ombaknya masih kecil. Ya menurut dia. Menurutku, ini lebih mirip gelombang badai, angin kencang dan haluannya teranggul-anggul. Cipratan air sewaktu perahu memapas ombak sesekali mengenai kening dan membasahi geladak.

IMG_2549

Aku masih duduk bersandar pada tiang perahu, memperhatikan lebih teliti layar 4 inci GPS Oregon yang merekam pergerakan perahu daripada melihat suasana perairan sekitar. Dermaga tadi telah aku tandai dan jalannya perahu yang digambarkan melalui tanda segitiga terekam secara otomatis.

“Sip, dilihat terus yah, nanti langsung ditandai saja kalau kita menemukan titiknya. Jangan sampai hilang sinyal ! Okey.”  Bang Fadil kali ini benar-benar berteriak karena suara mesin semakin bising.

“Ok.” Cuma itu kata yang keluar dari mulutku, tangan kiriku memegang GPS, tangan kananku memegang tiang. Sesekali juga aku memandang laut serta angin yang meniup wajahku, agak jauh didepan Pulau Menjangan terlihat bagai oase. Kaki ini sudah merindukan daratan. Tapi, bau laut cukup memberikan efek penenang kalau tidak sedang mencium bau asap solar serta bisingnya mesin Yanmar kuno itu.

Setidaknya itu yang kurasa sebelum kapal berhenti dan mesinnya dimatikan. Kami sudah sampai di belakang Pulau Menjangan. Kami berhenti sekitar 200-300 meter dari sisi pantainya. Disini menurut kapten adalah tempat yang sering jadi snorkeling atau selam. Kapal mulai bergerak tidak karuan, menurut saja pada angin dan arus yang membawanya. Kepalaku mulai pusing dan rasa mual mulai timbul di perutku.

Airnya biru sebiru air yang jernih sejernihnya seperti yang sering kulihat di layar ponselku melalui instagram. Dari atas perahu kami melihat bahwa di kedalaman terdapat formasi karang yang cukup besar dan sepertinya cukup luas. Cuma warna biru itu yang bisa menghiburku di tengah-tengah keringat dingin yang mengucur di kening dan kelenjar ludah yang terasa terlalu banyak.

“Tandai ‘Gi ! ini sepertinya lokasi yang cukup bagus buat pasang ADCP nya sekaligus juga titik selam kita. Ada sebidang pasir disitu yang cocok untuk menanam alat kita. Ani, foto itu sekarang, mumpung agak tenang arusnya.”

“Foto, memangnya ini kameranya underwater bang?”

“Bukan itu, itu yang ada di kantong dry bag, ada kamera underwaternya. Coba celupkan di sisi kanan dan kiri kapal ini dan foto saja, biar bisa nanti kita tinjau di pondokan.”

Ani melakukan apa yang Bang Fadil minta dan mengambil foto beberapa kali. Sedang kepalaku semakin pusing dan pusing. Kulepas pelampungku karena rasanya terlalu menekan dadaku. Perutku juga semakin mual, kepalaku menjulur di sisi kapal siap memberi makan ikan, tapi rasanya belum begitu final untuk kutumpahkan. Aku membeku.

“Ok Mantap !, kita gerak lagi ke titik selanjutnya, masih ada beberapa titik lagi. Ayo kep, kita mulai gerak saja.”

Sejurus kemudian kapal bergerak pelan menuju titik selanjutnya, titik ini agak dekat dengan titik yang pertama tadi, titik ini juga lebih dangkal, mungkin sekitar 5–7 meter. Serupa dengan lokasi sebelumnya, air disini jernih dan menjanjikan untuk menanam alat dan penyelaman karang. Sauh diturunkan. Bang Toni serta Bang Dani bersiap turun untuk memeriksa lokasi ini. Entah apa alasannya Bang fadil memutuskan untuk buang sauh disini dan memeriksa langsung airnya, konsentrasiku buyar ditelan liur asin yang berkali-kali kubuang ke air.

“Ayo Gi, ikut turun biar segar, sekaligus mandi sore”. Ajak Dani yang rasanya lebih mengejek daripada mengajak.

“Sudah, jangan diganggu dulu, masih untung belum muntah dia sekarang.”

“Ayo Ni, cepat turun, itu jangan lupa kamera underwaternya selalu dikalungkan di lehermu biar tidak jatuh,  dan jangan jauh-jauh dari Dani ok.”

Dani, Toni dan Ani semua sudah di air, tinggal aku dan Bang Fadil di kapal. Titik ini kutandai seadanya, yang penting tersimpan di GPS. Satu-satunya hal yang belum jelas adalah giroskop kepalaku yang masih limbung. Mual di perutku juga belum reda. Keringat mengucur di keningku dan angin sakal yang bertiup membuat badanku dingin, padahal matahari masih terik walau sudah mendoyong mau tenggelam.

Beberapa menit berdiam, kapal semakin menari dengan liar mengikuti cuaca yang semakin temaram. Angin juga semakin kuat, aku kenakan kembali pelampung agar hangat.  Bang Fadil menawariku sebungkus oreo atau jeruk untuk kukunyah. Katanya biar liurku ada rasanya, daripada rasa lambung yang masam terus membuat mual, kan lebih baik rasa coklat oreo. Teori yang tidak masuk akal, tapi wangi jeruk memang lebih segar, jadi jeruk saja yang kumakan.

“Arusnya kuat bang di bawah, dan tidak ada tempat datar seperti yang pertama tadi. Dasarnya miring dan menurun. Sulit menaruh disini dan malah bisa bergeser nanti.”

“Okey. Kita evaluasi nanti, bahaya kalau alat kena arus kuat dan bergeser, bisa hilang  ADCPnya nanti. Sudah, cepat naik dan kita bergeser ke posisi berikutnya. Kata kep, ada 2 tempat lagi yang potensial.”

Tiga kali lagi kami berhenti di lokasi lain, Pulau Menjangan sudah dikelilingi, salah satu lokasi titiknya dekat dengan dermaga Pulau Menjangan, agak riskan juga katanya meletakkan alat didekat dermaga itu. Takut hilang oleh tangan jahil tepatnya. Tidak banyak yang kudengar saat itu, pergulatan dengan mual dan pusing masih berlangsung meskipun sebenarnya tidak memburuk namun juga belum membaik.

Waktu menunjukkan pukul 17.35 saat kami berlayar pulang setelah singgah di titik terakhir di dekat dermaga Menjangan itu. Aku memandang melongo melihat matahari yang berpamit selama perjalanan pulang kami. Semua memandang cantiknya matahari yang semakin tenggelam. Ani dan yang lain jelas mulai memotret dan berswafoto. Sedang aku telah kelelahan memerangi mabuk laut ini, namun memang matahari yang terbenam jadi satu-satunya penghiburku  dari trip horor kali ini.

IMG_4499

Setiba didermaga, kelompok 2 tampak berfoto-foto dengan sunset padahal matahari sudah melewati ufuk. Aku terhuyung lemas turun dari perahu. Kakiku gemetar sehingga aku memutuskan untuk menunda pulang dan berisitirahat di dermaga dengan kelompok 2 ini. Kelompok dua ini bukan tanpa alasan menongkrong manis di dermaga, tapi memang sudah jamnya mereka untuk menjaga stasiun pasang surut baik yang otomatis maupun yang dari palem. Bacaan dari palem pasut dibaca setiap setengah jam dan bacaan dari pasut otomatis dicek setiap 3 jam sekali. Penugasan ini berlangsung setiap 6 jam. Kelompokku, kelompok 1, kebagian bertugas besok jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Kepalaku masih sedikit bergoyang saat Ahmad dari kelompok dua mengantarku pulang ke pondokan. Di pondokan, suasana ramai dengan kesibukan. Kami sebagai peserta mulai sibuk untuk menyiapkan kegiatan survei besok paginya. Sebagian menyiapkan peta dan formulir-formulir survei. Sebagian berlatih mencoba total station, echosounder atau alat survei lainnya ataupun membaca manual dan prosedur pengamatan. Aku tidak peduli, aku mau mandi dan istirahat sampai esok tiba. Saat ini, laut dan oseanografi tampaknya bukan untuk diriku.

Durian sebelum abad ke 20.

Durian ! Siapa yang tidak mengenal buah ini, buah yang kelewat terkenal. Buah asli asia tenggara yang telah tersebar di seluruh dunia. Barang siapa yang bermukim di Asia Tenggara jelas mengetahui buah ini. Tapi di bagian bumi lain, buah ini masih merupakan buah yang teramat asing. Coba ketik saja kata kunci, “eating durian” pada mesin video youtube. Ratusan ribu hasil penelusuran video akan segera keluar dan menampilkan video-video orang-orang yang asing melihatnya apalagi mencoba keberaniannya dengan memakan durian. Yup, mencoba keberanian untuk memakan durian terdengar sangat aneh, tapi menarik melihat mimik-mimik orang-orang itu memakan durian untuk pertama kalinya. Sebegitu asingnya buah ini, padahal ini sudah tahun 2017, dekade kedua abad 21.

800px-Durian
Si raja buah (https://en.wikipedia.org/wiki/Durian)

Bagaimana dengan pesona buah durian di abad 18 atau 19 ? tentu tidak ada reportase youtube untuk melihat mimik orang-orang yang memakan durian. Yang ada hanya tulisan, laporan tertulis dari rasa yang mereka alami ketika melihat atau makan durian.

wallace1
Cover buku Kepulauan Nusantara yang menampilkan buah-buahan termasuk durian

Tulisan pertama yang membuat saya sadar pesona durian adalah pengalaman dari naturalis A.R. Wallace. Dalam bukunya The Malay Archipelago, Wallace menjelaskan dengan detil pengalamannya bertemu si durian dalam beberapa kali kesempatannya.

I afterwards shot two adult females and two young ones of different ages, all of which I preserved. One of the females, with several young ones, was feeding on a Durian tree with unripe fruit; and as soon as she saw us she began breaking off branches and the great spiny fruits with every appearance of rage, causing such a shower of missiles as effectually kept us from approaching too near the tree.

Yah setidaknya, bertemu dengan orang utan yang makan durian adalah salah satu pengalaman Wallace di Kalimantan. Mencoba menembak orang utan yang sedang memakan durian, adalah hal lain yang perlu dicatat dari Wallace mengenai kepintaran orang utan untuk menggunakan durian sebagai senjata dan kepintaran Wallace untuk menghindari tembakan durian yang dilemparkan si orang utan.

090402-orangutan-food-test_big
Buah favorit orang utan (http://animalia-life.club/other/orangutan-eating-durian.html)
The Durian is an especial favourite, and quantities of this delicious fruit are destroyed wherever it grows surrounded by forest, but they will not cross clearings to get at them. It seems wonderful how the animal can tear open this fruit, the outer covering of which is so thick and tough, and closely covered with strong conical spines. It probably bites off a few of these first, and then, making a small hole, tears open the fruit with its powerful fingers.

Selama berburu orang utan Wallace juga mencatat bahwa durian adalah buah favorit orang utan. Kekagumannya terlihat sewaktu berburu orang utan dan memperhatikannya makan durian. Wallace mungkin lebih heran lagi kalau tahu bahwa gajah dan bahkan harimau juga suka durian.

Lebih menarik lagi adalah penjelasan detil dan panjangnya uraian mengenai buah durian dibandingkan buah lainnya sewaktu berada di seputaran Sarawak, Kalimantan. Siapa sangka, sebuah durian bisa dituang dalam segitu panjangnya tulisan.

The banks of the Sarawak River are everywhere covered with fruit trees, which supply the Dyaks with a great deal of their food. The Mangosteen, Lansat, Rambutan, Jack, Jambou, and Blimbing, are all abundant; but most abundant and most esteemed is the Durian, a fruit about which very little is known in England, but which both by natives and Europeans in the Malay Archipelago is reckoned superior to all others. The old traveller Linschott, writing in 1599, says: "It is of such an excellent taste that it surpasses in flavour all the other fruits of the world, according to those who have tasted it." And Doctor Paludanus adds: "This fruit is of a hot and humid nature. To those not used to it, it seems at first to smell like rotten onions, but immediately when they have tasted it, they prefer it to all other food. The natives give it honourable titles, exalt it, and make verses on it."

When brought into a house the smell is often so offensive that some persons can never bear to taste it. This was my own case when I first tried it in Malacca, but in Borneo I found a ripe fruit on the ground, and, eating it out of doors, I at once became a confirmed Durian eater.

Ternyata, pertama kalinya Wallace bertemu dengan buah durian adalah sewaktu di Malaka, meskipun dari uraiannya tidak memberikan indikasi pertemuan yang menyenangkan. Pertemuan yang lebih menyenangkan yang membuatnya menjadi penganut klan durian terjadi sewaktu ia datang ke tanah asal durian di Kalimantan, mungkin di Sarawak ini.

The Durian grows on a large and lofty forest tree, somewhat resembling an elm in its general character, but with a more smooth and scaly bark. The fruit is round or slightly oval, about the size of a large cocoanut, of a green colour, and covered all over with short stout spines the bases of which touch each other, and are consequently somewhat hexagonal, while the points are very strong and sharp. 

Heksagonal jelas bukan yang ada di pikiran saya ketika melihat durian.

It is so completely armed, that if the stalk is broken off it is a difficult matter to lift one from the ground. The outer rind is so thick and tough, that from whatever height it may fall it is never broken. From the base to the apex five very faint lines may be traced, over which the spines arch a little; these are the sutures of the carpels, and show where the fruit may be divided with a heavy knife and a strong hand. The five cells are satiny white within, and are each filled with an oval mass of cream-coloured pulp, imbedded in which are two or three seeds about the size of chestnuts. 

Massa daging buah yang oval berwarna krim, yang menyelimuti biji yang sebesar kacang chestnut. Terdengar sangat menggiurkan !

This pulp is the eatable part, and its consistency and flavour are indescribable. A rich butter-like custard highly flavoured with almonds gives the best general idea of it, but intermingled with it come wafts of flavour that call to mind cream-cheese, onion-sauce, brown sherry, and other incongruities. Then there is a rich glutinous smoothness in the pulp which nothing else possesses, but which adds to its delicacy. It is neither acid, nor sweet, nor juicy; yet one feels the want of more of these qualities, for it is perfect as it is. It produces no nausea or other bad effect, and the more you eat of it the less you feel inclined to stop. 

Deskripsi ini tampak seperti kata-kata yang keluar saat menonton acara masak yang bikin ngiler penontonnya, imajinasi memberikan bayangan seorang masterchef yang sedang menikmati makanan lezat. Tapi saya jelas tidak bisa tidak setuju ketika Wallace bilang ‘semakin dimakan semakin susah untuk berhenti makan’.

In fact to eat Durians is a new sensation, worth a voyage to the East to experience.

Yup, makan durian jelas alasan yang kuat untuk bepergian.

When the fruit is ripe it falls of itself, and the only way to eat Durians in perfection is to get them as they fall; and the smell is then less overpowering. When unripe, it makes a very good vegetable if cooked, and it is also eaten by the Dyaks raw. In a good fruit season large quantities are preserved salted, in jars and bamboos, and kept the year round, when it acquires a most disgusting odour to Europeans, but the Dyaks appreciate it highly as a relish with their rice. There are in the forest two varieties of wild Durians with much smaller fruits, one of them orange-coloured inside; and these are probably the origin of the large and fine Durians, which are never found wild. 

Wallace jelas termasuk orang yang beruntung, mencoba berbagai jenis durian yang khas di Kalimantan, yang sampai sekarang masih sulit ditemui di luar Kalimantan.

It would not, perhaps, be correct to say that the Durian is the best of all fruits, because it cannot supply the place of the subacid juicy kinds, such as the orange, grape, mango, and mangosteen, whose refreshing and cooling qualities are so wholesome and grateful; but as producing a food of the most exquisite flavour, it is unsurpassed. If I had to fix on two only, as representing the perfection of the two classes, I should certainly choose the Durian and the Orange as the king and queen of fruit.

Yes, pengakuan sebagai raja buah dari si naturalis terkenal. Apa lagi yang mesti diperdebatkan?

The Durian is, however, sometimes dangerous. When the fruit begins to ripen it falls daily and almost hourly, and accidents not unfrequently happen to persons walking or working under the trees. When a Durian strikes a man in its fall, it produces a dreadful wound, the strong spines tearing open the flesh, while the blow itself is very heavy; but from this very circumstance death rarely ensues, the copious effusion of blood preventing the inflammation which might otherwise take place. A Dyak chief informed me that he had been struck down by a Durian falling on his head, which he thought would certainly have caused his death, yet he recovered in a very short time.

Barangkali ini awal mula peribahasa bagai mendapat durian runtuh, tapi mendapat durian runtuh agak sulit diterima apabila runtuhnya di kepala atau bahkan dilempar orang utan dari atas.

Poets and moralists, judging from our English trees and fruits, have thought that small fruits always grew on lofty trees, so that their fall should be harmless to man, while the large ones trailed on the ground. Two of the largest and heaviest fruits known, however, the Brazil-nut fruit (Bertholletia) and Durian, grow on lofty forest trees, from which they fall as soon as they are ripe, and often wound or kill the native inhabitants. From this we may learn two things: first, not to draw general conclusions from a very partial view of nature; and secondly, that trees and fruits, no less than the varied productions of the animal kingdom, do not appear to be organized with exclusive reference to the use and convenience of man.
brazilnut
Brazil Nut dan komparasinya dengan tangan. (http://rio.wikia.com/wiki/Brazil_Nut)

Dari sedikit penelusuran, Brazil-nut lebih mirip kelapa dibandingkan durian, tapi memang besar dan memang buah yang sama endemiknya dengan durian di asia tenggara. Soal rasa, sepertinya durian lebih menarik dibandingkan Brazil-nut.

The lower part of the mountain, behind the town of Ternate, is almost entirely covered with a forest of fruit trees, and during the season hundreds of men and women, boys and girls, go up every day to bring down the ripe fruit. Durians and Mangoes, two of the very finest tropical fruits, are in greater abundance at Ternate than I have ever seen them, and some of the latter are of a quality not inferior to any in the world. Lansats and Mangustans are also abundant, but these do not ripen till a little later.

Di Ternate Wallace ketemu lagi dengan durian, panen durian sepertinya disana waktu Walllace datang. Saya pribadi belum pernah menyicipi durian di Ternate, tapi pasti terlalu enak untuk dilewatkan kalau berkunjung kesana.

Sebenarnya, seperti sudah dikatakan Wallace diatas, ada beberapa orang bule sebelumnya yang telah mengunjungi nusantara dan melihat atau mencicipi durian. Diantaranya ada John Huyghen Linschoten, G.E Rumphius, dan para penulis lain seperti dituturkan W.H. Davenport Adams. Reaksinya bermacam-macam, tapi kekaguman dan keheranan menjadi hal yang sama-sama mereka rasakan.

Rumphius1
Buah dan Pohon Durian dalam buku Rumphius. (Rumphius, 1741)

Linschott menjelajah Asia termasuk nusantara di akhir abad ke 16 sekitar tahun 1580an. Bukunya terbit ditahun 1598 untuk edisi bahasa inggrisnya. Deskripsinya yang panjang jelas menarik perhatian Wallace untuk mencoba durian juga pada akhirnya. Beberapa penjelasan Linschoten bahkan diambil sedikit serupa untuk dijadikan tulisan oleh Wallace.

Sedangkan disisi timur nusantara Rumphius aktif mendata flora di wilayahnya, Ambon, termasuk durian ambon yang legit. Penjelasannya mengenai durian tertuang dalam 4 halaman, sayangnya ditulis dalam bahasa Belanda dan Portugis (?), jadi cukup susah menginterpretasikannya.

Rumphius2
Penjelasan Durio, Duryon di hal 99. (Rumphius, 1743)

Davenport Adams dalam bukunya The Eastern Archipelago menampilkan rangkuman atau cuplikan penjelajahan wilayah asia tenggara termasuk nusantara. Beberapa bagian dalam bukunya menampilkan (kopian ?) dari cerita Wallace mengenai nusantara, termasuk juga mengenai buah durian itu sendiri. Di sisi lain bukunya, perjalanan Arthur Adams ke Ternate sewaktu menumpang kapal H.M.S Samarang menyebutkan banyaknya pohon durian yang berseling dengan pohon limau di Ternate (hal 381).

Davenport1
Cuplikan cerita Arthur Adams dalam buku Davenport. (D. Adams, 1880)

 

 

Pustaka :

Adams, W.H. Davenport. 1880. The Eastern Archipelago. A description of the scenery, animal and vegetable life, people, and physical wonders of the islands of the easterns seas. T. Nelson and Sons. Page 381.

Linschoten, J.H. 1885. The Voyage of John Huyghen Van Linschoten To The East Indies : From the old english translation of 1598 : the first book, containing his description of the east. Printed for the Hakluyt Society. Page 51 – 53.

Rumphius, G.E. 1743. Het Amboinsche kruid-boek. Dat is, beschryving van de meest bekende boomen, heesters, kruiden, land-en water-planten, die men in Amboina, en de omleggende eylanden vind, na haare gedaante, verscheide benamingen, aanqueking, en gebruik: mitsgaders van eenige insecten en gediertens, … door Georgius Everhardus Rumphius, … Nagezien en uitgegeven door Joannes Burmannus, … Eerste [-6] deel, Volume 3. Page 99-104.

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

http://animalia-life.club/other/orangutan-eating-durian.html

https://archive.org/

https://en.wikipedia.org/wiki/Durian

https://id.wikipedia.org/wiki/Durian

http://historia.id/kuliner/riwayat-durian-di-nusantara

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://rio.wikia.com/wiki/Brazil_Nut

 

 

 

 

A.R Wallace dan Orang Utan

Lepas dari Malaka dan Singapura, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Borneo di bagian Sarawak dengan harapan yang besar. Wallace mengunjungi banyak tempat di Sarawak, namun kesan mendalam baginya dan bagi saya yang mendengar ceritanya di dapatkan di daerah pertambangan batubara Simunjon (Simunjan). Sarawak kala itu berada dibawah penguasaan Inggris yang diwakili oleh Sir James Brooke (Raja Sarawak aseli Inggris tulen yang berkuasa dari Tahun 1842 – 1868) .

sarawakmapboundaries
Peta Wilayah Sarawak pada berbagai waktu. Lokasi Simunjan di lingkari merah. (http://www.britishempire.co.uk/images2/sarawakmapboundaries.jpg)

Sebagai tamu jauh dari Inggris yang berkunjung ke Sarawak, Wallace diterima baik oleh James Brooke dan diberikan tempat tinggal, tempat untuk beristirahat serta lebih pentingnya lagi, diberikan jaminan dan dorongan untuk menjelajah area Sarawak dibawah perlindungan si raja kulit putih itu. Wallace tinggal selama sekitar dua tahun di Sarawak.

This print shows James Brooke's Bungalow before it was destroyed in the 1857 Chinese rebellion. The bungalow also acted as his court and effectively the seat of government for Sarawak.
Bungalow Raja James Brooke, terlihat indah sekali, apa Wallace dberi tempat disini? (http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak/brookesbungalow.htm)

Di hutan Sarawak inilah pertama kalinya Wallace melihat orang utan atau mias (sebutan lokal untuk orang utan waktu itu) pada awal bulan maret Tahun 1855. Yah, lebih tepatnya di area pertambangan disana, di area Kota Simunjon itu. Masa itu, pertambangan menjadi pokok kehidupan di area Simunjan, sedangkan masa kini, entah apa kekhasannya tapi rasa-rasanya Simunjan telah kehilangan pesona pertambangannya dan menyisakan sisa-sisa lokasinya sebagai tempat wisata (bisa cek disini soal Simunjan).

simunjan
Selamat Datang Di Simunjan. (http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html)

Nah, dalam kesempatan ke Simunjan ini Wallace memang sengaja menyempatkan diri datang untuk melihat orang utan secara khusus. Perjumpaan Wallace dengan orang utan di pedalaman Sarawak ini sungguh menarik untuk dibaca. Apalagi dengan membayangkan rimbunnya hutan Sarawak di Tahun 1855 itu. Seandainya youtube telah ada sewaktu itu, barangkali ceritanya mengenai mias akan disertai pula dengan video perburuannya. Iya, berburu !

 Ia menulis :

Salah satu tujuan utama perjalanan ke Simunjon adalah untuk meneliti orang utan. Saya ingin melihat habitat aslinya, mempelajari kebiasaan dan mendapatkan spesimen dari berbagai variasi spesies serta dari kedua jenis kelamin, baik orang utan yang masih muda ataupun yang dewasa. Diluar dugaan, saya berhasil mendapatkan semua yang saya inginkan. Kini saya akan menceritakan pengalaman saya berburu orang utan, atau disebut “Mias” oleh penduduk pribumi. Karena nama tersebut pendek dan mudah diucapkan, maka saya akan menggunakan nama tersebut untuk menyebut nama Simia Satyrus atau orang utan.

Waktu itu, nama ilmiah yang diberikan untuk Orang Utan adalah Simia Satyrus. Nama ini pertama kali diberikan oleh Carolus Linnaeus sebagai orang yang pertama kali mendeskripsikannya secara ilmiah (Dalam literatur ilmiah Systema Naturae tahun 1758, bukan dalam postingan wordpress !)

05
Bayi Mias. (http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html)

“Mendapatkan spesimen” bagi seorang naturalis adalah kata lain untuk mengoleksi spesimen tersebut dengan cara memburu dan kemudian mengawetkannya untuk diteliti lebih lanjut. Pada masa sekarang yang katanya penuh kemajuan, cerita perburuannya terlihat seperti menjijikkan dan menyeramkan, tapi pada masa tersebut, bagaimana lagi cara untuk memperoleh spesimen-spesimen spesies dengan kondisi utuh serta lengkap bahkan tanpa luka? Akan sangat sulit untuk membawa spesimen-spesimen dalam berbagai variasi secara hidup-hidup, apalagi hendak dibawa ke Eropa. Terlebih pula, Wallace masih berada di awal perjalanannya dalam menjelajah nusantara.

Perburuan Wallace untuk mendapatkan spesimen mias dilakukan dengan menggunakan senapan, di berbagai kesempatan yang didapat seperti ditunjukkan pada catatan-catatan hariannya :

  1. Dua minggu kemudian saya mendengar ada seekor mias sedang makan di seberang pohon di rawa-rawa. Saya segera mengambil senapan dan beruntung masih melihatnya di rawa-rawa. Ketika saya mendekati tempat itu, hewan itu mencoba menyembunyikan diri diantara dedaunan, tetapi saya berhasil menembaknya. Pada tembakan kedua, hewan itu hampir mati terkapar di tanah. Dua butir peluru menembus tubuhnya.
  2. Pada 28 April, saya bersama dua orang Dyak menembak mias lain yang besarnya kira-kira sama dengan yang pertama. Hewan tersebut jatuh pada tembakan pertama, tetapi sepertinya tidak terlalu terluka dan segera naik ke pohon terdekat. Pada tembakan kedua ia jatuh lagi sehingga tangannya patah dan tubuhnya terluka.

    Dyak = Dayak, harap maklum, lidah Inggris.

  3. Pada 12 mei, saya menemukan mias lain. Hewan ini juga meraung-raung marah dan melemparkan dahan-dahan pohon. Mias itu saya tembak lima kali dan mati diatas pohon, ditopang oleh sebuah cabang yang membuatnya tidak akan terjatuh. 
    
    ... Kulitnya saya awetkan didalam tong kecil berisi arak. Saya pun menyiapkan kerangka tubuhnya yang utuh sempurna dan kemudian dibeli oleh Museum Derby.

    Derby Museum adalah museum yang didirikan oleh Edward Smith-Stanley, 13th Earl Of Derby di Liverpool, Inggris. Sekarang museum itu masih ada di Liverpool sana, cuma berganti nama jadi World Museum Liverpool. Tidak diketahui di laman webnya apakah museum ini masih mengkoleksi kiriman orang utan dari Wallace, tapi sepertinya sebagai sebuah museum penting, besar kemungkinan kulit dan kerangkanya masih tersimpan baik disana.

  4. Empat hari berikutnya, beberapa orang Dyak melihat mias lain di dekat tempat mias sebelumnya. Mias kali ini agak besar. Pada tembakan kedua, hewan itu jatuh terguling-guling, tetapi segera bangkit dan kembali memanjat pohon. Pada tembakan ketiga hewan itu mati.

    Kemudian di pertengahan Mei (tepat seminggu setelah mendapatkan bayi mias) Wallace berhasil mendapatkan mias berukuran besar.

  5. …. setelah hampir putus harapan, hewan itu jatuh dengan suara keras seperti raksasa terjatuh. Tapi ia memang raksasa. Kepala dan badannya sama besar dengan kepala dan badan manusia.  Rentang lengannya tujuh kaki tiga inci, tingginya empat kaki dua inci yang diukur dari puncak kepala sampai ke tumit. Badannya diukur dari bawah lengan, tiga kaki dua inci. Jadi panjangnya sama dengan panjang manusia sedangkan kakinya pendek. Setelah diteliti ternyata mias itu terluka sangat parah. Kedua kakinya patah. Satu persendian lutut dan tulang punggungnya hancur. Selain itu peluru-peluru yang sudah pipih ditemukan di leher dan rahangnya. Akan tetapi, ia masih hidup ketika jatuh. 
    
    …. Satu hari kemudian saya dan Charles menguliti dan merebus tulang mias itu untuk membuat sebuah contoh kerangka lengkap. Kerangka tersebut sekarang disimpan di museum derby.
  6. Pada 18 juli, saya mendapatkan seekor mias jantan. 
    
    … dua tembakan membuat hewan ini melepaskan pegangan, tetapi tetap tergantung cukup lama dengan sebelah tangan. Ia kemudian jatuh menelungkup pada mukanya dan setengah terkubur dalam rawa. Selama beberapa waktu, ia mengerang dan terengah-engah sementara kami berdiri di sekelilingnya dan menunggu hembusan nafasnya yang terakhir. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga, ia bangkit sehingga kami mundur satu sampai dua yard ke belakang. Setelah berdiri hampir tegak, ia berpegangan di sebatang pohon kecil dan mulai memanjat. Ia tewas setelah sebuah peluru menembus tulang belakangnya. Sebuah peluru ditemukan di lidahnya. Peluru itu masuk dari bagian bawah perut, melintasi badan dan memecahkan tulang belakangnya. Lukanya sudah sangat parah ketika bangun dan mulai memanjat pohon dengan kekuatan yang luar biasa.
  7. Pada 21 juni, saya menembak mias betina yang telah dewasa ketika ia sedang makan buah. Hanya seekor ini yang pernah saya tembak dengan sebutir peluru.
  8. Pada 24 juni saya diminta oleh seorang Cina untuk menembak mias dekat rumahnya di tambang batubara. 
    
    …. Saya segera menembaknya, tapi ia bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Kemudian saya menembak sekali lagi sehingga satu lengannya patah. Sekarang, ia mencapai bagian tertinggi di sebatang pohon yang sangat besar, kemudian ia mematah-matahkan cabang-cabang pohon disekeliling dan menganyamnya menjadi sarang. 
    
    …. Oleh sebab itu, saya menembak sarangnya beberapa kali supaya ia meninggalkan sarang. Saya yakin ia terkena tembakan karena ia terlihat bergerak-gerak terluka, namun tetap tidak mau pergi. 
    
    ….. Dua atau tiga bulan kemudian, dua orang Melayu memanjat pohon dan menurunkan bangkai yang telah kering. Tinggal kulit membalut kerangka mias itu. Didalamnya terdapat jutaan kepompong lalat dan serangga-serangga lain, serta ribuan kumbang necrophagus. Meskipun tulang tengkoraknya telah hancur karena peluru, tetapi kerangkanya masih lengkap, kecuali sebuah pergelangan tangan. Tulang itu mungkin telah jatuh atau dibawa kabur oleh seekor kadal.
  9. Tiga hari kemudian Charles melihat tiga ekor mias kecil sedang makan bersama. Setelah mengejar cukup lama, kami melihat mereka berayun dari pohon ke pohon. 
    
    … salah satu diantaranya berhasil kami tembak, tetapi hewan ini tersangkut diatas sebuah cabang pohon. Karena mias-mias muda tidak terlalu menarik, saya tidak menebang pohon untuk mengambil bangkainya.

    Setelah memburu mias-mias muda ini, Wallace mendapatkan sedikit kecelakaan yang membuatnya terpaku pada tempat tidurnya. Akan tetapi segera setelah sembuh dia langsung menjelajah kembali ke hulu sungai di pedalaman Simunjan dan mencari mias disana. Sekarang, menelusuri cabang sungai Simunjan via Google Maps memperlihatkan banyak area yang telah terbuka dalam luasan yang masif oleh penebangan-penebangan pohon. Apa Mbah Wallace bisa kaget seperti saya kalau melihat perambahan hutan yang demikian yah ?

  10. ….. tapi pada hari keempat, kami menemukan seekor mias yang sedang makan diatas pohon durian. Mias itu mati setelah ditembak delapan kali. Akan tetapi, hewan itu tersangkut di pohon dan bergantung dengan tangannya sehingga kami harus meninggalkannya dan pulang ke rumah. 
    
    …. Karena jarak rumah terlalu jauh, maka hewan tersebut saya kuliti di tempat itu juga. Kepala, tangan dan kakinya dikuliti di rumah. Sekarang kerangka mias itu berada di museum Inggris. 

    Wallace menginap di rumah orang Dayak dalam perburuannya mencari mias di pedalaman Simunjon. Rumah yang dideskripsikannya adalah rumah panjang khas dayak.

  11. Pada hari itu juga saya berhasil menembak seorang mias kecil berkelamin jantan. Mias ini merupakan mias-kassir dyak. Hewan itu mati tertembak, tapi tersangkut di cabang pohon.

    Ini di Menyille, entah di bagian hulu atau pedalaman sebelah mananya Simunjan.

  12. Di kemudian hari, saya menembak dua ekor mias betina dewasa dan dua ekor yang masih muda. Semuanya sudah saya awetkan. Salah satu mias betina tersebut saya tembak ketika sedang memakan buah durian bersama anak-anaknya.
  13. Ketika kembali ke hilir sungai, kami beruntung menemukan seekor mias jantan tua. Mias itu sedang memakan tanaman yang tumbuh dalam air. 
    
    ….. setelah beberapa tembakan dilepaskan, saya senang sekali melihat mias besar itu terjatuh ke air. Saya menyeretnya sambil melawan arus. Akan tetapi orang-orang melayu didalam perahu merasa keberatan jika hewan itu dimasukkan ke dalam perahu. Lagipula hewan itu terlalu berat sehingga saya tidak bisa menyeretnya tanpa bantuan mereka. Saya pun terpaksa mencari tempat untuk menguliti hewan itu di tepi sungai. Tapi di sekitar sungai ini tidak ada dataran yang kering. Akhirnya saya menemukan dua atau tiga tumpukan batang dan tunggul pohon. Diantaranya terdapat gundukan tanah setinggi beberapa kaki diatas permukaan air. Luasnya cukup untuk tempat menguliti mias tersebut.

 

Membaca kisah perburuannya tersebut memberikan gambaran kengototan beliau untuk mendapatkan spesimen orang utan yang dimaksud, meskipun banyak bekas lubang peluru pada spesimennya. Tanpa segan dan tanpa takut menjelajah pedalaman, kualitas yang ditemukan di abad 19 dan sulit dicari dijaman sekarang sepertinya, disaat belum ada sepatu Gerimor bersol vibram anti air, jaket North Fes anti air anti angin anti dingin, ransel banyak kantong 90L Duter dan perlengkapan canggih lainnya dll.

Akan tetapi tidak semua spesimen orang utan yang didapatkan Wallace berasal dari hasil muntahan senapannya, adakalanya juga spesimen mias berhasil ditangkap dan diambil hidup-hidup, seperti pada anak mias yang tertinggal setelah induknya ditembak, tapi gagal dalam pemeliharaan dan perawatan sehingga akhirnya mati karena kekurangan gizi. Pada bukunya, Wallace memberikan penjelasan detil masa-masa singkat dalam memelihara bayi mias itu.

2017-07-12_21-00-26
Kulit awetan Orang Utan di World Museum Liverpool. (http://wallacefund.info/wallaces-specimens)

Adapula mias diberikan oleh penduduk lokal yang telah memburunya lebih dahulu (dalam keadaan sudah mati) dan Wallace kemudian dapat mengkoleksinya. Secara keseluruhan, Wallace berhasil mendapatkan 17 spesimen orang utan. Sumbangan spesimennya berhasil menyempurnakan pengetahuan mengenai orang utan yang masih terlampau sedikit diketahui waktu itu.

 

 

 

Pustaka :

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Komunitas Bambu. (Original Title : The Malay Archipelago: The Land of the Orang-utan, and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature. ISBN13: 9789793731568)

https://en.wikipedia.org/wiki/James_Brooke

http://papuaweb.org/dlib/bk/wallace/indo-malay.html

http://www.britishempire.co.uk/maproom/sarawak.htm

http://wikitravel.org/en/Simunjan

http://www.sarawakiana.net/2015/11/seramai-10000-pengunjung-bakal.html

Leg 1 : Cahaya Bali di Teluk Terima

Tidak lama setelah pemeriksaan KTP yang rada percuma di pelabuhan tadi, jalan menjadi gelap dan tanpa terburu-buru bus kami berbelok menuju sebuah jalan yang lebih kecil hingga akhirnya berhenti di pelataran sebuah pondokan yang lumayan besar. Temaram terang jalan tidak mengurangi keindahan bangunan ini, tampak megah dan malah angker layaknya sebuah pura pertapaan besar. Beberapa orang keluar dari pondokan untuk menyambut kami, dua orang tampak tidak asing, Ibu Berliana dengan Pak Ari Tayra rupanya sudah datang terlebih dahulu. Mereka keluar berbarengan dengan seorang pria Bali paruh baya. Bagaimana aku tahu dia orang Bali? Logat Balinya memberi jawaban itu. Mereka menyambut kedatangan kami, atau lebih tepatnya menyambut Ibu Susi dan tim asisten serta anak-anak centil lainnya. Aku ? Aku masih merapikan tasku dan mencari earphone ku yang rasanya terselip di kursi bus. Ani dan lainnya seperti biasa, berswafoto dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bang Fadil juga seperti biasa, mulai geram melihat anak-anak yang malas dan mulai meneriaki, ehm..mmm, memberitahu peserta untuk membenahi barang-barang survei untuk segera dibawa masuk ke pondokan.

Tomi dan Abdi serta yang merasa lelaki sudah membawa boks berat echosounder, tabung-tabung oksigen serta perkakas survei lainnya. Aku dan ekorku, Ani, membawa seperangkat snorkel dan pelampung. Alat-alat survei itu ditumpuk begitu saja di bagian ujung pendopo tersebut, Bang Fadil bersama Kak Danu kemudian mengecek ulang alat-alat tersebut, memastikan tidak ada yang tertinggal di bandung atau di bus, maksudnya itu, lebih memastikan kalau tidak ada yang tertinggal di bus.

Kami semua duduk di tengah pendopo tersebut di kursi dan meja makan yang sudah tersusun rapi dengan hidangan prasmanan yang terpisah di meja samping. Hanya ada satu hal yang menghalangi kami untuk langsung melahap habis itu semua, Bu Berliana dan Bapak Bali yang berdiri rapi didepan dan mulai memberi sambutan. Delapan belas menit setelah pukul sembilan malam Waktu Indonesia Tengah ditunjukkan oleh jam dinding yang ada di pendopo, badan yang lelah dan wangi menggoda dari ikan bakar serta ayam betutu jelas waktu yang sangat sesuai untuk sebuah sambutan. Tentu saja, sambutan ini samar-samar kudengar karena mata dan pikiranku dengan cepat melayang pada halaman belakang pondokan ini. Halaman belakang pondokan ini berbatasan langsung dengan pantai dan debur gelombangnya. Malam itu cukup berangin, hantaman gelombangnya menderu cukup kencang. Perahu-perahu yang berjajar rapi disana tampak beristirahat, tertidur dari perantauan sehari-harinya. Satu, dua, tiga… delapan, hantaman gelombang itu terdengar setiap delapan detik. Periodenya delapan detik? Malam ini kurasa juga sedang pasang purnama, ombaknya terlihat sedikit menciprat badan-badan kapal itu. Lelah benar-benar merasuki pikiranku, aku melamun soal periode gelombang dan pasang surut.

“Nggi, nggi, ayo makan yok, bengong aja..!!” Ani menyengggol kakiku mengajakku makan. Wejangan telah selesai dan teman-teman ternyata sudah mengantri makan.

“Ayo ‘nggi makan yang banyak, besok kita sibuk lho”. Bang Fadil dengan mulut yang mengunyah bicara kepadaku padahal aku baru saja duduk dan hendak menyuap paha betutu.

“Oh, jam berapa bang besok ?” Ani langsung menyambar.

“Sore, besok kita pulang cepat dan langsung ke dermaga setelah keliling balai tamnas. Lho, Memangnya tadi tidak dengar omongan Bu Susi?”

Ani tertawa kecil, rupanya dia juga tidak mendengar omongan tadi. Besok sore aku sama Ani jadi ikut Bang Fadil untuk cek perahu dan lokasi, seketika ayam betutu di kerongkonganku menjadi terlalu kesat.

Selesai makan kami semua langsung menuju kamar sesuai pembagian yang telah diatur, badan ini terlalu lelah, tanpa peduli aku langsung berbaring dan menggulung badanku di tempat tidur. Aku hanya ingin berbaring dan mendengar kembali suara debur ombak itu sayup-sayup sampai tertidur.

Pukul enam pagi. Sepertinya begitu, alarmku selalu berbunyi tepat jam 6.07 pagi, atau 6.17 atau 6.27, aku lupa sudah berapa kali kupencet tombol snooze itu. Debur ombak itu masih terdengar namun lebih pelan suaranya dibanding tadi malam, sepertinya sedang surut. Ani masih tertidur, Ayu sepertinya sedang di kamar mandi. Begitu jendela kubuka, dengan segera cahaya hangat menyentuh kulitku dan aroma asin laut menyeruak masuk dihidungku. Damai sekali suasana pagi begini.

Jam 7 kami sarapan dan sebelum jam 9 kami semua sudah berangkat menuju tamnas. Pak Raka dan beberapa petugas tamnas sudah datang ke pondokan sekaligus ikut sarapan tadi. Dari pondokan ke balai tamnas tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit. Di balai tamnas itu tentu saja tentu saja terdapat sambutan-sambutan lagi. Power point membosankan dan foto bersama yang menyebalkan. Pikiranku jadi melantur lagi ke acara pra survei nanti sore, apa nanti ada pelampungnya dikapal ? apa nanti terlalu besar gelombangnya? Apa nanti aku akan muntah, seberapa besar kapalnya sih…oh mudah-mudahan bukan sampan bercadik itu kapal yang dipakai. Apa aku harus berenang nanti? Bagaimana kalau aku jatuh dari kapal?

Sambutan demi sambutan dan presentasi-presentasi terasa singkat dalam sebuah lamunan, untungnya pada jam 11 kunjungan ini diselingi dengan keliling balai tamnas yang memelihara dan merawat beberapa satwa dan flora yang dilindungi di tamnas ini. Sekitar jam 12 lewat makan siang telah terhidang dalam puluhan kotak, arena makan siang bertempat di pelataran belakang aula yang menghadap langsung ke laut. Memandang laut sambil makan siang begini membuatku melupakan kenyataan yang akan menyergapku nanti sore. Angin sendalu meniup wajah, menghela keringat kekhawatiran. Baru aku menyadari indahnya laut yang berpadu padan dengan putihnya pasir pantai. Air biru cerahnya menggoda nalar untuk merasakan segarnya, meskipun aku baru ini saja bisa berenang.

Berbulan-bulan bergulat membicarakan gelombang, arus, dinamika fluida dan fenomena laut lain melalui rumus-rumus fisika abstrak pada ketinggian 700an mdpl di tengah Pulau Jawa lalu melihat pemandangan nirwana seperti ini ibarat seorang penduduk neraka yang diberi kesempatan makan es krim Baskin Robbins. Oh, enak sekali kalau ada es krim disini. Iya, surga yang sesaat, toh, Agustus nanti, semester baru dimulai dan algojo-algojo itu siap menghantamku kembali dalam mata kuliah yang bernama kolokium.

Selesai makan siang, kita bergerak dalam beberapa rombongan melihat area hutan konservasi yang dikelola taman nasional disini. Melihat area taman konservasi ini, rasanya sah-sah saja A.R Wallace Bulan Juni tahun 1856 lalu menyebut Bali adalah daerah yang sangat indah, yang sama dan bahkan melebihi keindahan eropa. Tidak berapa lama kunjungan yang singkat itu selesai dan kami semua kembali ke pondokan untuk memulai rangkaian survei oseanografi di Teluk Terima ini.

“Nggi, jangan lupa bawa kamera yah”. Ani duduk disebelahku di bus menuju pondokan.

“eh buat apa ?”. Wajahku berlagak pilon, padahal grogi menggerogoti tulang belakangku.

“Ya buat foto-foto nantilah, kan perlu buat difoto-foto. Sekaligus kita bisa foto-foto juga kan. ”

“Iya, cerewet.” Ungkapan terakhir Ani hampir tidak kudengar, pikiranku pergi jauh, tertutup oleh bayangan menyeramkan trip sore nanti.  Hmm. Cahaya Bali. Akhirnya aku tahu nama nama pondokan ini, mengapa dinamakan Cahaya Bali yah ? pikiranku menggusar mencoba menyingkirkan kegalauan.

“Nggi, nanti kamu yang pegang GPS nya yah. Bisa kan pegang GPS nya. Tandai posisi-posisi yang ditinjau nanti. Malamnya kita lihat sama-sama di peta yah” kata Bang Fadil sebelum aku ke kamar, Ani malah sudah ngeloyor duluan.

“GPS yang mana yah” Wajah pilon ku keluar lagi.

“GPS yang kemarin lah, Garmin Oregon. Kan sudah diajari kemarin.”

“Iya, yah. Iya. Terus bawa apa lagi. Bawa pelampung kan.”

“Ya jelas dong, itu sih safety procedure. Kamu mau coba snorkeling ? Hitung-hitung latihan, kemarin kan hanya di kolam renang saja. Oh ya. Bilang sama Ani juga, nanti kumpul di pendopo jam 14.30, sudah siap semua dengan barang-barangnya. “

“Ok.”. Aku diam saja dan asal mengangguk.

14.25. Aku sama Ani sudah di ruang pendopo, lengkap dengan perlengkapan masing-masing, hanya saja tasku terlihat lebih menggembung dibandingkan tas Ani. Rasa-rasanya tas Ani isinya hanya dompet, air minum dan cemilan saja, bandingkan dengan tasku yang besar isinya mulai dari obat-obatan hingga dua pasang baju ganti dan jaket tebal.

DSC06495

“Ok. Kita berangkat. Bawa apa saja tuh, berat amat kelihatannya ‘Nggi ?” Bang Fadil menyapa kita dari luar pondokan, rupanya dia sudah siap diluar dengan Dani dan Toni beberapa menit lalu. Pelampung, snorkel, GPS dan kamera semua sudah siap ditenteng menuju dermaga.

Sebagai koordinator asisten praktik survei, Bang Fadil jelas lebih berpengalaman, tapi area Taman Nasional Barat Bali baru kali ini dipakai untuk praktik survei oseanografi. Adapun alasan lokasi ini dipilih karena adanya penelitian dari Ibu Susi dan Pak Ari Tayra soal kondisi oseanografi di taman nasional. Entah penelitian apa, aku tidak mengerti, menyangkut soal produktivitas primer dan sirkulasi lautnya lah. Yang jelas, kami semua dibawa kesini sebagai pelaku survei untuk penelitian itu sekaligus jadi ajang praktik mata kuliah survei oseanografi. Lebih pentingnya lagi, kami semua adalah tenaga gratisan bagi penelitian dosen-dosen itu.

“Buku Boas sama Pond&Pickard Bang !” jawabku sekenanya. Pecah juga tawa mereka, berkomentar mengenai kuliah-kuliah absurd yang kami ambil. Bagus! Biarlah mereka semua bercanda dan biarkan aku berkonsentrasi penuh untuk perjalanan perahu nanti. Jalan menuju dermaga sebenarnya hanya sekitar 10 menit saja, tapi dengan bawaan kami yang cukup banyak, pelampung, snorkel dan fin, kamera hingga cemilan, belum lagi tasku yang berat ini perjalanan menuju dermaga jadi terasa lebih lama, atau itu hanya perasaan deg-degan ku saja yah?

Pada dermaga sudah ada Dito, Ayu dan beberapa teman seangkatanku dari kelompok 2. Mereka sedang berlatih memasang alat pasang surut otomatis serta palem pasut sebagai cadangannya. Dito jadi asisten yang melatih alat pasang surut sedangkan ayu berlatih kalibrasi CTD serta Current meter untuk praktik besok. CTD seabird 37 dan Valeport Midas WLR menjadi raja dan ratu di dermaga ini karena baik praktikan dan asistennya tampak memegangnya dengan terlalu hati-hati ibarat keris keramat. Tidak berapa lama Pak Ari muncul juga di dermaga, mengawasi jalannya asistensi dan memperhatikan agar raja dan ratunya tidak rusak akibat ulah amatir.